Cuaca cerah pada pagi itu dimanfaatkan olehnya untuk membersihkan halaman rumah. Kouryu menyapu tebaran dedaunan dan ranting kering. Satu sosok dewasa membantunya membersihkan halaman itu. Ia adalah Rikudo, sahabat akrab dari dokter Koumyou.
Semalaman dokter Koumyou ada tugas mendadak di rumah sakit, sehingga pria itu menugaskan Rikudo untuk menjaga anak asuhnya di pondok.
Kouryu baru pertama kali bertemu dengan Rikudo kemarin sore. Penampilannya urakan seperti seorang preman: memiliki tato di hampir sekujur tubuhnya serta tindikan di bibir dan telinganya. Ia juga seorang perokok berat. Kouryu yang masih polos tentu takut jika harus bermalam dengan pria itu. Di awal perkenalan, Kouryu hanya menunduk, tak berani mengajaknya bicara. Ia bahkan hampir menangis saat Koumyou meninggalkannya berdua dengan pria itu.
Namun, Kouryu tetap percaya, siapapun yang dekat dengan dokter Koumyou, pastinya adalah sosok-sosok yang baik. Koumyou adalah malaikat. Tidak mungkin malaikat berkawan dengan iblis bukan?
Kouryu yang enggan kini mulai memberanikan diri bicara dengan Rikudo. Ternyata, di balik penampilannya yang seperti iblis, Rikudo adalah pria yang penyayang. Ia sangat supel sehingga bisa membawa suasana menjadi menyenangkan. Semalaman pun mereka saling bertukar cerita.
"Koumyou tetap selalu merepotkan. Kalau menginap dengannya, kau harus siap-siap membantunya merawat bunga," Rikudo berdumel di sela-sela aktivitasnya menyiram tanaman aster. Kouryu hanya tersenyum tipis.
"Kau belajar banyak darinya ya tentang merawat bunga?"
"Tak banyak," Jawab Kouryu sambil lanjut menyapu halaman.
"Ia sangat menyukai aster. Makanya halaman rumahnya didominasi oleh bunga itu," Pria dengan rambut model dread-lock menatap bentangan aster di hadapannya.
"Aku juga suka," Kouryu menanggapi polos. Rikudo tertawa singkat.
"Koumyou banyak mempengaruhimu ya," Simpulnya.
"Dokter sangat baik. Aku bahkan ingin menjadi sepertinya," Mata ungu anak itu kini memandang bentangan langit. Rikudo tertegun mendengar pengakuan itu.
"Ia seperti malaikat. Aku juga ingin jadi sepertinya. Malaikat yang banyak menyelamatkan orang lain, termasuk yatim piatu sepertiku,"
Suasana hening. Hanya ada hembusan angin pagi. Wajah Kouryu terlihat cerah saat mengucapkannya. Kontras dengan Rikudo yang hanya bergeming dengan raut sedih.
"Ada apa, Rikudo-san?" Anak itu bingung menemukan pria itu malah melamun dengan wajah sedih. Rikudo tersentak. Ia tersenyum singkat.
"Tidak. Pilihan ada di tanganmu, baik dan jahatnya. Kau bisa memilih menjadi lebih baik dari Koumyou,"
Kouryu menyiritkan alis karena tak mengerti. Baru saja ia ingin menanyakan maksudnya, sebuah suara panggilan keburu terdengar.
Kouryu dan Rikudo beralih ke sumber suara. Sebuah mobil sedan menepi di pagar rumah mereka. Sosok Koumyou menyembulkan kepalanya dari kursi penumpang di bagian depan mobil.
Rikudo dengan sigap mematikan keran lalu berlari pelan untuk membuka pagar. Mobil mewah itu memasuki halaman megah di pondok milik Koumyou.
Kouryu bergeming menyaksikan adegan demi adegan yang terjadi. Mobil itu berhenti di dekatnya. Dokter Koumyou turun disusul oleh sosok pria asing berkacamata bingkai hitam. Senyum misterius terkulum, bahkan saat ia dan Kouryu bertemu pandang. Ia sepertinya rekan seprofesi, walau penampilannya juga urakan. Kouryu seolah melihat sayap hitam mengembang di punggung pria itu.
Ia seperti seekor gagak.
Koumyou dan pria itu berbincang dengan Rikudo. Kouryu masih bergeming. Penampilan pria itu memang tak semengerikan Rikudo. Ia tak bertindik juga tak bertato. Malah, wajahnya terlihat lebih ramah. Namun, entah kenapa ada satu perasaan takut yang menyergapnya perlahan, membuat Kouryu hanya diam kaku.
