Naruto selalu percaya, punggung yang dimiliki Erza adalah punggung kokoh yang tidak akan pernah hancur meskipun telah megalami benturan berkali-kali pun. Meskipun kenyataan yang ia lihat barusan benar-benar berbanding terbalik dengan buah pikiran yang selama ini ia bayangkan, hati kecil Naruto tetap menolak untuk mengakuinya.
Namun, melihat sikap Erza yang seperti itu, Naruto mulai memikirkan kembali semuanya dari awal. Sebelumnya, ia selalu melihat Erza sebagai sosok yang sangat mengagumkan. Naruto tidak pernah meragukan kemampuan yang dimiliki oleh Erza. Selain itu, fakta bahwa gadis tersebut dapat naik dari yang awalnya hanya seorang budak hingga dapat menjadi sosok Erza yang saat ini, menjadi bukti betapa mengagumkannya gadis itu.
Akan tetapi, ketika Naruto mulai menata kembali pikirannya dari awal dan melihat semuanya dari sudut pandang yang berbeda, ia pun menyadari satu hal penting yang ia lewatkan. Dengan begitu, sebuah kesimpulan baru mulai muncul di kapala kuning tersebut. Sebuah kesimpulan yang membuatnya menghancurkan pemikiran-pemikiran lamanya tentang sosok Erza Scarlet.
'Erza-san, suatu saat nanti, aku pasti …,' batin Naruto dengan tangannya yang mengepal erat.
High School DxD by Ichie Ishibumi
And other characters are not belongs to me
Genre : Adventure, Fantasy, Action, Friendship, Romance.
Summary : Demi mewujudkan mimpinya dalam bidang ilmu medis, dia siap terlibat dengan seluruh kekacauan dalam negeri ini. Bersama dengan teman-temannya yang juga menginginkan sebuah revolusi, mereka akan mengadu seluruh kemampuan, siasat, dan tipu daya. Semuanya akan mereka lakukan, untuk sebuah revolusi.
Chapter 19 : Seperti yang Diduga, Anak Itu Pun Tetap Takut Dengan Neneknya.
—XxXxX—
Menjadi seorang dokter bukanlah perkara mudah. Kekuatan mental adalah sebuah pondasi yang harus dibangun seorang dokter sejak awal. Gagal menyelamatkan orang lain dan melihat mereka meninggal di depan mata, menguatkan hati untuk melihat orang-orang terbujur lemah karena sebuah penyakit, harus menyerah akan keadaan hanya karena sebuah ketidak sanggupan, dan masih banyak hal lagi yang harus diperhatikan.
Di kerajaan ini, keberadaan dokter masih terbilang cukup sedikit. Biaya pendidikan yang sangat mahal dan tingkat kesulitan kurikulum yang harus dikuasai, menjadi faktor utama akan sedikitnya tenaga medis di negara ini. Tentu saja, hal itu pun akan berimbas kepada beberapa faktor, salah satunya adalah beban kerja seorang dokter yang sangat berat.
Dalam setiap konsultasi tentang kesehatan, para ahli medis akan selalu mengingatkan tentang menjaga pola makan dan pola tidur. Namun, pada kenyataannya, para dokter itu sendirilah, orang-orang yang mengabaikan pola hidup sehat mereka. Pekerjaan yang dikerjakan oleh orang-orang seperti itu, merupakan sebuah pekerjaan yang mengharuskan mereka untuk tanggap dalam setiap waktu.
Karena itulah, terjaga hampir setiap malam, merupakan sebuah makanan sehari-hari yang selalu dicerna oleh para tenaga medis.
Itu bukan berarti aku mengeluh atas profesi yang selama ini aku impikan atau semacamnya. Tidak, aku tidak mengeluh akan hal tersebut. Satu-satunya pesan yang ingin aku sampaikan, tolong bekerja samalah dengan baik bersama para dokter dan jajarannya, untuk saling menjaga kesehatan masing-masing.
Seperti yang aku bilang, terjaga hampir setiap malam adalah makanan sehari-hari kami. Tentu saja, itu juga berlaku untukku.
Sejak kedatanganku di desa ini kemarin sore, aku tidak dapat tidur sama sekali. Meskipun begitu, ini bukanlah pertama kali aku mengalaminya. Dulu, aku pun pernah tidak tidur seharian penuh, saat klinik nenek kedatangan rombongan karavan yang ditemukan cidera di dekat desaku. Berbagai operasi dan perawatan yang hanya dilakukan oleh nenek dan aku, membuatku harus terjaga hampir dua hari penuh. Tentu saja, itu hanya satu dari sekian pengalamanku terjaga semalaman untuk menggeluti bidang ini.
Jadi, setidaknya, aku tidak akan mengalami keterkejutan parah jika harus mengalami hal-hal serupa.
Sejak memutuskan untuk membantu desa ini, hal yang pertama aku lakukan adalah memeriksa kediaman Umino-san. hal ini aku lakukan, dengan tujuan untuk memastikan keadaan istri dari Baron Umino. Dia sedang memasuki masa-masa kandungan di minggu ke-34. Itu merupakan usia yang sangat rawan, terutama dalam sebuah wabah seperti ini. Jika aku terlambat menyadari apakah beliau terinfeksi atau tidak, nyawa bayi dan sang ibu menjadi taruhannya.
Namun, aku bersyukur karena Umino-san adalah orang yang tanggap. Dia segera mengisolasi istrinya di dalam kamar, agar tidak berinteraksi langsung dengan orang luar. Bahkan, dia juga mengatur para pelayannya, untuk menentukan siapa saja yang boleh merawat sang istri dan siapa saja yang bekerja di luar.
Meskipun aku tidak dapat melakukan tes laboratorium untuk menentukan apakah mereka terinfeksi pes atau tidak, tetapi aku merasa yakin bahwa mereka bebas dari wabah. Penyakit pes adalah sebuah penyakit yang dapat segera diketahui dengan kasat mata. Penderitanya memiliki tanda-tanda fisik yang sangat khas, sehingga itu akan mudah dikenali jika aku berfokus pada gejala-gejalanya.
Selain itu, jika mengingat klinik yang dikelola baroness memiliki CT scan, sejujurnya itu juga dapat digunakan untuk mengetahui, apakah istri dari Umino-san terinfeksi atau tidak. Namun, karena mempertimbangkan kondisinya yang hamil tua, yang rentan terhadap paparan radiasi sinar x, itu membuatku berpikir ulang untuk melakukannya.
