"Daylight"

Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.

Genre : Romance, Action

Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook

Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min

Rated : M

Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook

YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya

M-Preg, y'all. You're gonna love it

Typo everywhere

Chapter 20

Mata sipit itu mengecil seiring dengan pindaiannya dalam layar hologram di hadapannya.

Ia menggeser layar tipis itu ke kiri selama delapan kali berturut-turut, kemudian ke kanan sebanyak tiga kali, lalu berhenti pada spot yang menampilkan sosok pria tua yang membawa bendera berwarna tosca.

Pemuda itu kemudian mencatat sesuatu di buku dan melanjutkan pindaiannya pada layar. Ia menggaruk rambut hitam kusutnya lalu menenggak kopi kental yang mengepul di tangan kanan. Kendati pusing yang sedari tadi melanda nyaris membuatnya pingsan, namun hal itu tak menghentikan kegiatannya dalam mencari informasi sebanyak mungkin.

Ia membolak-balik buku itu lalu mengumpat pelan. Sedikit emosi karena merasa tak teliti, ia mengambil spidol berwarna ungu dan menggarisbawahi beberapa kalimat yang dirasanya penting. Di beberapa kata, ia bahkan melingkarinya dengan spidol merah supaya lebih mudah diingat.

Park Jimin menatap sosok pria tua di layar hologram. Pria itu seperti pernah dilihatnya di suatu tempat. Akan tetapi, sesering apapun ia mencoba mengingatnya, rasanya sulit sekali. Maka dari itu, yang dilakukannya hanyalah menggambar detail seragam yang dikenakan pria tua itu ke dalam buku catatannya. Seragam putih gading dengan bentuk press-body itu, memiliki rumbai kuning di sisi bahu kanan. Sementara itu, menyilang di bagian tengah dan menyatu di pinggang, terdapat sebuah sabuk hitam dengan logo khas yang mirip dengan lambang pada bendera hijau yang dibawanya. Di bagian pergelangan tangan, terdapat tiga baret garis hijau tebal yang Jimin rasa, melambangkan pangkat siapapun yang memakainya. Seragam itu terlihat begitu kokoh.

Menandakan jika situasi yang dihadapinya tidak main-main.

Jika seseorang bisa merancang seragam tersebut sedemikian rupa, itu artinya terdapat sistem yang tertata rapih di tempat bernama Meonji Seom itu. Sistem yang tidak bisa Jimin remehkan begitu saja. Bahkan jika perkiraannya benar, sistem itu mungkin saja bisa menghancurkan tatatan di wilayah utara yang selalu dijaganya.

Tak berhenti sampai di sana, ia kemudian membaca ulang catatan yang dibuatnya. Sudah beberapa bulan belakangan ia mencari tahu sebanyak mungkin detail mengenai Meonji Seom. Sulit rasanya untuk mengerjakan tugasnya sebagai Komandan Guardian, sekaligus curi-curi waktu untuk menggali informasi. Meski harus berbohong pada Irene berkali-kali supaya bisa mendapatkan info yang diharapkan, nyatanya ia masih saja merasa kurang.

Di kala gundah gulana, satu nama terlintas di benaknya begitu saja.

Jungkook.

Ia sedikit kecewa karena pemuda itu tidak memberikan respon seperti yang ada di kepalanya. Pikirnya, Jungkook akan sangat antusias dengan kemungkinan melarikan diri yang dijanjikan Meonji Seom. Sempat ia merasa jika kabur bersama Jungkook akan jadi pilihan terbaik untuk mencaritahu apa yang sebenarnya dilakukan para pembelot utara itu.

Meskipun ia belum yakin, di pihak mana ia seharusnya berpijak.

Usahanya untuk membohongi diri dan perasaan dengan berpura-pura menganggap jika tatanan utara adalah yang terbaik merupakan salah satu hal yang ia benci. Jimin sangat tidak menyukai ide sang ayah yang gemar menciptakan manusia tak berhati. Ia sebenarnya tidak tega dengan semua hal buruk yang dilakukannya.

Akan tetapi, kembali lagi, itu adalah perintah sang ayah. Bagaimana bisa ia tidak patuh pada sosok yang menjadi napas baginya? Jimin sangat menghormati dan menghargai ayahnya. Ia tidak akan sanggup menolak permintaan sang ayah meskipun ia perlu mendustai nurani kecilnya.

"Irene, berikan jadwalku besok."

Sembari berjalan menuju ke bak pencuci piring, Jimin meletakkan cangkir kosong bekas kopi ke dalamnya. Ia menarik napas panjang untuk menenangkan kepalanya yang berdenyut hebat.