"Oh jadi ini anak asuhmu," Kouryu seperti keluar dari dunia lain. Ia tak sadar sejak kapan dua sosok itu mendatanginya. Sorot mata ungu-nya bertemu dengan sepasang mata hitam di balik kacamata. Tanpa sadar, Kouryu menelan ludah.
"Ya, dia Kouryu,"
"Yo!" Kouryu menatap asing, tak menjawab sapaan garing itu.
"Wah, kalau dilihat wajahnya seperti perempuan," Ledeknya. Kouryu pun melotot dengan wajah bersemu. Ia memalingkan muka lalu melangkah meninggalkan mereka.
Gelak tawa terdengar dari dokter Koumyou dan pria misterius itu. Kouryu tak menggubris mereka lagi. Ia memilih ke dalam pondok bersama Rikudo. Entah kenapa ia merasa lebih nyaman bersama pria berperawakan preman dibanding sosok yang terlihat sopan.
Dokter Koumyou adalah malaikat. Jadi ia selalu dikelilingi oleh orang-orang baik.
Kecuali...
Tuan Raven itu.
Koak gagak terdengar. Kouryu tersadar dari lamunannya. Ia berada di halaman gersang. Taman bunga yang biasa ia saksikan lenyap begitu saja.
Anak itu terkejut melihat telapak tangannya. Ada noda darah di situ. Darah siapa?
"Kouryu, kau ingin jadi sepertiku?"
Anak itu kini berubah menjadi Sanzo. Ia memperhatikan pemandangan di depannya. Sekelompok gagak mengerumuni sebuah bangkai. Sanzo melangkah perlahan mendekatinya. Ia melihat mayat dokter Koumyou terkapar. Kawanan gagak itu mulai menikmati dagingnya.
"Kau akan mati dengan cara yang sama..."
"olehku..."
Sanzo tersentak lalu bangun dari tidurnya. Dengan nafas tersengal, sang dokter mengobrak-abrik meja kerja yang tadinya menjadi peraduannya. Seluruh kertas dan barang-barang lain pun berceceran di lantai. Setelah puas melampiaskan ketakutan oleh mimpi buruknya itu, Sanzo menyandarkan dirinya di kursi.
Nafasnya masih terengah. Sanzo masih ketakutan. Ia beralih merogoh saku celananya. Kalau tak salah ia menyimpan sebungkus rokok di dalam sana.
Hanya bungkusan kosong. Sanzo meremasnya lalu melemparnya. Kini, pria itu memeriksa laci mejanya. Ia melemparkan barang demi barang di dalam sana hanya untuk mencari sebatang rokok. Pria itu mengerang kesal saat menelan kenyataan pahit kalau ia kehabisan rokok.
"Gojyo! Gojyo!" Sanzo berteriak. Ia beranjak dari kursi, melangkah keluar dari ruang kerjanya. Baru saja Sanzo membuka pintu, ia sudah dikejutkan dengan pria yang berdiri di depannya. Gojyo terlalu cepat merespon. Sepertinya ia berdiri di depan pintu bukan karena panggilan pria itu. Apalagi, raut wajah Gojyo terlihat panik.
"Sanzo,"
"Rokok! Berikan rokokmu!"
"Sanzo... Hakkai..."
"Aku tak peduli! Mana!?" Sanzo lebih mencemaskan kehabisan rokok dibanding rekannya sendiri.
"Hakkai menyandera pasien itu!"
Kalimat itu langsung mengalihkan pikiran Sanzo. Pria itu memicingkan mata. Tentu Gojyo tak akan berani bergurau di depan Sanzo karena pria itu tanpa ampun bisa menghajarnya.
"Hakkai ada di ruang tamu...bersama pasien itu. Ia memintamu ke sana. Kalau kau tidak datang, pasien itu akan mati," Gojyo terdiam sesaat.
"Ia membawa pistol. Ia tak bergurau, Sanzo,"
Sanzo berdecak. Ia pun langsung menuju ke tempat kejadian. Sang asisten setia mengekori pria itu.
Sekitar lima belas menit berlalu sejak ia berada di sini. Pria berkacamata itu hanya berdiri merangkulnya. Namun, sepucuk pistol tetap tertodong di lehernya, memberikan sebuah isyarat bagi Goku untuk tidak mencoba melarikan diri.
