Just Info!
(Fanfiction) = Igneel yang bicara
{Fanfiction} = Ethrious/END yang bicara
.
.
Chapter Sebelumnya :
"Onegai ne Natsu-kun," katanya lembut dengan senyuman tipis di wajahnya, membuat jantung Sang Dragonslayer kita berpacu sedikit lebih cepat. Tak mau ketahuan rona merah di pipinya, Natsu langsung mengambil kantung itu lalu pergi meninggalkan Lucy yang saat ini sedang duduk di tanah menyandar pohon.
Sementara Natsu masih berusaha menghilangkan rona merah di wajahnya. "Apa-apaan senyumnya tadi itu?" ia masih terngiang senyuman itu, hal tersebut mengakibatkan insting tajam Natsu menurun sehingga ia tidak menyadari kalau ada hewan buas yang saat ini sedang mengincar Lucy dibalik rimbunnya pepohonan.
.
.
Chapter 19 : NaLu Moments
Happy Reading…
Dengan panik Natsu memasukkan semua kantung penuh air itu terburu-buru tanpa peduli air itu tumpah atau tidak. Keselamatan Lucy lebih penting sekarang. Ia segera melesat ke tempat Lucy berada.
Sementara itu di tempat Lucy, terlihat seekor ular. Ukurannya sangat besar, mungkin sebesar pohon. Lucy panik, pikirannya tak jernih, tubuhnya gemetaran. Ia lupa kalau dirinya memiliki kunci bintang yang akan membantunya apabila dia memanggil mereka.
Lucy ketakutan, ia pun berlari berusaha menghindari ular itu. Namun, ular itu bergerak dengan cepat, tak lama untuk ular berwarna hitam itu bisa menyusul Lucy. Melilitnya dengan ekornya yang besar sembari memberi tekanan agar mangsanya itu segera remuk.
Lucy meronta berusaha lepas dari lilitan itu. Tapi apa daya, ia hanya seorang perempuan lemah, tenaganya tak cukup kuat untuk membuatnya bisa lepas dari lilitan ular itu. Lucy mulai merasa lemas dan kesakitan akibat tekanan yang diberikan oleh Sang Ular. Melihat mangsa yang mulai lemas, ular itu mendekatkan kepalanya. Membuka mulutnya yang lebar, berniat memasukkan makanan lezat itu ke dalam perutnya.
Zrrrasssshhh!
Namun sebuah sayatan di ekornya menggagalkan makan malamnya hari ini. Reflek ular itu melepaskan Lucy yang saat ini sudah lemas. Dengan sigap sebuah tangan menangkapnya, begitu hangat. Pikirnya.
"Berani-beraninya kau!" suara lelaki yang baru saja menyelamatkannya. Ia tau siapa pemilik suara baritone itu, dengan sedikit tenaga yang ia miliki. Lucy berusaha melihat laki-laki itu. Tenang-sesuatu yang terasa nyaman saat ini sedang menyelimutinya setelah melihat siapa lelaki itu.
Ya Natsu Dragneel, lagi-lagi ia terselamatkan oleh pemuda itu. Tangannya yang kekar memeluk pinggang Lucy, menekannya pada tubuhnya. Membuat ketenangan semakin menjalar pada diri gadis itu.
Lucy masih menatap Natsu yang saat ini sedang memeluknya, terlihat raut kemarahan tergambar di wajahnya dengan mata yang menatap lurus ke arah hewan itu berada. Matanya berkilat tak terima melihat gadisnya itu dilukai oleh Sang Ular.
Pedang yang berada di tangan kanannya, ia acungkan. Menantang Sang Ular yang saat ini masih meronta kesakitan. Sang Ular yang merasa ditantang, segera menegakkan tubuhnya. Bersiap menyerang dua mangsa di hadapannya.
Lucy yang masih setia di pelukan Natsu diam tak berbicara apa-apa, ia hanya memperhatikan apa yang akan selanjutnya terjadi. Ia percaya pada Natsu, tangannya tergerak melingkar ke punggung yang sedang menegang itu.
Tersentak saat sebuah kehangatan melingkar di antara perut dan punggungnya. Ia pun menatap Lucy yang saat ini sedang tersenyum tipis ke arahnya. Mata Natsu melembut seketika setelah mengetahui kalau gadisnya baik-baik saja, tubuhnya mulai rileks. Senyum tipis terukir di wajah Sang Pemuda-membalas senyuman manis gadis pirang yang berada di pelukannya.
