Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

Dan di sini author akan membuat segalanya terlalu berlebihan, hehehe,

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[Crown for the Queen ]

~ Chapter 22 ~

.

.

Sakura Pov.

"Apa semua catatan itu sudah selesai?" Tanyanya, padaku.

Apa pangeran hari ini baik-baik saja? Dia bertanya begitu tenang padaku? Biasanya dia akan marah-marah dan protes padaku.

"Tinggal beberapa lembar lagi, pangeran." Ucapku.

Padahal semua ini adalah kesalahan tuan Kabuto, dia segera berkemas dan angkat kaki, memberikan semua catatan salah ini untuk di tulis ulang, pria yang tidak bisa bertanggung jawab

"Yang mulia raja dan aku sudah sepakat, jika catatan itu sudah selesai, kau bisa berhenti untuk bekerja." Ucapnya

"Berhenti bekerja? Apa saya membuat kesalahan lagi?" Ucapku.

Apa ada kesalahan lagi? Aku sudah mencatat semuanya dengan sangat teliti, menatap kertas-kertas ini, kata tuan Kabuto semua ini adalah catatan asli, dia tidak mungkin membuatku bekerja berulang kali jika ini catatan palsu.

"Tidak, kau tidak membuat kesalahan, tapi menurut Yang mulia raja kau tidak perlu bekerja lagi, sebagai seorang wanita, sangat jarang ada wanita bekerja di istana." Jelasnya.

Itu benar, bagaimana aku bisa melupakan hal ini? Tapi ini juga ide sang pangeran, pangeran yang tidak bisa memegang ucapannya sendiri, dia yang meminta Yang mulia raja untuk setuju membuatku bekerja, aku sudah menolaknya, dengan alasan akan tersebar rumor yang semakin buruk lagi.

Di jaman ini, wanita bekerja adalah hal yang tidak benar, tapi bukan hal yang salah juga, hampir di setiap istana wanita tidak di perkenankan untuk bekerja, seluruh pekerjaan dari istana akan di isi oleh para pria, ini hanya berlaku untuk wanita yang bergelar bangsawan, tidak termasuk dengan wanita-wanita yang berada di luar sana dan menjadi rakyat biasa, bekerja bagi mereka adalah hal yang wajar bahkan itu sebuah tuntutan.

Para putri di istana hanya tahu merawat diri, belajar berbicara lebih baik, menjaga sopan santun dan sikap demi latar belakang kerajaan masing-masing, berpengetahuan luas pun di perbolehkan, agar mereka lebih terlihat berpendidikan, hanya saja hal ini tidak akan diterapkan dalam dunia kerja. Sangat di sayangkan, ilmu itu tidak akan berguna jika tidak diterapkan.

Mereka di persiapkan agar menjadi seorang istri yang akan merawat suaminya dan hanya memahami beberapa hal saja agar muda berbicara dengan orang lain, itu adalah keadaan yang sangat kolot, di jaman ini wanita bangsawan sudah harus berubah dan memilih apa yang perlu mereka lakukan, tidak perlu terus terbelenggu karena latar belakang dan terus saja menjaga sikap.

"Apa kau mendengarkanku, nona Sumire?" Tegur pangeran. Aku jadi melamun setelah mendengar ucapannya.

"Baik, pangeran, saya akan melakukan seperti apa yang anda inginkan." Ucapku, aku tidak mau berdebat dengannya.

Aku melupakan sesuatu.

"Pangeran, apa hari ini saya bisa selesai lebih awal?" Tanyaku.

"Kenapa?" Ucapnya dan tatapan itu terus saja menajam ke arahku.

"Hari ini saya-" Melirik ke arah pintu, pangeran tidak suka jika kesatria Sai berada di ruangan ini dan kami terlihat sangat akrab, akhirnya dia di perintahkan berjaga di depan pintu. "-Saya akan keluar jalan-jalan di luar istana bersama kesatria Sai, apa saya bisa selesai lebih awal?" Ucapku, aku hanya meminta ijin padanya.

Pangeran itu terlihat menghela napas, terdiam sejenak dan terus menatap ke arahku, aku memikirkan jika dia sedang membuat rencana lagi.

"Baik, kau bisa pergi sekarang juga." Ucapnya. Hanya untuk mengijinkanku saja dia harus berpikir cukup lama.

"Terima kasih, pangeran."

"Tapi ada syaratnya."