Goku mencuri pandang padanya. Raut wajah pria itu amat tenang, seolah ia sering melakukan tindakan berbahaya seperti penyanderaan ini. Walau wajahnya sendiri terlihat kalem seperti malaikat, tetap saja ia teroris. Jadi wajar kalau sosok itu tidak merasa bersalah sedikitpun saat menyanderanya.
"Maaf ya. Ini demi rekanku," Ujarannya terdengar manis. Ia tersenyum. Goku segera menghindari kontak mata dengannya. Berbeda dengan menghadapi dokter, Goku tak bisa menyembunyikan ketakutannya.
"Ah! Datang!" Hakkai setengah berseru. Gojyo akhirnya muncul membawa Sanzo sesuai dengan permintaanya. Sanzo terlihat gusar. Saat mereka berdua hendak mendekat, Hakkai mundur selangkah, menarik sanderanya.
"Sampai di sana saja Sanzo, Gojyo," Hakkai memperingatkan. Keduanya pun langsung berhenti saat melihat pistol tertodong di leher pasien mereka. Goku hanya menunduk pasrah. Nafasnya terengah karena ketakutan.
"Hakkai! Hentikan ini!" Perintah Sanzo. Yang bersangkutan tidak menggubrisnya.
"Kembalikan pasienku!"
"Aku hanya ingin memperjelas semuanya," Suara Hakkai lantang mengalahkan sang pemilik rumah. Sanzo pun diam, membiarkan Hakkai yang mengambil alih pembicaraan.
"Aku terpaksa melakukan ini. Demi kita. Kau cukup egois bahkan untuk membicarakan proyekmu denganku," Sanzo mengambil satu tarikan nafas untuk merespon, namun Hakkai keburu menimpali.
"Kejadian tadi siang. Kau sudah melihatnya sendiri, Sanzo. Organisasi mulai menangkap adanya kecurigaan," Hakkai menjeda sesaat, menatap Gojyo dan Sanzo bergantian. Gojyo terlihat shock dengan tindakan seorang alim seperti Hakkai, sehingga ia tak mampu berkomentar apa-apa. Sanzo sendiri terlihat mulai bisa menghadapi situasi dengan tenang. Ia juga diam untuk menelaah ucapan rekannya itu.
"Mengenai kedatangan Ukoku ke sini. Kita tak punya pilihan selain menyelesaikan proyek tepat waktu. Tetapi, tentu kau belum menyelesaikannya," Raut wajah Hakkai berubah masam. Ia menatap Sanzo tajam "Bahkan kau belum membuatnya sama sekali,"
Sanzo hanya diam. Ia tak bisa berkelit lagi. Hakkai pasti sudah berada dalam ambang batas toleransinya, sehingga ia nekat melakukan tindakan ini, menyandera pasien Sanzo yang bisa memaksa dokter itu untuk mau mendengarkannya.
"Lalu bagaimana sekarang keputusanmu?" Hakkai tak lepas menatap mata Sanzo. "Kau menyelesaikannya lalu kita selamat. Tidak menyelesaikannya, kita dalam bahaya,"
Suasana hening. Sanzo tak mampu membuat keputusan. Selama ini ia memang sengaja mengulur waktu, karena Sanzo mulai merasa enggan. Ia tahu kalau hal tersebut akan menimbulkan masalah, bukan saja pada dirinya, melainkan pada dua teman akrabnya itu. Organisasi belum menanyakan virus baru, sehingga ia masih bisa berkelit. Kali ini, Sanzo harus membuat keputusan dengan pertaruhan nyawa dua rekannya. Ia memang egois, namun ia tak ingin mereka terlibat karena kelalaiannya.
Tapi, ia tetap tak bisa membuat virus itu.
Sanzo menatap nanar sang pasien yang pasrah di tangan Hakkai. Goku berpaling saat mata sang dokter memperhatikannya cukup lama. Ia memang ketakutan, namun ia tak ingin menunjukkannya di depan dokter itu.
"Sanzo," Hakkai menegur saat Sanzo tak kunjung membuka suara. Pria itu tersentak dari lamunannya. Kini matanya beralih menatap sepasang manik zamrud milik Hakkai.
"Kau akan membunuhnya?" Sanzo bertanya serius. Hakkai kini yang diam saat menerima pertanyaan balik.
"Tidak masalah. Aku tak akan marah dengan keputusanmu. Aku hanya ingin tahu, apakah kau akan membunuhnya?"
"Ya," Hakkai menjawab tegas.
"Hakkai...kau tidak bisa..."
