"Kenapa kau mengaku? Apa yang terjadi dengan rencana menyelesaikan konflik tanpa membuat kepanikan warga, HAH?"
Berisik! Ini kisah hidupku. Aku menolak tunduk pada plot twist darimu lagi, penulis sialan!
"Chapter kemarin tidak seharusnya berakhir seperti itu!"
AKU TIDAK PEDULI. HAHAHA!
-o-o-o-
Avataramen is Now Online
Chapter 18
-o-o-o-
Dalam waktu singkat, Sasuke menerjangku hingga kami berakhir bergulat di atas lantai.
"APA YANG BARU SAJA KAU LAKUKAN?" Sasuke duduk di atasku. Kedua tangannya mencengkram bahuku sekaligus memberi tekanan agar badanku tetap menempel di lantai.
Aku membalik posisi. Karena terlalu terkejut dengan ledakan emosi Sasuke, kuncian yang kulakukan tak sekuat biasanya. Dalam kondisi tertenung, aku masih sempat menjawab pertanyaannya, "Uh, mengenalkan diri?"
Sasuke melipat satu kakinya sebagai tumpuan, lalu memberi dorongan agar punggungku kembali menempel pada permukaan lantai kelas. Dengan gerakan cepat dia memposisikan badannya saling tegak lurus dengan badanku. Tangan kananku ia tarik sementara kakinya menahan badan dan leherku, mempraktekkan teknik kuncian lain.
"KALAU KAU INGIN MATI BILANG SAJA! BIAR AKU YANG MEMBUNUHMU!"
"Ow, ow, ow! Iya iya maaf-bisa tolong lepas-TANGANKU SAKIT WOI!"
Sasuke melepaskan kunciannya, menarik diri dan berjongkok di sebelahku. Selama aku memijat lenganku yang agak linu, aku memerhatikan ekspresi wajah Sasuke. Sempat terlintas rasa bersalah di wajahnya, tetapi ia memfokuskan diri pada satu emosi: marah.
"Beri aku satu alasan agar tidak mengataimu goblok." Ouch.
"Aku bisa bilang pada mereka tadi itu cuma prank?"
"Naruto." Aku meringis. Sasuke hanya memanggil namaku menggunakan nada seperti itu dengan penuh penekanan begitu kalau dia benar-benar berpikir aku melakukan sesuatu yang amat sangat bodoh.
Hey! Aku hanya ingin melawan plot twist penulis sialan!
Lagipula aku tidak sebodoh dan senekat itu! Aku juga tidak asal mengumumkan identitasku tanpa berpikir dua kali!
Aku mendudukkan diri dan sedikit mundur menambah jarakku dengan Sasuke. Untuk berjaga-jaga.
"Haruskah kujelaskan sekarang?" Aku memberi isyarat agar Sasuke lihat sekeliling kami.
Sasuke menggeram bagai binatang buas. Dia tampak hendak menerjangku lagi untuk melakukan gulat ronde dua, tapi ditahan oleh salah satu teman sekelas kami.
"Bentar, bentar! Apa maksudnya ini? Naruto serius? Huh? Hah?"
"Naruto avatar?"
Neji menggeplak kepalaku memakai buku literasi. "Aku tahu kau tidak sebodoh itu, Naruto."
"Kalau tahu aku tidak sebodoh itu, jangan main hakim sendiri!" protesku. Pukulan Neji tidak keras, tapi sampul bukunya keras! Tetap saja sakit!
"Sekarang satu sekolah tahu kau mau apa? Mengumpulkan semuanya di aula dan menjelaskan segalanya?" Sasuke mendesis.
Aku mengangkat bahu asal. "Itu bukan ide yang buruk." kataku, bersamaan dengan mayoritas teman sekelas yang bersungut kompak, "Kalian membuat kami bingung!"
Aku menghindar dari Sasuke yang terlihat ingin mencekikku sampai mati. Kugunakan teknik terbang, terlihat seolah berjongkok terbalik di langit-langit kelas agar terjauh dari jangkauan Sasuke.
"Apa ini menjawab pertanyaan kalian?" kataku pada teman sekelas. Kututup telinga dan kuhitung satu sampai tiga.
