"EEEH?!"
Semua orang yang duduk di meja makan terhenyak mendengar kalimat yang dilontarkan Osamu dengan gamblang. Hinata tersedak segumpal nasi yang baru saja ditelannya.
"Kau yakin dengan ucapanmu, Osamu?!" ucap Aran.
"Yakin, seyakin-yakinnya." jawab Osamu mantap. "Oyakata-sama, restui kami."
Kita Shinsuke yang tengah menikmati makan malamnya tidak menjawab. Ia sibuk mengunyah. Masakan Rintaro kali ini jauh lebih enak karena ia baru saja memenangkan lelang satu gelondong daging Tokusen wagyu kualitas terbaik di pasar besar. Miya Osamu yang biasanya tenang dan terkendali tiba-tiba berujar bahwa ia ingin menikahi Miya Shoyo, janda dari kembarannya sekaligus kakak iparnya. Hinata diundang Kita untuk tinggal sementara di Kobe karena Raven tengah sangat sibuk mengurusi kebangkitan klan. Sang Raja Neraka cuma mau menantu dan cucu-cucunya terurus dengan pantas dan berkecukupan. Nantinya, Hinata boleh pulang kalau kondisinya sudah kondusif untuk membesarkan Miya kembar junior di Yokohama. Aran dan Akagi sudah memprotes keputusan Osamu, berpendapat bahwa itu namanya perselingkuhan jarak dekat lah, mengkhianati mendiang Atsumu lah, membuat Hinata semakin susah move on lah, dan lain sebagainya. Ginjima malah mendukung setelah Osamu berkata bahwa Atsushi dan Souma butuh seorang bapak. Osamu tidak mau keponakan kembarnya jadi anak yatim seterusnya. Secara silsilah, Osamu berhubungan darah langsung dengan Miya kembar junior. Teorinya tidak salah. Rintaro tidak peduli sama sekali. Ia sudah ketar-ketir membayangkan akan serepot apa ikut mengurus Miya bersaudara generasi kedua.
"Jangan tanya aku." jawab Kita setelah selesai menyantap makanannya. "Tanya sama Shoyo."
Osamu menoleh, memberikan tatapan dan wajah penuh harap. Tetapi Hinata tidak merespon. Ia menghabiskan makan malamnya dan bergumam gochisousama deshita.
"Osamu, aku memang bilang bahwa kau harus jadi wali anak-anakku." ujar Hinata.
"Makanya aku akan menikahimu." sergahnya. "Aku akan jadi bapak untuk mereka."
"Aku tidak memintamu menikahiku." Hinata menjawab tegas. "Lagipula, wajahmu sama persis dengan 'Tsumu-san. Kau mau jadi pelampiasanku?"
"Kami kan kembar identik. Terus kenapa?" Osamu menyahut.
"Dasar bodoh!" hardik Hinata.
"Shoyo, maafkan kelancangan putraku." ucap Kita tidak enak hati melihat wajah sedih menantunya.
"Aku menikahi 'Tsumu-san bukan karena wajahnya saja. Karena sifatnya. Karena kebaikan dan keburukannya. Aku tahu banyak tentangmu. 'Tsumu-san sangat mencintaimu, dan aku dibuat muak mendengar segala hal tentangmu. Osamu ya Osamu. Jangan bandingkan dirimu dengan 'Tsumu-san karena kalian adalah orang yang berbeda. Hanya karena kalian kembar, bukan berarti kalian harus terus menerus menyukai dan membenci hal yang sama, kan?"
Kalimat Shoyo tadi terasa seperti tamparan menyakitkan bagi Osamu. Wanita manis ini, adalah orang kedua yang membedakan identitas 'kembar' mereka setelah Kita Shinsuke. Padahal Osamu tadinya sudah memantapkan hati. Osamu siap dijadikan 'pengganti', 'pelampiasan' atau mau bagaimanapun Hinata menyebutnya nanti. Ia siap membuang identitasnya asalkan Hinata bisa kembali berbahagia. Hinata sangat mencintai Atsumu dan begitu terpukul atas kematiannya, sementara Osamu sendiri merana ditinggal sang kakak kembar. Osamu berpikir bahwa jika mereka menikah, mereka bisa sama-sama mengobati duka.
"Shoyo..." ucap Osamu dengan lirih. Nada suaranya pedih terdengar. "Aku cinta padamu. Aku cinta Atsushi dan Souma. Aku cinta padamu sejak lama. Kumohon, beri aku kesempatan..."
"Tidak mau." jawab Hinata, tegas menyimpulkan. "Osamu ya Osamu. Menjadikanmu pelampiasan itu jahat sekali. 'Tsumu-san bisa bangkit dari kubur dan menggentayangiku seumur hidup kalau aku menyakiti kembarannya."
Tidak hanya Kita yang terkejut mendengar kalimat itu. Rintaro, Aran, Akagi dan Ginjima bahkan sampai dibuat menganga. Hinata rupanya menyadari motif terselubung Osamu hendak menikahinya.
"'Tsumu-san sudah tiada. Dia sudah pergi. Aku sudah ikhlas. Biarkan dia istirahat dengan tenang." Hinata mengulas senyum. "Aku tidak boleh bersikap serakah dengan menginginkannya kembali. Kau juga, tidak perlu menggantikannya. Buat dirimu bebas, Osamu."
Osamu menganga tidak percaya, dan menghambur pergi dengan emosi berkecamuk. Hinata bahkan tidak bangkit dan pergi mengejar. Ia menikmati tehnya dengan hati dingin, meyakini bahwa menolak Osamu adalah tindakan benar.
"Miya kembar itu benar-benar sehati, ya." Gumam Akagi. "Jatuh cinta dengan perempuan yang sama."
"Mereka sampai berkelahi karena rebutan Shoyo. Osamu memang juga setergila-gila itu denganmu." Ginjima menukas, menatap Shoyo. "Caramu menolaknya sedikit terlalu kasar. Dia tidak setangguh Atsumu dalam menghadapi penolakan. Dirumah ini dia sweet boy soalnya."
"Dan Atsumu si golden bad boy." Aran tertawa pelan, senang mengenang memori menyenangkan selama Atsumu masih hidup.
Kita tidak mendengarkan obrolan anak buahnya. Ia menangkupkan tangan di wajah, bersidekap menahan tangis yang berujung pecah tak terbendung. Ia mencintai anak-anaknya. Miya bersaudara adalah harta karunnya, impiannya, dan buah hatinya. Dan semakin ia menyaksikan seberapa dalam cinta Hinata kepada mendiang Atsumu, Kita semakin dibuat rindu oleh si putra sulung. Ia begitu bersyukur, Atsumu hidup dan mati bahagia. Tidak seperti Hinata yang tangguh dan memilih ikhlas, Kita belum sanggup. Ia masih diliputi kesedihan meski musim dan bulan terus berganti. Penyesalan masih membebaninya. Kita terus berandai-andai jika ia menurunkan seluruh pasukan Inarizaki membasmi para kkangpae, maka Atsumu pasti masih hidup. Masih makan malam di rumahnya, menggendong dan bercengkrama dengan anak-anaknya, bukan jadi debu dan batu nisan kuburan keluarga Kita.
"Maaf," ucapnya serak. "Boleh kalian tinggalkan aku sendirian?"
Para petinggi Inarizaki beranjak pergi dari meja makan. Hinata diantar Akagi kembali ke kamarnya. Rintaro menarik pelan tangan sang Raja Neraka dan menggendongnya dengan lembut seperti tuan putri. Kita dibawa ke kamarnya, didudukkan di atas ranjang. Rintaro membungkuk dan mengusap lembut surai kelabu tersebut.
"Oyakata-sama harus tabah." bisiknya.
Kita mengangguk pelan. Rintaro menghela nafas panjang. Jika masa berkabung Miya Osamu panjang, hening dan melodramatik, Kita Shinsuke memendam semuanya sendirian. Rintaro sering mendapatinya menangis dalam tidurnya. Sang Raja Neraka tegar diluarnya saja. Hati dan jiwanya hancur berantakan.
"Rintaro..." isaknya. "Apakah aku serakah kalau aku ingin Atsumu kembali lagi?"
Rintaro mengangguk. "Manusia memang makhluk yang serakah, Shinsuke. Tapi sekarang kita punya Atsushi dan Souma. Kita tidak punya waktu untuk terus berandai-andai."
Kita tersenyum tipis. "Sudah lama sekali kau tidak memanggilku begitu."
"Tidak boleh?" Rintaro menatap manik ambar Kita yang berlinangan. Ia mendekat dan mencium pipi Kita.
Kita tidak melawan ketika Rintaro menciumnya dan merebahkannya ke ranjang. Ia adalah butler serba bisa. Dan dari segala macam kepandaiannya, Suna Rintaro paling tahu bagaimana memperbaiki suasana hati majikannya. Tentu saja, karena semua itu harus dilakukan dengan hati dan tubuhnya.
"Hisashiburi, Kei!"
Dari sekian banyak orang yang ada di Raven, kenapa harus si kucing garong ini yang repot-repot menjemputnya? Tsukishima Kei jadi harus melupakan semua rencananya untuk tidur hibernasi setelah penerbangan panjang dari Tblisi, melalui Rusia dan akhirnya bisa tiba di Tokyo. Tblisi-Tokyo amat sangat jauh, menempuh perjalanan satu hari lebih 3 jam di pesawat amat dan Tsukishima harus menghadapi transit jangka panjang di Moscow. Jet lag berlebih membuat Tsukishima tidak melawan ketika Kuroo Tetsurou sang pemimpin Crimson Tigress yang dijuluki Harimau Hitam Kobe menangkapnya dalam pelukan rindu setelah 1 tahun tidak bertemu.
Selang beberapa hari setelah kematian Miya Atsumu, Tsukishima memaksakan dirinya mendaftar ke deus ex tenebris atas bantuan Bokuto, Akaashi dan juga Kita. Ia melalui ujian tes yang dirasa seperti kuis online seru-seruan, hingga Tsukishima akhirnya menerima nasibnya ditempatkan di Tblisi. Bokuto butuh 5 tahun untuk lulus. Kita Shinsuke butuh 7 tahun. Miya Osamu butuh 3 tahun. Dan Tsukishima harusnya berbangga hati bahwa ia bisa menjadi orang kedua dari Jepang yang bisa lulus dalam 1 tahun setelah Hakuba Gao dari Kamomedai Northwatch.
"Kenapa kau menjemputku, Tetsu?" tanya Tsukishima lemas. Ia membenamkan kepalanya di dalam ceruk pundak kekasihnya dan mencium pipinya singkat sebelum melepas pelukan tersebut.
"Boss gagak yang minta." ujar Kuroo. "Suga juga khawatir. Tapi karena semua orang sibuk, harus ada seseorang yang cukup kuat untuk memastikanmu pulang hidup-hidup."
Tsukishima tersenyum tipis. Ia menyingkap luarannya untuk menunjukkan kalung salib yang dikenakkannya. Benda itu pemberian Kuroo, hanya saja Tsukishima memodifikasinya sedikit.
"Kau membalik salibnya." Kuroo terkekeh. "Bocah kafir."
"Semenjak kuliah disana, aku tidak lagi menyembah tuhan." Tsukishima membalas tipis. "Traktir aku makan, dong."
"Boleh."
Kuroo membantu Tsukishima membawa kopernya, dan mereka pergi makan di sebuah hotel mewah dekat bandara Haneda. Sang negosiator junior Raven tersebut sudah mendelik kesal. Ia tidak dalam mood yang bagus untuk meladeni percintaan kekasihnya saat ini, tetapi Kuroo tidak menurunkan koper Tsukishima. Mereka melangkah ke salah satu restoran dan betulan makan malam.
"Jangan menatapku dengan pandangan menuduh begitu." Kuroo mendengus. "Aku minta jatahku nanti saja saat jet lag-mu sudah sembuh."
Tsukishima tidak membalas. Ia membiarkan Kuroo memilihkan pesanannya, toh pria berambut hitam itu sudah tahu apa yang disukai kekasih pirangnya yang super sinis tersebut. Manik keemasan Tsukishima melirik sekitar. Restoran ini sedang lumayan ramai.
"Jadi, apa yang akan kau lakukan selanjutnya setelah ini?" tanya Kuroo.
