VENGEANCE

Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Oh Sehun, Park Hana, Kim Suho, Kim Minseok, Others.

Rated M

Mohon maaf untuk typo dan pemilihan kata yang berantakan, Padahal udah aku coba perbaiki.

Selamat membaca!

Malam itu pukul setengah dua belas. Baekhyun yang di ikuti Jongin baru saja kembali dari dapur setelah memakan semangkuk puding yang dibuatkan Kyungsoo. Dengan sebotol air putih di dekapannya, Tiba-tiba langkah Baekhyun terhenti. Membuat Jongin di belakangnya sontak menghampiri Baekhyun untuk memastikan keadaan lelaki itu. Namun gelengan pelan Baekhyun di wajah syoknya yang Jongin dapatkan ketika lelaki tan itu bertanya.

Baekhyun menutup pintu kamarnya dan kembali berdiri mematung disana. Sebelah tangannya merambat pada bagian perutnya yang membuncit dengan iris yang bergetar.

"Dia bergerak. Aku bisa merasakannya." Bisik Baekhyun pada udara kosong di sekitarnya.

Namun sedetik kemudian kepalanya menggeleng ribut. Matanya berotasi malas sebelum melanjutkan langkahnya ke arah tempat tidur.

"Tentu saja bergerak. Dia kan benda hidup." Ketusnya.

Baekhyun semakin menyesali semuanya. Tidak seharusnya ia berkata seperti itu. Bagaimanapun suaranya adalah yang paling dekat untuk pendengaran si bayi. Bayinya pasti membencinya karena merasakan kebenciannya.

"Hmmptt.."

Baekhyun tidak lagi menjerit. Mulutnya yang terikat kain hanya mampu mengerang lirih dengan remasan yang semakin terasa menyakitkan di perutnya. Kepalanya menggeleng lemah beberapa kali, terkadang menengadah dengan nafas yang yang tersendat-sendat.

Dalam pandangannya yang samar, ia masih mampu melihat Sehun yang menatap datar ke arahnya. Baekhyun mengiba, pandangannya menatap penuh permohonan kepada lelaki albino itu. Berharap lelaki itu menghentikan perbuatannya meskipun Baekhyun tidak yakin apakah bayinya masih bertahan atau tidak.

"Tuan, Pasien pendarahan hebat. Kandungannya yang sudah membesar membuat saya sulit untuk menghancurkan janinnya. Jika hal ini terus saya paksakan, nyawanya bisa terancam." Ujar wanita renta yang sedari tadi tidak berhenti meremas perutnya.

Sehun menggeram kesal. "Aku membayarmu mahal tidak untuk mendengar ini, sialan! Lakukan apapun untuk melenyapkan janin itu! Tapi tidak dengan membunuh Baekhyun."

"Satu-satunya cara, pasien harus meminum kapsul penggugur kandungan yang sudah saya siapkan. Tetapi, bukan hanya janinnya yang hancur, rahim yang dimilikinya pun akan turut hancur, tuan."

Sehun terdiam. Memandang wajah Baekhyun yang sudah pasi sepenuhnya. Lelaki mungil itu telah berada di ambang kesadarannya. Sebenarnya Sehun tidak tega melihatnya, namun mengingat Chanyeol begitu menginginkan bayi itu, Sehun pun tidak ada cara lain untuk melenyapkannya.

"Lakukan." Ucapnya dingin.

Wanita itu lalu beranjak menuju kesebuah penyimpanan berbagai macam obat, dan kembali dengan satu kapsul berwarna hijau tua di tangannya.

Sehun menerima kapsul tersebut, dan mendekati Baekhyun. Di lepasnya dengan kasar tali yang mengikat mulut Baekhyun. Membuat Baekhyun memekik merasa perih.

"Buka mulutmu,"

Baekhyun menggelengkan kepalanya dan berusaha menatap wajah Sehun di depannya.

"Hen-hentikan, Sehun. Kumohon." Bisiknya nyaris tak bersuara.

Sehun yang geram lalu mengapit kedua pipi Baekhyun dengan sebelah tangannya. Memasukan dengan paksa kapsul tersebut kedalam mulut Baekhyun. Baekhyun mengerang dan mencoba memuntahkan kapsul tersebut menggunakan lidahnya. Namun Sehun justru kembali mendorongnya dengan membungkam bibir Baekhyun dan memasukan lidahnya kedalam rongga mulut Baekhyun.