Alasan lainnya adalah, karena jarak klinik dan rumah baron Umino cukup jauh, itu akan terlalu memakan waktu untuk menggunakan CT scan. Sedangkan dalam kondisi ini, kami sedang diburu oleh waktu itu sendiri. Jadi, dalam perspektif pribadiku sendiri, menggunakan CT scan tidaklah terlalu efisien dalam hal waktu.
Setelah selesai memastikan keadaan rumah baron, aku segera memeriksa klinik yang dimiliki oleh desa ini. Sejujurnya, aku sedikit terkejut saat melihat fasilitas kesehatan yang tersedia. Bahkan, mereka memiliki beberapa peralatan operasi hingga tabung hiperbanik yang biasa digunakan untuk terapi oksigen. Sayangnya, tidak ada satu pun orang di desa ini yang dapat menjalankan peralatan tersebut.
Meskipun begitu, ini merupakan sebuah modal berharga yang dapat digunakan untuk merawat para penderita penyakit pes. Walau hanya terdapat satu buah tabung hiperbanik, tetapi itu akan sangat berguna untuk menurunkan tingkat kematian dalam kasus ini.
"Apa kamu baik-baik saja, Naruto-san?"
Setiap kali Umino-san memanggilku dengan honorofik -san, tubuh ini serasa seperti diterbangkan hingga menembus atmosfer bumi. Dari 17 tahun aku hidup, ini pertama kalinya bagiku untuk dipanggil seperti itu. Yah, memang, itu hanyalah sesuatu yang sepele. Akan tetapi, diperlakukan selayaknya orang dewasa, membuatku sedikit bangga.
I- ini bu- bukan berarti aku senang a- atau semacamnya, ya! Se- seperti yang aku bi- bilang, ini hanyalah sebuah kebanggaan kecil, i- itu saja!
"Ah, tidak. Ini bukan apa-apa," balasku singkat.
"Namun, setelah melakukan pengarahan singkat kepada para suster di gereja, kamu belum istirahat sama sekali," ucap Umino-san dengan khawatir.
Sekarang, terdapat 176 orang yang sedang dirawat. Tentu saja, jumlah itu tidak termasuk dengan jumlah korban meninggal. Jika jumlah seluruh orang dirawat dan yang telah meninggal dijumlahkan, itu akan menjadi 268 orang yang telah terinfeksi. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa tingkat persentase tingkat kematiannya mencapai angka 60 persen.
Aku tidak tahu pastinya, tetapi total penduduk di desa ini berada di kisaran angka 450 jiwa. Itu berarti, sudah setengah lebih orang yang telah terinfeksi hanya dalam waktu kurang dari dua minggu. Dengan jumlah populasi yang hanya berada di angka 450-an dan jumlah keseluruhan orang yang terinfeksi, ini merupakan kasus penyebaran yang sangat cepat.
Aku memang pernah membaca dari beberapa jurnal tentang Black Death yang mewabah pada seratus tahun yang lalu. Namun, aku tidak menyangka itu akan menjadi secepat ini. Rendahnya kesadaran masyarakat akan kebersihan, memang menjadi katalis yang membuat wabah ini menyebar begitu cepat.
Jujur saja, pada tingkat ini, itu akan menjadi sebuah kebohongan jika aku terus menyanggah bahwa aku baik-baik saja. Keterbatasan tenaga manusia, merupakan faktor utama yang harus aku perhatikan dengan baik.
Karena itulah, salah satu konsentrasi utamaku kemarin, yakni memberi arahan singkat tentang bagaimana cara merawat para pasien kepada para suster dan pastor di gereja. Memang, mereka tidak akan dapat membantu banyak saat melakukan operasi kecil untuk pengangkatan sel mati yang belum terlampau parah. Namun, tetap saja, sekecil apa pun tenaga bantuan yang tersedia, itu masih jauh lebih baik daripada tidak ada sama sekali.
"Sungguh, ini bukan masalah besar untukku," balasku dengan senyum tipis. "Daripada itu, bagaimana dengan hal-hal yang saya ucapkan? Apa semua sudah dilakukan?"
" … ya? Maaf, tetapi aku tidak begitu jelas mendengar suaramu."
Aku sedikit menghela napas lelah. Ini bukan salah Umino-san jika memang dia tidak dapat mendengarkanku dengan baik. Bagaimanapun, mendengar suara orang yang berbicara dari dalam pakaian APD level tiga, memang tidaklah terlalu jelas. Dengan seluruh badan yang tertutup jumpsuits yang terbuat dari bahan serat sintetis serta masker model N-95, tentu akan membuat suara yang dikeluarkan tidak akan terdengar dengan sempurna.
APD sendiri dibedakan menjadi tiga level. Level pertama adalah baju standar dengan masker bedah yang umum digunakan tenaga kesehatan di saat jam-jam kerja biasanya. Lalu, level kedua merupakan baju kerja dengan tambahan gaun operasi, kacamata, serta kain penutup kepala. Umumnya, APD tingkat kedua digunakan bila ingin memasuki ruang operasi, laboratorium dengan tingkat biosafety level dua, atau tempat-tempat dengan tingkat kebersihan yang harus selalu steril.
Menyadari bahwa masker yang aku kenakan menghalangi suara yang keluar, aku pun segera melepas keseluruhan APD level tiga satu persatu. Dimulai dari melepas sarung tangan luar, melepas jumpsuits, melepas masker dan kacamata google, hingga akhirnya melepas sarung tangan dalam serta kain pelindung kepala.
Meskipun tidak ada angin yang berembus, tetapi hawa sejuk seketika menghampiri tubuhku dan segera memberikan perasaan yang menyenangkan. Keringat-keringat yang menetes dari kulitku yang berubah menjadi belang dalam beberapa sisi, menjadi bukti betapa tersiksanya berada di dalam bungkusan kain super tebal tersebut.
Setelah merasa lega dengan udara sejuk yang dapat aku hirup, aku pun dengan segera membuang seluruh pakaian pelindung diri tersebut yang memang hanya digunakan untuk sekali pakai.
"A- apa tidak masalah membuang itu begitu saja? Ma- maksudku, bukankah masih dapat dicuci dan digunakan beberapa kali lagi?" Tanya Umino-san.
"Tidak, ini memang harus digunakan untuk sekali pakai."