"Bekerja seperti biasa." jawab Tsukishima pelan. "Daichi-san membuka blokadenya soal narkotika. Kini kami dan Phantom Hawks berdamai. Suga-san dan Semi Eita tidak akan pernah berdamai, jadi kami berusaha tidak peduli saja. Karasuno Brewery berencana membuka pabrik kedua, lahannya menggunakan sisa rampasan dari buaya tambang yang sudah dibalik namakan."
"Bisnis halalmu mulai bertumbuh dengan baik ya, wahai para gagak Yokohama." Kuroo tertawa. "Kalian semua benar-benar membuatku terhibur."
"Uhm." Begitu pesanan minuman mereka tiba, Tsukishima langsung mencicipinya. "Ada apa lagi?"
"Oh, persiapkan jantungmu." Kuroo menyeringai lebar. "Si joki cebol oranye itu makin buas sekarang, lho!"
"Oh, ya?" Tsukishima membalas acuh. "Contohnya?"
"Kei, sayangku..." Kuroo merajuk. "Kau ini negosiator. Bernegosiasilah sedikit."
"Baiklah." Tsukishima mengangguk. "Kalau kau main rahasia-rahasiaan lagi denganku, kita putus."
"Hei, hei! Kei, jangan gitu dong mainnya!" Kuroo merengek sebal.
"Dunia tidak akan kiamat kalau kita putus." Tsukishima menukas pedas.
Kuroo mendengus sebal. Silahkan saja katai dia masokis. Tetapi Tsukishima Kei dalam mode dingin-dingin air kolam dan jinak-jinak merpati begini adalah sisi yang membuat Kuroo semakin dibuat mabuk kepayang!
"Oke, ceritaku akan sangat panjang." Kuroo menghela nafas. "Misalnya ini."
Tsukishima mengerenyit ketika Kuroo mengeluarkan sebuah amplop indah berwarna biru muda. Si pria berkacamata tersebut meraih benda itu dan membacanya sekilas.
"Undangan pernikahan." katanya. "Untuk Black Jackals."
"Sudah kubilang, gagak oranye itu buas sekali sekarang." Kuroo tertawa terbahak-bahak. "Raven dan Black Jackals sekarang sudah sedekat kulit dan nadi. Kau mau tahu apa lagi yang membuat jantungan?"
Kuroo mengeluarkan amplop kedua. Masih undangan pernikahan yang sama, tetapi ditunjukkan kepada orang yang berbeda.
"Sakusa Kiyoomi dan Komori Motoya." alis Tsukishima terangkat naik, tidak percaya dengan apa yang baru saja dibacanya. "Ada urusan apa si cebol itu sama Itachiyama?"
"Banyak, Kei." Kuroo menadahkan tangannya, dan Tsukishima mengembalikan amplop tersebut. "Sawamura memintaku menemani melakukan tugas pertamamu sebagai negosiator sekembalinya kau dari Tblisi. Yakni mengantar undangan ini."
"Kirim saja lewat pos." Tsukishima menyahut dingin. "Itachiyama tinggal di Shizuoka. Jauh sekali kalau harus diantar."
"Kei, sayangku. Tidak seperti itu para gokudo bersosialisasi." Tegur Kuroo. "Harus tatap muka. Harus banyak basa-basinya. Dan sekedar info saja, ya. Sakusa sedang bersama istrinya di Tokyo ini, berbisnis dengan kkangpae. Staycation. Kejuaraan balap mobil dan drifting sebentar lagi, dan Jaksa Komori-sensei tampaknya tertarik sekali."
"Jangan bilang Raven juga berdamai dengan kkangpae." Tsukishima mendecih jijik.
"Tidak. Kondisinya bisa dibilang gencatan senjata. Jeonsa mereka, yang diproyeksikan sebagai hwangje selanjutnya memilih kabur dan mengabdi pada Raven sebagai anak gagak yang baru lahir. Iwaizumi naik takhta. Mereka masih jadi juragan lonte seperti dulu. Kejatuhan Phantom Hawks dalam Konflik 3 Langit membuat Ushijima melepaskan Shinjuku dan Chidoya. Terakhir, Sawamura berkata kalau chinatown Yokohama sekarang milik Raven. Beberapa klan merutukinya pengecut, tetapi tampaknya Ushijima cuma ingin memulihkan kekuatan klannya saja. Aoba Johsai memang jadi ancaman besar dibawah kendali Iwaizumi, tetapi mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau. Sejauh ini sikapnya masih damai."
"Seperti kalau seorang perempuan ingin rambutnya panjang dan sehat, ia harus rela terus memotong ujung yang bercabang." Tsukishima menyimpulkan. "Aku yakin, Ushijima 15 tahun lagi akan menjadi yakuza paling menakutkan di Jepang."
"15 tahun lagi, aku akan tetap cinta padamu, Kei." Kuroo membalas lirih. "Aku rindu padamu. Amat sangat rindu."
Tsukishima tersenyum tipis. "Kalau kau rindu, lampiaskan saja. Kau-lah alasanku untuk lulus secepat mungkin dari Tblisi, Tetsu."
Hoshiumi Korai sudah menyisir rapi rambutnya. Kemeja putihnya licin dan rapi. Ia merapikan dasi bermodel hunting sock di kerah dan menyematkan pin. Semprotan parfum dari jarak sejengkal kepala, lekukan leher dan siku, dada dan punggung. Lalu ia mengenakkan jas biru gelapnya. Biru gelap bukanlah warna favoritnya untuk setelan jas. Terlalu kaku dan membuatnya terlihat seperti bocah sekolahan yang hendak pergi pesta dansa tahunan, tetapi formalitas diatas segala-galanya. Pria bernetra giok itu menatap dirinya di cermin dan menarik nafas berulang kali. Gugup bukan kepalang.
Ini hari bahagia. Ia harus merasa bahagia juga.
Pria pendek berambut putih tersebut berkendara singkat menuju gedung pertemuan yang menjadi venue acara. Semua orang tampaknya hadir lebih dulu. Ia mengabaikan pandangan bingung semua orang. Mungkin karena karangan bunga yang dibawanya. Tetapi Hoshiumi memilih masa bodoh.
Ini hari bahagia. Ia harus merasa bahagia juga. Kalimat itu mulai terdengar seperti mantera. Ia tidak lagi membutuhkan mantera itu ketika melihat Miya Shoyo dengan balutan gaun pengantin rok pendek. Dominasi warna putih, memancarkan kulit mulus kuning langsat dan keindahan rambut panjang ginger miliknya yang ditata waterfall braid dengan ikal gantung, hiasan rambut dan tudung transparan.
Sosok itu cantik. Sungguh cantik. Kelewat cantik. Hoshiumi Korai sampai menampar pipinya sendiri, sekedar memastikan bahwa ia masih hidup. Bukannya mati, masuk surga dan bertemu seorang bidadari.
Tidak, tunggu. Orang sepertinya tidak mungkin masuk surga, rutuk Hoshiumi.
Ini hari bahagia. Dan tentu saja Hoshiumi merasa bahagia. Shoyo, yang lahir dengan nama gadis Hinata, lalu mendapat nama Miya, hari ini akan kembali berganti marga.
"Setelanmu kelihatan mahal sekali, cebol kikir brengsek."
Suara berat terkesan malas tertangkap di telinga Hoshiumi. Miya Osamu menghampirinya di antara kerumunan tamu. Lelaki bongsor berotot itu mengenakkan kemeja putih dan celana coklat muda, dengan haori mewah bermotif ekor burung merak. Warna hijau pekat mencolok dan biru gelap serta kilau sulaman benang emasnya terlihat begitu agung disampirkan ke pundak kokoh Osamu. Hoshiumi menelaah tamu undangan yang lain. Rupanya, seluruh petinggi klan Inarizaki mengenakkan haori yang sama.
"Ini kan hari bahagia." katanya. "Aku harus tampil setampan mungkin."
"Kalau bukan karena larangan Shoyo, aku sudah menjagalmu seperti rusa buruan sejak tadi." Osamu mendecih. "Aku yakin, oyakata-sama tidak akan keberatan."
"Jadi itu alasanmu membawa katana ke acara pernikahan?" Hoshiumi menatap skeptis.
"Salah satunya." balas Osamu. Netra kelabu bajanya yang kelam menatap Hoshiumi dalam-dalam seakan mampu mengulitinya hidup-hidup hanya melalui tatapan mata.
"Myaa-saaaammm!"
Sedetik kemudian, ekspresinya berubah ceria. Panggilan itu datang dari tiga bocah kecil yang berlarian menyerbunya. Osamu berjongkok, menerima pelukan hangat dari dua bocah yang lebih tua. Bocah yang paling kecil cuma memandangi dengan tatapan bingung. Bocah laki-laki yang paling besar memanjat naik ke pundak Osamu, sementara si bocah perempuan minta digendong. Si Miya bungsu menggendong si bocah perempuan dan adiknya si bocah paling muda. Hoshiumi cuma bisa mengerenyit segan melihat bagaimana Osamu bisa mengatasi tiga orang bocah yang bergelayutan manja di tubuhnya.
"Myaa-sam, bajumu keren! Kayak pangeran!" puji si bocah tertua, Bokuto Suoh.
"Keren, dong." Osamu membalas antusias. "Karena yang pakai Myaa-sam."
"Ka..kalau sudah besar nanti, Hika-chan mau jadi pengantinnya Myaa-sam." si anak tengah perempuan, Akaashi Hikaru mencium dagu Osamu.
"Heee? Kalau Hika-chan sudah besar, Myaa-sam sudah jadi om-om buncit, lho." balas Osamu lembut. "Seperti Ogaji yang di foto waktu itu. Hika-chan masih mau?"
"Dame, dame! Myaa-sam nggak boleh jadi om-om buncit! Harus tetap jadi ikemen seperti sekaraaang!" Rengek Hikaru.
"Myaa-sam~ Myaa-sam~" Si bocah termuda yang baru berusia 3 tahun, Bokuto Kurogane, cuma bisa mengucapkan Myaa-sam dengan nada bahagia.
"Perkenalkan, anak-anakku." Akaashi muncul dan menyandarkan sebelah lengannya ke pundak Hoshiumi. "Bokuto Suoh, Akaashi Hikaru, dan Bokuto Kurogane."
"Anak-anakmu dekat sekali dengan Miya." ujar Hoshiumi.
"Tidak tahu. Semenjak kakaknya menikahi Shoyo, dia sering menyelinap masuk untuk main sama mereka. Kuajarkan anak-anakku memanggilnya Myaa-sam biar aku tahu, nii-san mana yang berani-berani membobol rumahku dan menyentuh malaikat-malaikat kecilku." tutur Akaashi. "Kurasa dia melatih dirinya untuk akrab sama bocah-bocah."
"Sebelah mana malaikatnya, sih? Mereka terlihat seperti dajjal mini dengan tornado kekacuan." Hoshiumi bergidik.
"Anak itu konsekuensi menikah, tahu." Akaashi menasehati.
Raut wajah Hoshiumi berubah kecut. "Aku paling nggak suka anak kecil."
"Pantas Shoyo menolakmu!" Bokuto Kotaro muncul dan tertawa terbahak-bahak. "Belum siap mental jadi bapak tiri toh rupanya?"
Baik Hoshiumi, Osamu maupun Akaashi terperanjat mendengar kalimat tersebut.
"Hora, Kotaro! Jangan menabur garam pada luka!" Akaashi menjitak keras kepala Bokuto.
"Myaa-sam, bapak tiri itu apa?" tanya Hikaru.
"Uhm..." Osamu merenung sejenak, kehabisan akal untuk menjawab.
"Pasti jahat kayak ibu tiri!" Suoh menimpali. "Ibu tirinya shirayuki hime kan jahat!"
"Tidak semua bapak atau ibu tiri itu jahat, kok." Bokuto menarik Suoh agar turun dari pundak Osamu dan menciumi pipinya. "Bapak dan ibu tiri jahat itu cuma ada di dongeng."
"Kyahahaha! Kyahahaha!" Suoh tertawa geli ketika ayahnya mulai mengeluarkan jurus kelitikan maut. "Papa, ampuuuuuun~~"
"Osamu, sudah waktunya." Rintaro menegur.