"Besok pagi kau harus menemui Dokter Byun dan Dokter Yeri. Ada tambahan serum yang harus diberikan pada para Guardian baru. Ayah minta semua dosis dinaikkan dua tingkat untuk angkatan yang satu ini. Kau bisa sekaligus minta obat vertigomu pada Dokter Yeri. Setelah itu, di jam sepuluh kau harus menemui Komandan Oh dan Komandan Kang untuk meminta laporan bulanan. Salin laporan itu dan kirimkan pada sekretaris ayah. Setelahnya akan ada pemeriksaan ulang data Checking Tahap Kedua untuk peserta Copulation. Lusa, kau dan anak buahmu harus memeriksa satu per satu pasangan di seluruh kota untuk memastikan siapa yang masih bertahan dan siapa yang kehilangan kandungannya," Irene berhenti sejenak sebelum membacakan lagi jadwal sang adik. "Sebentar lagi aku akan mengirimkan padamu data pembelot utara di masa lalu. Tapi katakan padaku dengan jujur, untuk apa semua itu?"

Butuh setidaknya dua detik bagi Park Jimin untuk menjawab pertanyaan itu. Ia terkekeh pelan untuk menetralkan kegugupan yang melandanya. "Kau memang yang terbaik, noona. Aku makin sayang."

"Berhenti bicara omong kosong. Katakan padaku sejujurnya!"

"Kenapa kau jadi galak sekali, eoh? Apa pacarmu lupa membelikanmu tas mewah waktu itu?"

"Keparat kau, Park! Aku tak akan mengirimkannya!"

"Arra, arra. Jangan sensi terus," Jimin melirik ke arah intercome yang berkedip. Ia mendatangi intercome itu dan terkejut dengan sosok yang muncul di layar. "Aku memakai data itu untuk mencari kelemahan dari pemberontakan di masa lalu. Dengan begitu, aku bisa memilih metode terbaik apa yang bisa kuajarkan pada para Guardian. Sudah jelas bagimu, nenek?"

Hanya omelan dan serapah yang didengar Jimin di seberang sana. Tak lama setelahnya, ia mematikan sambungan telpon.

Jimin melihat ke intercome yang menujukan dua orang manusia yang tidak seharusnya berada di sana. Meski sudah diatur untuk mendeteksi keberadaan objek dalam radius setengah kilometer, namun seharusnya mereka tidak bisa menemukan pohon yang menjadi pintu masuk menuju Bowl-nya.

Jika bukan karena Jungkook yang tertangkap di layar, Jimin tidak akan pernah mau membukakan pintu tempat persembunyiannya begitu saja.

.

.

.

"Kau yakin di sini tempatnya?"

Jungkook mengangguk sembari menyentuh batang pohon pinus di sampingnya. Ia dan Taehyung menghabiskan setidaknya empat jam penuh untuk mengelilingi kota dan pusat pemerintahan demi menemukan Jimin. Mereka menanyai banyak orang namun hasilnya nihil. Tidak ada satu orangpun yang tahu di mana Jimin berada.

Atau mungkin orang-orang hanya tidak ingin memberitahu saja.

Setelah nyaris frustasi, Jungkook kemudian teringat pada sebuah tempat di mana ia pernah dibawa. Tempat itu mungkin jadi destinasi terakhir mereka dalam satu hari yang melelahkan itu. Tanpa menunggu banyak waktu lagi, Jungkook langsung menunjukkan letaknya yang tersembunyi di balik hutan.

Sayangnya, setelah menghabiskan waktu tiga puluh lima menit, Jungkook rasanya ingin menyerah saja. Ia memang ingat letak Bowl, namun ia lupa pohon mana yang menjadi pintu masuk rumah kedua Komandan Guardian itu.

"Aku benar-benar lupa yang mana pohonnya, hyung. Maafkan aku."

Taehyung menggeleng dan menggenggam tangan Jungkook yang terasa dingin. Kendati sekarang musim telah berganti ke musim semi, namun pasangannya itu kini terlihat kedinginan. Ia bahkan beberapa kali merapatkan jaket tipis yang dikenakannya.

"Kau lelah? Kita pulang sekarang saja?"

Pemuda Jeon menggeleng. Ia memang lelah. Tubuhnya terasa lemas tapi ia sama sekali tidak ingin beranjak dari tempat itu sebelum menemukan jawaban. Maka dari itu, untuk ke sekian kalinya, ia berteriak dalam kehampaan lautan pepohonan.

"Jimin hyung! Komandan Park! Guardian nim! Jawablah! Apa kau di sini? Kau dengar aku?"

Melihat pasangannya berteriak dengan sekuat tenaga, Taehyung kemudian mengikutinya dengan meneriaki nama Kepala Guardian tersebut.

Dengan sedikit tambahan.

"Keparat Park! Pendek! Di mana kau, bangsat? Jangan pura-pura tuli!"

Jungkook memukul pundak Taehyung cukup kuat. Pria muda itu bahkan mengaduh dan menghentikan teriakannya.

"Kau gila? Kenapa memanggilnya begitu? Jangat jahat, hyung!"

"Aku tidak jahat, sayang. Hanya saja dia berhak—"

"Jimin hyung tidak pendek. Dia memang sedikit lebih kecil dari kau, tapi bukan begitu cara memanggilnya. Kau harus sopan sedikit—"

"Sopan dengan orang yang memandangmu dengan tatapan menelanjangi? Tidak. Terima kasih. Aku tak mau sopan dengan orang itu!"

