Mungkin seharusnya aku ganti summary. Ini adalah sebuah kisah tentang perjuanganku bertahan hidup dari plot twist yang memburuku.

Serius, si penulis sinting punya masalah apa sih? Kok senang sekali membuat karakternya emosi jiwa-raga?

"Makasih."

Aku tidak memujimu, Sialan!

-o-o-o-

Avataramen is Now Online

Epilog

-o-o-o-

Gelap. Dingin. Sunyi.

Rasanya tentram sekali.

Aku berandai, inikah kematian?

Kegaduhan yang bisa kudengar samar-samar memaksaku untuk membuka mata. Aku tersenyum saat yang pertama kulihat adalah langit-langit es mengkilap. Desain yang terukir di sana merupakan identitas kebangsawanan Suku Air. Aku terbangun di Istana Kutub. Badanku bahkan dibalut parka khas Bangsawan Suku Air.

Tawa kecil keluar dari mulutku. Sudah berapa lama? Rindu rasanya.

Aku bangun, duduk di tepian ranjang. Sejenak aku terdiam. Tanganku mengelus permukaan lembut kasur yang terbuat dari bulu binatang. Mataku menelusuri seisi ruangan di tengah penerangan remang. Tata ruangannya membuatku merengut. Aku tidak ingat kamarku seperti ini, tapi mungkin memang aku yang lupa.

Atau mungkin di alam akhirat segalanya memang berbeda.

Aku menjatuhkan tumpuan badan pada kaki, berjalan agak gontai mendekati jendela. Kubuka jendelanya agar bisa melihat lebih jelas keramaian jauh di luar sana yang menjadi penyebab aku menyerah bertahan dalam kegelapan yang damai.

Aku mengernyit. Kalau aku tak salah mengira-ngira, musik yang sedang dimainkan adalah musik tradisional untuk perayaan Hari Perdamaian Sedunia.

Wow. Jika aku dipertemukan kembali dengan roh penghuni Kutub Selatan saat Hari Perdamaian Sedunia seperti perpisahan kami, ini puitis sekali.

Angin berhembus, membuat badanku agak gemetaran. Aku mencoba mengatur teknik pernapasan pengendalian api untuk menghangatkan diri. Lewat semenit, tak ada yang terjadi. Kehangatan yang kupancing sama sekali tak datang.

Aneh.

Aku menegadahkan tangan, coba membuat kobaran api kecil di atas telapak tangan. Lagi-lagi, tak ada yang terjadi.

Aku angkat bahu. Mungkin tak ada pengendalian di alam akhirat.

Aku berdiri menyamping, menyender pada jendela sambil menikmati dingin yang amat kurindukan. Aku berharap, kedamaian yang kurasakan ini akan kekal.

Tetapi, Semesta berkehendak lain.

Pintu kamar yang kutempati terbuka. Mau tak mau perhatianku teralih dari pemandangan di luar jendela ke sumber suara. Tumpuan berat badan kembali dibebankan pada lutut. Aku berdiri tegak, terkesiap oleh apa—lebih tepatnya siapa—yang tertangkap mata.

"Sasuke?" gumamku, terkesima.

Orangtuaku atau pelayan istana, aku bisa paham. Aku sama sekali tak percaya dengan apa yang kulihat.

Rasa tak percaya itu berkurang saat Sasuke maju dan memelukku erat. Aku mendesah nyaman dalam dekapannya.

Hangat.

Aku tahu, mungkin ini sedikit hadiah dari Semesta. Aku dipertemukan dengan Sasuke, walau hanya bayangannya saja. Tapi aku tetap gatal ingin bertanya, "Kau nyusul aku mati apa gimana?"

Jawabannya spontan. Sasuke menjitak kepalaku keras. Napasnya memburu. Dia membentak sepenuh hati, "KAU MASIH HIDUP, GOBLOK!"

Telingaku berdenging selama beberapa saat. Aku menatap Sasuke dengan mata membola. Mulutku menganga.

Aku tak salah dengar?

" … Aku beneran masih hidup?" lirihku.

Sasuke menyingsingkan parka beraksen merah Negara Api yang dipakainya. Ia memasang wajah sangar. "Perlu kubuat bonyok agar kau percaya?"

Aku benar-benar tidak mengerti. "Aku menyegel kosmikku. Seharusnya aku mati."

Sasuke memelototiku selama beberapa saat. Dia menghela napas saat aku tak merespon apa-apa. Parkanya dikembalikan seperti semula. Ia melipat tangannya dan menatapku penuh pertimbangan.

"Kau menyegel kosmik avatar. Setidaknya itu yang dijelaskan oleh Gurus Shishui dan Shion padaku. Kau harus berterima kasih pada mereka, btw," Gigi Sasuke bergemelatuk. "Kalau bukan karena mereka yang terus berusaha menyalurkan kosmik ditambah bantuan penyembuhan kontinu dari tabib terbaik Kutub Utara, kau tinggal nama saat ini."