"Gomenne, Myaa-sam harus kembali ke oyakata-sama." Osamu menurunkan kedua anak Bokuto dalam gendongannya dan mohon pamit.
"Hika-chan mau ikut Myaa-sam!" Hikaru merengek, hampir menangis.
"Dame, Hika-chan." Osamu melarang halus. "Hika-chan harus sama Papa dan Mama, ya."
Bokuto menggendong kedua anaknya dan berjalan lebih dulu, sementara Akaashi menggendong Hikaru yang melambai tidak rela pada Osamu.
"Hoshiumi-san, duduklah dengan keluargaku." kata Akaashi. "Kau malah makin sedih kalau duduk sendirian nantinya."
Ini hari bahagia. Ia harus bahagia.
Hoshiumi menuruti permintaan Akaashi. Ia memangku buket bunga yang dibawanya, lalu duduk dengan tenang menghadiri acara pernikahan kedua Hinata Shoyo. Wajah manis wanita itu selalu ada di dalam kepalanya, di hatinya, di mimpinya kala tidur. Hoshiumi Korai menelan pahit-pahit hujatan teman-teman sekantornya karena terus menerus menempuh perjalanan Hokkaido-Yokohama setiap minggu, sekedar untuk bertemu Hinata yang tiga bulan lalu mau menjadi kekasihnya. Ia dicap budak cinta. Tapi masa bodoh. Bertemu Hinata benar-benar menyenangkan hatinya. Ia memberikan wanita itu segala yang diinginkannya, semua yang Hoshiumi bisa berikan. Saat Hoshiumi sudah yakin bahwa ia bisa menghabiskan seluruh hidupnya dengan Hinata, ia membeli sebuah cincin dan berlutut satu kaki, melamarnya dengan sungguh-sungguh.
'Lalu bagaimana dengan Atsushi dan Souma? Apa kau sanggup terus mencintai mereka meski mereka membencimu?'
Hinata berkata demikian bukan untuk menanamkan dendam pada anak-anaknya. Ia memberikan pengertian bahwa jika Hoshiumi menikahinya, ia sudah harus siap menjadi seorang bapak tiri. Menjadi orangtua tiri lebih sulit daripada orangtua angkat. Terlebih, Miya Atsushi dan Miya Souma adalah anak kandungnya Miya Atsumu. Ia bisa saja membesarkan mereka sebagai ayah yang dingin dan sulit dijangkau anak-anaknya seperti stereotipikal ayah orang Jepang di zaman Edo, atau memilih menjadi ayah penyayang karena Miya kembar junior itu imutnya bukan main. Kalau ia mengesampingkan Miya Atsumu yang sudah mati, semuanya bisa ia sanggupi.
Tapi Hoshiumi tidak mau munafik. Pemikiran bahwa ia membunuh Miya Atsumu lalu menikahi jandanya dan membesarkan anak-anaknya tanpa rasa bersalah membuatnya terus terganggu. Ia tidak keberatan dipanggil bajingan karena melakukan hal itu, tetapi ia tidak ingin mendengar panggilan itu keluar dari kedua anak kembar Hinata kelak jika Hoshiumi benar-benar menjadi ayah tiri mereka. Mungkin suatu hari nanti, dengan berbagai alasan, Atsushi dan Souma bisa membencinya. Hoshiumi tidak akan sanggup dibenci oleh anak-anak itu. Sesayang apapun nantinya Hoshiumi pada anak-anak Hinata, mereka bukanlah darah dagingnya. Hoshiumi takut gelap mata jikalau nantinya ia terbakar emosi.
Hinata menolaknya karena alasan tersebut, dan Hoshiumi dengan jantan kembali mengalah. Hinata akan selalu menjadi penghangat hatinya, dan pria bernetra giok itu membiarkan cintanya padam pelan-pelan. Hoshiumi menyadari, bahwa perasaannya masih terlalu dangkal untuk memiliki Hinata selamanya. Ia kurang menjerumuskan dirinya lebih dalam.
Akhir bulan januari, Miya Shoyo, yang dulunya bernama gadis Hinata, menikahi Kageyama Tobio. Hinata berusia 23 tahun dan Kageyama akan berusia 19 akhir tahun nanti. Pernikahan mereka khidmat dan cukup ramai didatangi tamu. Pamor mereka sebagai pasangan Johnny Blaze menyebar kabar gembira. Hinata kembali terjun ke arena balap, merebut kembali gelar lamanya sebagai Johnny Blaze Yokohama. Kageyama yang menaklukan arena balap liar di pusat kota Tokyo dan digelari Johnny Blaze Nihonbashi. Gantian Yachi yang patah hati, gagal sudah niatnya mengencani Kageyama ketika ia merekah jadi pria dewasa. Diantara para tamu undangan, banyak pula petinggi klan yakuza yang hadir. Ushijima Wakatoshi dari Phantom Hawks, Kita Shinsuke dari Inarizaki, pasangan Bokuto-Akaashi dari Nocturnal dan Fukurodani. Hoshiumi diundang atas nama pribadi, penghormatan karena mantan pacarnya akhirnya menikahi laki-laki lain. Fakta mengenaskan itu tidak menyurutkan rasa bahagianya melihat Hinata menemukan laki-laki yang cukup 'liar' dan 'gila' seperti kesukaannya.
Saat Konflik 3 Langit, Hoshiumi mempelajari Kageyama Tobio juga. Bocah itu membunuh ayahnya Hinata saat Phantom Hawks dan Aoba Johsai masih berebut Shinjuku. Dijadikan agen ganda oleh Oikawa. Membelot kedua klan demi cintanya pada wanita yang dipanggilnya gongju. Membuang tawaran menjadi raja sindikat kriminal komunitas Korea terbesar di Jepang, lari dari Aoba Johsai agar bisa resmi bergabung dengan Raven dan susah payah berkutat di balapan motor liar Nihonbashi sampai menjadi juara cuma demi joki balap cebol berstatus janda dua anak. Hoshiumi salut pada Kageyama. Padahal ia cuma pemuda bau kencur yang lahir kemarin sore, boleh juga tekadnya melakukan beragam hal tidak masuk akal cuma demi membuktikan cintanya pada Hinata.
Di sisi lain ruangan, empat orang laki-laki baru saja memasuki aula pesta. Tiga orang diantaranya raksasa kokoh, dua diantara si raksasa tersebut adalah orang asing berkulit putih. Banyak gokudo yang membungkuk hormat ketika mereka melangkah lebih dalam.
Ah, ini dia.
Black Jackals. Klan yakuza paling kuat di Tokyo. Penguasa daerah selatan ibukota metropolitan. Aura dominasi mereka pekat sekali meski mereka cuma berempat.
"Buat apa mereka kesini?" Osamu mengerenyit melihat empat pria tersebut.
"Black Jackals adalah bayangan dalam dunia balap liar di Jepang. Kurasa mereka kenal semua orang yang pernah bergelar Johnny Blaze." Rintaro menjelaskan. "Mereka hadir di pemakaman Atsumu."
"Masa?" Osamu menggedik acuh. Mana peduli dia siapa saja yang datang waktu itu?
"Anda kenal bossnya Black Jackals, oyakata-sama?" tanya Akagi penasaran.
"Meian Shugo, boss mereka, dijuluki Dinding Besi. Meian-sama dan Bokuto serta mendiang ayahnya Nona Keiji berada dalam satu aliran dojo. Mereka terikat darah dengan Nocturnal karena satu perguruan judo. Tidak hanya kuat, dia juga sangat handal berjudi." tutur Kita. "Namanya di blacklist di 140 kasino di Asia dan Eropa, setelah membuat sebagian besar tamu yang bertaruh bersamanya bangkrut karena kalah."
"Mereka salah satu pemenang Perang Kapak Baja. Sudah pasti hebat, kan?" Aran menimpali. "Apalagi si Mase-jin."
Diam-diam, Aran menunjuk laki-laki raksasa berkulit putih yang tangannya dengan mesra merangkul pundak pemuda berambut platinum blonde tebal yang puncak kepalanya tidak sampai dadanya si raksasa berkulit putih tersebut.
"Adriah Thomas. Untuk para professional hitman, dia itu veteran yang melegenda." jelas Aran pada Osamu. "Usianya baru 31, tetapi sudah pernah bekerja di 3 agensi hitman terkenal di seluruh dunia. Eiserne Kreuz di Wina, Vermillion di Australia dan San Sebastian di New York. Kamomedai Northwatch sempat melamarnya, tetapi mereka tidak cocok dengan gaji tawarannya. Setelah itu, tahu-tahu dia sudah milik Black Jackals. Julukannya Mase-jin, karena dia orang Macedonia. Rumor bilang dia fasih 9 bahasa, dan kurasa bahasa Jepang belum masuk ke dalam database otaknya."
"Dia sehandal apa sampai Kamomedai Northwatch tidak sanggup menggajinya?" Rintaro mendengus skeptis.
"Tambahan, dia baru saja lulus dari DET Sarkad sebulan yang lalu." Kita menambahkan. "Juniornya Atsumu."
"Orang asing yang satu lagi?" Osamu bertanya penasaran.
"Oliver Barnes. Orang Amerika. Pria sederhana yang selalu bisa diandalkan. Seperti Rintaro." balas Aran. "Dan si cebol berambut mayones itu Inunaki Shion. Pewaris tunggal klan Inunaki dari Hokkaido yang punya sindikat raksasa di New York dan Russia. Pangeran kecilnya Black Jackals. Mungkin cuma satu atau dua tahun lebih tua dari Shoyo."
"Kalau dia pewaris sebuah klan yakuza besar, kenapa dia bergabung dengan klan lain?" tanya Osamu bingung.
"Inunaki terobsesi dengan balapan liar sejak bocah tapi orangtuanya melarang. Klan Inunaki pernah menjadi klien bagi San Sebastian, dan Mase-jin jatuh cinta pada Shion muda. Mereka menikah tapi orangtuanya Inunaki tidak restu atas pernikahan sesama jenis. Alasan yang cukup untuk membuatnya kabur dari rumah." Lanjut Kita. "Meian-sama menjaganya seperti seorang paman, dan menjadikan hobi unik Inunaki sebagai aset paling menguntungkan. Mase-jin tampaknya memutuskan bergabung setelah Inunaki lari dari keluarganya dan berlindung dalam Black Jackals."
Inunaki Shion disembah oleh para pembalap motor liar seantero Jepang sebagai Leigong—juara dari para jagoan, rajanya para Johnny Blaze. Setelah menikahi Atsumu, Hinata meminta mendiang suaminya dulu untuk membawanya melihat balapan di teluk Tokyo, daerah yang sejak remaja menjadi arena impiannya namun tak terjangkau karena ia dahulu terbilang miskin. Dari sekedar menonton, Hinata dan Atsumu mendaftar dan menantang sang Leigong setiap bulan bermodalkan gelar Johnny Blaze masing-masing. Inunaki sangat bersemangat karena berulang kali ditantang sepasang juara yang ternyata berasal dari dua klan besar. Sedikit yang tahu bahwa Black Jackals adalah kawan akrab pasutri Miya, bahkan Daichi yang merupakan boss Raven saja baru tahu saat melihat melihat Inunaki menyalami Hinata dan memberinya ciuman sopan di pipinya. Sebab pasutri Miya dan Inunaki memang bersahabat sebagai sesama pembalap, bukan sesama gangster.
"Sho-chan, selamat." katanya lembut. "Gaunmu cantik. Aku suka. Semoga hidupmu bahagia, ya."
"Terima kasih, Shion-kun." Hinata tersenyum.
"Anak-anakmu boleh memanggilku Shionii. Jangan uncle atau oji-san pokoknya! Mereka juga keponakanku dan Adriah, jangan lupa. Bawa mereka main sama kami juga, dong!"
Hinata tertawa. "Mereka pasti senang punya 2 orang lagi nii-san yang lebih besar untuk diajak main."
Keterbatasan Adriah berbahasa Jepang membuat Inunaki menjadi penerjemah untuknya.
"I might be huge, but I'm totally tame and gentle inside [aku mungkin besar, tapi aku jinak dan lembut di dalam]." Adriah menepuk dadanya. "Beast mode only on duty [buasnya kalau lagi kerja saja]."
