"Daylight"
Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.
Genre : Romance, Action
Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook
Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min
Rated : M
Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook
YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya
M-Preg, y'all. You're gonna love it
Typo everywhere
Chapter 21
"Kau percaya teori konspirasi?"
Pada suatu pagi, di tengah hujan yang tiba-tiba saja mengguyur jalanan tempat mereka berlindung, sebuah pertanyaan sederhana terlontar begitu saja dari seseorang yang tak dikenal. Pertanyaan itu sebenarnya ia sendiri sudah yakin betul jawabannya.
Sosok yang ditanyai kemudian menghentikan hitungan yang sejak tadi dirapalkannya di dalam kepala. Ia melirik ke sosok bertubuh kurus yang berjongkok di sebelahnya dengan tatapan ganjil. Sosok itu memiliki tubuh yang teramat kurus. Bagian tulang belikat, selangka, dan punggungnya saja tercetak dengan jelas. Akan tetapi, yang aneh adalah bagian perutnya terlihat berisi, yang sekali lagi, cukup aneh untuk dilihat. Pria itu bahkan dari radius beberapa meter saja sudah tercium aroma tubuhnya. Aromanya busuk. Berbanding terbalik dengan tubuhnya yang setidaknya menguarkan aroma segar dari sabun batangan murahan yang dibelinya di convenience store beberapa hari yang lalu.
Ia bersyukur. Setidaknya kehidupannya tidak semenyedihkan pria yang bertanya padanya itu. Ia sendiri masih bisa makan, bernapas tanpa tersengal, minum dengan cukup, bahkan memakai pakaian layak. Untuk urusan tidur di mana, itu bukan perkara sulit. Semua tempat bisa menjadi rumah singgah bagi orang sepertinya. Seperti yang dilakukannya beberapa waktu belakangan ini.
"Konspirasi apa?"
Dengan gerakan yang terlewat perlahan, pria berperut buncit itu menatap ke angkasa sembari bersiul pelan. "Konspirasi Tuan Lee Minwoo."
Ia ingin tertawa. Cara pria itu mengucapkan nama Dewan Tertinggi membuat perutnya mual seketika. Ia tidak paham mengapa rasa mual itu malah membuatnya ingin terbahak dengan suara sekeras mungkin.
Namun, kewarasan masih menjaganya untuk tidak melakukan hal konyol tersebut.
"Memangnya apa?"
Dari posisi jongkoknya, pria buncit tersebut menatap tajam sembari berucap dengan suara lembut namun penuh penekanan pada setiap katanya. "Banyak yang bilang, ia suka makan daging manusia."
Hening seketika menyelimuti mereka berdua.
"Daging manusia?"
"Daging manusia," beonya mantap. "Kau tahu orang-orang yang ikut Copulation itu? Katanya bayi-bayi itu sebagian akan dijadikan makan malamnya. Hanya bayi rupawan yang akan masuk ke mulutnya."
"Aku tak pernah dengar."
"Katanya juga, dia akan meminum darah bayi-bayi itu untuk membuatnya awet muda. Seluruh keluarganya dari keturunan pertama hingga keturunan terakhir juga harus meminum darah itu. Darah membawa keberuntungan dan menjaga mereka terlihat tetap awet muda."
Selama beberapa detik, ia mencoba menemukan kalimat apa yang tepat untuk mengomentari pernyataan si pria buncit. "Mereka terlihat sama saja."
"Jangan lihat hanya dari yang terlihat saja. Kau harus melihat sesuatu yang tak kasat mata."
"Itu terdengar konyol."
"Karena kau tidak percaya konspirasi."
"Untuk apa percaya?"
"Kau, temanku, benar-benar terlihat seperti seekor anak anjing," ujarnya. "Kau sangat polos dan terlihat seperti belum tercemar kotornya dunia. Berapa umurmu sebenarnya?"
Peringai mencurigakan sekaligus mengerikan dari pria buncit itu cukup membuatnya tahu bahwa ia harus mengakhiri percakapan konyol ini. Tak ada gunanya melanjutkan obrolan dengan seseorang yang kewarasannya patut dipertanyakan.
"Sudah cukup umur untuk berumah tangga," jawabnya singkat dengan nada yang teramat dingin.
"Tentu, kalau kita punya pilihan. Berumah tangga terdengar menyenangkan," pria buncit itu menepuk pundak orang yang jadi lawan bicaranya. "Kaum Sekunder seperti kita tentu tidak akan pernah bisa merasakan kemewahan berumah tangga. Bisa hidup saja sudah untung."