Baekhyun terbatuk hebat setelah kapsul tersebut berhasil memasuki tenggorokannya. Dadanya menyempit sesak. Ketakutan terbesar merasuk kedalam dirinya begitu menyadari bahwa mungkin sebentar lagi semuanya akan benar-benar berakhir.

Sehun menjauhkan tubuhnya. Menatap lamat-lamat wajah Baekhyun yang tersengal. Sedetik kemudian iris sipit Baekhyun terbelalak. Mulutnya terbuka lebar dengan deru nafas yang memburu dari sana. Tubuhnya mengejang hebat dengan urat-urat tubuhnya yang tercetak sempurna di kulitnya.

Sehun panik melihatnya. Ia mendekati Baekhyun dengan ragu dan menyentuh bahu Baekhyun yang terasa kaku. Sementara wanita tua itu beringsut mundur dengan efek yang di lihatnya. Sehun mengalihkan tatapannya pada bagian tubuh bawah Baekhyun. Darah segar menyembur deras dari sela pahanya dan seketika membanjiri celana katun biru yang di pakainya.

"B-Baek," Sehun mengguncang pelan bahu Baekhyun. Namun lelaki mungil itu tidak merespon. Mata sipitnya bahkan kini memutih sepenuhnya.

"BAEKHYUN!" Sehun semakin kalut kala darah segar turut keluar dari bibir terbuka Baekhyun. Ia lalu segera mencoba melepas tali yang mengikat tangan dan kaki Baekhyun.

"Shit!" Umpatnya ketika menyadari tali tersebut terikat dengan sangat kuat.

Sehun membalikan tubuhnya hendak mencari apapun untuk memotong ikatan tersebut. Tepat setelah ia membawa kakinya pada langkah pertama. Tubuhnya menegang dengan mata terbelalak lebar. Sehun menyentuh sesuatu yang mengalir di dahinya. Setelah melihat cairan merah di tangannya, ia jatuh ambruk dengan mata yang masih terbuka.

Wanita yang semula menjerit kaget itu pun harus merasakan hal yang sama dengan apa yang di alami Sehun.

Chanyeol membuang Shotgun di tangannya begitu saja, dan langsung menghampiri Baekhyun yang sudah terpejam sepenuhnya, meskipun tubuhnya masih mengejang sesekali. Keadaan semakin buruk ketika darah di bawah sana tidak berhenti mengalir. Dengan kekalutan tiada tara, Chanyeol memotong tali-tali yang mengikat Baekhyun menggunakan belati yang selalu tersimpan di saku celananya.

"Kumohon bertahanlah." Ucap Chanyeol sembari mengangkat tubuh Baekhyun ke gendongannya dan segera membawanya menuju mobilnya yang terparkir di bangunan tua tersebut.

Jongin dan beberapa pasukannya baru sampai di lokasi ketika melihat Chanyeol keluar dari pintu utama bangunan tersebut. Jongin lantas membukakan pintu belakang mobil Chanyeol guna memudahkan Chanyeol untuk memasukinya. Setelah Chanyeol berhasil masuk dengan Baekhyun yang terbaring di pangkuannya, Jongin segera mengambil alih kemudi dan menuju rumah sakit terdekat dengan kecepatan penuh. Meninggalkan seluruh pasukannya melakukan tugasnya.

...

Cklek,

Chanyeol yang mendengar pintu ruang operasi terbuka segera berdiri untuk menghampiri dokter yang baru saja keluar.

"Bagaimana keadaannya?" Tanyanya tak sabar.

"Beruntung Tuan Baekhyun segera di larikan kerumah sakit. Jika terlambat sedikit saja, nyawanya tidak dapat diselamatkan. Keadaannya kritis saat ini. Kapsul kontrasepsi yang di minumnya berdosis sangat tinggi, janin dalam kandungannya tidak dapat diselamatkan. Selain itu, kapsul tersebut juga merusak sel jaringan pada rahim Tuan Baekhyun, sehingga kami harus mengangkat rahimnya. Dengan kata lain, Tuan Baekhyun tidak dapat di buahi lagi."

