Just Info!

(Fanfiction) = Igneel yang bicara

{Fanfiction} = Ethrious/END yang bicara

.

.

Chapter Sebelumnya :

Karyu no Houkou!

Doommm!

Adu kekuatan terjadi di atas sana, dampak dari adu kekuatan itu sampai ke kapal Fairy Tail. Kapal mereka berguncang hebat, bahkan lautan juga terdampak. Kedua kekuatan itu terlihat imbang tertahan di tengah tanpa ada yang mau mengalah. Tubuh Hydra yang tadinya jatuh bebas gara-gara sayapnya berlubang, sekarang tertahan di atas langit karena dua kekuatan yang saling mendorong.

Namun apabila diliat dengan seksama, bocah pinkie itu perlahan maju meskipun gerakannya cuma sedikit. Natsu semakin dekat dengan makhluk itu, ia ingin segera mengakhiri ini.

Etherious Mode : END Power 10%!

Kekuatan Natsu melonjak cepat, daya hancur serangannya juga meningkat. Laser Hydra seketika terdorong cepat tapi masih sanggup bertahan. Laser Hydra terlihat semakin mengecil, sepertinya sihirnya mulai kosong. Tak lama itu serangan Hydra benar-benar menghilang dan api Natsu menghanguskan monster itu sampai menjadi abu.

.

.

Chapter 18 : Dirinya Yang Baru, Bersiaplah Dunia!

Happy Reading…

Semua orang yang berada di kapal terbelalak tak percaya, mereka kaget dengan kekuatan anak itu yang bisa mengalahkan Hydra dengan mudahnya. Ya mereka dengan mudah mengatakan hal itu karena mereka tidak tau seberapa besar sihir yang ia gunakan untuk menghadapi makhluk mitologi itu.

"Ini bohong bukan?!"

"Bagaimana bisa dia mengalahkan monster itu seorang diri?"

"Sebenarnya sejauh mana kekuatan kouhai itu?"

"Huft..huftt.." napasnya terasa berat.

"Natsuu, daijobu?" Kucing biru sahabatnya itu nampak khawatir atas kondisi partner-nya yang mulai kelelahan akibat menggunakan sihir yang-lagi-lagi berlebihan.

"Ahh daijobu Happy, lebih baik kita segera kembali ke kapal. Aku ingin istirahat sebentar," katanya lesu. Happy tau betul batas kemampuan Natsu, menggunakan banyak mode tadi pasti membuatnya letih meskipun tidak seletih yang sebelumnya. Tapi tetap saja ada efek samping bila menggunakan mode sebanyak itu dalam sekali pertarungan.

Sesaat sampai di kapal sekali lagi ia disambut teman-temannya, mereka bangga, senang, dan tak menyangka ia bisa mengalahkan makhluk itu.

"Yo aku kembali teman-teman," Ucapnya lemas.

"Woohh kau tadi sangat hebat sekali di atas sana."

"Bagaimana bisa kau menjadi sekuat itu?"

"Kau tadi keren sekalii." Pujian menghujani Natsu, tapi ia hanya menganggapnya angin lalu. Dia ingin segera istirahat, meskipun itu cuma duduk. Tapi ia tidak bisa karena semua orang mengerumuninya sehingga ruang kosong untuk duduk tidak ada.

"Anoo.. teman-teman, sepertinya kouhai kita pink ini sedang kelelahan dan ingin beristirahat. Bagaimana kalau kita berikan ia sedikit waktu untuk sendiri?" Kata Gray memecah kerumunan itu. Natsu terbantu oleh ucapan teman berambut raven ini.

"Benar kata Gray, berikan dia waktu untuk beristirahat dan sepertinya bukan hanya dia yang butuh istirahat. Tapi kita juga harus beristirahat, karena pertarungan tadi cukup menguras stamina dan kita masih belum tau apakah semua monster laut sudah habis apa belum," jelas Laxus menambahkan kekuatan di argumen Gray. Mereka semua mengangguk setuju.

"Terima kasih," ucapnya sembari mendudukkan dirinya.

"Itu tidak seberapa, seharusnya kami yang berterima kasih," balas Laxus. Gray tiba-tiba mengingat kejadian sebelum Natsu bertarung melawan Hydra, ia ingin segera mengonfirmasinya.