"Glad to hear. John Wayne is my taste. [Syukurlah. John Wayne itu seleraku]." balas Hinata dengan bahasa Inggris yang lumayan lebih luwes ketimbang dulu. "Wilder, sexier [makin liar, makin seksi]."
Inunaki dan Hinata tertawa terpingkal-pingkal bersamaan. Ia menepuk-nepuk pundak Kageyama yang cuma tersenyum canggung, tidak tahu bagaimana harus menanggapi kedua banyolan sosok mungil-mungil jago balap itu.
"Kurasa Kageyama-kun punya sisi 'liar' yang lain, ya? Liar-liarnya cowok baru gede kayak gini gemes, lho." Inunaki mengedip nakal.
Inunaki menerjemahkan apa yang diucapkannya pada Hinata, lalu Adriah tersenyum manis. Hinata terperanjat mendapati ekspresi selembut itu bisa terlihat pada wajah salah seorang pembunuh bayaran paling berbakat di seluruh dunia sepertinya. Dulu seorang professional hitman berpribadi lembut sempat membuatnya kasmaran juga. Tampaknya Hinata paham salah satu alasan kenapa Inunaki mau menikahi raksasa pendiam ini.
"Kurasa Mase-jin setipe denganku, sukanya yang liar-liar gitu." Hinata balas menggoda. "Lihat saja, 'tunggangan'-nya saja Leigong-sama! Size sebesar itu nggak masalah untuk 'rahasia pabrik'-mu kan, Shion-kun? Addie-san kelihatan gentle, sih. Pantas Shion-kun nggak pernah kelihatan pincang padahal kalian mesra banget."
Mendengar kelakar cabul Hinata, Inunaki terbelalak dengan pipi memerah, senyum lebar dan tawa kecil, lalu menyilangkan telunjuknya di bibir. Adriah membungkuk dan mencium pipi Hinata sebagai ucapan selamat. Pria raksasa itu menyalami Kageyama dan berlalu bersama Inunaki, berbaur menikmati pesta pernikahan mereka bersama tamu lain.
"Sunshine, I still didn't get your point [sayang, aku masih nggak ngerti]." gumam Adriah dalam bahasa Inggris pada istrinya. "You told me that lad is supposed to be Tokyo-Korean gangster newly king, innit? [katamu cowok itu seharusnya jadi raja barunya mafia Tokyo-Korean, kan?]"
"Indeed [memang]." jawab Shion. Ia mengambil dua gelas minuman dan memberikan salah satunya pada sang suami. "He ran away from his clan to be the crow like his dear princess. Aoba Johsai and Raven are nemesis for centuries [Dia lari dari klannya untuk jadi gagak seperti tuan putri kesayangannya. Aoba Johsai dan Raven adalah musuh bebuyutan sejak dulu]."
"If I were that lad, would be better if he bound them by the blood? [kalau aku jadi cowok itu, bukankah lebih baik mengikat darah dengan mereka*?]" Adriah merenung. Ada banyak budaya mafia Jepang yang masih tidak ia mengerti.
"Made sense [masuk akal]." Inunaki menyesap minumannya. "But Sho-chan's previous marriage with Att-chan is indeed political bond between the fox and the crow. Tobi-chan doesn't want his princess looks like trophy wife by doing so [tapi pernikahan Sho-chan dan Att-chan dulu memang ikatan politik antara gagak dan rubah. Tobi-chan tidak mau tuan putrinya diperlakukan seperti istri bergilir dengan melakukan hal itu**]."
"Ah..." Adriah menggumam paham. "They're super cute, tho. The beauty of young, pure love. [Mereka imut, ya? Indahnya cinta masa muda yang murni]."
Adriah mendekat, dan mengusap sayang pipi istrinya.
"Reminds me of my baby Shion. Marry this old lonely guy on the age of 16. [Mengingatkanku pada Shion sayangku. Menikahi pria tua kesepian ini di usia 16]." Ucapnya sambil tersenyum.
"Love doesn't age, Addie [cinta tidak kenal usia, Addie]." Inunaki balas tersenyum sambil menggenggam tangan suaminya.
Hinata baru saja selesai mandi. Kelelahannya mulai terasa setelah berjam-jam mengenakkan sepatu hak tinggi, riasan wajah dan tersenyum di hadapan para tamu undangan. Ia mengenakkan lingerie sewarna persik yang sangat cocok dengan tubuhnya, lalu duduk di samping Kageyama yang berbalut piyama. Tangan kecilnya memijat lembut pundak Kageyama.
"Hei," ucapnya lembut. "Boleh aku punya panggilan sayang buatmu?"
Kageyama melirik. Raut wajahnya canggung.
"Aku mau memanggilmu Tobi." Hinata tersenyum lembut. "Tobio-boy terdengar imut, tapi kau tidak akan jadi boy lagi setelah ini."
"Kedengarannya aneh, tapi bolehlah." Kageyama menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah. "Apa kau keberatan kalau aku tetap memanggilmu gongju?"
"Kau ini kan keras kepala. Mau berapa kalipun kusuruh ganti, kau pasti akan tetap memanggilku begitu." omel Hinata.
"Maaf."
Hinata beringsut mendekat. Ia memeluk lengan Kageyama dan bersandar padanya.
"Sho...Shoyo..." gumamnya kaku. "Mana Atsushi dan Souma?"
"Mereka ada di rumah Suga-san." jawab Hinata. "Suga-san mengurus si kembar. Dan aku akan mengurusmu."
"Uhm...ano..." Kageyama ragu-ragu menggenggam tangan Hinata. "Aku...aku mau mereka tidur dengan kita. Maksudku satu kasur. Boleh, ya?"
"Kenapa?"
"Mereka lucu." jawab Kageyama polos. "Aku..aku belum pernah pegang anak kecil sebelumnya. Aku mau terbiasa."
Hinata tertawa mendengar penuturan polos Kageyama. Pemuda itu adalah orang yang paling senang saat melihat Atsushi dan Souma. Meski ia masih takut menyakiti bayi-bayi itu dengan tangan besarnya yang ramping, tetapi Kageyama suka mencolek pipi mereka atau membiarkan jarinya digenggam tangan-tangan mungil itu. Kalau punya waktu, ia akan menunggui mereka bermain sampai tertidur. Bahkan beberapa kali Kageyama dibuat lupa oleh keberadaan Hinata karena terlalu asyik dengan bayi-bayinya.
"Boleh." ucap Hinata. "Mulai sekarang, mereka anak-anakmu juga. Mohon bantuannya ya, Papa."
"Ah...umm..."
Hinata meraih dagu Kageyama dan memberinya ciuman lembut di bibir. Pemuda itu terhenyak, sentuhan selembut itu membuatnya terasa melemas, meleleh hingga oleng bersandar ke kasur. Wajahnya kosong, seakan ada konslet kecil di otaknya. Hinata memandangnya dengan tatapan kecewa, merasa mungkin Kageyama tidak suka dengan ciumannya.
"Hei, maaf..." ucapnya sedih. "Aku.."
"..maafkan aku, Sho..Shoyo..." Kageyama mengucek-ucek rambut dan wajahnya karena malu. "Aku...aku ini tidak punya pengalaman sama perempuan."
"Oh, ya?" Hinata terperangah kaget. "Aoba Johsai padahal pebisnis prostitusi."
"Cuma sekali. Waktu di Hakata, dengan seorang sundal. Dia cantik, tapi...aku gugup. Aku tidak mau menyentuhnya, jadi dia yang menyentuhku." Kageyama duduk bersila di kasur, lalu menunduk kikuk. "Dia...dia...dia memasukkan kemaluanku ke mulutnya."
"Kau mau aku melakukan hal itu?" Hinata menggigit bibirnya dengan ekspresi menggoda.
"Bukan, itu..." Kageyama menggeleng-geleng panik, lalu menghela nafas pelan. "Mau dengar ceritaku dulu sebentar?"
Untuk pertama kalinya, Kageyama membuka siapa dirinya di hadapan mataharinya, cintanya, gongju -nya. Tentang bagaimana kehidupannya sebelum menjadi kkangpae. Bagaimana rupa mendiang kakak perempuannya. Bagaimana Oikawa memperlakukannya. Sudah tidak lagi ada perasaan sedih seperti saat Kageyama menceritakan segalanya pada Sugawara. Semuanya terasa hambar dan mengawang. Hinata hanya duduk di hadapannya, diam mendengarkan. Setelah dijeda hening cukup lama, Hinata meraih kedua tangan Kageyama dan menempatkannya di kedua pipinya.
"Tobi, sayangku..." katanya. "Namaku sekarang Kageyama Shoyo. Kau akan berbagi hidup denganku, bukan hidup untukku lagi. Masa lalumu sudah berlalu. Kau punya aku, Atsushi dan Souma di masa depan. Lihatlah ke depan."
Kageyama mengulas senyum lembut, lalu memulas penuh sayang kontur wajah wanita tercintanya. Ekspresi bahagia Kageyama yang begitu lepas membuat Hinata berdebar-debar. Ia bermaksud menikahi Kageyama untuk membalas perasaannya. Ia belum sepenuhnya cinta. Semua demi anak-anaknya saja. Tapi ekspresi itu, sedikit banyak mulai membuatnya tertarik.
"Gongju, Shoyo..." katanya. "Aku mencintaimu."
Kageyama mendekat, memejamkan mata dan mencium bibir Hinata. Gerakannya kaku, seperti takut salah. Hinata merangkulkan kedua lengannya memeluk leher Kageyama dan balas menciumnya. Ia merebahkan dirinya, menuntun Kageyama agar menaiki tubuhnya. Pemuda itu melepas ciumannya dan menatap Hinata dalam-dalam.
"Tobi...aku..." Hinata menatap sayu. Ada sebersit kepiluan ketika ia menatap safir gelap itu.
"Kau belum mencintaiku, Shoyo." katanya. Kali ini tidak ada kegugupan saat Kageyama mengucapkan nama kecil tuan putri tercintanya.
Hinata mengangguk. Kageyama membelai bahu mungil istrinya dan menurunkan tali lingerie yang digunakannya, mendapati ada tatto baru di tubuhnya. Beberapa senti di area tulang belikatnya. Bergambar sebuah tangan yang mengucup namun telunjuk dan kelingkingnya teracung. Ujung jemari yang mengucup memegang seutas benang lurus yang ujungnya berbentuk zigzag seperti gambar kardiogram. Dibawah bentuk benang tersebut, tertulis kecil kanji nama Miya Atsumu dan tulisan I have lived yang berdampingan lurus. Hinata cuma bisa mengangguk segan dan menggenggam ragu tangan Kageyama yang mengusap kontur tatto baru tersebut.
"Shoyo..." gumamnya. "Boleh aku tahu apa artinya tatto?"
Mendengar betapa halus nada bicara Kageyama, Hinata mulai membuka suara. Bukan kecemburuan dangkal, tetapi rasa ingin tahu yang sangat tulus.
"Kau pernah main bayangan, Tobi?" Hinata mendekatkan tangannya ke tembok, dan mengucupkan tangannya tetapi membiarkan telunjuk dan kelingkingnya terangkat. "Seperti rubah, kan?"
"Oh, iya!" Kageyama terperangah. "Terlihat seperti rubah..."
"Orang yang pernah kuliah di DET punya tatto di dadanya. Gambar tangan, menggenggam dahan pohon cyprus, menggunakan gelang manik dan ada sedikit tanda yang berbeda."
"Seperti punya Suga-sshi?"
Hinata mengangguk. "Saat 'Tsumu-san meninggal, rasanya aku ingin ikut mati saja. Aku benar-benar sedih. Aku tidak sanggup rasanya hidup sendirian. Aku melakukan banyak hal-hal bodoh waktu itu. Saat Atsushi dan Souma lahir, aku terpaksa melahirkan caesar karena panggulku terlalu kecil untuk melahirkan normal. Lalu, aku teringat kalau aku sudah berjanji dengan 'Tsumu-san. Aku harus hidup. Aku harus rela hidup untuknya, meskipun dia tidak lagi ada bersamaku...meskipun aku sudah tidak peduli dengan diriku sendiri...dia ingin aku hidup demi dia yang sudah mati."
Kageyama mendengarkan baik-baik kalimat tersebut. Ada setitik airmata yang jatuh ketika Hinata menyebut nama mendiang suaminya.
