Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 20 )

.

.

.

Sakura pov.

Sebelum keluar dari kelas, mereka menahanku, menanyakan apa aku serius mengatakan jika kakakku sendiri adalah pacarku, apa urusan mereka jika aku punya hubungan seperti itu? Itu tidak aneh, lagi pula aku hanya anak angkat. Melawan mereka dan berakhir dengan mereka ingin menghajarku, untung saja aku berhasil kabur dari mereka, Sasuke juga begitu tepat datang dan menolongku.

Saat ini aku hanya terdiam, sesekali melirik ke arah Sasuke, setelah dari kafe itu, kami harus pulang, aku cukup menikmati kue yang aku pesan dan Sasuke menuntut aku harus mengatakan segalanya, mengatakan apa terjadi padaku di sekolah, jika dia tahu, apa yang akan di lakukannya? Apa dia akan memarahi mereka atau memberi mereka hukuman? Sama saja dengan aku yang tukang ngadu, aku tidak mau Sasuke, atau pun kak Izuna dan kak Itachi terlibat dalam masalahku di sekolah.

"Aku mengatakan pada mereka jika kau adalah pacarku." Ucapku dan aku sempat terkejut dengan rem mendadak dari Sasuke. "A-apa yang terjadi?". Menatap ke arah Sasuke, pria itu tetap saja tenang, meskipun sempat mengerem seperti itu.

"Maaf, aku tidak sengaja menginjak rem." Ucapnya, Sasuke mulai melajukan mobilnya.

Apa dia berbohong?

"Lalu, apa yang terjadi?" Tanyanya.

"Ya, mereka mencoba menyerangku, aku hanya mengatakan seperti itu, walaupun aku tidak tahu, hubungan kita ini apa? Kau bahkan tidak pernah mengatakan kau mencintaiku." Ucapku, aku pikir jika orang saling menyukai dia akan mengatakan cinta pada orang yang di sukainya, aku yakin Sasuke tidak mencintaiku, apalagi pertanyaanku saat itu tidak bisa di jawabnya.

"Apa aku perlu mengatakan cinta padamu?" Tanyanya.

Dan hal ini membuatku sangat malu. Kenapa harus menanyakannya padaku?

"Apa kau tidak pernah berpacaran? Apa kau tidak pernah menyatakan perasaanmu pada seorang wanita?"

"Tidak pernah."

Sasuke benar-benar orang yang kolot dan sangat-sangat ketinggalan jaman.

"Jadi apa kita ini semacam suka antar saudara saja? Ta-tapi-" menggantungkan kalimatku, dia sudah menciumku! Kak Itachi dan kak Izuna saja tidak melakukan hal itu, mereka menghargaiku sebagai saudara mereka, mereka hanya sebatas memberiku pelukan hangat.

"Hn?"

"Kau sudah mencium! Itu ilegal!" Tegasku.

"Kita akan segera resmi, tinggal menunggu umurmu dewasa." Ucapnya.

Sasuke selalu mengatakan sesuatu dengan mudah, seperti menungguku dewasa, hubungan ini akan terus terjalin, kita akan menjadi sebuah pasangan yang hebat.

"Aku tidak setuju, rasanya aku tidak memiliki perasaan yang sama denganmu, mungkin aku suka padamu karena hanya terbiasa padamu." Ucapku.

"Itu juga tidak masalah."

"Tapi ini masalah bagiku, seharusnya kau mengerti, aku juga ingin kebebasan." Ucapku.

Sasuke tidak menjawab apapun, dia terdiam setelah mendengar ucapanku.

Aku juga tidak ingin mengatakan apa-apa lagi padanya, setiap berurusan dengan Sasuke, semakin hari, aku semakin mendapat masalah.

Setibanya di rumah, aku melihat sebuah mobil yang terparkir, ini bukan mobil kak Itachi atau kak Izuna, aku hapal akan plat nomer kendaraan ini, bergegas keluar dari mobil dan tidak menunggu Sasuke.

Berjalan masuk ke ruang tamu, ada suara yang cukup ramai di ruang tengah, tentu saja, itu adalah kendaraan milik ayah.

"Aku pulang." Ucapku, rasanya sedikit aneh tidak bertemu mereka dalam waktu yang sangat lama.

"Sakura, kemarilah." Ucap ibu Mikoto, wajahnya terlihat sangat senang saat melihatku baru saja pulang, berlari ke arahnya dan sebuah pelukan hangat darinya.

"Sepertinya Sakura semakin tinggi saja." Ucap ayah Fugaku, dia pun mengusap lembuk puncuk kepalaku.

Aku sangat-sangat merindukan mereka.

"Sasuke, kau akhirnya pulang." Ucap ayah Fugaku dan semuanya menatap ke arah mereka.

"Ayah dan ibu sedang apa disini?" Tanya Sasuke, bukannya memberi mereka sebuah sambutan, Sasuke malah menanyakan kedatangan mereka.

"Kami akan liburan keluarga." Ucap ibu Mikoto.

"Sungguh? Ayah dan ibu mendengar permintaanku?" Ucapku, menatap ke arah mereka dan menatap ke arah kak Itachi, dia tersenyum padaku, aku pikir permintaanku itu hanya akan menjadi sesuatu yang lewat saja.

"Aku mencoba berbicara pada ayah dan ibu lagi." Ucap kak Itachi.

"Benar Sakura, sudah lama kita tidka berkumpul bersama." Ucap ibu Mikoto.

