Cerita ini original milik penulis a.k.a Chanie (chaniethor)
Cerita ini merupakan fanfiksi, tidak bermaksud menjelekkan pihak manapun (I Love BTS :*)
BTS Fanfiction
Polar opposite
Hukum kutub yang berlawanan adalah tarik-menarik, bukan tolak menolak.
[21]
-Polar Opposite-
21
.
.
.
Yoongi memang sempat terbuai pada perilaku Taehyung yang kembali menunjukkan diri padanya kalau dia 'alpha'. Akan tetapi, sebagus apapun attitudenya tadi, Yoongi menyadari jika Taehyung tidak bisa langsung melakukannya untuk memulai pembicaraan ini. Yoongi tidak kecewa, justru sebaliknya. Melihat ketidakmampuan ini, Yoongi justru tersenyum diam-diam untuknya.
Yoongi bisa membacanya. Termasuk ketika Taehyung berjuang keras memilah kalimat pertama—Yoongi dengan sabar menunggunya. Meskipun pada akhirnya Yoongi harus membantunya, Yoongi tahu kendala ini semata karena pentingnya pembicaraan yang harus mereka lakukan. Sebagai calon pewaris, Yoongi sudah terlatih menguasai diri untuk banyak hal penting yang dia temui. Taehyung mungkin tidak terbiasa, tapi ketidakmampuan ini memberinya gambaran tentang seorang alpha yang unik, yang tidak semena-mena dalam dominasi, yang tidak terjatuh dalam arogansi. Sebagai omega yang berpengalaman, Yoongi merasa beruntung diberi satu celah ini.
Pada satu helaan napas, Yoongi mencoba mengakhiri bantuannya dalam memulai pembicaraan. Ia menggumam dengan nada yang melirih. Bersama satu kata terakhir dibalik gumamannya, Yoongi berharap Taehyung bisa meneruskan sendiri.
"Bagaimanapun—kau alphaku," gumamnya.
.
Yoongi sabar menunggunya. Ia begitu sabar pada jeda yang tercipta setelah ucapannya. Menyadari pandangan sang alpha masih terkunci padanya, Yoongi menghibur kesabarannya untuk menunggu Taehyung melanjutkan percakapan mereka. Yoongi hanya menerka, tapi ia yakin jika Taehyung sedang bersiap membuka dirinya. Yoongi sudah mengatakan kejujuran mengenai takdir mereka. Yoongi adalah omeganya. Mereka sudah dipertemukan, sudah didekatkan, mau tidak mau harus berurusan satu sama lain. Yoongi sudah menunjukan kepasrahan. Sekarang, dengan sabar ia menikmati nyanyian detik-detik pada jam dinding di balut kesunyian malam.
"Hmm..." Yoongi terhenyak ketika helaan napas sang alpha terdengar jelas. Ia diam-diam menunggu dengan antusias. Setelah tertampar sejenak karena senyumannya, penantian Yoongi pun bertemu pintu keluar.
"Apa tidak masalah kalau aku memulai ceritaku sejak aku masih kecil? Aku tidak tahu jika ini akan membosankan atau tidak. Tapi, yang jelas ini akan memakan waktu yang lama," ucap Taehyung. Yoongi balas dengan menghela napas.
"Kau bisa lanjut bercerita di atas kasur kalau nanti lewat jam tidur," ujar Yoongi. Taehyung tampak membola, Yoongi dalam hati tertawa. "Yang jelas, kau harus tetap menceritakannya. Kalau bosan, aku anggap ini sebagai dongeng sebelum tidur, tenang saja."
Taehyung kemudian tertawa. Yoongi pun tersenyum dibuatnya. "Baiklah, ahaha."
"Kalau begitu dengarkan baik-baik ya." Yoongi mengangguk, lalu menyesap winenya. Taehyung pun benar-benar memulai ceritanya.
.
-Polar Opposite-
.
"Aku pernah memberitahumu kalau aku orphaned bukan? Aku sebenarnya tinggal di panti asuhan sejak umur 8 tahun. Aku bisa berada di sana bukan karena orang tuaku meninggal," ucap Taehyung. Ia menjeda untuk menyesap winenya.
