Naruto miliki Masashi khisimoto

Goblin Slayer milik Kumo Kagyu

Highschool DxD milik Ichei Ishibumi

Crossover dengan beberapa anime atau mungkin game, yang kalian ketahui nantinya seiring cerita berjalan.

All Character OOC

Chapter 19

Habis Gelap Terbitlah Terang

Opening: Inferno by 9mm Parabellum Bullet

Para goblin tidak mengerti akan arti teriakan Lenneth. Mereka malah makin tertawa lepas dan Goblin yang kelima, hampir meraba payudaranya dengan senyum menjijikan.

Hati Lenneth seakan ternodai, buah dadanya akan disentuh pertama kali bukan oleh orang yang diinginkan. Melainkan oleh monster paling lemah dan hina, Goblin!

Tapi sang Goblin berubah pikiran dan ingin langsung ke menu utama yaitu merobek keperawanannya, untuk menghasilkan keluarga baru bagi mereka.

Goblin tidak memiliki wanita mereka semua adalah laki-laki, karena itulah mereka menculik wanita untuk diperkosa agar melahirkan anak-anak mereka. Sekiranya wanita yang diculik itu sudah tidak berguna lagi, mereka akan membunuh lalu memakannya.

Begitulah tabiat monster hijau kecil ini, yang banyak disangka orang lain sebagai monster terlemah. Nyatanya, mereka memiliki sisi jahat yang teramat busuk melebihi Bandit ataupun Slime.

Secara tidak terduga keempat mata Goblin yang memegang bagian tubuh Lenneth melebar, sebab rekan mereka mendadak terhuyung dengan kepala yang berdarah karena sebuah luncuran batu.

Mata Lenneth pun terisi cahaya, sebab di jarak 7 meter dari tempatnya. Pria itu berdiri dengan pandangan dingin, dia tidak menggunakan armor dan hanya membawa ketapel serta gada yang tersangkut di punggungnya.

Dia hanya mengenakan pakaian katun tipis, dengan celana hitam dibawah lututnya.

"Hm."

Pria itu mendengus lalu memasang batu baru pada ketapel miliknya, mulai memutar serta menembaknya. Batu itu melayang cepat dan bersarang di kepala Goblin yang memegang tangan kiri Lenneth.

"Gagagaga!"

Goblin yang tersisa nampak marah dan menunjuk pria bersurai pirang itu, Lenneth dengan tersenggal mengucapkan julukan pria itu.

"Rat Slayer-san!"

Ketiga Goblin melepaskan anggota tubuh Lenneth dan segera melaju ke arah Rat Slayer. Mereka berencana menghabisi pria ini, yang sudah membuat rekan mereka mati.

Tangan Rat Slayer mengambil gada yang selalu terpasang dipunggungya. Satu ayunan kuat kepala Goblin itu berubah bentuk dengan mata keluar, disusul darah saat gada itu mendarat di kepalanya.

Dia memutar tubuh menghindari serangan dari belakang Goblin yang telah dibunuh. Kemudian, dia memukul kuat punggung makhluk itu yang gagal mengenainya. Membuat goblin itu terbanting kuat, memuntahkan darah dari mulutnya.

Kepala makhluk itu pecah dengan darah dan otak berurai, sebab Rat Slayer melayangkan berkali-kali gadanya kearah kepala makhluk itu. Goblin terakhir mencoba menyerang, tapi saat melihat semua rekannya terbunuh, dia menghentikan langkah dan berpikir untuk lari.

Namun dia terlambat, saat dia berbalik kepalanya sudah menancap sebuah belati. Matanya menggelap dan tubuhnya ambruk.

Lenneth yang melihat bagaimana Rat Slayer membunuh makhluk itu tanpa ragu bergidik, karena bagaimana pun apa yang dilakukan Rat Slayer sangat mengerikan. Tanpa disadari suara gesekan rumput terdengar, itu adalah satu goblin yang mencoba melarikan diri. Serangan pada kepalanya, masih belum cukup membuat makhluk itu mati.

Lenneth gemetar mengetahuinya, meskipun makhluk itu dalam keadaan lemah dan tak berdaya. Namun dia masih trauma, dengan apa yang telah dilakukan mereka padanya. Seinchi demi seinchi monster itu menjauh dan Lenneth tetap bergeming, tiba-tiba sebuah belati tersodor ke arahnya. Saat dia melihat belati itu, segera dia menoleh kepada sang pemberi.