Rasa senangku memudar seketika, aku sudah tahu, dia akan membuat rencana jahat lagi.

"A-apa itu pangeran?"

"Aku juga harus ikut." Ucapnya.

Ini benar-benar sebuah masalah, tapi jika aku menolaknya, dia mungkin akan membuat masalah baru lainnya.

"Tapi, apa pangeran tidak masalah keluar bersama saya?" Tanyaku.

"Itu bukan masalah, lagi pula aku juga ingin keluar sesekali melihat keadaan di luar istana." Ucapnya, lagi-lagi tatapan tenang itu akan sulit terbaca, apa yang sedang di rencanakan pangeran?

Pada akhirnya.

Kesatria Sai melihat ke arahku, aku tidak sempat menjelaskan padanya.

"Ada apa? Kenapa seakan kalian keberatan aku ikut bersama kalian? Apa kalian ada rencana semacam kencan?" Ucap pangeran dan memincingkan mata ke arah kami.

"Ka-kami tidak ada hubungan seperti itu, pangeran!" Ucapku dan kesatria pun mengatakan hal yang sama. Kami kembali saling bertatapan dan memasang wajah tidak enak.

Bagaimana dia berpikiran kami ada hubungan seperti itu! lancang sekail dia, dasar pangeran jahat!

Kami mulai berjalan-jalan keluar istana, terasa sudah cukup lama aku tidak melihat dunia luar seperti ini, selama ini Yang mulia raja terus memintaku tetap berada di istana agar tetap aman, dia memikirkan jika mungkin saja ada yang mengincarku nantinya.

Berjalan ke arah pusat perdagangan, hanya kami bertiga, tapi aku dan kesatria Sai berjalan di belakangnya seperti pengawal baginya dan dia berjalan-jalan dengan memasang wajah yang tetap saja bagi penglihatanku, itu sangat angkuh.

"Pangeran!" Ucap salah seorang.

Wajah pangeran cukup di kenal, orang-orang jadi ramai berdatangan untuk menyapa pangeran ini.

"Pangeran, salam hormat kami, semoga kesehatan dan kemakmuran akan selalu bersama anda, pangeran." Ucap mereka.

Aku ingin pergi dari sini dan tidak ingin melihatnya.

"Terima kasih." Ucap pangeran Sasuke.

Wah-wah, aku tidak percaya jika dia akan seramah ini jika berada di dekat mereka, dia menjawab setiap ucapan rakyatnya, mereka jadi terus menyanjungnya dan ini bukan tujuanku untuk keluar dari istana ini.

"Apa kita bisa pergi dari sini? Pangeran hanya menghambat apa yang ingin saya lakukan." Bisikku pada kesatria Sai.

"Jika nona Sumire pergi ke arah lain dan pangeran masih berada disini, aku yang akan repot, aku harus menjaga kalian berdua selama di luar." Ucapnya.

Itu benar, walaupun prioritas utama adalah pangeran, tapi tugas utama kesatria Sai adalah mengawalku, lagi pula, siapa yang berani melawan pangeran, dia juga ahli pedang.

Kapan ini akan selesai! Mereka terus memberikan pertanyaan pada pangeran dan dia dengan senang hati terus menjawabnya! Menyusahkan! Seharusnya aku melarangnya ikut.

Hampir setengah jam terbuang, orang-orang itu mulai membiarkan pangeran melakukan apa yang akan di lakukannya, dia tidak akan melakukan apapun, dia hanya beban untuk ikut keluar.

"Jadi, katakan, apa yang akan kalian lakukan disini?" Tanyanya, oh jadi dia ingat jika kami bersamanya, untung saja kami menjaga jarak darinya, aku tidak ingin menjadi sorotan.

"Salam hormat dan sehat selalu untuk Yang mulia pangeran. Saya jarang melihat anda keluar istana, apa terjadi sesuatu?" Ucap seorang pria.

Ha! Masih ada lagi! Kapan meet and greet ala pangeran ini berakhir! Aku harus segera mencari hadiah untuk Yang mulia raja, bukan menemani pangeran menyebalkan ini tanya jawab dengan para rakyatnya!

"Tidak ada, aku hanya ingin berjalan-jalan dan melihat-lihat rakyatku." Ucapnya.

Tatapan pria itu mengarah padaku.

"Saya juga jarang melihat anda bersama seorang wanita, Pangeran." Ucapnya.

"Dia hanya-"

"Pangeran! Maaf menyela, tapi kita tidak punya banyak waktu untuk di luar." Ucap kesatria Sai.

