Hari ini Kirie nampak terlihat begitu tenang, setelah kembali ke kamarnya ia mencoba memastikan seluruh kamar untuk diperiksa, bukannya apa-apa ya mungkin saja bisa scan semua ruangan dengan keamanan Virtual-billy sehingga tidak ada yang bisa menyimpan apapun yang tidak-tidak selama dia pergi di pondok pengobatan, akan tetapi jiwa waspada nya yang terlalu berat terkadang selalu memaksanya untuk memeriksa isi ruangan itu sendiri dengan hati-hati.
"Apa adikku senang bisa kembali ke kamarnya?!," Tanya Cou Tun, yang ternyata mengunjunginya membuat gadis itu menyengitkan alis ketika mendengar suara seorang laki-laki di belakangnya, dia tidak berbalik akan tetapi justru membersihkan kasur dari debu karena selama dia tak ada di sana.
"Dan bagaimana caramu untuk datang kemari kau membuat alasan apa-lagi pangeran? Kupikir para Kasim itu tidak akan memberimu waktu untuk mendatangi kamar seorang dayang,"Tanya Kirie datar setelah gadis itu selesai merapikan kasurnya, dan memandang pria tampan itu bersandar disalah satu tiang penyangga kamar.
"Kenapa kamu malah menyindirku dengan seperti itu, jangan lupa kau ini adikku, Mana mungkin aku tidak akan melibatkan diri tentang persoalan dirimu?," mendengar ucapan sang pangeran, Kirie yang sebenarnya tidak merasa itu adalah hal yang mengganggu hanya saja dia belum terbiasa jika ada seseorang yang memperhatikannya seperti itu.
"Lebay sekali," ucapnya sebelum memberikan tatapan dingin tapi menyembunyikan senyum kecil di wajahnya, sepertinya menggoda pangeran yang satu ini bisa membuat dia sedikit lebih baik meskipun dia tahu, dia sudah keluar dari sisi yang biasa dia Tunjukkan.
"Ku anggap itu adalah pujian sayangku,"Ucapnya dengan cetus.
"Ya...ya Ya terserah kau sajalah,"Ucap Kirie sebelum merasa dejavu seolah ingin mengembalikan sesuatu tapi dia nampak melupakan-nya.
"Jadi kedatanganku kesini adalah menyerahkan ini padamu agar kamu bisa leluasa menemuiku di saat kau butuh bantuan,"Ucap Cao Tun, meski pun dirinya akan masih sebulan disini tetap saja, Cao Tun memikirkan kondisi Kirie meski di sebenarnya gadis itu bisa melakukan semuanya dengan mandiri.
"Apa ini,"
"Kirie yang memandang sebuah Amulet berbentuk kotak dengan berhiaskan lambang Kanji yang dicat dengan warna ungu keemasan dan tertulis Wei dengan arang berwarna biru di atasnya jika zaman kirie mereka menamai benda itu seperti charm atau sejenis token yang biasanya dipakai untuk menjadi jimat saku bagi orang yang berpergian.
"Ini adalah benda yang Bisa kau tunjukkan ke penjaga jika ingin menemuiku, secara pribadi Jadi kau tidak perlu harus mengendap-ngendap ketika mencariku,"Ucapnya.
"Kurasa ini bukan hal yang sulit kita bahkan bisa melakukan telepati dan aku bisa memasang media yaitu padamu,"Ucap Kirie lalu menyerahkan sebuah logam seperti mahnet. "Sematkan saja dikuping, itu bisa menjadi Hiasan, warnanya seperti bungloon didisain sama seperti penguna-nya,"Ucap Kirie.
"Aku tahu kau punya asisten hologram mu di kepala, akan tetapi aku ingin kita sering bertemu secara pribadi lalu ngobrol, dengar kakakmu ini cukup sibuk untuk beberapa minggu kedepan jadi aku akan sulit menemuimu ditambah kamu juga baru sehat, Aku harap kamu yang menemuiku lebih dulu ada banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan padamu dan itu itu tidak akan selesai satu atau dua hari kau paham,"Kirie menghelah nafas mendengar ucapan pria itu, waktu dan lingkungan membuat personality lebih dewasa.
Kirie lalu tersenyum tipis sebelum melihat seseorang baru sampai dikamarnya, tidak jauh ia melihat seorang Kasim memasuki ruangan dengan raut menghina seolah kamar pelayan itu adalah tempat terhina yang harus ia injak.