"Hei Natsu, apakah kau teman SM-mmmpphhhh," SMP kami-itulah kata yang hendak keluar dari mulut Gray, tapi tiba-tiba mulutnya dibungkam oleh Erza yang entah sejak kapan ia sudah di belakang Gray.

"Haa apa?"

"Tidak ada apa-apa, Natsu. Yang penting segeralah istirahat, kau pasti lelah kan? Atau kupanggilkan Lucy saja," tawarnya.

"Tidak pe-,"

"Lucyy! Antar Natsu ke kamar penumpang, biarkan dia tidur disana." Lucy yang mendengar namanya dipanggil, segera beranjak dari posisinya yang sedang duduk.

"Ada apa Erza?"

"Tolong antar Natsu ke kamar penumpang, sepertinya dia kelelahan setelah mengalahkan monster itu." Tampak raut penolakan tergambar di wajah Lucy.

"Kenapa harus aku?"

"Tidak ada apa-apa, sepertinya tadi kau sedang melamun dan sendirian. Lebih baik kau antar kouhai nekat ini ke kamar." Lucy tidak memiliki alasan lain untuk menolak permintaan Erza, jadi secara terpaksa ia mengiyakan permintaan itu. Lucy pun mengantar Natsu ke kamar yang dimaksud.


Kamar penumpang tidak terlalu besar, ini lebih kecil dari kamarnya yang ada di gedung Fairy Tail. Kamar ini dilengkapi dengan dua buah kasur, sebuah lemari, namun tak ada kamar mandi dalam. Akhirnya Natsu bisa merebahkan punggungnya yang sudah kaku.

"Kau seperti kakek-kakek saja Natsu," kata Lucy dengan sedikit senyuman di wajahnya.

"Apa yang kau maksud?"

"Suaramu saat kau berbaring tadi seperti suara kakek-kakek saja, apa semelelahkan itu mengalahkan monster peringkat S sendirian." Cibir Lucy. Sepertinya Lucy kesal gara-gara Natsu tadi nekat mengalahkan monster itu sendirian.

"Etoo.. apa kau kesal Lucy?" Ooh ayolah Natsu, kau sudah tau dia kesal kenapa harus bertanya memastikan. Tapi itulah lelaki, terkadang tak peka terhadap sekitarnya.

"Tidak sama sekalii!" Perkataan dan nadanya sangat berkebalikan. Natsu hanya bisa mengusap kasar wajahnya yang nampak lelah.

"Kau kelihatan kelelahan Natsu, sebaiknya aku pergi agar kau bisa beristirahat." Lucy melangkahkan kakinya beranjak dari ruang itu. Namun Natsu segere mendudukkan dirinya, ia memegang tangan gadis itu. Menahannya agar tak pergi.

"Apa lagi yang kau inginkan kouhai-kun?" Natsu hanya diam tak menjawab, Lucy mencoba kembali melangkah. Tapi tiba-tiba saja Natsu menarik tangannya itu, memeluk dan merengkuh gadis itu.

Gadis beraroma vanilla itu terperanjat-masih mengolah kejadian yang baru saja terjadi tapi pipinya sudah memerah padam. Ia diam tak tau harus bertindak apa saat ini, tubuhnya menghangat ketika Natsu memeluknya dari belakang seperti sekarang ini. Jantungnya berdebar cepat, napasnya tercekat ketika Natsu menyandarkan dagunya pada bahu Lucy. Lalu dipeluknya erat perut lansing milik Lucy itu. Gadis itu pun sedikit tersentak atas perlakuan tiba-tiba Natsu.

"A-a-a-apa yang k-k-kau lakukan N-Natsu-kunn?" bukannya menjawab, Natsu malah makin mempererat pelukannya setelah mendengar suara Lucy. Menenggelamkan wajahnya ke perpotongan lehernya, menyesap aroma yang menguar dari tubuh gadis itu.

"Diamlah Lucee.. biarkan seperti ini sebentar," bisiknya lembut, membuat darah Lucy berdesir. Suara Natsu terdengar begitu lembut di pendengarannya bahkan suaranya sangat memabukkannya. Ditambah lagi dengan panggilan 'Luce' membuat Lucy semakin terbuai dalam suasana yang nyaman ini. Tangannya refleks menggenggam tangan Natsu yang melingkar di perutnya, kepalanya ia sandarkan ke kepala pemuda itu. Mereka berdua sangat larut dalam suasana dan posisi ini. Rasanya begitu nyaman dan ingin terus seperti ini.