Aku semakin senang mendengarnya.

"Kenapa begitu tiba-tiba? Apa kalian tidak memiliki kesibukan?" Ucap Sasuke.

Jangan merusak kesenanganku! Dasar tidak peka!"

"Libur beberapa hari tidak akan masalah, Sasuke." Ucap ibu.

"Dengarkan kata ibu, kita harus istirahat sejenak dari pekerjaan." Ucap kak Izuna. "Apa aku boleh membawa Naori?" Tanyanya, aku juga setuju jika kak Naori ada.

"Kau bisa mengajaknya." Ucap ibu.

"Tidak boleh, Naori masih termasuk orang luar, ini adalah liburan keluarga." Tegas Sasuke.

"Kenapa kau begitu benci pada Naori? Sebentar lagi kami akan menjadi pasangan yang sah." Ucap kak Izuna.

"Benarkah? Kalian akan segera menikah?" Ucapku dan tidak percaya ini.

"Ya, aku akan melamarnya tidak lama lagi." Ucap kak Izuna, dia pun sangat percaya diri.

"Itu lebih baik, sebaiknya kalian segera menikah, bagaimana denganmu Itachi?" Tanya ayah.

"Aku belum memikirkannya, maaf ayah, aku juga tidak bisa memaksa keadaan." Ucap kak Itachi.

Kakak Itachi jarang bersama seorang wanita, tentu saja dia akan sulit mendapatkan pasangan.

"Bagaimana denganmu, Sasuke? Kau juga harus segera mencari pasanganmu." Tegur ayah Fugaku.

Sasuke menatap ke arahku, apa? Jangan katakan jika kita memiliki hubungan, aku yakin jika ayah dan ibu akan marah besar.

"Baik, ayah." Ucap Sasuke.

Pada akhirnya Sasuke tidak mengatakan yang sebenarnya, aku sudah tahu jika hubungan ini memang salah, aku terus khawatir, wajah senang ibu Mikoto dan ayah Fugaku akan menghilang dari hadapanku jika mereka tahu Sasuke memperlakukan dengan tidak wajar.

.

.

.

.

Itachi Pov.

Aku tidak tahu jika Sasuke akan bersikap seperti ini, dia tidak berani mengatakan yang sebenarnya pada ayah dan ibu, aku sudah menegurnya beberapa kali untuk memperlakukan Sakura dengan wajar, layaknya seorang saudara, dia tetap keras kepala, sekarang, jika dia mengatakan sedikit saja tentang hubungannya dengan Sakura, aku yakin Sakura menjadi orang yang tidak ingin Sasuke mendapat marah dan tidak ingin melihat tatapan kecewa dari ayah dan ibu.

"Bagaimana? Sekarang kau bahkan menutup mulutmu." Ucap Izuna, aku tahu jika dia akan menjadi orang yang terus menuntut Sasuke untuk mengubah sikap anehnya itu.

"Apa?" Ucap Sasuke, hari ini suasana hanya terlihat tidak baik, apa karena yang ingin di katakannya tertahan?

"Izuna, jangan membuat masalah." Tegurku sebelum mereka berdua kembali berkelahi.

"Aku tidak membuat masalah kakak, aku hanya ingin menyindir seseorang yang berusaha mengubah keadaan sesuai kehendaknya, ini sungguh lucu, sekarang biarkan Sakura hidup tenang dan memilih pasangan hidupnya sendiri, mungkin akan ada pria di luar sana yang bisa menjadi pasangannya." Ucap Izuna.

"Jangan menceramahiku." Ucap Sasuke, tatapannya mulai terlihat kesal.

"Kau bahkan tidak mendengar nasehat kami."

"Izuna, cukup." Kenapa mereka selalu saja berkelahi?

"Tidak kakak, ini waktu yang tepat, waktu yang tepat untuk membuatnya sadar jika Sakura adalah adik kita."

Aku harap ayah dan ibu yang berada di kamar mereka tidak mendengar pertengkaran kecil ini.

"Izuna kembali ke kamarmu." Perintahku.

"Baik, kakak, ah senangnya hari, aku ingin melihat sehebat apa kau melakukan keinginan yang anehmu itu." Ucap Izuna sebelum pergi.

"Jangan dengarkan Izuna, kau tahu, dia hanya ingin membuat marah, walaupun aku setuju padanya, bukannya aku berpihak pada Izuna, kau harus sadar situasinya sekarang."

"Aku tidak tahu apa yang kakak ucapkan padaku." Ucap Sasuke, dia masih terlihat kesal.

"Kami-"

"Sudahlah, kakak, aku akan mencari cara agar mereka menyetujui hubungan ini, aku juga tidak ingin melihat Sakura bersedih." Ucap Sasuke, dia pun terlihat menghela napas.

Sampai kapan kau akan bertahan? Jika sejak awal ibu dan ayah tidak mengangkat Sakura menjadi anak mereka, kau akan bebas melakukan apapun, padahal awalnya, Sasuke tidak begitu suka pada Sakura, kenapa dia jadi lebih terobesesi untuk membentuk Sakura menjadi gadis yang sesuai untuknya?"

.

.

TBC

.

.


updatee...~

fic yang lain sabar yaa, updatenya tergantung yang mana idenya datang duluan. =w=

ini tuh harus di pikir juga... nggak datang begitu saja, jadi harap bersabar... author pengen buat cerita yang yaa setidaknya alurnya bagus.