Title : Kurayami no Sora
Disclaimer : Naruto©Masashi Kishimoto & Highscool DxD©Ichie Ishiebumi
Genre : Adventure, Hurt/comfort, Friendship & Tragedi.
Rate : M
Pair : ,,,,,, ?
Author : Kidz-Boy Everything
Summary : Aku sendiri, selalu sendiri, sampai kapanpun akan tetap sendiri, makhluk sepertiku takkan pernah bersanding dengan mereka, kutukan yang kubawa hanya akan membawaku pada kekosongan dan kegelapan.
Warning : Maisntream, OOC, FullTypo, Bahasa tidak baku, hancur, jelek, berantakan, Overpower, Hard-fight, Dark-Immortal, Brutality, dll.
,,
,,
Entah kapan exsistensinya lahir kedunia ini, makhluk yang begitu Indah, bahkan sulit membedakan apakah wajahnya itu cantik, ataupun tampan, karena dari sudut manapun, keduanya tampak sama dalam satu rupa.
Awal hidupnya sebagai seorang Malaikat, jatuh sebagai Malaikat yang terbuang, lalu dikutuk tanpa ada alasan, tanpa sebab dan akibat.
Dan entah disengaja atau tidak, keberadaanya seperti terhapus seiring berjalannya waktu, tak ada siapapun yang mengingatnya, atau bahkan mereka semua tak menyadari jika makhluk itu pernah ada diantara mereka.
Secara singkat, tuhan menciptakanya sebagai tumbal dunia. Dalam kesendirian, makhluk itu hanya bisa tertunduk dan merenung, apa maksud semua ini.
Ketika ia bertanya, mengapa? Tuhan hanya tersenyum sebagai jawabanya, waktu itu ia masih begitu polos, ibarat kertas putih yang menunggu coretan tinta hitam.
Namun seiring berjalannya waktu, ia mulai mengerti.
Sejujurnya ia begitu marah dan kecewa saat semuanya telah terjadi, semua hal kelam yang menimpa dirinya, mengapa diantara begitu banyaknya ciptaan, dirinyalah yang harus menjadi sebuah pilihan.
Mengapa?
Dan kenapa?
Satu kata yang ia ingat hanyalah sebuah kata "wadah"
Makhluk pilihan untuk sebuah pengorbanan.
"The Death Wings"
"Sayap kematian"
..
..
"Hawa kematian yang begitu pekat! " pemuda Immortal itu bergumam lirih, menatap datar jurang gelap dibawahnya.
Sang tokoh utama itu sedang berdiri ditepian jurang, bersidekap dada angkuh, sembari menatap kehampaan dibawahnya penuh arti.
"Sepertinya kau menyambutku eh (...) " ujar Naruto kemudian, sedikit tersenyum ketika energi yang tak mengenakkan itu mencoba mengintimidasinya.
Meski dalam kesadaran yang hilang karena tertidur, tapi jiwa dari makhluk yang terpenjara didasar sana merasakan kehadiranya.
Entah berapa kilometer kedalaman jurang tersebut, dan entah dibelahan mana jurang ini berada, yang jelas tak akan ada yang sudi menjamah tempat ini. Sungguh!
Bagaimana tidak, tempat ini dipenuhi hawa gelap yang benar- benar mencekam, menjadi tempat berkumpulnya para roh jahat dan jiwa Iblis yang tersesat.
"Keberadaanmu tak pernah ada artinya bagi dunia ini, ragamu yang hina dengan jiwa yang telah kering, dan kau masih berharap untuk kembali melihat dunia yang terkutuk ini ? " Naruto kembali berbicara, meskipun lawan bicaranya sedang tertidur dalam kesakitan jauh didasar sana, namun jiwa yang dimilikinya bisa mendengar.
"Waktu sudah semakin dekat, kebebasanmu akan menjadi masa dimana semuanya harus diakhiri,, -
"Sampai bertemu pada waktu yang telah digariskan " lanjut Naruto kemudian, baginya ini sudah cukup, apa yang ingin dipastikanya sudah cukup jelas.
Kabut hitam menenggelamkan pemuda pirang itu kembali, menyisakan tempat kosong ditepian jurang kehampaan dunia.
"Gaaaaaaaaaaaahrrgrgrgrgrghh"
Seuasai kepergian Naruto, makhluk yang terpenjara dibawah sana meraung keras, bahkan raungan itu serasa mengguncang jurang dipenghujung dimensi kehampaan.
Monster itu marah karena kembali merasakan kesepian, tamu satu-satunya selama ribuan tahun itu telah pergi.
Sekujur tubuhnya dibelenggu rantai baja yang kini mulai rapuh, surai hitam panjang yang kotor itu menjuntai kebawah hingga hampir menyentuh tanah.
Begitu mengenaskan, hanya tampak tulang yang terbungkus kulit tanpa daging, kedua tanganya terbentang horizontal kekanan dan kiri akibat rantai, sayap-sayapnya telah jatuh terkulai termakan usia, menyisakan sayap kematian yang begitu menyedihkan.
Hanya bisa tidur dalam rasa sakit selama ribuan tahun, dendamnya kepada sang pencipta terlampau besar untuk dibiarkan padam. Oleh karena itu sekujur tubuhnya terus menyerap energi negative alam semesta, berusaha menjaga raga itu agar tetap hidup, untuk melanjutkan kisahnya yang tertunda karena karma.
Ia diciptakan sebagai makhluk yang dikorbankan.
[D-drago]" diambang batas kesadaranya, bibir kering dan kaku itu melafalkan sebuah nama dengan susah payah.
Kisah tentangnya didunia ini hanyalah sebuah mitos.
Namun,,
Ia ada,,
Dan benar-benar ada.
Dia dikutuk melebihi satan.
Tanpa pernah tahu apa salah dan dosanya.
Ia masih mengharapkan jawaban.
Mengapa tuhan memperlakukannya demikian.
Tes
Si pemilik sayap kematian itu menangis, dan itu bukanlah seperti cairan bening airmata pada umumnya.
Itu adalah darah.
Darah yang begitu hitam.
Sekelam malam...
..
..
Kurayami no Sora
Story.
Chapter 20.
,,
,,
Tartarus.
.
.
Tengkorak tua dalam balutan jubah hitam itu berdiri angkuh, menatap datar kumpulan roh yang kini berlutut dihadapannya.
"Apa kalian tahu alasanku membebaskan kalian dari tempat itu? "
Beberapa diantara Roh itu merasa bingung mendengar ucapan dari makhluk yang tak terlihat wajahnya tersebut.
"Tidak !" mereka dengan serempak menjawabnya.
"Aku telah melanggar peraturan dunia dan kematian dengan mengambil jiwa kalian semua dan membawanya ke belahan dimensi ini, dan semua itu berkaitan dengan Riwayat kematian kalian "
Tampak pemuda berambut hitam menatap tajam sosok yang kini tengah berbicara.
"Apa maksudmu dengan riwayat kematian kami? " roh pemuda itu merasakan firasat buruk setelah mendengar kata riwayat kematian.
"Khekhekhe,, kau pemuda yang berani, bukankah kau adalah pemimpin mereka semua heh? "
"Bagaimana kau tahu hal itu? siapa kau sebenarnya? " pemuda tersebut bertanya penuh selidik.
"Kalian tak perlu tahu siapa aku, aku hanya ingin bertanya satu hal kepada kalian semua! "
Mereka semua diam, dan berusaha memahami maksud makhluk tak jelas dihadapan mereka ini.
"Katakan apa itu! " sejauh ini hanya pemuda tersebut yang mengangkat suaranya.
"Baiklah, apakah kalian semua bersedia aku bangkitkan lagi sebagai manusia, dengan syarat kalian semua harus tunduk dibawah perintahku, karena jika kalian berani membangkang, akan kucabut kembali jiwa baru yang kalian miliki "
Deg
Roh-roh itu terkejut dengat jawaban dari sosok tersebut, apa katanya barusan? Dibangkitkan kembali sebagai manusia?
Dilema,, tentu saja kumpulan jiwa kematian itu dilanda kebimbangan, apa tujuan sosok dihadapan mereka ini berniat menghidupkan mereka semua kembali, bahkan dalam wujud manusia kembali seperti sedia kala.
"Ma-maaf, sebenarnya apa tujuan anda membebaskan kami dari tempat itu, aku yakin kau memiliki maksud dan tujuan " kali ini yang berujar adalah seorang perempuan.
"Khekhekheeee! Aku tahu kalian bukanlah orang bodoh,, tentu saja kalian kuhidupkan untuk menjadi bawahanku, terlebih lagi,, aku menawarkan balas dendam bagi kalian semua "
Dari sini mereka semua mulai menerka-nerka maksud dari sosok berjubah hitam tersebut, menawarkan untuk dihidupkan kembali dengan jaminan harus tunduk menjadi anak buahnya, dan kini sebuah penawaran untuk balas dendam.
Tentunya bagian balas dendam itu yang menjadi pemikiran keras mereka semua.
"Apa maksudmu dengan menawarkan balas dendam? " suara datar itu berasal dari pemuda sebelumnya.
"Yang membantai seluruh Ras kalian,, dia ada didunia ini sekarang "
Tak perlu untuk dikatakan lebih jelas lagi, fikiran mereka langsung merespon hal itu dalam sekejab, ketakutan, amarah, dan kebencian bercampur aduk dalam satu wadah direlung jiwa mereka semua.
"Katakan, dimana bedebah itu berada sekarang? " dalam gairah emosi yang melonjak, pemuda berambut hitam kelam itu bertanya penuh penekanan, tanpa berfikir panjang mengingat ledakan emosinya begitu kental dengan kebencian.
"Hohohoooo! Sepertinya kalian semua tertarik dengan penawaranku heh? " dalam hoddie yang membungkus kepalanya, rahangnya tampak menyeringai, baginya ini adalah kesempatan, dan ia butuh bala tentara yang kuat untuk menuntut balas atas penghinaan yang pernah ia terima dulu.
"Aku terima,,, apapun akan kulakukan asalkan bisa menghabisi makhluk terkutuk itu " isyarat kebencian begitu kentara diraut wajahnya, baginya pribadi ini adalah kesempatan untuk menuntut balas, sama seperti dulu saat ia mencari pembalasan dendam atas kematian orang-orang yang dicintainya.
Namun disisi lain, beberapa diantara mereka merasa ragu, ragu mengingat betapa brutal dan superior si pembantai waktu itu, jika mereka menerima tawaran itu,, tak ada jalan untuk kembali, terbayang betapa kejam ketika mereka dibunuh dalam siksa dan kesakitan yang teramat sangat pedih.
Akan tetapi ketika rasa benci yang mereka rasakan, kesempatan itu seolah ingin segera mereka terima, terfikir untuk bisa membalas atas semua perbuatan keji yang dilakukan mantan rekanya itu.