"Lucee.. aku menyukaimu, aku sangat merindukanmu." Lagi-Perkataan Natsu membuat darahnya berdesir hebat, jantungnya berdebar tak karuan, wajahnya kembali memerah, dan di perutnya seakan diisi banyak kupu-kupu berterbangan.

"Yaahh, aku juga menyukaimu Natsu," balasnya sembari mengeratkan genggaman tangannya pada tangan pemuda yang saat ini masih setia memeluknya. Entah kenapa gadis itu selalu larut dalam kehangatan dan kenyamanan yang selalu diberikan oleh pemuda itu, apa ini akibat ia tak terlalu peduli dengan urusan percintaan semacam ini setelah Natsu meninggalkannya dulu?

Tapi ia memang selalu suka saat Natsu memanjakannya seperti ini. Ia tak tau kenapa harus Natsu, tapi hanya dengan Natsu sajalah ia dapat merasakan hal ini-merasakan kenyamanan dan kehangatan yang sudah menghilang dari dirinya selama bertahun-tahun. Perlakuan Natsu sekarang sudah bagaikan candu bagi gadis itu, pandangannya terhadap Natsu pasti akan berubah dan tanpa sadar ia akan meminta hal yang memanjakannya dengan isyarat yang tersirat. Itu terdengar kekanak-kanakan bukan? tapi hei seperti itulah semua perempuan, mereka ingin dimanjakan dan diberikan kehangatan oleh seseorang yang ia sukai.

Lama mereka di posisi itu hening tanpa suara, Lucy ingin beranjak mencari udara segar. "Natsu, bisa tolong lepaskan aku?" kata Lucy, tapi tak ada sahutan dari lelaki yang barusan mengutarakan perasaannya itu.

"Natsuu, lepaskan aku," katanya sekali lagi, tapi masih tidak ada jawaban dari Natsu. Namun ia mendengar suara semacam dengkuran dari belakangnya. Jangan bilang anak ini tertidur sejak memelukku?

"Oh ayolah yang benar saja. Sejak kapan anak ini tertidur? Jangan bilang sejak ia memelukku tadi. Jika benar berarti dia mengigau," gumamnya mengeluh. Lucy merasa kesal dan malu, ia kesal karena ia kira Natsu benar-benar serius dengan kata-katanya dan gadis itu malu karena begitu mudahnya ia larut bahkan membalas ucapan yang tidak dari hati itu.

'Aku anggap saja tidak pernah terjadi,' batinnya kemudian menghempaskan tangan Natsu yang masih memeluk perutnya. Ia berjalan keluar mencari ketenangan dan udara segar agar tak terus-terusan kepikiran hal yang baru saja terjadi, tak lupa pintu ruangan dibanting keras pertanda Lucy benar-benar sangat kesal padanya sekarang.

{Aku tau kau tidak tertidur Natsu, kenapa kau harus berpura-pura?}

Benar, Natsu sama sekali tak tertidur. Ia bahkan masih sadar dan mendengar jelas gumaman gadis bermarga Heartfilia itu, atau lebih tepatnya keluhan yang secara spontan keluar dari mulutnya. "Aku tidak tau bagaimana harus menghadapinya setelah aku mengatakan hal itu, jadi-,"

{Jadi kau berusaha menghindari skenario dimana kalian sama-sama mengetahui perasaan kalian masing-masing, begitu?}

"Kurang lebih seperti itu, aku belum siap Etherious. Jika aku tidak pura-pura tidur dan kami saling mengetahui perasaan masing-masing, mau tidak mau aku harus menceritakan semuanya. Menceritakan semua bebanku dan aku tau Lucy pasti akan ikut campur dalam hal itu."

{Oleh karena itu kau memilih seakan tidak terjadi apa-apa, daripada dia nanti terseret dalam masalah yang berbahaya.}

"Ya kau benar," jawabnya pasrah.

