disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.
Miwa menekuk kedua pinggangnya di ambang pintu ruang kerja Kento, yang juga merangkap sebagai ruang belajar putranya. "Youhei, apa perlengkapan sekolahmu untuk musim gugur sudah siap?"
"Hampir, Okaa-san." Youhei mengacungkan kotak pensil baru yang dibelikan kedua orangtuanya kemarin. "Aku mau meruncing pensilku dulu!"
"Tak terasa musim panas akan segera berakhir." Kento meregangkan kedua tangannya yang terasa pegal. "Aku senang melihat Youhei begitu gembira dengan perlengkapan sekolah barunya."
"Memang kewajiban orangtua untuk membahagiakan anaknya, 'kan? Fufufu. Rasanya sudah seperti tahun ajaran baru saja." Miwa tertawa kecil. "Setelah selesai membereskannya, turunlah ke bawah, Youhei. Okaa-san akan membuatkan panekuk untukmu. Dengan madu, pastinya."
"Baiklah!" tanggap Youhei semangat. Diusapnya kepala Chi yang sedang memperhatikan seluruh barang-barang Youhei di lantai. "Kaudengar itu, Chi? Sebentar lagi kita akan makan panekuk Okaa-san!"
Mendengar kata terakhir yang disebutkan Youhei, Chi langsung menegakkan tubuhnya. Apa tadi Youhei bilang makan? Yeeeey! Waktunya makan! Waktunya makaaaaaan! Hew hew hew!
"Apa aku juga mendapat camilan, Miwa-san?" tanya Kento penuh harap.
Miwa hanya bisa menggeleng tak habis pikir. "Ya ampun, Kento-kun. Kau bersikap seperti anak kecil saja."
"Huh? Memangnya orang dewasa tidak boleh makan camilan?"
"Sebenarnya tidak masalah, tapi dari nadamu meminta itu terdengar seperti anak kecil, Kento-kun."
"Hahahaha! Oke oke, aku paham! Jadi aku boleh makan panekuk spesial buatan Malaikat Yamada Miwa-san?"
"Jangan menggodaku, Kento-kun!"
Sementara Kento dan Miwa asyik berbincang, Youhei meruncingkan dua buah pensilnya dengan bantuan alat peruncing baru. Pena, penghapus, penggaris, satu per satu Youhei cek dengan teliti keberadaannya di dalam kotak pensil. Selesai urusannya dengan kotak pensil, Youhei mengambil lima buku sekaligus dalam satu tumpuk. Niatnya, Youhei ingin menghias sampul buku-bukunya dengan stiker yang dia beli.
"Eh?" Mata Youhei mengerjap beberapa kali. "Stikernya di mana?"
"Eh?" Miwa yang baru saja ingin menyiapkan dua porsi panekuk membatalkan niatnya. "Kenapa, Youhei?"
"Okaa-san," panggil Youhei tanpa menatap ke arah ibunya, karena dia sendiri sibuk mencari dua lembar stiker pahlawan super di sekitarnya, "stikerku tidak ada."
"Eh?" Kento melengkapi kompilasi keheranan di antara mereka bertiga. "Benarkah? Aku yakin melihat Youhei mengambil stiker itu di rak kemarin."
"Coba kuperiksa bukti transaksi belanjanya. Aku tidak melihat stiker apa pun kemarin." Sigap, Miwa mencabut kertas yang masih tertempel di kantung kertas belanjaan. Benda itu masih tergeletak di sekitar Youhei karena baru saja dibongkar. "Aku juga sudah memeriksanya semalam. Kita memang benar-benar tidak membeli stiker."
"Aah, padahal aku ingin sekali menghias sampul bukuku dengan stiker," sungut Youhei kecewa.
"Kalau kita pergi lagi, kemungkinan stoknya sudah habis. Aku ingat banyak sekali anak-anak seusia Youhei yang membelinya waktu itu," tutur Kento.
Miwa menatap Kento. "Apa kau tidak bisa melakukan sesuatu, Kento-kun?"
"Yah, membuat stiker bukanlah hal yang sulit, tapi masalahnya ...," Kento menggeleng, "kalau menggunakan karakter-karakter itu tanpa seizin penciptanya, itu sama saja ilegal dan kita bisa terkena masalah jika sampai ketahuan."
"Begitu ya …." Miwa mengangguk paham, meski dia masih tidak bisa melihat wajah sedih Youhei. Berusaha mencoba untuk membuat Youhei mengerti, Miwa menepuk kepalanya, berujar, "Kita bisa membelinya lain kali, bagaimana menurutmu, Youhei?"
