-o0o-

Bocah berumur 7 tahun tersenyum senang kala menyaksikan sosok Seungcheol yang setahun lebih tua darinya itu hanya terdiam saat ia membentaknya.

Mulut Seungcheol tertutup oleh lakban sehingga ia tak bisa berteriak minta tolong. Hanya geraman tak jelas yang bisa anak itu berikan.

Loly trap, si Malaikat Maut Kecil adalah julukan bocah 7 tahun itu.

Apa yang menyebabkan X Clan merekrut bocah ini? Tentu saja karena siapa yang akan menyangka bahwa bocah ini seorang pembunuh bayaran?

Seorang korban child abuse yang telah dilatih membunuh sejak awal. Benar-benar latar belakang yang menguntungkan X Clan.

Dengan senyum polos dan mata yang berbinar bak permata, sosok kecil Jisoo mampu melumpuhkan targetnya.

Targetnya saat ini adalah anak sulung keluarga Choi dengan misi menukar surat tanah milik RED Corporation dengan Seungcheol.

Jangan tanya siapa tuannya, karena Jisoo bahkan tidak tahu.

Brakkk…

Pintu dipaksa untuk dibuka dan menampilkan sosok tegap Hyunwoo disana.

Hyunwoo masuk ke dalam dan disambut dengan lemparan pisau yang bertubi-tubi dari Jisoo.

Dengan gerakan yang tepat, Hyunwoo menghindari setiap pisau yang menuju ke arahnya.

Bukannya menuju ke Seungcheol, sosok pria itu malah membawa tubuh mungil Jisoo dalam pelukan hangat.

"Cukup. Jangan lagi membunuh, itu hal yang buruk Shua…"

Deg.

Jisoo terdiam dalam keterkejutannya.

Ia tertegun saat menerima pelukan hangat yang sangat lama tak ia rasakan. Sosok pria ini juga memanggil nama aslinya yang bahkan hanya ibunya yang memanggilnya seperti itu.

Sosok ibu yang sudah menghilang karena kekerasan yang dilakukan sang ayah.

Jisoo masih terdiam dengan pikiran yang entah melayang kemana sampai sosok Kihyun dengan rambut peachnya masuk ke dalam ruangan itu.

Kihyun tersenyum lembut ke arah Jisoo dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil anak itu. Dengan lembut Kihyun mengusap surai hitam Jisoo.

"Jadilah anak kami, kau mau?"

Jisoo tak bisa berkata apa pun kala Hyunwoo dan Kihyun membawa dirinya masuk ke dalam keluarga Choi.

Bisa dikatakan bahwa Hyunwoo dan Kihyun dengan segala kemampuan mereka mampu membuat sosok pembunuh cilik ini berubah menjadi sosok penuh kelembutan dengan cepat.

Jisoo kecil terbuai akan kasih sayang yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya. Ia bahkan bisa memiliki seorang hyung dan seorang dongsaeng sekarang.

Hyunwoo dan Kihyun tidak mengganti nama Jisoo dan mengubah yang sebelumnya Hong Jisoo menjadi Choi Jisoo.

Disinilah awal permusuhan RED Corporation dan X Clan. Alligator dan X Clan memang bermusuhan namun tidak pernah menyerempet anggota Quattuor Coronam yang lain.

X Clan jelas saja tak membiarkan asset berharganya pergi begitu saja.

Perang jalur belakang antara RED Corporation dan X Clan berlangsung selama tiga tahun lamanya.

Alligator juga membantu RED Corporation hingga akhirnya diadakan pertemuan paling menengangkan yang pernah ada.

Pertemuan itu diadakan di atap gedung kosong di pusat kota Seoul dengan segala macam senjata saling mengarah ke satu sama lain.

Hyunwoo tidak ingin ada pertumpahan darah maka diputuskan ia membeli Jisoo dengan harga yang fantastis.

Dengan itu Jisoo terbebas dari X Clan.

Kihyun baru menyadari tattoo yang ada di punggung Jisoo saat ia membantu Jisoo menggunakan pakaian baru di ruang ganti di REDish.

Kihyun bertanya apa Jisoo ingin menghilangkan tattoo itu namun jawaban Jisoo ia hanya ingin menumpuknya saja.

