Enjoy Reading~

.

.


"Aku terkejut kalian masih datang bersama." Tsunade terkekeh. Ia menopang wajahnya dengan kedua telapak tangan yang menyatu.

Iruka menelengkan kepalanya, bingung. "Memangnya kenapa dengan kami, Tsunade-sama?"

Tsunade dan Shizune saling melirik satu sama lain kemudian menahan tawa. Di sisi lain, Iruka dan Kakashi hanya berdiri bingung. Dua wanita di hadapan mereka bertingkah aneh, dan mereka tidak mengerti apa penyebabnya.

"Ma... Sudahlah, tidak perlu dipikirkan apa yang ku katakan tadi."

Iruka mengangguk, meski jelas ia masih penasaran dengan maksud tawa mereka.

"Ini mungkin akan menjadi percobaan terakhir." Gumam Tsunade tanpa sadar.

Wanita itu kembali menyuruh Kakashi dan Iruka berbagi sentuhan dengan Shizune yang berada di sekitarnya, mengalirkan chakra berwarna hijau pudar untuk mendeteksi pergerakan apapun yang terjadi dari dalam tubuh keduanya. Kondisi mereka jauh lebih stabil daripada pertama kali dimana Kakashi kehilangan kendali dan malah memuaskan napsu alam bawah sadarnya. Ada kernyitan samar dari masing-masing Kakashi dan Iruka. Shizune menangkap gestur kecil itu dan kembali meneruskan penelitiannya.

Tes mereka berjalan lebih cepat dari sebelumnya. Selain karena keadaan mereka yang jauh lebih stabil, pergerakan chakra mereka juga tak signifikan. Seolah mereka hanya saling bersentuhan secara biasa dan tanpa chakra hijau pudar milik Shizune.

Tsunade menghela napas. Akhirnya jurnal pengobatan mereka berdua berada di ujung catatan. Ia bernapa lega, juga ragu. Ia yakin penelitiannya benar. Tsunade si Hokage pemalas itu menghabiskan waktunya untuk hal ini, tapi jelas dirinya masih memiliki keraguan. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan akan terjadi.

"Perkembangan yang bagus. Setidaknya dengan ini, tidak akan ada lagi salah satu yang kesakitan di antara kalian ketika berbagi chakra. Sebelumnya aku yakin sekali bahwa Iruka memberikan chakranya padamu, tapi sekarang aku menemukan fakta; chakra kalian bercampur, dan Iruka juga menerima chakra darimu meski samar ku rasakan."

"Jika Iruka menerima chakra dariku, mengapa dia selalu kelelahan bahkan pingsan ketika kami berbagi chakra?"

Tsunade menopang dagu, sebuah senyum puas tersungging. "Pertanyaan yang bagus. Awalnya aku juga berpikir demikian, tapi lalu aku menemukan jawabannya. Level chakra kalian ada di perbedaan yang cukup senjang. Kau, Kakashi bisa menerima chakra Iruka dengan mudah, sementara Iruka harus menyesuaikan kondisi tubuhnya dengan chakra mu yang terlalu kuat. Awalnya ku kira ini akan membahayakan Iruka, tapi ternyata tidak sama sekali. Semua itu hanyalah efek dari penyesuaian."

Kakashi menghela napas lega. "Baguslah, aku tidak membahayakannya."

"Ah, ada satu hal lagi yang ingin aku katakan pada kalian. Entah ini termasuk kabar baik atau buruk."

Tubuh Kakashi dan Iruka reflek menegang. Tsunade menghela napas, ekspresi wanita itu selalu tak tertebak. Ada banyak hal yang menjadi misteri dalam setiap keputusan yang diambil oleh sang Hokage.

"Aku menemukan fakta bahwa ternyata Kakashi tidak harus menghisap chakra Iruka. Ah, maksudku tidak harus Iruka." Ia menghela napas. "Sejak awal aku merasa aneh mengapa hanya chakra Iruka yang cocok denganmu, tapi sekarang aku menemukan penyebabnya. Masalahnya bukan pada chakra Iruka, tapi pada kondisi psikis Kakashi."