Tak lama, hanya beberapa detik saja mereka bertukar senyum. Natsu kembali menatap ular raksasa itu, mempererat genggaman pada pedang yang tercipta dari api Etherious. Pertanda ia sudah siap dan entah bagaimana hewan liar di hadapannya itu memahami maksud Natsu.
Ular itu segera menerjang Natsu. Pemuda itu masih diam di tempat tak bergerak seinci pun sebelum ular itu masuk ke jangkuan serangannya. Setelah jaraknya dirasa cukup, Natsu melompat ke atas. Lompatannya cukup tinggi hingga membuatnya bisa melihat seluruh isi hutan, Sang Ular mendongakkan kepalanya dengan mulut terbuka. Berharap ia berhasil menelan mereka berdua, tapi Natsu tak akan membiarkan hal itu.
Ia melemparkan pedang apinya, layaknya sebuah tombak. Pedang itu masuk menembus tubuh Sang Ular, namun hal itu tak cukup untuk membuatnya mati. Natsu yang bisa memanipulasi api sesuka hatinya, asalkan di tempat itu terdapat oksigen.
Nampak lingkaran sihir di tanah tempat ular itu berada, lingkaran sihir itu melingkupi seluruh tubuh hewan itu. Dengan sekali jentikan jari, muncul beribu pedang dari lingkaran sihir tersebut. Pedang-pedang itu menerjang tubuh Sang Ular, mengoyak seluru tubuh hewan itu. Beruntung Natsu mengarahkan semua pedangnya itu ke arah kepala dan jantung Si Ular, menembus isi kepala dan merobek jantungnya. Sehingga ia tak terlalu merasakan sakitnya kematian.
Dikira cukup, lelaki pemilik naga dan iblis di dalam dirinya itu menghilangkan sihirnya. Sedangkan saat ini ia masih terbang di atas udara. Entah bagaimana ia bisa tetap terbang tanpa dijatuhkan gravitasi bumi.
"Kau sudah boleh membuka matamu Lucy," katanya menatap gadis itu yang matanya terpejam sejak Natsu memakai sihir creation miliknya.
"Kau seharusnya langsung membunuhnya, tak perlu mencincang hewan itu. Kasihan tau!" apa-apaan ucapannya barusan. Dia baru saja diselamatkan, bukannya berterima kasih malah merasa kasihan dengan makhluk yang hampir saja memakannya.
"Hey! Kenapa kau malah mengasihani ular itu!? Seharusnya kau berterima kasih padaku Lucy!" ucapnya kesal karena mementingkan ular itu daripada berterima kasih padanya terlebih dahulu.
"Ha!? Kenapa aku harus berterima kasih padamu?! Aku tadi tak meminta bantuanmu 'kan?" balas Lucy ketus.
"Lagipula bagaimana kau bisa terbang selama ini? Cepat turunkan aku!" pintanya. Ugh Natsu benci ini.
"Aku memakai sihir api pada kakiku, sehingga aku bisa terbang. Dan baiklah aku akan menurunkanmu." Lucy sedikit lega, dia takut ketinggian tau. Namun Natsu menurunkannya dengan sangat tidak elok. Ia langsung melepaskan Lucy, membiarkannya terjun bebas dari ketinggian 10 meter lebih.
Matanya membulat, ia sangat terkejut dengan tindakan gila kouhai-nya itu. "Dasar bodoh!" makinya selagi terjun bebas.
"Cepat selamatkan aku, bodoh!" teriaknya lagi. Natsu menyusul gadis itu, tapi tak berniat menangkapnya. Malah mengajak bernegosiasi.
"Aku akan menyelamatkanmu kalau kau berterima kasih padaku terlebih dahulu, lalu memintaku untuk menyelamatkanmu dengan sopan," tawar Natsu. Sekali lagi manik caramel Lucy membulat, tak percaya dengan yang ia dengar. Bagaimana bisa kouhai bodoh di depannya ini meminta hal tersebut pada situasi hidup dan mati seperti ini?
"Ahh sialan kau Dragneel! Terima kasih Natsu-sama sudah menolongku tadi. Bisakah kau menolongku lagi sekarang?" ucapnya terpaksa. Senyum Natsu melebar menampakkan sederetan gigi putihnya. Dan entah kenapa jantung Lucy berdebar melihat senyuman itu.