Anak kecil itu berucap bahwa tattoo itu bagaikan dosanya yang tak akan pernah hilang, maka dari itu ia ingin menutupnya saja.

Jisoo pun dengan senang hati memilih tattoo mawar karena ia sangat menyukai bunga itu.

Beralih ke hari yang baru, Jisoo berhadapan dengan sosok yang baru pertama kali ia lihat.

"Annyeong Jisoo hyung. Perkenalkan aku Seokmin. Aku, eomma, appa, dan Chan baru saja kembali dari Rusia… jadi salam kenal."

Jisoo menatap mata anak 5 tahun yang menatap dengan keceriaan. Senyuman secerah matahari mampu membuat perasaan Jisoo menghangat.

"Salam kenal Seokmin. Aku Jisoo."

-o0o-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Bahkan tidak ada yang menyadari namaku beda sendiri di antara Seungcheol hyung dan Seungkwan." Lirih Jisoo.

"Jadi… Mari kita mulai." Lanjut Jisoo sambil tersenyum mengerikan.

Bakat alaminya tak akan hilang hanya karena ia tak pernah berlatih bukan?

Brak…

Buagh…

Buseok benar-benar menepati janjinya untuk membiarkan Jisoo bertarung satu lawan satu.

Sudah sepuluh orang tergeletak jatuh antara pingsan atau tanpa nyawa. Belum ada sepertiga dari bawahan Buseok namun Jisoo sudah nampak kelelahan.

Ia sedang hamil muda. Walau bakatnya tak hilang namun tenaganya sudah terkuras. Terlebih Jisoo berkali-kali menghalangi serangan yang merujuk ke perutnya.

Jisoo yang terlihat kelelahan membuat Seokmin dan Jeonghan tak tega.

"Jisoo hyung… Sudah… cukup, kumohon." Kata Seokmin.

Seokmin merasa dirinya tak berguna karena tak bisa melindungi istri dan calon anaknya. Bahkan darahnya masih mengalir dan membuat kemeja putih itu menjadi merah.

Jisoo tak memperdulikan ucapan Seokmin dan kini ia telah masuk ke pertarungan dengan orang kesebelas.

"Seokmin, aku minta kain di kemejamu. Tolong bantu aku membalut luka sialan ini." Pinta Jeonghan.

Seokmin mengangguk.

Jeonghan menggunakan satu tangannya untuk tetap menahan luka Seokmin. Sehingga kedua orang itu sama-sama hanya bisa menggunakan satu lengan yang tersisa.

Seokmin dan Jeonghan bekerja sama untuk merobek kemeja putih yang sudah menjadi merah itu lalu melilitkannya di luka Jeonghan.

Buagh…

Sosok kesebelas terbanting ke lantai dengan kepala yang terputar.

Jeonghan berdiri dan kini menahan bahu Jisoo yang sudah akan melanjutkan pertarungannya.

Jisoo tak menoleh sedikit pun. Pandangan matanya masih sangat fokus ke arah musuhnya.

"Jeonghanie, kumohon jangan menahanku." Ucap Jisoo dengan nafas yang terputus-putus.

"Jisoo-ya… Setiap orang memiliki rahasia dan aku juga memilikinya." Bisik Jeonghan dengan lembut.

Ia mengenggam jemari Jisoo dengan erat.

"Seokmin tak akan marah padamu. Ia sangat mencintaimu." Lanjut Jeonghan lagi.

Jeonghan menatap ke arah Buseok yang masih menampilkan wajah penuh kebahagiaannya karena melihat Seokmin dan Jisoo menderita.

"Ne Buseok-ssi. Aku ingin berkenalan denganmu. Aku Moon Eos Jeonghan, anak pertama dari X pemimpin tertinggi X Clan. Salam kenal." Ucap Jeonghan.

Kini giliran Jisoo yang menatap Jeonghan dengan penuh tanda tanya dan keterkejutan.

Jeonghan menarik bagian bawah-belakang pakaiannya ke atas dan menampilkan sebuah lambang X Clan yang tercetak dengan jelas di punggung putih itu.