Sebelum kepalanya semakin pening, ia memutuskan meninggalkan pria aneh itu dan berlari menembus derasnya hujan. Meski tetes-tetes itu semakin membasahi tubuh, namun pergi sejauh mungkin dari orang aneh itu rasanya lebih baik.
Walau ternyata mara bahaya yang menghadang menjadi jawabannya.
.
.
.
"Aku sungguh ingin bolos untuk sehari ini saja. Boleh ya, Kook?"
"Tidak bisa. Kau kan kemarin sudah pernah bolos. Bagaimana nasib anak buahmu kalau team leader-nya saja menyepelekan pekerjaannya?"
Sembari mengulurkan secangkir kopi ke arah pasangannya, Jungkook kemudian meletakkan sepiring bacon, omelet, dan sosis di atas meja. Ia membenarkan kerah Taehyung yang sedikit miring sebelum tersenyum simpul menatap pasangan Copulation-nya yang terlewat tampan. Ketampanan Taehyung sering kali membuat Jungkook berpikir, apakah Tuhan sedang dalam suasana hati yang baik saat menciptakan manusia yang satu ini.
"Tapi aku bolos kan untuk kebaikan kita semua. Aku tidak akan santai-santai saja di rumah. Kita akan cari Min Yoongi bersama-sama."
"Aku bisa cari sendiri. Kalau kau sudah pulang kerja, baru menyusulku. Tidak apa-apa, hyung."
Taehyung menatap Jungkook dengan pandangan penuh protes. "Keliling sendiri tanpa ada yang jaga? Bagaimana aku bisa tega?"
Jungkook yang merasa tatapan itu perlu penjelasan lebih, kemudian langsung duduk di sebelah Taehyung dan ikut mengambil sepotong sosis dari piring pasangannya. "Memangnya kenapa? Aku kan sudah besar. Tidak usah khawatir."
"Aku khawatir, Kook. Kau tak bisa melarangku untuk tidak khawatir," ujar Taehyung dengan nada tegas.
Jungkook menghela napas pelan. Jika sudah menyangkut iya dan tidak, Taehyung terkadang bisa jadi manusia yang sekeras batu. Sulit sekali membuatnya lunak jika itu menyangkut kekhawatirannya yang kadang tak beralasan.
"Kalau begitu aku akan minta seseorang untuk menemaniku," ucap Jungkook sambil menopang dagu. Ia menatap wajah pasangannya, dan untuk kesekian kalinya, semakin jatuh pada pesona pria muda yang menjadi ayah dari bayinya itu.
"Jangan bilang si Park itu—"
"Tentu tidak. Kau pikir dia tidak punya kesibukan lain?" ia mengerlingkan mata sebelum beranjak dari duduknya. Satu hal yang samar ia sadari adalah ternyata Kim Taehyung sosok yang cukup pencemburu. Ia tak pernah menyangka jika orang yang baru dikenalnya beberapa bulan belakangan ini ternyata bisa seprotektif itu padanya.
"Lalu siapa?"
"Mungkin Hoseok hyung bisa menemaniku. Aku ingin berkunjung ke rumahnya juga. Sudah lama tidak main ke sana," terangnya. "Boleh ya, hyung?"
Taehyung menimbang selama beberapa saat. "Rumahnya di mana?"
"Hanya satu jam dari sini jika aku naik subway."
"Baiklah. Aku akan mengantarmu sampai rumahnya."
"Tak usah. Nanti kau terlambat. Lagipula aku baru sekali naik subway. Hyungie hanya perlu mengantarku sampai stasiun terdekat, ya?"
Taehyung tidak langsung mengiyakan permintaan Jungkook. Sebagai gantinya, ia mengambil ponsel pasangannya itu dan mengutak-atiknya selama beberapa saat. Setelah hampir tiga menit lamanya, ia menyerahkan kembali ponsel itu pada Jungkook.
"Aku baru saja mengaktifkan sistem pelacak di ponselmu. Kalau sudah selesai, akan ku jemput sesuai dengan posisimu. Oke?"
Dengan senyum mengembang, Jungkook mengangguk dan menyambut ponselnya dengan hati yang menghangat.
.
.
.