Namun pada akhirnya mereka semua sepakat untuk menerima tawaran tersebut, jiwa mereka sebagai Ras Ninja pantang untuk menyerah, jiwa pembalas dendam perlahan merasuki fikiran mereka, seolah mendapat kekuatan baru untuk menuntut balas.
..
Skiptime.
..
Usai kunjungannya ke tempat antah berantah, kini pemuda itu berada di Kota Kuoh, ada alasan tersendiri mengapa ia pergi ketempat tersebut. Ia tertarik dengan banyaknya energi yang kini berkumpul dalam satu tempat.
Yah! Pada akhirnya para pemimpin Fraksi bergegas melakukan pertemuan darurat, hal itu ditujukan perihal kejadian dua hari lalu yang pastinya membuat kehidupan mereka tak tentram, bagaimana bisa tenang jika seekor predator telah mengintai dan siap untuk menerkam kapan saja.
Ia kembali berhadapan dengan gedung besar yang telah menjadi simbol perdamaian semu selama beberapa dekade, yang tak lain merupakan Akademi Kuoh Highschool.
Pemuda itu duduk diam sembari memandang tempat tersebut, namun tak lama kemudian ia menyadari suatu hal.
'Sepertinya sebentar lagi akan terjadi sesuatu yang menarik ! ' fikirnya santai, bukan tanpa alasan Naruto berucap demikian, sensornya mulai merasakan sesuatu dalam jumlah cukup banyak sedang mengarah ketempat ini.
Kemudian Naruto berdiri, keberadaanya terlalu mencolok saat ini, mungkin ia harus mencari tempat yang lebih jelas dan terbuka dengan kemungkinan terkecil untuk disadari.
Pandangannya menengadah keatas, tepat kearah sebuah menara tinggi didalam area tersebut.
'Itu dia! ' imbuhnya kemudian, kemungkinan ia bisa melihat secara keseluruhan melalui Area tersebut.
Lalu seperti biasa, ia meninggalkan tempat tersebut dengan kehadiran kabut hitam, menenggelamkan keberadaanya dalam sunyi.
Dua penjaga gerbang yang merasakan sesuatu segera menoleh keluar gerbang, lalu menaikkan alisnya heran ketika melihat kabut hitam muncul tanpa sebab.
"Hey,, apa kau tidak merasa aneh dengan kabut itu? " tanya salah seorang penjaga kepada rekanya.
"Heeeem! Entahlah, mungkin ada seseorang yang sedang membakar sampah disekitar sini " jawab rekannya acuh.
"Hah! Sepertinya memang begitu "
Tak
"Baiklah sekarang giliranmu " penjaga pertama berucap sembari menggerakkan Pion dalam permainan catur.
"Cih! sialan ! Kau pasti menipuku lagi ?"
"Tentu saja tidak bodoh! Bukankah kau memang selalu kalah ?"
"Hey aku kalah karena kau selalu bermain curang, dan aku yakin yang baru saja kau katakan adalah salah satu trick mu untuk mengelabuhiku? "
Pletak
Pertengkaran garing mereka akan menjadi titik awal dimana malam yang panjang ini akan menjadi sesuatu yang mencekam.
..
..
Aura suram begitu jelas terlihat ditempat pertemuan empat fraksi, rentetan cerita dan kejadian telah dibeberkan masing-masing pihak, namun,, beberapa dari mereka yang pernah ikut serta dalam perang besar masih terdiam, dengan kata lain, mereka adalah tokoh yang pernah berhadapan langsung dengan Monster yang kini telah kembali.
"Seumur hidupku, hanya satu hal yang kukhawatirkan! "
Seluruh mata teralih ketika sang Gubernur Datenshi berbicara, mereka semua tahu orang tua ini memiliki sejarah kehidupan yang begitu panjang.
"Aku tak pernah melihatmu sepesimis ini Azazel " sang Maou Lucifer sedikit memberikan sindiran ketika melihat raut wajah sang Gubernur Datenshi yang biasanya penuh semangat itu tampak putus asa.
Azazel melirikkan matanya sejenak ketika mendengar sindiran barusan, "Sirzech, kau tak pernah merasakan apa yang kami semua pernah alami secara langsung " balas Azazel kemudian, yang dimaksudkan kami semua disini adalah, ia sendiri, Michael, Gabriel, barakiel, dan beberapa tokoh lainya dari pihak Tenshi dan Datenshi, mereka semua adalah saksi hidup Great War, dan tentunya adalah saksi dimana mereka melihat bagaimana pembantaian massal itu berlangsung.
"Aku tahu kau hidup lebih lama dari kami semua yang berada ditempat ini, tapi ingatlah, kau adalah seorang pemimpin, tak seharusnya kau menunjukkan sikap frustasi dan putus asa seperti ini " sergah Sirzech dengan intonasi nada yang mulai meninggi.
Azazel terdiam dengan mata terpejam, oke mungkin sikapnya yang seperti ini memang tak patut ditunjukkan ditengah-tengah pertemuan yang menentukan masa depan, tapi jika boleh jujur sejujur-jujurnya, ia pribadi memilih mati dari pada harus menyaksikan hal itu lagi. Sungguh!
"Kubangan darah dimana-mana, bangkai berserakan hingga membuat kaki sulit untuk melangkah, aku bahkan masih mengingat jelas bagaimana monster itu membunuh Draig dan Albion dengan sangat mudah "
Kata-kata sang Gubernur Datenshi barusan cukup untuk membuat seluruh penghuni ruangan menelah ludahnya kasar, membicarakan hal yang tampak mustahil dilakukan tapi dapat dilakukan dengan mudah.
Dibelakang Azazel, sosok pemuda bersurai perak tampak mendecih tak suka, ia pernah berhadapan langsung dengan siapa yang sedang dibicarakan, bahkan menginvasi langsung alam bawah sadarnya dengan sangat mudah, Vali Livan Lucifer, cucu dari putra Raja Iblis Satan itu masih ingat dengan jelas bagaimana mencekamnya alam bawah sadarnya kala itu, dan ia berani bersumpah, itulah kali pertama ia merasakan ketakutan yang sangat nyata sepanjang hidupnya.
'Sialan! ' ia termasuk orang yang berkarakter keras kepala, berambisi besar atas pertarungan, dan tentunya benci dengan kekalahan, tapi semenjak kejadian waktu itu, ia merasa dipaksa secara mental untuk mengakui bahwa dirinya masih sangat lemah.
"Aku pernah hampir mati dua kali olehnya, aku berfikir jika waktu itu aku tewas, mungkin aku tak akan menjumpai hari dimana aku akan dihadapkan dengan hal itu lagi dimasa depan " racau Azazel sembari menerawang langit-langit ruangan.
Suasana hening ketika mendengar bagaimana kata yang terselip nada lirih keputusasaan dari sang pemimpin besar kaum Datensi tersebut.
"Azazel, aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, aku juga sama sepertimu, tapi semua itu tak ada gunanya dikatakan untuk saat ini, bagaimanapun kita harus mempertahankan kelangsungan hidup alam semesta ini, seperti waktu itu " kali ini sang pemimpin Tenshi aka Michael yang menyerukan ucapanya, ia sangat memahami perasaan mantan saudaranya tersebut, namun dari pada harus membicarakan ketakutan dan masa lalu, lebih baik mempersiapkan keberanian untuk masa depan.
Azazel yang mendengar petuah dari Michael hanya bisa mengusap wajahnya kasar, mencoba mengusir bayang-bayang ketakukan akan masa lalu.
"Mungkin seharusnya memang begitu Michael, tapi aku hanya tak ingin melihat kejadian seperti itu terulang lagi "
Brakkk
"LALU APA BEDANYA DENGAN KITA DIAM TANPA MELAKUKAN PERLAWANAN HA? APA MENURUTMU HAL ITU TAK AKAN TERJADI? "
Semua yang berada diruangan itu berjengit kaget ketika sang Maou Lucifer berteriak keras penuh emosi, Sirzech sangat muak melihat raut keputusasaan dari Gubernur Datenshi itu.
"Jika kau ingin menyerah karena masa lalu, lebih baik kau pergi dari sini, kau hanya akan menurunkan mental mereka yang bersedia berjuang untuk mempertahankan kehidupan dan kehormatannya " lanjut Sirzech dengan intonasi suara rendah.
"Apa yang dikatakan Sirzech-dono benar, jika kita menyerah tanpa perlawanan, itu sama saja dengan menunggu kematian, masih ada waktu untuk mempersiapkannya sejak dini, setidaknya kita bisa mengumpulkan Aliansi dari seluruh fraxsi untuk mempersiapkan kekuatan jika ancaman itu datang " Pemuda berambut hitam yang menjadi perwakilan dari kaum Manusia ikut menyuarakan pendapatnya, dia adalah sang pemegang Tombak tuhan aka Cao-cao Mangdae.
"Aku setuju dengan ucapan anak muda ini, kita masih punya waktu untuk melakukan persiapan sebelum semua itu datang " imbuh salah seorang dari Fraxsi Iblis, dia adalah Maou Asmodeus, Falbium Glasia-labolas.
"Aku harap kau tak melupakan pesan dari Ramiel dan Bellial,,, Azazel " Barakiel tahu atasannya ini begitu terpukul dengan perang besar waktu itu, ia sendiri juga merasakanya, namun ia sendiri ingin berfikir positif, masa lalu bisa dijadikan pelajaran agar kedepanya bisa lebih baik, begitu menurutnya.
Azazel masih terdiam dengan mata terpejam, ucapan demi ucapan terus berdatangan, mereka begitu optimis, dan tak ingin sedikitpun menyerah, meskipun mereka sadar seberbahaya apa makhluk yang akan dihadapi nantinya.
"Baiklah, anggap saja kita akan menghadapi sesuatu yang mustahil untuk dikalahkan, tak bisa dihancurkan, tak bisa dibunuh, tak bisa dilenyapkan, dan tak bisa disegel, tapi kita masih bisa berjuang untuk terus bertahan " ucap Azazel dengan exspresi semangat yang ia palsukan, mungkin memang harus berjuang meskipun ia tahu hasil akhir hanyalah kegagalan, tapi tak ada salahnya.
'Dan menunggu keajaiban ' lanjutnya dalam hati, mungkin ia juga tidak harus mengendurkan semangat Aliansi.
Semua pihak tersenyum melihat semangat yang ditunjukkan Azazel, karena bagaimanapun mereka harus bersatu, tak boleh terpecah dengan keyakinan yang salah.
Dikala itu terlihat perempuan cantik bersurai pirang yang sedang menunjukkan exspresi diam, perempuan itu adalah Gabriel, mendengar siapa yang dibicarakan sejauh ini membuat fikiranya larut dalam kenangan beberapa hari yang lalu.
