Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
Dan di sini author akan membuat segalanya terlalu berlebihan, hehehe,
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[Crown for the Queen ]
~ Chapter 21 ~
.
.
Sakura pov.
Siang ini, setelah menyelesaikan lagi sedikit catatan pajak itu, kesatria Sai mengajakku ke sebuah taman, ini berada di istana milik Yang mulia raja, taman yang lebih indah dari taman di istana barat, beberapa hari ini aku pusing menghadapi pangeran yang terus mengomel padaku, tiap detik dia akan marah dan memerintahku seakan aku pelayan untuknya, panggilan minum teh bersama oleh Yang mulia ini sedikit mengalihkan perhatianku.
"Saya yakin jika Yang mulia juga memberi hukuman pada saya." Ucapku.
"Aku tidak melakukan itu, nona Sumire."
"Kau tahu Yang mulia, pangeran sangat membenciku dan kau menempatkan kami dalam satu ruangan."
"Ini akan membuatnya terbiasa denganmu."
"Haa…~ saya lebih memilih di tahan di penjara bawah tanah saja." Ucapku.
Setelah beberapa hari terlewat, Yang mulia raja belum menjelaskan apapun yang terjadi saat itu, hanya kesatria Sai yang menjelaskannya padaku sedikit demi sedikit, Yang mulia raja cukup sibuk, belum lagi setelah kejadian di ruangan pertemuan itu, aku mendapat berbagai tuduhan, hingga akting Yang mulia raja yang begitu meyakinkan. Setiap aku melewati para pelayan, mereka akan kembali membuat gosip jika aku lebih keras mengemis pada Yang mulia raja agar tidak menghukumku atau mengusirku dari istana ini.
Pandangan mereka padaku semakin buruk, sejujurnya ini tidak membuatku bermasalah, hanya saja jangan sampai ada lagi penyerangan yang berikutnya.
"Apa pangeran Sasuke tidak protes apapun pada Yang mulia?" Tanyaku, aku yakin dia jauh lebih tidak setuju bekerja sama denganku.
"Pangeran Sasuke tidak akan bisa protes." Ucap raja Itachi dan tersenyum, apa yang sudah di lakukan pada adiknya sendiri? Dia memang raja yang sulit di tebak.
Pangeran Sasuke yang begitu keras kepala, akan langsung tunduk pada Yang mulia raja Itachi, apa ini termasuk kekuatan seorang kakak?
"Aku yakin kau ingin jalan-jalan di luar istana." Ucap raja Itachi tiba-tiba.
Aku memang ingin keluar, hanya saja saat itu aku berencana menjual salah satu perhiasan di dalam kotak itu, aku ingin membelikan sesuatu sebagai hadiah saat hari ulang tahun Yang mulia raja.
"Tidak, saya tidak ingin keluar. Saya melupakan sesuatu Yang mulia, bagaimana dengan kotak harta itu?" Ucapku, aku lupa jika kotak harta itu masih berada di ruanganku.
"Aku tidak memikirkannya lagi, itu sudah menjadi milikmu."
"Saya tidak enak mendapatkan kotak harta itu setelah mendapat masalah."
"Sebenarnya itu juga bukan milikku, itu milik pangeran Sasuke, tapi dia mengatakan tidak ingin mengambilnya kembali, jadi semua yang ada di kotak harta itu adalah milikmu."
Tetap saja, gara-gara kotak harta itu, kepercayaanku pada nyoya Rose hampir runtuh, pangeran benar-benar jahat, dia bahkan memanfaatkan nyonya Rose yang hanya pelayan tua.
Dia tidak ingin mengambilnya kembali, merasa kotak harta itu sudah kotor akibat tanganku, dia masih tetap menganggapku wanita yang tidak tahu diri.
Taman ini sangat indah, meja dan kursi yang nyaman, segelas teh dan tak lupa kue yang enak, kesatria Sai akan senantiasa menjagaku walaupun dia sedang berjaga cukup jauh, katanya tidak ingin mengganggu pembicaraanku dengan Yang mulia raja.
"Terima kasih atas ajakan minuman tehnya hari ini Yang mulia, saya merasa lebih baik bertemu dengan Yang mulia dan berbicara." Ucapku.
Penat ini sedikit berkurang, bukannya karena pekerjaanku, tapi pangeran Sasuke yang tidak bisa diam.
.
.
.
.
.
Sasuke Pov.
Hari ini aku tidak bisa menemui kakak, dia terlihat sedang minum teh bersama nona Sumire, entah apa yang mereka sedang bicarakan, wanita itu dan kakak terlihat sangat senang, menatap kesatria Sai, dia sempat melirik ke arahku, aku tidak bisa ke sana dan berbicara pada kakak.