Tak butuh waktu lama bagi Jungkook untuk tiba di rumah Hoseok. Mungkin sedikit lama baginya untuk tahu bagaimana caranya membeli T-Money dan top up di mini market terdekat. Tapi dengan bantuan petugas yang berjaga, ia bisa naik subway dengan lancar dan tanpa kendala apapun. Hanya mengandalkan maps yang sudah ter-install di smartphone, Jungkook bisa turun di stasiun yang tepat.
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, tiba lah ia di halaman rumah sosok yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri. Rumah itu terlihat tak banyak berbeda dari yang terakhir kali ia lihat.
Jungkook melangkah hingga tumitnya menyentuh pagar kayu yang menjulang tinggi di hadapannya. Ia menekan bel rumah itu sekali.
Jungkook menunggu selama beberapa detik namun sama sekali tak ada jawaban.
Biasanya tidak butuh waktu lama bagi Hoseok untuk menyambutnya lewat intercom. Akan tetapi, saat ini hanya hening yang menyapanya.
Ia menekan bel itu sekali lagi.
Jungkook menunggu hingga hampir satu menit penuh. Tak ada respon sama sekali. Ia maju selangkah lalu menekan lagi. Tanpa sengaja lututnya mendorong gerbang itu hingga terbuka setengah. Jungkook melongok ke arah dalam. Terlihat sangat sepi.
"Apa Hoseok hyung pergi?" gumamnya pada diri sendiri.
Merasa butuh untuk tahu kejelasan, ia memutuskan untuk masuk lebih dalam. "Hyung? Hoseok hyung?" panggil Jungkook.
Sejenak keraguan muncul. Ia khawatir jika terjadi apa-apa. Tak biasanya rumah itu sunyi senyap. Ayah Hoseok notabene adalah seorang pengepul buah-buahan dan sayuran dari berbagai sudut kawasan tempat Kaum Sekunder tinggal. Biasanya rumah ini ramai oleh orang-orang yang mengirimkan buah dan sayur untuk dijual kembali oleh ayah Hoseok. Rumah ini sungguh jauh dari kata sepi. Hilir mudik orang-orang dan teriakan di sana-sini biasanya jadi pemandangan sehari-hari yang lazim di mata Jungkook.
Akan tetapi, mengapa kali ini sepi sekali?
"Permisi, ada orang di dalam?"
"Sedang apa kau di sana?"
Baru saja Jungkook akan melangkah masuk, sebuah suara membuat langkahnya terhenti begitu saja. Ia menoleh ke arah belakang dan mendapati seorang pria dengan pakaian compang camping berdiri dan menatapnya tajam. Pria dengan bagian perut terlihat besar itu memindai Jungkook dari ujung kaki hingga ujung kepala.
"Kau mau mengambil makanan dari rumah itu?"
"Tidak. Aku mau menemui seseorang," jawab Jungkook dengan nada bergetar. Entah bagaimana keberadaan pria berperut buncit itu cukup membuatnya takut. Padahal orang itu jika dilihat sekilas, tampilannya sama saja seperti dirinya sebelum mengikuti Copulation; sangat khas Kaum Sekunder.
"Tidak ada yang tinggal di rumah itu. Sudah lama kosong dan tak terawat."
Jungkook mengangkat sebelah alisnya. Ia kemudian melirik ke halaman rumah Hoseok yang memang jauh lebih kotor dari sebelumnya. Rumput-rumput dibiarkan tumbuh begitu saja, sampah daun kering berjatuhan dimana-mana, dan juga bagian tembok yang dihiasi dengan tulisan vandalism khas orang-orang tak bertanggung jawab.
"Kemana perginya penghuni rumah ini?"
Pria buncit itu tertawa cukup keras. Tawanya terdegar begitu menyakitkan di telinga Jungkook. Padahal ia tak tahu bagian mana dari pertanyaannya yang terasa lucu.
"Kau tak tahu? Mereka dimakan Dewan Tertinggi."
"Kook."
Sebuah tangan dingin mencengkeram pergelangan tangan kanannya dengan kuat. Jungkook menoleh seketika dan bersyukur saat melihat siapa gerangan yang melakukannya.
"Jimin hyung?"
"Ayo kita pergi."
"Kalian akan pergi? Kalian tidak jadi ambil makanan di rumah itu?"
Mengabaikan pertanyaan tidak jelas dari orang aneh di hadapan mereka, Park Jimin menarik Jungkook untuk masuk ke dalam mobilnya.
.
.
.
"Untung kau datang, hyung."
"Yeah, untung aku datang. Dari laporan yang kuterima, orang gila itu sudah meresahkan warga akhir-akhir ini."
