disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.


"Kento-kun, apa semua pintu sudah dikunci?"

"Sudah kulakukan, Miwa-san!"

"Shhh! Jangan keras-keras! Ah, aku mau memeriksa kompor sekali lagi!"

"Otou-san, kenapa pintu toilet tidak ditutup juga?"

"Tidak, tidak usah. Chi akan kebingungan jika dia mau buang air."

Begitu seluruh persiapan telah dilakukan, keluarga inti Yamada serempak melihat ke arah kucing peliharaan mereka. Saat ini Chi sedang tidur nyenyak, dengan posisi telungkup dan keempat kaki memanjang di atas Kashi-Kashi. Tak jauh dari Chi, dua buah mangkuk berisi segunung makanan kering dan air minum telah tersedia. Miwa sengaja tidak menyiapkan susu untuk mencegah adanya kerumunan serangga.

"Chi masih tidur," tutur Kento. "Situasi aman."

"Baiklah, kita pergi sekarang," ujar Miwa.

Hari ini, Kento harus pergi ke kantor untuk urusan pekerjaan. Di saat yang sama pula, Miwa harus pergi ke supermarket untuk berbelanja darurat bersama Youhei. Karena tidak mungkin membawa Chi ke mana-mana di dalam keranjang yang tak disukainya, biasanya Chi selalu ditinggal di rumah. Tentunya mereka harus melakukan seribu kali pemeriksaan sebelum berangkat, demi keadaan rumah dan juga keselamatan Chi sendiri.

Hanya ada satu aturan bagi Chi jika dia sendirian di rumah; jangan mengacau.


"Miyaaaaaaaaaaaa ... muimui …."

Tidak jauh berbeda dengan kebiasaannya, Chi akan terbangun di jam-jam yang tidak pasti. Setelah belasan kali ditinggal seorang diri, Chi baru memahami mengapa terkadang makanan yang diberikan padanya berukuran lebih tinggi. Chi beranjak turun dari Kashi-Kashi, menyesap air dan mengunyah makanan keringnya bergantian.

"Chi mau main ...," gumamnya yang kini terbaring dengan perut buntalnya. "Chi bosan—ae ... eeh?"

Chi langsung melompat berdiri. Secepat kilat Chi berusaha berlari menuju toilet, tepatnya kotak di sudut toilet yang biasa Chi pakai untuk buang air kecil. Kali ini, Chi terlalu cepat buang air di lantai toilet, padahal dia hanya perlu memasuki kotak itu. Karena sudah terlanjur mengeluarkan air seninya, Chi tanpa sadar melanjutkan pipisnya di atas lantai.

"O-Okaa-san akan marah …," lirih Chi ketakutan. "Chi harus menutupinya dengan pasir!"

Chi melihat sekeliling. Pasir hanya ada di dalam kotak toiletnya. Chi lantas menyapukan seisi kotak agar bisa menjatuhkan pasir di atas lantai. Terlalu banyak, tapi pada akhirnya Chi bisa menutupi jejak pipisnya dengan mengacaukan seisi toilet.

"Sekarang Chi harus pergi!" Chi berlari mengecek setiap pintu yang ada. "Di mana? Di mana pintu yang bisa membantu Chi keluar dari sini? Mana? Mana—MYA!"

Dalam pelariannya, Chi tidak sengaja menabrak kaki meja cokelat. Pandangan Chi langsung berkunang-kunang dan gerakan kakinya menjadi tidak menentu, hingga berakhir dengan kaki Chi yang menginjak tepi mangkuk airnya. Seluruh isinya otomatis membasahi wajah Chi yang segera sadar dari pusingnya.

"CHI TIDAK SUKA AIIIIIIIIR!"

Karena lokasi mangkuk airnya sangat rapat dengan mangkuk makanan keringnya, tidak hanya ikut terciprat air, tetapi juga isinya berhamburan ke mana-mana, yang disebabkan kaki Chi menendang mangkuk itu tak lama sesudahnya. Dengan muka masih basah, Chi melihat sendiri kehancuran ruang tengah yang diciptakannya.

Tepat di saat itulah, Kento datang.

"Karena pertemuan dibatalkan, sekarang aku bisa bersantai di—h-ha?"

Chi memutar tubuhnya, menghadap Kento dengan berlatarkan bekas-bekas kerusuhan di atas lantai.

"Kami baru meninggalkanmu sebentar, Chi. Astaga, aku malah harus bersih-bersih sebelum bersantai." Kento menepuk dahi dan menghela napas pasrah. "Oh, Chi!"

Otou-san pasti akan memarahi Chi, huk huk ... Chi minta maaf, Otou-san ... jangan marahi Chi seperti Okaa-san ... huk huk huk ….

"Kau memang anak kucing yang selalu bersemangat, ya?" tanya Kento dengan menggelengkan kepalanya. "Kalau aku pulang lebih lama dari sekarang, kira-kira apa yang akan kaulakukan, Chi?"

Chi mendongak, memperhatikan Kento yang kini menggendongnya. Otou-san ... tidak marah?

"Mustahil rasanya jika rumah tidak berantakan selama kami pergi." Kento memeriksa bagian-bagian tubuh Chi seperti kaki dan telinganya. "Kau tidak terluka, 'kan? Syukurlah! Aah Chi, kenapa kau menggemaskan sekali? Aku jadi tidak tega mengomelimu, tahu! Hahaha! Oke Chi, sekarang kau duduk di sini, aku akan membersihkan ruang tengah ini dulu! Jangan ke mana-mana!"

Memang hanya ada satu aturan bagi Chi untuk tidak mengacau, namun kalaupun dia melanggarnya dengan tetap membuat masalah seperti sekarang, siapa yang bisa memarahi kucing seimut dia?

Otou-san tidak marah! Chi bersorak. Chi sangat menyayangi Otou-san!


tamat


~himmedelweiss 25/08/2020