'Apa yang harus aku lakukan? ' tak ada yang tahu perihal dirinya dengan makhluk itu, kisahnya adalah sisi lain dari dunia yang kelam ini, ia dihadapkan dengan pilihan yang sulit.
Para generasi muda tersenyum lega atas pembicaraan ini, pada akhirnya masa lalu yang dulunya tak boleh didengar, kini mulai terkuak sedikit demi sedikit, dan dari sini mereka akan terus berlatih keras untuk melakukan yang terbaik.
Demi harapan.
Dan kehidupan.
,,
Duaaaaaaaaarrrrrrrr
Kala itu terdengar ledakan yang cukup memekikkan telinga berasal dari luar, kelegaan atas hasil yang barusan mereka capai buyar seketika ketika mereka menyadari suatu hal.
"Apa yang terjadi? "
"Sepertinya kita telah diserang, tapi siapa? "
"Ayo semuanya cepat keluar dari sini, "
Deg
'Energi yang sangat familiar, apakah mungkin? ' fikir Azazel kemudian, ia merasakan kehadiran sesorang yang sangat dikenalinya.
'Tapi bagaimana mungkin, bukankah dia tewas pada perang besar kala itu? ' lanjut Azazel kemudian, terbesit keraguan dalam hatinya.
Drap
Drap
Drap
Mereka semua segera keluar serentak, ingin melihat siapa yang dengan beraninya menyerang Aliansi empat fraxsi yang tengah melakukan rapat penting.
'Aku harap itu bukan kau,, Kokabiel ' bagaimanapun Azazel masih ingat betul bagaimana tekanan energi mantan rekanya tersebut.
Sesaat kemudian mereka semua tercengang tatkala melihat begitu banyaknya kaum Datenshi yang melayang diudara, bukan itu saja, dibagian bawah telah terjadi pertempuran antara golongan penyihir dengan para penjaga yang berusaha menahan gempuran.
Dalam sekejab tempat tersebut telah menjadi medan perang.
"Sial apa-apaan ini? " pemuda berambut coklat aka Hyoudou Issei tak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya yang begitu besar, ia baru kemarin hari bergabung dengan keluarga Iblis Rias Gremory, dan sekarang ia harus dihadapkan dengan pertempuran nyata yang ia sendiri tak pernah bayangkan sebelumnya.
"Azazel-dono, apa maksudnya ini? " Maou Asmodeus bertanya tak mengerti ketika melihat banyaknya malaikat jatuh yang mulai menghujani Kuoh Akademi dengan tombak cahaya.
Namun Azazel hanya diam sembari menajamkan pandanganya kesalah satu sudut tempat.
"Tunggu dulu, mereka semua bukan dari pengawasanku di Grigori, aku tak mengenal satupun dari mereka semua " sangkal Azazel tenang, meskipun begitu ia menyembunyikan keterkejutannya dalam hati.
"Aku rasa aku tahu siapa dalang dari penyerangan ini, lihatlah disebelah sana ! " ucap Barakiel sembari menunjuk kejauhan, tepat dimana sesosok yang angkuh tengah duduk disebuah kursi megah yang melayang.
Lima pasang sayapnya terbentang lebar, menunjukkan keperkasaanya sebagai salah satu malaikat jatuh terkuat pada masanya.
"Azazel-dono, bukankah itu,,, -
"Kau benar Michael, tidak salah lagi, dia adalah sang Bintang,,-
,,-Kokabiel "
Deg
"Bukankah dia dikatakan tewas pada saat Great War dulu? " sergah Sirzech tak mengerti, mungkin ia tak terlalu mengenal siapa Kokaibel, tapi ia cukup tahu jika sang jenderal perang Datenshi itu dikabarkan tewas pada masa perang besar di Mekkai.
'Kokaibel, apa yang sebenarnya kau rencanakan, bagaimana mungkin kau masih hidup ' gumam Azazel dalam hati, sekarang ia hanya berfikir mengapa mantan rekanya itu menyerang Aliansi empat fraxsi. Apa alasanya?
Dan yang membuat Azazel terkejut adalah bagaimana Kokaibel bisa memiliki pengikut sebanyak ini, apakah mungkin mereka semua adalah bagian dari Kaumnya yang dulu selamat dari perang besar, tapi tidak, ia tak mengenali satupun diantara mereka yang pernah menjadi Batalyon tempur kaum Datenshi dalam Great War. Mereka semua adalah wajah baru baginya.
Hening!
Dalam sekejab saja, suara riuh pertempuran itu berhenti total ketika samar-samar telinga mereka mulai mendengar alunan suara musik dari seruling.
Lengkingan irama tajam terasa menyayat jiwa, membawa euforia sunyi yang mencekam.
"Sial,,, apa-apaan ini? " umpat seseorang ketika merasakan sesuatu yang tak mengenakkan.
Perlahan tapi pasti,, firasat buruk mulai menghantui jiwa mereka, terlihat diatas langit ribuan burung gagak hitam beterbangan membawa suara ribut yang memekakkan telinga.
Para makhluk ditempat itu mulai berputar menggerakkan kepalanya kesana kemari untuk menyaksikan fenomena tersebut sembari mencari asal alunan suara seruling itu.
"Astaga, apa mungkin ini ulah mereka juga? "
"Kurasa bukan,, kau bisa mengatakan jika sayap kami para Malaikat jatuh melambangkan burung gagak,, tapi bukan berarti kami adalah burung Gagak itu sendiri "
"I-ini benar-benar mengerikan"
"Hey lihatlah diatas menara itu! " sesosok Iblis mendapati wujud hitam, berlatarkan bulan Purnama seperti sebuah bayangan diatas menara tinggi ditempat tersebut,
Sontak saja mereka semua mengalihkan pandangan kearah yang ditunjukkan Iblis barusan.
Dalam pandangan mereka semua, tampak seseorang berzirah hitam, dengan geraian rambut panjang yang berkibar tengah berdiri diujung menara.
Dan yang jelas, suara itu berasal dari sana tempat wujud itu berada.
Kokabiel mengernyit heran ketika melihatnya, siapa orang yang dengan bodohnya memainkan seruling dan mengundang ribuan burung gagak ini.
'Apa yang sedang dilakukan orang itu disana! ' fikirnya penuh keheranan, bahkan aksi tersebut menjadi perhatian sepenuhnya para kaum supranatural ditempat tersebut, seolah melupakan keadaan mereka yang saat ini saling menghunuskan senjatanya satu sama lain.
Semakin terasa mencekam, suara alunan yang terdengar itu ibaratkan sebuah bunyi lonceng kematian yang datang dan terdengar secara berulang-ulang.
Disusul munculnya ratusan pendar energi berwarna hitam pekat beterbangan kesana kemari menyusul ribuan burung gagak tadi.
Siapapun tanpa terkecuali hanya mampu tercengang atas keadaan yang sedang terjadi.
Apalagi sekarang? Mungkin kata-kata seperti itu yang terus terngiang dalam fikiran kaum supranatural tersebut.
Namun, para veteran perang dari masa lalu mulai mengambil kesimpulan pahit atas hal itu, fenomena dan firasat, mengarahkan fikiran mereka akan satu hal.
Petaka itu datang.
Hembusan angin seolah berputar tiada henti disekitar mereka, dan semua hal itu dipicu akan suara musik dari sepucuk bambu yang dilubangi dibeberapa bagianya.
Bahkan Kokabiel hanya bisa terdiam, invasi yang dilakukanya malah mengundang sesuatu yang tidak biasa.
'Firasat ini! ' serunya dalam hati, matanya tajam menatap sosok wujud yang tengah berdiri tegak diujung menara tersebut.
Hanya terlihat samar warna surainya yang tampak keemasan dimatanya.
Gabriel,, dirinya hanya diam dengan pandangan yang sulit diartikan, mungkin hanya dirinya yang yakin dengan pasti siapa sosok wujud tersebut.
Azazel,,, meskipun berusaha menyangkal dengan sangat, namun firasatnya benar-benar terasa begitu buruk, bahkan, tampak dipelipisnya beberapa lelehan keringat dingin.
'Aku berharap itu bukan dia! ' ucapnya dalam hati dengan penuh harap.
,,
Apalah arti mereka semua saat ini baginya, baginya hanyalah sekumpulan serangga yang saling berebut wilayah dan makanan.
Matanya terpejam tipis, mendengar alunan musik yang tengah ia mainkan sendiri dari seruling yang digenggamnya.
Namun tak berselang lama kemudian, dihadapanya muncul sebuah tombak cahaya yang amat sangat besar dari bentuk standartnya.
Seiring kedatangan energi suci yang ternoda itu, mantan ras Shinobi dari Elemental nation tersebut membuka matanya pelan, melihat bagaimana tombak raksasa itu hendak menenggelamkannya dalam hitungan 1 detik saja.
Tanpa terpengaruh sedikitpun, pemuda itu tetap melanjutkan lagunya, sorot matanya perlahan meredup hingga terpejam kembali.
Energi hitam yang beterbangan diudara itu langsung melesat untuk menghantam tombak cahaya yang sebentar lagi mengenai tuanya.
Blaaaaaaaaarrrrrrrrr!
Tombak cahaya itu meledak bagaikan kembang api, percikanya seolah menjadi hujan dimalam yang kian terasa suram.
Kokabiel memandang hal itu dalam diam, 'tidak salah lagi, dia yang waktu itu! ' gumamnya dalam hati, entah apa yang kini ia rasakan setelah sadar jika tamu yang tak diundang itu adalah sang Legenda Great War.
Sang pendosa besar.
Para kaum muda yang melihat hal itu hanya bisa terperangah sembari menahan nafas, menyaksikan bagaimana tombak cahaya yang bisa mereka katakan raksasa itu hancur ketika dihantam beberapa energi hitam yang beterbangan diudara.
Itu jelas bukan level mereka.
Azazel seolah mengehela nafas sesak, kini ia yakin siapa yang datang, seseorang yang baru saja menjadi topik pembahasan dalam rapat, kini mendadak muncul memberikan kejutan.
'Ramiel, Bellial, sang Executor telah kembali dihadapanku saat ini, dan kalian pasti sedang tertawa melihatku harus menghadapi monster mengerikan ini lagi ' racaunya tanpa sadar, pandangan matanya kosong penuh akan ketidakberdayaan.
Sirzech tampak memandang sosok yang berada dikejauhan itu dengan intens, baginya ini adalah pertemuan yang pertama.
'Itukah sang Legenda Great War,,, -
,,-sang pendosa besar? ' gumamnya dalam hati, dan sejujurnya jiwa bertarungnya terasa bergemuruh, ingin melihat seberapa kuat sosok yang dikeramatkan itu, sosok yang hampir membuat kaum tiga fraxsi akhirat diambang kepunahan.