Jungkook melirik ke kaca spion dimana terlihat orang itu mengejar mobil yang ia naiki sambil melompat-lompat. Pria buncit itu kemudian melemparkan sapaan jari tengah kepadanya sebelum kemudian mobil berbelok dan gambaran ketidaksopanan itu menghilang.
"Orang itu membuat badanku merinding," ujar Jungkook. Ia memandang ke arah Komandan Guardian yang terlihat gagah mengenakan seragam kebanggaannya. "Aku tadi sedang mencari temanku, namanya Jung Hoseok. Tapi orang aneh tadi bilang kalau rumah Hoseok hyung sudah lama kosong. Kemana mereka pindah ya?"
Jimin yang sedari tadi fokus mengemudikan mobilnya kini melirik singkat ke arah Jungkook. "Dia anggota keluargamu?"
"Sudah seperti kakak bagiku," jawabnya. "Tadinya aku ingin main ke rumahnya sekaligus minta tolong untuk ditemani mencari Yoongi hyung. Taehyungie hyung melarangku pergi sendirian."
Jimin berdecih. Ia tersenyum sinis mendengar penuturan Jungkook mengenai pasangan Copulation-nya.
"Pasanganmu rupanya pencemburu, posesif, dan penuntut ya?"
Jungkook tertawa pelan. "Dia hanya terlewat khawatir dengan hal-hal kecil, hyung."
"Dan kau terlalu buta untuk sadar kalau dia tak sekadar khawatir, Kook."
Jungkook tahu kemana arah percakapan ini akan berlabuh.
Maka dari itu, ia hanya mengulas senyum simpul dan mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik lain.
"Aku harus melanjutkan pencarian Yoongi hyung."
"Mau ku antar?"
"Tidak usah. Kau pasti punya jadwal yang padat, hyung," tolak Jungkook.
"Aku bisa menjadwal ulang," Jimin menyalakan hologram dan menggeser layar tembus pandang itu dengan jari telunjuknya. "Lagipula akan lebih mudah mencari seseorang dengan segala teknologi yang ada di mobil ini," jawabnya sambil merentangkan kedua tangan bak menyambut kemewahan dari mobil yang Jungkook yakin, pasti canggihnya bukan main.
Jimin menekan beberapa kode yang tak dimengerti Jungkook. Dalam hitungan detik saja, wajah Jung Hoseok terpampang nyata di layar hologram yang berpendar terang di hadapannya.
"Orang ini yang kau maksud?"
"Benar," jawab Jungkook sembari mengangguk. Ia membaca runtut data yang terlihat jelas di layar, mulai dari nama lengkap, umur, alamat, status gen, jenis kaum, pekerjaan, serta riwayat pendidikan yang pernah ditempuh. "Alamatnya masih sama seperti yang tadi kudatangi. Apa datanya belum diperbarui?"
"Kalau dia pindah secara resmi, seharusnya datanya sudah ter-update secara otomatis oleh sistem. Harusnya langsung ada laporan jika perpindahan warga dilakukan secara illegal," terang Jimin. "Kecuali kalau orang itu pindah tanpa ia mau."
"Maksudnya?"
Pemimpin Guardian itu mengedikkan kedua bahunya. "Seperti diculik, dibunuh, atau dilenyapkan dari muka bumi ini misalnya."
Perasaan Jungkook mendadak tidak enak.
Kenapa Hoseok bisa pindah rumah secara illegal?
Pemuda bermarga Jeon itu memperhatikan Jimin yang mengutak-atik layar hologram itu dengan berbagai kode rumit. Dari yang ia tangkap, sepertinya Pemimpin Guardian tersebut tengah mencoba melacak keberadaan Hoseok berdasarkan nomor telepon dan kartu kredit yang dimiliki.
"Transaksi terakhir yang ia lakukan sekitar dua bulan yang lalu di sekitar Jeolla," ujar Jimin. "Dia membeli sejumlah bahan kimia yang… oh, bahan peledak."
Sebuah data mengenai produk bahan peledak yang katanya dibeli sang kakak itu muncul di layar hologram. Jungkook tidak mengerti sebagian besar dari yang tertulis di layar karena tulisan tersebut berbahasa asing.
"Untuk apa Hoseok hyung beli bahan peledak?"