Aku mengerti dengan kekhawatiran Umino-san saat ini. Persediaan APD level tiga yang desa ini miliki, tidaklah terlalu banyak. Jika dihitung dengan tenaga yang saat ini kami miliki, mungkin persediaan APD level tiga akan habis dalam kurun waktu antara tiga hingga empat hari.
Namun, apa pun kondisinya, APD level tiga adalah pakaian yang harus digunakan untuk sekali pakai. Mereka yang menggunakan pakaian ini, selalu bekerja sambil bersentuhan langsung dengan cairan tubuh pasien terinfeksi.
Bahkan, sejak aku menggunakannya kemarin malam, aku sudah berkali-kali melakukan operasi pengangkatan jaringan mati kepada para pasien dengan gejala septicemic. Tentu, secara otomatis, pakaian tersebut sudah berkali-kali terkontaminasi dengan darah pasien terinfeksi. Meskipun aku sudah mencuci dengan sabun agar darah yang menempel menghilang, tetapi itu bukan berarti ada jaminan bakteri yang menempel pun telah hilang sepenuhnya.
Belum lagi, saat aku melakukan prosedur-prosedur untuk membantu pernapasan pasien bergejala pneumonic seperti melakukan intubasi, trakeostomi, bronkoskopi, endoskopi, dan lain-lain hingga memasang ventilator, juga membuatku bersentuhan langsung dengan air liur pasien.
Karena itulah, dengan tingginya tingkat interaksi langsung terhadap cairan-cairan tubuh yang dapat menginfeksi orang lain, itu membuat APD level tiga harus segera dibuang ke pembuangan khusus, sesaat setelah selesai dipakai.
"Tenang saja, nenek pasti datang kemari dengan membawa logistik yang diperlukan," imbuhku untuk menenangkan Umino-san.
Meskipun kecil dan terbatas, klinik ini memiliki fasilitas medis yang cukup lengkap. Dari apa yang aku dengar, istri Umino-san merupakan satu-satunya orang yang paham akan betapa pentingnya kesehatan bagi orang-orang yang hidup di daerah rawan seperti desa ini. Meskipun begitu, banyak peralatan medis yang tidak dapat beliau operasikan, sehingga kebanyakan dari alat-alat tersebut, hanya menjadi pajangan di dalam klinik.
Namun, tetap saja, melihat orang yang memiliki usaha begitu besar di tengah keterbatasan pendidikan di negara ini, membuatku menaruh hormat yang besar kepada istri beliau.
"Umino-san, mari pergi ke dalam klinik untuk mendiskusikan progress yang telah berjalan," ajakku sambil berjalan menuju tempat klinik berada.
"Ah, baiklah. Aku juga ingin bertanya beberapa hal dari arahan yang kamu berikan, Naruto-san."
Setelah kami memutuskan untuk membahas hal-hal lainnya di dalam klinik, aku dan Umino-san pun segera keluar dari blok bangunan yang dibangun menggunakan sihir dalam waktu yang singkat ini. Blok ini sebenarnya merupakan pengembangan dari bangunan isolasi yang telah dibuat oleh Umino-san sebelumnya. Beberapa ruangan dan berbagai penyesuaian pun ditambahkan untuk menunjang keberhasilan tingkat penanganan wabah yang melanda.
Jadi, jika aku boleh memberikan nama, mungkin aku akan menamakan bangunan ini sebagai rumah sehat v2.0! Tidak, aku tidak akan menamakan bangunan ini sebagai rumah sakit atau semacamnya. Rumah sakit untuk orang-orang yang sakit? Yah, itu tidak salah. Namun, akan jauh lebih keren jika menyebutnya sebagai rumah sehat untuk tempat orang-orang yang ingin menjaga kesehatan mereka, 'kan?
Jarak dari bangunan isolasi dari klinik tidaklah terlalu jauh, mungkin hanya sekitar kurang dari 100 meter. Karena itulah, bukan masalah yang besar jika aku ingin meninggalkan tempat isolasi dan menuju ke klinik.
Sesaat setelah kami berada di luar bangunan, kami mendapati seorang perempuan yang sedang berlari kemari. Dari pakaiannya, dia adalah seorang suster dari gereja. Namun, aku tidak dapat mengenali wajah suster tersebut dengan baik karena ia menggunakan masker kesehatan yang menutupi batang hidung hingga mulutnya.
"Naruto-san! Naruto-san! Ada seorang wanita aneh yang datang dan dia sekarang berada di klinik!" ucap suster tersebut dengan napas yang memburu.
"Wanita aneh?"
Pertanyaan itu bukan berasal dariku, melainkan datang dari mulut Umino-san. Alisnya yang sedang menekuk tajam, menunjukkan bahwa ia sedang memikirkan seseorang yang mungkin dapat memperburuk suasana.
"Benar sekali, Iruka-sama. Wanita itu sangat muda, tetapi dia mengaku sebagai nenek dari Naruto-san!" balas kembali suster tersebut.
Itu benar, kau tahu? Wanita yang barusan kau sebut aneh, itu memang betul nenekku, aku yakin itu. Meskipun aku tidak melihatnya secara langsung, tetapi tidak akan ada seorang nenek-nenek yang memiliki bentuk fisik wanita muda selain nenekku di dunia ini.
Selain itu, jika nenek sampai mendengarmu menyebutnya sebagai wanita aneh, mungkin kau akan mendapat salah satu lovely punch miliknya, suster-san!
"ah, … ma- mari kita te- temui saja wanita itu lebih dulu," ucapku kikuk.
—XxXxX—
Setibanya kami di dalam klinik, di sana telah ada seorang wanita muda—tidak, wanita tua bangka dengan paras yang menipu—yang menunggu kedatangan kami. Seperti yang sudah aku duga, dia benar-benar nenek. Dia datang lebih cepat dari perkiraanku.
Jika saat ini aku tidak berada dalam kondisi serba suli, mungkin aku sudah menangis tersedu-sedu karena sangat merindukan sosok yang telah membesarkanku tersebut. Sial, aku benar-benar berharap dapat memiliki waktu yang indah untuk berkumpul bersama nenek dan juga kakek.
"Apa hanya ini log history yang sudah kau tulis, Naruto?" ucap nenek dengan ketus.
Tunggu, apa aku tadi baru saja berbicara bahwa aku ingin menikmati waktu yang indah bersama nenek? Jika iya, aku benar-benar akan menarik ucapanku barusan, serius ini. Hanya karena perasaan nostalgia yang menyambangi hatiku, aku menjadi melupakan satu hal yang sangat mendasar. Wanita di depanku ini adalah monster—tidak, dia adalah ratu monster di antara ratu-ratu monster lainnya!