"Pangeranku dengan segala kerendahan hati saya datang karena diutus oleh Kaisar untuk memanggil anda, Bisakah kita segera menghadap beliau Anda sangat diperlukan di sana saat ini, dan tidak baik bagi anda jika berlama-lama di tempat yang tidak pantas ini,"Ucap dengan pose terteguh dengan kata kata menukik.
Mendengar ucapan sang Kasim pangeran nampak memasang wajah sangar yang tersembunyi, Hawa kemarahan sempat keluar di sekitarnya sebelum Kirie memberikan kode padanya untuk menyuruhnya pergi dari sana, dia tidak ingin ada masalah di kamarnya dan memancing gosip baru tentang dirinya.
Akhirnya Cou Tun pun memutuskan untuk pergi menuju ruangan altar di mana ayahnya menunggu dan sang Kasim menuntunnya ke sana, meninggalkan Kirie dalam kamar itu dan masih memandang token yang ada ditangannya sebelum akhirnya Token itu lenyap berubah menjadi sinar biru dan masuk inventory digital milik kirie.
Mungkin kirie ya harus lebih bersabar untuk sekarang.
Kasta dari kekaisaran Cina di masa lampau, sangat diperhitungkan berbeda dengan kedudukan dari rakyat Eropa di mana dayang yang mereka pilih atau pembantu yang mereka pilih adalah keluarga Kerajaan atau bangsawan, mereka dianggap sebagai terpandang, berbeda pula pembantu dari kasta rendahan, di kaisaran Cina di masa lampau salah satu kasta atau pekerjaan yang paling rendah adalah seorang dayang sekalipun dayang itu datang dari keluarga ternama, akan dianggap kecil oleh orang-orang atas yang menganggap mereka hanya sampah dan pemuas nafsu, sudah banyak tragedi atas penistaan kasta ini jadi ke Kirie tidak merasa heran jika Kasim itu seolah-olah semena-mena padanya yang saat ini berstatus Dayang.
Usai berkecimpung sendirian di dalam kamar, salah satu dayang pribadi dari Fenghuang datang untuk memanggil Kirie mengingat sang Lady sedang berada di teater dan memintanya untuk melayaninya, mengingat sudah saat kembali bekerja, Bukankah iya harus kembali bekerja sebagai dayang Fenghuang.
Setelah memperbaiki penampilanya, Kirie mengikuti Dayang, menuju ruang Teater dan terkejut saat melihat Fenghuang dan para dayang. Fenghuang dan dayangnya menangis terseduh-seduh secara bersamaan disana.
"Ada apa yang-"
"Kenapa Cou wen harus mati di tangan Lin tang, ini sungguh tidak adil,"
"Cou wen...Lin tang,"Kirie memasang wajah bingung, sebelum, salah satu dayang mulai berkata.
"Drama adegan-nya justru mendapat penyelesaian-yang berdampak kemalangan dikarnakan kekasihnya datang dari kasta budak,"Jerit Sang dayang, sebelum berpose tragis, dan seketika Kirie paham yang terjadi.
Mereka nangis galau hanya gara-gara adegan didrama teater -"
ADEGAN DRAMA PICISAN.
Kirie yakin jika Fenghuang ada dari masanya, gadis itu akan mengemari film romatis, atau mendudukan bokongnya kekursi berjam-jam hanya untuk Drakor atau sereal-tv loves, atau jangan menjadi anggota Army garis depan.
Baru saja berkumpul bersama lain-nya, beberapa pengawal berbaris memasuki ruangan drama, hendak mengacuhkan sebuah tombak. Kearah dirinya.
'Ada apa lagi ini?!'
Kirie menatap bingung dengan apa yang terjadi, sebelum sosok seseorang wanita yang pernah berselisi denganya muncul memasuki ruangan Teater.
"Maaf menganggu Putri Cao, atas ketidak nyamanan dirimu,"Ucapnya membungkuk anggun, pada Fenghuang, sebelum sorot kebencian ditujuhkan untuk Kirie.
"Tangkap jalang ini,"Perintahnya cepat, sebelum Kirie mempertanyakan wanita itu kembali, wanita itu melanjutkan. "Dia telah Mencuri batu mutiara hitam Permansuri Xi Yuu,"
"Apa..!,"Ucap Kirie dengan terkejut begitu pula Fenghuang.
"Haaah!,"
Cou Tun selalu melakukan tugasnya dengan baik, ia dengan tenang selalu memasang kondisi prima dalam pertemuan. Meski iya tertidur hanya beberapa jam dikarnakan menemani Ayahnya (Cao Cao) untuk bersenang-senang dikelilingi oleh para dayang cantik dan sepertinya salah satu dari dayang itu memikat hatinya untuk bersenang-senang semalam penuh.