"Hyung!"

"Jeon, kenapa kau ada di sini?"

Gumaman rendah itu mendengung begitu saja di tengah hutan.

Jungkook dan Taehyung memandang ke sekeliling untuk mencari suara Jimin yang muncul entah dari mana. Sayangnya tidak ada satupun manusia yang terlihat batang hidungnya di sekitar mereka. Bahkan hewan-hewan saja rasanya lebih memilih untuk bersembunyi atau pergi meninggalkan hutan itu yang terasa sunyi.

"H.. hyung.. kau di mana?"

"Kau boleh masuk, tapi tidak denganmu Tuan Kim."

Taehyung menggeram. Ia melepas genggaman tangannya pada Jungkook sebelum menunjuk-nunjuk ke arah langit dengan raut wajah teramat kesal.

"Kau pikir aku akan membolehkan Jungkook untuk bertemu denganmu hanya berdua saja? Aku ini pasangannya! Jangan mentang-mentang—"

"You're unwanted, Mr. Kim. Aku hanya memperbolehkan Jeon Jungkook untuk masuk ke sini."

"Brengsek—"

"Hyung, jangan," Jungkook mencekal lengan Taehyung yang bersiap meninju ke udara. Ia menepuk pelan pundak lelaki itu dan mengusapnya perlahan untuk menenangkan. Dengan sebuah bisikan, ia mendekatkan bibirnya ke telinga sang pasangan Copulation. "Kita datang ke sini untuk minta tolong. Ku mohon kurangi sikap kerasmu sedikit saja untuk kali ini."

Dan tambahan rematan di antara jemari dingin itu sukses membuat Kim Taehyung mendinginkan amarahnya untuk sementara. Ia membiarkan Jungkook mengambil alih situasi.

"Jimin hyung, kami datang untuk bicara baik-baik. Ku mohon, kami berdua boleh masuk, ya?"

Tak ada jawaban untuk sesaat. Selama hampir enam puluh detik penuh dalam kehampaan, tiba-tiba saja pohon pinus yang menjadi sandaran tangan Taehyung membelah diri begitu saja. Saking kagetnya Taehyung bahkan hanya bisa membelalak melihat bagaimana pintu masuk itu terbuka bagi mereka berdua.

"Cepat masuk sebelum aku berubah pikiran."

.

.

.

"Aku tak percaya kau menyembunyikan rencana ini dariku."

Sekali lagi, Kim Seokjin meninggalkan Namjoon untuk berlari di belakangnya. Mereka berdua sempat terlibat dalam drama singkat dimana teriakan dan saling debat menjadi tontonan menarik bagi separuh warga Meonji Seom. Semua itu tidak lain dan tak bukan adalah karena rencana Namjoon yang baru saja diungkapkannya di hadapan khalayak.

"Aku tidak menyembunyikannya, sayang. Aku hanya harus mengatakannya di waktu yang tepat. Kenapa kau sulit mengerti situasinya?"

"Kau menempatkan adikku dalam bahaya! Bagaimana bisa aku senang mendengarnya?"

Seokjin kemudian masuk ke dalam kamarnya. Tepat sedetik sebelum ia membanting pintu, Namjoon sudah terlebih dahulu menyelinap masuk dan memeluknya dari belakang.

"Dia memang dalam bahaya. Tapi dia akan baik-baik saja."

Seokjin mendengus keras. Ia menepis tangan yang melingkar di pinggangnya lalu berbalik menghadap pasangannya dengan tatapan tajam. "Kau mengirimkan Xazina itu pada orang yang salah, Joon. Park Jimin adalah aset berharga kaum utara. Sudah pasti dia akan lebih membela wilayahnya daripada berjuang dengan orang asing yang dianggap menjadi pengkhianat keluarganya. Kita semua tahu jika Park Jimin memang cukup sering bertemu dengan Jungkook. Tapi jika Komandan Guardian itu memilih keluarganya, kau pikir bagaimana nasib adikku? Dia hanya akan mati sia-sia sebelum pergerakan ini dimulai!"

"Dia tidak akan mati sia-sia. Jungkook akan selamat. Aku bisa menjamin padamu jika ia, Park Jimin, dan Kim Taehyung akan tiba ke sini dengan utuh."

"Seharusnya kau kirim kotak itu ke orang lain saja! Aku memang menginginkan Jungkook untuk aman di tempat ini, tapi bukan begini caranya! Sudah ku bilang aku sendiri yang akan menjemputnya saat kita memulai pergerakan nanti. Jika Park Jimin menyebarkan informasi tentang kita ke Para Petinggi bahkan Dewan Tertinggi, jika ia ketahuan, Jungkookku… Jungkook akan—"

Namjoon menarik Seokjin dalam pelukannya. Ia menenangkan pasangannya dengan usapan lembut di punggung dan dekapan yang semakin erat. "Ku mohon untuk sekali ini saja, berikan kepercayaanmu padaku. Aku tidak asal memilih orang. Semuanya sudah ku perhitungkan masak-masak."