{Kau benar-benar memikirkan nyawa gadis itu ya, tapi Natsu kau tidak pernah memikirkan perasaannya. Bisa kau bayangkan bagaimana kacaunya ia sekarang? Bisa kau pahami bagaimana ia juga harus berpura-pura seakan kejadian tadi tak berarti? Bisa kau mengerti bagaimana seseorang harus mengikuti permainan tanpa tau aturan dan alasan permainan itu ada?}

Natsu diam membisu, ia ditampar dengan semua pertanyaan Etherious. Pertanyaan Etherious sebenarnya sangat mudah ia jawab, karena Natsu pernah di semua posisi itu. Tapi kenapa mulutnya hanya membisu, seakan ada sebuah gembok yang mengunci mulutnya saat ini.

{Aku kira kau tau betul rasa itu, tapi ternyata apa? Kau tak lebih dari seseorang yang mementingkan dirinya sendiri demi tetap menjaga pandangannya terhadap dirimu!}

Kata-kata raja iblis Etherious barusan sangat menusuk hatinya, suaranya menggambarkan kekecewaan terhadap dirinya. "Lalu.. lalu apa yang harus aku lakukan Etherious?"

{Harusnya kau tak perlu tanya kepadaku, cukup ikuti kata hatimu, gunakan insting nagamu, dan lepaskan hasrat jiwa iblismu itu.}

Natsu termenung setelah mendengar ucapan itu, ia berpikir apa yang sebenarnya ia ingin lakukan. Sejujurnya ia hanya ingin lepas dari pengawasan kakaknya, bertanggung jawab atas dirinya sendiri, lalu memulai apa yang ingin dimulai, dan mengakhiri apa yang sudah ia mulai.

Etherious tau sejak dulu Natsu selalu terikat dengan kakaknya dan bergantung kepada semua orang yang berada di Alvarez, meskipun tindakannya sekarang terlihat bebas. Tapi sebenarnya ia tetap diikat oleh benang yang tak terlihat. Hatinya dibelenggu, jiwanya diikat, keputusannya ditolak, kebebasannya sebagai manusia yang merdeka nan bebas direnggut dengan beban yang ia pikul.

Keputusan Natsu selalu dihadapkan dengan beban yang ia pikul, beban itu sangat besar bahkan lebih besar dari beban kakaknya yang mengatur sebuah negara dan Natsu-sekedar remaja yang memiliki iblis serta naga di dalam dirinya. Menanggung semua beban itu sendirian tanpa ada teman dan kawan yang menyemangati jalannya.

Keluarganya, kerabatnya sibuk membuat jalan untuk Natsu agar ia nantinya dapat dengan mudah saat menghadapi beban itu, Namun tolong ingatlah ia hanyalah seorang anak muda yang butuh penyemangat dari orang-orang terdekatnya, ia butuh dukungan batin tak hanya dukungan fisik. Oleh karena itu terkadang rasa hampa menghampiri sang pemuda pinkish itu tanpa tau obat untuk menyembuhkannnya.

Dan sekali lagi Natsu dihadapkan dengan sebuah tembok beban yang diembel-embeli kata "itulah takdirmu!" dan juga sekarang Etherious telah memberinya sebuah palu untuk menghancurkan tembok yang bernama beban dan takdir itu, Natsu harus menghancurkan tembok itu untuk mengambil langkah yang lebih besar, yang lebih berat namun lebih bebas dan lebih melegakan daripada yang sekarang.

"Terima kasih Etherious, sepertinya aku sudah tau apa yang harus kulakukan sekarang."

{Baguslah kalau begitu, bebaskanlah dirimu sendiri Natsu. Lakukan setiap hal yang ingin kau lakukan. Ini hidupmu! jangan engkau jadikan beban dan jangan sampai perkataan orang lain mempengaruhi kebebasanmu.}

Natsu tersenyum, hatinya melapang mendengar penuturan dewasa dari Etherious, tak ia sangka kalau Etherious bisa menjadi sangat diandalkan. "Tidak kusangka kau begitu paham tentang manusia," katanya sambil terkekeh diakhir kalimat.