Malam ini, aku harus bertemu dengannya, bahkan mengganggu sedikit waktu santainya di kamarnya.
"Ada apa, pangeran?" Tanyanya saat melihatku datang.
"Apa kakak tahu, ada sebuah buku di ruangan galeri yang telah di robek dengan sengaja. Bukannya itu sebuah pelanggaran?" Tanyaku.
"Sungguh? Seharusnya itu menjadi sebuah pelanggaran, apa kau melihat orang yang merobeknya?" Ucapnya.
"Aku tidak melihatnya, tapi jika di usut, pasti akan menemukan pelakunya."
"Buku apa yang di robeknya?"
Terdiam, aku lupa, seharusnya aku tidak mengatakannya pada kakak, aku harus mencari tahu sendiri apa yang terjadi pada 14 tahun yang lalu, termasuk mencari tahu siapa nona Sumire itu sebenarnya.
"A-aku tidak ingat." Bohongku.
"Tidak apa-apa, nanti aku yang mencoba melihat buku itu." Ucap kakak.
"Maaf, aku sudah mengganggumu, kakak."
"Tidak masalah pangeran. Oh ya, bagaimana kerjasama kalian?" Ucap kakak, dia menanyakan tentang kerjasamaku dengan nona Sumire, aku rasa dia adalah partner kerja yang menyebalkan.
"Aku ingin dia berhenti bekerja saja, walaupun cara kerjanya sangat bagus dan teliti." Ucapku.
Aku tidak bisa menyangkal jika dia wanita yang hebat untuk urusan pekerjaan seperti itu, apakah ini potensi miliknya yang dimaksudkan kakak? Jika di luar sana, akan banyak orang yang membutuhkannya.
Tapi,
Di setiap kerajaan, akan sangat sulit menemukan wanita yang sangat terpelajar, mereka hanya mengurus diri dan berusaha menjadi wanita terpandang di mata para pria. Hampir seluruh pekerjaan istana akan di lakukan oleh para pria.
"Kenapa kau ingin dia berhenti? Bukannya kau ingin dia bekerja pada kita?"
"Aku rasa, nona Sumire hanya perlu mengurus diri saja, apa kakak tidak merasa kasihan jika dia bekerja seperti itu terus? Bukannya seorang wanita tidak perlu bekerja?"
"Kau benar pangeran, aku memberimu kekuasaan untuk memutuskannya." Ucap kakak.
Ini jauh lebih baik, sejujurnya aku malas bertemu dengannya dan berada di satu ruangan dengannya, apalagi saat bersama kesatria Sai, mereka seperti mengabaikanku yang juga berada di ruangan itu, apa-apaan mereka! Kenapa kesatria Sai bersikap seperti itu padaku? Padahal saat kita bersama bukan waktu yang sebentar. Sekarang, saat menjadi pengawal pribadi nona Sumire, dia seakan melupakanku, teman macam apa dia?
"Baiklah, aku akan kembali ke kamarku. Selamat malam, kakak." Ucapku dan bergegas.
Hampir saja kakak mengetahui segalanya, tentang apa yang aku lakukan beberapa hari ini, aku harus selalu berhati-hati jika sedang berbicara dengan kakak, aku masih penasaran akan kerajaan Haruno dan kejadian saat 14 tahun yang lalu itu.
Lalu, aku harus melakukan sesuatu.
"Apa semua undangan sudah di kirim?" Tanyaku pada Duke Danzo, dia yang mengurus undangan untuk para putri di seluruh kerajaan.
"Sudah, pangeran."
"Aku ingin kau menambah satu undangan lagi."
"Untuk kerajaan mana pangeran? Aku pikir semua kerajaan sudah mendapatkannya."
"Kerajaan selatan, kerajaan Haruno, di sana ada cukup banyak putri, kita tidak boleh melewatkan seorang putri pun." Ucapku.
"Baik, pangeran, undangan itu akan segera di kirimkan." Ucap Danzo.
Ini rencana yang baik, aku harus tahu putri yang berasal dari kerajaan selatan itu, lalu, jika benar salah satu putri yang direncanakan akan menjadi tunanganku, dia akan datang jika mendapat undangan itu, apa mungkin putri itu masih mengingatnya? Aku juga harus menanyakan apapun tentang kejadian 14 tahun yang lalu, akan lebih mudah mendapatkan informasi langsung dari sumbernya.
.
.
TBC
.
.
updateee...~