Butuh waktu yang tidak sebentar bagi Seokjin untuk menumpahkan kekhawatirannya. Ia terisak selama beberapa saat hingga kemudian bahunya berhenti bergetar. Saat dirasa sudah cukup tenang, ia melepaskan pelukan Namjoon dan mengusap air matanya pelan.

"Bisakah kau berjanji padaku?"

Sosok yang dimintai ikrar tersebut mengangguk mantap. Ia meremas pelan bahu Seokjin lalu mengecup mata basah itu dengan kecupan seringan bulu.

"Aku perkirakan Jungkook akan tiba di sini kurang dari dua minggu lagi. Setelah ketiga orang itu bergabung, kita akan mulai pergerakan menuju utara. Pasukan sudah lebih dari siap untuk menghadapi peperangan kedua. Kita semua harus siaga, sayang. Jangan biarkan kecemasan mempengaruhi fokusmu, oke?"

Seokjin, yang telah bertahun mencintai pemuda di hadapannya itu, kini semakin yakin dengan takdirnya. Ia percaya jika pertemuannya dengan Namjoon tidak akan berakhir sia-sia.

.

.

.

Taehyung mendudukan diri di sofa empuk bernuansa dusty blue. Ia menatap sekeliling untuk diam-diam mengagumi desain interior dari bangunan berbentuk mangkuk ini. Bangunan ini sangat unik menurutnya. Taehyung yang memang menggilai hal-hal berbau seni, langsung jatuh hati pada sebuah lukisan abstrak yang menggantung di atas ranjang aneh di hadapannya. Di sanalah Park Jimin duduk bersila sembari memandangnya dengan tatapan mencibir.

"Aku berasumsi kalian tidak datang untuk beramah tamah."

"Siapa pula yang mau ramah denganmu?"

Jungkook meletakkan cangkir panas mengepul yang kini tinggal setengah. Teh madu buatan Park Jimin berhasil menenangkan pusing yang mendera. Lemas yang sedari tadi ia rasa perlahan tergantikan dengan kehangatan dari secangkir cairan pekat beraroma manis kesukaannya.

"Berhenti bertengkar. Sudah sepuluh menit kalian saling menatap dengan pandangan menuduh. Ayolah."

Jimin kemudian beranjak dari duduknya. Ia menghampiri Jungkook yang meluruskan kaki di kursi kayu dekat perapian sembari mengusap peluh di dahi menggunakan tisu. "Kau sudah baikan?"

"Jangan dekat-dekat Jungkook. Beri jarak satu meter."

"Siapa kau berani memerintahku di rumahku sendiri?"

"Aku pasangannya! Kau harus tahu batasan!"

"Aku hanya menanyakan kabar. Bisakah tenangkan kepala besarmu sebelum kau terlihat begitu bodoh dengan cemburu tak beralasan?"

Entah mengapa Taehyung bisa setidaksopan itu pada sang Komandan Guardian. "Wajar jika aku cemburu. Pokoknya kau tidak boleh—"

"Sudah! Hentikan!" teriak Jungkook memecah suasana panas. Ia berdiri dengan berkacak pinggang sembari menatap kedua pria yang cengo dengan teriakan mendadak dari sosok yang tengah mengandung. Tak pernah sekalipun dari mereka berdua pernah melihat Jungkook dengan tatapan segalak ini. "Kalian ini bocah atau apa sih! Kapan kita akan bicara serius kalau kalian ribut terus?"

Taehyung meneguk ludah takut-takut sementara Jimin perlahan duduk di kursi sembari mengangguk.

Keduanya bergumam tak jelas lalu duduk tenang dengan saling menghindari tatapan.

"Baiklah, mari kita mulai," Jungkook mengeluarkan ponsel dari saku bajunya sebelum mengacungkan benda itu di hadapan Jimin. "Kami datang untuk ini, hyung. Kau pasti tahu apa maksudku."

Jimin mengangguk lambat-lambat.

"Apa benar kau tidak tahu siapa yang mengirim kotak itu padamu?"

"Sudah kubilang aku tak tahu. Kotak itu muncul begitu saja di depan pintu Bowl."

"Apa kau bisa menduga siapa orangnya? Ku rasa orang itu pasti tidak terlalu jauh darimu karena ia bisa tahu keberadaan tempat ini."

"Kook, hanya ada tiga orang yang tahu tentang Bowl. Aku, kau, kakakku Irene, dan sekarang berandal yang satu ini—"

"Beraninya kau—" ujar Taehyung menyalak. Ia menatap tajam Park Jimin dengan mata melotot.

Jimin dan Jungkook memilih mengabaikannya. "Apa mungkin kakakmu yang mengirimnya?" tanya Jungkook.