Dengan cepat, Natsu kembali menolong gadis itu. Menariknya kembali dalam pelukannya, kali ini dengan bridal style. Reflek Lucy mengalungkan tangannya ke leher pemuda itu. Membuat jarak di kedua insan itu menipis.
Sinar matahari yang berwarna jingga membuat wajah Lucy begitu cantik di mata Natsu. Bulu mata yang lentik, bola mata yang lebar dengan manik caramel di dalamnya, dan bibir tipis berwarna merah muda. Semua nampak begitu indah di mata Sang Dragneel.
Hingga membuat dirinya tak kuasa menahan diri. Ia semakin mengikis jarak diantara dirinya dengan Lucy, gadis itu sedikit menegang. Jantungnya berpacu lebih cepat, ketika hembusan napas Natsu menerpa wajahnya. Wajah cantik gadis itu merona, membuatnya semakin manis di mata Natsu. Natsu mulai memiringkan wajahnya, menutup matanya
Cup
Bola mata Lucy membulat sempurna, darahnya berdesir hebat ketika Natsu melumat lembut bibirnya. Tubuhnya menegang, pikirannya kosong. Yang ia rasakan saat ini hanyalah lumatan demi lumatan di bibirnya. Ia tak menolak, terlihat menikmati. Matanya terpejam, ia pun membalas ciuman Natsu. Melumatnya balik dan sedikit menarik tengkuk Natsu guna memperdalam ciuman itu. Natsu makin mengeratkan pelukannya pada tubuh Lucy yang saat ini ia gendong bridal style.
Lama mereka berciuman, akhirnya melepaskan tautan masing-masing. Terlihat benang saliva di antara bibir mereka yang baru saja terlepas. Napas mereka memburu, namun ingin melakukan lagi. Tak puas dengan yang tadi. Jari Natsu tergerak mengusap lembut pipi putih gadis itu, menatapnya intens dengan manik hitam legamnya.
Lucy memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap laki-laki yang baru saja mengambil first kiss-nya itu. Memerah bahkan sangat, mewarnai cantiknya paras gadis yang masih mengalungkan lengannya itu. Ditambah dengan pemandangan matahari yang akan tenggelam membuat gadis itu semakin manis dipenglihatan Natsu.
Jarinya kembali bergerak, kali ini mengusap bibir merah muda itu. Membuat Lucy sedikit tersentak atas perlakuan Natsu. Masih basah akibat lumatannya tadi, memikirkan hal itu. Ia tak kuasa lagi menahan dirinya. Ia palingkan wajah Lucy ke arahnya. Ia pun mengikis jarak di antara mereka berdua, dengan perlahan Natsu kembali menempelkan bibirnya ke bibir ranum milik Lucy. Sekali lagi melumatnya dengan lembut. Gadis itu tak hentinya terkejut ketika bibirnya kembali dicium Natsu. Kali ini Natsu menekan tengkuk Lucy, membuat ciuman itu semakin dalam.
Lucy begitu termabukkan dengan ciuman Natsu, begitu lembut namun juga begitu nikmat hingga membuatnya terbuai akan hal itu. Lucy ikut memejamkan matanya, ia balas ciuman Natsu. Saling melumat, serta saling memperdalam dan menekan tubuh mereka satu sama lain.
Tak selama yang pertama, tautan itu akhirnya lepas. Menampakkan sisa-sisa saliva dari bibir. Napas mereka memburu-buru. Natsu mengadu kening Lucy, membuat rasa hangat menjalar di kepala mereka berdua.
Membuat wajah Lucy semakin merona dengan jantung berdebar kencang yang bisa saja Natsu merasakannya dengan kedekatan tubuh mereka saat ini. Namun Lucy juga menyadari kalau jantung Natsu juga berdebar sama kencangnya dengan jantung Lucy.
"Tadaimaa, Lucee," katanya lembut dengan menggesekkan hidungnya ke hidung Lucy. Lagi-lagi Lucy dibuat terkejut sekaligus bingung dengan maksud pemuda ini.
"Apa yang maksudmu dengan 'tadaima' Natsu? Dan darimana kau tau panggilan itu? Jangan-jangan kau?!" Lucy tak percaya bila Natsu yang saat ini memeluknya adalah Natsu teman se-SMP nya dulu.