Jeritan tidak elit terdengar dari penghuni kelas kecuali Sasuke dan Neji.
"KAU AVATAR!"
Aku memutar bola mataku. "Bukankah tadi aku sudah bilang begitu pada pengacau sekolah kita?"
"Itu alasan kau unggul PJPD dan jadi juara bertahan Bending Battle!"
Siapa itu yang bicara? Enak saja mengimplikasikan aku menang karena aku adalah avatar, seolah berbuat curang begitu! Aku cuma pakai satu elemen saat bertarung! Kalaupun aku unggul karena pengetahuan tentang elemen lainnya, itu kudapat dengan bekerja keras!
Belum sempat kusuarakan, protesanku diserobot oleh desisan menyeramkan dari arah pintu.
"Naruto, bisa ikut Ibu ke kantor?" You-Know-Who.
Aku melepas teknik terbang, memutar badan agar mendarat dalam posisi berdiri. Aku otomatis menciut saat melihat ekspresi bengis dari yang bersangkutan.
"U-uh… Tolong jangan hukum aku dengan soal integral?" cicitku.
"Nar … Kau avatar tapi takut pada matematika?" Bendahara kelas tersedak menahan tawa.
Aku mengacungkan jari tengahku padanya. "Seperti yang kubilang pada media tadi, aku memang avatar tapi aku tetaplah murid sekolah! Wajar saja jika aku punya rasa takut! Apalagi pada mata pelajaran keramat seperti itu!"
"Pangeran Sasuke, seret Naruto."
Woi.
"Baik, Bu Tsunade."
WOI!
Aku berjengit. Sasuke langsung menggait kerah belakangku, menarikku keluar kelas mengikuti langkah Bu Kepala Sekolah. Dia juga mengancam, "Protes: sampaikan salam selamat tinggal pada Ramen Ichiraku."
Jangan menghakimiku kalau aku langsung diam tak berkutik padahal aku bisa mengelak dan kabur! Itu ancaman yang serius!
Kesejahteraan perutku dalam bahaya, tahu!
.
Aku bersiul, meski tak terlalu terdengar karena orang-orang di depanku masih sibuk mengeluarkan luapan marah dan amukan mereka. Kedua tanganku menempel erat menutup telinga, berusaha menulikan semua suara yang ada.
Aku tak dapat menahan dengusan tawa saat mereka ngos-ngosan kehabisan napas dan bahan bakar amarah.
"Jadi? Kalian sudah selesai ngamuk atau aku masih harus melindungi telingaku?" tanyaku enteng.
Sasuke dan Bu Tsunade terlihat siap untuk mengulangi sesi mari-kita-teriaki-avatar-atas-ulah-bodohnya. Tetapi Jiraiya mengangkat tangannya, mengisyaratkan mereka untuk menutup mulut.
Kalau dibandingkan dengan teman-temanku maupun Bu Tsunade, ekspresi Jiraiya dan gerak-geriknya lebih tenang. Bertolak belakang dengan pancaran matanya.
Dari matanya, aku merasa jiwaku ditembus. Mengirimkan rasa dingin yang melebihi dinginnya air laut di Kutub Selatan.
Aku meneguk ludah, memegang leherku secara reflek. Entah bagaimana aku yakin, kalau penjelasanku tidak memuaskan, Jiraiya akan memastikan dia bisa menghidupkanku lagi jika Teratai Merah berhasil membunuhku hanya untuk membunuhku yang kedua kalinya.
That's a scary thought.
"Naruto, kau tahu resiko dari ulahmu 'kan?" Jiraiya memicingkan matanya.
Aku menghela napas. "Awalnya mungkin aku hanya tidak mau kalah oleh pancingan mereka. Mereka pikir dengan diumbarnya sedikit clue tentang identitasku, aku akan menciut? Mereka akan membuatku semakin takut? Jangan bercanda!"