"Bahan peledak yang ia beli memiliki kekuatan yang cukup besar. Setidaknya dalam setiap milligramnya bisa meledakkan dua hingga tiga bangunan berukuran sedang. Tak butuh waktu lama untuk merubah bangunan itu menjadi debu," Jimin menolehkan kepalanya ke Jungkook yang menatapnya dengan pandangan yang sama. Mereka sama-sama tidak tahu untuk apa orang yang memiliki pekerjaan sebagai pebisnis buah dan sayuran itu membeli bahan peledak. "Kau tahu sesuatu tentang ini?"
"Tidak. Aku tak tahu apapun," jawab Jungkook. Ia menggigit bibir dan memandang jalanan. Mereka berdua kini telah menepikan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di sana. "Hoseok hyung orangnya penakut. Seingatku dia tak akan berani bermain-main dengan bahan berbahaya. Apalagi bahan peledak. Naik wahana permainan saja dia nyaris pingsan. Bagaimana bisa ia beli itu semua?" Jungkook mengamati dua burung gereja yang tengah berebut makanan di luar sana. Salah satu dari burung itu merebut remah roti milik yang lain dan terbang begitu saja meninggalkan burung malang itu. "Apa mungkin… apakah ada kemungkinan kalau kartu kredit Hoseok hyung dicuri seseorang? Maksudku, sungguh tak masuk akal jika Hoseok hyung beli barang ganjil itu, hyung."
"Kataku, itu masuk akal, Kook," Jimin menjalankan lagi mobilnya dan bergegas meninggalkan jalanan sepi itu. "Dia menghilang begitu saja. Bukan hanya dia, tapi seluruh keluarganya. Tak ada laporan apapun dalam sistem. Sudah cukup jelas menurutku jika ia merencanakan sesuatu."
.
.
.
"Baru saja aku mau tanya, kenapa kita tidak cek saja keberadaan Yoongi hyung lewat mobil ini. Ternyata memang tidak bisa."
Jungkook dan Jimin kini tengah berada di daerah Jeolla. Mereka berdua sepakat jika pemuda bernama Jung Hoseok tersebut mungkin memiliki keterkaitan erat dengan Min Yoongi. Maka dari itu, melacak ke tempat terakhir yang didatangi Hoseok mungkin bisa membawa petunjuk di mana keberadaan Yoongi yang sebenarnya.
Sayangnya, karena jarak Seoul ke Jeolla yang kurang lebih sekitar 246 kilometer membuat mereka mau tidak mau harus menggunakan KTX untuk ke sana. Memakai mobil akan memakan waktu yang lama. Berbeda dengan KTX yang hanya membutuhkan waktu sekitar 2 jam saja.
Karenanya, Park Jimin harus sebisa mungkin menyamar. Ia tidak ingin terlihat ketahuan terlihat sebagai Komandan Guardian. Itu sebabnya, kali ini ia hanya mengenakan kaus putih polos, jaket denim, beserta celana senada yang membuatnya terlihat berkali lipat lebih muda. Untungnya ia selalu membawa baju cadangan di mobil pribadinya itu.
Setelah memakan waktu selama dua jam setengah, akhirnya mereka tiba juga di depan toko yang menjual bahan kimiawi yang dibeli Hoseok. Keduanya tengah menunggu antrian untuk dilayani.
"Aku mencarinya di markas data base juga tidak ada. Orang itu seperti tiba-tiba saja datang ke negara ini. Tak ada data menyeluruh tentangnya. Hanya ada data dasar yang menurutku sangat terpaksa dibuat. Sudah jelas jika orang itu ada hubungannya dengan… kau tahu lah."
"Sejak awal aku juga curiga padanya. Semua hal tentangnya terlihat sangat misterius. Bahkan tatapannya saja membuatku bingung. Ia terlihat seperti orang yang terguncang jiwanya. Ku pikir itu memang karena siksaan yang didapatkannya dari pasangan Copulation-nya. Tapi ku rasa ada alasan lain di balik semua kemisteriusannya."
Tiga orang antrian di depan mereka telah menyelesaikan pesanan masing-masing. Tiba saatnya bagi Jungkook dan Jimin untuk bertemu dengan penjual di toko tersebut.
"Ingin beli apa?"
Seorang pria tua, yang Jimin rasa usianya sekitar tujuh puluh tahunan, bertanya pada mereka dengan suara parau. Tangan bapak tua itu bergetar saat mengetik sesuatu di komputer tua miliknya yang dipenuhi dengan debu dan sarang laba-laba. Sudah jelas jika tempat yang berada di tengah-tengah lahan sengketa ini tidak banyak didatangi pengunjung. Bisa jadi hari ini adalah yang teramai jika Jimin pikir.