{Kau pikir berapa lama aku hidup di dalam tubuh manusia, Ha!?}

"Hai' hai'." Semua beban Natsu sekarang terasa terangkat meskipun bebannya masih sama tanpa ada perubahan sama sekali, tapi ia merasa lebih baik dari yang dulu. Dan sekarang ia tau apa yang harus ia lakukan sekarang. Bersiaplah dunia! Natsu Dragneel yang baru telah hadir dengan segudang kejutan yang akan membongkar semua rahasia dunia ini.


Pulau Tenrou, pulau yang berada di tengah lautan. Entah bagaimana pulau itu bisa berada di tengah lautan. Katanya pulau itu merupakan sebuah kota yang ramai, namun sekarang kota itu telah mati bahkan pulaunya juga ikut mati. Pulau itu membiarkan hewan buas berkeliaran sesuka hati mereka dan hal itulah yang membuat ilmuwan pencipta monster itu melakukan percobaan gilanya disini.

Dan di sinilah Natsu memijakkan kakinya untuk kali pertama di pulau yang konon katanya keramat untuk Guild Fairy Tail. Mereka semua-anggota Fairy Tail sudah tiba di Tenrou-jima, perjalanan mereka tidak ada hambatan sama sekali setelah mengalahkan trio monster gila itu. Sesampainya disana mereka semua membangun tenda sihir, tenda sihir layaknya tenda biasanya namun dengan bagian dalam atau isinya lebih luas, tapi interior luarnya masih seperti tenda pada umumnya(Note: tendanya mirip tenda yang ada di film harry potter)

Tenda-tenda itu didirikan pada tempat yang berbeda-beda. Tempat pertama didirikan tenda untuk bermalam dan istirahat, tempat kedua didirikan tenda untuk merawat orang yang terluka atau sakit, dan yang ketiga untuk dapur serta ruang makan anggota guild.

"Yosh, kita akan disini antara 6 sampai 7 minggu. Kita akan berlatih habis-habisan dan akan kupastikan kalian akan menjadi lebih kuat setelah latihan ini. Untuk detail latihannya akan disampaikan oleh Mira," kata Makarov undur diri digantikan gadis cantik berparas dewasa itu.

"Aku akan menjelaskan rincian latihan kita. Untuk latihan yang pertama adalah latihan bertahan hidup, kalian akan bertahan hidup selama 3 minggu di alam liar dan kalian harus mengalahkan 3 orang kemarin yang terpilih menjadi instruktur, yaitu aku-Mirajane, Gildarts, dan Laxus. Selama 3 minggu itu kalian harus mengalahkan 3 orang tersebut atau setidaknya buat 3 orang itu mengakui kekalahannya. Latihan yang pertama ini akan dilakukan secara tim dan satu tim terdiri dua orang, sekian. Apa ada yang ingin kalian tanyakan?"

Mereka semua diam saja pertanda bahwa mereka paham dengan apa yang disampaikan oleh Mira. "Jadi, kami harus bertahan hidup melawan apa di alam sana?" kata lelaki dari barisan belakang.

"Tentu saja monster-monster yang berada di pulau ini, Gray." Jawab cepat gadis itu.

"Bagaimana jika kita bertemu dengan tim lain? Apakah pertarungan antar tim diperbolehkan?"

"Itu tergantung kalian sendiri, jika kedua tim itu ingin bertarung silahkan kalian bertarung."

"Lalu, bagaimana jika ada dua tim atau lebih bergabung untuk mengalahkan instruktur?"

"Itu diperbolehkan saja, tapi semakin banyak tim yang bergabung untuk melawan instruktur maka semakin tak menahan diri juga para instruktur melawan kalian." Sepertinya semua kebingungan mereka sudah terjawab.

"Jika sudah tidak ada yang ditanyakan, kalian pergi 2 jam lagi dan aku akan menyebutkan dengan siapa kalian akan berpasangan." Setelah mengucapkan itu, pemberitahuan latihan pertama sudah selesai. Mereka semua me-relax kan tubuhnya kembali, ada yang tidur, ada yang memancing, berenang, makan, berlatih, dan ada juga diantara mereka yang saling tak bertegur sapa karena suatu kejadian.

"Hoi Pink-kouhai apa yang terjadi diantara kalian?" kata lelaki yang baru saja duduk disebelahnya sambil membawa nampan berisi full makanan.

"Tidak ada yang terjadi apa-apa, senpai. Dan tolong jangan panggil aku seperti itu, aku punya nama. Namaku Natsu Dragneel." Sanggahnya sembari menggoyangkan gelas berisi jus yang berada di genggaman tangannya.