..
Tak ada yang bisa memastikan sejauh mana kekuatanya, karena bagaimanapun ia adalah existensi yang telah jauh melampaui batas, menolak kehidupan dan kematian, bahkan ruang dan waktu seolah berada digenggamanya.
Usai menyuarakan irama kematian lewat sepucuk bambu kering, mantan Ras Shinobi itu menatap kumpulan mamalia dihadapanya dengan datar, pertanyaanya apakah ia harus berperang saat ini juga.
Tidak-tidak, menurutnya ini masihlah belum waktu yang tepat, karena bagaimanapun ia ingin seluruh penghuni dimensi ini berada disatu tempat,, sama seperti ketika perang dunia Shinobi ke-empat dimasa lalu.
Wussssssssshhhhh
Blarrrrrrrrrr!
Dari pucuk menara itu, ia melompat tinggi lalu menghempaskan tubuhnya kebawah dengan kencang.
Lantai beton tempat ia berpijak tampak hancur dalam sekejab, bukan karena berat badanya yang menjadi penyebab, melainkan beban kekuatan yang terlampau besar yang menyebabkan lapangan Akademi Kuoh itu retak kesana kemari.
Dan ia menempatkan diri ditengah-tengah kerumunan penyihir yang tengah berperang dengan makhluk supranatural dari pihak tiga Fraxsi.
Semuanya menyingkir jauh ketika hempasan yang cukup kuat menerpa mereka barusan. Insting mereka merasakan firasat yang cukup buruk dengan kedatangan sosok tersebut. Meskipun kebanyakan dari mereka tak mengenal siapa yang datang ini.
Seperti sebelumnya tak ada aura apapun yang mereka rasakan dari sosok bersurai emas tersebut, hanya terasa sesuatu yang sangat tidak mengenakkan.
"Siapa kau brengsek? " tanya seorang penyihir dengan emosi.
Satu pertanyaan terlarang muncul ketika ia baru saja menapakkan kakinya.
Naruto merespon dengan menggerakkan kepalanya kekiri, menatap asal suara barusan dengan santai.
Lalu menodongkan telapak tangan kirinya.
Banso Tein
Sreeeetttt
"Eeeeeeeehhh!"
Greeeepppp
Tanpa banyak bicara Naruto menyeret penyihir berstatus manusia sesat itu kedalam genggamanya.
"Arrrrrgghh! Brengsek apa yang kau lakukan pada,,, -Arggghh "
'Heeeemm! Tak kusangka anak dari Satan itu bisa sejauh ini, keh mengumpulkan pasukan untuk mencari Kadal hitam yang tersegel ' ucapnya dalam hati ketika ia memindai ingatan penyihir tersebut, informasi yang cukup menarik, namun tetap saja, itu semua percuma saja baginya.
Pada saat itu juga kerumunanan tersebut melebarkan matanya tatkala melihat pendar hijau yang dipaksa keluar dari tubuh penyihir itu, meninggalkan raga yang kering dengan tulang yang berbalutkan kulit.
Brukkkkk
Tubuh itu terhempas ketanah tanpa nyawa, menerbangkan debu kecil sebagai pengantar kematiannya.
Glekkkk
'Barusan itu,, a-apakah dia baru saja menarik Roh nya? ' apa yang mereka saksikan barusan bukanlah hal yang lumrah, seaneh dan semustahil apapun dunia yang mereka tinggali ini, tetap saja hal itu terlihat seperti sebuah ketidakmungkinan.
Azazel tercengang kembali dengan pemandangan itu, ia mengerti betul dengan apa yang baru saja ia saksikan, dimana ketika kepalanya dulu dicengkram, nyawanya seolah berontak untuk pergi. Ditarik paksa untuk menemui kematian.
"Kalian lihat itu,, hal yang sama pernah terjadi dan nyaris menghilangkan nyawaku jika saja waktu itu Bellial tidak menyelamatkanku "
Semua mata memandang Datenshi berambut aneh tersebut, apa yang mereka fikirkan adalah bahkan untuk sekaliber Gubernur malaikat jatuh yang mungkin menurut mereka kekuatanya jauh diatas rata-rata hampir tewas dengan cara yang sama seperti barusan. Itu sudah cukup bagi mereka untuk mengerti seberbahaya apa pendosa itu.
Wadah dari Kaisar naga Syurgawi aka Ndraig itu meneguk ludahnya kasar, sungguh ia menyesali pilihanya untuk bergabung dengan perkumpulan mengerikan ini, terlalu cepat baginya untuk memahami segala sesuatu yang saat ini terjadi.
Wuuuuuuuusssshhhhh
Dengan cepat Raja Iblis bergelar Lucifer aka Sirzech Gremory melesat kearah dimana tamu tak diundang itu berada, baginya ini adalah kesempatan untuk bertarung dengan sang Legenda.
Deg
"Hentikan Sirzech! " teriak Azazel dengan keras saat melihat Sirzech yang bertindak gegabah.
"Kalian semua tetap ditempat, jangan ada yang bergerak,, dan lindungi diri kalian sebaik mungkin, aku merasakan firasat buruk dengan kedatanganya " perintahnya kemudian, lalu ia melirikkan matanya kearah sang pemimpin Tenshi, Michael.
"Aku mengerti "
"Michael-ni? "
"Kau disini saja Gabriel, kau harus menjaga para generasi muda ini, biar kami berdua yang akan menemani Sirzech-dono "
"Apa yang dikatakan Michael benar Gabriel, sebaiknya kau tetap disini bersama dengan yang lainya, cukup aku dan Michael yang menyusul Sirzech " imbuh Azazel kemudian.
Gabriel hanya diam tak menjawab, namun ia menundukkan kepalanya.
Wussssshhhh
Keduanya lekas mengepakan sayapnya masing-masing,, hitam dan putih, Tenshi dan Datenshi.
Wuuuushhhhh
Tappppp
Raja Iblis berambut merah itu berpijak 10 meter dihadapan sang pendosa.
Tak ada raut wajah gentar barang sedikitpun.
"Sebuah kehormatan bagiku bisa berdiri dihadapan sang Legenda Great War " ucap Sirzech mengawali pembicaraan. Sedikit senyum ia sunggingkan.
Entah ucapan itu merupakan sambutan berupa pujian ataupun sindiran ia tak terlalu peduli, tapi ia merasakan Iblis dihadapanya ini cukup kuat untuk bertarung beberapa menit denganya.
Taaaappp
Tapppppp
Tak memerlukan waktu lama bagi Azazel dan Michael untuk mencapai tempat yang mereka pijaki sekarang.
Tiga pemimpin Fraksi Akhirat tersebut berdiri sejajar, menatap seorang pemuda bersurai emas yang hanya diam dengan pandangan kosongnya.
Tapppp
Namun tiba-tiba datang lagi sosok yang tidak diperkirakan, itu adalah Kokaibel, menapakkan kakinya beberapa meter disisi sang Gubernur Datenshi.
"Kokabiel? " seru Azazel kemudian.
"Diamlah,, kurasa semua hal yang kurencanakan akan berubah karena kedatangan orang ini " jawab Kokabiel datar.
Beberapa detik Azazel terdiam mendengar jawaban dari Kokabiel barusan, lalu ia mengangguk kecil, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal lain mengingat ada hal yang jauh lebih penting.
"Sudah sekian lama aku mencarimu? " lanjut Kokabiel kemudian.
Naruto menggeser pandanganya kearah mantan Jenderal Malaikat jatuh bersayap lima pasang tersebut.
"Kau marah karena aku menjadi penyebab kematian tuhan kalian? " jawab Naruto tanpa merasa terintimidasi sekalipun.
Mendengar hal itu beberapa existensi ditempat tersebut menunjukkan Ekspresi terkejut, bahkan itu berlaku untuk sang Raja Iblis bersurai merah.
"Karena kehancuran yang telah kau ciptakan, Ayah harus mengorbankan diri untuk menata ulang kembali dunia ini " lanjut Kokaibel dengan amarah yang coba ia sembunyikan.
Benar-benar bodoh, rupanya makhluk-makhluk bersayap dihadapannya ini memiliki persepsi yang salah, mereka tidak sadar dengan apa yang sudah mereka ucapkan barusan.
"Khekhekhee,,, seharusnya kau berterimakasih padaku karena dengan senang hati membereskan kekacauan yang kalian tiga fraxsi mulai, perselisihan kalian menciptakan badai besar diseluruh dunia, jika bukan karena aku, kalian akan terus saling membunuh satu sama lain hingga detik ini "
"Cih! Jika bukan karena kau, mungkin pihak kami akan memenangkan perang waktu itu, dan sudah tak ada lagi Iblis didunia ini " jawab Kokaibel emosi.
Mendengar kaumnya direndahkan Sirzech merasa sedikit geram dengan Kokaibel, namun ia berusaha tenang.
"Aku tak yakin kaummu bisa menumbangkan Satan-sama, jadi jangan terlalu percaya diri dengan persepsimu pribadi " sindir Sirzech kemudian.
Alis Kokabiel berkedut kesal dengan sindiran barusan, mungkin ucapan itu benar adanya, karena ia tahu bagaimana kekuatan Lucifer yang dikutuk atas nama Satan.
"Kalian berdua diam dan waspadalah, ada hal yang lebih penting dari pada ucapan bodoh kalian barusan " sergah Azazel serius,,
Michael menatap pemuda itu penuh tanda tanya, mungkinkah hari itu telah benar-benar tiba, ia teringat akan ucapan sang pencipta kala itu, lalu apa yang harus ia lakukan, tak mungkin pula untuk mengingkari takdir.
Dengan angkuhnya pemuda itu bersidekap dada, menatap empat superior dari pihak tiga fraxsi Akhirat yang menghadang jalanya.
"Aku rasa kalian harus mencari Aliansi yang jauh lebih besar dari apa yang kalian miliki saat ini, dan tentunya jauh lebih kuat, kau tahu aku bisa memusnahkan kalian semua dalam hitungan detik dengan hanya satu serangan tunggal saja " ucapan bernada sombong itu terlontar dari bibir pemuda berumur entah berapa ratus atau bahkan ribuan tahun itu.
"Jika kau bisa melakukanya mengapa tidak kau lakukan saat ini juga, bukankah itu akan menyelesaikan apa tujuan hidupmu? " balas Sirzech yang merasa begitu diremehkan.
"Itu bukanlah gayaku Iblis, aku lebih suka menghabisi kalian dengan tanganku sendiri " jawab Naruto tenang! Mencoba memprovokasinya adalah hal yang percuma, mengingat betapa keras dan besar pengalaman hidup dimasa lalunya.
"Kau, apa yang sebenarnya kau inginkan ha? " ucap Azazel penuh emosi, bagaimanapun orang dihadapannya ini tak sedikitpun menghargai arti dari nyawa dan kehidupan.