"Saya ingin bicara pribadi dengan Anda, Pak," ujar Jimin.
"Bicara saja," jawab si penjual sekadarnya.
"Saya ingin bertanya tentang seseorang yang membeli bahan peledak di toko ini sekitar dua bulan yang lalu."
Si penjual itu menghentikan aksinya dalam mengetik. Ia menatap intens Jimin tanpa berkedip.
"Kau Guardian?"
"Bukan, Pak."
Ia masih memandang Jimin dengan tatapan yang sangat tidak menyenangkan untuk dilihat. "Kau tidak terlihat seperti Guardian tapi ku rasa kau Guardian," jawab penjual itu. "Apa kau mau menangkapku karena menjual bahan terlarang?"
Jimin maju selangkah dan berujar sambil berbisik pada si penjual. "Saya ingin identitas dari pembeli itu. Membeli bahan peledak biasanya harus mengisi formulir, bukan? Saya ingin tahu isi formulir itu."
"Untuk apa aku memberi tahumu siapa pembeliku?"
"Itu biar saja jadi urusan saya, Pak. Berikan saja formulirnya dan kau bebas berjualan tanpa perlu mendekam di penjara."
"Kau siapa?"
"Saya Park Jimin," ia mencondongkan kepala dan berbisik tepat di sebelah telinga kiri si penjual. "Dan saya Komandan Guardian."
Pria itu terlihat menahan emosi. Ia dan Jimin saling beradu pandang selama beberapa detik hingga akhirnya pria itu menghela napas panjang.
"Baiklah. Kurasa aku tak punya banyak pilihan, bukan?"
Dengan satu gerakan jari, Jimin dan Jungkook mengikuti si pria itu masuk ke bagian belakang layar dari toko itu.
Mereka melihat berbagai barang antik yang dipajang dengan rapih di etalase. Benda-benda itu saling berdempetan di antara debu yang menjadi hiasannya. Jimin melirik ke salah satu pajangan berbentuk delman yang mengingatkannya akan sebuah tempat di masa lalu yang sempat menjadi memori masa kecilnya. Semua benda itu seolah memiliki ruh masing-masing. Benda itu seolah saling bercerita satu sama lain mengenai kondisinya yang ajeg namun tak pernah dirawat sama sekali.
Sama seperti wilayah ini.
Wilayah yang tengah menjadi sengketa antara kaum utara dan mereka yang berniat membebaskan diri dari negara yang menjadi tempat mereka bernaung ini masih sama seperti dulu. Wilayah ini tidak mengalami perubahan yang berarti. Bahkan di beberapa sudut, bekas demonstran yang nyaris membumihanguskan wilayah ini juga tak mengurangi keautentikan tanah Jeolla. Setidaknya kesan itulah yang Jimin tangkap ketika melihat interior toko ini.
"Aku bukan orang yang terlewat bodoh. Jika kau mau tahu isi formulir itu, formulirnya ada di dalam ruangan di hadapan kalian," pria tua itu berujar sembari menunjuk pintu kayu di depan Jimin dan Jungkook. "Ini ruangan yang sangat privat bagiku jadi kumohon, matikan segala macam peralatan canggih yang ada di ponsel kalian. Aku tak mau ada alat pendeteksi apapun yang memungkinkan toko ini disadap."
Jimin mengambil ponsel dan mematikan segala macam tracker yang di-install di sana.
"Kau memasang alat pendeteksi di smartphone-mu?"
"Taehyungie hyung yang memasangnya tadi pagi tapi aku tidak tahu bagaimana cara mematikannya."
Akhirnya dengan bantuan Jimin, tracker yang ada di ponsel itu dimatikan dengan mudah. Mereka bertiga pun akhirnya masuk ke ruangan yang dimaksud oleh si pria tua tersebut.
"Ini formulirnya dan kumohon jangan tangkap atau paksa aku untuk menutup toko ini."
Jimin mengambil dua lembar kertas yang disatukan dengan menggunakan klip kecil. Ia mengangguk berterima kasih dan mengajak Jungkook untuk mendekat supaya bisa membacanya bersama.
Nama Jung Hoseok tertera dengan jelas di bagian atas formulir tersebut. Jimin membaca dan seketika terkesiap saat mendengar pekikan dari Jungkook yang berdiri tepat di sebelahnya.
"Hoseok hyung beli peledak ini dengan Yoongi hyung?"
