Kenapa sih nyelip plot twist mulu? Gak kasian sama pembaca?

"Awalnya sama sekali gak niat jadi ff yang plot twistnya nyambung dari ujung ke ujung gini sih. Cuma… entahlah. Kau sendiri yang menantangku di chapter 5, Nar! Lagian asyik aja gitu mikirin kau frustasi gara-gara terjebak plot twist di sana-sini."

Ada pesan-pesan terakhir?

"Err … Jangan bunuh aku?"

Tough luck.

"Oh, shit."

JANGAN KABUR, KEPARAT!

-o-o-o-

Avataramen is Now Online

Chapter 19

-o-o-o-

Banyak hal memenuhi kepalaku saat ini.

Bagaimana Danzou berhasil menemukan rahasia alam yang sudah terlupakan di kawasan Desa Miko? Penelitian yang ditinggalkan Avatar Madara belum sejauh itu. Dia bahkan enggan melanjutkan dan fakta bahwa dia avatar bukan hanya satu-satunya alasan. Sudah sejauh mana rasam kehidupan yang Danzou langgar hingga Naga Kosmik Negatif menjawab panggilannya?

Bagaimana Danzou bisa menaklukkan, bahkan memanfaatkan Pangeran Itachi dan kawan-kawan? Apa alasan yang membuat mereka mau mengikuti arahan pria itu?

"Kami juga membantu tugas avatar untuk mengembalikan keseimbangan dunia." Aku ingat jawaban Kak Itachi saat kutanya apa itu Teratai Merah.

Aku tahu seharusnya aku terfokus pada makhluk agung yang ada di depan mata. Namun, aku tak bisa menyangkalnya. Aku khawatir begitu aku membalik badan, aku akan ditusuk dari belakang. Aku butuh kepastian kalau Kak Itachi tidak berbagi tujuan yang sama dengan Danzou, meski yang kuterima bukan penjelasan penuh.

"Apa Danzou bilang pada kalian kalau ritual yang tadi bisa membuat kalian memiliki kekuatan avatar?" tanyaku.

Ekspresi dan refleksi hati yang terbaca dari keempatnya sudah cukup menjawab pertanyaanku.

Aku tak dapat menahan diri lagi. Aku menertawakan ironi.

"Kalian bahkan tak tahu dia mengincar kekuatan avatar? Kebohongan apa yang Danzou berikan pada kalian selama ini?"

Kak Itachi menggertakkan giginya. Kalau aku tak salah baca situasi, aku yakin dia sedang mengumpati kebodohan diri. Bagaimana pun, dia adalah Putera Mahkota yang dielu-elukan Raja Fugaku. Seluruh lapisan masyarakat termasuk mereka yang berasal dari negara tetangga mengakui kemampuannya dan yakin kalau Negara Api akan semakin berjaya di tangannya. Sasuke mendapat gelar jenius dalam segala bidang karena dia maso dan jengah selalu dibandingkan dengan kecakapan kakaknya. Berbeda dengan Kak Itachi yang memang dari lahirnya sudah begitu.

"Kalau saja kau mendengar perkataanku kemarin, ini tak akan terjadi." Oke, aku tahu tak adil jika aku menyalahkan mereka. Kalau saja aku menuntut kebenaran lebih cepat, ini tak akan terjadi. Tapi aku benar-benar butuh objek tudingan sementara.

Aku tidak yakin akhirnya akan baik jika aku sibuk menyalahkan diriku sendiri.

Fokus goyah dan kosmik tidak stabil adalah hal terakhir yang kubutuhkan saat ini. Nasib dunia berada di tanganku.

Sekali lagi terima kasih banyak untuk plot twist yang tak kuminta ini, penulis sinting.

"Mari berharap perbincangan ini bisa berlanjut. Kita sama-sama berhutang penjelasan." Aku menatap mereka serius. "Yang harus kalian tahu, memutus lingkar reinkarnasi avatar secara paksa hanya akan menimbulkan kekacauan dan pertumpahan darah."

Aku mengalihkan pandanganku lagi pada relik sejarah gelap dunia yang akan membuat dunia porak-poranda jika aku tak segera menyegelnya kembali.