"Ahh, Aku mencintaimu Luce," katanya lembut dengan mengecup sekilas bibir Lucy. Membuat darahnya berdesir kembali. Ia menatap Natsu intens, matanya berkaca-kaca. Ia terharu, tak ia sangka kalau Natsu yang saat ini adalah Natsu yang pernah meninggalkan dirinya dulu.
Tangannya berpindah ke dada Natsu, meremas baju milik pemuda itu serta menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Natsu. Ia terisak akibat tangisannya, namun bisa Natsu dengar kalau gadisnya itu berucap. "Ahh, aku juga mencintaimuu Bakaa!"
Sinar jingga Sang Surya sudah menghilang sepenuhnya, digantikan Sang Rembulan yang siap memberi cahaya redupnya. Suhu yang tadinya panas terik sekarang diganti dengan suhu dingin menusuk tulang bagi siapa saja yang tidak menggunakan selimut atau penghangat di dekat tubuh mereka.
Ditambah lagi di tengah hutan yang membuat suhu disekitar mereka semakin dingin, member Fairy Tail mencari kehangatan mereka dengan membakar kayu atau segala sesuatu yang bisa dibakar. Supaya tubuh mereka tetap hangat dimalam yang dingin ini.
Berbeda dengan satu orang, meskipun api di hadapannya itu hangat. Namun pelukan seseorang dibelakangnya jauh lebih hangat daripada api yang sedang menjadi penghangat kedua insan berbeda gender itu.
"Heii, kenapa kau menangis?" tanya seseorang yang saat ini sedang memeluk Lucy dari belakang.
"Bagaimana aku tidak menangis bodoh!? Kau sudah mengalami kehidupan yang begitu berat sendirian, tanpa siapapun yang membantu dan meringankan bebanmu. Setelah aku mengetahui hal itu, bagaimana aku tidak menangis huh? Natsu no Baka!?" tatapan Natsu melembut, hatinya menghangat setelah mendengar ucapan gadisnya barusan. Memeluknya lebih erat dari belakang, membiarkan gadis itu tetap menangis dalam hangat dan nyamannya pelukan dari seorang Natsu Dragneel.
Mereka berdua sama-sama terdiam tanpa ada yang berucap, namun tak sampai semenit keheningan itu terpecah. "Natsu sudah aku putuskan!" katanya sembari berbalik menghadap Natsu.
"Memutuskan apa?"
"Aku akan membantumu!" katanya tegas, bahkan manik caramel yang indah itu menatapnya lurus. Berisi sebuah tekad yang sangat besar di matanya, Natsu tau hal ini akan terjadi. Makanya ia memilih berpura-pura tidur.
"Sudah kuduga kau akan berkata seperti ini." Natsu menyentil dahi Lucy. Gadis itu pun memegangi dahinya yang tak sakit dengan bibir mengerucut.
"Lebih baik aku pura-pura tidur saja waktu itu." Lucy terkejut mendengar omongan barusan.
"Tunggu dulu Dragneel-san, wa-waktu itu k-kau hanya berpura-pura?" tanyanya dengan wajah yang masih memasang ekspresi terkejut.
"Uum, tentu saja," jawabnya singkat padat dan jelas. Lucy kali ini benar-benar tertohok oleh jawaban itu. Mukanya memerah akibat rasa malu gara-gara ia mengumpat waktu itu.
"Jadi dia sadar waktu aku mengatainya," ujarnya lirih, namun sepertinya ia tak pernah belajar dari tiap kejadian kalau seorang Dragonslayer memiliki pendengaran yang tajam.
"Yah tentu saja, aku mendengarnya dan sangat jelas pastinya," kata Natsu dengan nada jahilnya. Lucy kembali memasang ekspresi terkejutnya tak lupa dengan mulut yang menganga lebar.
"Harusnya kau belajar Luce, dirimu sudah melakukan kesalahan yang sama berulang kali. Yang pertama waktu kita berpisah, yang kedua wakt-,"
"Stop! Berhenti Natsu. Cukup, tidak usah menyebutkannya." Lucy segera menyela ucapan Natsu, jika tidak ia akan mati karna malu. Oh Kami-sama tolong bantu aku, di dekat Natsu sangat tidak baik untuk kesehatan jantungku.
Tiba-tiba Lucy terpikirkan sesuatu, "Tunggu Natsu, berarti saat kita pertama kali bertemu sebelum upacara pembukaan itu. Kau sudah tau kalau itu aku?"