"Naruto-"
"Tidak, dengar dulu. Itu mungkin awalnya. Tapi aku juga berpikir! Aku punya dua pilihan di sana. Pura-pura bego atau memanfaatkan kesempatan yang ada untuk membongkar identitasku. Jika aku tetap bungkam, mereka tidak akan diam. Masyarakat akan terus bertanya siapa aku, mencari celah informasi. Jika terbongkar dengan sendirinya, Teratai Merah yang berakhir tertawa karena cuma kekecewaan dan tuntutan yang kemungkinan menjadi respon masyarakat! Meski sudah kujelaskan, karena sudah kecewa dan berspekulasi duluan, kuyakin masih banyak yang akan merespon negatif. Tak akan sulit untuk mengerucutkan identitas murid, tahu. Hanya perlu menghack absensi murid pada saat Portal Kutub Selatan dibuka dan boom, kedokku terbongkar.
"Dengar," Aku memijit pelipisku, "apa yang baru saja terjadi adalah ... Teratai Merah menggunakan masyarakat sebagai senjata untuk menekanku. Jika aku menganggapnya serangan, ini sama saja memberi kemenangan mutlak pada Teratai Merah. Aku menolak. Aku memilih membalik senjata mereka.
"Mereka ingin aku ditekan, hingga akhirnya terpaksa membongkar identitasku jika belum terbongkar dengan sendirinya? Aku tak bisa diam saja. Lebih baik aku sendiri yang membongkar, dengan kata-kataku sendiri. Bahkan aku bisa membongkar soal Teratai Merah, karena satu-satunya alasanku bersembunyi adalah keberadaan mereka di dunia ini.
"Bukan hanya aku yang tak ingin kedoknya terbongkar. Satu-satunya alasan Teratai Merah terbentuk adalah kekuatan yang dimiliki avatar. Mereka tahu bagaimana caranya merenggut kekuatan ini. Kau pikir mereka akan membiarkan lebih banyak orang mengetahuinya?
"Lagipula jika mereka memang berniat menggunakan taktik pertumpahan darah, mereka seharusnya sudah melakukan sesuatu. Mereka menjatuhkan tembok keamanan dari atas papan permainan hanya untuk meminimalisir bantuan tangan yang kudapatkan. Karena terakhir kuingat, terutama bagi para prajurit, prioritas mereka dalam keadaan darurat adalah melindungi tokoh terpenting dan/atau generasi penerus. Aku termasuk golongan keduanya. Pasti tak ada yang berpikir dua kali untuk jadi tamengku jika Teratai Merah menyerang."
Aku melipat tanganku. Kuberikan tatapan nyalang, menantang siapa pun yang masih mau memprotes keputusanku mengumumkan siapa avatar kepada dunia.
"Apa kau sadar kemungkinan besar kau mempercepat pemburuanmu oleh mereka?" Sasuke menggertakkan giginya.
"Sebenarnya itu niatku juga. Aku lelah bermain petak-umpet. Teratai Merah harus segera dituntaskan, lebih cepat lebih baik," ujarku.
"Kau terlalu gegabah!" Sasuke menggeram. Setidaknya Jiraiya menahannya di tempat.
"Sebaiknya kalian semua beristirahat. Aku tahu kalian lelah. Biar aku yang bicara pada Naruto."
.
Jiraiya sama sekali tidak mengatakan apa-apa di perjalanan pulang. Ia membiarkanku terbuai kantuk oleh angin malam yang menerpa sepanjang perjalanan dan dengungan lagu pengantar tidur yang biasa ia nyanyikan saat aku kecil.
Sesampainya di apartemen, dia menyuruhku langsung mandi dan ganti baju. Makan malam yang masih hangat sudah menungguku di meja makan ketika aku keluar kamar memakai baju tidur. Kami makan dalam keheningan.
"Naruto." Jiraiya tiba-tiba berbicara, saat aku selesai menghabiskan makan duluan.
Aku mengangkat wajah agar bisa bertemu pandang dengannya. Lalu tangan besarnya mendarat di puncak kepalaku.
"Aku tak akan menarik kata-kataku. Aku percaya apa pun keputusanmu dan mendukungnya sepenuh hati." Jiraiya tersenyum lebar, hingga matanya agak menyipit. Dia memelukku sekilas. "Tidurlah, biar aku yang cuci piring."