Adalah pria bersurai pirang dengan wajah tanpa emosi dan pandangan kosong yang memberikan itu. Jika saja wajah itu melekukan sudut bibirnya sedikit, mungkin wajah Warrior Priestess akan bersemu.

Mata gadis itu bergetar menatap mata kosong Rat Slayer, berusaha mencari celah agar dia tidak melakukannya. Namun tidak berhasil, malah sebuah perintah keluar dari mulut Rat Slayer.

"Bunuh Makhluk itu!"

Ini adalah perintah yang membuatnya bimbang, persis saat dia memerintahkan untuk menjalankan rencana itu kemarin. Namun kali ini kebimbangannya lebih besar.

"Aku tidak bisa!"

Lenneth menggelengkan kepala pada perintah Rat Slayer. Dia masih belum sanggup untuk membunuh Makhluk itu, dengan tangannya sebab masih trauma.

Sebuah kejutan terjadi. Rat Slayer segera menyerahkan belati itu, sambil memandang tajam.

"Cepat bunuh! Kalau kau ingin merebut apa yang telah mereka lakukan padamu!"

Kepala Lenneth terasa dihampiri berbagai ingatan. Senyum Dwarf Warrior yang selalu membantunya ketika kesulitan, lalu Elf Druid yang senantiasa menyemangatinya saat dia dalam kondisi menyedihkan.

Adapula Girl Spearman yang selalu berbagi kisah hidupnya, agar bisa mendapatkan pasangan seorang petualang supaya dirinya bisa bertualang bersama juga ada Bugman Monk yang bercita-cita, menyenangkan dewa Zeus sesembahannya.

Hal itu terekam begitu saja diingatan, tanpa ada yang memulai. Hatinya perlahan mulai menunjukan ketetapan, keberadaan party itu sangat membuatnya nyaman dan menyenangkan.

Ada banyak cerita serta hal yang dia bisa katakan jika tentang mereka, lalu ketika semua itu membuncah. Pikirannya terfokus pada satu pria berseragam samurai, dengan wajah yang tampak selalu sendu. Sampai sekarang pun, dia tidak tahu kenapa dan apa yang membuat pria tersebut bermuka seperti itu.

Perlahan dia mulai bergerak mengabaikan detakan jantung yang kian menderu, akibat dorongan hatinya yang bimbang atau butiran peluh yang perlahan turun akibat ketegangan dirinya. Bahkan yang lebih penting dari itu, fakta kalau tubuhnya hanya tertutupi kain yang hanya menutupi area vitalnya.

Lenneth mulai berjalan pelan, sambil ingatan itu menari di kepalanya. Dia tidak tahu dari mana dia punya kekuatan untuk bergerak ke arah Goblin yang terjatuh itu.

Sementara sang Goblin melebarkan mulutnya yang mengeluarkan darah, ditambah sebuah matanya keluar karena serangan Rat Slayer. Siapa yang memandang keadaannya pastilah menaruh simpati, namun Lenneth saat melihat itu terbayang akan bagaimana mengerikannya makhluk ini jika diberi pengampunan.

Tangannya mengepal kuat memegang belati, lalu langsung menancapkannya dipunggung makhluk itu. Sang Goblin berteriak meminta pengampunan namun pikiran Lenneth menari ke masa lalu, saat mereka terjebak dalam Dungeon untuk memenuhi permintaan seseorang sebab ada monster mengerikan di sana.

Selagi menusuk punggung makhluk itu darah terus memuncrat ke wajahnya, meski sang monster sudah tidak bernyawa dia terus menusuknya lagi dan lagi. Isi dari pengalaman buruk itu adalah Girl Spearman dipukuli sampai tak berdaya oleh makhluk itu, sebelum di perkosa beramai-ramai.

Elf Druid dibakar hidup-hidup setelah mereka menyiksanya, Dwarf Warrior kepalanya dipenggal lalu ditendang ke sana kemari oleh mereka. Nasib terburuk menimpa Bugman Monk, dimana tubuhnya ditusuk duri-duri dan menggantungnya terbalik.

