Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
.
.
[Blossom In The Winter ]
( Chapter 19 )
.
.
.
Sasuke Pov.
"Sasuke, apa kau mencintaiku?"
Hari ini, aku tidak bisa fokus bekerja hanya karena pertanyaan sederhana dari Sakura. Saat itu seharusnya aku bisa menjawab pertanyaan itu, tapi sebuah keraguan muncul, aku jadi kembali mengingat ucapan kakak.
Semua yang di ucapkan kakak tidak juga salah, selama ini aku yang membuat Sakura mengikuti segala apa yang aku inginkan darinya, aku ingin dia menjadi seorang wanita yang sesuai jika bersanding denganku, tapi aku lupa jika dia juga memiliki pemikirannya sendiri hingga mulai membangkang padaku, aku tidak suka setiap dia bersikap seperti itu, aku ingin dia tetap patuh, tapi pada akhirnya, semua itu akan membuatnya tertekan dan akan semakin menjauh dariku.
Apa yang harus aku lakukan?
Selama ini aku tidak memahami cara untuk menghadapi seorang wanita, walaupun sekarang Sakura masih terbilang seorang gadis remaja dan juga labil.
Aku belum sempat berbicara padanya seperti apa yang teman kelasnya itu katakan, Sakura mendapat masalah? Apa dia berkelahi dengan teman-teman di sekolahnya? Aku yakin Sakura bukan gadis seperti itu, dia tidak mungkin berkelahi.
Jika ingin mengetahui bagaimana bersikap pada seorang wanita, apa aku harus belajar pada kak Izuna? Dia dan pacarnya sudah cukup lama bersama, bahkan pacarnya itu begitu betah padanya, apa yang dia lakukan hingga wanita itu begitu patuh?
Mengetuk ruangan yang tidak jauh dari ruanganku, apa dia sibuk?
"Masuklah." Ucapnya.
Membuka pintu dan berjalan masuk.
"Ada apa, Sasuke?"
"Bagaimana kau bisa bertahan bersama pacarmu?" Tanyaku, tapi ini sedikit memalukan.
"Apa maksudmu? Aku tidak percaya kau bertanya seperti ini, dari pada itu, apa kau sudah bersikap baik pada Sakura? Aku tidak akan memaafkanmu jika kau masih bersikap buruk padanya." Ucap kak Izuna.
Aku tahu, saat itu seharusnya aku tidak menampar Sakura dan membuatnya semakin tidak suka padaku.
"Aku sudah meminta maaf padanya dan mengakui kesalahanku, aku tidak akan melakukannya lagi." Ucapku.
"Seterusnya jangan lakukan itu pada Sakura, bagaimana pun juga dia masih anak kecil."
"Apa kau akan terus menceramahiku? Aku tidak datang untuk mendengar ceramahmu itu."
"Lalu apa? Kenapa kau bertanya tentang hubunganku dengan Naori? Kenapa itu menjadi penting untukmu?"
"Aku hanya ingin tahu saja." Ucapku.
Kenapa kak Izuna jadi sangat berbelit? Aku hanya ingin tahu bagaimana Naori bertahan padanya.
"Kami hanya saling percaya saja."
"Hanya itu?"
"Ya, apalagi yang di perlukan? Aku jadi tidak akan khawatir jika dia di luar sana, Naori tetap menjaga dirinya."
Bukan seperti itu yang aku harapkan. Bukan ucapan yang sederhana tapi tidak mungkin aku terapkan pada Sakura. Gadis itu juga percaya padaku.
"Bagaimana agar Naori patuh padamu?"
"Patuh? Jangan bercanda Sasuke, Naori itu adalah wanita dewasa, kami sebatas pacaran, aku tidak mungkin membuatnya tunduk padaku, patuh itu adalah hal yang egois, aku tidak mungkin memintanya seperti itu, dia harus bebas melakukan apapun yang dia inginkan. Mungkin jika kita telah menikah nanti, aku akan memberinya sedikit batasan."
Apa seperti itu yang di inginkan Sakura? Apa dia ingin menjadi gadis yang bebas tanpa adanya aturan dariku? Tapi itu akan membuatnya buruk, aku ingin dia menjadi gadis yang baik-baik saja. Apa itu sulit?