"Orang tua kandungku—eh maksudku ibu kandungku memang sudah meninggal. Tapi, aku sebelumnya tinggal dengan ayah tiriku. Ada sebuah peristiwa yang membuatku diangkut dinas sosial dan dikirim ke panti asuhan," terangnya. Taehyung melihat Yoongi mengendurkan ekspresinya, seperti merasa iba. Terlebih setelah Taehyung memberitahu kalau ia tidak tahu di mana ayah kandungnya.
"Ibuku omega. Ia bertemu ayahku—alpha dan hamil di luar nikah." Taehyung menjelaskan kalau ia sampai saat ini tidak tahu siapa ayah kandungnya. "Aku juga tidak ingin tahu sih," imbuhnya.
"Setelah ibuku hamil, orang tuanya memaksa ibuku untuk menikah. Mungkin mereka berpikir kalau ibu dan aku—terutama butuh sosok alpha? Yang jelas setelah itu, ibuku didatangi seorang alpha," lanjutnya. Taehyung mengatakan kalau alpha itu adalah sahabat ibunya. Alpha itu kemudian menjadi ayah tiri Taehyung. "Beliau tahu ibuku sudah ditandai—hamil pula. Tapi, beliau bersedia menikahi ibuku. Sepertinya beliau benar-benar mencintai ibu."
Akan tetapi, cinta itu tidak pernah diberikan padanya. Ayah tiri Taehyung hanya mencintai ibunya saja. Sebenarnya sejak awal, Taehyung tidak pernah mendapatkan porsi cintanya. Taehyung menerangkan kalau ayahnya memang mengatakan kalau beliau menikahi ibu Taehyung karena ingin menjaganya, tapi bukan menjaga Taehyung. Taehyung sejak awal bukan bagian dari tanggungjawabnya.
"Aku dulu tidak tahu. Mungkin karena ibuku ini istri kedua? Ayah tiriku sudah punya omega. Beliau juga sudah punya anak laki-laki, alpha juga," ucap Taehyung. Entah mengapa, bibirnya yang mencecap wine itu terasa lebih pahit dari sebelumnya. "Semakin dewasa, aku semakin menyadari kalau ayah tiriku mungkin melihatku sebagai sebuah kekecewaan. Ya, dia benar-benar mencintai ibuku, tapi saat ibuku kembali padanya, ia sudah ditandai. Sudah hamil aku."
"Ibuku sepertinya—pada akhirnya juga mencintainya. Aku tidak tahu juga. Tapi, bagaimanapun ia adalah omega yang sudah ditandai. Penandanya—ayah kandungku justru pergi. Ibuku jadi tidak sesehat dulu lagi. Aku tidak begitu ingat, tapi ayah tiriku mengatakan ibuku jadi sakit-sakitan setelah melahirkanku," ucapnya. Taehyung menduga, mungkin upaya melahirkan bayi dari alpha yang meninggalkannya membuat kesehatannya menurun drastis. Terlebih ia dinikahi oleh alpha lain. "Aku waktu itu masih kecil saat ibuku meninggal."
Taehyung juga menceritakan kalau ia dan ibunya tinggal di rumah kedua. Tidak bergabung di rumah utama. Taehyung mulanya tidak tahu alasannya, tapi mungkin ibunya dan ayah tirinya ingin saling menghormati; pertama, karena ibunya hanya istri kedua. Kedua, omega yang ditandai tidak bisa berdekatan dengan alpha lain terlalu lama selain dengan alpha yang menandainya. "Ibu tiriku, istri pertama ayahku tidak pernah berbuat buruk pada kami. Meskipun tidak begitu akrab, mereka—ibuku dan istri pertama itu saling menghormati. Mungkin karena mereka sama-sama omega?"
Taehyung menghela napas sejenak. Ia memberitahu Yoongi mengenai dugaannya. Ibu tirinya itu mungkin sudah cukup iba untuk menyadari penderitaan seorang omega yang ditinggal alpha setelah ditandai dan dihamili. Seberapapun rasa tidak suka atau sentimen antara istri pertama dan istri kedua, kurasa lebih besar rasa iba untuk penderitaan ibunya.
"Setelah ibuku meninggal, aku benar-benar merasakan pengasingan itu. Aku dianggap tidak ada, terutama oleh ayahku," ujar Taehyung. Jemarinya secara tidak sadar meremas gelas yang dipegang. Jika pandangannya tidak kembali dikunci oleh Yoongi, Taehyung mungkin sudah hilang kendali. Taehyung pun menghela napas.