"Kau tak seharusnya menanyakannya, aku hanya melakukan apa yang sudah ditakdirkan untukku " tegas Naruto dengan santai.
"Dan kau tahu sendiri apa yang bisa kulakukan waktu itu,, jika kau berfikir perkumpulan kecil kalian ini bisa menghentikanku,,,,
,,,-maka kau salah besar "
Katon : ,,,,,
Gouka,,,,
,,,,,,,Mekkiaku
Wusssshhhhhhhh
Gelombang kobaran api dihempaskan pemuda itu melalui mulutnya kearah dimana empat superior tiga fraxsi itu berdiri.
Serangan mendadak itu membuat empat lawanya melebarkan mata, dalam jarak 10 meter tentu saja membutuhkan kecepatan diatas rata-rata untuk melarikan diri dari gelombang api tersebut.
Blaaaaaaarrrrrrrr
Semua yang dilalui terbakar dengan sangat ganas, hingga akhirnya Jutsu yang pertama kali ditunjukan oleh Legenda Uchiha Madara itu menghantam gedung Akademi lantai paling dasar.
Semua yang hadir ditempat itu hanya bisa melotot horor melihat bagaimana mudahnya pemuda itu dalam sekejab mengeluarkan elemen Api dalam jumlah yang terlampau gila menurut mereka.
"I-itu sangat mengerikan " racau seorang Iblis yang tubuhnya nampak gemetar, keringat didahinya langsung meleleh dalam sekejab, merasakan hawa panas yang mulai mengisi ruang lingkup Akademi tersebut.
"Tenangkan dirimu Saji, ini bukan saatnya untuk manakuti kekuatan lawan " ucap seorang Iblis perempuan dengan nada khas datarnya.
"A-aku mengerti Kaichou,, " rupanya teguran itu diberikan oleh sang ketua, yakni Sona Sitri.
..
[KAU LIHAT ITU VALI? MAKHLUK ITU, DIA ADALAH SEBUAH KEMUSTAHILAN YANG PERNAH ADA]
'Kau benar Albion, tidak heran jika ia mampu membuat kaum tiga fraxsi Akhirat diambang kepunahan ' balas Vali kemudian, dalam hati ia merasa kagum dengan apa yang dilihatnya barusan, benar-benar sesuatu yang sangat mengesankan menurutnya.
[JIKA BUKAN KARENA DIA YANG MEMBUNUHKU, MUNGKIN AKU AKAN MENGAGUMINYA SAMA SEPERTIMU, VALI] ' tukas Albion yang menyadari isi hati Host-nya tersebut.
..
[KAU BOCAH MESUM]
Pemuda bersurai coklat itu mengernyitkan alisnya bingung, perasaan ada yang baru saja mengatainya bocah mesum, dan itu ia rasakan difikiranya yang seolah terngiang.
"Siapa itu? " jawabnya sembari menoleh kekanan dan kekiri untuk memastikan keberadaan si pemanggil.
[KAU TAK PERLU MENCARIKU KARENA AKU ADA DALAM DIRIMU BODOH] ' suara itu kembali lagi.
Pemuda mesum itu nampak sangat terkejut ketika mendengar ucapan itu kembali yang mengatakan keberadaanya ada didalam dirinya saat ini.
"Si-siapa kau? " tanya Hyoudo Issei takut-takut.
[CIH! AKU ADALAH KAISAR NAGA MERAH SYURGAWI, KAU BISA MEMANGGILKU NDRAIG]
Degg
"Ja-jadi? "
[KAU BENAR, AKULAH SECRED GEAR YANG TERSEGEL DALAM DIRIMU]
"Eemmm,, ba-bagaimana bisa kau tersegel didalam diriku, Ndraig? " tanya Issei dengan kepolosanya.
[PERTANYAAN BODOH, KAU TAK TAHU APA-APA DENGAN KEHIDUPAN INI, KAU LIHAT PEMUDA ITU ]
"Ma-maksudmu yang barusan menyemburkan api seperti naga itu? "
[KAU BENAR, PEMUDA ITU, DIA ADALAH HAL TERBURUK YANG PERNAH ADA DIDUNIA INI, DAN DIA JUGA YANG SUDAH MEMBUNUHKU BESERTA RIVALKU ALBION]
Degggg
Jantung dari pemuda mesum itu seolah hendak copot saat mendengar ucapan dari Naga merah yang menghuni alam bawah sadarnya itu.
"A-aku menyesal harus terlibat dengan semua hal ini, aku hanya ingin hidup tenang dengan beberapa perempuan cantik nantinya " racau Issei didalam ketakutanya.
Mendengar ucapan itu membuat Ndraig serasa ingin memakan hidup-hidup Host-nya tersebut, tingkat kemesumnya sudah pada tahap stadium akhir yang sudah mustahil untuk disembuhkan.
'[KAMI-SAMA, MUNGKIN ALBION KALI INI LEBIH BERUNTUNG DARIKU]
..
..
Naruto memandang hasil perbuatanya tanpa exspresi, tatapan yang semula lurus kedepan itu bergerak keatas, tepatnya lantai dua.
Ia menemukan beberapa bocah yang kapan hari dirinya temui sewaktu konflik di Kyoto, tapi bukan itu yang sedang ia coba temukan.
'Gabriel,, ' gumamnya dalam hati saat ia melihat sosok perempuan yang begitu familiar baginya.
Tanpa siapapun menyadari keduanya saling bertemu mata, memandang dalam-dalam penuh arti.
Wajah dari Seraph Syurga bersayap enam pasang itu tampak sendu, seolah merasa iba dengan apa yang dilihatnya.
'Siapa kau sebenarnya pemuda-kun, yang kuingat dirimu hanyalah seorang pendosa '
Melihat wajah cantik itu murung dan sedih, jujur membuatnya merasa sangat bersalah, namun apa daya, dunia mereka berdua sangat jauh berbeda, jalanya adalah kegelapan.
'Tetaplah seperti ini, jangan pernah coba kau ingat apa yang pernah kuhapuskan waktu itu ' katanya dalam hati, ia hanya berharap Gabriel tidak pernah menemukan kebenaran tentangnya.
Wushhhhhh
Bruaaaaaaaaakkkkkk
Akibat lamunanya yang khusu', dalam sekejab Naruto terhantam sebuah pukulan yang sangat keras penuh dengan Aura dan tenaga.
Itu adalah Power of Destruction yang diaplikasikan dalam kekuatan pukulan, tentu saja penggunanya adalah Maou Lucifer dari Klan Gremory.
Tubuhnya terpelanting kekiri akibat kehilangan keseimbangan. Dalam kondisi tersebut Naruto bermanuver salto untuk menyeimbangkan kembali posisinya yang hendak jatuh.
Debbb
Rahang kokohnya nampak bergeser seusai mendapat pukulan super telak barusan. Tapi itu bukanlah sesuatu yang bisa membunuhnya.
Kreteeekkkk
Lengan kirinya menghentakkan rahangnya kembali sedia kala.
"Pukulan yang sangat bagus,, Lucifer " ucapnya dengan sedikit senyum.
Sirzech yang melihat usahanya barusan tak memiliki efek yang berarti hanya bisa terdiam sembari mengamati dengan teliti keadaan lawanya.
'Aku yakin jika pukulan itu bisa membunuh siapapun, tapi dia? '
Lalu tiba-tiba saja Sirzech terkejut saat sesuatu seperti sebuah hologram serasa bergerak disampingnya.
Degggg
'A-apa? ' dalam hatinya tak percaya, dalam sekejab pemuda itu nampak berdiri berlawanan arah disampingnya.
"Kau barusan pasti sudah mati jika aku datang dengan niat membunuh " ucap Naruto datar
Wusssshhhh.
Sirzech lekas meloncat keudara sembari membentangkan sayap Iblisnya untuk terbang menjauh.
Dirinya benar-benar harus terkejut dengan kecepatan pemuda tersebut, baginya itu adalah kecepatan yang diluar perkiraannya.
'Aku harus berhati-hati, dia bisa membunuh siapapun dengan cepat melihat pergerakannya barusan ' fikir Sirzech serius, ia mulai sadar jika diawal tadi dirinya amat ceroboh, bergerak tanpa perencanaan yang matang.
..
'Nii-sama,, ' Ruin Princess dari Klan Gremory itu menatap khawatir kakaknya yang kini sedang melayang diudara kosong, ia melihat bahkan kakaknya sekalipun tampak begitu kesulitan untuk menghadapi pemuda berambut pirang keemasan tersebut.
,,
Naruto kembali menyidekapkan kedua lengannya didepan dada, menunjukkan bahwa ia bukanlah petarung amatiran.
Ia hanya sedang bermain-main, melihat sejauh mana perkumpulan fraxsi bodoh ini mampu memberikan perlawanan.
'Jika cucu dari Rizevim adalah Host dari si putih, aku yakin ada salah satu diantara mereka yang menjadi Host untuk si merah ' fikir Naruto kemudian.
Kemudian ia memicing tajam kepada seorang pemuda bersurai coklat yang tengah mengacak-acak rambutnya frustasi tak jauh dari kerumunan Iblis Klan Gremory.
'Hooo,, bocah itu rupanya? ' lanjut Naruto dalam hati.
'Sepertinya memang percuma jika aku menghabisi mereka semua saat ini, mereka masih jauh dibawah exspetasiku" lanjutnya lemas, dia berexspetasi agar orang-orang ini cukup kuat untuk bertahan melawanya.
Tap
"Sudah cukup! Kumohon hentikan semua ini "
Pemuda itu tersadar ketika sebuah suara menginterupsinya untuk berhenti, dan ia kenal suara tersebut.
"Apa yang kau lakukan Gabriel,, cepat menyingkir dari tempat itu " Azazel berucap lantang ketika melihat Gabriel tiba-tiba saja datang dan berdiri cukup dekat dengan pemuda itu.
Seolah tuli, Gabriel tak mengindahkan peringatan yang barusan mengisi pendengarannya.
Pemuda yang dalam normalnya berumur kisaran 27 tahun itu diam, selalu saja ada drama yang menghampiri, tidak dimanapun ia berada, seolah berusaha menaklukkan keteguhan hatinya yang telah mengubur semua rasa yang dimiliki.
Lagi dan lagi, Archangel surga ini menjadi titik balik yang selalu menghadang langkahnya.
'Hah! Sekarang aku sadar betapa rumit dunia ini, bukan begitu,,, Jiraiya-sensei? ' katanya dalam batin, memandang langit malam dimana ribuan burung gagak bertebaran seram, sorot matanya sayu mengisyaratkan jika tubuh itu benar-benar lelah dan ringkih.
Lelah dalam artian muak.
Ringkih dalam artian bosan dan jengah.