"Demi kita, Gojyo," Hakkai memotong ucapan rekan lainnya yang kini mampu bersuara. Ia menatap lekat-lekat matanya.
"Kalau Sanzo tak bersikap tegas, aku bisa membunuhnya," Hakkai tersenyum singkat "Lebih baik organisasi menemukannya dalam keadaan meninggal, kita bisa menjelaskan penyebabnya. Mereka mungkin lebih memaafkan daripada Sanzo menolak membuat virusnya,"
Pernyataan Hakkai membuat Gojyo bimbang. Dengan wajah tegang ia menatap Sanzo dan Hakkai bergantian.
"Sanzo..."
Sanzo menghela nafas. Ia menutup mata sesaat. Dari gelagat itu, dua rekannya sudah bisa menebak keputusan apa yang Sanzo pilih.
"Aku...tak akan membuatnya," Sanzo berucap perlahan-lahan. Ia menghela nafas. Kini sorot matanya lebih tegas.
"Aku tak akan membunuhnya,"
Mendengar keputusan itu, Gojyo hanya tercenung, sedangkan Hakkai tersenyum tipis. Tangannya menelusur leher Goku. Ia mencengkramnya pelan. Goku sedikit menarik nafas.
"Kalau begitu..."
"Aku juga tak akan membiarkanmu membunuhnya," Sanzo maju cepat. Tangannya terulur menarik Goku, namun Hakkai malah menodongkan pistol padanya.
"Jangan mendekat!" Nada bicara Hakkai menghentak. Wajah tenangnya berubah serius. Sorot mata tajam penuh emosi kembali ia tunjukan.
"Kau membuat keputusan yang salah, Sanzo,"
"Tidak," Sanzo membantah.
"Kau egois sekali. Demi pasien ini kau malah mengorbankan rekan seperjuanganmu!"
"Aku tak akan melibatkan kalian!" Sahut Sanzo "Biar urusan ini menjadi tanggunganku sendiri,"
Hakkai tertawa getir mendengarnya. Bagi Hakkai, Sanzo tetap sosok egois. Ia mengambil keputusan berbahaya, namun tanpa mau melibatkan rekannya. Organisasi tentu tak menggubris. Mereka bertiga tetap akan dieksekusi jika melanggar perintah.
"Kau memang yang paling egois," Hakkai menghela nafas "Organisasi tak akan berbaik hati melepaskan kami,"
Sanzo kembali terdiam. "Maaf. Tapi itu keputusanku..." Sanzo menatap mata Goku. Sejak tadi, pemuda itu memperhatikan Sanzo. Mungkin, Goku masih tak percaya dengan apa yang ia dengar. Sanzo berniat melepaskannya?
"Aku...ingin melindunginya," pipi Goku bersemu. Ia memalingkan muka.
"Pilihan ada di tanganku. Menjadi baik atau jahat. Dokter pernah mengatakannya. Ia tak ingin aku menjadi sepertinya. Tapi, aku tetap mengikuti jejaknya. Aku tak bisa mengingkarinya, karena dokter tetap menyayangiku. Ia melindungiku. Namun, aku tak ingin gagal melindungi sesuatu yang berharga,"
Hakkai menelaah ucapan Sanzo. Sepertinya pria itu tengah membeberkan sedikit masa lalunya. Hakkai memang tak mengetahui latar belakang rekannya. Namun, ia menduga kalau dokter yang Sanzo sebutkan adalah sosok yang amat ia sayangi.
"Maafkan aku karena terlalu egois,"
"Hakkai," Panggilan pelan Gojyo membuat sosok yang bersitegang itu berpaling padanya. Gojyo masih berada di tempatnya, agak jauh dari tiga orang lainnya. Kebimbangan dalam pikirannya sudah menghilang. Gojyo pun ikut mengambil keputusan.
"Aku...mengikuti Sanzo..."
Hakkai bergeming. Hanya bola matanya yang terbelalak lebar. Bahkan teman karib seperti Gojyo bisa mengambil keputusan berlawanan dengannya. Apa Gojyo tak berpikir jernih? Ia juga akan dieksekusi kalau Sanzo tetap pada pilihan egoisnya.
"Kenapa? Karena pasien ini?" Hakkai meringis. Ia menggeleng pelan.
"Bukan hanya karena pasien itu," Bantah Gojyo "Aku mulai meragukan cara kerja organisasi. Terlebih saat Ukoku ikut campur,"
"Lepaskan pemuda itu, Hakkai," Nada bicara Sanzo lebih terdengar sebagai permohonan dibandingkan perintah. Hakkai berpaling pada sang pemilik suara. Sepasang manik ungu menatapnya lembut.