"Mungkin kita pernah bertemu sebelumnya Jisoo-ya, tapi kita saling melupakan. Jadi sekarang, kau istirahatkan dirimu dan biarkan aku yang melawan."

Jeonghan mendorong tubuh Jisoo untuk menuju Seokmin.

Seokmin dengan kemeja yang terbuka karena dirobek oleh Jeonghan langsung membawa Jisoo dalam pelukan erat.

"Mian, Seokmin…" Lirih Jisoo.

Seokmin menangkup wajah Jisoo yang sudah berurai air mata dengan satu tangannya.

"Hyung dengarkan aku. Aku mencintaimu. Tak peduli siapa dirimu di masa lalu, kau adalah Jisooku. Jisoo yang aku cintai dengan seluruh jiwa dan ragaku. Jisoo yang akan menjadi ibu dari anak-anakku. Saranghae…"

Tangis Jisoo makin menjadi namun ia memilih menghapus air matanya dan mengangguk ke arah Seokmin.

Pandangan mata mereka kini menuju pada Jeonghan yang bertarung dengan membabibuta.

Wow, dalam waktu yang sangat singkat hanya tersisa Jeonghan dan Buseok yang saling berhadapan.

Jeonghan mendekat dan mulai menyerang Buseok.

Tendangan dan pukulan saling sahut menyahut.

Buagh…

Kala tubuh Jeonghan tersungkur karena pukulan Buseok, Buseok tertawa dengan sangat keras dan puas.

"Hanya segitu kemampuan anak tertua X? Hahahaha…"

Buseok mendekat ke arah Jeonghan yang mencoba untuk berdiri.

Dor.

Sebuah tembakan mengenai pundak Buseok.

"Argh!"

Pria itu langsung memegang pundak kirinya yang mulai mengeluarkan darah.

"Apa enak ditembak begitu?"

Suara yang sangat mereka kenal terdengar dari atas sana.

"Eomma/eomeoni?"

Mereka bisa melihat sosok Kihyun yang tersenyum mengerikan saat ini. Kihyun melompat dari ventilasi dan menapakan kakinya dengan selamat.

Jeonghan menatap kagum sosok Nyonya Besar Choi yang sangat cocok dengan jumpsuit putih khas Alligator itu.

"Apa benar ini markas X Clan, chagiya?" Tanya Kihyun pada Jeonghan dan Jisoo.

Kedua namja cantik itu mengangguk karena mereka ingat betul dengan tempat ini.

Suara kerusuhan yang semakin keras dan entah datang darimana masih menjadi back song yang memekakan telinga.

"Sedang ada penyerangan terang-terangan antar Quattuor Coronam dengan X Clan. Tapi tak kusangka X Clan selemah ini." Ucap Kihyun dengan tampang meremehkannya.

"Oh… Dan kau bajingan, kau apakan anak dan calon cucuku?" Tanya Kihyun sambil menembak pundak kanan Buseok.

"Keparat!"

Buseok mengambil pistol yang ada di pinggangnya lalu mengarahkannya ke Seokmin.

Buagh-

-Dor

Seseorang menendang Buseok hingga tubuh pria tua itu terbanting ke samping. Tembakannya pun meleset dan mengenai bagian atas dinding.

"Appa/aboeji!"

Hyunwoo melirik ke arah Jisoo. Terlihat sisa air mata dan darah di ujung bibir Jisoo.

Jangan pernah tanyakan sebesar apa kasih sayang Hyunwoo ke anak-anaknya.

Tanpa menunggu apa pun, Hyunwoo kembali meraih kerah Buseok lalu memberikannya pukulan keras.

"Oops. Appa bear sedang mengamuk. Jja, aku akan mengantar kalian ke jemputan." Ucap Kihyun.

"Hamshark, mobil sudah ada di dekat dermaga."

"Ne, Woozi. Gomawo."

Kihyun memapah Jeonghan sedangkan Jisoo memapah Seokmin. Mereka meninggalkan Hyunwoo yang masih puas untuk menghajar Buseok.

Keempat orang itu keluar melalui arahan Jihoon di wireless earphone yang digunakan Kihyun.

Tak jauh mereka sampai di hadapan mobil lapis baja yang dimiliki Alligator. Disana terlihat Seven yang menyetir.