"Siapa wanita yang ingin kau buat patuh? Kau ini ada-ada saja. Jaman sekarang wanita lebih banyak ingin bebas, bahkan jika telah memiliki pasangan."
Hanya terdiam dan tidak menanggapi ucapan kak Izuna, apa salahnya membuat Sakura patuh?
"Aku jadi seperti bisa membaca pikiranmu." Ucap kak Izuna, dia pun terus menatap ke arahku.
"Apa?"
"Sakura adalah adikmu, ingat itu, jangan pikirkan macam-macam, apa ayah dan ibu tahu kau bersikap seperti ini pada Sakura?"
"Aku akan mengatakannya pada mereka."
"Coba saja katakan, aku sangat ingin melihat ayah memukulmu." Ucapnya.
Kenapa kak Izuna begitu yakin ayah tidak setuju, lagi pula Sakura bukan saudara kandung kita.
Sebelumnya, aku harus benar-benar meyakinkan perasaanku terlebih dahulu, ini tidak akan sulit.
.
.
.
.
Aku datang lebih awal sebelum jam pulang sekolah Sakura, aku tidak ingin membiarkannya pergi dan pulang sekolah sendirian lebih lama lagi.
Tidak beberapa lama, aku bisa melihat gadis itu keluar dari gerbang sekolah, tapi dengan cara yang aneh, dia berlari sekuat tenaga, ada apa dengannya?
Keluar dari mobil, dia bahkan terus menoleh ke belakang tanpa fokus di hadapannya.
Bught!
Sakura terkejut setelah menambrakku, ada apa dengannya?
"Sasuke!" Ucapnya dan memelukku erat, aku sampai bisa merasakan napasnya memburuh.
Menatap ke depan, ada sekitar tiga murid yang memakai seragam yang sama dengan Sakura, mereka berhenti berlari ke arah Sakura, tatapan yang terlihat cukup terkejut, mereka berubah haluan dan berlari ke arah yang berbeda.
"Apa yang terjadi?" Tanyaku.
"Hahaha, tidak, aku senang kau datang tepat waktu." Ucapnya.
Padahal dia habis di kejar, tapi kenapa terlihat senang? Ada apa dengan gadis ini.
"Aku akan menjemputmu hari ini."
"Sungguh? Kau akan menjemputku lagi?"
"Hn."
"Apa kau sedang menebus kesalahanmu padaku?"
"Kau yang berbuat salah, seharusnya kau yang menebus kesalahanmu." Ucapku dan menyentil jidatnya.
"Aku tidak pernah salah, kau saja yang berlebihan." Tegasnya, dan marah akan tindakanku.
Menghadapi gadis yang beranjak remaja cukup sulit, aku benar-benar harus sabar menghadapinya. Memintanya untuk segera masuk ke dalam mobil, mulai melajukan mobil ini ke arah jalan raya.
"Kita belum berbicara." Ucapku.
"Berbicara apa lagi? Apa kau ingin memarahiku lagi?"
"Tidak. Teman kelasmu mengatakan jika kau sedikit mendapat masalah di sekolah."
"Siapa yang katakan padamu?"
"Gadis berambut goldpale. Apa dia temanmu?"
"Ino. Apa dia mengadu padamu?"
"Bukan mengadu, kita harus berbicara ketika kau mendapat masalah, apa gunanya aku untukmu?"
"Masalah di sekolah ya di sekolah, kenapa orang rumah pun akan sibuk mengurusnya? Lagi pula aku bisa mengatasi mereka."
"Kalau begitu panggil temanmu itu. Siapa namanya? Ino? Panggil dia. Aku ingin dia yang mengatakannya dari pada kau yang sangat keras kepala."
"Jangan melibatkan Ino!" Protesnya.
Aku tidak suka setiap dia berbicara dengan menaikkan nada suaranya, kenapa dia mulai banyak berubah?
"Jika kau tidak ingin temanmu itu menemuiku, kau bisa mengatakannya sekarang juga."
"Aku ingin ke kafe disana." Ucapnya tiba-tiba, menunjuk sebuah kafe yang berada di persimpangan jalan.
"Baiklah."
Memarkir mobil dengan rapi, kafe yang menyediakan banyak makanan manis, aku benci ini, apa dia sengaja mengajakku kesini?
