Situasi mulai kondusif. Peluru di lengan Sanzo berhasil dikeluarkan. Lukanya juga sudah diobati. Sang dokter pun beristirahat di kamarnya untuk memulihkan kondisinya.

Goku hendak dibawa kembali ke kamarnya, namun pemuda itu menolak. Ia bersikeras berada di sisi dokter itu. Raut wajahnya muram dan sedih. Sebisa mungkin, Goku menahan tangis. Ia memang merasa sangat bersalah karena dokter itu mau berkorban melindunginya.

Gojyo pun membiarkan Goku menjaga Sanzo. Saat meninggalkan ruangan, pemandangan terakhir yang ia saksikan adalah sosok Goku duduk di samping ranjang Sanzo. Wajahnya tertunduk dalam. Sanzo sendiri sudah tertidur pulas.

Gojyo menghela nafas. Selanjutnya, ia hendak menemui Hakkai. Pria itu sepertinya masih berada di sini. Hakkai memang tak ikut mengobati luka Sanzo. Namun, Gojyo yakin kalau Hakkai bukanlah seorang pengecut yang melarikan diri atau bersembunyi setelah melakukan sebuah kesalahan.

Gojyo melangkah ke ruang tamu. Tepat seperti dugaannya, Hakkai masih berada di sana dalam posisi yang sama: berdiri mematung dengan wajah menunduk dalam. Pistol tergantung di sela-sela jarinya. Hakkai pasti menyadari kehadiran Gojyo, namun ia memilih untuk tetap diam.

Gojyo menghadapi pria itu. Ia bersedekap dengan pandangan dingin. Gojyo masih merasa marah dan kecewa. Bukan saja karena Hakkai menembak Sanzo, melainkan juga karena tindakan nekat Hakkai yang menyandera pasien itu. Ia ingin menghajar Hakkai, namun hati kecilnya tetap merasa tak tega.

Ia masih menganggap Hakkai rekannya.

Hakkai menyerahkan sepucuk pistol. Wajahnya masih menunduk. Gojyo hanya bergeming. Kedua tangannya tetap terlipat seolah menolak pemberian itu.

"Kau marah kan? Aku tak akan melawan kalau kau mau menghabisiku,"

"Kenapa kau terus berpikiran antara membunuh dan dibunuh?" Gojyo mendesis. Hakkai tertawa getir.

"Kita sudah berada dalam kondisi ini,"

"Masih ada cara lain, Hakkai. Kita bisa memikirkannya,"

Mendengarnya, Hakkai bereaksi. Ia menengadah perlahan. Mata hijaunya menatap nanar Gojyo.

"Cara lainnya hanyalah pasien itu yang mati atau kita yang mati,"

"Tidak ada yang akan mati, Hakkai!" Gojyo bersikeras. Ia menatap mata Hakkai lekat-lekat, berusaha memberikan pria itu pengertian. Hakkai seharusnya bisa berpikir lebih jernih darinya. Namun kenapa saat ini ia malah sangat pesimis dan kacau?

"Berada di organisasi ini, kau tak akan bisa lepas dengan mudah. Tidak dengan melarikan diri. Tidak juga dengan memberikan sebuah penjelasan panjang lebar. Mereka tak akan mengampunimu. Seharusnya kau sudah tahu..." Hakkai terdiam sesaat.

"Seharusnya, Sanzo yang paling tahu,"

Gojyo terdiam. Ia menunduk. Keputusannya dan Sanzo memang sangat beresiko. Namun, Gojyo sendiri masih tetap berpegang teguh pada pendiriannya.

"Maafkan kami, Hakkai," Gojyo berujar pelan. Sorot matanya berubah sedih.

"Kau adalah sosok yang paling mengkuatirkan kami. Kau amat sabar menghadapi sikap kami. Sejak tiga tahun lalu, sampai saat ini, kau banyak memberikan bantuan. Aku dan Sanzo merasa sangat tertolong," Gojyo tersenyum lirih.