Lihat saja barusan! Meskipun dia tidak melirikku sama sekali, tetapi aku sudah merasa bahwa aura tidak menyenangkan yang keluar dari tubuhnya, ia arahkan langsung kepadaku.
"Y- ya, begitulah. A- aku baru saja memasuki ruang i- isolasi tadi malam dan ba- baru keluar tadi. Jadi, a- aku hanya baru se- sempat menulis skema rencana garis besarnya," balasku dengan gugup.
Berbicara tentang log history, itu merupakan sebuah laporan kerja yang wajib ditulis setiap setelah melakukan pekerjaan atau prosedur. Umumnya, itu sangat berguna untuk sebuah kelompok tim dokter, agar petugas yang bertugas selanjutnya dapat mengetahui sejauh mana perkembangan yang sudah dilakukan.
Log history dan medical report adalah dua hal yang berbeda. Medical report hanya berisi tentang kondisi kesehatan dan riwayat penyakit seseorang, hingga perawatan atau operasi-operasi apa saja yang orang tersebut pernah jalani. Sedangkan untuk log history, itu lebih spesifik untuk laporan yang berisi tentang seluruh prosedural tindakan medis yang telah dokter atau sekelompok dokter lakukan dalam menangani setiap kasus.
Karena itulah, tidak jarang jika kemudian berdasar log history tersebut, akan mudah dilacak jika dokter itu melakukan sebuah malpraktik atau semacamnya. Bahkan, dalam beberapa kasus, jika mereka melakukan sebuah inovasi dalam penanganan pasien dan itu berujung pada sebuah kesuksesan, log history bisa diangkat menjadi sebuah jurnal yang dapat dipublikasikan secara internasional.
Dengan kata lain, penting bagi setiap tenaga medis untuk dapat menulis sebuah log history dengan baik.
"Tidak adanya waktu bukan menjadi sebuah alasan, Naruto," ucap nenek dengan tajam. "Di sini ditulis, kau memberikan briefing singkat kepada enam suster gereja dan delapan maid agar dapat bekerja di klinik dan ruang isolasi. Lalu, apa kau tidak memberitahu mereka, untuk menulis log history, hm?"
Ah, sial, ini menyebalkan. Karena pikiranku tidak sepenuhnya jernih, aku melupakan beberapa hal yang benar-benar mendasar untuk dilakukan. Sebagai seseorang yang mendaku dirinya akan menjadi dokter yang melebihi seorang Tsunade, tetapi justru melakukan kesalahan mendasar seperti ini, hal tersebut benar-benar sangat membuatku kesal dan merasa malu.
Dengan koreksi dari nenek yang menyerang tepat di titik-titik kesalahanku secara langsung, membuat suasana ruangan menjadi membeku. Perasaan berat yang seperti menimpa belakang leher ini, membuatku terus menundukkan kepala tanpa berani menatap langsung ke mata nenek. Mataku yang melirik-lirik lingkungan sekitar, juga mendapati bahwa si suster-san yang memberitahu tentang kedatangan nenek, pun merasakan ketakutan. Hal itu dapat dilihat dengan jelas dari jari-jari tangannya yang terlihat bergetar.
"Aku punya satu pertanyaan sederhana untuk nona suster," ucap nenek dengan sedikit jeda, "apa kau benar-benar memberi ciprofloxacin sebanyak 400 miligram ke setiap pasien?"
"Y- ya, sa- saya memberikannya dengan me- menyuntikkan ke selang infus. Sa- saya melakukannya se- sesuai arahan Naruto-san."
"Kalau begitu, apa yang bisa membuktikan pekataanmu itu? Di laporan ini, tidak ada namamu atau nama-nama suster dan maid lainnya," balas nenek sambil mengibas-ibaskan lembaran-lembaran kertas yang ia pegang.
Karena tidak ada satu pun jawaban yang keluar dari suster tersebut atau bahkan diriku, nenek pun mendesah dan melanjutkan ucapannya, "Naruto, kau tidak menganggap sepele log history, 'kan?"
Seperti yang sebelumnya aku sebutkan, log history merupakan sesuatu yang harus sangat diperhatikan. Laporan yang mungkin terkesan sepele itu, nyatanya dapat menjadi bantuan hukum jika saja terjadi sesuatu yang tidak diharapkan saat penanganan pasien. Mungkin, seorang dokter dapat mengobati pasiennya dengan prosedur-prosedur yang benar tanpa kesalahan. Namun, kematian adalah sesuatu yang tidak dapat diprediksi dengan tepat. Kejadian seperti kematian pada meja operasi atau tidak dapatnya seorang pasien melewati masa kritis, sangat sering terjadi di dunia kesehatan. Jika melihat kasus tersebut dari kacamata para anggota medis, itu merupakan kematian yang sulit untuk dihandari.
Akan tetapi, manusia bukanlah makhluk yang sesederhana itu. Jika terjadi sesuatu yang di luar harapan mereka, manusia akan mulai mencari-cari apa pun yang bisa dijadikan kambing hitam untuk melampiaskan rasa marah dan kecewanya. Hal tersebut juga berlaku untuk beberapa keluarga pasien yang ditinggalkan oleh orang-orang yang mereka sayangi.
Orang-orang yang tidak memiliki uang mungkin tidak akan banyak bertingkah. Namun, bagaimana jika mereka yang bergelimangan harta, mulai bersuara dan membawa kecelakaan itu ke meja hukum? Tentu saja, urusannya akan menjadi sangatlah rumit.
Dokter dan semacamnya adalah profesi yang menuntut kewajiban untuk melindungi orang lain. Akan tetapi, siapa yang bisa diandalkan jika diri mereka sendiri justru merasa tidak terlindungi? Oleh sebab itulah, log history yang berisi laopran-laporan yang telah disusun dan ditandatangani oleh pihak-pihak terkait, dapat menjadi bukti yang cukup kuat, jika memang dokter tersebut tidak melakukan kesalahan dalam prosedurnya.
'Jika kau tidak dapat melindungi dirimu sendiri, kau tidak akan bisa melindungi orang lain', itu adalah salah satu ajaran yang nenek berikan kepadaku. Kesalahan ini membuatku sadar akan satu hal, yaitu betapa masih kurangnya kemampuanku selama ini.