"Aku sudah memeriksanya. Sepertinya mustahil jika Irene yang mengirim. Kalaupun memang benar dia, tak seharusnya ia bisa masuk karena kata sandi, pemindaian retina dan sidik jari adalah kuncinya. Hanya aku yang bisa membuka portal pohon pinus itu, tak ada yang lain." Jimin menggosok dagunya selama beberapa saat sebelum mengangguk pelan. "Aku mengasumsikan, salah satu dari mereka yang mengirimnya langsung. Siapapun itu, orang tersebut sudah pasti mengikutiku selama ini," ia memandang ke arah Jungkook dengan tatapan datar. "Bisa jadi orang itu juga mengikutimu, Kook. Tanpa kau sadari."

Jungkook duduk dengan gelisah di kursinya. "Apa kau punya asumsi, mengapa kau yang diberi paket? Dari sekian banyak orang di Seoul, kenapa kau?"

"Aku tak tahu. Yang pasti ada sesuatu yang diinginkan dariku. Pengirimnya pasti tahu jika aku memiliki sesuatu yang berguna bagi mereka. Bukan begitu?"

Taehyung berdehem karena merasa diabaikan oleh dua orang tersebut. "Kau yakin ini bukan akal-akalanmu saja? Maksudku, ayolah, siapa yang bisa percaya Para Petinggi dan antek-anteknya?"

"Kupikir, Tuan Kim, kalau kau tak percaya padaku, maka kau tak akan duduk di sini bersama pasanganmu," ujar Jimin sembari menahan amarah. Ia merasa jika setiap kata yang keluar dari mulut Gen E itu adalah sebuah sindiran untuknya.

Kim Taehyung terdiam sejenak. Ucapan komandan itu benar dan sedikit melukai harga dirinya.

Jungkook memecahkan hening singkat dengan sebuah pertanyaan yang sedari tadi mengganjal di benaknya. "Menurutmu kita bisa pergi ke sana?"

Park Jimin bangun dari duduknya. Ia mengambil buku catatan yang berada di nakas lalu kembali ke hadapan Jeon Jungkook. Membuka beberapa lembar hingga tiba di halaman yang dimau, keningnya berkerut begitu saja. Di halaman sepuluh buku itu, ia membukanya lebar-lebar untuk ditunjukan kepada kedua orang di depannya.

Seorang pria dengan wajah dan tangan penuh luka akan menuntunmu menuju Meonji Seom. Pria dengan luka sayatan di nadi itu akan memberikan bantuan. Cari dia yang tengah bersembunyi di sekitarmu.

Potongan kertas itu ditempelkan di tengah-tengah buku. Kedua orang yang ditunjukkan memperhatikan tulisan yang ditulis dengan tinta berwarna hitam kehijauan.

"Kertas ini ada di dalam Xazina. Aku lupa belum memberitahumu soal ini."

Taehyung terkekeh sembari berujar sinis. "Ada banyak orang di daerah utara yang mungkin punya bekas luka di wajah dan tangan. Bagaimana kita bisa menemukannya?"

"Aku Komandan Guardian, kalau kau lupa, Kim. Melacak data seseorang bukanlah hal sulit bagiku."

"Kalau begitu apa usahamu untuk menemukan pria yang dimaksud?" tantang Taehyung.

"Aku telah mencari tahu peserta Copulation yang mungkin punya bekas luka seperti yang disebutkan di kertas. Dari semua yang ku tahu, tak ada satupun yang punya bekas luka di wajah, tangan, dan sayatan di nadi secara bersamaan."

"Ada satu yang ku tahu," ujar Jungkook menggantung. Ia tak yakin dengan yang ada di kepalanya, namun tak ada orang lain yang sesuai dengan ciri-ciri yang diminta. Hanya ada satu orang yang dikenal dengan luka di wajah, tangan, dan sayatan nadi.

Pria yang pernah menginap di tempatnya. Bisa jadi pria itulah yang tengah "bersembunyi" di sekitarnya.

"Mari kita cari Yoongi hyung."

"Siapa Yoongi hyung?" tanya Jimin.

"Apa Min Yoongi punya luka sayatan, Kook? Setahuku yang babak belur adalah wajahnya."

"Aku pernah melihatnya, hyung. Waktu aku bertemu dengannya di cafetaria kantormu, tak sengaja aku menyingkap bajunya. Saat itu aku lihat ada banyak luka sayatan di pergelangan tangannya," Jungkook berdiri dan menyambar jaket yang ia gantung. "Petunjuk itu bilang jika pria yang dimaksud bersembunyi di sekitar kita. Menurutmu kenapa ia memohon-mohon pada untuk tinggal di rumahmu? Kenapa ia pergi begitu saja dan tak ada kabar sama sekali? Cukup aneh, 'kan?"

Tanpa menunggu aba-aba lagi, Taehyung bergegas menarik tangan Jungkook. "Ayo kita ke kantorku sekarang juga."

"Tunggu, tunggu. Aku tidak bisa ikut," ucap Park Jimin.