Kakashi dan Iruka saling berpandangan. Mereka sama sekali tidak paham dengan penjelasan Tsunade. Wanita itu mengusap wajahnya menyadari bahwa penjelasannya tak bisa diterima begitu saja.

"Ini semua soal kemauan dan pemicu. Ternyata benar semua sharingan bahkan yang dipakai non-Uchiha juga berbagi fungsi dan pemicu yang sama. Emosi Kakashi. Mungkin Kakashi tidak sadar, tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ia berharap jika yang membagi chakra nya adalah Iruka. Ini lebih ke emosi bawah sadar? Ugh, aku agak bingung menjelaskannya, tapi ku harap kalian mengerti."

"Jadi, apakah ada kemungkinan suatu hari Kakashi-san tidak menginginkanku lagi?" Tanya Iruka tiba-tiba. Tiga pasang mata yang ada dalam ruangan itu spontan menatap Iruka. Ia menyadari ada yang salah dengan ucapannya. "Ma—Maaf, maksudku, apakah suatu saat ada kemungkinan Kakashi tidak membutuhkan chakra ku lagi?"

Tsunade mengangkat bahu. "Pertanyaanmu tidak bisa ku jawab. Emosi manusia bukan wewenangku. Emosi manusia memiliki tujuan dan perubahan yang berbeda dari tiap individu. Bahkan apa yang sedang terjadi detik ini bisa langsung berubah di detik berikutnya. Misteri. Hati manusia adalah lautan yang dalam, hanya si pemilik yang mengetahuinya."

"Oh..."

Ruangan Hokage hening tanpa kata. Masing-masing larut dalam pikirannya masing-masing. Benar apa yang Tsunade katakan. Hati manusia adalah misteri terdalam. Sebaik apapun mengenal manusia, hanya secuil fakta saja yang akan diketahui. Keseluruhan fakta adalah milik diri sendiri.

"Ini mungkin akan menjadi urusan pribadi di antara kalian berdua. Secara medis, tidak ada yang salah dengan kalian, juga fakta bahwa semua ini tidak ada kaitannya dengan virus chakra yang awalnya ku curigai. Semua ini tentang perasaan. Agak mengecewakan bahwa dari sekian banyak penelitian yang ku lakukan, kesimpulannya malah sesederhana ini, tapi aku juga bersyukur setidaknya semua misteri ini terpecahkan." Tsunade menghela napas. "Baiklah, ku rasa semuanya sudah selesai. Kalian tidak perlu lagi rutin bertemu denganku. Aku juga akan kembali memberikan misi kepada Kakashi karena sudah banyak level S yang belum terselesaikan."

Kakashi dan Iruka pamit keluar setelahnya. Ada banyak hal yang ingin mereka tanyakan, tapi seperti yang Tsunade katakan sebelumnya; semua ini adalah masalah mereka berdua. Iruka tidak menyangkal bahwa ada setitik rasa kecewa ketika mendengar penjelasan Tsunade. Ia kira, dirinya cukup berarti untuk hidup Kakashi. Ia bahkan sudah berjanji akan selalu menolong Kakashi dalam sisa hidupnya. Tapi mendengar fakta bahwa Kakashi bisa saja mengambil chakra orang lain cukup membuat dadanya terasa terhimpit benda berat. Sesak yang tidak bisa ia jelaskan. Iruka tidak ingin bertingkah melankolis, ia juga tidak mau sikapnya seperti wanita. Ia adalah seorang lelaki, seorang ninja, menunjukkan kelemahan adalah pantangan.

"Kau baik-baik saja, Iruka-sensei?"

"Hah? Oh, haha." Iruka menggaruk tengkuknya dan tersenyum lebar. "Tidak ada masalah kok, Kakashi-san."

Kakashi mengangguk. "Soal pertanyaanmu tadi..."

Wajah Iruka merah padam. "Ma—Maafkan aku, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. A—Aku hanya reflek, um... anu aku—"

Kakashi tertawa. "Tenang saja, aku tidak masalah dengan pertanyaanmu, lagipula aku mengungkitnya bukan untuk menyalahkanmu atau semacamnya."

"E—Eh?"