"E- ettoo … Tsunade-sama, to- tolong jangan menyalahkan Naruto-san. Di- dia datang saat se- semua sudah menjadi sa- sangat sulit. Ja- jadi, wajar baginya untuk melakukan satu atau kesalahan," ucap Umino-san yang berusaha membelaku.
"Menyalahkannya? Bagaimana bisa aku menyalahkan satu-satunya cucuku yang sangat aku sayangi? Yang aku lakukan hanyalah, mengoreksi sedikit kesalahannya agar tidak terluang di masa depan."
Mendengar nada suaranya yang berubah menjadi jauh lebih lembut dari sebelumnya, membuatku tanpa sadar menghembuskan napas yang entah sejak kapan sudah kutahan. Suasana berat yang menyelimuti ruangan pun juga perlahan-lahan menghilang dengan seiring terdengarnya langkah kaki nenek yang berjalan mendekatiku.
Tanpa sempat mengdongakkan kepalaku, sesuatu yang lembut pun telah terlebih dahulu meyapa dan mengusap-usap rambutku dengan halus.
"Entah itu tentang ilmu pengetahuan, teori, atau praktik, aku tidak akan pernah meragukanmu," ucapnya sambil terus mengusap rambutku. "Namun, kesalahan seperti ini, hanya bisa diperbaiki dengan menambah pengalaman-pengalamanmu. Karena itulah, kau harus melihat luasnya dunia dengan mata kepalamu sendiri, Naruto."
"Kau memperlakukanku seperti anak kecil lagi, nenek," balasku sambil mengalihkan pandangan ke samping.
"Benarkah? Yah, jika dibandingkan denganku, kau itu hanyalah seorang bocah."
Tanpa memedulikan reaksiku, nenek segera melangkahkan kakinya ke arah lain. Ia berjalan mendekati sebuah kumpulan-kumpulan alat yang sebelumnya tidak ada sana. Tanpa perlu dijelaskan oleh tua bangka itu, aku pun tahu, itu adalah peralatan-peralatan medis yang telah ia bawa entah dari mana saja dia mendapatkannya.
Di klinik yang dikelola oleh nenek di desa, kami hanya memiliki masing-masing satu buah alat medis seperti selang ventilator, monitor tanda vital, CT scan, USG, dan lain-lain. Namun, di sana aku melihat, peralatan-peralatan seperti itu, semuanya memiliki jumlah yang rata-rata lebih dari dua buah. Jadi, tidak mungkin alat-alat tersebut nenek bawa dari klinik kami yang berada di Tosa. Yah, mungkin ada beberapa yang memang ia bawa dari sana. Akan tetapi, tidak semua peralatan yang ia bawa tersebut milik nenek pribadi.
"Selain barang-barang yang bisa kau lihat ini, aku juga membawa sekarung batu sihir yang berisikan elemen listrik. Dengan jumlah yang aku bawa, setidaknya itu dapat digunakan untuk mengoperasikan alat-alat ini selama tujuh hari," ucap nenek sambil menunjuk sekbuah karung yang terisi penuh serta tertali rapat dan diletakkan di sebelah meja.
Listrik merupakan salah satu komoditas paling berharga di dunia ini. Dengan memiliki kegunaan yang sangat beragam, membuat batu sihir yang berisi elemen listrik menjadi barang dengan harga yang sangat mahal. Selain itu, karena hanya penyihir tingkat tinggi saja yang dapat mengisi batu sihir tersebut, membuat komoditas yang satu ini termasuk ke dalam golongan barang langka. Pemasaran yang semuanya dimonopoli langsung oleh keluarga kerajaan, memperburuk jaringan distribusi untuk batu sihir tersebut di negeri ini.
Oleh sebab itulah, pasokan sumber daya yang telah nenek bawa, itu jauh lebih baik dari apa pun yang bisa aku lihat. Jika ditambah dengan persediaan yang desa ini miliki, setidaknya kami tidak perlu khawatir untuk sepuluh hari ke depan.
Menjadi orang terkenal yang memiliki koneksi sana-sini, nenek benar-benar sosok yang sangat mengagumkan. Jika saja dia mau memperbaiki tempramennya yang sangat buruk dan metode latihannya yang kejam, mungkin dia akan menjadi orang paling sempurna di bumi ini.
Sayangnya, salah satu hal yang paling kuharapkan tidak dapat nenek bawa, yaitu adalah tenaga ahli manusia. Jika saja ada tambahan seorang profesional di sini, itu pasti akan menjadi sesuatu yang dapat meningkatkan moral seluruh penduduk desa. Aku yakin, nenek pasti juga menyadari kondisi tersebut dan berusaha mencari tenaga profesional untuk diikut sertakan kemari. Hanya saja, melihat fakta yang diterima tidak sesuai dengan yang diharapkan, itu membuatku menjadi terpikir oleh sesuatu.
Provinsi Kai adalah sebuah propinsi yang dipimpin oleh seorang count. Memang, gelar count adalah gelar yang bisa dikatakan tinggi dalam struktur kebangsawanan. Namun, jika itu hanya seorang count, seharusnya nenek masih dapat bernegosiasi dengannya. Aku dapat berkata seperti itu, memang karena nenek dan kakek sering melakukan negosiasi untuk mengamankan persediaan klinik dengan tuan tanah di Provinsi Tosa, tempat kampung halamanku.
Akan tetapi, melihat apa yang terjadi saat ini, satu-satunya kemungkinan yang bisa aku pikirkan yaitu, terdapat kekuatan yang memiliki pengaruh lebih besar dari seorang count di belakang semua ini. Jika berbicara tentang gelar yang lebih tinggi dari count, di atasnya masihlah ada marquess, duke, dan juga royal family.
Meskipun aku telah berusaha mengerucutkan sosok yang mungkin menjadi pelakunya, tetapi aku benar-benar tidak dapat menemukan jawaban yang memuaskan. Masih terlalu banyak kepingan-kepingan yang tidak aku ketahui untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.
Selain itu, sejak awal pun, semuanya memang sudah tidak masuk akal. Guild petualang yang enggan menerima tawaran misi dari kami untuk mengawal masuk ke pegunungan Akaishi, juga tidak adanya bantuan untuk desa meskipun Umino-san telah berulang kali mengirimkan surat merpati ke tuan tanah. Dari dua hal tersebut, ada seseorang yang seolah-olah tidak ingin siapa pun masuk ke area pegunungan Akaishi sejak awal.