"Kumohon," Sanzo berbisik. Pertama kalinya sang dokter kejam itu menunjukkan sisi kelembutannya.
"Hakkai, kami tak akan lari. Kami akan menerima semua konsekuensinya. Kalau kau ingin membunuh kami, lakukan saja. Tapi, jangan pasien itu," Kini Gojyo yang bicara. Hakkai tertegun. Ia menunduk dalam. Keheningan pun menyeruak, sampai akhirnya terpecahkan oleh suara tawa pelan.
Hakkai menutup wajahnya, menyembunyikan derai tawa getir itu. Sanzo dan Gojyo hanya bergeming, membiarkan pria itu menumpahkan segala emosi dalam tawanya.
"Baik, sekarang, kalian berdua yang egois," Ucap Hakkai. Ia kembali menodongkan pistol ke arah Sanzo. Yang bersangkutan diam di tempat.
"Pertama kau, Sanzo. Maafkan aku,"
"Kenapa kau tega membunuh temanmu sendiri?" Suara lirih menghentikan niatnya sesaat. Hakkai berpaling pada sandera yang berdiri di sampingnya.
"Itu sudah resikonya," Jawab Hakkai dingin.
"Dengan membunuh mereka, justru kau akan bertambah sedih," Komentar Goku mengena di hati Hakkai. Bola mata pria itu membulat. Goku sepertinya tengah mencoba menggugah perasaannya, mencairkan hati Hakkai yang sudah lama membeku.
"Kau tak akan bisa berhenti membenci dirimu,"
Ucapan Goku membuat Hakkai muak. Ia langsung mengempaskan tubuhnya. Goku tersungkur. Hakkai tanpa ampun mengarahkan sasaran pada pemuda itu. Belum sedetik, bunyi letusan pistol terdengar.
Goku hanya bisa memejamkan matanya. Setelah bunyi letupan, keheningan pun menyeruak. Ia tak merasakan apa-apa. Jadi, apakah peluru itu tidak mengenainya?
"Sanzo!"
Teriakan itu membuat Goku membuka mata. Ia terkesiap menemukan dokter tersungkur di dekatnya. Darah merembes dari lengannya, membentuk kubangan di lantai. Ternyata dokter itu menjadikan dirinya tameng untuk melindungi Goku. Alhasil, peluru itu melukai lengannya.
"Sanzo!" Gojyo menghampiri pria itu. Goku mengedar pandangan pada sang pelaku penembakan. Hakkai hanya tercenung dengan wajah pucat. Pria itu terlihat sangat shock saat tembakannya malah mengenai rekannya sendiri.
Pistol yang digenggamnya jatuh. Hakkai mundur selangkah. Setelah itu, ia hanya mematung sambil memperhatikan kondisi yang terjadi di hadapannya.
"Sanzo, lukamu harus segera diobati," Gojyo membantu pria itu berdiri.
"Hei! Bantu aku!" Gojyo memerintah pemuda yang sejak tadi hanya terpaku.
"Bawa dokter ke kursi. Aku akan mengambil beberapa peralatan dan obat," Gojyo membiarkan Goku memapah Sanzo. Ia pun bergegas ke dalam ruangan untuk mengambil benda-benda itu.
Gojyo berpapasan dengan Hakkai. Sosok berkacamata itu hanya menunduk dalam. Ia sebenarnya sangat marah dengan tindakan pria itu, namun Gojyo tak punya waktu menghajarnya. Lagipula, Hakkai sepertinya tak menyangka kalau peluru yang ia tembakan malah mengenai rekannya sendiri.
Sanzo mengerang menahan sakit. Darah segar tak henti mengalir. Goku merasa kalut melihat dokter itu. Ia menatap sedih. Bibirnya bergetar.
"Bertahanlah, dokter,"
Terima kasih bagi para pembaca yang sudah setia mengikuti ff sampai chapter ini ^_^
*Untuk karakter mungkin terasa agak OOC ya (bahkan OOC banget T-T) Tapi author sesuaikan sama plot cerita. Maaf ya kalau mungkin gak sesuai sama chara di series.
*Bisa dibilang, ini cerita lumayan rumit (Walau author bikinnya agak nyeleneh X'D), bahkan buatku sendiri, jadi mohon maaf kalau update-nya agak lama T-T.
Sekali lagi, semoga kalian tetap menikmati ceritanya~