Ingatan-ingatan itu berhenti disitu. Dan Lenneth makin kuat menusuk lagi dan Lagi pada punggung itu, berharap ingatan tentang Captain muncul. Sebab yang diingat olehnya adalah punggung pria itu yang membelakanginya, untuk menghadang beberapa Goblin Champion agar dirinya bisa lari.

Akhirnya, dia mengepal kuat pada belati. Satu tusukan terakhir membuat belati itu patah di tubuh Goblin yang ditusuknya. Mayat itu tidak menunjukkan bentuknya lagi, sebab sudah seperti kasur yang ditusuk-tusuk hingga semua isinya keluar.

Napas Lenneth memburu dengan detak jantung melaju kencang. Bahkan dari mulutnyalah udara masuk ke tubuh. Setelah beberapa saat dia sudah tenang, Lenneth memejamkan mata dan sebutir air mata melewati pipi mulusnya.

'Semuanya.'

Kalimat itu bergema dihatinya. Ada rasa lega saat dia mengucapkan itu, seakan teman-temannya berdiri di depannya dan tersenyum sambil mengangguk. Apa pun itu, hal tersebut membuat dirinya senang. Lalu sebuah tepukan membuatnya kembali sadar.

"Bersihkan tubuhmu!"

Suara datar itu memerintahnya. Dia memandang sang pemanggil yang tak lain adalah pria yang sangat mirip dengan sang captain. Lalu matanya beralih pada kedua lengannya, yang sudah berlumur darah dan beberapa daging menempel disana. Perlahan dia menggenggamnya dan kemudian menaruhnya di antara buah dadanya yang ranum.

'Aku berhasil mengatasi traumaku.'

Saat itulah dia sadar, kalau dia tidak mengenakan sehelai kain dan langsung bergumam.

"Kenapa?"

Naruto bergeming saat pertanyaan itu melintas, bersamaan dengan angin yang bertiup menerpa wajahnya hingga menggoyangkan pelan rambutnya.

"Tidak ada alasan khusus."

"Padahal aku sudah lari darimu."

Suara itu lirih seakan menahan rasa bersalah, Lenneth berharap pria itu akan mengatakan 'aku khawatir!' atau kalimat yang serupa namun pria itu memerintah.

"Bersihkan tubuhmu dan kita bicara, lalu gunakan pakaian ini?"

Saat mengatakan itu, dia menyerahkan sebuah bingkisan kecil. Jantung Lenneth berhenti berdetak ketika menerima itu, tangannya bergetar seraya masih mendekap di dadanya. Dia sangat yakin kalau ini bakal terjadi, bahkan ini merupakan rencananya yaitu membubarkan party.

"Kenapa tidak sekarang saja?"

Lenneth berusaha memancing agar pria itu langsung pada intinya. Dia benar-benar sudah siap jika harus mendengarnya. Tapi lagi-lagi pria itu mengulang.

"Bersihkan tubuhmu dan kita bicara!"

Dia berbalik dan berjalan pelan meninggalkan Lenneth untuk membersihkan diri. Kali ini punggung pria itu tampak sama seperti sang captain dimatanya, membuat hatinya takut jika harus berpisah.

Tangannya terulur untuk menggapai, tapi keadaannya kacau balau sebab dirinya. Belum lagi, ucapannya barusan pasti memancing sesuatu pada Rat Slayer. Meski berat dia mencoba untuk tegar dan segera membersihkan diri, serta mengenakan pakaian yang diberikan Rat Slayer.

Kini tubuhnya telah berselimutkan baju priestess dengan warna hijau tepian biru, Lenneth melangkah menuju Naruto yang sudah menunggunya dari tadi.

Tiap langkah yang dia lakukan, membuat jantungnya berdetak kian kencang. Walau dia sangat yakin, jika pria itu tidak akan memarahinya.

"Aku sudah selesai!"

Lenneth mengatakan dengan suara gugup pada pria yang sedari tadi, duduk di sebuah batu besar sambil menatap rimbunnya pepohonan. Naruto menghembuskan napas dan tanpa menoleh.

"Aku ingin penjelasan?"

Sesuai dugaannya, Rat Slayer pasti meminta untuk mengajukan penjelasan agar dirinya tenang sebelum dia memberi keputusan pembubaran Party. Supaya Dia tidak merasa kecewa, sebab sudah memberi penjelasan. Tapi dia lebih siap untuk situasi ini.