Sementara Ibunda sedang berada diistana ratu, dikarnakan pria dan wanita dijamuh dengan berbeda. Tentu saja untuk itu Cao pi juga bersama beliau. Cao tun menghelah nafas dalam pikiranya terbagi dua, pertama masalah kerajaan dan juga masalah adiknya.
Rasanya ia ingin segera mengomfirmasi prihal adiknya, juga memboyongnya sebagai Keluarga Wei. Pikiranya terbang kemana mana sekarang, dan dia mulai keluar dari karakternya.
"Kau tidak biasanya begini,"Sebuah suara terdengar di belakang melihat sosok yang dikenalinya.
"Ah, Pam-Rupanya kau,"Cao Tun menghelah nafas menemukan sudara laki-lakinya (Baginya) yang ada disana. "Lu Xun,"
"Tiba-Tiba pangeran kita banyak pikiran, Ada yang mengusikmu, atau kau butuh wanita, aku akan memanggil Pelayanku,"Ucap Lu Xun, mendengar itu Cao Tun tersenyum dan menjitak pemuda itu.
"Aku tidak sedang ingin menyentuh gadis sebentar lagi akan ada pertemuan simpan hasrat bermain-mu pada wanita sampai pertemuan selesai sudara,"Ucap Cao Tun.
"Kau menyebalkan,"Ucap Lu Xun Dengan raut cemerut. Sebelum berkata."Aku dengar gadis bernama Kirie, sudah menjadi Bawahan sementara, Adikmu Fenghuang,"Ucap Lu Xun.
"Iya memang kenapa?!,"Cao Tun dengan wajah datar, seolah tak ada masalah yang terjadi.
"Tidak aku hanya merasa ini terlalu aneh untukmu, sekalipun kau adalah seorang lelaki yang sangat memperhatikan adik perempuanmu fenghuang akan tetapi kau begitu memperlakukan Kirie dengan sangat mencolok, jadi katakan apa yang sebenarnya kau lakukan dibelakangku Kenapa kau tidak cerita apapun padaku dan apa jangan-jangan kau juga punya minat adalah gadis itu,"Ucap Lu Xun.
"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu kepadaku, aku ikut campur pada masalah Kirie karena dia terlibat dengan pertarungan bersama adikku sebelum-nya,"
"Kau bisa berkata seperti itu bung?, tapi kau harus ingat kau dan aku besar bersama, Sekalipun kita berada di ke kaisaran yang berbeda sekarang, Aku tahu kau dan kau tahu aku, "Lu Xun. nampak terdiam dan memberikan sorot mata Tegas yang tidak biasa pada Cou Tun, sejujurnya dalam segi pertemanan mereka jarang bertengkar.
"Lu Xun...Tunggu aku tida-,"
"Kalau tidak! kenapa Ada apa?!,"Lu Xun. tanda tanya pun terbesit di benak pria itu."Jika benar kau juga menyukai Kirie maka aku rasa kita berdua akan menjadi Rival, untuk mendapatkan dirinya,"Ucap Lu Xun membuat Cou Tun terkaget.
"Apa kau-, "Cao Tun memasang raut wajah kaget yang terlihat saat sorot mata saudara angkatnya itu terlihat serius dalam percakapan mereka, Tanpa mereka berdua sadar, ada sosok seorang laki-laki tegap bersandar di ujung lorong.
"..."
Sosok Lu Bu yang harusnya, baru saja kembali dari patrolinya dan mencari muritnya, justru harus berada di sana. di saat kedua pangeran itu Tengah mengobrol di koridor tampa tidak bermaksud untuk mencuri pendengaran tiba-tiba kakinya terhenti saat Lu Xun mempertanyakan hubungan apa yang terjalin antara Kirie dan Cao Tun, mengingat banyak desas-desus akhir-akhir ini yang berkembang di antara mereka berdua. Berita itu juga sudah sampai ke Kaisar Wei akan tetapi lucu punya kaisar Cou Cou, yang kemungkinan mengetahui tentang hal ini, tidak begitu tertarik dengan masalah seolah menyembunyikan sesuatu.
"..."Lu Bu Menyengit setelah mendengar ucapan Lun Xu ia segera meninggalkan tempat dimana ia bersembunyi, dengan pikiran yang tiba-tiba maksud, sebelum tidak sengaja bertemu dengan Diao chan di ujung lorong koridor.
Bersambung