"Aku butuh waktu untuk mengembalikan kekuatanku. Bisa tolong tahan Danzou? Kalau bisa pisahkan dia dengan naganya," pintaku.

Kak Itachi menyentil dahiku. "Kami akan berusaha mengulur waktu sebanyak mungkin." Setelah mengatakannya, dia memimpin tiga rekannya. Mereka berlari ke arah Danzou.

Aku berlari ke arah berlawanan dengan langkah yang lebih ringan. Aku bersyukur, setidaknya apa pun yang membuat Pangeran Itachi bergabung dengan Teratai Merah dan apa saja yang sudah ia lakukan karenanya tak menggerus sosok kakak yang selama ini kulihat darinya.

Setelah aku merasa sudah dalam jarak aman, aku mengambil posisi duduk meditasi. Kuatur napasku sementara kupercepat tarikan kosmik alam ke dalam tubuh. Kupertahankan agar alirannya stabil.

"Naruto!"

"Naruto!"

Konsentrasiku putus sesaat. Aku sudah memperhitungkan kedatangan Kokuo, tapi sama sekali tak menduga ada manusia yang menungganginya!

Aku meninggalkan posisi meditasi. Kuatur sebaik mungkin agar kosmik tetap mengalir biarpun saat ini aku sangat ingin mengamuk pada si penulis sinting.

"Kokuo, aku hanya memintamu membawakan Gunbai! Kenapa Sasuke ikut dibawa juga!"

Tepat saat Kokuo mendarat, Sasuke langsung lompat turun tepat di hadapanku. Pipiku pasti akan dicium bogem mentah kalau saja aku tak segera menunduk menghindarinya.

"Kau membuat kami khawatir, Sialan!" umpat Sasuke. Ia menarikku ke dalam pelukan.

Aku menggerutu. "Kau seharusnya melakukan ini dulu, bukannya nonjok dulu!"

"Jangan protes! Enggak kena juga!"

Apa yang membuatku terbungkam bukanlah kata-kata yang Sasuke ucapkan, tetapi bagaimana gemetarnya tangannya yang mendekapku erat. Tak perlu membaca energi kosmiknya untuk bisa tahu bagaimana perasaan Sasuke saat ini.

Kalau aku di posisinya, aku yakin aku pun sama.

Aku mendesah kecil, membenamkan diri dalam dekapan. "Maaf. Aku baik-baik saja, aku janji," bisikku.

Pelukan Sasuke mengerat selama beberapa saat. Aku mendengar jelas tempo debaran jantung Sasuke menurun perlahan selaras dengan napas yang ia atur demi bisa menenangkan diri. Saat ia melepasku, ekspresinya terlihat tegang.

"Ada gerakan pembelotan di seluruh dunia saat ini. Meski kita kekurangan sumber daya manusia, tapi kami yakin tidak akan ada masalah serius. Apalagi banyak masyarakat, ibu-ibu terutama, yang tak tinggal diam. Sepertinya pidatomu tempo hari menginspirasi banyak orang."

Bfft. Kalau kaum emak-emak sudah turun tangan begitu, tak ada teroris yang punya kesempatan.

"Serangannya terlalu … terburu-buru? Strateginya juga terkesan tidak sempurna. Seperti hanya pengalih perhatian saja. Saat Kokuo terbang dan kuyakin membawa bantuan di mana pun kau berada, kota sedang kacau. Kau harus puas dengan bantuanku saja untuk sementara. Yang lain sibuk." Sasuke melihat ke arah langit gelap dengan kilatan petir, tempat Naga Kosmik Negatif berada. "Apa itu … pelaku semua kekacauan?"

Aku tertawa hambar. "Kemungkinan besar, iya."

Ekspresi Sasuke mengeras. Kantung mata yang menghias wajahnya terlihat menyedihkan. Aku bingung harus tertawa atau terharu dengan keadaannya saat ini. Berapa hari anak ini tidak tidur gara-gara aku diculik?

Sebisa mungkin kuabaikan bisikkan hati kalau apa yang akan kulakukan akan menyakitinya.

Aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak bisa mundur di tengah jalan.