"Aku rasa kita tidak perlu berputar-putar. Langsung ke intinya saja, aku tidak bodoh hingga harus dihibur seperti itu."

"Jadi begitu!"

Saat mendengar itu, Lenneth merasa lega sebab perkiraannya benar. Namun terasa sakit, karena yang ingin didengarnya dari pria itu bukanlah jawaban tersebut.

Kali ini Rat Slayer memandangnya dengan wajah serius dan sorot tajam, lalu mengatakan dengan datar.

"Apa cemburu itu semacam Rat atau Omni-Rat?"

Awalnya Lenneth ketakutan saat melihat wajah serius dan sorot tajam itu, bahkan dia sudah siap jika kata "kita berpisah di sini" tapi entah kenapa. Pertanyaan bodoh itu yang dia dengar.

"Heh, bisa kau ulangi!"

"Apa cemburu itu semacam Rat atau Omni-Rat?"

Matanya berkedip beberapa kali dan kemudian, sesuatu di perutnya terasa gatal lalu secara refleks.

"Hehehe hmhmhm~"

Dia tertawa kecil dengan mengeluarkan suara merdu. Bahkan ujung matanya tampak mengeluarkan setetes air, sedangkan mulutnya ditutupi tangan kanan agar tidak menyinggung perasaan orang yang bertanya.

Naruto awalnya mengerutkan kening saat melihat Lenneth tertawa seperti itu, tapi matanya menghangat karena dia melihat seakan sosok kakak perempuannya yang ada di situ. Mulutnya refleks menggumam.

"Nee-chan!"

Saat dirinya terbuai karena pertanyaan konyol itu yang membuat bebab dipundaknya ringan, telinganya kini menangkap suara pria itu memanggil dirinya dengan sebutan Nee-chan.

Dia ingin tertawa keras tapi seakan hendak memastikan, dia membuka matanya untuk menatap pria itu yang mungkin masih dengan pandangan kosongnya. Namun, kali ini dia tertegun. Saat ini mata biru shappire itu menatapnya dengan hangat, seolah dia benar-benar kakak perempuan pria itu.

Pandangan keduanya terkunci, Lenneth yang sudah lebih baik dari sebelumnya karena pertanyaan konyol tadi. Kini dihadapkan pada sisi lain Rat Slayer, mata yang selalu memandang tanpa cahaya kini memancarkan kehangatan dan itu diarahkan kepadanya.

"Apa aku … mirip seperti kakak perempuanmu?"

Mendapati pertanyaan itu, mata Rat Slayer kembali mengosong dan segera mengalihkan pandangan ke arah hutan kembali. Lenneth merutuki diri yang telah mengakhiri momen yang langka tersebut sebab bertanya seperti itu.

Kini tidak mungkin kejadian tadi dia dapatkan dengan mudah, tapi ia senang sebab sudah melihat sisi lain pria itu. Meskipun dia sadar, kalau itu akan menjadi akhir dari kebersamaan mereka.

"Iya, kau sangat mirip."

Mata Lenneth melebar mendengar jawaban Naruto yang masih setia menatap hutan, terpaan angin membuat rambutnya bergoyang dan itu menambah kesan aneh dihati Lenneth.

"Awalnya, aku memanfaatkanmu sebab keajaiban milikmu sangat berguna. Untuk menyelesaikan [Serial Quest] tapi lama kelamaan, aku melihat sosok kakak perempuanku yaitu Naruko-nee ada padamu."

Kalimat jujur pria itu mengalir seperti sebuah aliran air yang mengeluarkan suara merdu. Begitu lembut dan juga membuat pendengarnya merasa senang.

Yah Lenneth merasakan sensasi aneh dihatinya kian membuncah, pikiran bodoh yang terlintas dikepalanya dikutuki habis-habisan. Malah dia berharap agar itu tidak terjadi, tapi melihat sikapnya hari ini.

"Karena itulah, aku ingin tahu apa yang membuatmu cemburu?"

Alis Lenneth akhirnya terangkat, saat pertanyaan itu terulang tiga kali. Dia penasaran dari mana Rat Slayer yang selalu bertingkah aneh, bahkan tidak pedulian bisa menanyakan hal tersebut.

"A-anu Rat Slayer-san! Kalau boleh tahu, dari mana kau berpikir aku cemburu?"