"Yap tentu saja, Luce," jawabnya mantab dengan grins andalannya. Lagi-lagi Lucy dikejutkan dengan pernyataan baru, bisa-bisa ia mati karna terkejut mengetahui segala fakta yang ada di dunia ini.
"Itu curang Natsu, tidak heran kau begitu peduli terhadapku meski aku begitu dingin terhadapmu." Natsu masih diam tanpa membalas ucapan itu, karena ia tau Lucy masih ingin melanjutkan kalimatnya.
"Terima kasih sudah kembali dan begitu peduli kepadaku," ujarnya begitu lembut dengan senyuman manisnya. Darah Natsu berdesir mendengar pengakuan itu, jantungnya berpacu lebih cepat.
"Ah, sama-sama Lucy." Pemuda itu menangkup pipi putih milik Heartfilia itu, onyx hitamnya menatap gadis itu dengan lembut. Lucy tau apa yang akan segera terjadi, ia memegang kedua telapak tangan Natsu yang masih menyentuh pipinya. Ia usap dengan lembut. Natsu mulai mengikis jarak diantara mereka, seraya membuka sedikit mulutnya. Lucy pun memejamkan matanya dan menikmati hembusan yang keluar dari pemuda di hadapannya. Gadis itu membuka mulutnya seraya ikut mengikis jarak. Bibir mereka berdua pun menempel, saling melumat meluapkan rasa rindu dan cinta yang selama ini tertahan.
Lucy mengalungkan kedua lengannya ke leher Natsu dengan sedikit membelai dan meremas rambut pinkish itu, membuat Natsu semakin nyaman dan berkeinginan lebih. Ia pun menarik pinggang ramping gadis itu untuk lebih mendekat kepadanya, tangannya melingkar ke punggung Lucy. Salah satu tangannya menekan tengkuk gadis itu, memperdalam tautan mereka. Membuat keduanya semakin menempel layaknya perangko. Dan malam itu pun mereka akhiri dengan indah.
Namun disisi lain tak jauh dari melingkar, terlihat dua manusia berbeda gender mengawasi mereka. Lebih tepatnya mereka kebetulan lewat dan mendengar segala ucapan Natsu. "Hoo jadi dia memang Natsu Dragneel ya?" nampak sebuah seringain yang begitu jelas terpampang di kedua wajah mereka dalam gelapnya malam.
Mentari pagi sudah menunjukkan batang hidungnya dengan menyebarkan cahaya terangnya ke segala penjuru sudut bumi, tak terkecuali hutan pulau Tenrou yang terkenal dengan kelebatannya. Cahaya itu menembus celah-celah dedaunan yang rimbun, demi membangunkan dua sosok manusia yang saat ini tengah tertidur pulas.
Terlihat nyaman sekali mereka berdua, saling merapatkan badan dan saling melingkarkan kedua lengan mereka. Namun sayangnya Sang Mentari tak suka melihat dirinya terabaikan di pagi hari karena sinarnya yang begitu bermanfaat bagi tubuh manusia. Sinar cukup menyilaukan itu membangunkan salah satu dari mereka.
Ia mengerjap, menyesuaikan retina matanya dengan cahaya yang baru masuk ke penglihatannya. Tak lupa dengan sedikit menggosok kedua matanya untuk membuatnya segera tersadar. Pemuda itu menarik dirinya dan mencoba untuk duduk, namun tubuhnya tertahan oleh sesuatu. Ia tersenyum tipis saat melihat sesuatu itu ternyata adalah seseorang berambut pirang kesayangannya.
Wajahnya begitu damai nan manis untuk dipandang, Natsu sedikit membelai helaian itu. Membuat empunya rambut sedikit bergerak di dalam pelukan Sang Pemuda, menuntut kehangatan yang lebih dengan semakin merapatkan tubuhnya. Membuat tubuh Natsu sedikit memanas akibat kedekatan yang begitu intim.
Ia kembali tersenyum dan sedikit menggumam. "Dasar manja." Namun itu tak menghentikannya dari aktivitas menatap wajah Lucy. Ia sibakan beberapa anak rambut yang menghalangi pemandangannya itu, membuat Lucy mengernyitkan matanya. Sedikit terganggu dengan tingkah Natsu.
