disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.
"Cocchi, Cocchi," panggil Chi. "Kita akan main apa hari ini?"
Cuaca bersahabat, cek. Taman sepi, cek. Ada Cocchi yang duduk di atas dinding air mancur, cek. Meski Ann dan Telly belum—atau tidak—datang, tampaknya Chi tidak terlalu mempermasalahkannya walau sempat bertanya-tanya. Cocchi itu seperti mainan di mata Chi, yang akan bergerak jika dia datang menyentuhnya, dan sebagai tambahan juga bisa berkomunikasi dengannya.
"Kita tidak akan main apa-apa hari ini," jawab Cocchi sedikit ketus. "Aku mau pergi ke suatu tempat. Kalau kaumau ikut, ... terserah saja."
"Cocchi mau pergi ke mana?" Chi bertanya. Cocchi tak menjawab dan memilih melompat turun dari dinding air mancur. "Cocchi mau pergi lagi?"
"Keh." Cocchi mendecak. Suara Chi terdengar semakin menyebalkan jika pertanyaannya tidak dijawab, Cocchi tahu itu. "Kaumau ikut atau tidak? Kalau tidak, akan kutinggal."
"Haaeeeeeehhh?!" Chi buru-buru meloncat dan mendarat dekat dengan Cocchi. "Tunggu tunggu! Chi mau ikuuuuut!"
Nyatanya, mereka hanya mengelilingi seisi taman. Cocchi berusaha menahan lapar selama perjalanan. Beberapa kali perutnya berbunyi cukup keras. Chi memang mendengarnya, tetapi Chi hanyalah anak kucing kelewat polos yang jarang peka akan apa pun dan siapa pun, kecuali dirinya sendiri, itu pun hanya seputar makan, tidur, dan bermain.
Seperti yang sudah diketahui, kondisi taman lumayan sepi bila dibandingkan dengan hari-hari biasa. Jangankan manusia, kucing-kucing dewasa yang umumnya tidur saja tidak terlalu banyak terlihat hari ini. Cocchi menganggap situasi ini sebagai keadaan yang menguntungkan, di mana dia tidak perlu berebut makanan jika dia menemukannya.
"Cocchi, kita mau pergi ke mana?" tanya Chi yang masih senantiasa mengikuti dari belakang.
"Diamlah!" bentak Cocchi. Lapar begini diajak bicara, yang benar saja!
"Dari tadi Chi mendengar suara seperti katak mengaum yang mirip anjing," celetuk Chi lugu maksimal. "Chi mencari katak itu! Mangsa Chi!"
Sisi kanan bibir dan sudut mata Cocchi terangkat. Kalau ditanya seberapa besar penyesalannya mengajak Chi, tidak ada hal yang bisa dijadikan perbandingan saking tak terhingganya. Cocchi memilih untuk tidak memberi jawaban, dan tampaknya Chi juga menganggapnya sebagai angin lalu.
Mereka telah melewati tiga manusia yang duduk di bangku taman yang berbeda-beda. Berdasarkan pengalamannya, Cocchi sudah bisa membedakan mana manusia yang baik hati dan yang tidak. Dua di antaranya baik hati, namun tidak memberinya makanan, sementara satu yang pertama kali dia temui tidak mau berbagi. Chi yang tidak tahu apa-apa terus saja tersenyum, meski Cocchi tahu Chi sedang mencari katak—menurut pengakuannya, makhluk itu bersuara anjing, ah Cocchi tidak peduli—yang sebenarnya hanyalah bunyi perut Cocchi yang kelaparan. Entah Cocchi harus merasa tersinggung atau tidak, Cocchi mengabaikannya, toh tidak ada pentingnya juga.
Orang keempat duduk di bawah pohon. Gadis itu memakai seragam sekolah musim panas, berlapis jaket bertudung berwarna biru muda yang menutupi helaian rambutnya. Ada tas selempang yang tergeletak begitu saja di atas tanah. Pandangannya entah ke mana, yang jelas tak awas dengan kehadiran dua ekor anak kucing di dekatnya.
Indra penciuman Cocchi tidak mungkin berbohong. Sekarang dia bisa mengendus aroma lezat yang tak dikenalnya dari tas tersebut. Cocchi tidak dapat menebak karakteristik manusia yang satu ini, sehingga kali ini Cocchi menjadi bimbang, antara berusaha mencuri makanan atau mengharap belas kasihan.
"Miyaaaaaaaaw!" Datanglah Chi merusak keheningan di siang hari dengan mengeong keras.
Si gadis berhenti menengadah dan menoleh ke arah Cocchi dan Chi. Matanya bengkak, pipinya merah, dan ada sedikit bekas luka dan noda darah pada bibir mungilnya. Di sisi lain, Cocchi memelototi Chi penuh amarah, merasa kesal karena kucing temannya itu seenaknya menganggu.
"Apa yang kaulakukan, Chi, hah?! Jangan membuatku kaget!" amuk Cocchi. Dia tak lagi peduli dengan manusia ataupun bau enak yang diciumnya. "Apa kau tidak tahu bahaya jika manusia jahat pada kita?!"
Chi memberi respons tidak paham. "Jahat?"
"Heh, kau sama sekali tak tahu apa-apa ternyata. Tidak semua manusia mau memberi makanan pada kucing seperti kita, kautahu?"
"Humm ... kucing? Tapi Chi bukan kucing."
Oke. Sudah cukup. "Berhentilah berkata konyol. Kau itu kucing!"
"Tidaaak! Chi bukan kucing!"
"Kauperhatikan manusia itu baik-baik! Mereka tidak punya ekor dan telinga di atas seperti kita!"