"Apa lagi maumu,,, Gabriel? " tanyanya tanpa menoleh kearah Archangel surga tersebut.
Archangel bersurai emas itu menunduk sedih, memikirkan semua hal yang terjadi sejauh ini membuatnya sadar jika pemuda dihadapannya benar-benar akan melakukan hal yang sama seperti dimasa lalu.
"Jika nyawaku bisa menggantikan kehidupan dari mereka semua yang tak berdosa, kau bisa membunuhku saat ini juga,, pemuda-kun! "
Berbagai macam exspresi muncul saat Gabriel berujar demikian. Apa maksud perkataanya barusan? Mengorbankan diri kah?
'Gabriel,, apa yang sebenarnya ingin kau lakukan! ' fikir Michael kemudian.
'Ada yang aneh,, sepertinya mereka berdua terlihat saling mengenal satu sama lain! ' Azazel mengamati dua insan tersebut, dimana ia melihat betapa nanar dan sedih wajah dari Gabriel, sedangkan pemuda itu terlihat menyembunyikan exspresinya dengan baik, atau memang pemuda itu tak bisa mengekspresikan diri lagi. Begitulah yang terlihat dimatanya.
.
Sedangkan Naruto, dia tak bergeming, Archangel yang satu ini benar-benar memiliki hati yang begitu putih, tak ada sedikitpun noda hitam dalam dirinya.
Namun hal itu tak akan mampu meruntuhkan niatnya yang sudah tersegel, jika seandainya gadis ini mengingat semua tentangnya, jika saja gadis ini tahu tentang segalanya, mungkin tak akan begini ceritanya.
"Lalu apa yang harus kukatakan kepada tuhanmu nanti? " jawab Naruto lirih! Seolah ucapanya hanyalah gumaman samar yang sukar untuk didengar.
Deg
Jawaban itu serasa menyengat hatinya dalam sekejab. Apa yang harus dikatakannya kepada Tuhan?
"A-apa maksudmu ? " tanyanya penuh harap.
"Kalian makhluk Supranatural terlalu bodoh jika berfikir Tuhan telah mati ! "
Seperti permainan psykologis, pemuda itu memainkan perkataan yang begitu rumit, namun menekan syaraf pendengar untuk terus berfikir keras.
Bahkan untuk para malaikat sekalipun, mereka terlihat kebingungan. Tak terkecuali Michael.
..
"Sepertinya sudah cukup aku mengganggu pesta kalian semua, sampai jumpa lagi dilain waktu,,,
"Ah! Jika aku boleh memberi saran, kalian sebaiknya beraliansi dengan para Dewa dari beberapa atau bahkan semua Mitologi didunia ini "
"jika tidak,,,
Deggggggg
Sebuah tekanan energi mengerikan tiba-tiba saja menyeruak dari tubuh pemuda yang semula tak bisa dirasakan auranya.
Bruk
Bruk
Brukk
Dalam hitungan detik semua yang bernyawa ditempat itu mulai terjatuh dan kehilangan kesadaranya, dan bagi mereka yang memiliki energi diatas rata-rata merasa sangat tersiksa,, mereka semua berlutut dalam kepayahan, keringat mengucur deras, bola mata tampak seperti hendak lepas dari rongganya.
Killing Intens,,, pemuda pirang itu selalu menunjukkannya disetiap kesempatan, hal itu ia lakukan untuk melihat sampai dimana batas kemampuan lawan-lawanya, karena dengan itu ia bisa memastikan layak tidaknya mereka.
"Mu-mustahil,, tekanan energi ini,, sa-sangat mengerikan! " Maou Lucifer aka Sirzech tak bisa menggambarkan lagi betapa kelam dan besar tekanan energi makhluk ini.
Dalam matanya ia melihat betapa sombong dan angkuh pemuda itu, berdiri tegak sembari bersidekap dada, seolah menatap mereka dengan sangat rendah dan hina.
'Ke-keparattt! ' makinya dalam hati, ia benar-benar tak percaya hanya dengan sebuah tekanan energi mampu membuat sosok bergelar Raja Iblis sepertinya jatuh berlutut.
'D-dia benar-benar sebuah bencana ! ' tak ingin ketinggalan, Azazel hanya bisa merutuki keadaan, berapa kalipun ia menyaksikan kekuatan pemuda itu, tak hentinya membuat ia terkejut, bahkan ini lebih mengerikan dari pada dulu sewaktu Great War.
,,
"Khekhekhe,,,, kalian lihat? Ini hanyalah sebagian kecil dari apa yang aku miliki,,, dan kalian sudah tak sanggup untuk menopang diri, betapa menyedihkannya! " kekeh Naruto kemudian, sungguh pemandangan yang Indah saat menyaksikan tubuh-tubuh yang tergeletak disegala sudut tempat, apalagi jika berhiaskan darah disekujur tubuh mereka,, itu akan menjadi pemandangan yang sempurna.
"Aku harap dengan pertemuan singkat ini bisa memberikan kalian gambaran apa yang akan kalian semua hadapi dimasa depan,, pastikan kalian semua bertambah kuat jika tak ingin semuanya berakhir dengan singkat,,,
,, jaa ne minna " ucapnya sembari melambaikan tangan.
Konyol memang, tapi begitulah dirinya.
Sesuatu yang tidak bisa ditebak.
Tap
Tap
Naruto berbalik arah dan mulai berjalan menjauh, meninggalkan kesunyian yang mencekam akibat ulahnya barusan.
Bruak
Bruak
Sesekali ia menendang tubuh-tubuh yang tergeletak itu bagaikan sebuah kerikil.
Tak ada rasa peduli.
Tak ada rasa iba.
Dan tak ada sedikitpun rasa sesal dalam hatinya.
Hancur, Kuoh Academy Highschool telah hancur dalam sekejab mata, tekanan energi dari seorang pendosa besar telah meleburkan unsur dan materi kehidupan.
Hal itu pasti akan membuat kaum tiga fraksi kelimpungan mengingat Academy tersebut merupakan markas mereka, meskipun begitu tetap saja gedung yang hancur ini bisa kembali dalam keadaan sedia kala menggunakan sihir pemulihan, tentu saja dibutuhkan mana dan waktu yang cukup besar mengingat gedung Academy tersohor ini lebur total bercampur puing-puing.
Dia,,,
Adalah ketidakmungkinan yang pernah ada.
Mereka yang masih memiliki kesadaran hanya dapat menatap kepergian pemuda itu dalam diam, sungguh pemuda ini tidaklah main-main dengan ucapanya.
"Hanya dengan tekanan energi,, membuat tiga pemimpin Fraksi Akhirat jatuh berlutut, dan hanya dengan tekanan energinya saja, sudah membuat kita tiga fraksi kalah telak " gumam Sirzech tanpa sadar, sungguh ini merupakan penghinaan terbesar.
"Uh,,, tekanan energi yang sangat mengerikan, seperti sebuah neraka yang penuh dengan roh jahat " ucap Azazel kemudian, ini yang kesekian kali baginya.
"Dan dia bilang itu hanyalah sebagian kecil kekuatanya,,, mustahil ! " sambung Michael kemudian, sungguh ia tak habis fikir, sejauh dan sebesar apa kekuatan pemuda yang dulu pernah dilawanya semasa Great War itu.
"Kau lihat itu Sirzech,, sekarang kau tahu alasanku untuk pesimis, makhluk itu, dia telah berada dilevel yang mustahil untuk digapai, sekeras apapun kau coba menyangkalnya" lanjut Azazel sembari memejamkan matanya, mereka semua terlalu percaya diri karena belum mengerti sejauh apa kekuatan pemuda itu.
Disudut lain, Cao-cao masih sanggup untuk sadar, jarinya yang bertumpu pada lantai yang retak, seolah meremasnya, terkejut, tentu saja.
Vali, pemuda berambut perak itu cukup kuat untuk mempertahankan kesadaranya, wajahnya tampak begitu kesal.
'Sialan! Apa-apaan tekanan energi barusan itu, bahkan tiga pemimpin fraxsi tumbang,, aku tak bisa percaya ini ' racaunya dalam ketidakberdayaan, keringatnya seolah mengucur tiada henti.
[TAPI BEGITULAH KENYATAANYA,,, PARTNER, JIKA SAJA AKU TIDAK MELINDUNGIMU DENGAN ENERGIKU, KAU PASTI AKAN JATUH PINGSAN SEPERTI YANG LAINYA!]
'Sial,, sial,, siaallll ' sungguh pemuda berambut perak itu tampak sangat frustasi.
Mungkin itu sedikit gambaran singkat tentang tragedi malam ini.
,,
Sesudah keluar dari gedung Academy tersebut, selubung Kekai yang dibuatnya pudar perlahan, yah,, Barrier camuflase itu adalah perbuatanya sendiri, ia tidaklah bodoh untuk membiarkan energinya menyerang manusia-manusia yang sedang tertidur tanpa tahu apa-apa.
Langkahnya terhenti, kemudian menoleh kebelakang tepat kearah dimana gedung Academy itu berada.
"Adakah dunia dimana tak ada lagi hal seperti ini, tak ada perang, tak ada kekuatan, dan tak ada kerusakan " ucapnya pelan.
Pemikirannya tidaklah naif, karena dengan adanya kekuatan, terciptalah sebuah perang, dari perang sendiri nantinya tercipta sebuah kerusakan.
"Hah! " Naruto menghembuskan nafasnya lelah.
Kembali menatap kedepan, dan melanjutkan kemana langkah kaki akan membawanya, ia hanya makhluk tanpa arah, makhluk yang telah kehilangan segalanya.
Sejauh ini semua jadwalnya telah terselesaikan, tinggal menunggu waktu yang pas untuk exsekusi total, exsekusi tanpa ampun, dan dipenghujung cerita,,
Makhluk-makhluk terkuat akan berkumpul.
Untuk pertarungan yang terakhir.
..
"Astaga,,, aku tak percaya dia benar-benar melakukanya! "
"Yah! Itu sudah menjadi keputusanya Toneri, kita tak memiliki hak untuk melarangnya, sebagai seorang sahabat, aku akan tetap mendukungnya apapun yang terjadi, meski jauh kedasar Neraka sekalipun, aku akan tetap mengikutinya " balas Gaara mengomentari ucapan Toneri yang tampak begitu terkejut melihat perbuatan Naruto.
"Kau benar Gaara, aku bisa melihat dari tatapan matanya, dia terlihat begitu lelah, seolah menyimpan begitu banyak kesedihan" lanjut Toneri kemudian.
"Jika saja mereka tidak mengkhianati Naruto Ni-san, aku yakin hal seperti ini tak akan pernah terjadi " Konohamaru berucap lirih, membayangkan kejadian masa lalu yang menjadi pemicu Sensei nya tenggelam pada kegelapan.
