Dor.

Dor.

Buaam….

Jisoo membuka matanya kala mendengar kerincuhan di sekitarnya. Suara yang ditangkap telinganya mampu membuat Jisoo untuk sadar.

Ia merasakan tubuhnya sangat lemas karena efek bius yang belum sepenuhnya hilang. Dengan sekuat tenaga Jisoo mengangkat tubuhnya untuk duduk.

"Seokmin… Jeonghanie.."

Jisoo mencoba membangunkan Jeonghan dan Seokmin yang tergeletak begitu saja di sampingnya.

'Kenapa kami tidak diikat.' Bathin Jisoo keheranan.

Protokol standar X Clan adalah membuat pergerakan sandera seminim mungkin. Apa cara kerja X Clan sudah berubah?

Mereka berada di sebuah penjara yang Jisoo yakini ada di bawah tanah.

Karena guncangan dari Jisoo, secara perlahan Jeonghan dan Seokmin membuka mata mereka. Kesadaran kedua sosok itu mulai pulih walau harus menunggu beberapa saat.

"Akh-" Erangan kesakitan yang tertahan keluar dari mulut Jeonghan.

Ia bisa melihat darah yang mulai mengering di lengan kirinya.

"Gwaenchana, Jeonghanie?" Tanya Jisoo.

"Chipku dikeluarkan." Kata Jeonghan sambil menahan sakitnya.

"Chip?" Tanya Jisoo yang tidak mengerti.

Bersamaan dengan itu Seokmin perlahan menegakan tubuhnya. Ia langsung memeluk Jisoo dengan erat sambil mengecek seluruh tubuh sang belahan jiwa.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Seokmin.

Jisoo mengangguk pelan sambil tersenyum.

Dor…

Dor…

Duamm…

Suara baku tembak terdengar terus menerus. Suara hantaman dasyat juga terdengar bahkan menyebabkan getaran kecil yang dapat mereka rasakan.

"Sepertinya ada yang menyerang ke area ini." Kata Jisoo kala menyadari tak ada satu pun penjaga yang menjaga mereka.

Jisoo melihat sekeliling penjara ini. Sosok cantik itu menopang tubuhnya pada sel besi yang lebih tinggi dan melompat ke arah lampu yang menyala redup.

Ia bergelantungan di penyangga lampu lalu menarik penyangga dan juga lampunya sekaligus ke bawah dengan tangan kosong.

Ketika Jisoo menapak ke lantai dengan halus, terlihat kabel yang menyambung dengan penyangga lampu.

Dengan menggunakan kukunya, ia mengelupasi kulit kabel dan terlihatlah 17 kabel berwarna-warni yang ada di dalam sana.

Tanpa ragu, Jisoo memutuskan 3 buah kabel di antara 17 kabel yang ada.

Zzing…

Cahaya yang ada di sekitar pintu penjara redup.

Jeonghan dan Seokmin menatap Jisoo dengan penuh tanda tanya karena kejadian tadi terjadi dalam tempo yang sangat cepat membuat Jeonghan dan Seokmin baru menyadari apa yang terjadi dengan sedikit lambat.

Bahkan ketika sosok yang sedang hamil muda itu menendang pintu penjara hingga terlepas dari engselnya, Jeonghan dan Seokmin masih tak mampu berkata-kata.

Pintu penjara ini di desain untuk mengunci secara otomatis sehingga tidak memerlukan kunci untuk membukanya.

Sebuah kelemahan yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu.

"Kaja. Seokmin tolong papah Jeonghan oke. Aku akan memimpin." Kata Jisoo memberikan arahan.

Seberapa pun banyak pertanyaan yang berkeliaran di kepala Seokmin saat ini, ia lebih memilih untuk menyelamatkan diri mereka dahulu.

Seokmin langsung merangkul Jeonghan yang masih terlihat kesakitan.

Luka Jeonghan luar biasa lebar karena chip yang ditanam disana ada di dekat tulang lengannya. Bahkan Seokmin maupun Jisoo bisa melihat daging segar yang terbuka.