"Gadis itu menjelaskan padaku, dia bilang 'cepat kejar, wanita itu pasti cemburu!' Begitu yang dikatakannya."

Pelipis yang tadinya terangkat, kini berkedut ditambah bibirnya melekuk kaku.

'Ga-gadis sialan! Ternyata dia yang memberitahunya. Awas saja.'

Sepintas dia membayangkan wajah gadis itu yang mengedipkan mata serta memberi jempol.

"Kau tahu alasannya juga percuma, sebab kau pasti ingin membubarkan party denganku kan."

Hening

Rat Slayer terdiam mendengar ucapan Lenneth. Matanya menatap lekat lawan bicara di depannya.

"Kenapa kau berpikir, aku akan melakukannya?"

"Eh!"

Ekspresi Lenneth hampir terkejut namun dia bisa tahan, sebab dia tidak ingin tampak senang. Namun, lubuk hatinya berbunga saat mengetaui itu.

"Aku sudah tidak sopan padamu sebab pergi begitu saja, lalu aku juga hampir membunuhmu. Jadi kupikir, itu alasan yang masuk akal kau membubarkan Party denganku." Dia menjeda, "lalu kau sepertinya sudah mrmpunyai orang penting, bukan?"

Lenneth menjelaskan dengan senyum terpaksa agar meyakinkan, tapi hati nuraninya mengutuk ucapan yang baru keluar itu.

Rat Slayer menurunkan pandangan begitu mendengar penjelasan Lenneth, lalu teringat akan hal-hal yang menurutnya berharga kini sudah hilang.

Dia meremas kuat kepalan tangan dan menggertakan gigi. Hal tersebut bukan ditujukan untuk lawan bicaranya, namun pada dirinya yang tidak bisa berbuat banyak saat tragedi itu terjadi. Mulutnya bergumam dingin.

"Untukmu yang melakukan tindakan tidak sopan, aku tidak peduli sama sekali."

Rat Slayer menjeda kalimatnya dan Lenneth masih setia mendengarkan ucapan Rat Slayer, lalu dia meneruskan.

"Untuk aku yang hampir kehilangan nyawa itu sepenuhnya tanggung jawabku, kau tidak perlu merasa bersalah Kemudian …."

Dia menghentikan pembicaraan, suaranya seakan terkunci di tenggorokan sebab begitu berat sekali baginya. Untuk mengucapkan akhir dari jawaban yang diajukan Warrior Priestess.

Lenneth atau Warrior Priestess tertegun, ketika Rat Slayer kesulitan mengungkapkan apa yang hendak diucapkan. Dia mengambil kesimpulan kalau itu adalah kata perpisahan yang dia duga hingga akhirnya ia menyerobot.

"Kau ingin membubarkan Party denganku, bukan? Aku sudah tahu itu. Aku paham kalau kau akan membubarkan party!"

Air mata menetes ketika dia mengatakan itu lalu dia melanjutkan.

"Aku adalah beban, aku tidak bisa diandalkan."

Hatinya menjerit berulang kali saat mengucapkan itu, dia bahkan mengabaikan Rat Slayer yang kini mematung dengan mata bergetar.

"Aku bahkan tidak bisa melawan Goblin, bahkan aku hampir membunuhmu."

Lenneth sepenuhnya tenggelam dengan ucapannnya, lalu terjatuh di atas lutut dengan air mata mengalir. Diantara isakan tangis itu ia berkata.

"Harusnya aku mati saja di dalam Dungeon itu, kenapa mereka membiarkanku hidup."

Isakan tangis yang awalnya kuat dan air mata mengalir deras' perlahan namun pasti mengecil dan mengering. Setelah Warrior Priestess tenang di matanya, barulah dia menjelaskan.

"Sesuatu yang berharga bagiku sudah direnggut paksa, aku hanya terdiam saat itu terjadi. Lalu setelah semua ucapan bualanmu itu, kau berkata lebih baik mati saja bersama mereka dan berpikir kenapa mereka membiarkanmu hidup?"

Lenneth tak bisa membantah sebab tenaganya sudah habis, ia tidak menyangka semua kalimat yang diucapkannya menurut Rat Slayer itu hanya bualan ditambah dia menangis lama. Lalu Naruto menatapnya lekat.