"Hakkai, aku tahu tindakanmu hanyalah sebagai bentuk perhatianmu pada kami. Kau hanya ingin kami selamat. Namun, untuk saat ini aku tak bisa menuruti ucapanmu. Aku...memiliki pandangan sendiri,"

Hakkai hanya diam dan mendengarkan. Gojyo pun melanjutkan ucapannya.

"Aku dan Sanzo tetap membiarkan pasien itu hidup. Bahkan, aku akan memikirkan cara agar ia bisa lepas dari organisasi...walau nyawa kami taruhannya,"

Hakkai masih diam, bahkan saat Gojyo mengakhiri penjelasannya. Desah nafas berat terdengar. Setelah itu, Gojyo melihat guretan senyum terkembang di bibirnya. Hakkai tertawa getir dengan singkat.

"Aku tak bisa menanyakan kenapa, karena kalian pasti tak memiliki jawabannya. Pasien itu telah berhasil mengubah kalian," Hakkai menghela nafas.

"Ya, sesuatu dalam dirinya berhasil mengubah kami," Respon Gojyo. "Aku tak akan memaksamu untuk mengikuti keputusan kami. Kau tetap memiliki pilihan sendiri, Hakkai,"

Hakkai kembali terdiam cukup lama. Helai poni masih menutupi wajah tertunduknya, menyembunyikan ekspresi pria itu. Hanya kuluman senyum getir yang tak kunjung hilang dari bibirnya.

Perlahan, Hakkai menyimpan pistolnya. Ia mulai menunjukkan wajahnya pada Gojyo. Dari sorot matanya, Gojyo yakin kalau emosi Hakkai sudah stabil.

"Aku sudah bersama kalian selama ini, dan aku tak akan semudah itu meninggalkan rekan seperjuanganku," Gojyo menelaah ucapan sarat makna tersirat itu. Apakah artinya, Hakkai juga memiliki pilihan yang sama?

"Aku mengikutimu dan Sanzo,"

"Eh? Kau yakin?" Gojyo malah kaget mendengar keputusannya. Hakkai mengerjap heran.

"Bukankah kau justru seharusnya senang, Gojyo?"

"Ah!" Gojyo nampak salah tingkah. Ia menggaruk belakang kepalanya. "Ya...tapi...terlalu berbahaya..."
Hakkai tertawa mendengarnya.

"Kalian yang sudah memutuskannya. Lagipula, tanpa aku, rencana kalian bisa gagal," Sindir Hakkai. Pria itu sudah kembali menjadi Hakkai yang Gojyo kenal.

"Hei! Kau jangan sombong!"

"Aku akan membantu kalian membebaskan pasien itu," Hakkai menatap Gojyo sambil tersenyum simpul.

Gojyo membalas senyumnya. Ia mengangguk pelan. Rasanya sangat terharu melihat Hakkai masih perhatian pada mereka.

"Terima kasih, Hakkai,"

"Berterima kasihnya nanti saja setelah kita berhasil," Hakkai bergurau. Gojyo tertawa singkat.

"Ya...baiklah," Ia melihat sekitarnya. Gojyo langsung teringat pada rekan lainnya yang masih terbaring tak sadarkan diri. Mungkin tak ada salahnya ia mengajak Hakkai untuk melihat Sanzo.

"Kita ke dalam untuk melihat Sanzo. Ia ada bersama pasien itu,"

Hakkai mengangguk. Mereka berdua pun beranjak menuju ke kamar Sanzo. Mereka melangkah di sepanjang koridor. Letak kamar sang dokter di dekat kamar pasien itu. Namun, Sanzo jarang sekali berada di kamarnya.

Sampai di sana, pintu ruang kamar masih berada di posisi yang sama, sedikit membuka. Sinar temaram lampu di ruangan terlihat dari luar. Pasien itu pasti tak beranjak sedikitpun dari ruangan itu. Gojyo mengintip ke dalam kamar. Ia tercenung melihat Goku dan Sanzo yang sama-sama terlelap. Sanzo terbaring di peraduan, sementara Goku tertelungkup di meja dekat ranjang.

Hari sudah larut malam. Pasien itu tentu tak kuat menahan kantuk. Gojyo masih tercenung memperhatikan mereka, sampai akhirnya, Hakkai menyentuh pundak pria itu.