Youhei adalah anak yang baik. Dia mengangguk paham. "Tidak apa-apa, Okaa-san, Otou-san. Aku tidak mau Otou-san dan Okaa-san harus repot-repot kembali ke toko buku, hanya untuk membeli stiker."
"Myaaaaaaaaa!" Chi mengeong tidak sabar. Kalau diperhatikan, kedua matanya sudah menekuk tajam. Kapan kita bisa makan? Chi tidak sabar! Chi tidak sabaaaaaaaar! Nnnnn! Otou-san! Okaa-san! Youheeeeeei!
Buku, Chi, Youhei. Kento memandang ketiga objek itu bergantian. Satu ide muncul di benaknya. "Apa kaumau memakai stiker bergambar Chi, Youhei? Otou-san bisa membuatkannya untukmu."
"Benarkah bisa?!" Tentu saja Youhei kembali antusias. Diangkatnya tubuh Chi yang melongo bingung. "Aku menyukai Chi lebih dari pahlawan super!"
"Yosh! Baiklah kalau begitu! Otou-san akan membuatkannya untuk Youhei yang paling Otou-san sayangi!" Jika sudah berkaitan dengan Chi, Kento bisa dikatakan adalah orang yang paling energik. "Chi, mohon bantuannya!"
"Mi-yaa?" Chi mana mungkin paham. Ueh? Ada apa? Ada apaaaa?
Bagi Kento, membuat stiker dari foto-foto yang ada sama sekali tidak sulit. Ditambah dengan pekerjaannya sebagai desainer grafis, yang tidak pernah lepas dari mengolah gambar, tidak mengherankan jika Kento dapat mencetak stiker dalam waktu sebentar.
"Stiker Chi sudah selesai!" serunya.
Youhei menerima selembar kertas berisi aneka ragam stiker siap pasang dari ayahnya, dan langsung memperlihatkannya pada Chi. "Chi, lihat? Ini Chi!"
Apa? Chi mendekat dan mengarahkan salah satu kakinya pada kertas stiker. Benda itu melambai pelan. Chi melihat sendiri berbagai macam ekspresinya tercetak sempurna di sana. Kenapa—
"Imut sekali!" tanggap Miwa. "Kento-kun memang luar biasa!"
"Hum hum!" Kento membusungkan dadanya. Kentara sekali dia merasa menjadi ayah paling hebat sedunia. "Tentu saja! Yamada Kento tidak akan pernah mengecewakan kalian!"
—Kenapa ada banyak wajah yang mirip Chi?! Jangan meniru Chiiii!
"C-Chi ...?" Youhei menyadari perubahan suasana hati si kucing. "Ini hanya gambar. Lihat ini!"
Youhei melepaskan satu stiker Chi yang wajahnya tersenyum, kemudian menempelkannya pada sampul salah satu buku. Chi memandang aktivitas Youhei yang berulang-ulang dengan penasaran bercampur curiga. Tak ada sedetik pun Youhei menghapus senyumnya selama menempelkan stiker-stiker itu.
"Selesai!" Youhei membawa satu buku berhiaskan beberapa stiker Chi ke hadapan sang anak kucing betina Yamada. "Jadi saat aku di sekolah pun, aku tetap bisa membawa Chi!"
Kenapa kau tidak pergiiiii?! Sayang sekali, apa yang Youhei sampaikan sangat berbeda jauh dengan apa yang Chi pahami.
Youhei memasukkan seluruh buku dan meritsleting tasnya, begitu semua barang dipastikan sudah tertata rapi di dalam sana. Bocah itu beralih memeluk Chi yang sudah bersiap menerjang benda-benda peniru mukanya.
Apa, Youhei?! Chi memberontak. Lepaskan! Lepaskaaaaan!
"Aku menyayangimu, Chi."
"Meaa?" Aee? Tadi ... Chi mau apa, ya?
"Kalian memang sangat manis." Miwa tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. "Akan Okaa-san masakkan banyak makanan untuk malam ini, untuk merayakan Youhei yang sebentar lagi akan bersekolah!"
"Asyik!" sorak Youhei. "Aku juga bisa membantu Okaa-san menjual biskuit lagi!"
Kento ikut tersenyum lembut. "Kamu memang anak yang sangat baik, Youhei."
"Nyaaaaaaa!"
Youhei mendekap Chi begitu erat. Tangannya seolah berperan sebagai selimut bagi Chi yang tidak lagi melawan. "Aku sangat sangat sangat mencintai Chi!
Otou-san. Okaa-san. Youhei. Hangat. Cintaaaaaaaa.
tamat
~himmedelweiss 23/08/2020