Aku menggumamkan ucapan selamat malam dan melangkahkan kakiku ke kamar. Kututup pintu hati-hati.
Aku tidak tahu berapa lama aku diam menyender pada pintu kamar dengan tatapan kosong. Perlu usaha ekstra agar air mata tak menghujam pipiku selama aku mendengar suara air keran wastafel mengalir tanpa adanya tanda-tanda piring sedang dicuci, sementara kosmik membuatku merasakan kesedihan luar biasa dari penghuni lain apartemen ini.
Kekehan kecil keluar dari bibirku bersamaan dengan setetes air mata yang mengalir perlahan, tak peduli seberapa keras aku menahannya.
Entah gerak-gerikku ataukah ucapanku saat menggunakan pengeras suara yang membocorkannya, yang jelas Jiraiya sudah tahu.
Aku tak perlu menyampaikan salam perpisahan padanya.
.
.
.
[Faiprinsuke]
May 12. 8. 45 pm
Avataramen : Maaf kalau aku membuatmu khawatir atau marah hari ini. Kau percaya padaku kan?
May 13. 7.25 am
Avataramen : Tumben berangkat duluan?
4.35 pm
Avataramen : Masih marah ya?
8.25 pm
Avataramen : Bisa ketemu sebentar?
10.00 pm
Avataramen : Aku masih menunggu, kalau kau berubah pikiran.
May 15. 2. 13 am
Faiprinsuke : Maaf. Seharusnya aku datang. Ini semua salahku.
4.24 am
Faiprinsuke : Kau ada di mana?
.
.
.
Aku tidak punya rencana dan bayangan pasti tentang apa yang akan dilakukan Teratai Merah. Aku hanya tahu mereka akan melakukan sergapan tiba-tiba dan membiusku. Kemudian aku akan terbangun di tempat antah-berantah atau barangkali ruang bawah tanah bangunan tak terawat, seperti yang Avatar Hiruzen alami.
Ya, sesuai dengan perkiraanku, mereka memang melakukan serangan tiba-tiba dan membiusku saat aku lengah. Aku memang terbangun di tempat asing yang dari lembab dan suhunya kuyakini memang ruang bawah tanah. Tetapi, di luar dugaanku, mereka menggunakan teknik chi-blocking sampai aku tidak bisa bergerak sama sekali.
Aku terkesan.
Apalagi mereka menempatkanku di penjara kayu dan mengikat tubuhku menggunakan tali kevlar. Cukup cerdas untuk menahan pergerakanku dan memperkecil kemungkinan aku bisa kabur.
Sayang sekali, meski mereka berhasil menahanku, tujuan mereka tak akan bisa tercapai. Selama aku menolak menggunakan kosmik, sampai tetes darah terakhir pun mereka tak akan bisa memutus lingkar reinkarnasi avatar.
Aku berusaha memberi tahu Kak Itachi setiap dia mengunjungi selku untuk memberi makan. Tetapi dia mengabaikanku, seolah apa yang kukatakan hanyalah gertakan saja.
Dua hari berlalu sejak 'penculikanku'. Aku dibangunkan hanya untuk minum dan diberi makan, kemudian diberi dosis obat bius lagi. Bahkan aku tak bisa menghubungi Kokuo dengan informasi jelas. Aku tak tahu aku ditahan di mana.
Hari ketiga, bukan wajah Kak Itachi yang menyambutku. Karakteristik Kerajaan Bumi terlihat jelas dari gurat wajahnya. Mata kanannya tertutup perban dan di dagunya terlihat bekas luka menyilang. Aku mengenalnya sebagai Kolonel Danzou dari buku sejarah.
Dari ingatan avatar sebelumku, aku mengenalnya sebagai sahabat lama yang berubah menjadi seorang pengkhianat.
"Bawa dia!"
"Baik, Tuan."
Dua orang dengan wajah tertutup topeng mengangkatku keluar sel tahananku. Danzou berjalan di depan mereka, langkahnya terdengar pasti dan penuh percaya diri meski dibantu sebuah tongkat.