"Aku hanya penasaran mengapa kau bertanya seperti itu. Apa kau pikir aku akan mencari orang lain untuk ku mintai chakra?"

Iruka menunduk, memainkan ujung jarinya. "Bukan sesuatu yang tidak mungkin, 'kan?"

"Benar. Tapi kenapa kau berpikir itu akan terjadi?"

Keduanya berjalan bersama dan sampai pada kursi beton tempat pertama kali mereka bertemu. Sadar atau tidak, tiap kali mereka tak ada tujuan, selalu tempat itulah yang menjadi alternatif.

"Aku..." Iruka mengusap wajahnya. "Maaf, Kakashi-san, aku juga tidak tahu kenapa aku berpikir seperti itu. Ketika Tsunade-sama mengatakannya, tiba-tiba pemikiran itu terlintas di kepalaku, aku hanya penasaran. Maaf, aku menanyakan hal yang aneh."

"Apa menurutmu akan ada orang lain yang dengan suka rela memberikan chakra padaku?"

"Eh?"

"Kau tau bagaimana reputasiku di Konoha bukan? Ninja hebat yang sombong, mantan anbu berkepribadian buruk, ninja dengan kesialan bertubi-tubi, kehidupan yang menyedihkan. Apa kau kira akan ada yang bersedia memberikan chakra nya padaku secara cuma-cuma?"

Iruka tidak pernah memikirkan hal itu. Ia tahu tentang Kakashi dan kehidupannya, tapi ia tak pernah memikirkan soal hal itu. Lagipula, di dunia shinobi semua orang mendapatkan jatah tragedinya masing-masing. Iruka tidak terlalu memikirkan itu karena kehidupannya pun juga memiliki jatah tragedinya sendiri. Ia pikir mengungkit sisi gelap kehidupan seseorang sangatlah tidak etis, dan ia tidak menyangka Kakashi akan mengatakan hal itu. Apakah Iruka terlalu meragukan dirinya sendiri?

"Maafkan aku, terkadang aku hanya merasa um... bagaimana menyebutnya ya?" Ujar Iruka kalem. "Terlalu banyak orang-orang hebat di sekitarku. Sejak kecil kemampuanku sangat rata-rata. Aku tidak memiliki keahlian khusus, aku juga senang membuat diriku sendiri sebagai lelucon agar teman-teman sekelasku tertawa. Karena itulah..."

"Kau hanya berpikir kalau kau tidak layak. Kau terlalu memandang rendah kepada dirimu sendiri."

Iruka terkekeh. "Mungkin benar, tapi semua itu tetaplah fakta, Kakashi-san. Kau tidak akan mengerti bagaimana rasanya berada di posisiku, pun denganku yang tidak pernah tau bagaimana sulitnya posisimu. Kita memiliki dunia yang berbeda, dan jelas sangat bertolak belakang. Makanya aku..."

"Khawatir?"

Iruka menggigit bibirnya dan mengangguk pelan. "Begitulah."

Kakashi membuang napas berat. "Baiklah, aku akan berjanji padamu."

"Eh?"

"Kau khawatir aku akan mencari orang lain untuk ku ambil chakra nya bukan? Meski sebenarnya itu juga tidak mungkin terjadi. Aku, Hatake Kakashi berjanji tidak akan pernah menghisap chakra shinobi lain kecuali milik Umino Iruka seorang." Sebuah cahaya biru berpendar dari kedua telapak tangan Kakashi dan terulur membentuk seperti ikatan tali yang melingkari kelingkingnya dan milik Iruka.

"A—Apa ini, Kakashi-san?"

"Jurus ciptaanku. Sumpah tak terlanggar."

"Hah?"

"Jika aku melanggarnya, aku akan mati tercekik dengan sangat menyakitkan."

Wajah Iruka pucat, ia meremat kedua bahu Kakashi. "A—apa yang kau lakukan? Kau tidak perlu sampai sejauh itu! Batalkan sekarang! Batalkan jurus itu, Kakashi-san!"

"Aku tidak masalah, lagipula aku tidak akan mati karena aku juga tidak berniat untuk mengambil chakra orang lain."

"Tapi..."