"Biarkan saja mereka," Hakkai berbisik. Gojyo mengangguk cepat. Ia menutup pintu kamar dengan amat perlahan, sampai tak menimbulkan bunyi. Hakkai dan Gojyo juga memutuskan untuk beristirahat di kamar mereka masing-masing. Mereka ingin menikmati buaian alam mimpi, karena kenyataan yang terjadi esok harinya akan sangat berat.


"Kouryu,"

Erangan pelan keluar dari mulutnya untuk merespon panggilan itu. Ia membuka matanya perlahan. Sanzo menemukan dirinya terbaring di atas sebuah ranjang kayu.

Sanzo mengedar pandangan, mencari-cari sosok yang memanggilnya. Ia baru sadar kalau sosok itu tentu saja tak nyata. Sanzo mendesah sambil mengacak rambutnya. Ia bangun dengan perlahan. Dahaga menyerang. Ia menoleh ke samping, tak menemukan segelas air di atas meja.

Hanya ada sosok terlelap di situ. Sanzo berdecak pelan sambil membuang muka. Mencoba mengacuhkan keberadaannya, sang dokter beranjak dari ranjangnya.

Bunyi derak pelan dari dipan kayu itu bisa mengusik sosok terlelap itu. Goku bergerak gelisah, lalu akhirnya membuka mata. Ia menggosok matanya yang berair sambil menguap lebar. Setelah itu, pandangannya langsung mengarah ke sosok yang tengah melangkah pelan ke arah pintu.

"Dokter!" Ia segera bangun untuk menyusul pria itu. Sanzo mendengar panggilannya, namun bersikap acuh.

"Kau mau ke mana?"

Sanzo berhenti di ambang pintu. Ia melirik tajam Goku.

"Bukan urusanmu,"

"Luka-mu,"

"Bukan masalah besar," Sanzo hendak membuka pintu kamar, namun seketika lukanya terasa sakit. Pria itu pun langsung mengaduh.

"Kau baik-baik saja?" Goku hanya mampu berucap, tanpa berani mendekat atau menyentuh dokter itu. Wajahnya sangat menderita karena rasa sakit. Namun dokter tetap bergerak.

"Lukamu tak akan sembuh kalau kau memaksa bergerak!" Goku mulai gusar dengan sikap keras kepalanya. Suaranya terdengar lantang. Sanzo seketika menatap tajam sepasang manik emas.

"Berhenti...melakukan tindakan sendirian..." Ia berkata terbata. "Berhenti...menanggung sesuatu...sendirian,"

Suasana hening. Goku menundukkan wajah setelah mengatakan hal itu. Pemuda itu juga heran kenapa ia bisa nekat menghardik Sanzo. Pria itu hanya bergeming menatapnya.

"Air," Sanzo akhirnya bicara. Goku mengalihkan wajah pada sang dokter.

"Ambilkan aku air! Aku haus!" Goku tercenung.

"Cepat!"

Pemuda itu mengangguk ragu. Ia pun meninggalkan Sanzo ke luar ruangan. Sanzo melangkah gontai ke ranjang. Ia duduk di situ.

Beberapa menit kemudian, Goku sudah kembali dengan sebotol air mineral di tangannya. Mata Sanzo tak lepas menatap gerak-geriknya, membuat yang bersangkutan salah tingkah. Ia memalingkan muka sambil menyerahkan sebotol air pada dokter itu. Sanzo mengambilnya kasar lalu menenggak hampir seluruh isi botol. Ia memang sangat kehausan.

"Kenapa kau tak kembali?" Sanzo kembali bertanya ketus. Goku menatapnya heran.

"Ke kamarmu,"

Pemuda itu hanya menggeleng pelan lalu menunduk. Sanzo memperhatikannya.

"Aku tak bermaksud menolongmu tadi, jadi jangan merasa bersalah," Ucap Sanzo tegas. Manik emas itu kembali mengarah pada sang dokter.