Aku meregangkan otot sejenak. Tinggal sedikit lagi, kurasa energiku cukup untuk menyegel Naga Kosmik Negatif.

Sasuke menatapku heran saat kuulurkan tanganku padanya.

"Berkenan membantuku menyelamatkan dunia, Pangeran Sasuke?" Aku mengedipkan mataku. Aku tersenyum puas saat dia tertawa.

Sasuke menggenggam tanganku. "Tentu saja, Avatar Naruto. Ini adalah sebuah kehormatan besar."

Aku melingkarkan tanganku di pinggang Sasuke, lalu membawanya terbang menembus udara. Satu tujuan kami, Naga Kosmik Negatif dan pelaku utama dari semua kekacauan yang mampir di hidupku.

Itu pun kalau kita tidak menghitung si penulis sinting.

"CACING BESAR ALASKA! AKU DATANG! ULULULULU!"

"Cacing Besar Alaska dengkulmu! Warnanya saja tidak merah muda!"

Tawa dari Sasuke melepaskan semua ketakutanku. Jika Sasuke ada di sana, aku merasa aku bisa melakukan apa saja.

.

Pangeran Itachi terlihat canggung saat kubawa Sasuke sebagai bala bantuan. Ulah adiknya yang melempar tatapan membunuh sama sekali tidak membantu kecanggungannya. Namun, keadaan darurat membuat keduanya menyampingkan masalah pribadi. Tanpa buang-buang waktu, mereka bekerja sama dengan tiga anggota Teratai Merah lainnya untuk menekan pergerakan sang naga. Sementara aku memfokuskan diri pada Danzou.

Aku melesat secepat yang kubisa, mengelak kanan-kiri menghindari serangan Naga Kosmik, bahkan melakukan putaran yang kecepatannya membuat perutku agak mual. Semua kulakukan agar bisa mendekati Danzou. Aku langsung mengeluarkan dorongan udara saat kuterka jaraknya sudah tepat. Danzou terpental jauh ke dalam hutan.

"Jangan biarkan naganya mendekat!" titahku sambil berteriak.

Di tengah daerah yang dikelilingi pepohonan rindang, Danzou menyambutku dengan serangan bongkahan batu besar. Aku melakukan putaran di udara, mempertemukan bongkahan itu dengan kaki dan pengendalian bumi. Bongkahan itu terpecah menjadi bagian-bagian kecil.

"Seharusnya kau sudah gugur!" Amukan Danzou datang bersama serangan pengendalian bumi yang bertubi-tubi.

Aku dipaksa menapak bumi, berguling, mengelak kanan, melompat salto dan memberi dorongan teknik terbang sedikit agar bisa menghindari serangannya. Aku kesusahan untuk menahan gerakannya dengan pengendalian darah. Aku berusaha memojokkannya dengan variasi elemen. Umur tua tak memakan kecekatannya sebagai mantan kolonel perang. Aku bisa merasakan jarak pengalaman yang jauh dari teknik pengendalian kami.

"Kau satu-satunya penghalang terwujudnya pemerintahan yang absolut!"

Aku memutar tanganku, mengelakkan serangan yang datang ke arah lain. Satu lesatan bongkahan besar lain memaksaku mencium tanah dengan tidak elitnya. Gemuruh terdengar bersamaan dengan terpecahnya permukaan bumi di bawah badanku. Kalau saja aku tidak segera menggulingkan dan mendorong gravitasi badanku sejauh mungkin dari sana, luapan lava sudah memanggangku hidup-hidup.

"Pengkhianat sepertimu pantas mati!"

Aku membuat tameng untuk menahan pancaran lava yang dikendalikan menyemprot ke arahku. Aku terpaku mendengar kalimat terakhir yang diutarakan.

Danzou tidak sedang berbicara padaku. Dia berbicara pada Avatar Hiruzen.

Tameng kokohku jatuh bersamaan dengan lava yang berhenti menyembur. Aku menatap Danzou, dalam.

Dia adalah bukti, perang tak berakhir hanya karena satu pihak mendeklarasikan kemenangan mereka.