"Kami masih saling mencintai, meski Sang Maut mengambilnya dariku..." Hinata tersedu. "Tapi, aku harus hidup. Anak-anak kami layak tumbuh dari orangtua yang bahagia, waras dan berkecukupan."
"Karena itu..." Kageyama menggeleng, sungkan melanjutkan kalimatnya. "Tidak."
"Katakan saja, Tobi." Hinata menyeka sudut matanya. "Gwenchana. Betul begitu mengatakannya? Kau selalu mengatakan hal itu padaku dulu."
Kageyama mengangguk tipis. "Karena...karena itu dulu kau mengencani si pria pendek dari Kamomedai Northwatch?"
Hinata tertawa kecil, lalu mengangguk singkat. "Dia laki-laki yang sangat baik, mapan dan cukup matang di usianya yang masih muda. Tapi, Korai bukan untukku. Situasinya terlalu sulit, dan aku takut pernikahan bukan jalan dalam hubungan kami. Alasan kedua, biar Osamu berhenti mengejar-ngejar aku. Lagipula, meskipun mereka itu identik sekali aku tidak bisa mencintai Osamu seperti aku mencintai 'Tsumu-san. Tidak tahu kenapa. Feel-nya beda. Sakusa-san bilang menikahi Osamu itu namanya mencari pelampiasan pengganti. Kurasa dia benar."
"Kenapa kau jadi dekat dengan Itachiyama juga?" Kageyama mengerenyit.
"Sakusa-san dan Meian-sama itu teman dekat sejak Itachiyama masih berkuasa di Otemachi. Urusan Itachiyama dengan kkangpae tidak ada hubungannya. Terus, Bokuto-san ternyata dulunya adalah maniak balap motor di teluk Tokyo, tetapi Shion-kun terus menerus mengalahkannya. Bersama 'Tsumu-san, aku memiliki relasi persahabatan dengan mereka."
"Begitu..." Kageyama menggenggam kedua tangan Hinata. "Kau sudah memenuhi janjimu dengan Miya-seonbae, kan?"
"Tobi, maafkan aku." Hinata memelas. "Di hatiku masih ada 'Tsumu-san..."
"Gwenchana..." Kageyama tersenyum. Ia menunduk dan mencium tipis ujung bibir Hinata. "Miya-seonbae memang laki-laki yang luar biasa. Aku tidak akan pernah sebanding dengannya. Melihatmu bahagia dengan laki-laki lain menyakitkan sekali, tetapi aku sadar bahwa aku tidak mungkin bisa membuatmu sebahagia saat kau dengan Miya-seonbae..."
Kageyama memainkan tangan Hinata dalam hening beberapa lama sebelum kembali melanjutkan. "Tapi boleh kan, aku terus mencintaimu karena Shoyo adalah gongju-ku?"
"Tobi, maafkan aku..." Hinata mendekat, memberanikan diri memeluk suami mudanya. "Aku mungkin akan selamanya merepotkanmu. Tapi terima kasih sudah mencintaiku, dan kumohon jangan tinggalkan aku. Gomawo, arigato. Kau boleh bilang gomawo, kau boleh bicara bahasa Korea, tidak masalah. Kau bukan kkangpae lagi, kau adalah gagak sepertiku."
"Sama-sama..." Kageyama membelai punggung Hinata, dan menariknya dengan nyaman menduduki pangkuannya.
Banyak hal yang terjadi beberapa tahun belakangan dalam hidup Kageyama. Semuanya bertempo cepat dan nyaris tidak sempat terproses dengan baik oleh otak dan hatinya. Termasuk, ketika dengan tangan gemetar Kageyama menurunkan tali lingerie Hinata yang sebelah lagi. Gaun tidur minim itu merosot jatuh begitu saja, mempertontonkan tubuh yang dulu cuma berani ia curi-curi pandang saat terbalut pakaian. Tuan putri kecilnya yang dulu manis, mungil, ceking dan urakan sekarang menjelma menjadi wanita manis yang cantik, sekal, menggairahkan dan memiliki aura dominasi yang sangat kuat yang polos telanjang. Tangan mungil itu melepas kancing atasan piyama Kageyama satu persatu. Mata coklat karamelnya sayu namun intens. Kageyama merasa seperti dipaku sampai kelu lewat tatapan mata. Sekarang Kageyama paham mengapa banyak sekali pria yang tergila-gila dengan Hinata. Mungkin sosok yang sekarang ditatapnya lah yang membuat mereka tersihir. Sosok monster kecil yang indah dan penuh tantangan...
"Aku lebih mahir soal ini daripada kau, Tobi..." ucapnya sambil menarik turun celana Kageyama hingga sebatas lutut. "Biarkan aku memandumu, sampai kau bisa meliar dengan caramu sendiri. Oke?"
Kageyama mengangguk patuh sambil bersandar di tumpukan bantal, memangku Hinata. Hinata menyentuh dan menciumnya di segala tempat. Ia tidak bisa memalingkan pandangannya dari wajah ayu gongju-nya dan payudara montok yang nyaris tiga kali lebih besar dari dulu. Kageyama mengulurkan tangannya dan membelai, lalu meremas buah dada Hinata. Ia terperanjat ketika puting merah muda pucat istrinya berkilat mengucurkan cairan dan menciprati wajah Kageyama.
"Ups..." Hinata terkekeh. "Jangan keras-keras meremasnya. Aku ini masih ibu menyusui, lho."
"..." Kageyama merona padam sampai telinga dan pundaknya. Ia menyilangkan kedua lengannya dan berpaling menyembunyikan wajahnya.
"Hei, Tobi..." Hinata menggelitik telapak lengan Kageyama dan menurunkan penjagaannya agar bisa melihat seimut apa wajah kenes Tobi-nya yang salah tingkah. "Kau jijik padaku?"
"Nggak!" Sergahnya kasar. "...aku...aku malu.."
"Kenapaaa?" Hinata mencebik, membuat ekspresi merajuk palsu yang sukses membuat Kageyama luluh seketika.
"Aku...aku..." Kageyama menggaruk tengkuknya. "Khayalan terkotorku cuma sebatas memeluk dan menciummu saja. Itu dulu. Sampai...sampai...sampai aku lihat badanmu yang sekarang. Dan..aku jadi kepikiran lagi...itu..."
"Kenapa? Kenapa? Sini cerita sama gongju..." Hinata mengusap dagu Kageyama seduktif.
"Ano..." Kageyama dibuat gagap atas godaan Hinata. "I...ingat tidak, dulu aku pernah tidak sengaja memergokimu dan Miya-seonbae ber..ber..berbuat itu di ruang meeting?"
"Mh-hmm..." Hinata mengangguk.
"Aku tidak lihat tubuhmu karena terhalang Miya-seonbae. Tapi ekspresi wajah dan suaramu itu...ukh..." Kageyama mengucek-ucek rambutnya. "...benar-benar seksi. Setiap kali aku lihat wajahmu kadang aku kepikiran itu dan...dan..."
"Jadi begini?"
Kageyama menggeliut pelan ketika Hinata membelai perkakasnya, lalu menggenggamnya, mengocok dan memutirnya. Sensasi geli, hangat, linu dan berdenyut-denyut membuat Kageyama berantakan. Tobi muda yang baru 19 tahun tidak bisa berbuat apa-apa saat Hinata meracap kejantanannya dengan tangan, lalu dengan belahan payudaranya, lalu dengan mulutnya. Kageyama kembali menyembunyikan wajah dan desahannya ke dalam lipatan lengan. Ia malu sekali diperlakukan seperti gadis muda yang sedang diperawani, padahal dia adalah laki-laki yang harusnya mendominasi pergaulan suami-istri. Tetapi wajah manis Hinata, rintihan tipisnya yang menggoda, lekuk tubuhnya dan perasaan nikmat yang semakin menjalari nadi-nadinya membuat pikirannya keruh, pandangannya berkabut. Hinata memanasi dirinya sendiri sebelum dengan perlahan memanjat naik, berpegangan pada dada pemuda bernetra safir gelap tersebut sebelum bercampur melumatnya dalam hangat dan nikmat.
"Mmmhh...Tobi...tatap aku...onegai..." Hinata memanggilnya dengan suara yang tipis dan pekat bernafsu. "Biarkan matamu menikmati aku juga..."
Ini bukan mimpi yang jadi nyata. Tetapi kenyataan yang lebih indah dari mimpi. Kageyama perlahan menurunkan kembali tangannya, bersikap sok berani dengan meraba lekukan pinggang dan bongkahan pinggul padat istrinya. Selain luka-luka tipis yang bagi Kageyama tidak masalah sama sekali, tubuh Hinata benar-benar pemandangan elok. Selepas melahirkan putra kembar perutnya memang sedikit mengendur, tetapi tidak mengurangi keindahan badannya sama sekali. Lonjakan birahi membuat Kageyama menghentak masuk dan membenamkan dirinya dalam-dalam. Punggung Hinata menegang, ekspresi kesakitan dan teriakan pias membuat Kageyama terbelalak panik.
"...gongju..." Kageyama mengusap lengan Hinata. "..sakit, ya?"
Hinata melenguh, dan mengangguk kaku.
"Maafkan aku...maaf..." Kageyama nyaris dibuat menangis karena kebingungan. Ia duduk dan mendekap istrinya berikut belaian sayang di kepala dan punggung.
"Uh-hmm..." Hinata mengangguk. Ia mulai mengayuh pelan ketika nyerinya mulai mereda. "Jangan buru-buru begitu...mmhh...kalau terlalu kasar..na..ngghh...nanti belalaimu terjepit di dalam.."
"Oh, ya?!" Kageyama memucat. "...kalau...kalau sudah begitu bagaimana?"
Pundak kecil Hinata menggedik pelan. "Tidak tahu. Belum pernah juga."
"Oh..." Kageyama mencium puncak kepala Hinata, dan mulai membalasnya saat sudah mulai kerasan.
"Ahhh...Tobi...sayang.." Hinata meraih dagu Kageyama dan menatapnya sayu. "Enak?"
"Uhmm.." Kageyama mengangguk pelan. "Aku...aku rebahan lagi, ya? Biar mudah buatmu, gongju. Oke?"
Debut pertama Kageyama Tobio sebagai laki-laki dewasa sukses besar. Persenggamaannya dengan Hinata tidak hanya nikmat dan panas, tetapi lembut dan memabukkan. Sebagai pemuda belia yang baru merekah, ia sampai terlalu cepat. Kadang maneuvernya terlalu kasar, kasar atau bahkan kurang menggoda. Tetapi Hinata dengan sabar dan penuh kasih mengantarkannya sampai bergelimang nikmat berkali-kali dengan santai dan terkendali. Trauma masa kecil mendapat siksaan, beragam pelecehan dan menyaksikan almarhumah kakak perempuannya diperkosa membuat Kageyama dirundung ketakutan berlebih akan hubungan intim. Tetapi sang tuan putri menghancurkan segala insecurities yang dimiliki Kageyama dengan curahan cinta. Ia bahkan masih tersenyum dengan begitu cantiknya sementara Kageyama sudah dibuat basah porak-poranda, lunglai kehabisan nafas dan dilanda euforia berlebih selepas berorgasme.
"...Tobi?" Hinata membelai kening Kageyama. Rambutnya lepek akibat keringat yang membasuh seluruh tubuhnya. "Mau kuambilkan minum?"
Kageyama mengerjap berkali-kali, sebelum menarik nafas panjang. Hinata sudah beranjak hendak turun dari ranjang, tetapi Kageyama menahan tangannya dan menggeleng. Wanita mungil bersurai ginger itu kembali berbaring, membiarkan Kageyama menelusup ke dalam pelukannya.
"...gongju..." gumamnya. "Tadi itu... kau...keren sekali. Gomawo...."
Hinata mengangguk. "Sama-sama."
"Gongju...Shoyo..." Kageyama menciumi wajah Hinata. "Nega joh-a. Sarangahaeyo..."
"Saranghaeyo itu 'suka' atau 'cinta'?"
"Cinta." Kageyama membalas. "Nega joh-a itu seperti daisuki."
"Jadi sekarang kau 'suka' dan 'cinta' padaku?" tanya Hinata.