Ketiga Chibunshin Ras Shinobi itu mengamati jalanya cerita dari kejauhan, melihat dengan sendiri bagaimana seorang Naruto memberikan ultimatum kepada pihak empat Fraksi.
"Seandainya waktu itu aku datang lebih cepat, mungkin aku akan melihat bagaimana kaum Shinobi dihancurkanya " ucap Toneri sembari menerawang jauh kelangit.
"Toneri, sepertinya keberadaan kita disini sudah cukup, tak ada alasan lagi untuk tinggal disini "
"Sepertinya memang begitu, lebih baik kita akhiri saja keberadaan kita ditengah-tengah empat fraksi "
..
..
Skiptime.
Malam kelam itu telah berlalu, tergantikan cahaya pagi yang menyegarkan, kicauan burung terdengar merdu saling bersahutan, dedaunan penuh akan bintik-bintik cairan embun.
Dan perlahan,, jalanan kota kuoh mulai dipadati kembali oleh berbagai macam kendaraan bermotor, dipenuhi oleh makhluk berbagai jenis yang membaur satu sama lain.
Kala itu terlihat tokoh utama kita sedang berjalan dipinggiran trotoar, berjalan layaknya manusia pada umumnya.
Ia berhenti tatkala melihat toko pakaian dari luar kaca, dalam pandangannya ia melihat berbagai macam model pakaian zaman modern,, kemudian melihat model pakaian yang sedang ia kenakan.
'Pantas saja! Jubah hitam ini terlalu mencolok untuk pakaian zaman sekarang ' ucapanya terdengar polos, seolah menertawakan kebodohanya sendiri.
"Hah! Mungkin aku harus mencobanya " lanjutnya kemudian!
Krieeeet
Naruto memasuki toko pakaian tersebut dengan santai, meskipun mendapat tatapan aneh dari para pekerja tempat tersebut, namun mereka tetap berusaha menyambutnya dengan ramah.
Pemuda itu berkeliling, mencari pakaian sederhana yang sekiranya cocok untuknya, dan entah disengaja atau tidak, ia malah tersesat ditempat pakaian dalam perempuan.
Dan dengan bodohnya Naruto mengamati model-model pakaian dalam itu satu persatu,, beberapa customer perempuan ditempat itu tampak malu ketika melihat pemuda tersebut mengamati warna warni pakaian dalam.
"Kau lebih cocok dengan warna merah itu,, nona " ucap Naruto datar namun terdengar polos.
"Heh! Begitukah, tapi aku juga suka yang warna putih ini " jawab perempuan tersebut sembari menunjukkan BH warna putih ditangan kirinya tanpa sadar.
"Beli saja keduanya, bukankah itu lebih mudah, " jawab Naruto sembari melanjutkan jalanya.
"Ah souka! Ee-eeeeeehh,,, " dirinya baru sadar jika sedang berbicara dengan seorang laki-laki tentang BH yang akan dibelinya, wajahnya merah total karena malu.
"Pemuda mesuuuuuuuuummm" teriak perempuan tersebut.
Naruto hanya berlalu tanpa dosa, mengabaikan teriakan dari perempuan barusan sembari mengibas-ngibaskan lenganya keudara, dan menuju lokasi dimana pakaian yang terlihat cocok denganya berada.
Singkatnya pemuda itu memilih sepasang pakaian, bawahan berupa celana tactical camuflase gurung pasir, dengan sebuah kaos hitam ketat, tak lupa ia memilih sebuah jaket guna menutupi kedua lenganya, lengan kanan yang terlilit sebuah perban, dengan lengan kiri yang hampir dipenuhi tanda segel.
Hal itu juga berlaku untuk sepatu, Naruto memilih sepasang sepatu boot kulit berwarna coklat, senada dengan celana yang dikenakanya.
Kemudian lekas menuju kasir,, untuk melakukan pembayaran menggunakan sebuah genjutsu, yah! Ia tak memiliki sepeserpun uang. Tentu saja.
Simple bukan, ketika sudah selesai naruto lekas menuju ruang ganti, dan keluar dengan penampilan baru dimana ia terlihat seperti manusia zaman modern.
Tak ada yang tahu,,, bahwasanya ia adalah petaka dunia.
Tap
Tap
Usai dari toko pakaian, ia kembali menghabiskan waktunya dengan menyusuri jalanan kota Kuoh.
Menyaksikan hiruk pikuk dunia zaman modern, tak ada yang lepas dari pengawasanya, Iblis, Malaikat, Malaikat jatuh, Youkai, Vampire, mereka semua saling membaur dengan manusia, memerankan hidup mereka sebaik mungkin.
Dan ia tak peduli dengan itu, terkecuali mereka mengusiknya, jangan harap ada kata ampun.
"A-ano,, maaf tuan " tiba-tiba saja seorang perempuan menyapanya dengan nada terbata.
Naruto terhenti sejenak, menoleh kesamping kanan dimana terlihat sosok perempuan tengah menggandeng anak perempuan.
"Ya, ada apa? " tanya Naruto kemudian.
Perempuan itu terlihat ragu-ragu, entah apa yang ingin dikatakannya.
"Eeeem,,, kalo boleh tahu apakah anda adalah orang yang waktu itu, orang yang telah menyelamatkanku? " tanya perempuan tersebut setelah memberanikan diri. Ia sekilas mengingat rupa sipenyelamat malam itu meskipun terasa samar.
Naruto mengamati sejenak perempuan tersebut, sesekali ia melihat gadis kecil disampingnya.
"Yah, kurasa memang begitu " jawab Naruto apa adanya, ia juga masih mengingat wajah perempuan tersebut beserta gadis kecil disampingnya.
Mendapati jawaban barusan membuat raut wajah perempuan tersebut seakan tersirat kebahagiaan yang besar.
"Yokatta,,, " perempuan itu nampak bersukur dengan wajah gembira bercampur haru. Sedangkan gadis kecil itu menatap polos ibunya.
Naruto hanya diam, entah bagaimana ia malah bertemu dengan perempuan yang malam itu ia selamatkan dengan mengembalikan nyawanya dari kematian.
"Saya ingin mengucapkan terimakasih banyak kepada anda tuan, terimakasih sudah menyelamatkan kami berdua waktu itu, " ucap perempuan tersebut sembari membungkukkan badanya hormat, anak gadisnya yang masih polos itupun ikut membungkuk mengikuti ibunya.
"Anggap saja itu keberuntungan bagi kalian " jawab Naruto singkat, entah ia harus berkata apa. Karena ia tak mampu lagi menunjukkan sikap dalam situasi seperti ini.
"Hai,, semoga Tuhan selalu melindungi anda, Arigatou Gozaimasu!" perempuan tersebut berucap sembari menegakkan kembali badanya. Namun,,,
"Ale,,, kemana perginya paman tadi mama? " gadis kecil itu kebingungan mendapati pemuda pirang itu tidak lagi berada dihadapannya.
Sang ibu hanya tersenyum menanggapi pertanyaan putrinya tersebut.
"Ne megan-chan, paman tadi adalah Dewa penyelamat kita, jadi,, jangan pernah lupakan kebaikan yang pernah paman tadi berikan kepada kita "
"Hai,, aku mengerti mama! " gadis kecil itu tersenyum ceria, karena samar-samar ia mengingat kejadian malam itu dimana dirinya diselamatkan oleh seseorang.
'Arigatou tuan,, terimakasih sudah memberiku kesempatan untuk hidup kembali ' ucap perempuan tersebut dalam hati, ia tak terkejut dengan kepergian pemuda tersebut secara mendadak, karena ia tahu pemuda itu bukanlah manusia biasa.
..
Dari kejauhan Naruto mengamati perempuan tersebut, tatapanya kosong tanpa arti, kebaikan yang ia lakukan telah memberikan kebahagiaan yang begitu besar.
Memberikan harapan baru yang cerah.
Namun semua itu hanyalah sebagian kecil dari sistem dunia.
Karena tak semua kebaikan akan mendapatkan balasan yang baik pula.
Ia sendiri adalah contoh dari kemalangan tersebut, kebaikan yang bahkan tak terhitung ia berikan, hanyalah kesengsaraan pedih yang ia dapat sebagai balasan.
Bukan maksud hati mengharapkan imbalan, namun setidaknya mereka bisa menghargai dengan tulus.
Karena sejujurnya itu sudahlah lebih dari cukup untuknya.
..
..
End.
Flashback.
..
..
Blaaaaaaaaaaarrrrrrrrr
Murka sang Dewa petir telah mencapai titik dimana raunganya mampu mendatangkan badai bercampur gemuruh petir diangkasa langit.
Siapapun yang berani bermain-main denganya akan mati.
Itulah yang diketahui dunia tentangnya.
Dengan membabi buta Zeus membombardir pemuda Uzumaki itu dengan ganas, setiap hantamanya seolah mendatangkan gempa bumi dibelahan bumi.
Dengan insting seorang Veteran perang, Naruto menyambut amarah sang Dewa dengan senang hati, sejauh yang terlihat Naruto hanya terus bertahan untuk menghalau setiap pukulan dari Zeus.
Duaaarrrr
Duarrrrrrr
Setiap pukulanya mampu menghempaskan bebatuan dibelakang Naruto, mengingat Zeus mengerahkan seluruh kemampuan fisiknya untuk menghancurkan pemuda yang telah membuat sekarat putra nya itu.
Kekuatan, kecepatan, disini dipertontonkan tanpa ragu.
Para Dewa Olympus hanya berani mengamati dari jarak yang cukup jauh, tak ada yang berani mengusik pertarungan keduanya.
Disisi lain Ares yang tengah sekarat segera dijemput oleh Dewa lain untuk mendapatkan pertolongan, sungguh mengenaskan nasib dari Dewa perang tersebut.
..
Menyerang membabi buta, namun melepaskan pertahanannya.
Grepppp
Naruto mencengkram muka dari Zeus, dalam timing yang kurang dari satu detik.
Sinra Tensei...
Seketika cengkramannya menghempaskan tekanan kuat yang mementalkan Zeus dalam sekejab sebelum mampu mengelak.
Wuuuuuuuuusssshhhh
Bruuaaaakkkkkkkkkk
Zeus terperosok jauh kedalam sebuah batu raksasa dimana tubuhnya dihempaskan.
Tanpa berbasa-basi, Naruto langsung membidik tempat dimana Zeus terhempas menggunakan satu jari telunjuknya.
Kilatan pendar cahaya berwarna hitam kelam terpancar dari sebuah bola sebesar kelereng yang tercipta dari ujung jarinya.
Cero...
Wusssshhhhhhhh
Blaaaaaaaaaaaaarrrrrrrrrr
Tepat dua detik setelah Zeus terperosok kedalam batu raksasa, ia sudah dijemput sebuah bola energi berkekuatan nuklir.