Di buku sejarah dijelaskan jika Danzou dan Avatar Hiruzen membelot dari pihak oposisi di usia belia. Dikatakan mereka berani mengejar kebenaran dan membantu mengakhiri perang tak berkesudahan.

Dari ingatan Avatar Hiruzen aku tahu, Danzou mengikutinya untuk menyelamatkan diri, sekaligus mencari celah agar oposisi perang bisa menang mutlak.

Kenyataannya? Tidak sesimpel itu.

Karena manusia adalah makhluk egois yang tak akan pernah puas. Selalu ada dorongan untuk memenuhi ekspektasi pribadi yang terkadang lebih banyak menimbulkan duka bagi orang lain. Yang membedakan adalah, apakah mereka akan tunduk pada bisikan ego ataukah melawannya.

"Kau tahu, tak ada avatar yang bersyukur dilahirkan dengan kekuatan ini," gumamku.

Dua bongkah batu kembali dilemparkan. Aku menahan keduanya, membelokkan arah serangan Danzou ke samping. Aku meringis kecil melirik korban pertarungan kami bertambah satu lagi.

Entah sudah berapa banyak pohon yang gugur. Jika terus begini, lama-lama hutan ini akan rata dengan tanah tak simetris.

Aku tak bisa membiarkan waktu lebih banyak terbuang. Kemampuan Sasuke, Kak Itachi, Kak Nagato, Kak Konan, dan Kak Kisame jauh dari kata lemah. Tetapi, naga purba yang merupakan bongkahan kosmik negatif bukanlah tandingan mereka.

Aku menyalurkan energi kosmikku, memperkuat pengendalian elemen yang kulakukan.

Selama beberapa menit kami beradu serangan demi serangan. Sayang sekali, sejak awal, kemenangan ada di tanganku.

Bukannya aku besar kepala. Ritual yang baru saja dilakukan tak hanya merenggut energiku. Danzou juga belum sempat beresonansi dengan Naga Kosmik Negatif (aku berterima kasih sekali pada Kak Itachi dkk untuk hal ini). Dia tak punya cara untuk menangkal cadangan energi tak terbatas yang kumiliki.

Kalau dia berhasil membuat celah menembus konsentrasiku, mungkin dia punya kesempatan.

Aku mengembuskan napas lega saat aku berhasil mengunci badan Danzou menggunakan pengendalian darah.

"Kesempatan terakhir, Danzou." Aku melangkah hati-hati mendekatinya.

Tak dapat kutahan kedutan kekesalan saat dia meludahi kakiku.

Sebelum ulah antagonisnya memengaruhi stabilitas energi kosmikku, aku memegang dahinya dan memejamkan mata. Badan kami ditelan cahaya untuk waktu yang lama.

Aku jatuh terduduk dengan napas agak terengah ketika prosesnya selesai. Termangu menatap tanganku, masih tidak percaya bahwa aku baru saja menghapus kekuatan pengendalian seseorang.

Prosesnya tak sesulit yang kukira.

Empat elemen dalam satu tubuh, bisa dilawan oleh jumlah dan strategi. Tapi ini?

Aku mengepalkan tanganku. "Aku tak pernah benar-benar sadar sebesar apa kekuatan yang digenggam oleh avatar," gumamku setengah sadar.

Danzou mendecih. "Kekuatan sebesar itu sia-sia di tangan bocah sepertimu."

Aku memicingkan mata. Kutarik kakiku ke belakang, membentuk kuda-kuda pengendalian tanah. Kedua tangan kutarik ke atas membentuk kerucut terbalik. Kubuat Danzou duduk berlutut dengan keadaan tangan tertahan oleh lempengan bumi kokoh hasil pengendalianku.

Aku menempelkan kakiku di hidungnya.

"Itu bayaran untuk meludahi kakiku! Dasar tak sopan!"

Aku mengabaikan kalau apa yang kulakukan itu justru lebih tidak sopan. Kutambahkan acungan jari tengah sebelum aku balik badan dan mulai berjalan menjauh.

Langkah kelima, Danzou mendengus. "Kenapa kau tak marah?"

Aku menolehkan kepala, mengangkat sebelah alis mata. "Perlu kubawa kaos kaki bau dan kulempar ke mukamu biar kau tahu aku marah?"