Kageyama melirik. "Memangnya tidak boleh?"
Hinata tertawa dan menciumi wajah Kageyama. Ia membelai surai legam Kageyama dan mencium rambutnya. Mereka saling berpelukan dalam diam sampai Hinata berpikir Kageyama sudah tertidur.
"'Tsumu-san, kau benar..." bisiknya. "Tobio-boy super kawaii kalau sedang horny."
"Bilang apa kau tadi?" Kageyama menengadah.
"Kupikir kau sudah tidur." Hinata mencium gemas wajah Kageyama.
"Hei, jawab aku." Kageyama mengelak ketika ia hendak dicium lagi. "Kau pernah membicarakan aku dengan Miya-seonbae, ya?"
"Penasaran, ya?" Hinata meniru cara jahil mendiang suaminya dengan nada menggoda dan alis yang meliuk-liuk. "Mau dikasih tahu atau mau dikasih coba?"
Melihat Hinata yang begitu, Kageyama malah berbalik memunggungi Hinata dan menarik selimut sampai tubuhnya terkubur. Hinata tertawa terpingkal-pingkal. Biar Kageyama jangkung dan mulai lebih bongsor dari sebelumnya, sikapnya tetap saja masih seperti ABG. Kageyama sendiri kesal, hanya karena Hinata lebih tua darinya ia sering diperlakukan seperti bocah kenes. Tetapi Hinata yang 'nakal' dan 'menakutkan' itu keren sekaligus seksi, dan sialnya Kageyama semakin dibuat jatuh cinta karena melihat sisi lain gongju-nya yang selama ini dipikir cuma manis, super nekad dan agak bodoh saja.
"Jadi, Tobi sayangku..." Hinata membelai punggung Kageyama. "'Tsumu-san punya rencana, setelah kita selesai berperang dengan kkangpae, dia mau berbaikan denganmu. Total berbaikan. Tidak ada cemburu dan dengki-dengkian lagi. 'Tsumu-san mau sepenuhnya terbuka denganmu karena dia sayang padamu. Dia bilang, kau adalah adik kedua buatnya. Tapi, setelah kalian beberapa kali sama-sama, 'Tsumu-san punya sedikit hasrat belok padamu."
Mendengar penuturan Hinata, Kageyama berbalik dan menyembulkan kepalanya. Kalimat terakhir istrinya terdengar janggal sekali.
"Miya-seonbae itu biseks?" tanya Kageyama tidak percaya.
"Nggak sih. Gimana ya..." Hinata merenung. "Atsumu kesayanganku itu memang agak ajaib. Shinsuke-san itu gay, dan Rintaro sebagai butler-nya sering memberikan pelayanan plus-plus. 'Tsumu-san senang menonton mereka melakukan itu. Terus dia pernah berkhayal seperti apa rasanya twin incest, lalu dia memperkosa Osamu—adik kembarnya, di malam pernikahan kami."
Kageyama keluar dari balik selimut dan duduk mendengar cerita Hinata. Ia tidak sadar ada hal lain yang membuatnya tertarik selain gongju-nya.
"Dalam suatu obrolan tidak jelas sebelum tidur, dia bilang 'kalau sudah besar, Tobio-boy pasti tampan'." Hinata mencium ujung hidung Kageyama. "'Luarnya dingin, tapi yang begitu pasti tipe yang kalau sudah horny pasti super kawaii'. Terus, dia menurunkan celananya dan mengaku padaku membayangkannya saja sudah membuatnya nafsu."
"Miya-seonbae itu cabul, ya?" Kageyama mengerenyit. "Lebih cabul dari Oikawa-sshi. Pantas saja Miya-seonbae sering pegang-pegang badanku. Awalnya, kupikir dia memang tipe yang touchy dan senang menggoda semua orang."
"Banget. Level cabulnya sudah melewati penjahat kelamin buronan." Hinata terkekeh. "Aku selalu dibuat kewalahan soal seks dengannya. Kau mau dengar yang lebih gila lagi?"
"Apa?"
"Usai perang dengan kkangpae, dia ingin kau menginap dirumah kami. Dia minta izin padaku untuk menidurimu. Kita melakukannya bertiga, tapi kau tidak boleh menyetubuhiku." Hinata mengulum senyum.
"Jadi..." Kageyama menggaruk pipinya dengan canggung. "Miya-seonbae...umm.."
"Dia berniat mencampurimu dan mencampuriku bergantian." Hinata melanjutkan. "Dia menamainya rally lintas gender."
"Benar-benar bejat. Aku sampai merinding." Kageyama mengusap lengannya sendiri. "Padahal dia keren dan baik. Juga sangat pintar. Kalau sudah marah menyebalkan, sih. Tapi—"
"Kita membicarakan 'Tsumu-san." Hinata memotong kalimat Kageyama. "Gwenchana?"
"Gwenchana." Kageyama mengangguk. "Kalau bukan karena kata-katanya, aku tidak akan yakin keluar dari Aoba Johsai. Daichi-sshi memang tahu aku agen ganda, dan dia memintaku melapor. Tetapi Miya-seonbae beda. Aku terang-terangan mengaku kepadanya aku ini agen ganda, dan aku ingin lepas dari Oikawa. Dia membiarkan aku tetap mencintaimu, dan tetap memperlakukanku dengan baik. Dia menyuruhku jangan bilang-bilang dia pakai Thundermoon karena aku lihat sendiri, dan aku ingkar janji. Waktu aku dengki-dengkian dengannya karena aku cemburu, kami berbaikan dan saling mengaku..."
Kageyama menelusuri tatto di pundak Hinata, lalu kembali berujar. "Miya-seonbae itu seperti rival, sekaligus kakak buatku..."
Malam itu dihabiskan Hinata dan Kageyama membicarakan segala hal tentang almarhum Miya Atsumu. Ada beberapa sisi yang ditunjukkan hanya ke hadapan Kageyama karena mereka berdua sama-sama lelaki. Dan banyak sisi lain yang Kageyama ketahui dari Hinata, meski Hinata masih mengunci rapat rahasia bahwa selama ini Atsumu memang mewariskan ilmunya sebagai hitman alumnus DET Sarkad kepada sang istri. Latihan sadisnya sempat membuat Hinata separuh gila, tetapi ia tahu itu adalah cara Atsumu menjaga istrinya di dunia hitam gokudo. Dulu Hinata selalu dibuat menangis kalau teringat dan mendengar nama si mendiang suami. Tetapi Kageyama berbeda. Ia begitu polos, dan semakin banyak Hinata dibuat mengenang Atsumu karenanya, hanya hal-hal indah yang datang serta rasa cintanya yang semakin menghangatkan hatinya. Keduanya berhenti mengobrol ketika Kageyama membenamkan wajahnya ke bantal dan tertidur lima detik kemudian.
Hinata menatap langit-langit kamar. Ia berselimut dan memejamkan mata, dimana wajah Atsumu kembali terbayang dalam benaknya menuju alam mimpi.
"'Tsumu-san..." bisik Hinata menjelang tidurnya. "Aku akan terus hidup untukmu."
[Musim panas, 6 tahun setelah kejadian Konflik 3 Langit]
"Kalau begitu, 750 juta."
Sakusa Kiyoomi, yang kini berusia 37 tahun berhadapan dengan Ushijima Wakatoshi yang bulan lalu baru saja berusia 16. Bocah mungil yang dulu selalu menjadi maskot imut Phantom Hawks tiba-tiba tumbuh jangkung dan menjadi hulk berwajah dingin yang berani-beraninya menawar golden brown (salah satu narkotika jenis opium) seberat 10kg dengan harga segitu. Itachiyama butuh membuat kasus peredaran narkoba, dan menghubungi Phantom Hawks selaku druglord terkaya se Asia-Pasifik adalah pilihan yang tepat.
"Bajingan kecil." rutuknya. "Kau memerasku."
"Harga bersih." kata Ushijima lagi. "Aku akan membantumu menyelundupkannya. Komori-sensei tidak bisa memenjarakanku. Aku ini dibawah umur."
"Tapi Motoya bisa memenjarakan Kawanishi atau Semi sebagai gantinya." tegur Sakusa. "Kau ini keterlaluan, Wakatoshi-kun. Mentang-mentang aku ini yakuza kerah putih, kau pikir rekeningku unlimited?"
"Tumben sekali kau bersikap miskin, Sakusa-san." Ushijima menopang dagunya. "Kamomedai Northwatch membuka usaha simpan-pinjam bersyarat, kok. Kamis lalu aku baru saja menemui Hoshiumi-san. Dia memberiku 30 milyar Yen dengan masa tenggang 20 bulan cicilan untuk ekspansi distribusi Hawking 2.0 di Hongkong. Bangunan, manpower, bahan baku, distribusi dan biaya menyumpal berlapis aparatur keamanan."
"Kau mau buka pabrik disana?" tanya Sakusa.
Ushijima mengangguk. "Kalau cuma sekedar shipping, demand-nya tidak terpenuhi. 750 juta yen itu baru 2.5% dari hutangku. Jadi wajar kalau aku sedikit memeras, kan?"
"Kepandaianmu berbisnis mulai terasah, eh?" Sakusa tersenyum sinis. "Kalau kasus kali ini terbongkar, uang dan barangmu bisa hangus, lho."
"Sakusa-san mau membongkar kasusnya dengan sengaja?" Ushijima menatap skeptis.
Sakusa mengangguk.
"Kurasa, membiarkan Komori-sensei gagal sesekali ada baiknya juga. Performanya bagus, tapi media memberinya image buruk karena mulai mengendus campur tangan Itachiyama karena Sakusa-san kan suaminya. Memberinya satu-dua kegagalan membuat Komori-sensei terlihat seperti manusia biasa, bukan jaksa berkekuatan tuhan."
"Mereka berpihak kepada siapa yang membayar mereka." Sakusa menukas. "Media massa lebih kejam dari professional hitman, lho."
"Semi juga bilang begitu." Ushijima melirik suguhan yang tadi diantarkan pelayan Itachiyama. Ia meminum tehnya dan memilih kukis mana yang mau dicobanya lebih dulu. "Hayato melihatmu di Ginza beberapa hari belakangan. Kau sering ketemu Mase-jin dan Inunaki."
"Aku pasang taruhan di judi balap mobil." Sakusa membenarkan. "Jadi penjudi lebih seru dibanding membuat lisensi bookmaking. Aku cuma pilih jagoan saja. Kalau musimnya sedang tidak menarik, aku pass."
"Bukankah Inunaki Shion itu dewanya balap motor teluk Tokyo?"
"Jadi begini, Wakatoshi-kun." Sakusa mencondongkan badannya. "Shion menggunakan kekuasaan keluarganya untuk bermain di judi balap mobil liar di Ginza. Kau tahu, seperti di jual beli mobil modifikasi dan remeh-remeh tidak jelas lainnya soal dunia balap mobil. Sementara di teluk Tokyo, dia jadi pembalapnya. Black Jackals menjadi tuan rumah dan pengulak pajak dari para bookmaker dan menarik administrasi bagi pembalap yang mau berlaga disana. Adriah, sebagai suami yang 'penyayang', selalu mendampingi Shion. Meian-san bilang kalau dia sedang 'dinas keluar', tidak ada yang boleh bertemu Shion."
"Jadi kita bisa bertemu Mase-jin kapan saja, dan cuma bisa bertemu Inunaki kalau ada Mase-jin?" Ushijima menerka. "Black Jackals menghabisi Nohebi karena berselisih dengan mereka di Roppongi. Mereka semua musnah tanpa jejak dalam 5 hari."
"Satu lawan 400." Sakusa mengangguk. "Kelas hitman veteran memang beda. Adriah juga relasi yang sangat loyal, dia tidak mau terima uangku kalau pakai jasa assassination legendarisnya. Black Jackals akhirnya memberiku harga nyaris seperempat dari tarifnya Kamomedai Northwatch. Adriah punya istri untuk dinafkahi, kan?"
"Jadi bagaimana?" tanya Ushijima, mengembalikan topik pembicaraan.
"600." Sakusa mendengus kasar. "Kalau kau masih tidak mau, aku akan beli dari para kkangpae. Aoba Johsai mau kasih setengah harga asal tidak kubakar rumah-rumah karaoke dan lovel hotel mereka."