"Jurus itu ku ciptakan untuk situasi seperti ini. Sama sekali belum pernah ku gunakan dan ini pertama kalinya. Satu hal lagi, meski aku yang membuat jurus itu, tetap saja aku tidak bisa membatalkannya. Sistemnya sama dengan ucapan manusia—sesuai dengan maksud jurusnya. Sekali aku berjanji, jurus itu tidak akan pernah bisa dibatalkan lagi hingga aku mati."

"Tapi kau tidak perlu hingga berjanji seperti itu Kakashi-san. Bagaimana jika suatu hari aku lebih dulu mati? Siapa yang akan merawatmu? Bagaimana dengan sharinganmu?"

"Jawabannya mudah, aku akan ikut mati bersamamu."

Kedua bola mata Iruka membelalak. "Kau..."

"Karena itulah, kau juga harus berjanji untuk tidak mati sebelum aku."


Panas. Iruka merasakan panas nyaris di sekujur tubuhnya. Lebih dari itu, ia merasakan bagian lehernya sangat tidak nyaman. Perih dan sakit, seolah tengah disayat secara tak kasat mata. Ia belum pernah merasa sesakit ini. Napasnya bahkan terasa sangat panas. Ia tidak mengerti, seingatnya Iruka tidak memakan sesuatu yang aneh, atau berurusan dengan chakra yang aneh.

Chakra?

"Apa ini efek jurus Kakashi-san?"

Iruka tak banyak berpikir dan segera melompat menuju rumah Kakashi. Perasaannya terasa tidak enak pasca rasa sakit yang diderita di sekujur tubuhnya.

Sesampainya ia di rumah Kakashi, Iruka langsung melompat masuk ke kamar Kakashi melewati jendelanya. Iruka tidak pernah setidak sopan ini. Iruka tahu jendela rumah Kakashi selalu terbuka karena pria itu senang tidur sembari melihat keluar.

"Kakashi-san?"

"Kau merasakannya juga?"

"Eh?"

Kakashi duduk diam dengan kaki meyilang, ia hanya mengenakan singlet ketat hitam miliknya. Tangan kanannya mengelus leher. "Rasanya panas."

Iruka berdiri di hadapan Kakashi dan menyibak surai perak panjangnya. Sharingan Kakashi bersinar terang bahkan aktif ke mode mangekyo.

"Sharingan mu aktif ke mode mangekyo."

Kakashi menarik pinggang Iruka dan menyandarkan kepalanya di perut Iruka. Ia bisa merasakan napas Kakashi terasa panas di perutnya karena ia juga hanya mengenakan kaus hitam tipis.

"Kau baik-baik saja Kakashi-san?"

"Aku ingin chakra mu."

Iruka mengangguk. Ia melepaskan rengkuhan Kakashi di pinggangnya dan mendorong pria itu untuk mundur hingga bersandar pada dinding. Iruka menarik kerah pakaiannya, kebetulan kaus itu memiliki kerah yang longgar. Transfer chakra itu rasanya berbeda. Chakra Kakashi kembali berpendar, membentuk tali-tali transparan seperti ketika Kakashi memakai jurus pernjajiannya tadi. Tapi kali ini tali chakra transparan itu sangat banyak, mengikat tubuh keduanya, dan rasa panas di leher mereka berdua hilang begitu saja.

"Kau sudah lebih baik, Kakashi-san?"

Kakashi mengangguk. "Yang tadi itu apa? Kenapa kita merasakan sakit yang sama?"

"Aku tidak tahu, Kakashi-san. Um... bahkan chakra mu mengikat kita seperti saat kau berjanji."

Kakashi mengulas senyum tipis dan menarik dagu Iruka. Sebuah ciuman lembut tercipta. Iruka tidak menolak. Rasanya waktu seolah melabat—ayolah, mungkin ini terdengar klise, lagipula Iruka juga bukan gadis remaja yang girang dengah hal-hal semacam ini. Tapi Iruka seolah benar-benar merasakannya.

Kedua tangan Kakashi terangkat dan menyentuh bahu Iruka, membuat Iruka sadar betapa dinginnya kulit sang jonin. Tubuh Iruka rasanya melemah hanya karena sentuhan itu. Ia tidak mengerti mengapa rasanya seperti ini. Kakashi dan Iruka sudah jauh dari masa menikmati kisah cinta. Mereka terlalu dewasa untuk hal itu.