Taehyung menghentikan gerakannya dan memandang Jimin dengan tatapan curiga. "Kenapa? Ku pikir kita telah setuju untuk bekerja sama," cercar Taehyung pada sosok yang menolak untuk ikut.

"Memang, tapi menurutmu apa yang akan Guardian lakukan jika melihat aku jalan-jalan dengan dua warga sipil sembari mencari-cari orang? Kita tak bisa terang-terangan terlihat terlalu dekat, Kim."

"Kau saja waktu itu membawa pasanganku pergi ke pesta ulang tahunmu."

"Situasinya berbeda. Apa kau lupa jika CCTV di pasang di setiap sudut kota?"

"Bilang saja kau hanya mau dekat-dekat dengan Jungkook ku—"

"Kalau kau mau rencana ini berhasil, sebaiknya hilangkan kecemburuanmu yang kekanak-kanakan, Kim," Jimin bergegas melangkah menuju ke pintu depan. Dengan menekan sebuah tombol, pintu Bowl terbuka dengan mudah. "Sekarang kalian pergilah cari orang itu. Jika sudah dapat, bawalah ke rumahmu. Akan ku susul. Sementara itu, aku akan cari informasi lain tentang Meonji Seom. Setiap info yang ku dapat akan ku kirim melalui pesan singkat ke nomormu, Jungkook. Apa kau ganti nomor?"

Jungkook menggeleng perlahan.

"Kenapa kau tak pernah mengirim kabar? Lagi pula, tadi kau bisa menelponku jika ingin bertemu. Kenapa malah susah-susah mencariku sampai ke Bowl?"

"Taehyungie hyung memintaku untuk menghapus nomormu. Maafkan aku, hyung."

Dengan satu anggukan pelan, Jimin mempersilakan para tamunya untuk pulang.

.

.

.

"Katakan, dari sekian banyak ancaman yang ada, mengapa aku harus memperhatikan yang satu ini?"

Lee Minwoo, Dewan Tertinggi, tengah menikmati makan malam bersama sang istri, Kwon Yuri. Suasana hangat dan nikmat makanan yang menyentuh lidah mendadak menjadi hambar setelah salah satu anak buah kepercayaannya masuk di luar jam kerjanya. Lee Minwoo tidak menyukai sikap sembrono yang ditampilkan anak buahnya itu. Tapi jika bukan karena asas kepercayaan, ia mungkin sudah memenggal pemuda di hadapannya yang membawa katanya sebuah informasi penting.

Di pukul delapan malam, Oh Sehun, yang telah bertugas menjadi Komandan Guardian kedua, memilih mendatangi rumah Dewan Tertinggi langsung. Ia tidak menunda sampai hari esok untuk memberitahu temuannya yang dinilai sangat berharga. Pikirnya, dengan memberi informasi secepat mungkin, maka kepercayaan Sang Tertinggi padanya akan semakin meningkat. Meskipun mungkin, pilihannya yang sangat tidak sopan ini bisa berakibat buruk baginya.

"Karena yang satu ini sangat krusial, Tuan," Komandan Oh menunduk sembari meletakkan temuannya di meja makan. "Saya menemukan potongan kain itu di kolam istana tenggara milikmu. Kain itu ada di antara bebatuan yang sering menjadi tempat Nona Irene berjemur."

Satu suapan tertinggal begitu saja di udara. Lee Minwoo kemudian meletakkan sumpit yang mencapit sushi segar kesukaannya dan menatap tajam Komandan Oh yang berdiri sambil menunduk.

"Di dalam istana tenggara? Tergeletak begitu saja?"

Komandan Oh mengangguk. "Ada di batu begitu saja, Tuan. Kain itu tidak terlihat seperti diletakkan atau disembunyikan dengan sengaja oleh seseorang. Lebih seperti terjatuh."

Lee Minwoo menyentuh kain itu dan menelusurnya lebih serius. Sobekan kain tersebut sepintas terlihat biasa saja. Yang membuatnya spesial dan menjadi ancaman adalah adanya sebuah lambang yang tercetak di bagian tengahnya. Lambang itu tidak asing baginya karena beberapa tahun yang lalu, lambang serupa pernah muncul di beberapa sudut kota. Kemunculan lambang ini menjadi pertanda buruk baginya.

Pasalnya lambang itu adalah lambang milik para pemberontak utara di zaman perang saudara di masa lalu.

Kemunculan lambang itu untuk pertama kalinya setelah rezim utara mengambil alih negara, membuat Dewan Tertinggi membunuh setidaknya tiga ratus warga sipil yang dicurigai. Warga sipil tak bersalah itu dituduh dengan tuduhan mengirimkan ancaman pada Dewan Tertinggi dan Para Petinggi. Tanpa ada pengadilan yang jelas, tiga ratus nyawa melayang dengan peluru yang bersarang di kepala.