Chanyeol mencelos mendengarnya. Dadanya teremat sakit ketika mendengar keadaan lelaki itu. Baekhyun sudah hancur lebur seperti yang di inginkannya. Seharusnya Chanyeol senang mendengar kabar ini, namun justru yang dirasakannya adalah pesakitan yang begitu meremas kuat jantung dan hatinya.

Hingga pintu ruang operasi kembali terbuka dengan empat suster yang mendorong brankar tempat Baekhyun terbaring. Seketika Chanyeol memegang bagian dadanya yang berdentum menyakitkan. Dan tanpa disadari, setetes air mata jatuh menuruni pipinya.

Jongin yang baru saja kembali setelah menerima panggilan telepon, di buat terkejut dengan keadaan Chanyeol yang menangis di tempatnya. Ini adalah kali pertama bagi Jongin melihat Chanyeol seperti ini. Dan penyebabnya adalah lelaki mungil yang berkali-kali di hancurkannya.

"Tuan, Kami sudah mengatasi semuanya. Sehun sudah di kuburkan di tempat terpencil yang tidak akan satupun mengetahui jejaknya. Kami juga sudah menyingkirkan CCTV yang terpasang di gedung tersebut tanpa meninggalkan jejak sedikitpun."

Chanyeol menghapus air matanya dan berlalu begitu saja tanpa menjawab perkataan lelaki tan itu.

"Seberapa kuat kau menyangkal, kau tidak akan pernah bisa membohongi perasaanmu sendiri bahwa kau masih sangat mencintai Baekhyun, Chanyeol." Bisik Jongin sembari menatap punggung tegap Chanyeol yang menjauh dari hadapannya.

...

Chanyeol menatap wajah damai Baekhyun dalam diam. Ia selami satu persatu pahatan sempurna di wajah ayu tersebut. Chanyeol mulai membandingkan keadaan sekarang dengan saat dulu ketika pertama kali ia bertemu dengan Baekhyun.

Kelopak tertutup itu menyembunyikan iris kebencian yang dulu selalu berbinar hangat.

Bibir tipis yang selalu berucap dingin itu, dulu selalu tersenyum manis dengan tutur kata yang begitu sejuk di pendengarannya

Wajah pucat pasi itu, dulu selalu merona alami di bawah paparan matahari atau dinginnya udara malam.

Chanyeol masih ingat jelas bagaimana tiga hal tersebut adalah hal yang membuat ia menjatuhkan hatinya pada sosok mungil itu.

Sebelum penolakan yang di terimanya menggigit relung hati Chanyeol dalam sebuah rasa yang di sebut patah hati. Awalnya Chanyeol mengabaikan. Namun mengingat lelaki itu berhubungan dengan Sehun yang merupakan objek kebenciannya, membuat Chanyeol menutup perlahan rasa cintanya terhadap Baekhyun dengan kebencian. Terlebih ketika mendapati bahwa adik perempuannya ternyata berkencan dengan lelaki itu. Chanyeol gelap seketika. Terlepas dari pengakuan Suho yang mengakibatkan Sehun dan Baekhyun tidak bersalah dalam hal ini, Namun benak Chanyeol tidak semudah itu menghilangkan egonya. Hatinya tetap menyerap rasa kebencian akan penolakan Baekhyun saat itu. Sehingga timbul perasaan ingin menyakiti dan menghancurkan sedalam-dalamnya lelaki mungil itu.

Namun Chanyeol menyesali segalanya saat ini. Karena perbuatannya, satu persatu orang berharga di hidupnya menghilang. Sehun sahabat dekatnya, Suho dokter kepercayaannya, Hana adik perempuannya, dan sekarang darah dagingnya.

Hal apalagi yang tidak menghancurkan relung hati paling dalam Chanyeol?

"Maaf,"

Bisikan lirih tersebut terucap begitu saja dari bibir tebalnya. Sedetik kemudian ia mendecih kasar menyadari bahwa masih pantaskah ia untuk mengucapkan kata tersebut.

Chanyeol menghapus air mata yang lagi-lagi tanpa di sadarinya menetes menuruni pipi. Sebelah tangannya terulur untuk meraih tangan lentik Baekhyun kedalam genggamannya. Sejenak, Chanyeol mengecup lembut punggung tangan tersebut.

"Pasti sangat sakit. Maafkan aku, Baekhyun. Maaf,"

Egonya runtuh. Lelaki jangkung itu menangis keras di punggung tangan Baekhyun. Mengucap maaf berkali-kali seiring terbukanya kembali rasa cinta di hatinya.