Danzou memutar bola matanya dan menggumamkan kata yang tak dapat kutangkap baik.

Aku greget ingin menyumpal mulutnya menggunakan kaos kaki Jiraiya. Apapun yang dia gumamkan, aku yakin itu adalah hinaan.

"Aku sudah membuat rakyatmu terbantai," Danzou berujar lagi. "Kenapa kau tidak marah padaku?"

Aku merasa suhu di sekelilingku berubah lebih dingin.

"Aku tidak pernah bilang aku tidak marah padamu." Aku mengangkat pandanganku ke langit kelam tak berbintang.

"Kau memaafkanku begitu saja? Cih, kau sama lemahnya dengan Hiruzen."

Aku tertawa lepas mendengar tuduhan Danzou. Hanya karena aku reinkarnasi Avatar Hiruzen, bukan berarti hatiku semulia beliau.

Semarah apa pun aku terhadap takdir yang menimpa Kutub Selatan di malam pembantaian, aku tak akan pernah bertindak mengikuti amarahku.

Seperti kata Madara, menjadi avatar hanyalah bonus. Mau bagaimanapun juga, jati diriku tetaplah seorang Yuana Suku Air. Meski aku bukan avatar, apa pun yang terjadi, aku tak akan menenggelamkan diri dalam dendam tak berguna.

Suara raungan naga menyadarkanku dari renungan singkat. Tanpa menoleh ke belakang, aku membiarkan badanku melawan gravitasi dan melesat secepat mungkin ke arah Altar Kosmik berada.

Aku tersenyum melihat pasukan penahan naga dadakan masih bisa memberi perlawanan meski mereka sudah kewalahan.

"Semuanya menyingkir!"

Kuambil Gunbaiku dari moncong Kokuo. Langsung membawanya terbang kurang lebih dua puluh meter di atas Naga Kosmik Negatif. Aku membalik arah terbang mengikuti tarikan gravitasi. Kugunakan energi potensial yang ada untuk menambah momentum hantaman Gunbai pada sang naga. Naga itu jatuh menghantam permukaan.

Tanpa menunggu lama, aku menghantamkan lagi Gunbai. Kali ini, untuk menyedot habis kosmik sang naga purba dan menyegelnya kembali di Altar Kosmik. Cahaya berspektrum gelap menelan Desa Kosmik dan seisinya, hingga naga itu menghilang meninggalkan jejak kerusakan.

.

"Naga itu adalah alasan diciptakannya avatar," jelasku, sambil menggerakkan air secara statis dalam teknik penyembuhan.

Aku terkikik mendengar erangan kompak dari para pasien. Mereka duduk di dalam kolam buatanku, hanya kepala mereka saja yang berada di luar air.

"Sering sekali digunakan sebagai senjata utama dalam perang saat itu. Tapi, suatu waktu, kosmik suci yang terdapat di naga itu tenodai. Energi yang ada terlalu lama dimanfaatkan untuk pertumpahan darah. Naga itu semakin kuat, tapi bukan ke arah yang seharusnya. Tak ada yang bisa menghentikan. Pengendali terkuat saat itu, meski berasal dari kubu berbeda medan perang, bekerja sama untuk menghentikannya."

Kak Itachi berdeham. "Jadi awalnya sistem reinkarnasi avatar itu untuk memastikan Naga Kosmik tidak akan menimbulkan kekacauan jika lepas dari segel atau bahkan terbentuk kembali dari kegelapan yang terjadi di bumi?"

Aku mengangguk sebagai konfirmasi.

"Sejak kapan Danzou mengincarnya? Catatan Ibunda sama sekali tidak mengungkit soal Naga Kosmik!" Sasuke mengerang.

Aku tak bisa menyalahkan respon Sasuke. Saat sedang bertarung mempertaruhkan dunia, mudah untuk mengabaikan sejenak hal-hal mistis yang tak masuk akal. Pertarungan selesai, berjuta pertanyaan menghantam kepala.

"Aku yakin Danzou melanjutkan penelitian setelah jatuhnya Kutub Selatan." Kak Kisame berpendapat.