Lambang kedua muncul tujuh belas tahun yang lalu. Dewan Tertinggi masih memerintah Guardian untuk menyisir setiap sudut kota guna menemukan siapa orang yang bertanggungjawab dalam ancaman tersebut. Hasilnya nihil, tak ada satupun warga yang terlihat berhubungan langsung dengan lambang pemberontakan. Hanya lima puluh nyawa yang hilang karena sebagian besar Kaum Sekunder menolak untuk digeledah rumahnya.

Lambang ketiga muncul lima tahun yang lalu. Pada waktu itu, Dewan Tertinggi memilih mengabaikannya karena menganggap jika siapapun yang meletakkan lambang itu mungkin hanya iseng semata. Sejauh yang ia tahu, tidak ada satupun pembelot yang selamat pada perang saudara. Jika data yang berbicara, semuanya valid dan tak terbantahkan. Ia tidak membunuh siapapun pada waktu itu. Hanya saja semua orang yang dicurigai, semuanya dipecat dari pekerjaan mereka dan dipastikan hidup melarat sampai detik ini. Sebagian besarnya adalah Kaum Sekunder Gen F.

"Ini lambang ke empat yang muncul, bukan, Tuan? Jika Tuan Lee berkenan, izinkan saya memeriksa CCTV istana untuk mencaritahu siapa pelakunya."

Tuan Lee, yang merasa sudah cukup bermurah hati kepada warga utara, kali ini mungkin harus sedikit lebih keras lagi. Satu atau dua ancaman mungkin bisa membuat siapapun yang meletakkan kain itu merasa takut dan terintimidasi.

"Periksa. Tanyakan pada kepala keamanan istana. Jika sudah tahu siapa pelakunya, tangkap dan pasung di halaman istana," ia menyesap wine sembari melirik ke arah sang istri yang tersenyum simpul mendengar titah Dewan Tertinggi. "Pastikan kumpulkan semua warga, baik itu Kaum Primer atau Sekunder. Buat mereka berkumpul supaya bisa melihat siapa tikus yang berani mengotori istana dengan ide konyolnya."

.

.

.

Terhitung semenjak keluar dari Bowl, sudah delapan jam Kim Taehyung dan Jeon Jungkook mencari Min Yoongi. Dimulai dari kantor Taehyung, di mana kata Jungkook, Min Yoongi bekerja sebagai petugas kebersihan di sana. Taehyung menanyai semua orang mulai dari kepala perekrutan pekerja hingga sesama petugas kebersihan. Hasil yang didapatkan sedikit tidak menyenangkan. Memang benar jika Yoongi bekerja di sana. Akan tetapi, sudah tiga bulan ini ia mengundurkan diri. Semenjak itu, tidak ada satupun orang yang pernah melihat Yoongi di sekitaran kantor.

Gagal di percobaan pertama, Taehyung dan Jungkook kemudian meminta alamat pasangan Copulation Yoongi. Alamat rumah itu merujuk pada tempat tinggal seorang Para Petinggi sekaligus adik Dewan Tertinggi, Lee Jinwoo. Mengabaikan segala kekhawatiran, mereka telah merencanakan berbagai skenario supaya Lee Jinwoo tidak curiga, mulai dari mengaku sebagai keluarga hingga kawan. Sayangnya, setibanya di sana, Lee Jinwoo maupun Min Yoongi tidak ada di rumah. Bagian dari Para Petinggi itu masih menunaikan tugasnya di luar negeri, sementara berdasarkan penuturan salah satu maid, Yoongi dikatakan sudah tidak pernah pulang ke rumah sejak tiga bulan yang lalu.

"Ada apa dengan tiga bulan yang lalu? Mengapa pemuda itu seolah hilang ditelan bumi begitu saja?"

Kim Taehyung yang telah berganti dengan piama sutera, kini merebahkan tubuhnya yang pegal-pegal di atas kasur. Di sebelahnya, Jungkook tengah duduk sembari mengoleskan krim pelembab di wajahnya.

"Maid itu bilang Yoongi hyung pergi tanpa membawa satu barangpun. Tidak mungkin ia bisa bertahan selama tiga bulan tanpa mengganti baju dan sebagainya. Pasti ada seseorang yang menyelamatkannya."

"Atau malah bekerja sama dengannya," imbuh Taehyung. Ia tersenyum melihat Jungkook yang mau mengenakan krim pemberiannya. Ia tidak tega melihat wajah Jungkook yang sering terlihat memerah setiap terkena panas. Entah mengapa, semenjak mengandung, kulit pasangannya itu jadi lebih sensitif dari biasanya. Walaupun di awal Jungkook menolak, namun sosok cantik itu akhirnya menuruti Taehyung dengan menggunakan krim pelembab tersebut. "Kau mau ku buatkan susu?"

"Tidak usah, hyung. Terima kasih," tolak Jungkook secara halus. Ia naik ke ranjang dan melepas lelah yang sedari tadi membelenggu. "Kita sudah berkeliling kota, mendatangi banyak sauna, motel, hostel, hotel, bar, dan banyak lagi. Tak ada satupun yang membuahkan hasil. Jika belum mendekati jam sweeping, kita harusnya masih mencarinya."