Bahkan, jika aku berpikir lebih jauh ke belakang, misi ini pun sudah terasa tidak masuk akal. Aku juga ingat, bahwa Hawkins-san juga mempertanyakan perihal misi ini. Meskipun ada Erza-san yang merupakan pemegang kursi ke sepuluh dari Elite Ten Council, tetapi itu bukan berarti misi pengejaran komplotan Kokabiel ini menjadi sesuatu yang tidak dapat dicurigai.
Maksudku, memang, anggota Elite Ten Council dapat menerima misi dari kerajaan, meskipun itu berada di luar jadwal yang telah ditetapkan oleh pihak akademi. Hanya saja, misi yang bisa diterima oleh mereka hanyalah misi-misi yang berhubungan dengan masalah nasional saja. Sedangkan Kokabiel, orang itu merupakan buronan internasional. Dengan kata lain, misi ini berada di luar koridor yang dapat dijalankan oleh Elite Ten Council.
Jika aku tarik sebuah kesimpulan, aku rasa, orang yang berada di belakang semua ini memang sejak awal ingin kami menari-nari di pegunungan Akaishi. Akan tetapi, apa dan siapa yang sedang ia incar?
"Terlalu memikirkan hal-hal yang jauh di depan matamu, itu tidak akan dapat menyelesaikan masalahmu," ucap nenek yang seolah mengerti dengan pikiranku.
Kuembuskan napasku dengan kasar dan berusaha untuk menyingkirkan hal-hal yang tidak perlu dari dalam otakku.
Aku hanyalah seorang manusia biasa, manusia yang hanya memiliki dua tangan yang menempel di badanku. Masalah yang bisa kuatasi pun hanya terbatas dengan kapasitas beban yang dapat kugenggam dengan tanganku. Oleh sebab itu pula, manusia membutuhkan sebuah tim yang akan saling berbagi beban bersama dan menutupi kelemahan satu sama lain.
Memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan sebuah konspirasi rumit bukanlah keahlianku. Aku mungkin dapat menarik garis besarnya, tetapi aku tidak memiliki kemampuan untuk melihat keseluruhan skenarionya. Jadi, mari simpan hidangan ini untuk si monster logika yang mungkin saja sedang menyiapkan sesuatu yang lain saat ini di kampung halamannya.
Yang sekarang dapat aku lakukan, hanyalah menggapai tangan-tangan penduduk desa yang berusaha melawan nasib mereka menghadapi wabah ini.
"Benar, aku terlalu memikirkan hal yang tidak-tidak," balasku lirih.
Tanpa menghiraukan balasanku, nenek pun berjalan ke tempat di mana kami menyimpan seluruh set alat pelindung diri. Ia mengambil dan memakai baju super tebal itu tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada Umino-san, meskipun baron muda itu adalah pemilik sah dari tempat ini. Meskipun begitu, tidak ada raut keberatan atau tersinggung yang ditunjukkan olehnya.
Yah, tentu saja, itu sangatlah masuk akal. Selain yang berada di depannya saat ini adalah Si Putri Siput yang sangat terkenal itu, Umino-san tidak mungkin menunjukkan perasaan tidak sopannya kepada orang-orang yang dengan senang hati mengulurkan tangan kepadanya dan para penduduknya.
"Naruto, istirahatlah selama satu jam. Kemudian, pergilah untuk melihat kondisi orang-orang dengan memakai APD level dua."
Kedua mataku sedikit menyipit saat mendengar titah dari nenek. Ada beberapa pertanyaan yang muncul di dalam kepalaku saat ini.
"Level dua? Kenapa tidak level tiga? Apa kita tidak akan bekerja bersama?"
Bila aku mengenakan APD level dua, sedangkan nenek mengenakan yang level tiga. Itu berarti, kami pun akan berada pada ruangan dan job desk yang terpisah. Yah, aku tahu, itu akan menjadi lebih bijaksana jika ada masing-masing satu orang yang memiliki pengetahuan pada tiap tingkatan level.
Hanya saja, untuk mereka yang merawat, memberikan obat, memantau kesehatan pasien, atau yang lainnya, sudah ada orang yang setidaknya berpengalaman akan hal itu. Maid yang dulunya sering membantu baroness untuk menjalankan klinik ini, cukup bisa dipercaya untuk melakukan tugas dan tanggung jawab sebagai pengawas dalam bidang tersebut.
Oleh karenanya, jika berpikir tentang efisiensi pekerjaan, aku rasa itu akan lebih efisien, jika aku dan nenek bekerja di tempat yang sama dan saling membagi tugas.
"Apa kau pikir, orang-orang yang perlu kita perhatikan hanya ada di dalam tempat isolasi saja? Jika kita berdua berada di tempat yang sama dan sedang menggunakan APD level tiga, kita tidak akan bisa dengan bebas keluar masuk tempat isolasi untuk keadaan yang sangat mendesak. Harus ada orang yang memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam bidang medis yang dapat pergi ke sana-sini dalam situasi seperti sekarang."
Dengan badan yang tertutup sempurna oleh alat pelindung diri, nenek pun melanjutkan, "Bekerja secara cepat dan efektif memang penting. Namun, kau tidak boleh mengorbankan satu pun pos hanya untuk mengejar target pekerjaanmu. Karena pekerjaan kita, adalah untuk memastikan orang-orang yang selamat sebanyak mungkin. Di dalam sana, mungkin ada banyak orang yang telah terinfeksi. Akan tetapi, di luar juga terdapat banyak orang yang masih harus diperhatikan."
Lagi-lagi, aku harus kembali dijejalkan oleh fakta ketidakmampuanku untuk mengatur pekerjaan dengan baik. Di dalam hati, tentu aku merasa kecewa dengan kapasitas diriku sendiri. Namun, di sisi lain, aku juga lega karena aku mengetahui, bahwa aku pun masih memiliki banyak ruang yang tidak aku mengerti.
Aku mungkin telah membaca banyak buku dan menghafal seluruh isinya. Namun, jika aku tidak menuruti perkataan nenek dan kakek untuk datang ke ibukota, mungkin aku tidak akan pernah menyadari kelemahanku. Jika aku tidak berteman dengan Sasuke dan Sona, aku mungkin tidak akan pernah mendapatkan pengalaman ini. Lalu, jika aku tidak pernah bertemu dengan gadis itu, aku mungkin tidak akan memiliki motivasi dan keberanian untuk bergerak maju.