Aku mengangguk. "Sampai detik-detik pembantaian Kutub Selatan, tujuannya masih memutus lingkar reinkarnasi avatar dan mengambil alih sumber kekuatannya. Pengetahuan yang ia berikan pada Teratai Merah sebelum kalian pun memiliki pola dan tujuan yang sama."

"Aku masih berpendapat kalau avatar harus dienyahkan." Kak Nagato menatapku. "Kalau avatar tidak ada, Danzou tak akan bisa membangkitkan Naga Kosmik Negatif. Kita tidak tahu pasti kapan akan terlahir Danzou-Danzou lain."

Aku tertawa kecil melihat Sasuke siap mengamuk demi membelaku.

"Tak apa Sasuke, mereka sudah tahu kalau memutus reinkarnasi avatar secara paksa hanya akan menghancurkan keseimbangan yang ada." Aku memejamkan mata selama beberapa saat, menenangkan diri. "Lagipula aku juga setuju dengan pendapatnya."

Hening.

Lima pasang mata menatapku terkejut.

"Nar-"

"Kau dengar 'pidato'ku di sekolah, Sasuke," Aku menyela. "Perhatikan sekelilingmu. Apa dunia ini butuh avatar? Manusianya sudah lebih beradab. Perang, jika pun masih ada, tak berbentuk pertarungan sampai titik darah penghabisan untuk mencapai kemenangan. Perang di masa sekarang lebih sering memakai otak dan berbentuk gerakan politik. Tak perlu kekuatan super untuk melawannya. Bahkan pengendalian elemen wajib dipelajari hanya agar seorang anak tidak menyakiti diri sendiri atau orang lain karena kekuatannya tak terkendali. Lawan dan penjahat yang harus kita waspadai saat ini adalah penjahat kerah putih, bukan naga relik yang mengamuk."

Kak Itachi terlihat terkejut dengan penjelasanku. "Itu alasan kami menerima undangan Tuan Danzou," ujarnya.

Sudah kuduga.

"Ya, aku paham maksud kalian apa. Keberadaan avatar di masa seperti ini justru jadi ancaman keseimbangan, bukan sebaliknya." Sasuke melipat tangannya. "Lalu? Memang kau bisa memutusnya? Kau bahkan tak memilih terlahir sebagai avatar."

Aku menghentikan teknik penyembuhan. Luka dan lebam masih tersisa dengan berat yang berbeda di tubuh mereka. Tetapi setidaknya luka yang agak merepotkan seperti patah tulang ringan sudah kusembuhkan. Mereka akan baik-baik saja.

Aku menatap Gunbai yang kusandarkan pada batang sebuah pohon.

'Aku sudah di posisi, Naruto.'

'Ok, thanks Kokuo.'

Sedikit lagi

"Nar? Ada yang mengganggu pikiranmu?"

Tangan basah Sasuke yang menyentuh pipiku sedikit membuatku kaget. Aku berjengit darinya.

"Kau sudah mengatasi masalah dengan Teratai Merah. Aku kira kau akan melakukan tarian keram saking senangnya. Ada apa?" Sasuke bertanya lagi.

Aku menggigit bibir bawahku.

Seharusnya Sasuke tak ada di sini. Ini di luar rencana.

Bagaimana aku bisa mengangkat Gunbai di depannya?

"Naru … " Sasuke menggenggam kedua tanganku. Kedua mata hitamnya dipenuhi kekhawatiran.

Dadaku terasa hangat, namun napasku tercekat. Tiba-tiba saja aku teringat perkataan Sasuke : "Aku serius soal kalung itu, Naruto."

Aku penasaran, apakah kalungnya masih dalam tahap pengerjaan? Ataukah sudah selesai dan Sasuke menunggu lampu hijau dari Raja Fugaku setelah kelulusan untuk memberikannya padaku? Bagaimana bentuknya? Apa yang Sasuke pikirkan selama mengerjakannya?

Sejauh apa ia membayangkan kami hidup bersama sampai ajal memisahkan?

"Setiap avatar punya misi berbeda dari Semesta." Aku memulai dengan suara serak. "Tujuannya sama-sama menjaga keseimbangan dunia."