"Kau sudah menjadi hal yang berharga bagiku, di masa lalu aku tidak bertindak tapi kali ini lain. Aku akan melindungimu dan menjagamu. Jadi jangan pernah berpikir, aku membencimu!"

Lenneth merasakan kehangatan luar bisa dihatinya, seperti pertanda angin musim semi datang. Begitu hangat dan membuat nyaman. Namun bayangan gadisnherbalis, membuatnya kembali murung dan bertanya.

"Lalu gadis itu, siapa dia bagimu? Bagaimana dia tahu nama aslimu?"

Ketika selesai mengatakannya, Lenneth segera menutup mulut. Rat Slayer tetap pada posisinya, Kini dia mengerti, alasan utama gadis itu pergi secara tiba-tiba.

"Gadis itu bukan siapa-siapa bagiku dan bagaimana dia tahu namaku. Dulu saat di desa Baran dia menanyakannya. Waktu itu, aku belum mendapat panggilan Rat Slayer dari para petualang di kota perbatasan. Apa itu yang membuatmu cemburu?"

Setelah peristiwa menyedihkan dan menguras air mata. Lenneth berpikir kalau semuanya tampak konyol, pada akhirnya dia tersenyum. Kali ini dengan senyum bahagia sebab mengetahui, kalau dirinya adalah hal yang berharga bagi pria itu.

"Maaf membuatmu khawatir!"

"Jangan pikirkan. Lebih baik kau menyiapkan alasan yang tepat untuk gadis itu."

Rat slayer segera berbalik dan melangkah disusul Lenneth di belakang, gadis itu menggaruk pipinya sebab harus menjelaskan pada Girl Herbalis.

'Tapi semuanya sepadan.'

Tiba-tiba Rat Slayer berhenti, membuat Lenneth bertanya-tanya dalam hati.

"Aku lupa mengatakannya."

"Apa?"

Lenneth menahan napas untuk mengetahui apa yang dilupakan Rat Slayer, kemudian telinganya mendengar suara pria itu.

"Kau itu ..."

Ketika mendengar siapa dia bagi Rat Slayer, pipinya merona hebat dan wajahnya berseri-seri. Andai saja pria itu menoleh, mungkin dia akan tertegun sebab kecantikannya.

Saat sampai di tempat Girl Herbalis. Tubuhnya langsung mendapat tekanan hebat. Adalah Girl Herbalis yang merangkulnya kuat, seakan lama tidak bertemu.

"Kau kemana saja? Kenapa pergi begitu saja tanpa penjelasan? Apa kau baik-baik saja? darimana kau dapat baju ini?"

Lenneth kebingungan dan tersenyum kaku, ketika berondongan pertanyaan itu datang padanya. Jari telunjuknya berulang kali menggosok pipi mulusnya, untuk menenangkan diri.

"Ya, a-aku pergi ke hutan sebab … e-etto…."

Matanya melirik pada Rat Slayer yang mengisyaratkan 'tolong bantu aku menjelaskan padanya.' Menerima tatapan itu, Naruto segera bergerak.

Lenneth merasa senang karena berpikir Rat slayer akan membantunya, menjawab pertanyaan dari gadis herbalis namun hal mengejutkan terjadi.

"Aku akan menyiapkan kuda, kita akan berangkat malam ini."

"Eh!"

Mata Lenneth memutih dengan mulut terbuka, saat mendengar pria itu mengucapkannya dan langsung keluar.

'Dia tidak membantuku!'

"Kenapa buru-buru pergi."

Namun, apa yang dilakukan Rat Slayer membuat Girl Herbalis mengalihkan pertanyaannya langsung pada Naruto.

Dia yang sudah mendekati pintu keluar berhenti sejenak dan tanpa menoleh.

"Aku tidak mau merepotkanmu, jika tidak keberatan bisa kau sebutkan namamu?"

'Jadi ini caramu menyelematkanku dari pertanyaan beruntun gadis ini. Tapi apa-apaan, dia bertanya tentang nama gadis itu.'

"Iya, apa yang dikatakannya benar, kami sudah sepakat akan pergi malam ini, sebab waktu [Serial Quest] miliknya dan [Pilgrimage Quest]ku tersisa satu bulan dua minggu jadi kami harus bergegas."