"Kau tahu kau tak bisa memaksaku untuk menggunakan kosmik, kan? Kalau kalian menggunakan taktik ancaman pun, aku sudah kehilangan segalanya di umur 5 tahun," kataku. "Apa kalian akan mengulang sejarah? Membunuhku dan berharap kalian bisa membunuh reinkarnasiku sebelum dia bisa terhubung sempurna dengan energi kosmik? Seperti yang kalian lakukan padaku satu dekade lalu?"
Ketukan tongkat Danzou pada permukaan tanah terdengar lebih keras dari sebelumnya.
"Kenapa kalian membiarkan dia berbicara?"
"M-maaf, Tuan!"
Aku meringis sakit saat salah satu bawahan Danzou menotok beberapa titik di tubuhku. Aku mengumpat dalam hati saat sadar rahangku jadi tidak bisa kugerakkan.
Danzou menatapku dengan seringai menyeramkan. Aku merasakan firasat buruk.
"Tenang saja, aku belajar dari kesalahanku. Aku tahu aku tak bisa memaksamu memutus lingkar reinkarnasi avatar."
.
Sinar rembulan adalah hal pertama yang menyambutku begitu keluar dari tempat penyekapan yang ternyata berada di dalam gua. Bulatan sempurna dan pendarnya yang indah tidak memberikan keringanan sedikit pun pada firasat buruk yang kurasakan.
Langkah Danzou tak goyah meski ia berjalan di atas pasir labil. Seolah ia sedang berjalan menjemput kemenangan.
Kurang lebih dua puluh meter menyusuri pantai yang dirimbuni pepohonan payau, kami berhenti. Ada empat sosok yang kukenali sebagai mentor PJPD di sekolahku. Keempatnya berdiri di tiap ujung batu berbentuk persegi. Saat aku didudukkan di tengah batu yang kumaksudkan, barulah aku sadar aku berada di atas sebuah altar.
Sejenak aku terdiam, tak paham.
Aku sudah melihat empat altar elemental. Altar air, ketika aku bertemu dengan Matatabi. Altar Tanah, tempat berdiam Shikaku. Altar Api, terletak di Kuil Api tak jauh dari Istana Negara Api. Terakhir Altar Angin, terletak di Ruang Suci Kuil Angin tempat aku mengambil Gunbai.
Tersisa satu altar: Altar Kosmik.
Kenapa Danzou meletakkanku di Altar Kosmik? Bukankah Altar Kosmik terletak di Desa Miko?
Tunggu sebentar!
Altar Kosmik.
Bulan Purnama.
Empat orang tutor: Kak Itachi mewakili elemen api, Kak Konan mewakili elemen angin, Kak Kisame mewakili elemen air, dan Kak Nagato mewakili elemen tanah.
Selintas kepingan ingatan milik avatar pendahuluku mampir di kepala. Aku tahu apa ini.
Aku harus menghentikan mereka.
Ini amat, sangat berbahaya.
Saat kurasa pengaruh chi-block di badanku berkurang, aku berusaha melawan gravitasi. Baru beberapa inchi lepas dari altar, tubuhku dikunci oleh teknik pengendalian darah dan ditarik ke posisi semula.
"Dia mau kabur," dengus Kak Kisame. "Sebaiknya kalian lakukan chi-block lagi."
Dua orang bawahan Danzou hendak beranjak, tapi atasan mereka melarang.
"Tak perlu. Sebentar lagi dia tak bisa apa-apa. Tahan sebentar, Kisame."
Panik. Hanya kepanikan yang bisa kurasakan saat Danzou selesai dengan persiapan ritual. Dia menyayat telapak tangannya. Dahiku ia bubuhi aksara kuno menggunakan darahnya. Kemudian, satu tangannya terkepal di dada.
Ketika dua jari diangkat dari tangan yang terkepal dan tangan lainnya ditempelkan di dahiku, pandanganku dibutakan oleh cahaya.
Samar-samar, aku bisa mendengar bisikkan dua orang yang berbeda.
"Maaf kau yang harus jadi korban, Naru." Kak Itachi.
"Kekuatanmu bukan satu-satunya pilihan, Avatar." Danzou.