Pertanyaan itu jelas mencuat karena nama Min Yoongi tercetak sekitar lima belas senti di bawah nama Jung Hoseok.
.
.
.
"Ini benar-benar membuatku tercengang. Bagaimana bisa Hoseok hyung kenal Yoongi hyung? Apa mereka teman lama?"
Jungkook berjalan beriringan dengan Jimin. Mereka saat ini telah tiba lagi di Seoul setelah menempuh perjalanan panjang menggunakan kereta.
Dengan banyak paksaan dan bujukan, akhirnya Jungkook mau diantar pulang oleh Jimin. ia merasa sangat tidak enak karena dirinya membuat Jimin harus membolos kerja hampir seharian ini. Perasaannya juga sangat tidak enak karena di tengah perjalanan, ponselnya mati kehabisan daya. Sekarang sudah sore hari dan ia yakin betul jika Taehyung pasti tengah mencarinya.
"Tenang, kita sudah punya datanya. Nanti malam akan kucari tahu keberadaan mereka berdua menggunakan data yang sudah kita dapatkan. Kau istirahat saja karena besok kau harus menjalani checking lagi."
Jungkook menghentikan langkahnya. Ia menunduk dan memandang kakinya yang terbalut sepatu yang dibelikan sang pasangan.
"Apa akan menyakitkan lagi?" tanyanya ragu-ragu.
"Kuusahakan tidak. Kau hanya harus menjaga kandunganmu supaya baik-baik saja. Kau juga harus dalam kondisi yang fit supaya tesnya berjalan dengan lancar. Aku sendiri yang akan datang ke kediamanmu bersama dokter dan tim medis lain"
"Jam berapa hyung?"
"Bagus sekali Jeon Jungkook. Aku mencarimu kemana-mana dan lihat dengan siapa kau pulang."
Kim Taehyung yang berdiri di hadapan Jungkook dengan gurat wajah dipenuhi dengan amarah adalah permasalahan lain yang harus Jungkook selesaikan.
.
.
.
"Kau tidak bilang padaku jika Jimin yang mengantar. Seingatku yang kau sebut itu Hoseok."
"Ayolah, hyung. Di saat seperti ini kau masih peduli siapa yang membawaku pulang?"
"Tentu saja aku peduli. Kau bohong, Kook. Aku tidak suka dibohongi begini."
"Aku tidak bohong. Aku memang pergi untuk mencari Hoseok hyung tapi dia tidak ada. Kemudian tiba-tiba saja Jimin hyung datang dan—"
"Dia pasti tidak datang tiba-tiba. Dia mengikutimu."
Jungkook menghela napasnya yang tiba-tiba saja terasa berat. Ia bisa merasakan tenggorokannya tercekat. Sesuatu yang menyakitkan menyerang dadanya begitu mendengar ujaran Taehyung yang terdengar begitu marah dengannya.
"Kau memotong penjelasanku, hyung. Biarkan aku menjelaskannya dul—"
"Aku bergegas mencarimu bahkan sebelum jam kerjaku usai. Aku menelponmu puluhan kali tapi tak kau angkat sama sekali. Aku bahkan menelponmu lagi saat mobilku nyaris menabrak pejalan kaki saat tengah mencarimu. Kau mematikan alat pendeteksi keberadaanmu saat sedang bersama komandan konyol itu. Apa kau sengaja menyembunyikan pertemuan itu dariku?"
"Bagaimana bisa aku menyembunyikannya? Aku mematikan aplikasi itu di ponselku karena memang harus begitu. Aku sedang mencari Yoongi hyung dan Hoseok hyung di tempat yang tak boleh ada alat pendeteksi apapun yang aktif di sana. Lalu di perjalanan pulang ponselku mati—"
"Kau menjadikan itu sebagai alasan? Setidaknya jika kau memang ingin berduaan dengan Jimin, pakailah alasan lain yang lebih meyakinkan."
"Kau sangat konyol!"
"Kau sungguh menyebalkan, Kook!"
Brakkk.
Taehyung membanting sepiring buah yang tadinya baru saja ia keluarkan dari lemari pendingin.
Hening begitu saja menyeruak ke dalam ruangan dimana dua insan ini tengah bergelut menahan gejolak amarahnya. Jungkook tidak berani bergerak satu inchi pun dari tempatnya berdiri. Kendati lututnya bergetar hebat dan melemah, ia tidak sanggup bersuara sedikitpun saat melihat Taehyung marah karenanya.