"Ibu tiriku, meskipun tidak jauh berbeda dari ayah, ia lebih perhatian padaku. Beliau menyewa pembantu untuk mengurusiku dan rumah kedua sesekali. Beliau juga yang memantau pendidikanku waktu itu. Beliau mengizinkanku untuk satu sekolah dengan anaknya, kakakku," imbuhnya.
Taehyung sedikit menarik ujung bibirnya. "Yoongi, satu-satunya yang menyelamatkanku dari neraka itu adalah kakakku ini. Meskipun ia tidak bisa berbuat banyak, ia selalu ada di sisiku saat aku ketakutan, kesepian, dan sebagainya. Ia juga tahu kalau ayah tidak menyukaiku. Apalagi setelah suatu hari melarangnya untuk bermain denganku," ujar Taehyung.
"Jika saja waktu itu aku tidak mencoba kabur dari rumah, jika saja ayah mau mencariku dan tidak meninggalkanku, saat ini aku mungkin masih bersama kakakku." Taehyung menjelaskan jika ia pernah mencoba hidup mandiri, tidak pulang beberapa hari. Tapi, tampaknya ayahnya tidak peduli. Bahkan ketika ia kembali, ayah dan keluarga tirinya sudah tidak ada di sana lagi. Mereka pindah, dan meninggalkan Taehyung sendiri. "Setelah itu aku diangkut dinas sosial dan dikirim ke panti. Aku tinggal di sana sekitar 3 tahun. Saat masuk kenaikan ke kelas 6, Professor Shin menemukanku."
"Beliau ini sepupunya ibu kandungku. Beliau cukup akrab dengan ibu daripada sepupu yang lain. Waktu itu beliau belum bisa langsung membawaku pulang—masih ada beberapa masalah rumah tangga yang harus diurus. Aku masih tinggal di panti saat kelas 6, tapi statusku bukan anak panti lagi—Professor sudah teken untuk menjadi waliku," terang Taehyung. Setelah lulus sekolah dasar, Taehyung disekolahkan ke sekolah menengah semi-asrama. "Di SMP aku bertemu Sungjae. Kami sama-sama anak kesepian, haha, makanya kami jadi sahabat baik."
"Kalau libur musim tiba, aku jarang pulang—ya karena istri pamanku waktu itu belum menyetujuiku. Sungjae sering mengajakku ke sini kalau tahu aku tidak pulang. Katanya, dia ingin memberiku liburan di rumah yang sesungguhnya. Makanya, aku juga akrab dengan paman-paman di sini," imbuhnya. Taehyung memang tidak satu sekolah dengan Sungjae saat SMA, tapi mereka selalu berkumpul di villa ini tiap libur musim tiba. "Di kelas 11, pamanku bercerai dengan istrinya, lalu memintaku untuk tinggal bersamanya. Setelah itu aku tinggal dengan paman, dan Minjae, sampai sekarang. Rumahnya dekat SMAku jadi aku tidak perlu kost."
Sejujurnya Taehyung merasa tidak enak hati pada Minjae dan pamannya. Perceraian itu bisa jadi karena kehadirannya juga. Tapi, Minjae pernah mengatakan kalau ia juga tidak nyaman dengan ibunya yang terlalu egois. "Minjae mengatakan kalau seorang kakak—maksudnya aku, itu lebih baik daripada ibu yang egois dan suka marah-marah."
Taehyung meneguk wine yang tersisa dalam gelasnya hingga habis setelah menyelesaikan ceritanya. Ia menatap Yoongi yang tampak muram. "Yoongi, apa kau mengantuk?" tanyanya, sengaja tidak tepat sasaran.
Yang disebut namanya mendongak, lalu berdecih. Sebelum dia sempat protes dan melontarkan beberapa pertanyaan, Taehyung mengajaknya untuk menyudahi minum dan kembali ke kamar. "Sepertinya ini sudah masuk jam tidurku," ujarnya, lalu meringis tanpa dosa.
Taehyung tidak tahu kapan jam tidur Yoongi. Tapi, kalau ia tidak menyudahi, ia takut Yoongi hanya akan menghabiskan wine, dan yang paling buruk adalah mabuk. Taehyung tidak tahu apakah Yoongi masih bisa mengendalikan ruh omeganya kalau dia kelewat mabuk. Untuk itu, Taehyung mengajaknya bersiap tidur—benar-benar tidur loh!