"Heeeeeeh?!" Gantian Chi yang melancarkan protes. "Chi tidak paham apa yang Cocchi katakan, tapi Chi sama seperti Otou-san, Okaa-san, dan Youheeeeeei!"
"Tidak sama!"
"Sama, sama!"
"Tidaaaaaaak!"
"Chi bukan kuciiiiing!"
Bersamaan dengan teriakan itu, Chi menapakkan kedua kaki depannya pada ekor Cocchi, berikut dengan kesepuluh kuku panjangnya. Tidak usah ditebak, Cocchi sangat marah dan langsung membalas dendam dengan melakukan hal yang sama. Adegan selanjutnya yang terjadi adalah mereka beradu gelut di atas tanah.
"Itu sakit, Cocchi!"
"Kau yang memulainya dulu!"
"Sakitsakitsakit!"
"MIGAAAAAAA!"
"MIYAAAAAAAAA!"
"Hentikan, Chi!"
"Cocchi yang berhenti!"
"Jangan terus menendangku—aw!"
"Jangan menggigit ekor Chi—MIAAAAWW!"
"Jangan mengikuti kata-kataku!"
"Cocchi yang mengikuti Chi! Hentikan! Jangan meniru Chi!"
"HAAAAAH?!"
"Chi tidak akan berbagi mangsa katak anjing dengan Cocchi!"
"Bukankah kau itu takut anjing? Ha? Haaaaa? Hehehehe ... haaaaaah?"
"Cocchi juga takut dan lari!"
"Aku tidak mungkin takut!"
"Katak anjing itu milik Chi!"
"Yang kausebut katak anjing itu suara perutku, hoi!"
"Hahaha …."
Cocchi dan Chi kompak berhenti. Pandangan mereka beradu, sama-sama merasa janggal. Kompak mereka menoleh ke arah sang manusia keempat di taman, yang sekarang sedang tertawa kecil sambil memegangi perutnya.
"Kalian berdua lucu sekali." Gadis cantik itu tersenyum. "Kalian berdua lapar?"
Sebuah kotak bekal dikeluarkan dari tas cokelat miliknya. Begitu bagian tutup dibuka, aroma nikmat menguar menggelitik hidung Cocchi dan juga Chi. Mereka langsung melupakan pertengkaran dan memilih berlari mendekati sumber bau menggoda selera itu.
"Eh, yang satu itu mirip dengan Chi yang memenangkan kontes Kucing Terlucu beberapa waktu lalu," ungkapnya bingung. Suaranya begitu pelan hingga nyaris tak terdengar. "Bahkan kucing saja punya teman, tidak sepertiku."
"Kamu memanggilku?" tanya Chi.
"Jadi namamu benar-benar Chi?" Sang manusia justru bertanya balik. "Aku merasa bisa memahami apa yang hewan katakan, tapi aku tak begitu yakin. Chi?"
"Myaaaaa?" Kali ini Chi merespon dengan ngeongan panjang.
Cocchi penasaran. "Kau mengenalnya?"
Chi menggeleng. "Chi tidak tahu, tapi dia mengenal Chi."
"Aku tinggal sendirian di kota ini untuk bersekolah. Bagaimana dengan kalian? Di mana rumah kalian berdua?" Curahan hati mengalir bersama dengan usapan pada kepala Chi. "Aku tidak punya teman di sini. Aku merasa tidak bersemangat untuk melakukan apa pun, padahal seharusnya aku menghadiri les sekarang. Aku—"
"Kenyangnyaaaa!" Chi merebahkan diri sambil menepuk perutnya yang buncit.
"Enak sekaliiii!" Cocchi juga ikut serta, hanya saja tidak sampai ikut memukul perut seperti kebiasaan Chi.
"Menjadi anak kucing itu enak sekali, ya? Kalian tidak perlu memikirkan terlalu banyak hal seperti manusia." Terdengar sangat jelas suara lemah itu mengandung aura kesepian dan juga kegelisahan. "Ah, maukah kalian menjadi temanku? Oh, apa kalian suka dengan sup kaldu ayam buatanku? Akan kubawakan lagi besok jika kalian ma—eh ...?"
"Chi mau lagi! Chi mau lagi!" Entah sejak kapan Chi sudah berada di dekat si gadis. Chi menggosokkan kepalanya pada tangan yang terasa hangat. "Ayo kita main!"
"Terima kasih banyak. Tidak heran kamu menjadi pemenang kontes itu, Chi. Kamu memang sangat lucu." Alih-alih duduk dan bermain, justru perempuan itu memilih menutup kotak bekal makannya yang tak bersisa lalu berdiri. "Aku harus pergi ke tempat les sekarang. Sampai jumpa lagi, kalian berdua!"
Chi menekuk alisnya kesal. Dia tak mengerti dengan kepergian manusia tersebut dari taman. "Kenapa dia tidak mau bermain dengan Chi?"
Cocchi tak menghiraukan pertanyaan Chi. "Ayo, kita pergi."
"Ke mana? Kita mau ke mana lagi, Cocchi? Chi mau!"
"Kalau ... mencari katak bersuara anjing?"
"Yippiii! Berburu mangsa bersama Cocchi! Chi mau, Chi mau!"
"Hehehe. Yosh, baiklah! Siapa yang bisa mencapai air mancur dulu, dia yang menang! Mulai dari sekarang!
"Baik! Chi—aa, tunggu! Cocchi, jangan meninggalkan Chi! Berhentiiiii!"
Tidakkah kau menyadari, bagaimana tingkah lakumu itu selalu berhasil memancing senyum dan juga tawa dari siapa saja, Chi?
tamat
~himmedelweiss 24/08/2020