Karena itulah, jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat bersyukur dengan semua hal yang telah aku lalui.
"Aku mengerti, nenek."
Dari balik kacamata google yang ia kenakan, aku dapat merasakan sebuah tatapan mata yang sangat hangat. Sebuah tatapan yang dapat menembus dan menggenggam seluruh hatiku. Aku selalu mengingat bagaimana cara nenek memandangku ketika aku telah belajar atau menguasai hal baru. Dan tatapan itulah, tatapan yang sama yang selalu nenek perlihatkan saat aku mulai tumbuh perlahan-lahan.
Hanya dengan sebuah anggukan pelan, nenek membalas perkataanku dan kemudian berbalik pergi. Di belakangnya, diikuti oleh suster gereja yang mengantarnya dengan pakaian yang sama persis. Kepergian dua orang itu, hanya menyisakan kami—aku dan Umuno-san—di dalam ruangan ini.
Ruangan yang hanya berisikan kami berdua, membuatku kembali mengingat dengan sesuatu sebelum kami datang ke klinik.
"Umino-san, bukankah tadi anda bilang, anda memiliki sesuatu yang perlu anda bahas?" tanyaku kepada baron tersebut.
"A- ah, sebenarnya, itu hanyalah tentang penyemprotan desinfektan. Namun, karena Tsunade-sama tidak mengomentari apa pun tentang itu, mungkin itu memang sesuatu yang tidak memiliki masalah," balasnya.
"Begitukah?"
Yah, jika memang Umino-san tidak lagi memiliki keluhan, aku tidak akan mengoreknya lebih dalam. Selain itu, jika itu tentang melakukan pembersihan lingkungan desa dengan desinfektan, aku yakin tidak ada masalah tentang hal itu. Seperti yang ia ucapkan, bahkan nenek pun tidak memberikan komentar apa-apa.
Desinfektan yang aku gunakan pun merupakan desinfektan yang aman dipakai. Dengan cairan dari Katsuyu-san yang dapat mengatur derajat keasamannya menjadi di atas tujuh, itu membuat desinfektan tersebut memiliki sifat basa. Selain itu, Katsuyu-san sendiri juga telah menambahkan bahan-bahan lainnya agar cairan tersebut semakin ramah dan tidak menyebabkan iritasi berlebih pada manusia.
Tentu saja, yang melakukan semua itu bukanlah aku, tetapi murni menggunakan kemampuan Katsuyu-san. Yang kulakukan hanyalah mengatakan kandungan-kandungan desinfektan secara spesifik ke Katsuyu-san, kemudian ia akan membuatnya berdasar dari permintaanku tersebut.
Dalam tingkatan ini, aku sangat bahagia memiliki Katsuyu-san sebagai hewan kontrakku.
"Kamu istirahat saja, Naruto-san. Aku akan menata semua barang-barang ini," ucap Umino-san sambil mulai membereskan satu-persatu perkakas yang dibawa oleh nenek.
Tanpa diperintah pun, aku sudah merebahkan diri ke sofa panjang yang tersedia dan berusaha untuk memejamkan mataku. Tidak butuh waktu lama untukku benar-benar terbang dan berenang ke alam mimpi. Rasa pegal di seluruh tubuhku, seperti menghilang di udara.
Namun, kenyamanan itu hanya bertahan sekitar 30 menit saja. Karena setelah itu, aku mendengar suara pintu depan yang dibuka secara paksa. Suara yang terdengar keras itu, sukses membuat kedua mataku membola seolah akan keluar dari lubangnya.
"I- Iruka-sama! Nyo- nyonya, … nyonya …,"
"Tenanglah, apa yang terjadi dengan istriku?"
Wajah pucat dan keringat yang mengalir di mana-mana dari tubuh butler itu, turut membawa kepanikan yang sama untuk Umino-san. Melihat bagaimana nafas butler tersebut yang terputus-putus, perasaanku pun berubah menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan.
"Nyonya, beliau terjatuh dari tangga," ucap si butler dengan lemah.
Seperti dihantam palu tepat di ubun-ubun. Pupil mata yang mengecil dan mulut yang terbuka lebar, menunjukkan betapa Umino-san sangat terkejut dengan berita yang ia terima. Sejujurnya, aku pun sangat terkejut mendengarnya. Hanya saja, aku dapat kembali menguasai emosiku dengan baik.
"A- apa yang te- terjadi, bagaimana bisa?" tanya Umino-san yang masih belum berhasil menguasai keterkejutannya.
"Ka- karena di ma- mansion se- sedang kekurangan orang, nyo- nyonya pun turun sendiri untuk melakukan se- sesuatu yang ka- kami sendiri tidak ketahui. Sa- saat ini, maid dan butler yang a- ada, sedang membawanya ke klinik."
Wajah Umino-san terlihat mengeras dan seperti ingin melampiaskan amarahnya ke si butler. Itu sangatlah wajar, mendengar istrimu yang sedang mengandung mengalami kecelakaan di rumah, siapa pun akan sangat marah kepada orang-orang yang seharusnya bertanggung jawab di sana. Terlebih, jika sampai terjadi apa-apa kepada sang istri dan calon anaknya, itu pasti akan menjadi pukulan menyakitkan bagi Umino-san.
Namun, itu adalah sebuah emosi sesaat. Meskipun aku dapat memahami perasaan itu, tetapi tidak seharusnya seseorang terjebak dengan mudah dalam perasaan sesaat.
Menyadari bahwa sebentar lagi Umino-san akan meledak-ledak, aku pun segera memegang bahunya.
"Tenanglah, Umino-san. Marah dalam kondisi seperti ini, tidak akan menyelesaikan apa pun," ucapku yang kemudian melirik ke arah si butler. "Kau bilang, baroness sedang dibawa kemari, 'kan? Kalau begitu, bantu aku untuk menyiapkan kasur dan segala peralatan yang diperlukan untuk melakukan perawatan terhadap baroness."
Dengan suara yang tergagap, si butler itu pun segera mengikuti perintahku. Bersama dengan dirinya, aku pun mengambil segala obat-obatan dan perlengkapan yang sekiranya akan aku butuhkan.