Yaa, Chanyeol akhirnya sadar bahwa ia masih sangat mencintai lelaki mungil itu.

...

Sudah satu minggu, namun Baekhyun belum ada tanda-tanda akan terbangun dari tidurnya. Satu minggu ini juga lelaki itu telah menjalani dua kali operasi untuk pembersihan perutnya. Lukanya sudah berangsur membaik, namun hal itu tidak juga membuat Baekhyun terbangun dari tidurnya.

Sudah seminggu pula, Chanyeol menemani Baekhyun di sana. Segala perlengkapannya Jongin sediakan di dalam ruangan Baekhyun karena lelaki itu tidak mau meninggalkan lelaki mungil tersebut.

Chanyeol baru saja menutup pintu kamar mandi ketika dirinya di buat terkejut dengan keadaan Baekhyun yang sudah membuka kedua matanya. Chanyeol sontak mendekati Baekhyun untuk memastikan. Lelaki mungil itu terdiam dengan pandangan kosong pada udara di depannya. Chanyeol lalu segera memanggil Jongin untuk memanggil dokter.

Beberapa saat kemudian Dokter selesai dengan pemeriksaannya. "Tuan Baekhyun masih harus di rawat disini untuk beberapa hari kedepan sampai keadaannya memungkinkan untuk kembali kerumah. Segera berikan obatnya setelah Tuan Baekhyun menghabiskan bubur yang sudah di siapkan oleh suster. Kami permisi."

Dokter tersebut lalu undur diri di antar Jongin yang kemudian menunggu di luar seperti sebelumnya. Setelah pintu tertutup, Chanyeol menatap Baekhyun yang sedari tadi tidak bergeming di posisinya. Bibirnya tetap terkatup rapat, pandangannya tidak berubah sama sekali.

"Sebentar lagi suster datang untuk membawakanmu bubur dan obat. Aku akan keluar sebentar setelah ini." Ujar Chanyeol.

Tidak ada respon apapun dari Baekhyun. Entah apa yang di pikirkan oleh lelaki mungil itu, hingga kehadiran Chanyeol disana bagaikan angin lalu untuknya. Chanyeol menghela nafasnya dan beranjak untuk keluar dari ruangan Baekhyun. Ia pikir membiarkan Baekhyun sendiri untuk saat ini adalah pilihan terbaik.

Tepat setelah pintu tertutup, sebutir air mata jatuh menetes membasahi pipi Baekhyun. Irisnya mulai bergetar, dengan isakan kecil yang mulai keluar dari belah bibirnya.

"Sakit,"

...

Seminggu kemudian Baekhyun sudah di perbolehkan untuk pulang. Lelaki mungil itu tidak bicara sama sekali sejak tersadar dari tidurnya. Lelaki mungil itu hanya akan menuruti apapun yang di perintahkan kepadanya. Membersihkan diri, makan, dan meminum obatnya. Meskipun semuanya masih di bantu oleh Kyungsoo. Terlepas dari itu, lelaki itu hanya akan berbaring tanpa melakukan apapun.

Setelah kepulangan Baekhyun kerumah. Chanyeol yang selalu diabaikan oleh Baekhyun ketika di rumah sakit, tidak lagi menemui Baekhyun ketika lelaki itu terjaga.

Chanyeol hanya mengawasi Baekhyun melalui kamera CCTV yang terpasang di kamar lelaki tersebut. Dan setelah memastikan lelaki itu tertidur, ia akan memasuki kamar Baekhyun sekedar menghapus air mata di wajah lelaki itu, karena memang Baekhyun selalu menangis tanpa suara sebelum akhirnya jatuh tertidur.

"Apa sesakit itu, Baek? Harus dengan cara apa aku menebus semua kesalahanku? Harus dengan cara apa aku menghapus segala pesakitanmu?" Lirihnya.

Setelah cukup lama merenungi wajah terlelap Baekhyun, Chanyeol pun beranjak kembali ke ruangannya dan mulai memikirkan beberapa hal.

Jika memang dengan ini Baekhyun bisa sedikit terlepas dari pesakitannya, maka Chanyeol akan melakukannya.

...

"Hati-hati," Ujar Kyungsoo.

Lelaki doe itu menuntun Baekhyun dengan perlahan untuk mendudukannya di dalam Bathub yang terisi air hangat.