Gadis herbalis menurunkan bahu dan wajahnya cemberut, mengetahui jawaban itu yang didapatnya. Tapi dia tidak bisa memaksa, sebab petualang memiliki banyak kesibukan. Jika mengabaikan waktu maka Quest mereka akan gagal dan berakhir tidak mendapat bayaran.

"Aku mengerti dan namaku adalah Nadeshiko Shizuka. Rat Slayer! Saat kita bertemu lagi aku pasti akan ikut dalam petualangmu, bolehkan?"

Pria itu masih setia mendengarkan, saat dia hendak melangkahkan kaki.

"Aku tidak terlalu berharap tapi bila itu tiba, pastikan kau sudah tahu bahwa jalan petualang tidaklah mudah."

Lepas mengatakan itu dia melangkah keluar, meninggalkan dua gadis yang terdiam dengan pikiran masing-masing setelah mendengar ucapannya.

"Um, jadi kau berhasil meminta maaf dengan baik ya?"

"Eh!"

Shizuka mengawali pembicaraan dengan menggoda Lenneth. Sedangkan yang digoda memasang wajah rumit dengan pipi memerah. Hal itu membuat senyum Shizuka merekah, lalu dia menambahkan sambil menatap pintu keluar.

"Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya."

"Apa maksudmu?"

Shizuka tersenyum dengan memunculkan giginya yang putih. Saat Lenneth bertanya dengan wajah terkejut.

"Aku hanya kagum padanya, karena sudah menyelamatkan desa Baran dari serangan Omni-Rat itu. Sebenarnya, aku sudah memiliki tunangan."

Lenneth kian menatap penuh selidik dengan apa yang baru didengar, namun tiba-tiba wajah Shizuka berubah sendu dan mengundang ia bertanya.

"Lalu dimana tunanganmu itu?"

Hening

Shizuka tidak langsung menjawab pertanyaan itu, seakan sedang mengumpulkan keberaniannya. Saat dia yakin, barulah dia menjawab.

"Dia tewas ditangan omni-rat dengan tangan terputus, saat aku melihatnya aku depresi dan pingsan. Kemudian saat sadar, seluruh warga memutuskan kembali untuk melihat keadaan desa. Lalu aat kami sampai pertempuran telah usai, Night Elf tadi pagi dan Rat Slayer terbaring bersama beberapa Omni-Rat dimana-mana."

Lenneth menundukan kepala saat mengetahui itu, dirimya tidak menyangka kalau gadis di sebelahnya yang periang dan penuh rasa ingin tahu. Mengalami hal mengerikan semacam itu, betapa bodoh dirinya yang langsung berpikir kalau dia memiliki hubungan dengan Rat Slayer.

"Maaf!"

Dia mengucapkan itu setelah memeras emosi yang bergulat di dadanya dan Shizuka pun menjawab.

"Tidak perlu meminta maaf, aku cukup sadar kenapa kau langsung lari saat aku memanggil namanya."

Lenneth mengangguk ketika mendengar tanggapan itu, lalu sebagai balasan ia menyerahkan sesuatu pada Shizuka.

Itu adalah sebuah kalung dengan lambang Freya terukir di bandulannya.

"Benda ini memiliki kekuatan suci yang diberkahi dewi Freya, terimalah sebagai permintaan maafku."

"Eh, tapi …."

"Kumohon terimalah, aku akan merasa bersalah jika kau menolaknya!"

Shizuka menghela napas ketika mendapat ucapan seperti itu, ia hanya bisa mengangguk pelan. Lenneth yang melihatnya, melekukan sudut bibir.

"Namaku Lenneth! Senang bisa bertemu denganmu, Shizuka!"

"Aku juga, lain kali aku bolehkan bertualang bersamamu?"

Lenneth tersenyum saat mendapat pertanyaan seperti itu. Dalam hati dia berpikir apa yang diharapkan Rat Slayer, mungkin untuk membuat dia lebih dekat dengan Shizuka yang artinya.

Keduanya bercengkerama sebentar, lalu Rat Slayer menghampiri untuk mengajak Lenneth berangkat.

"Semua sudah siap, mari kita berangkat."

"Kalau begitu, kami melanjutkan perjalanan!"

"Iya, hati-hati."

Setelah keduanya mengucapkan salam perpisahan, keempat mata itu mengalihkan pandangan pada pria bersurai kuning. Mengetahui dirinya ditatap, Rat Slayer segera menjawab.