Hei bagaimana mereka tidak ada terjadi apa-apa, jelas mereka terjadi apa-apa. Selama mereka berdua-Natsu dan Lucy berada di kapal. Mereka sama sekali tak bertegur sapa, bahkan menatap. Sepertinya terjadi suatu kejadian yang hanya mereka berdua yang tau dan parahnya masalah itu dibawa sampai mereka menginjakkan kaki di pulau Tenrou.

Diantara mereka berdua tidak ada yang mau mengalah, semua orang ingin membantu menyelesaikan masalah itu. Tapi yang jadi pertanyaan itu bagaimana dan akhirnya dari sekian orang yang ikut lotre untuk memberi solusi atas masalah mereka berdua adalah senpai berambut raven dengan sihir es creation -nya.

"Mustahil kalian tidak ada apa-apa, tapi ya terserah kalian. Itu bukan urusanku," katanya lagi dengan memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya.

"Siapa tau nanti kalian berdua malah satu tim, bukankah itu buruk jika kalian tetap seperti ini?" pertanyaan yang tak perlu dijawab.

"Ya ya aku tau Gray-senpai," jawabnya malas. Gray menyeringai penuh kemenangan.

"Baguslah kalau begitu," katanya dengan memasukan lagi sesuap spaghetti ke mulutnya.

'Akhirnya tugasku disini sudah selesai. Dengan begini kalian puas 'kan?' Gray menatap kawan-kawannya yang ikut dalam lotre tadi, mereka tersenyum dengan mengacungkan ibu jari mereka-Good Job! Maksud mereka.

Sedangkan Natsu masih mencari cara bagaimana ia akan berbaikan dengan Senpai-nya itu. Buntu-sama sekali belum mendapatkan yang ia cari, penglihatannya ia edarkan siapa tau akan mendapat inspirasi dari sekitarnya. Tapi baru saja ia melakukan itu nafasnya sedikit tercekat, badannya kaku, jantungnya berpacu cepat.

Ia menangkap sosok Lucy sedang makan di sana-tak jauh dari Natsu. Pemuda itu menatapnya terus, merasa ada seseorang yang menatapnya-Lucy segera mencari siapa orang itu. Ia pun merasa yang sama dengan Natsu, nafasnya tercekat, gerakan tangannya melintir spaghetti terhenti. Saling tatap tanpa ada yang berani menyuarakan isi hatinya, Natsu yang mengingat kejadian di kamar penumpang merasa bersalah sehingga membuatnya membuang pandangan dari Lucy. Menatap bebatuan disekitarnya yang terkesan lebih baik untuk kesehatan mentalnya daripada menatap Lucy yang membuatnya merasa gelisah.

Gray yang melihat kejadian itu menghela napas, 'Sepertinya ini tidak akan berakhir dengan cepat," katanya setelah melihat adegan saling tatap antara Natsu dan Lucy.

Sedangkan pikiran Lucy berkecamuk, apa salahku? Apa dia menyadari kalau aku sedang kesal terhadapnya? Kalau begitu aku kan yang harusnya membuang pandanganku, tapi kenapa malah orang itu yang membuang pandangannya. Apa dia membenciku?

Deg!

Satu kalimat terakhir begitu menyerang hati Lucy. Sakit yang hanya ia rasa, perasaan ini datang lagi setelah bertahun-tahun. Rasa ini seperti saat Natsu meninggalkannya dulu, lalu terdengar kabar bahwa dia meninggal di Alvarez. Sangat sakit mendengar kabar itu, bahkan nafsu makannya hilang. Mengetahui kabar itu seperti harapan Lucy untuk tetap bertahan di sekolah yang semua orang memusuhinya menjadi sirna. Membuatnya menjadi patah semangat dan tak ada gairah hidup.

Sekarang Lucy merasakan hal yang mirip seperti waktu itu, semua hal yang ia rasakan sejauh ini saat bersama Natsu membuatnya menemukan fakta bahwa ia memang jatuh hati terhadap Kouhai Pinkish yang baru saja ia kenal. Jika yang Lucy rasakan tidak membuatnya berpikir ia jatuh hati, lalu rasa apa ini?