Baekhyun sedikit meringis ketika perutnya tertekan ketika ia mendudukan tubuhnya.

"Apa airnya terlalu panas? atau terlalu dingin?"

Diam.

Itu adalah apa yang di lakukan Baekhyun ketika lelaki doe itu bertanya. Kyungsoo yang sudah terbiasa dengan keterdiaman Baekhyun pun tidak mengambil hati hal tersebut.

"Aku akan mengambil sikat gigi." Ujar Kyungsoo kemudian.

Baekhyun menerima sikat gigi elektrik yang di berikan Kyungsoo dan menyikat giginya dalam keadaan hening.

Membiarkan Baekhyun dengan pekerjaannya, Kyungsoo lalu mengambil sabun cair khusus dari dokter dan mengusapkan dengan hati-hati ke sekujur tubuh Baekhyun.

Lelaki mungil itu abai akan rasa malu. Seminggu ini tubuh telanjangnya memang selalu menjadi hal yang biasa bagi Kyungsoo. Toh Baekhyun memang tidak lagi mengenal apa itu kata malu. Jadi ia membiarkan Kyungsoo yang menyentuh setiap cela tubuhnya.

Sementara Kyungsoo, awalnya memang terasa aneh dan malu ketika melihat tubuh telanjang Baekhyun yang begitu mulus tanpa cacat. Mengesampingkan luka jahit dan ruam samar di bagian perutnya. Selebihnya, Kyungsoo di buat kagum dengan tubuh halus Baekhyun yang seputih susu itu. Baru kali ini Kyungsoo melihat tubuh lelaki seindah itu.

Baekhyun menyerahkan sikat giginya setelah di rasa cukup. Kyungsoo lantas memberikan segelas air bersih untuk lelaki itu berkumur.

"Sudah selesai. Sekarang aku akan membasuh tubuhmu."

Kyungsoo hendak membantu Baekhyun berdiri, untuk membantunya membasuh diri. Namun lelaki itu menahan tangan Kyungsoo. Dan untuk pertama kalinya, lelaki itu menunjukan raut pesakitannya. Kyungsoo tercubit sakit hatinya. Seolah turut merasakan apa yang di rasakan lelaki di hadapannya ini.

"Biarkan aku disini sebentar lagi." Lirih Baekhyun. Yang untuk pertama kalinya juga bibir tipis itu mengeluarkan suara.

Kyungsoo seakan terhipnotis di buatnya. Ia lalu mengangguk pelan dan beranjak untuk memberikan waktu sendiri dengan pemikirannya.

Seperginya Kyungsoo dari kamar mandi, Baekhyun menarik kedua kakinya, meskipun harus meringis sakit karna tekanan yang di dapatkan perutnya. Baekhyun menangis karna hal tersebut. Bukan tentang luka yang di dapat, melainkan karena kehampaan yang di rasakan di dalam perutnya.

Kosong,

Tidak ada lagi kehidupan di dalamnya. Bayinya sudah tiada. Dan Baekhyun tahu dia tidak akan memiliki kesempatan untuk mengandung bayi mungil lagi. Keinginannya tersebut pula yang menampar Baekhyun pada kesadaran bahwa mungkin kini orientasi seksualnya telah berbelok.

"Kau pasti lebih bahagia setelah meninggalkanku, kan? Aku memang banyak memberimu kebencian. Itu mengapa aku pantas kau tinggalkan. Dua hal yang ingin kukatakan padamu, Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu dengan baik, aku mencintaimu." Rintihnya dalam hati.

Kepalanya ia senderkan pada lipatan lututnya.Sementara sebelah tangannya mengusap lembut permukaan perutnya yang di hiasi benang jahit.

Baekhyun menangis. Mencoba mengeluarkan segala pesakitannya. Karena demi apapun dadanya sakit sekali. Baekhyun tidak tahu apa yang harus ia lakukan setelah ini. Balas dendam pun tidak lagi terbesit di pikirannya. Baekhyun hanya ingin menangis dan menangis.

"Luhan Hyung, apa kau sudah bertemu dengan malaikat kecilku? Bukankah dulu kau memintaku kembali untuk menjaga malaikat itu? Namun sekarang dia lebih memilih menyusulmu. Lalu apa lagi artinya aku hidup di dunia ini, Hyung? Tidak bisakah aku juga menyusulmu kesana? Aku tidak sanggup lagi, Hyung."