Bibir Kakashi bergerak di bibirnya, menekan dan menghisap.

Dan Iruka merasa dirinya semakin lemah hanya karena sentuhan seperti itu. Lutut yang ia gunakan sebagai tumpuan benar-benar bak jeli. Ia tidak kuat menopang dirinya sendiri dan meremat bahu Kakashi.

Kedua belah bibir Kakashi terasa amat hangat di bibirnya—tapi juga familiar, Iruka ingat mereka pernah beberapa kali berciuman. Tapi sekarang rasanya benar-benar berbeda. Atau entahlah, Iruka hanya mampu terus memejamkan matanya ketika merasakan Kakashi kembali mengelus lidahnya.

Suhu di sekitar mereka semakin menghangat, dan Iruka juga merasakan bagaimana kedua telapak tangan Kakashi mengusap tengkuknya pelan, menekan untuk memperdalam ciuman mereka.

Ketika Kakashi menarik dirinya, Iruka membuka mata. Sebuah seringai tipis tercipta. Iruka tidak merasa kehilangan. Ia malah bersyukur dirinya mendapatkan kekuatan tubuhnya lagi. Tapi ketika Iruka menatap kedua mata Kakashi, Iruka tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan malah melemparkan dirinya ke pelukan Kakashi.

Detak jantung Kakashi sangatlah normal, berbeda dengan dirinya sendiri yang terus berdetak tak karuan. Iruka tertawa pelan, dan Kakashi juga melakukan hal yang sama. Iruka ingin mengatai dirinya bodoh, tapi toh pria yang tengah ia peluk juga sama bodohnya. Mungkin terasa tidak mungkin mengatai seorang Hatake Kakashi bodoh, tapi dalam beberapa hal, pria itu memang bodoh.

Iruka bisa mendengar Kakashi mendengus untuk menahan tawanya. "Bodoh."

Mereka telah berjanji untuk saling mengikat bahkan dengan jurus ciptaan Kakashi sendiri. Sekarang, Iruka tak lagi memikirkannya. Untuk saat ini, Iruka hanya ingin tertawa dengan Kakashi berada di dekatnya—memandanginya sampai jonin hebat ini akhirnya tertawa. Ini bukan kali pertama Iruka mendengar Kakashi tertawa, tapi untuk tertawa selepas itu Kakashi tidak pernah. Mungkin pernah di masa lalu, tapi Iruka tak peduli. Iruka senang tidak akan pernah keberatan melihat Kakashi tertawa bahagia seperti ini.

Mereka ini hanyalah dua shinobi dewasa yang bodoh dalam beberapa aspek namun saling menyembuhkan satu sama lain.

.

.

END


A/N: Horeeee akhirnya terselesaikan juga serial Healing setelah beberapa bulan. Aku ngerti mungkin ending-nya kurang memuaskan dan agak rush, dan aku serius nggak mampu buat masukin adegan ena-ena di dalamnya. Aku nggak tau, padahal aku udah sering nulis ena-ena dalam berbagai versi hehew :P Aku nggak ngerti, mungkin karena sejak awal draft kisah ini udah aku buat sesuci mungkin (ceilah) Aku bahkan nggak pernah memikirkan adegan lebih dari kissing.

Aku senang nulis kisah ini, apalagi OTP KakaIru juga jarang banget asupannya. Dari yang awalnya rajin update sampai sekarang ngaret-ngaret. Tapi setiap aku bikin cerita, aku pasti menyelesaikannya. Dan aku senang banget ternyata cukup banyak yang sekapal dan senang sama fanfiksi ini. Serius deh, ngeliat komentar kalian itu bikin semangat. Hehe.

Untuk saat ini, selesai dulu di KakaIru. Ayo move on ke ceritaku yang lainnya. :D

Terimakasih sudah mengikuti fanfiksi ini selama berbulan-bulan. Nanti entah kapan aku pasti nulis KakaIru lagi kok. Aku senang, dan semoga kalian juga senang.

Sampai jumpa di cerita lainnya~ 3