Taehyung mengulurkan lengannya sebagai bantal bagi Jungkook. Melihat lengan yang sengaja di tempatkan di atas bantal, Jungkook tertawa pelan. Ia menyamankan kepalanya dengan lengan Taehyung sebagai bantalan.

"Kalaupun tidak mendekati jam sweeping, aku tetap akan membawamu pulang. Kau kelelahan, sayang. Jangan paksakan diri."

Jungkook meraih tangan kiri Taehyung untuk memeluknya. Tubuh pria yang menjadi alasan ia tersenyum hari ini itu kemudian ada dalam posisi miring, nyaris mengukungnya.

"Peluk aku sebentar. Aku butuh charging energi."

"Kau itu, sayang, terkadang bisa terlihat keras kepala dan menggemaskan di saat yang bersamaan. Bagaimana aku tidak jatuh hati denganmu?"

Dalam remang kamar, Jungkook mengulas senyum lebar. Senyum itu membuatnya mengeratkan pelukan Taehyung yang membawa afeksi kehangatan dan rasa aman untuknya. Bahkan jika hanya dengan pelukan, rasanya ia bisa mendapatkan energi tambahan untuk melawan segala situasi buruk yang menghadang. Pelukan Taehyung terasa seperti rumah yang pernah ia miliki. Dulu. Di masa lampau.

"Kenapa kau tadi banyak menyerang Jimin hyung dengan ucapan sinis? Dia itu temanku. Jangan galak-galak padanya," gumam Jungkook dengan suara mengantuk.

"Teman? Sejak kapan bantet itu resmi jadi temanmu?"

Jungkook menghela napas. "Sudah ku bilang jangan panggil dia bantet, hyung. Kau ini kenapa sih?"

"Dia bukan temanmu, Kook. Aku tidak akan merestuinya."

"Aku tidak meminta restumu. Kau bukan keluargaku," kekeh Jungkook melontarkan candaan.

"Masih menganggapku bukan keluargamu? Aku ini ayah dari bayi di perutmu. Aku pasanganmu. Apa bedanya?"

"Kau pasangan Copulation-ku. Itu bedanya."

"Kalau begitu ayo menikah!"

Untuk satu detik.

Hanya satu detik saja napas Jungkook terasa terhenti.

Kalimat itu membuat jantungnya berdetak menggila di detik berikutnya. Ia bahkan menarik napas tanpa disadari seiring dengan pelukan yang mengendur di perutnya.

"Jangan membuat pernikahan seolah candaan, hyung," ucap Jungkook singkat. Setelahnya ia melepaskan tangan sang lelaki dan berbalik memunggunginya.

Sementara itu, Taehyung yang menyadari jika ucapannya membuat suasanya jadi tak enak, memilih diam untuk sejenak. Ia melirik ke arah Jungkook yang terlihat tenang di balik punggungnya. Taehyung jadi tidak enak karena bukan maksudnya untuk membuat pernikahan sebagai candaan.

Walau skenario untuk menikah dengan Jungkook sama sekali belum terlintas di kepala.

"Jungkook, kau sudah tidur?"

Tak ada jawaban.

"Jungkookie, kau marah padaku?"

Kehampaan yang jadi jawaban.

"Jawab aku kalau kau belum tidur, sayang. Jangan diamkan aku."

Untuk ketiga kalinya, tak ada respon.

Dengan hati-hati, Taehyung sedikit bangkit dari tidurannya untuk melirik ke arah wajah Jungkook yang nyaris terbenam di bantal.

Dan helaan napas pelan, pundak yang naik-turun teratur, dan mata terkatup yang jadi jawabannya.

Kelinci besarnya sudah tidur ternyata.

"Ku kira kau marah. Ternyata sudah tepar," terkekeh pelan, Taehyung mengusap wajahnya dengan sebelah tangan sembari bergumam pelan. "Kenapa aku sekhawatir ini denganmu?"

Menarik selimut tebal, Jungkook menutupi sebagian tubuh Jungkook yang meringkuk di sebelahnya. Ia menyingkirkan helaian poni di dahi sang pasangan lalu membubuhkan kecupan yang cukup lama di dahi. Setelahnya Taehyung menyamankan posisi dengan rebahan di sebelah Jungkook. Ia memeluk sosok yang tengah mengandung itu dan berbisik pelan di telinga. "Eomma jangan marah pada appa, ya. Appa sayang sekali dengan eomma dan aegi."

Tak berapa lama, ia pun terbuai ke alam tak sadar di mana ia bermimpi bermain bersama seorang balita tampan yang mirip sekali dengannya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Closing dengan yang uwu uwu aja deh hehe.

Review yaa, jangan jadi silent reader karena review kalian yang jadi penentu jalan cerita ini. Jangan lupa follow Instagram Plum yang baru: thisissummerplum

Salam sayang,

Summer Plum