Dan benar saja, gadis itu terbangun. Ia menarik salah satu tangannya yang masih melingkar pada tubuh Natsu, menggosok matanya pelan. Lalu ia pun bertatapan dengan sepasang iris onyx milik Natsu.
"Apakah aku membangunkanmu Tuan Putri?"
"…." Tidak ada jawaban dari Lucy, ia masih diam dengan tatapannya yang sayu. Menatap lurus onyx itu, seakan kedua iris itu akan hilang bila ia berhenti menatapnya. Natsu yang ditatap seperti itu mulai merasa salah tingkah.
Gadisnya tersenyum simpul melihat perubahan ekspresi dari lelaki yang masih mengelus lembut puncak kepalanya itu. Ia pun mengangkat tangannya, menyentuh helain pinkish Sang Pemuda. Membuat Natsu semakin merasa nyaman dengan tiap sentuhan yang Lucy berikan di kepala Natsu itu.
Tangannya berhenti mengelus helain merah muda itu, kemudian jari telunjuknya turun ke dahi Natsu. Lalu berlanjut menelusuri tulang hidung Natsu, hingga sampai ke bibir Sang Pemuda. Jarinya terdiam di bibir itu, kemudian mengusap lembut bibir Natsu bagian bawah. Membuat Si Pemilik wajah hanya merona dan memperhatikan segala sentuhan yang Lucy berikan.
Tiba-tiba saja gadis itu teringat kalau bibir yang sekarang ia sentuh sudah mengambil first kiss miliknya, tentu saja hal itu membuatnya memerah hingga ke telinga. Tak tahan dengan itu, Lucy menghentikan aktivitas sentuh menyentuh itu. Menyembunyikan wajahnya ke dada bidang hadapannya.
Perasaan gadis itu sekarang tak bisa ia kontrol, perasaannya terus meluap layaknya air yang sudah matang namun tetap dimasak.
Ada apa denganku? Bagaimana aku bisa langsung menyentuh wajah Natsu. Kelihatannya aku benar-benar jatuh kali ini Levy-chan dan apa-apaan perasaan hangat di dadaku ini? Sejak kapan aku kembali merasakan perasaan yang begitu hangat ini. Natsuuu, sepertinya aku memang benar-benar jatuh cinta padamu.
Tapi kenapa sekarang aku begitu menginginkannya? Begitu menginginkan untuk disentuh dan dimanjakan olehnya, kenapa? Kenapa? Aku ingin Natsu lebih memanjakanku sekarang. Kalau begitu akan ku kode dia.
Gadis itu pun memulai rencanannya, ia menggesek-gesekan pelan kepalanya ke dada bidang Natsu. Meminta untuk dielus lagi seperti tadi. Natsu hanya menatapnya lucu, ia pun tau kode dari gadisnya itu.
Lucy yang sedari tadi terus menggelengkan seketika diam saat sebuah kehangatan mulai menyentuh kepalanya dan mengusap lembut mahkota miliknya itu. Senyum sumringah pun terpatri di wajah gadis bermarga Heartfilia itu.
"Dasar manja," ejek Natsu. Namun Lucy tak menghiraukan ejekan itu, ia lebih memilih menikmati sentuhan hangat di puncak kepalanya. Namun entah kenapa ia ingin membalas ejekan Natsu tersebut.
"Biar saja, lagipula ini gara-gara kau menghilang selama 3 tahun. Ditambah kau membohongiku pula," belanya dengan masih menyembunyikan wajahnya di dada Natsu.
"Biarkan aku seperti ini sebentar, Natsuu," pintanya pelan. Natsu hanya mengangguk mendengar hal itu. Ia mulai memanjakan Lucy kembali, salah tangannya yang masih bebas mencari telapak tangan Lucy. Setelah berhasil menemukannya, tangan mungil itu pun ia genggam.
Lucy sedikit kaget dengan kelakuan Natsu, namun ia hanya membiarkannya saja. Memilih untuk mengalirkan suasana dan perasaan mereka sekarang ini.
20 menit hampir berlalu sejak mereka saling memanjakan diri, hey! Biar saja. Mereka baru saja bertemu kembali, itu hal yang lumrah bukan? Atau mereka saja yang berlebihan? Entahlah.
"Ne Luce, apa kau benar-benar memutuskan untuk membantuku?" tanyanya dengan tangan yang masih menggenggam erat tangan Lucy.