"Apa aku tidak cukup untukmu? Kau masih merasa kurang? Aku menyerahkan semuanya untuk menjagamu dan bayi kita. Aku meninggalkan tunanganku untuk bisa bersamamu. Kau yang ku pilih, bukan Joy yang sudah menemaniku selama beberapa tahun. Kenapa kau mengkhianati usahaku untuk membahagiakanmu?"
Dengan suara yang terlewat pelan, Jungkook menjawabnya dengan takut-takut. "Kau ini kenapa sih, hyung? Ada masalah apa di kantormu?"
"Kau lah masalahnya! Pekerjaanku tak ada hubungannya dengan semua argumen kita!"
"Kau hanya salah paham."
"Joy datang kemari dan bilang kalau dia melihatmu dengan Jimin tertawa dan terlihat mesra di subway station. Itu sebabnya aku tahu kau ada dimana dan ku harap, Joy berbohong padaku. Tapi ternyata kau memang ada di sana. Apa kalian juga berciuman? Kau pandai juga berbohong ya?"
"Aku memang ada di sana dengan Jimin hyung tapi aku tidak bermesraan! Kami baru saja mencari Hoseok hyung dan Yoongi hyung."
"Persetan! Aku muak melihat kalian berdua bersama. Ku rasa aku telah salah memilih orang."
Jungkook bersumpah, detak jantungnya berhenti ketika mendengar ucapan Taehyung.
Seluruh oksigen seolah terhisap kuat dan membuat paru-parunya terasa sesak karena kekurangan pasokan udara. Ia tercekat dan menatap Taehyung dengan mata yang telah basah.
"Kau adalah kesalahan, Jungkook. Aku salah telah memilihmu dan meninggalkan Joy."
"Aku… kesalahan?" tanya Jungkook dengan getir.
Taehyung terengah dan hanya menunduk memandangi piring buah yang pecah berserakan di kakinya. Ia tak menoleh sedikitpun ke arah Jungkook yang berdiri tepat di hadapannya.
"Joy benar. Tak seharusnya aku terlalu larut dalam permainan konyol ini."
Pijakan Jungkook telah hancur. Ia mencengkeram pinggiran meja dengan kuat sambil berharap tidak pingsan di sana. Segala ucapan Joy yang ditanamkan ke benak Taehyung beberapa waktu yang lalu menjadi alasan kuat mengapa Taehyung berucap sekeji ini padanya. Jungkook yakin itu.
Tapi Jungkook lebih yakin jika ini semua juga merupakan buah dari keputusannya untuk mengambil alih tempat Joy di hati Taehyung.
"Hyung, kau benar-benar hanya salah paham—"
"Keluar!"
Jungkook terhentak dengan sebuah kata yang keluar dari mulut pasangannya.
Kata yang terucap dari sosok yang sama yang pernah berjanji untuk menjaganya itu begitu melukai perasaannya. Ia sangat tidak menyangka jika Taehyung yang tadi pagi menjadi pria yang begitu manis dan menyenangkan kini dalam sekejap mata telah berubah menjadi sosok yang sangat asing.
"Jangan ada di ruangan yang sama denganku dulu. Pergilah ke tempat lain."
Dengan tubuh yang bergetar hebat dari ujung kaki hingga ujung kepala, Jungkook mencoba menahan air mata yang memberontak untuk keluar. Menggigit lidahnya kuat-kuat, ia berbalik dan menutup pintu dengan teramat pelan.
Ia tidak menoleh ke belakang. Pun demikian dengan ketidakinginannya untuk kembali ke rumah yang selama ini menjadi tempat ternyaman dan teraman baginya.
Kali ini, ia yakin, keegoisannya untuk tetap bersama Taehyung akhirnya berbuah petaka.
Di saat ini, ia sadar jika merebut posisi seseorang sama halnya dengan mengundang karma untuk datang padanya. Walau ia masih segan mengakui jika ia merebut Taehyung dari tunangannya, tapi begitulah kenyataannya.
Dan Jungkook pergi.
Di tengah kegelapan malam, ia memutuskan untuk pergi tanpa membawa satu hal pun selain rasa sakit hati yang menggerogoti dadanya.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hiii semuaaaa! Maaf lama updatenya T.T
Kesibukan di real world bikin susah banget cari waktu untuk lanjutin nulis Daylight huhu. Maaf karena lama banget updatenya yaa. Please keep reviewing this story 😉
PS: Cerita ini sepertinya akan berakhir soon