"Tidak biasanya Itachiyama mau betah-betah berurusan dengan kkangpae..." Ushijima mengangguk. "600 juta Yen dengan 10 kg golden brown murni. Deal."
Ushijima menghabiskan suguhannya dengan nikmat dan perlahan. Sakusa cuma memandang sejenak pemuda tanggung tersebut, lalu bersandar lebih santai. Akhir-akhir ini Ushijima sering bepergian sendiri, dan itu mengkhawatirkannya.
"Wakatoshi-kun." Panggil Sakusa.
"Hmm?"
"Kalau kau yang sekarang naik jadi boss sebelum Perang Kapak Baja, tidak akan ada perang." Sakusa tersenyum. "Kau membuatku salut."
"Kau mau berlutut pada elang putih Yokohama?" tanya Ushijima.
Sakusa menarik nafas singkat. Ia lupa, meski Ushijima Wakatoshi yang sekarang adalah boss mafia yang gemilang, ia belum cukup matang menerima candaan sarkasme dan pujian tersirat. Kalau bukan karena bujukan manis istrinya yang punya soft spot pada Ushijima (yatim piatu di dunia mafia, kasihan. Kayak Bruce Wayne. Katanya begitu tapi Sakusa terlalu bengis untuk sekedar kasihan pada bocah yang nyatanya sama brutal dengan boss mafia lain), Itachiyama mungkin akan bersekongkol dengan kkangpae, Raven, Black Jackals plus membayar Kamomedai Northwatch untuk menghabisi Phantom Hawks yang sejak dulu dibencinya. Meski sekarang tinggal di Shizuoka, Sakusa tetaplah gokudo Kanto. Mendendam sudah senatural bernafas untuknya.
Tetapi tidak. Bukan begitu caranya berpolitik.
Sakusa melirik tehnya dan wajah Ushijima bergantian sementara kepalanya menjalin konspirasi apa yang sebaiknya ia jalankan dalam menghadapi Phantom Hawks yang sekarang.
"Myaa-saaaaaaammmm!"
Miya Souma berlari sekuat tenaga menghampiri pamannya, Miya Osamu yang baru keluar dari area rumah. Bocah berusia 6 tahun itu memeluk Osamu dengan gembira, dan Osamu melemparnya ke udara lalu menangkapnya berkali-kali. Wajah bahagia Souma cerah seperti musim panas hari ini.
"Nao-chan, kochi-kochi!" Souma melambai pada adik tirinya, Kageyama Naoki.
"Uh! Uh! Uh!"
Bocah berusia 3 tahun yang masih kesulitan berjalan itu berlari di pekarangan konblok kediaman keluarga Kita dengan wajah penuh semangat, lalu jatuh tersungkur. Souma berlari menghampiri adiknya, cuma untuk mendapati Naoki berusaha berdiri sendiri dan menatap kedua tangannya yang memerah karena tergesek konblok dengan mata berkaca-kaca. Kageyama Tobio dan Osamu menghampiri dua bocah itu.
"Souma, larimu terlalu cepat." tegur Kageyama sambil berjongkok, mengelap lembut kedua tangan Naoki dengan tisu. "Dongsaeng-mu belum bisa mengejar. Hati-hati."
"Puuh! Puuuh!" Souma meniup-niup tangan adiknya. "Sudah tidak sakit, kan?"
"Ngg.." Naoki mengangguk, pura-pura kuat meski ia merasa tangannya masih sakit. "Chooma-hyeong, chuu chuu..."
Souma mendekatkan mukanya dan kedua bocah itu saling bertukar cium pipi. Kageyama tersenyum lembut dan mengusap kepala kedua anaknya. Osamu terjengkang sambil memegangi dadanya. Apa-apaan kerukunan imut dua bocah bersaudara ini, sih? Sepertinya waktu ia seumur dengan Miya Souma, dirinya dan mendiang Atsumu sudah mulai saling memukul.
"Kageyama teme. Kau tahu aku paling lemah sama bocah." Osamu merutuk. "Damage-nya nggak masuk akal..."
"Gongju juga bilang begitu." balas Kageyama. "Sudah dua tahun Kita-san tidak bertemu cucu-cucunya. Jadi kami memutuskan untuk liburan ke Kobe."
"Mana Shoyo?" tanya Osamu langsung.
"Masih di makamnya Miya-seonbae. Dengan Atsushi dan anak bungsu kami. Tadi kami dari sana juga, lalu kubiarkan Shoyo sendirian dulu." jelas Kageyama. Ia menarik Naoki ke dalam gendongannya. "Souma, beri salam yang santun sama Myaa-sam."
"Konnichiwa, Myaa-sam." Souma membungkuk dan menyapa pamannya.
"Wiwiwa, Myaa-sam!" Naoki membeo ucapan kakak tirinya.
"Masuklah duluan. Aku akan mencari Shoyo."
Kageyama mengangguk. Ia menuntun dua putranya masuk ke dalam rumah dan menyapa beberapa orang dari klan Inarizaki. Osamu yang selalu berbalut pakaian tradisional Jepang kalau berada di dalam rumah menggulung lengan hakama-nya karena kegerahan. Ia berjalan ke area pemakaman keluarga Kita yang berada sekitar 200 meter dari kediaman utama, berada di belakang area dojo. Disana, Hinata tengah mengusap nisan Miya Atsumu dengan sebelah tangan dan menempelkan keningnya dengan mesra seakan tengah menyapa sang mendiang suami. Anak tertuanya, Atsushi, berjongkok di dekat batu nisan Atsumu sambil memandangi dupa yang perlahan-lahan terbakar.
"Okaa-chan.." Atsushi, dengan suaranya yang dalam dan tenang tak seperti anak-anak pada umumnya, merogoh saku celananya. "Tou-chan suka permen susu, nggak?"
"Dapat darimana permen susu, hmm? Okaa-san melarangmu makan manis-manis kalau bukan hari minggu, kan?" tegur Hinata lembut.
"Dari nee-chan di pesawat." Yang Atsushi maksud adalah, ada seorang pramugari yang memberinya sebungkus permen susu di pesawat pada perjalanan keluarga Kageyama-Hinata dari Yokohama ke Kobe. "Okaa-chan sudah kasih macam-macam. Att-chan juga mau kasih."
"Boleh." Hinata mengangguk sambil membetulkan gendongannya pada si anak bungsu. "Jangan lupa doakan tou-san, ya."
Miya Atsushi meletakkan sebutir permen susu di baki kecil sesaji dan menangkupkan tangan, berdoa pada ayah yang tidak sempat ditemuinya sebelum lahir. Osamu melambai pada bayi kecil yang digendong Hinata dan wanita itu menoleh. Ia berjinjit dan bertukar ciuman pipi pada adik iparnya.
"Okaeri, Shoyo." ucapnya. Ia berjongkok dan menghampiri Atsushi. "Halo, Att-chan."
Berbeda dengan adik kembarnya, Atsushi justru takut dan malu kalau dihampiri Osamu. Ia pasti berlari dan bersembunyi, meski ia terlihat iri adik-adiknya bermain dengan si paman. Hinata mengusap kepala mungil yang menyembunyikan diri di balik kakinya.
"Att-chan, beri salam dulu sama pamanmu." ucap Hinata.
"...nichiwa..." ucapnya tipis. "'Samu-ji."
Osamu terkejut mendengar panggilan tersebut. "Kau mengajarinya memanggilku begitu?"
Hinata menggeleng. "Nanti kuceritakan. Att-chan, jangan begitu. Pamanmu kangen, lho."
"Mau kugendong tinggi?" Osamu menawarkan. "Tinggi-tinggi kayak Souma dan Nao-chan?"
Atsushi menggeleng keras-keras. "Okaa-chan, Tobi-papa manaaa?"
"Att-chan sudah janji pada Tobi-papa untuk tidak nakal kalau ikut okaa-chan ketemu tou-chan lebih lama, kan?" Hinata mulai jengkel. "Sudah lupa dengan janjimu?"
"Shoyo." Osamu menegur.
Atsushi memberengut, kesal karena dimarahi ibunya. Meski ia takut dan malu bertemu Osamu, kali ini Atsushi menghampiri pamannya dengan kepala tertunduk. Osamu menggendongnya dan berdiri.
"Souma dan Nao-chan makan semangka di rumah. Mau ikutan?" tanya Osamu lembut.
Atsushi cuma mengangguk. Mereka berempat kemudian memasuki rumah dan melepas penat seusai perjalanan jauh.
Dari pernikahannya dengan Kageyama Tobio, Hinata dikaruniai dua putra lagi. Kageyama Naoki, yang benar-benar serupa parasnya dengan sang ayah namun mewarisi mata ibunya adalah anak penuh semangat yang sangat akrab dengan kakak tirinya, Miya Souma. Si anak bungsu, Kageyama Akagane baru berusia 11 bulan. Rambut dan matanya serupa Hinata, rona kemerahan rambut anak bungsunya sedikit lebih gelap seperti tembaga. Karena itu, Hinata menamainya Akagane (sebutan lawas Jepang untuk logam merah alias tembaga. Ide itu diambil dari nama anak bungsunya Bokuto yakni Kurogane yang bermakna logam hitam alias besi).
Seluruh anggota klan Inarizaki dibuat terkejut karena begitu tumbuh besar, Atsushi dan Souma betul-betul serupa dengan Atsumu dan Osamu semasa kanak-kanak. Souma yang sangat aktif dan tidak kenal takut persis dengan Atsumu semasa kecil. Atsushi agak berbeda. Dia pendiam dan pemikir, cenderung bersikap seperti kakak yang dewasa tetapi masih penakut. Souma selalu melindunginya dan berbagi makanan atau mainannya kepada Atsushi dan Naoki sebelum dirinya sendiri. Souma memanggil kembarannya dengan sebutan Att-chan-hyeong, yang dibeo pula oleh Naoki. Kageyama memanggil Atsushi dengan sebutan Att-chan karena dulu dipikirnya Souma-lah sulung dari si kembar Miya generasi kedua, padahal Atsushi-lah yang sulung. Sementara Naoki memanggil Souma dengan sebutan Souma-hyeong. Kageyama mengajari anak-anak mereka sedikit bahasa Korea.
Begitu memasuki rumah, Atsushi berlari menghampiri Kageyama dan memeluknya erat-erat. Souma dan Naoki asyik bermain dengan Ginjima sambil makan semangka.
"Si kembar memanggil Kageyama dengan sebutan Tobi-papa." ucap Osamu. "Kau mendidik mereka biar tahu kalau Tsumu itu ayah mereka yang sudah mati?"
Hinata menggeleng. "Tobi menjelaskannya pada mereka. Aku tidak tahu apa yang dia katakan pada anak-anak kami, tetapi tampaknya mereka semua paham. Aku menyuruh Naoki memanggil Tobi dengan sebutan papa saja tapi dia tidak mau. Sementara Atsushi...entahlah. Sikapnya agak sedikit berbeda. Dia baru-baru ini saja dekat dengan Tobi, semenjak demam awal musim panas, dan Tobi yang mengurusnya. Sebelumnya, dia tidak mengakui Tobi-papa sama sekali setelah tahu kalau ayah kandungnya itu 'Tsumu-san."
Osamu terdiam mendengar penuturan Hinata.
"Mungkin sikap Atsushi adalah sisa-sisa penyesalanku dulu." ucapnya sendu. "Waktu aku belum ikhlas dengan kepergian 'Tsumu-san. Atsushi begitu penasaran dengan 'Tsumu-san dan bertanya padaku tentangnya terus. Dia juga senang karena ayah kandungnya juga kembar. Panggilan 'Samu juga aku yang memberitahunya. Tobi berpikir mungkin dia takut padamu karena kau itu besar sekali, dan super mirip dengan ayahnya yang sudah ada di alam baka."
"Jadi Att-chan mengira aku ini setan?" Osamu mencebik kecewa.
"Mungkin." Hinata tertawa.
"Tapi Souma kelihatannya oke, ya?" Osamu menoleh pada Miya Souma. "Dia bertindak seperti kepala suku. Dia tahu 'Tsumu itu ayah kandungnya juga, tapi tetap dekat dengan Tobi-papa."