Jisoo bisa melihat beberapa penjaga jatuh terkapar dengan luka tembak dan darah dimana-mana.

Dengan cepat Jisoo mengambil beberapa pistol yang ada setelah memastikan peluru yang ada disana penuh.

Tap.

Langkah Jisoo berhenti mendadak menyebabkan Seokmin dan Jeonghan juga berhenti.

"Wah wah… Lihat siapa yang ingin kabur…"

Jisoo menajamkan matanya.

"Lee Buseok…"

Di depan sana terlihat Buseok berdiri dengan beberapa anak buahnya.

"Karena markas besar ini sedang diserang, mereka jadi lupa bahwa aku masih ada urusan denganmu Choi Jisoo. Maka dari itu mari kita biarkan kerusuhan terjadi dan mari kita berpesta."

Senjata terangkat dan mengarah ke arah mereka.

Dor.

Sebuah tembakan mengarah ke Seokmin dan pundak kiri namja itu tertembak dengan telak.

"Akh…"

Jeonghan yang dipapah Seokmin langsung berbalik untuk menahan tubuh Seokmin.

"Seokmin!" Teriak Jisoo. Sosok itu langsung menghampiri Seokmin dan Jeonghan.

Jeonghan menekan pundak Seokmin mengharapkan darahnya akan terhambat untuk keluar. Lengan Jeonghan sakit sekali, namun ia tahu bahwa Seokmin juga merasakan sakit yang luar biasa.

Seokmin memegang pundaknya dan menatap nyalang.

"Kau hanya boleh menonton dari tempatmu, Seokmin." Ucap Buseok dengan senyumannya yang mengesalkan.

Jisoo menggigit bibirnya.

"Wah karena katanya kau sedang hamil, bagaimana kalau bertarungnya satu persatu saja? Aku baik sekali bukan?"

Jisoo bangkit dari posisinya lalu berdiri di depan Seokmin dan Jeonghan. Kedua tangannya terkepal dengan erat.

Jeonghan yang melihat hal itu langsung maju dan berdiri di samping Jisoo.

"Jisoo-ya, pertarungan adalah sarana mengugurkan kandunganmu. Biar aku saja." Kata Jeonghan.

"Hohoho… Aku tak tahu siapa kau, tapi kau seharusnya duduk diam dan ikut menonton bersama Seokmin. Aku hanya ingin memberi tahu Seokmin, sosok seperti apa yang ia jadikan istri."

Seokmin dan Jeonghan menyerit kembali.

Jisoo terdiam dan keadaan menjadi hening walau suara penuh kekacauan masih terdengar samar entah dari mana.

"Hahahahahaa…." Tawa Jisoo pecah saat itu juga.

Seluruh pasang mata menatapnya dengan berbagai macam pandangan.

Tawa lembut khas Jisoo kali ini bukanlah yang Jeonghan dan Seokmin kenal. Terdapat sebuah hal mengerikan di balik tawa itu yang membuat bulu kuduk meremang.

"Ne ne… Sebelum kau memberitahu suamiku, aku sendiri yang akan memberitahunya."

Grep.

Dengan gerakan cepat Jisoo mengunci pergerakan salah satu anak buah Buseok dan mematahkan lehernya. Membuat tubuh yang sudah kehilangan nyawa itu tergeletak tak berdaya.

Seokmin syock dengan pemandangan di depannya sedangkan Jeonghan menatap penuh selidik.

"Seokmin-ah… Mianhe… Aku menyembunyikan sebuah rahasia besar padamu."

Jisoo tersenyum penuh kesakitan ke arah Seokmin. Air mata mengalir dari mata cantik itu.

"Tatto yang ada di punggungku bukanlah berbentuk mawar. Itu hanya untuk menutupi tattoku sebelumnya. Aku Hong Jisoo, mantan malaikat maut kecil X Clan."

Seokmin terpaku sedangkan Jeonghan membelalakan matanya.

"Apa maksudmu?" Tanya Jeonghan.