Suasana di luar markas utama X Clan sungguh kacau. Markas ini telah berubah menjadi area perang.

Beberapa agent membuat tameng agar Kihyun dan yang lainnya dapat menuju mobil dengan cepat.

Suara tembakan membabi buta terdengar dari tempat mereka berdiri. Bahkan mereka masih bisa melihat dengan jelas kedua belah pihak yang saling membunuh.

"Ayo masuk."

Secara bergantian, Jisoo dan Seokmin masuk ke dalam mobil. Namun ketika giliran Jeonghan, Jeonghan malah meraih tangan Kihyun.

"Eomeoni… Apa Seungcheol dan Selene ikut?" Tanya Jeonghan.

Kihyun mengangguk kecil.

"Apa tujuan Quattuor Coronam?"

"Membunuh X dan menghancurkan X Clan."

Jeonghan terdiam beberapa saat.

"Samonim, ada laporan bahwa Myeongho memasuki markas X Clan."

Belum sempat Kihyun menjawab, Jeonghan sudah terlebih dulu menyela.

"Eomeoni, aku akan masuk. Tolong jangan perintahkan aku untuk meninggalkan mereka." Pinta Jeonghan.

Kihyun menghela nafasnya lalu mengangguk.

"Jisoo, segera istirahat ketika kau sampai di tempat perlindungan. Para dokter sudah ada disana. Seokmin, kutitip anakku." Ucap Kihyun.

Seokmin dan Jisoo tak bisa berkata apa pun lagi saat pintu mobil ditutup oleh Kihyun.

"Jadi, mari kita menuju neraka."

Kedua orang itu masuk lagi ke dalam gedung.

Kihyun sudah memberikan sebuah pistol beserta peluru dan pisau ke Jeonghan.

Mereka berada di lorong untuk sampai ke lokasi tadi namun yang mereka lihat adalah Hyunwoo yang sudah tak sadarkan diri di tengah ruangan beserta tubuh Buseok yang terlihat babak belur dengan leher yang patah.

Jeonghan sudah akan melangkah menuju ruangan itu namun Kihyun menghalangi dengan lengannya. Nyonya besar Choi itu meletakan jari telunjuknya di bibir, mengisyaratkan Jeonghan untuk tak bersuara.

"Hamshark, hold on. Ada pancaran panas yang banyak di depan kalian. Hal terburuk bahwa kalian terkepung."

Kihyun paham betul situasi ini.

Mata tajamnya bisa melihat sebuah jarum bius yang menancap di leher Hyunwoo.

Hyunwoo adalah sosok yang tahan akan racun dan bius tingkat menengah. Hal itu karena sejak kecil Hyunwoo sering memasukan racun dan bius ke tubuhnya untuk menguatkan sistem pertahanan alami miliknya.

Maka ketika Hyunwoo bisa tumbang, bius atau racun yang masuk ke tubuhnya adalah tingkat kuat atau berbahaya.

Kihyun menggerakan tangannya membentuk bahasa isyarat.

"Kau masih ingat bahasa isyarat?"

Jeonghan mengangguk. Bahasa isyarat adalah salah satu dasar dalam berkomunikasi antar agent. Jeonghan sebagai anak dari petinggi X Clan tentu saja diajarkan.

"Aku akan menghadang mereka. Kau carilah Seungcheol, Hansol, dan saudaramu. Hyunwoo mungkin akan bangun beberapa saat lagi, jadi jangan khawatir."

Kihyun melepaskan wireless earphonenya dan memasangkannya kepada Jeonghan.

"Jihoon akan memandumu. Good Luck, chagi."

Setelah itu Kihyun langsung berjalan ke arah Hyunwoo.

Beberapa jengkal sebelum Kihyun sampai ke Hyunwoo, serangan membabi buta muncul dari segala arah dan itu menyebabkan Kihyun langsung melawan.

Jeonghan menghela nafasnya dengan kedua jemarinya yang terkepal erat.

"Woozi, Eos connect."

"Happy to see you again, Eos. Ikuti arahanku."

Sosok cantik itu harus meninggalkan Kihyun dan mengikuti arahan Jihoon dengan berat hati.