Kali ini dia menyatakan terhadap dirinya langsung, kalau dia-Lucy Heartfilia memang ada rasa terhadap Natsu Dragneel. Adik kelas yang selalu menganggu hidupnya dengan hal-hal yang menyenangkan sehingga ia lupa akan suramnya hidup dirinya selama ini.

"Maaf Natsu, sepertinya aku jatuh cinta kepada Natsu Dragneel yang baru saja aku kenal itu. Aku jahat bukan? Aku tega melupakan cintaku pada lalu menemukan cinta yang baru." Tatapan Lucy jatuh ke pepohonan di sampingnya, angin menerpa ujung pepohonan itu dengan kencang. Ada pepatah yang mengatakan bahwa :

'Angin ada bukan untuk menumbangkan pohon melainkan hanya untuk menguji sudah seberapa kuat akar pohon itu.'

Semacam itulah pepatahnya, tapi kenapa Lucy tiba-tiba memikirkan sebuah pepatah apalagi pepatah itu hampir tak ada kaitannya dengan masalahnya saat ini. Entahlah, manusia memang seperti itu. Terkadang mereka rumit dipahami dan terkadang mereka juga sangat mudah untuk dipahami. Lebih baik kita lanjutkan cerita ini.


"Semuanya berkumpul!" suara yang menandakan bahwa waktu istirahat dua jam sudah selesai, saatnya kalian menjalani latihan ini. Semua orang bergerak menuju ke sumber suara. Berkumpul dan mencermati arahan yang akan diberikan oleh cucu dari Master.

"Baiklah, Mira tadi sudah menjelaskan bagaimana bentuk latihan kalian dan sekarang yang tersisa hanya pemberitahuan atas tim yang terdiri dari dua anggota saja. Akan aku sebutkan, tim pertama adalah Erza dan Gray! Tim kedua adalah Lisanna dan Elfman! Tim ketiga adalah Lucy dan Natsu!-," Laxus terus menyebutkan nama tiap tim. Sedangkan Natsu terkejut saat dirinya dipasangkan dengan Lucy.

Memorinya berputar, mengingat ucapan Gray tadi-'Bisa saja kalian dipasangkan, lebih baik kalian lekas berbaikan.' Kerja sama kita kali ini pasti berantakan. Aku harus meminta maaf, lagipula ini semua salahku.

Sementara Lucy juga sama terkejutnya dengan Natsu, namun dia terlihat lebih optimis. Akan kubuat tiga minggu ini untuk berbaikan dengannya.

Tanpa mereka berdua tau, niat dan tujuan mereka sama. Ingin lekas berbaikan agar bisa saling menggoda-ekhem bukan. Agar bisa saling berbicara dengan santai seperti dulu.


Semua nama pun sudah disebutkan, semua orang mulai berpasangan. "Jika kalian sudah menemukan rekan kalian, silahkan mengambil undian terlebih dahulu. Undian ini untuk menentukan arah peta dan siapa instruktur yang akan kalian lawan." Satu-persatu dari mereka mengambil undian itu, menyisakan Natsu dan Lucy yang masih bingung siapa diantara mereka berdua yang harus mengambil undian itu, mereka terlihat canggung.

"Etoo!" kata mereka serempak. Kedua remaja itu sedikit terkejut, canggung untuk meneruskan kalimatnya.

"Aku saja yang mengambilnya, Senpai." Inisiatif Natsu.

"Umm." Entah kenapa Lucy merasa sedikit aneh saat Natsu memanggilnya tadi. Tidak nama melainkan hanya sebuah panggilan dari adik kelas ke kakak kelasnya. Lucy merasa sedikit kecewa mendengar itu. Sementara Natsu tengah merutuki dirinya sendiri.

"Sial! Kenapa lidahku kelu saat mau menyebutkan namanya. Jika seperti ini terus, tidak akan ada kemajuan," gumamnya lirih sambil terus berjalan mengarah ke Laxus yang saat ini masih memegang satu undian.

"Jangan ragu-ragu Natsu," bisik Laxus ketika Natsu mengambil undian itu. Ia tak mengindahkan omongan Laxus, tapi ia mengerti perkataan pemuda dewasa itu memiliki banyak arti.