Kalau saja aku bisa menggerakkan rahangku, aku yakin aku tak akan bisa menahan jeritan yang keluar. Karena setelah itu, rasa sakit dikirimkan setiap sel tubuhku sementara energiku disedot secara paksa.
.
Tiga jam.
Tubuhku dihantam rasa sakit selama tiga jam.
Dari mana aku tahu? Karena saat sedotan energi itu berhenti, aku bisa merasakan kendali tubuhku lagi.
Butuh waktu maksimal tiga jam hingga efek chi-block menghilang.
Dan butuh waktu yang sama untuk menempuh perjalanan udara ke Desa Miko dari Konoha.
"Naruto!" Perasaanku berkecamuk saat mendengar suara Kokuo. Aku bersyukur tak lupa mengirimkan telepati begitu aku sadar di mana aku berada. Aku benar-benar kehabisan tenaga dan tak yakin bisa melindungi diri dalam waktu dekat. "Bertahanlah, sebentar lagi kami sampai!"
Suara gemuruh terdengar jelas bersamaan dengan bergetarnya permukaan bumi di sekitar Desa Miko. Aku susah payah mendudukkan diri, memicing tajam pada sosok terdekat, mentor PJPD-Api di sekolah. Ya, Kak Itachi.
"Tuan Danzou? Apa yang terjadi?" Kak Itachi terlihat kebingungan.
Danzou menjawabnya dengan serangan pengendalian bumi. Bukan hanya Kak Itachi, tiga mentor lain pun menjadi sasaran. Mereka terpelanting beberapa belas meter dari tempat semula.
Altar di bawahku retak. Aku menggunakan sisa tenagaku untuk melompat dan menjauh sejauh energiku mengizinkan. Saat kurasa aku tak bisa melanjutkan teknik terbang, kupeluk lututku agar aku bisa jatuh berguling. Sehingga momentum badanku tak akan membuatku terluka parah.
Aku berhenti tepat di depan empat mentor yang sudah berkumpul dan bersiaga. Aku berdiri dengan kaki gemetaran dan memicingkan mataku.
"Jangan bilang padaku kalian melakukan ritual tadi karena Danzou bilang itu adalah ritual untuk memutus lingkar reinkarnasi avatar?" tudingku.
Suara patahan bumi yang memekakan telinga disertai auman naga mengalihkan perhatianku dari mereka. Terjadi ledakkan di Altar Kosmik disertai tembakkan cahaya spektrum gelap. Langit terlihat menggelap seperti akan terjadi badai. Satu auman lain terdengar, di balik kepulan asap terlihatlah seekor naga yang ukurannya lebih besar dari semua naga yang pernah kulihat.
Kulitnya bersinar dengan spektrum yang sama. Kosmik yang terasa membuatku tercekat. Begitu gelap. Geramannya saja mampu menanam rasa takut pada orang yang mendengarnya.
"I-itu apa?" Kak Konan jatuh berlutut. Matanya membola lebar, ketakutan terasa pekat darinya.
Kak Nagato menggeleng reflek, ekspresinya tak jauh berbeda.
Keadaanku lebih parah dari mereka karena aku harus mengaktifkan energi kosmik agar kosmik alam bisa mengisi perlahan energiku yang menghilang. Aktifnya kosmikku menandakan menguatnya sensorku terhadap kosmik di sekitar.
Gelap. Sangat, sangat gelap.
Napasku tercekat.
Tarik napas, Naru. Satu, dua, satu, dua.
Tenangkan dirimu!
Baik, mari kita analisa. Dari wajah bego yang sedang dipasang empat mentor PJPD sekolahku, juga ulah Danzou menyerang mereka, tudinganku benar adanya. Mereka sama sekali tidak tahu kalau ritual yang mereka ikuti adalah ritual untuk melepaskan Naga Kosmik Negatif yang disegel di Desa Miko oleh avatar pertama.
Aku mengerang, mengumpati penulis sialan yang lagi-lagi menyisipkan plot twist yang tak kalah sialan.
Kalau kau mau balas dendam, tidak begini caranya penulis edaan!
To Be Continued