Setelah melakukan ritual sebelum tidur seperti cuci muka, cuci tangan, cuci kaki, dan sikat gigi, Taehyung menyusul Yoongi yang sedang membalur anggota gerak tubuhnya dengan lotion. Mungkin itu masuk ke ritual sebelum tidurnya Yoongi?
"Kau tidur di mana?" tanya Yoongi saat melihat Taehyung seperti bersiap membawa bantalnya ke dekat sofa. "Kamu pikir aku hewan bertelinga tajam atau bagaimana? Bukannya kamu mau melanjutkan cerita?"
"Eh? Tapi ceritaku sudah selesai?" Sahutan Taehyung dibalas decakan sarkastik dari sang omega. Ia dengan jelas bisa melihat raut wajah tak suka omeganya yang siap murka. Taehyung pun meringis tanpa dosa. "O-oh, atau kau mau tanya-tanya sesuatu?" tanya Taehyung.
Kali ini helaan napas yang ia dapatkan. Anggukan singkat itu ia temukan setelah Yoongi menepuk-tepuk satu sisi kasurnya, tempat bantal yang ia pegang tadi berada. Taehyung mati-matian menahan selebrasi dari ruh alphanya.
No, brother. Sudah malam. Jangan buat malu orang tampan ini oke?
Taehyung kemudian mengambil posisi di sebelah Yoongi yang masih meratakan lotionnya. Ia tidur miring sembari memperhatikan si manis yang kembali berwajah muram—wajah yang sama yang ia lihat setelah menyelesaikan ceritanya.
Taehyung bergeser sedikit dan memberi jarak ketika Yoongi hampir selesai. Yoongi ikut berbaring setelah menyelesaikan balurannya yang di kaki kanan. Ia masih memasang wajah muramnya. Taehyung mulai menduga pertanyaan atau mungkin tanggapan yang ingin Yoongi berikan dengan wajah muram ini. Akan tetapi, helaan napas itu membuatnya berhenti melakukannya dan kembali menikmati pemandangan wajah Yoongi yang berbaring di sebelahnya—dekat sekali.
"Taehyung, kalau boleh tahu—" Taehyung menaikkan salah satu alisnya secara tak sadar. Nada Yoongi terdengar lebih lembut sekarang, meskipun wajahnya masih masam. Apakah ini efek mengantuk? Apakah kesadaran Yoongi mulai pudar?
"—nama kakak tirimu, yang kamu ceritakan tadi siapa?" tanya Yoongi.
Taehyung seketika termanggu. Ruh alphanya bahkan terpaku. Yoongi menanyakan sesuatu yang menjadi salah satu penyebab ia tadi begitu ragu. Taehyung tentu tidak bisa menjawabnya dengan cepat. Ia bahkan perlu mengatur napas, dan menahan bibirnya yang gemetar.
Satu sentuhan dari tangan kanan Yoongi pada wajahnya terasa dingin, membuatnya tersadar dan kembali mengambil kendali. Taehyung meraihnya dan mendekatkan tubuhnya. Ruh alphanya sebenarnya tidak meminta, sebaliknya tengah memberitahu kalau ia takut melakukannya.
Akan tetapi, Yoongi bisa mendengar ruh omeganya, pun mengerti dan balas mendekatinya juga. Kali ini mereka sudah mempersempit jarak. Dengan jelas, Yoongi bisa melihat mata Taehyung. Dari sana Yoongi seperti bisa melihat hati yang merindu dan terluka. Yoongi tak kuasa untuk menariknya ke dalam rengkuhan. Tangannya membawa Taehyung tenggelam dalam ceruknya.
"Taehyung?" Panggilnya, Taehyung tidak menjawabnya. Tangan Yoongi masih berada di puncak kepala sang alpha, mengusapinya. Usapannya masih berlangsung ketika Taehyung mulai menarik napas. Usapan itu sejenak berhenti setelah jawaban Taehyung terdengar dalam satu helaan napas.
Satu helaan napas yang membuat pelukan Yoongi semakin erat. Satu helaan napas yang menjawab seluruh rasa penasaran Yoongi pada perilakunya sejak mereka pergi dari tempat pertunangan hingga sekarang. Satu helaan napas yang membuat Yoongi ingin merengkuhnya hingga ke relung hatinya yang akan meradang.
.
"Nama kakaku... Park Jimin."
.
.
.
-tbc-
Mind to Review?
Cek WP dan twitter chanie di scramblegg_ dan scrambleggA
thanks
Salam!