"De Kouhai-kun, jadi siapa yang akan kita lawan?"

"Sepertinya keberuntunganku jelek. Mira yang akan kita lawan," ucapnya dengan kekehan garing diakhir kalimat.

"Daijobu yo, kita pasti bisa mengalahkan Mira," katanya optimis. Mereka masih merasakan kecanggungan, namun perlahan hal itu akan terkikis.

"Ahh!" Natsu ikut bersemangat.


"Bisa kita beristirahat sebentar Kouhai-kun? aku capek." Lucy saat ini menyandarkan punggungnya ke sebuah pohon besar. Terlihat keringat mengucur dari pelipisnya. Natsu yang berjalan di depan Lucy, berhenti sebentar-mengamati keadaan sekitar, apakah sudah aman atau belum.

"Ahh, sepertinya disini aman. Sekalian kita akan bermalam disini, Senpai." Langit sekarang menampakkan warna jingganya pertanda sang surya akan digantikan dengan si rembulan.

Kondisi mereka berdua masih tetap saja memanggil satu sama lain secara formal, tanpa ada nama. Sejujurnya mereka risih dengan panggilan yang sekarang ini. Ingin mengakhiri ini segera dan ngobrol santai seperti biasanya.

Natsu tak tahan dengan suasana dan keadaan yang terus-terusan begini, ia harus mengambil langkah pertama. "Etoo.. L-Lucy-senpai!" Lucy terpengarah. Hatinya sedikit menghangat ketika kouhai pinknya itu memanggilnya dengan nama depannya, meskipun suffix senpai masih ada. Namun hal itu sudah cukup membuat dirinya lega.

"Bisakah kau menyerahkan kantung air minummu? Aku mau mengambil air minum." Lucy segera menyodorkan kantungnya, memberikannya kepada Natsu.

"Onegai ne Natsu-kun," katanya lembut dengan senyuman tipis di wajahnya, membuat jantung Sang Dragonslayer kita berpacu sedikit lebih cepat. Tak mau ketahuan rona merah di pipinya, Natsu langsung mengambil kantung itu lalu pergi meninggalkan Lucy yang saat ini sedang duduk di tanah menyandar pohon.

Sementara Natsu masih berusaha menghilangkan rona merah di wajahnya. "Apa-apaan senyumnya tadi itu?" ia masih terngiang senyuman itu, hal tersebut mengakibatkan insting tajam Natsu menurun sehingga ia tidak menyadari kalau ada hewan buas yang saat ini sedang mengincar Lucy dibalik rimbunnya pepohonan.


"Sepertinya semua kantung sudah penuh, sekarang waktunya kembali." Natsu membawa banyak kantung minum. Ia membawa 8 buah yang nantinya akan dibagi dengan Lucy. Natsu segera memasukkan kantung air itu ke tasnya, tapi belum selesai memasukkan kesemuanya. Terdengar jeritan Lucy.

Panik dan kaget, pemuda itu memasukkan semua kantung penuh air itu buru-buru tanpa perduli air itu tumpah atau tidak. Keselamatan Lucy lebih penting. Ia segera melesat ke tempat Lucy berada.

To Be Continued...

Heii Yo minna-san, terima kasih sudah mampir. bagaimana kabar kalian? semoga baik-baik saja ya. oh iya author ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa bagi kalian yang menjalankan. tetap semangat! ini masih awal loh~

Oh iya, banyak terima kasih buat review kalian. meskipun cuma 2 orang, itu cukup untuk membuat author tergerak agar menulis. yah dan jadinya ya seperti ini chapter 18. semoga kalian menyukainya, walaupun masih banyak typo dan kata-kata yang kurang dipahami. harap dimaklumi ya.

Btw nih, author bikin remake chapter 1 sampe chapter 3. barangkali dari kalian ada yang ingin membaca lagi, silahkan. kali ini diksi dan susunan ceritanya lebih rapi(itu menurut author sih :v). Oh iya banyak terima kasih buat kalian yang sudah membaca chapter ini. aku harap kalian yang membaca ini memberikan review kalian, agar aku tau kalo ada yang masih membaca karyaku.

terima kasih banyak sudah membaca chapter kali ini dan membaca bacotan author ini shishishi...

See You in Next Chapterrr...

[30 April 2020]