"Aku yakin kau tidak akan suka, tapi mereka punya cake coffee yang smooth, tidak pahit, dan tidak terlalu manis." Ucapnya.
"Kau bisa memesannya." Ucapku.
Menunggunya di sebuah meja kosong, menatap gadis itu mulai memesan beberapa kue yang di tunjuknya dan merekomendasi sebuah kue untukku. Dia cukup memahami apa yang aku inginkan tanpa menyebutkannya.
"Maaf, apa kursi disini kosong?"
Menatap ke arah suara itu, ada dua orang wanita datang dan membawa nampan mereka.
"Kursi ini tidak kosong." Ucapku.
"Sungguh? Tapi disini sudah tidak ada kursi kosong, apa kami bisa berada disini?" Ucap salah satu mereka. Kenapa ada orang-orang yang seperti ini? Mereka terus memaksa, aku berharap Sakura cepat datang, aku malas meladeni mereka.
"Bagaimana? Apa kami bisa mendapat tempat?" Tanya mereka sekali lagi.
"Maaf bibi, ini kursi kami." Ucap Sakura, akhirnya dia datang, menaruh nampannya dan menduduki kursi di depanku.
"Bi-bibi? Bagaimana gadis sepertimu tidak sopan memanggilku dengan ucapan seperti aku setua itu!" Dia protes hanya karena ucapan Sakura? Gadis ini memang masih muda, tidak ada salahnya dia memanggil dengan sopan.
"Minta maaf padanya!" Temannya pun ikut protes.
Aku benci dengan orang-orang yang mengganggunya.
"Tolong pindahlah dari sini, jika tidak, aku akan memanggil security karena kalian mengganggu ketenangan kami." Ucapku, aku cukup kesal, ini hanya masalah sepeleh dan mereka begitu membesar-besarkannya.
"Ka-kami akan pergi." Ucap wanita yang sempat marah itu.
Akhirnya ketenangan yang bisa aku dapatkan, tapi gadis di hadapanku ini tidak peduli dengan apa yang terjadi, dia mulai sibuk memakan kue yang di pesannya, ada tiga jenis kue yang di ambilnya dan milk stroberi floatnya sebagai minumannya. Sementara di mejaku, kue yang sudah di rekomendasikannya dan ice coffee.
"Kau benar-benar tidak ambil pusing." Ucapku dan mulai duduk.
"Aku akan selamat jika bersamamu." Ucapnya dan terkekeh.
"Makanlah dengan baik, kenapa krimnya begitu ramai di sudut bibirmu?" Ucapku, membersihkan sudut bibirnya itu.
"Oh, aku sengaja melakukannya agar kau membersihkannya." Ucapnya dan kembali terkekeh.
"Sekarang apa kita bisa berbicara?"
"Apa? Kau ingin dengar aku di musuhi satu sekolah hanya karena aku tinggal dengan orang hebat? Dengan statusku yang hanya seorang anak yatim-piatu tapi hidupku begitu enak."
Aku akan mendengarnya berbicara hingga selesai.
"Mereka tidak tahu jika aku dulunya bukan orang yang miskin juga, hanya sekarang jauh lebih kaya lagi dari sebelumnya." Ucapnya, apa suasana hatinya sedang senang? Dia bercerita seperti itu tapi tanpa beban.
"Lalu, apa mereka menyerangmu?"
"Walaupun mereka menyerangku, aku tidak akan kalah."
Gadis yang kuat, aku senang dia bisa membela diri, tapi aku tidak ingin dia di sakiti.
"Aku yakin mereka akan semakin membenciku." Ucapnya.
"kenapa?"
"Kau tahu, saat aku berlari tadi, mereka ingin menyerangku, tapi aku bisa kabur dari mereka. Apa salahnya menanggapi ucapan mereka? Mereka bertanya tentangmu yang datang waktu itu, aku sudah mengatakannya dengan tegas jika kau adalah-" ucapannya terhenti, bahkan pupil hijau zambrut itu melirik ke arah lain.
"Adalah, apa?" Tanyaku, penasaran.
"Bukan apa-apa, mungkin di rumah saja akan aku katakan." Ucapnya dan tersenyum malu di hadapanku.
Dia membuatku penasaran, apa gadis remaja jaman sekarang pandai bermain kata?
.
.
TBC
.
.
akhirnya fic ini bisa update...