"Tentu saja Natsu."
"Kau tau 'kan itu bukan jalan yang mudah. Kau bisa saja mati, Luce." Lucy mendongakkan wajahnya menatap lurus manik hitam legam kepunyaan Dragneel itu. Aktivitas mereka terhenti seketika, Lucy menegapkan tubuhnya. Ia mensejajarkan tingginya dengan tinggi Natsu, lututnya sebagai penopang badannya sekarang.
Tangannya terulur menangkup wajah Natsu, lalu ia pun bicara. "Hei aku tau itu Natsu Dragneel, jalan dan takdir yang menantimu bukanlah sesuatu yang dapat dikalahkan manusia dengan mudah. Namun aku bukanlah Lucy yang lemah seperti dulu, aku akan membantumu. Setidaknya biarkan aku membersihkan jalanmu agar kau dengan mudah mencapai tujuanmu. Meskipun nantinya aku mati, aku pasti akan mati dengan tersenyum."
Natsu terpengarah mendengar ucapan itu, hatinya bergetar. Sudah berapa tahun ia tidak merasakan yang namanya bantuan dari seorang teman, bantuan yang membuat moralnya naik. Sepertinya inilah yang ia cari selama ini, ini obat untuk kekosongan dan kehampaan hatinya selama ini.
Lucy masih menangkup wajah itu, mata seseorang di depannya terpejam. Ekspresi seakan ingin menangis. "Menangislah Natsu, tidak apa-apa. Perjuangan akan semakin berarti saat kau mulai menangis. Menangis bukan berarti dirimu lemah, namun menangis membuktikan dirimu begitu kuat hingga mampu berdiri di posisimu yang sekarang. Tidak apa-apa sayang, menangislah."
Suara Lucy terdengar begitu lembut di pendengarannya, Natsu pun relfek memeluk Lucy. Menangis sesenggukan di leher Sang Gadis, meluapkan seluruh rasa sakit, kosong, dan derita yang ia rasa selama 3 tahun ini. Lucy hanya menepuk dan mengelus punggung lebar Natsu, menenangkan dan membantunya mengeluarkan semua stressnya.
Setelah deraian air mata itu, Natsu kembali tenang. Saling memeluk satu sama lain, takut kehilangan salah satunya apabila dilepaskan. Mereka berdua adalah insan yang penuh dengan kekurangan, namun mereka merasa sempurna apabila sudah bersama. Mereka tau sendiri dan kesepian merupakan kelemahan mereka.
Oleh karena itu mereka berdua akan saling membantu untuk menutupi kelemahan itu dan kelemahannya yang lain. Natsu melepaskan pelukannya, menatap manik caramel Lucy secara intens. Gadis itu hanya diam, ia tau Natsu akan mengucapkan beberapa patah kalimat.
"Apa kau benar-benar ingin membantuku?"
"Tentu saja Natsu," jawabnya tanpa keraguan.
"Ini akan menjadi jalan yang berat dan penuh rasa sakit."
"Tidak mengapa, asalkan aku bisa bersamamu dan membantumu."
"Dasar! Kau memang keras kepala sejak dulu."
"Dan kau lebih keras kepala ketimbang aku." Mereka berdua tertawa lepas setelah itu, seakan semua beban mereka sudah terangkat.
"Kalau begitu aku akan melatihmu Luce, akan ku buat dirimu sekuat mungkin. Tapi jangan pernah mengeluh terhadap latihanku ini, bagaimana Sayang? Apa kau menerimanya?"
"Tentu saja, aku mulai bersemangat." Mulai hari itu hingga batas maksimal latihan bertahan hidup, Lucy dan Natsu terus mengasah dan melatih kemampuan mereka untuk menghadapi monster yang luar biasa kuat di masa yang akan datang.
To Be Continued...
Yoo Minna! semoga sehat selalu ya. saya, selaku author yang gak punya jadwal pasti meminta maaf. mumpung masih hari raya, minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir batin ya. tolong semua kesalahan author dimaafkan...
oh ya yang dulu pernah request NaLu moment, ini sekarang aku wujudin. satu chapter ini full Natsu dan Lucy, maaf kalau gak sesuai ekspetasi kalian atau kurang dapat feelnya. semoga kalian menyukainya. See You in Next Chap Guyss...
jangan lupa review, kritik, saran dan lain-lain ya...
[29 Mei 2020]