"Jaga dirimu dengan baik dan terima kasih untuk semuanya."

Setelah mengatakan itu dia berbalik dan langsung menuju kereta kudanya, disusul Lenneth yang sedikit berbasa-basi.

Shizuka melambaikan tangan dengan senyum menghias wajah, mengantar kepergian mereka. Setelah itu, dia bergumam.

"Guru! Apa kau yakin tidak ingin menemuinya."

Suara drap langkah terdengar mendekat ke arahnya. Seorang wanita dengan rambut pirang panjang yang diikat ke belakang. Buah dada yang ranum sempurna dan berlian di keningnya, berbalut jubah hijau dengan tepian biru. di belakang punggunganya terdapat bacaan [Ahli Medis] mendekat ke arahnya.

"Melihat dia sehat saja sudah membuatku senang, itu sudah cukup."

"Tapi kenapa kau tidak menemuinya bukankah dia masih saudara klanmu, Sensei?"

"Biar waktu saja yang menentukan kapan itu terjadi. Setidaknya aku senang, masih ada yang tersisa dari klan Uzumaki."

Ucapan itu disambut senyum oleh Shizuka. Hatinya berbisik agar Rat Slayer baik-baik saja dalam menjalankan Serial Questnya.

And Cut

Yoo Jinchuriki Shukaku disini.

Kembali membawa Chapter baru, gimana kisah kali ini kalau garing mohon maaf. Romance emang kelemahan saya, ku harap kalian gak terganggu dengan itu ya.

Oke ke pembahasan. Secara resmi Arc kedua selesai ya, dan besok masa tenang. Akhirnya, kepalaku bisa beristirahat, tapi apa Rat Slayer akan beristirahat. Ahaha itu tidak mungkin terjadi.

Ke depan aku akan kasih Garis Besar yang akan terjadi untuk Chapter Arc Ketiga. Mohon maaf jika kalian penggemar DxD untuk sistem Longinus, kayaknya gak bakal aku keluarin tapi jika kondisi membutuhkan nanti aku pikirin lagi dah.

Chapter kali ini khusus menerangkan kedekatan antara Naruto dan Lenneth, yang lagi nyari momen romance tuh ane dah kasih walau mungkin receh sih. Tapi saya kasih spoiler dikit ya, apa yang diucapkan Naruto pada Lenneth akan memancing sesuatu.

Nah siapa yang terpancing itu, apakah ikan besar atau malah ikan teri. Tunggu chapter depan. Nah masalah klan Uzumaki, nanti ane bahas di chapter depan deh dan gimana dia punya hubungan ama sensei Girl Herbalis.

Akhirnya terungkap, identitas Girl Herbalis adalah Nadeshiko Shizuka. Aku memang suka dengan karakter sat, ini tapi maaf spoiler udah dikatakan olehnya bukan Hehe.

Banyak yang mau dibacotin tapi karena waktu mepet jadi kupersingkat saja, terima kasih udah membaca ceritaku ya.

Time to Balas Review.

D'Arc 01: Noh si Pirang udah nyelametinnya, dan bahkan bikin dia bersemu lagi :v

Sevirel Reshi Dashi: beruntungnya sang Goblin gak jadi meremas gundukan ranumnya, kalau itu terjadi mungkin dia bakal kena Hit ama Freya langsung sebab kelakuannya. :v

Dimas Kurosaki: terima kasih atas semangat yang kau berikan :v, jangan bosen-bosen ama ceritaku ya.

Guest: lain kali bakalan bukan goblin deh, mungkin sesuatu yang menantang seperti Manticore gitu kali yak:v pokoknya terima kasih dan semoga chapter ini membalas rasa pensaran anda.

Guest : Aku manusia:v, aku gak gantung cerita aku tuh cuman potong di adegan klimaknya. Mana buktinya aku motong cerita.:v

: Danchou! Terima kasih pujiannya:v, aku terharu dapat pujian darimu. Terima kasih dan semoga chapter ini memuaskan.

Itu aja pembalasan review kali ini mohon maaf jika ada salah dan kekurangan.

A\N tunangan Shizuka adalah pria yang ditebas tangannya oleh Rat Warrior, saat mereka menyerang desa Baran cek di chapter 5

Jinchuriki Shukaku Out!