"Memang. Kalau dirumah, dia rajanya. Attchan-hyeong adalah perdana mentri. Naoki, Akagane, okaa-san dan Tobi-papa adalah rakyat yang setia."
Hinata bergabung dengan keluarga kecilnya. Kageyama ganti menggendong Akagane sementara okaa-san bermain dengan tiga anaknya. Osamu cuma memandang dari jauh, bagaimana joki cebol mungil yang dulunya picik, naif dan lemah sekarang adalah wanita tegar yang punya keluarga bahagia setelah pertarungan panjang yang berkelumit.
Sudah 6 tahun dan Osamu masih saja tersihir dengan pesona Kageyama Shoyo yang dulunya bermarga Miya, dan lahir dengan nama gadis Hinata.
"'Tsumu, pantas saja kau mati bahagia." Osamu tersenyum kecil, bergumam pada dirinya sendiri. "Istrimu benar-benar tidak ada bandingannya."
"Sakusa-san, bertaruhlah untukku."
Sakusa menggerling jijik mendengar tawaran gamblang Kageyama Shoyo. "Ii ya da. Kau pasti kalah."
"Kau tidak kasihan melihat papan bookmaking-nya? 0/300 untuk Johnny Blaze!" Hinata merengek. "Mereka semua menyumpahiku kalah! 2 juta yen tidak membuatmu melarat, kan?"
"Jangan memelas begitu, Sho-chan!" Bokuto tertawa keras. "40 juta Yen untuk murid kecilku mengalahkan Leigong!"
"200 juta untuk Johnny Blaze." Meian mengetik nominal pada akun e-banking miliknya.
"Ahahahahaha!" Inunaki tertawa atas kesombongannya. "Sudah mau 5 tahun dan tidak kapok juga kalah dari Leigong. Sho-chan ini campuran keras kepala, masokis dan pantang menyerah, ya!"
Dengan binar-binar bahagia, Hinata mengucapkan terima kasih. Ia melirik dua orang asing yang ada di meja tempat mereka bercengkrama. Oliver membanting gepokan 5 juta Yen ke tumpukan uang yang disodorkan Bokuto sebelumnya dan memberi acungan jempol.
"Addie-san?" Hinata menangkupkan tangannya dan memasang wajah memelas.
"Sorry, princess." Adriah menggeleng, dan mencium lembut pipi Inunaki yang duduk nyaman di pangkuannya. "I belongs to Shion unconditionally."
"Lihat saja!" Hinata berdiri, menguncir rambut dan menenteng helm. "Shion-kun, kalau aku menang, aku ingin kalian semua membopongku seperti seorang ratu!"
"Kalau kau menang." Inunaki berjalan mengikuti Hinata ke arena balap.
Kembalinya Kageyama Tobio ke Raven dan kepulangan Tsukishima menambah daya tempur Raven berkali-kali lipat. Pamor pasangan Johnny Blaze kedua milik gagak Yokohama membawa pengaruh baik dan buruk. Hinata dicibir sebagai trophy wife dan maniak balapan karena suami keduanya juga bergelar Johnny Blaze meski berbeda wilayah oleh beberapa klan yakuza. Sebagian eks buaya tambang memberikan loyalitas, mengabdi sebagai anggota Raven setelah Hinata mengalahkan Aone dan mendapatkan kembali gelarnya sebagai Johnny Blaze Yokohama. Aone bergabung dengan Raven secara sukarela karena mengagumi kebaikan hati Hinata, lalu Kageyama dikalahkan seorang joki milik Itachiyama di arena Nihonbashi dan memilih mundur sebagai pembalap aktif guna mengurus keempat putranya sembari bekerja sebagai yakuza. Hinata butuh 1 tahun penuh menguasai arena balap Nihonbashi, dan dua tahun setengah mempertahankan gelarnya sebagai Johnny Blaze Kobe sambil terus menerus menantang Inunaki kapanpun ia berkesempatan open challenge. Balapan seru antara Hinata dan Inunaki menarik minat penonton dan penjudi. Leigong sang juara dari para jagoan balap melawan Johnny Blaze wanita yang sudah menundukkan 3 kota. Kalau Hinata berhasil memenangkan balapan ini, ia akan digelari sebagai Leigong yang baru. Itachiyama, Black Jackals, Raven dan Phantom Hawks berinvestasi menyuap pihak keamanan negara agar balap liar super dinamis di seluruh Jepang baik motor dan mobil tidak tergusur.
"READY, SET, GOOOOOO!"
Hinata memacu gas motor terbaiknya, bermaneuver dengan teknik terbaiknya, mengakselerasi dengan kecepatan terbaiknya. Beruntung ia mengenakkan riding armor dan helm berkualitas tinggi sehingga Hinata bisa meminimalisir ketakutannya meregang nyawa karena kecelakaan balap. Inunaki tidak hanya cepat, tetapi sangat mahir dan berpengalaman. Hinata sudah mempelajari, mencontek dan menggunakan semua teknik balap dari para pesaingnya terdahulu selama bertahun-tahun bergelar Johnny Blaze. Tetapi, setelah semua usaha terbaiknya, sang Leigong tetap tidak bisa dilengserkan dalam balapan kali ini. Hinata berakhir sebagai juara dua, disusul beberapa pembalap lain yang ia tidak kenal. Inunaki mengerem motornya dan melepas helm, mengacak-acak surai platinum blonde-nya yang lepek.
"Dengan ini, 1877 menang. 0 kalah." Inunaki Shion tersenyum.
"Iya." Hinata mengangguk. Mata coklat karamelnya berkilat. "Bulan depan, akan kubuat 1877 kalah dan 1 kali menang."
"Ahahaha!" Inunaki kembali tergelak. "Kau ini benar-benar pendendam ya, Sho-chan."
"Aku tidak dendam. Aku ini Johnny Blaze." ucap Hinata sambil memburai ikatan rambutnya. "Saat aku kalah, yang kuperlukan hanya menuntut balas."
"Kata-kata yang bagus. Meskipun bulan depan akan menjadi kekalahanmu yang 1878, aku akan tetap mentraktirmu minum."
Inunaki turun dari motornya dan bergabung bersama khalayak untuk melakukan selebrasi kemenangan. Hinata yang cuma ikut selebrasi seperlunya lalu duduk menyendiri di motornya sambil meneguk champagne langsung dari botolnya. Ia menatap langit musim panas Tokyo yang muram minim bintang, lalu merenungkan perjalanan hidupnya selama 6 tahun kebelakang.
Bergabung dengan yakuza karena ingin balas dendam.
Balapan. Diculik. Balapan.
Bercinta. Patah hati. Menikah.
Balapan. Ditabrak. Bangkit dari maut.
Berperang. Hamil. Menjanda.
Mencari pembenaran. Mengobati duka. Mencari cinta baru. Melahirkan.
Balapan. Balapan. Balapan. Menikah lagi dan bercinta lagi.
Balapan dan mengurus anak.
Balapan.
Hinata dulu bertekad menjadi Johnny Blaze Yokohama agar Raven mau menerimanya. Guna membalaskan dendam kematian ayahnya. Saat itu, ia yang masih berusia 14 tahun termakan kata-kata mutiara Johnny Blaze Yokohama generasi sepuh yakni mendiang Ikejiri Hayato:
Balapan itu soal menang dan kalah. Saat kau menang, kau akan bahagia. Di saat kau kalah, kau akan mendendam. Tetapi, selama masih menuntut balas, sakit yang dirasakan dari dendam tidak akan membunuhmu. Balapan lagi. Latih dirimu. Menuntut balaslah dengan segala kemampuanmu. Kalau kau kalah lagi, tuntut balas kekalahanmu di arena balap sampai kau akhirnya lunas. Dan setelah kau melunasi segalanya, kau akan menjadi Sang Penuntut Balas. Semua juara balap motor akan dipanggil Johnny Blaze, karena mereka sudah menuntut balas sampai lunas!
Menjadi Johnny Blaze tidak hanya membuat Hinata Shoyo yang sempat menjadi Miya Shoyo, lalu Kageyama Shoyo, menjadi juara balap motor liar. Menjadi Johnny Blaze mengajarkannya untuk mengampuni dan mengikhlaskan. Untuk menerima rasa sakit dan bangkit. Untuk saling mencintai dan saling menguatkan.
Menjadi Johnny Blaze mengajarkannya menjadi manusia seutuhnya.
"'Tsumu-san..." Hinata bergumam pada langit. "Aku sudah jadi Johnny Blaze yang keren belum?"
[The End]
A/n:
[*] Maksud kata-katanya Adriah adalah bound by the blood. Di fanfic ini bound by the blood adalah ikatan darah yang tercipta dari pernikahan atau hubungan orangtua-anak (baik kandung maupun adopsi kayak Kita sama Miya kembar), dan kedua klan yang sudah terikat darah ini tidak diperbolehkan perang sama sekali satu sama lain karena sudah menjadi 1 keluarga. Dengan anggapan bahwa Black Jackals tahu kalau Kageyama itu seharusnya jadi bossnya Aoba Johsai, Adriah berpendapat bukannya lebih baik Kageyama jadi hwangje aja teru nikah sama Hinata biar Raven sama Aoba Johsai bisa akur karena mereka bound by the blood.
[**] Perkataan Inunaki disini berkonotasi bahwa Kageyama nggak mau jadi hwangje alias bossnya Aoba Johsai dan nikahin Hinata karena nantinya Hinata dipandang sebagai trophy wife alias istri bergilir, karena sebelumnya Hinata sama Atsumu nikah sekaligus memperkuat hubungan politik kedua klan mereka. Makanya Kageyama kabur dari Aoba Johsai dan dan milih gabung ke Raven meski Oikawa udah ngewasiatin Kageyama untuk jadi hwangje gantiin dia kalo mati. Biar merasa dirinya setara untuk Hinata, Kageyama cari gelar Johnny Blaze dengan ikutan balap motor juga. Begituuuuu.
B.A.N.G.S.A.T:
YEAAAY AKHIRNYA JOHNNY BLAZE COMPLETE!
Mau menyalami diri sendiri dulu, akhirnya bisa menamatkan fanfic halu iseng ini. Word count terbanyak, chapter terpanjang dan aku bahagiaaaaa! Pengumuman, pengumuman, bagi yang merasa benar menebak bahwa yang nikahin Hinata adalah Tobio-boy silahkan klaim hadiah kalian melalui DM author yaaa! Author udah merancang endingnya sejak awal ngetik fanfic ini untuk melayarkan ship KageHina setelah AtsuHina udahan dan Hinatanya ngejanda. Kurang sedep apa coba Tobio-boy masih kenyes-kenyes gitu dapet janda solehot kayak Hinata kannnn. Author sempet pengen bikin HoshiHina tapi ntar dulu deh. Di fanfic lain mungkin. Anaknya Hinata laki semua btw, bagi yang penasaran. Miya kembar persis bapaknya yang ikemen tapi jamet itu (Atsumu maksudnya AHAHAHAHA), Naoki persis Kageyama kecil cuma matanya kayak Hinata, dan Akagane persis Hinata tapi rambut ginger-nya agak lebih gelap gitu warnanyaaa. Oh, bonus aja sih author baru ngeluarin Black Jackals. Abis liat di Pinterest mereka tim yang emesh-emesh bacot gitu tauuuu (beda banget sama schweiden alders, yang bacot Hoshiumi doang sama Romero kasiaaan), dan pair Adriah Thomas (MB-nya BJ yang bule rambut belah pinggir, yang ngomong inggris sama Hinata di manganya) sama Inunaki Shion (liberonya BJ) itu gemesnya keterlaluaaaaa! Kayak Lev-yaku versi upgrade gitu lhooo! /okesetop
Duh mau ngomong apalagi, ya.
Makasih banyak buat para readers yang menyemangati aku untuk ngelanjutin fanfic yang based on halu-halu gajenya author ini. Dukungan kalian membuatku terharu. Semoga kalian menikmati cerita Johnny Blaze dari awal sampai selesai ya.
Diingatkan sekali lagi, readers yang tebakannya benar silahkan DM author. Ada hadiah menarik, lho!
Sampai ketemu di fanfic selanjutnya. Mari ramaikan fandom HQIndo dengan konten-konten yang variatif dan berkualitas!
With peace, love and gaul,
Fajrikyoya.