Kak Itachi ikut mendekat. "Naruto?"

"Keberadaan avatar menggoyahkan keseimbangan dunia. Tapi tanpa kosmik avatar, sejarah bisa terulang. Peradaban bisa jatuh kembali pada lingkaran pertikaian haus kekuatan." Aku tersenyum, menguatkan diri. "Memutus reinkarnasi secara paksa akan membawa kehancuran, ya. Itulah mengapa, harus aku yang memutusnya sendiri. Ini misi yang Semesta berikan padaku."

Kak Nagato mengangkat sebelah alis matanya. "Apa maksudmu?"

Aku terdiam.

Ini adalah alasan mengapa aku diperkenankan selamat dari tragedi berdarah di Kutub Selatan.

Ini alasan mengapa para Naga Spiritual menyambungkan kembali ikatanku dengan kosmik alam dan mengapa aku diajari bagaimana cara mengendalikannya oleh Gurus Shishui.

Ini juga alasan, mengapa aku dipertemukan dengan Avatar Madara.

"Aku akan melakukan hal yang sama, seperti yang kulakukan pada Naga Kosmik Negatif, pada diriku sendiri."

Sasuke melepas genggamannya, mengambil langkah mundur. Matanya membola. Aku bisa merasakan pergulatan batinnya, menolak kesimpulan tersirat dari ucapanku.

Ini adalah perpisahan.

Aku menulikan sensor kosmik. Aku sudah mengambil keputusan. Aku tidak mau apa yang kurasakan dari Sasuke membuatku mempertanyakan keputusan yang kuambil.

Aku tak pernah tahu momen yang dikatakan Matatabi, di mana aku harus memilih dunia, akan terasa seperti ini.

"Terima kasih untuk segalanya, Sasuke."

Sasuke membeku. Kemarahan kembali menyapa matanya, seperti saat dia menyaksikanku mengumbar identitas di depan dunia melalui mesin pengeras suara dari jendela kelas.

"Kau berjanji padaku!"

Aku takut.

"Dan bukankah aku menepatinya? Aku menang, Sas."

Jangan membuatku semakin takut.

Gigi Sasuke bergemelatuk. "Naru-"

"Terima kasih karena sudah menjadi bintang yang menyinari langit kelamku, Pangeran Sasuke."

Jangan menghakimiku karena tiba-tiba melankolis sok puitis begini. Aku otw menjemput maut! Aku berhak jadi OOC sedikit!

Aku membawa Gunbaiku, melesat ke arah Laut Utara tanpa sekali pun mengacuhkan panggilan dari Sasuke.

'Kurama, Matatabi, Shukaku, Isobu, Kokuo, terima kasih.'

'Tak perlu memikirkan kami. Kami sudah puas hidup selama ribuan tahun.'

'Kami bangga padamu, bocah.'

'Menemani perjalananmu di dunia fana ini merupakan sebuah kehormatan, Avatar Naruto.'

Dari lima titik yang tersebar di seluruh penjuru dunia, menembak cahaya dengan spektrum berbeda. Sinar itu bersatu di tengah katulistiwa. Bersamaan dengan bersinarnya barang-barang spiritual yang tersebar di seluruh negara elemental, perlahan … permukaan bumi diselimuti oleh cahaya yang menyilaukan mata.

.

.

.

Tatap.

Tatap.

Gunbai diangkat, seolah melakukan hormat senjata.

"Kerja bagus," Madara tersenyum padaku. Memberi kehangatan, kontras dengan senyum lain yang pernah terpatri di wajahnya. "Na tua videantur lunam."

Aku tertawa. Aku sama sekali tak menyangka akan dipertemukan lagi dengannya. Tak mengira ia akan mengucapkan kata-kata yang diserukan kepala suku air di pemakaman seorang ksatria pula.

"Kembali, kumohon!" Aku mengabaikan bisikan suara di pojok ingatan.

Maafkan aku. Aku tidak bisa memenuhi permintaanmu, Pangeran Sasuke.

Just so you know, I've always loved you.

.

Ya, ini adalah akhir dari kisah Avatar Naruto.

To Be Continued

Next: Epilog!