Begitu pula dengan Umino-san. Dia nampak telah dapat menguasai kembali emosinya. Tanpa perlu mendapat arahan, Umino-san pun mulai mengikuti langkah kami untuk menyiapkan segala sesuatunya. Namun, tenaganya tidak aku butuhkan di sini. Hanya dengan aku dan si butler ini, kami sudah dapat menyiapkan semuanya.
"Umino-san, bisakah anda pergi ke isolasi dan membawa dua orang kemari? Aku masih butuh tenaga lain di sini," perintahku singkat.
Tanpa perlu menjelaskan lebih lanjut, Umino-san segera berlari secepat yang ia bisa. Sudut bibirku pun tanpa sadar tertarik dan membentuk sebuah senyum simpul di balik masker yang aku kenakan. Seperti itulah seorang ayah, akan pergi ke mana pun jika itu untuk keselamatan keluarganya. Jika saja aku menyuruhnya terjun ke neraka, mungkin Umino-san akan menurutinya tanpa pikir panjang.
Melihat semangatnya yang seperti itu, mau tidak mau, aku pun juga harus dapat menyemangati diriku sendiri. Meskipun aku hanya tidur setengah jam, tetapi itu bukan berarti aku dapat melakukan sesuatu yang setengah-setengah.
Aku masih belum tahu, seberapa parah kondisi istri dari Umino-san. Namun, jika melihat raut wajah dari butler itu, membuatku berpikir bahwa kondisinya saat ini pastilah sangat serius.
Dengan tidak adanya nenek di sini, itu berarti, nyawa dua orang manusia, sekarang berada pada tanggung jawabku secara langsung.
—Bersambung—
Author Note : Halo selamat malam, bagaimana kabar kalian semua? Semoga semuanya dalam kondisi baik. Jika ada yang sedang sakit, semoga cepat diberi kesembuhan. Dan bagi yang sehat, tetap jaga kesehatan kalian dengan baik. Maaf banget karena baru bisa update sekarang
Sudah cukup lama tidak mengupdate fict ini. Yah, sebenarnya, setelah aku update one shoot yang judulnya "Hei, Apa Kau Tahu?", aku berniat untuk secepat mungkin menulis cerita ini. Tapi, saat iu, karena PSBB di Surabaya sudah mulai dilonggarkan, aku pun dapat project di luar kota dan baru pulang ke Surabaya hari kamis kemarin. Jadi, bisa dibilang, karena saat itu masih sibuk banget ngurusin project di luar kota, aku jadi gak ada waktu buat ngetik. Lumayanlah, uangnya bisa dipakai buat tambahan biaya tugas akhir a.k.a skripsi nanti hahaha.
Oke, seperti biasa, aku akan membahas beberapa poin di sini.
Pertama, adalah tentang CT scan. Aku rasa ini penting, karena ini juga pengetahuan umum yang harus diketahui. Sebisa mungkin, hindari penggunaan CT scan terhadap wanita hamil dan anak-anak. Beberapa dokter, apalagi dokter magang yang masih baru, masih ada beberapa yang melakukan kesalahan dengan menggunakan CT scan ke anak-anak. Padahal, itu berbahaya karena anak-anak jauh lebih sensitif terhadap paparan radiasi dan berpotensi menyebabkan kanker.
Makanya itu, meskipun sama-sama memiliki fungsi untuk memindai, dokter akan selalu menggunakan USG ke wanita hamil daripada CT scan. Jika CT scan menggunakan radiasi sinar, maka USG menggunakan pantulan suara. Makanya, USG lebih aman untuk wanita hamil, meskipun kedalaman hasil memindainya jauh lebih buruk dari CT scan. Omong-omong, ini adalah pesan dari temanku yang sering aku tanya-tanyai sebagai salah satu sumber referensiku.
Untuk alasan kenapa Naruto bilang CT scan dapat digunakan untuk memeriksa apakah orang sudah terinfeksi atau belum, itu karena di hasil pemindaiannya, akan tampak apakah ada masalah di organ-organ yang rusah akibat bakteri tersebut. Jadi, yang dilihat bukanlah bakterinya, tetapi kerusakan yang disebabkan oleh bakteri itu. Tentu saja, untuk benar-benar memastikan apakah itu bakteri atau tidak, harus dilakukan uji laboraturium dahulu. Namun, seperti yang dia bilang di chapter sebelumnya, keterbatasan sumber daya adalah masalah utama. Karena melakukan uji darah harus berada di laboraturium dengan fasilitas yang memadai.
Yang kedua, APD sendiri memang dibedakan mejadi 4 jenis. 4 jenis itu harus digunakan sesuai dengan tingkat biosafety-nya atau pekerjaan si penggunanya. Jadi, meskipun biosafety nya ada di level 3, tetapi kalau dia gak masuk ke laboraturium atau terlibat langsung dengan pekerjaan yang dapat berhubungan langsung dengan cairan tubuh si pasien, nakes tersebut disarankan untuk memakai APD level 2 saja.
Jadi, jangan heran kalau melihat nakes di rumah sakit pusat covid-19 yang hanya mengenakan pakaian seperti gaun operasi atau gaun transparan. Karena itu berarti, jobdesk mereka gak masuk ke dalam orang-orang yang bersentuhan langsung dengan cairan tubuh pasien.
Tentang biosafety, itu adalah pengelompokan yang diguanakan untuk menentukan tingkat berbahayanya suatu virus dan bakteri. Covid-19 yang sedang merajalela saat ini, digolongkan ke dalam biosafety level 3. Untuk biosafety level 4, ada ebola dan hanta virus.
Yang kedua, tentang istilah baroness. Bagi yang bingung, baroness adalah sebutan untuk istri baron. Jadi, bukan berarti kalau nama istrinya Iruka adalah baroness. Tidak, baroness hanyalah gelar. Seperti halnya duchess sebagai sebutan untuk istri duke.
Yanng ketiga, untuk kabar Sasuke yang melesat entah kemana. tenang aja, dia memiliki perannya sendiri di arc ini, dan peran itu terlepas dari Naruto dan Erza. Intinya, trio NaruSasuSona akan memiliki peran mereka masing-masing di arc ini.
yah, aku bingung mau nulis apa. Karena ini juga sudah malam dan mata sudah mulai ngantuk. Intinya, jika ada sesuatu yang tidak dimengerti, bebas untuk menanyakan langsung. Saya akan menjawabnya.
Oke, sampai itu saja ya. Terima kasih untuk yang telah membaca cerita ini. Kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan cerita ini. Akhir kata dariku, terima kasih dan sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya.