Aku sendiri terkejut, tiba-tiba kesatria Sai memotong ucapan pangeran dan mengeraskan suaranya.

"Ma-maaf atas kelancangan saya, pangeran, silahkan lanjutkan apa yang akan anda lakukan." Ucap pria itu dan akhirnya pamit untuk pergi.

Namun setelah itu, pangeran Sasuke terlihat kesal padanya.

"Bagaimana bisa kau memotong ucapanku?" Ucap pangeran Sasuke.

"Kita memang tidak bisa berlama-lama pangeran, cukup berbahaya jika hanya saya sendirian yang mengawal pangeran dan juga nona Sumire." Alasan kesatria Sai.

"Maaf jika saya mengganggu pembicaraan kalian berdua, saya ingin mencari sesuatu di tempat lain, apa bisa saya pergi seorang diri saja?" Ucapku.

"Tidak boleh!" Ucap mereka serempak.

Kenapa mereka jadi mengucapkan hal yang sama? Tapi ini ucapan yang aneh dari pangeran Sasuke, kesatria Sai segera menatapnya setelah sadar jika ucapan mereka sama.

"Ma-maksudku kalau nona Sumire hilang atau ada yang menculiknya, kak- maksudku Yang mulia raja akan marah besar padaku." Alasan sang pangeran.

Aneh,

Kenapa di saat seperti ini dia terlihat manis?

Tidak-tidak, mungkin karena dia sudah trauma membuat masalah denganku dan Yang mulia raja sudah memberinya peringatan.

Jika tidak ada yang memulainya, kami akan terus berdiri di sana, mulai melangkahkan kaki dan kedua pria itu mengikutiku, sekarang seperti aku yang di kawal oleh mereka.

Berjalan-jalan dan mencari sesuatu yang menarik, kira-kira apa yang di sukai oleh Yang mulia raja Itachi? Aku tidak begitu mengetahui apapun tentang kesukaannya, jika saja hanya kesatria Sai yang mengikutiku, ini akan mudah, tapi jika ada pangeran juga, dia pasti akan merendahkanku lagi.

Langkahku terhenti di sebuah toko yang cukup berbeda, ada banyak barang, tapi entah ini toko apa, semua barang-barangnya tidak biasa dan unik.

"Masuklah untuk melihat-lihat nona." Ucap seorang wanita tua padaku.

Melangkah masuk dan sebuah genggaman tangan, menoleh dan itu adalah pangeran Sasuke, dia menghentikan langkahku, setelah melepaskan tanganku dan berjalan lebih dulu, ada apa dengannya?

"Apa kau sudah memiliki ijin berjualan barang-barang unik ini di sini?" Tanyanya, bahkan dengan tatapan menusuknya. Kenapa dia bersikap seperti itu pada wanita tua ini? Sebelumnya, dia bersikap begitu ramah dengan orang-orang yang di temuinya tadi.

"Salam hormat dan kemakmuran untuk Yang mulia pangeran, maaf saya terlambat untuk menyadarinya. Tenang saja pangeran, saya sudah mendapat ijin." Ucap wanita tua.

"Kau harus memperlihatkannya padaku."

Wanita itu berjalan masuk dan mencari sesuatu di salah satu laci lemari besar miliknya, sebuah kertas yang di gulung, dia memberikannya pada pangeran Sasuke.

Kenapa dia tidak mengatakan pada semua penjual yang kami lewati tadi? Kenapa hanya wanita ini saja?

"Bagaimana pangeran? Apa saya masih tidak boleh berjualan setelah surat resmi yang di tanda tangani oleh Yang mulia raja di berikan padaku?" Ucap wanita itu, dan aku suka jika ada yang sedikit menantang pangeran ini.

"Baiklah, kau punya surat ijin, tapi jangan membuat kekacauan." Ucap pangeran Sasuke dan mengembalikan surat gulungan itu pada wanita tua pemilik toko ini.

"Baik, pangeran, saya berjanji tidak akan membuat masalah."

Sebuah senyum mengambang di wajah wanita itu saat menatap ke arahku.

"Seorang putri mahkota dari kerajaan yang begitu jauh, apa yang membuatmu datang ke sini? Apa kau tersesat?" Ucapnya.

Aku benar-benar terkejut setelah mendengar ucapannya.

Rahasiaku!

.

.

TBC

.

.


updateee...~