"Banyak hal yang terjadi dalam organisasi ini. Aku hanya ingin membuat semacam aksi protes. Lalu, orang luar sepertimu sebaiknya tak usah ikut campur," Nada bicara Sanzo masih ketus.

"Kembalilah! Besok aku akan mengantarmu," Sanzo memalingkan wajah "Kau bisa hidup di jalanan. Setelah itu, aku tak peduli lagi,"

Ucapannya terdengar menyakitkan, namun Goku tak merasa marah mendengarnya. Ia kembali menunduk.

"Aku tahu. Tapi, bukankah kau lebih baik menyingkir dari tempat ini?"

Sanzo berdecak mendengarnya "Kembali sana! Jangan banyak ikut campur!" Hardiknya. Goku hanya diam. Ia pun memutuskan untuk mengikuti perintah dokter itu. Pemuda itu berbalik lalu melangkah pelan meninggalkan Sanzo.

Baru beberapa langkah, Goku terhenti. Ia memunggungi Sanzo, menggumamkan kata-kata yang membuat dokter itu tercenung.

"Karena bunga itu... Kau tak bisa meninggalkan bunga-nya," Tawa pelan Goku terdengar. Ia menoleh, menghadapi Sanzo sekali lagi.

"Aku juga tak bisa meninggalkan bunga-bunga itu, dokter Sanzo,"

Hanya mata ungu Sanzo yang membulat lebar. Ia tak mampu membantah tebakan pasiennya, karena memang tepat. Entah bagaimana Goku seperti bisa membaca isi hati Sanzo. Seolah, batin mereka menyatu.

Goku pun meninggalkan pria itu sendirian. Ia menutup pintu rapat-rapat, membiarkan Sanzo bergelut dalam keheningan. Cukup lama Sanzo mematung, sampai akhirnya ia meletakkan gelas lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Suara ribut di luar kamar mengusik lelapnya. Sepasang alis Sanzo saling bertaut. Ia mengerang kesal sambil menutup telinganya agar suara itu tak terdengar. Sanzo ingin kembali beristirahat, tetapi suara itu mengalun di pikirannya. Suara Hakkai, Gojyo, dan sang pasien bergantian dengan lantang.

Mereka seperti terlibat percekcokan. Sanzo akhirnya bangun dengan kesal. Ia tidak bermaksud melerai mereka, tetapi ingin mengusir ketiganya agar bersitegang di tempat lain saja.

Ia berjalan gontai karena kepalanya masih pusing. Suasana hatinya pun semakin buruk. Debaman kasar dari Sanzo seketika membungkam suara pertengkaran itu. Hakkai, Gojyo, dan Goku langsung mengarahkan pandangan ke arah Sanzo. Pria itu menatap gusar ketiganya. Sanzo sudah berada dalam ambang batas kesabarannya.

"Sanzo," Hakkai menyapa lembut untuk mengikis amarah sang dokter. Sanzo masih bergeming dengan sorot tajam.

"Maaf, mungkin kau terganggu," Hakkai meringis. "Pasienmu tak mau dibawa pergi," Ia menunjuk Goku dengan santai.

"Aku dan Gojyo sudah berusaha membujuknya," Hakkai tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya. Sanzo masih diam. Hanya salah satu alisnya yang terangkat. Bola matanya langsung bergerak ke sosok pemuda itu. Goku langsung menunduk dengan wajah ketus.

"Maaf, kalau kau merasa tak mau ikut campur, bukankah itu semua keputusanmu untuk membebaskannya. Jadi, mungkin kau yang harus membujuknya," nada bicara Hakkai tenang, namun tegas. Ia selalu memberikan pendapat yang tersirat. Namun, Sanzo mengerti makna ucapannya itu.

"Kenapa tak mau pergi?" sanzo menginterogasi Goku. Yang bersangkutan tak menjawab. Ia kini memalingkan mukanya.

"Jawab!"

Goku masih bungkam. Sanzo menghela nafas kesal. Ia membalikkan badannya, hendak kembali ke kamar.