Kyungsoo yang mendengar isakan lirih Baekhyun turut menangis di samping pintu tak berdaun kamar mandi Baekhyun. Rasanya menyakitkan melihat lelaki itu seterpuruk ini. Kyungsoo ingin mencoba menguatkan, namun ia tidak memiliki hal apapun yang di jadikan alasan untuk membuat lelaki itu kembali berdiri.

"Tuhan, tolong biarkan dia bahagia sekali saja."

...

Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Chanyeol yang sebelumnya menanti perubahan pada diri Baekhyun pun menyerah. Rasa sakit yang semakin menjalar di dadanya membuat Chanyeol tidak lagi mampu menahannya. Oleh sebab itu, tepat satu bulan ini, Chanyeol pun akan melakukan keputusan terbesar di hidupnya. Mengesampingkan bagaimana keadaannya sendiri setelah ini, yang di pikirkan Chanyeol hanyalah keadaan Baekhyun kedepannya.

Jongin sudah berdiri di hadapannya sejak beberapa menit yang lalu. Chanyeol menghela nafasnya berat sebelum kemudian mulai bersuara.

"Apa yang sedang di lakukannya?"

Konyol sebenarnya Chanyeol menanyakan hal tersebut. Karena jelas-jelas di hadapannya kini, laptopnya tengah menyala dengan tampilan rekaman CCTV yang masih mengawasi kamar Baekhyun.

Namun tidak ada hak bagi Jongin untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. "Tuan Baekhyun baru saja kembali tertidur setelah meminum obatnya."

Chanyeol terdiam. Pikirannya kalut dengan hal yang akan ia putuskan. Namun sekali lagi, keputusannya semakin bulat ketika netranya menatap Baekhyun yang meringkuk sedih dari rekaman CCTV di hadapannya.

"Jongin.."

Lagi. Chanyeol terdiam. Irisnya terpejam, mencoba menghela nafas untuk sekedar memberikan ruang pada dadanya yang terasa begitu sesak.

Sementara Jongin masih setia menunggu dengan apa kiranya yang akan Chanyeol katakan.

"..Apa aku bisa mempercayakan Baekhyun padamu?"

Jongin tersentak mendengarnya. Ia pandangi lekat-lekat iris gelap Chanyeol. Apa maksud dari pertanyaan bosnya itu?

Melihat keterdiaman Jongin, Chanyeol tersenyum maklum. Hal yang justru membuat Jongin semakin terkejut. Karena ini merupakan pertama kalinya lelaki dingin itu menyunggingkan senyum yang terlihat tulus dari bibirnya.

"Kemasi segala keperluan Baekhyun. Setelah Baekhyun bangun, bawa dia bersamamu. Gunakan ini untuk memenuhi segala kebutuhannya."

"Tu-tuan.." Jongin tergagap saking terkejutnya dengan penuturan lelaki itu. Beberapa kartu, pasport, dan dokumen berharga lainnya yang di sodorkan Chanyeol tidak mengalihkan Jongin dari iris gelap lelaki itu.

"Aku membebaskanmu, Jongin. Bawa Baekhyun bersamamu. Jaga dia dengan sebaik mungkin.." Chanyeol menghentikan ucapannya dan tersenyum getir.

"..Aku akan melepas Baekhyun, karena aku tahu ini yang terbaik untuknya. Aku harap, dia dapat memulai kehidupannya sebagaimana yang dia inginkan selama ini."

Dan tidak ada hak untuk Jongin mengatakan tidak atas perintah Chanyeol. Yang mana, ini adalah perintah terakhir lelaki itu. Tepatnya permintaan.

"Aku akan menjaga Baekhyun dengan nyawaku, Tuan."

Chanyeol tersenyum mendengarnya. Berbeda dengan hatinya yang justru teremas sangat kuat hingga sakitnya menjalar keseluruh tubuh. Lelaki itu pandangi lagi Baekhyun yang masih meringkuk dalam tidurnya. Senyum teduh penuh kesakitan tidak luntur dari bibir tebalnya.

"Tak apa. Ini tidak sebanding dengan segala yang aku berikan padamu, Baekhyun. Bahagialah mulai sekarang. Kumohon.."

Bersambung..