Para Dewa Olympus menahan nafas tatkala melihat pemimpin Agung mereka mendapatkan serangan telak. Mereka tak ingin berfikir negative terlebih dahulu mengingat Zeus tidaklah selemah itu.
Naruto melihat hasil perbuatanya dengan datar tanpa exspresi.
Namun tiba-tiba saja tempat dimana ia berada menjadi gelap seolah tertutup bayang-bayang mendung.
'Apa ini? ' fikirnya dalam hati.
Ketika ia menengadah keatas,, sebuah batu raksasa sebesar gunung telah bersiap menumbuknya dari atas.
Bommmmmmmmmmm
Debuman keras seperti gempa bumi, gunung itu menenggelamkan Naruto dalam sekejab.
Zeus yang melayang diudara hanya menatap angkuh batu yang baru saja dihujamkanya untuk menumbuk pemuda itu dari atas.
'Jangan remehkan aku, makhluk rendahan! ' ia berfikir memiliki kasta tertinggi dari segala Ras yang hidup, egonya amat tinggi, dan berfikir lawanya kali ini sama seperti makhluk lainya yang pernah ia taklukkan.
Deegggggg
Zeus terperanjat dengan mata yang melebar sempurna, sesuatu yang terlampau cepat melebih kilat petirnya terasa bergerak mendekat.
'Mu-mustahil? ' kini exspresinya terganti dengan mimik wajah ketakutan, dalam sekejab mata semuanya pun ikut berubah.
"Perrnahkah kau berfikir jika aku bisa membunuhmu kapan saja dalam pertempuran ini?" bisik Naruto pada telinga sang dewa perlambangan petir.
Raja Dewa yang begitu kekar dan perkasa itu menegang, bisikan itu terasa menenggelamkan jiwanya dalam sekejab.
"Apa sebenarnya maumu? " ucap Zeus pelan, dalam posisi ini ia seperti mati kutu, karena bagaimanapun pemuda itu bisa membunuhnya kapanpun.
"Jika kau pernah mendengar tentang apa yang kulakukan pada saudaramu Hades,,, itulah yang ingin kulakukan juga padamu,, pak tua! "
Kemudian Naruto menempelkan jari telunjuknya tepat dikepala Zeus bagian belakang, yah! Kali ini Naruto bermaksud untuk membunuh sang Dewa petir yang perkasa.
Seperti sebelumnya, pendar energi berwarna hitam kelam sebesar kelereng tercipta dari ujung jari tersebut.
Tinggal menunggu hitungan detik untuk membuat Naruto melepaskan tembakan itu untuk menembus kepala Zeus.
"Ucapkan selamat tinggal pada du,,, -
Wusssssssshhhhhhhhh
Jrasssssshhhhhhhhhhh
Boooooooooommmmmmmm
Sesuatu yang begitu cepat melintas dan menembus kepala sipemuda pirang terlebih dulu.
Itu adalah panah dari Dewa Apollo.
Naruto yang terkena serangan telak itupun terlempar bersamaan dengan panah yang menghujamnya.
Tubuhnya terpelanting jauh dalam keadaan yang bisa dikatakan mati.
Kepalanya hancur bagaikan sebuah batu, lalu tubuhnya tergeletak begitu saja ketika menghempas permukaan tanah Olympus.
Si pelaku menyeringai ketika bidikanya tepat sasaran, meskipun secara tidak langsung ia telah mengganggu pertarungan dari rajanya, yang terpenting ia telah memastikan keselamatan pemimpinya tersebut.
'Kau telah salah membuat kekacauan di tanah para Dewa, dan kau tak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup ' fikirnya dalam hati.
Namun,,, Dewa bukanlah Tuhan yang maha tahu, Dewa hanya tahu apa yang mereka lihat, bukan apa yang tersembunyi dibalik fatamorgana.
Jujur Zeus tak menyukai ada yang mencampuri pertarungannya, namun dalam kasus barusan, ia harus berterimakasih mengingat lawanya bukanlah seperti yang pernah dijumpai dimasa lalu.
'Makhluk ini bukanlah Dewa, manusia, Iblis, atau apapun itu, aku merasakan kekuatan yang tiada batas dalam dirinya ' fikir Zeus dalam hati, level kecepatannya saja sudah jauh melampuinya.
Bangkainya terbujur kaku, tak ada darah barang setetes ketika kepala pirangnya hancur, namun tiba-tiba saja,,,
Tubuh tanpa kepala itu berdiri, dan perlahan Aura hitam kelam berkobar ditempat kepalanya yang telah hilang.
Siapapun dia, siapapun yang menyaksikannya, tak ada alasan untuk tidak tercengang.
"Mu-mustahill"
Kata-kata itu selalu terdengar ketika makhluk itu menunjukkan salah satu aspek ketidakmungkinanya.
Zeus, sang Raja Dewa itu terperangah melihat bagaimana Aura hitam kelam itu membentuk kembali kepala pemuda pirang tersebut.
Kini kepala itu terwujud dengan sempurna, karena kutukan tak akan pernah membiarkan dirinya meninggalkan dunia ini begitu saja.
Kekosongan dan kehampaan sepasang matanya telah kembali melihat pertempuran.
Menatap datar sang Raja Dewa yang melayang jauh diatasnya.
"Aku tak bisa mati " ucapnya lirih!
Meski dihujam jutaan senjata, dirajam jutaan energi demonic, entah apapun itu, pada akhirnya tubuhnya kembali kesedia kala.
Benar-benar kutukan yang sangat mengerikan.
Naruto menatap jauh tempat dimana para Dewa berkumpul untuk menyaksikan pertarunganya dengan Zeus, ia mencari sosok yang melepaskan senjatanya barusan.
Matanya memicing tajam ketika melihat sisa energi dari panah yang menghancurkannya barusan disekitar salah seorang Dewa.
'Dewa itu telah mencari kematiannya '
,,
Apollo menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya, makhluk itu bangkit lagi meskipun kepalanya telah dirampas serangan dari senjata kesayanganya.
Tiba-tiba saja matanya melotot horror saat pemuda itu lepas dari tempatnya, cepat,,,
Semakin mendekat dalam kecepatan gila.
Hal pertama yang ia lihat dalam kecepatan pemuda itu adalah sebuah telapak tangan berbalutkan perban putih yang kemudian,,,,
Grepppppp
Lehernya dicengkram dalam sekejab tanpa siapapun menduganya.
Tak henti sampai disitu.
Naruto tak menghentikan doronganya barang sedikitpun, alhasil ia terus meluncur sembari menghantamkan tubuh itu dari jalur yang dilaluinya.
Para Dewa disekitar tempat tersebut berhamburan menjauh karena sangat terkejut dengan hal yang tiba-tiba saja terjadi.
Sungguh hal gila.
Naruto menghentikan lajunya saat dirasa cukup, Apollo yang lehernya masih ia cekik tampak mengerang kesakitan.
"Arrrrgghhh,, k-kau,,, ba-bagaimana bisa kau hidup lagi ? " ucapnya disela-sela kesakitan yang sedang dideritanya.
Wuusssshhh
Brakkkkkkk
Bukan jawaban yang Dewa itu dapatkan, melainkan tubuhnya dilemparkan kearah dinding bangunan Olympus.
Bagaimanapun Dewa tetaplah Dewa, hal itu tidaklah cukup untuk membunuhnya. Meskipun merasa kesakitan, Apollo langsung berusaha bangun.
"Sialan! Dia benar-benar kuat " ucapnya sembari menstabilkan tubuhnya yang agaknya sedikit terhuyung.
Tap
Tap
Pemuda itu berjalan kearahnya dengan tenang, mengabaikan Dewa-dewa lain yang telah bersiap menyerangnya kapanpun.
Tap
"Hentikan perbuatanmu,, makhluk hina "
Langkahnya terhenti, kemudian kepalanya menoleh sedikit kebelakang.
"Jika begitu kerahkan seluruh kekuatan yang kau miliki pak tua, jika ingin menghentikanku kau harus punya cukup kekuatan untuk menahanku "
'Keparatttt! Bedebah ini sudah terlalu jauh meremehkanku ' umpat Zeus dalam batin, sungguh ini hal yang sangat memalukan sekali, ia seolah dipecundangi di kandangnya sendiri.
"Kau tenang saja, aku tak berniat membunuhmu saat ini,,, ! " ucapan pemuda pirang itu mengandung sedikit bumbu-bumbu provokasi didalamnya, ia memahami betul karakter Dewa ini, harga diri adalah hal yang tak bisa ditawar.
'Lagi dan lagi ' lanjutnya dalam hati dengan amarah yang telah lepas dari batasnya.
"Kau,,, kau akan merasakan akibatnya" ucapan Zeus terdengar semakin serak dan berat.
Dan kemudian...
Booooooooommmmmmmmm
Sang Raja Dewa meledakkan energinya dalam jumlah gila.
Hempasan energi miliknya telah menyapu daratan lembah Olympus.
Naruto cukup terkejut jika kekuatan sebenarnya dari Dewa ini benar-benar sangat besar.
'Omoishiro,,,! " senyumanya terlihat begitu mengerikan saat itu juga.
Menurut pengamatanya, level kekuatan Zeus kini telah melampaui bentuk pelepasan kegelapan dari Satan waktu itu.
Dan itu cukup untuk membuatnya bersemangat.
[AKU,,,, AKU AKAN MEMBUNUHMU MAKHLUK RENDAHANNNNN]
Wuuuuuuuuusshhhh
Blaaaarrrrrrrrrrrrr!
.
.
.
To be Continued.
Ding Dong!
Lama banget ya Up nya,, heheheeee
Maaf beribu maaf gih, ! Fic nya kelupaan, saya emang salah, dan gak bisa ngomong apa-apa sodara-sodara. Cacian dan makian dari para reader dipersilahkan.
Free kog!
Tapi sebagai permintaan maafnya, seminggu lagi saya akan Up Chapter 21, karena file nya juga udah jadi. Mau Up sekalian kog agak gimana gitu,, yah mau bikin pembaca setia disini agaknya penasaran. Wkwkwkk belagu amat ini Author. 😂
Oh ya sahabat semua, maaf gih kalo Chapternya kurang memuaskan, banyak kesalahan ataupun kurang menarik, saya ude berusaha sebaik yang saya bisa lho ini.
Mohon dimaafkan,,
Yah,,, mungkin cukup sampai disini dulu ocehan saya di pertemuan kali ini. Selebihnya bisa kita Next di Chapter berikutnya, tepatnya seminggu dari sekarang.
Kritik dan saran oret-oret aja di kolom Review,, ada kesempatan ane jawab kog.
Oke cukup sekian.
Kidz-Boy geser dulu gih.
Bye-bye,,,,,,,
.