"Paksa dia saja kalau begitu," Perintah Sanzo santai. "Ikat atau apakanlah. Lalu kalian buang di suatu tempat,"

"Tidak!" Goku langsung berteriak. "Apapun yang terjadi aku tak akan pergi,"

"Heh?" Sanzo kembali menghadapi Goku. Ia tertawa sinis.

"Dulu kau sangat ingin pergi dari sini, bukan?"

"Kami bukan yayasan sosial, atau orang tua angkatmu," Hakkai bicara. "Berada di sini akan berbahaya,"

"Aku tetap tak akan pergi!" Goku semakin bersikeras. Sorot matanya menatap teguh ketiga orang dewasa itu.

Gojyo hanya menghela nafas lalu bersedekap. Gojyo menduga tindakan gegabahnya itu karena ia masih berusia remaja. Bukankah anak-anak muda suka mengambil tindakan nekat yang hanya berlandaskan perasaan semata.

"Berpikirlah baik-baik. Mengenai kondisimu, hidupmu. Kau seharusnya tak terlibat urusan kami," Gojyo ikut memperingatkan.

Ketiga sosok dewasa itu sudah mengeluarkan pendapat mereka. Goku mencuri pandang mereka satu per satu. Ketiganya masih meniliknya. Goku pun menunduk dalam. Tadi malam, ia sudah memikirkan baik-baik keputusan itu. Ia memang tak seharusnya berada di sini. Ia sudah bebas dan bisa melihat dunia luar lagi. Untuk apa mempedulikan teroris yang menyanderanya? Biarkan mereka mendapat hukuman yang setimpal.

Tapi...

Kenapa ia tak bisa menyetujui pikirannya sendiri. Hatinya merasakan hal yang berbeda. Goku seperti memiliki ikatan pada tiga sosok itu, sehingga ia tak bisa meninggalkan mereka begitu saja.

Apakah ia bodoh? Mungkin ya. Tapi, Goku tetap pada pendiriannya.

"Aku...hanya tak bisa meninggalkan kalian," Goku menunduk saat mengungkapkan perasaannya. Pasti terdengar aneh.

"Walau kalian teroris, kalian tetap manusia, bukan? Kalian berharga. Aku juga ingin kalian selamat, dan tetap hidup. Entahlah. Aku bahkan tak mengerti!" Goku mengacak-acak rambutnya. Ia mengerang kesal.

"Maaf, mungkin alasanku tak masuk akal. Tapi, aku tetap pada keputusanku!"

Suasana hening. Goku menunggu reaksi mereka. Namun, tak ada satu pun yang bersuara. Pemuda itu terus menunduk. Wajahnya merah padam. Keheningan ini malah membuatnya gugup.

Gelak tawa terdengar sayup-sayup. Goku mencari sumber suara, menemukan Gojyo menyembunyikan gelaknya di balik lengan. Namun, tawa itu tak bisa terbendung. Dalam sekejap gelaknya pun menggelegar.

"Kami berharga? Maaf ucapanmu itu lucu sekali! Seperti seorang pendeta!"

Belum sempat menelaah reaksi itu, tawa lain kembali terdengar. Goku berpaling dan langsung menemukan Hakkai terkikih di balik telapak tangannya. Seperti Gojyo, Hakkai tak bisa menahan kikihannya. Ia pun tertawa lepas.

"Mungkin, kau terkena sindrom Stockholm," Hakkai menjelaskan di sela-sela tawanya. Ia berhenti lalu mendehem pelan. Hakkai membetulkan letak kacamatanya.

"Entah apa yang menarik dalam diri kami ya? Apakah kami sebaik itu?" kini Hakkai malah berpikir.

"Ayolah! Aku tak sedang bercanda! Alasanku serius!" Goku membela diri. Rona merah masih terlihat. Lebih baik ia mendapat hardikan dari mereka daripada ditertawakan seperti ini. Ia jadi seperti orang bodoh.

"Kau memang bodoh,"

Goku berpaling pada Sanzo. Sosok itu tak tertawa seperti dua rekannya. Hanya guretan senyum ejekan ditunjukkan untuk pemuda itu. Tak berapa lama, Sanzo kembali ke kamarnya.

"Lakukan sesukamu!"