Aku termangu, tak tahu harus menjawab apa selain, "Oh."

Jadi … aku masih hidup. Ini agak sulit dicerna, apalagi aku sudah benar-benar pasrah menyerahkan nyawaku demi keselamatan dunia.

Rupanya aku hanya menyapa malaikat maut saja?

Wow.

PLOT TWIST MACAM APA LAGI INI PENULIS KEPARAAAT!

Lututku menolak untuk menopang badan lagi. Aku jatuh terduduk, air mata mengalir deras tanpa aba-aba. Perasaanku kacau balau.

Kekecewaanku, kekesalanku, keputusasaan—yang kutahan agar bisa memenuhi tanggung jawabku sebagai avatar—pecah begitu saja.

Rasa hampa turut menghantui. Tersadar, kehangatan yang kurasakan karena ikatan kuat dengan Naga Spiritual, tak bisa kurasakan lagi.

'Kami bangga padamu, bocah.'

Hilang tanpa jejak.

Di atas semua itu, di antara perasaan-perasaan lain yang tak dapat kudeskripsikan dengan frasa, bersisa rasa syukur.

Aku masih hidup.

Setelah segala yang terjadi, aku masih hidup.

AUTHOR SIALAN!

.

"Dasar cengeng." Sasuke mengataiku.

Aku mencubit pinggang Sasuke. "Kau juga nangis!" tukasku dengan suara sengau.

Sasuke mendengus. Napasnya terasa hangat mengenai tengkukku. Pelukannya tak seerat saat aku mulai menangis, tapi tak menunjukkan tanda-tanda akan segera dilepas. Sebelah tangannya kokoh menahan badanku agar tetap dekat, sementara yang satunya mengelus rambutku.

Rambut yang terakhir kuingat masih seleher panjangnya. Rambut yang membuatku sering diprotes karena sering membuat teman-teman meragukan jenis kelaminku.

Dan, entah bagaimana, rambut itu sekarang sudah hampir sepinggangku.

"Berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanyaku, termangu.

"Enam bulan, kurang lebih." Sasuke terkekeh. "Aku bersyukur kau sadar."

Aku memejamkan mataku, menyerah pada kehangatan dan kantuk yang mulai mengetuk.

.

"Aku juga," jawabku, sesaat sebelum dunia mimpi menyergap.

.

.

.

[Tim Pantang Modar]

Des 4. 8.32 pm

Sakurawr : Lah. Katanya ikut ulangan, Nar? Kok masih belum ke sekolah tadi?

HinataH : Mungkin sakit?

Saiasukaart : Tak mungkin sakit. Orang bodoh kan tidak bisa sakit.

Giringneji : Tul.

Gaarawr : Tul(2)

Faiprinsuke : lol

Avataramen : Sialan. Kau juga (tag Faiprinsuke) dasar pengkhianat!

Avataramen : (tag Sakurawr) Paket soal ulanganku berbeda, campur dengan materi semester yang lalu. Makanya bisa di rumah wkwk

Avataramen : Nanti praktek PJPD baru disuruh ke sekolah.

Avataramen : Otakku ngebul kejar materi :( Demi bisa lulus bareng kalian :(

Faiprinsuke : Siapa suruh jadi avatar.

Faiprinsuke : Sok-sokan mengorbankan diri untuk dunia segala dih

Avataramen : Baku hantam ayok

.

.

.

"Selanjutnya, Sasuke melawan Naruto!"

Gedung PJPD riuh oleh kehebohan anak kelas 3-C. Saking berisiknya, aku tak dapat menangkap siapa yang masuk kubu siapa. Yang kutahu, semuanya bersorak menyemangati baik aku maupun Sasuke.

Keabsenanku dari kelas ini sama sekali tak memengaruhi kedekatan kami. Aku yakin, ketika aku mengikuti KBM secara normal mulai Januari nanti, aku akan menyatu dengan kelas ini tanpa ada kesulitan berarti. Seolah aku tak pernah terpisah dari mereka.

Pak Kakashi mengisyaratkan agar kami melakukan penghormatan awal. "Kalian tahu peraturannya, kids. Buat lawanmu keluar arena atau buat dia kewalahan dan menyerah! Mulai!"

"Bersiaplah untuk kalah!" Aku mengendalikan utas air, membiarkannya bergerak cepat menangkap kaki Sasuke.

Sasuke menyilangkan tangan kebawah, mengirim kobaran api untuk memutus seranganku.

"Aku tak lihat ada bulan!" katanya, sembari melepaskan tinjuan api.

Aku mengelakkan badan ke kiri untuk menghindarinya. Tanganku mengikuti gerakkan badan, lalu kubanting bersamaan dengan meluncurnya serangan kerucut es ke arah Sasuke. Sang Pangeran tertawa sambil melenyapkannya dengan kobaran api.

"Mau menyerah saja?" Sasuke menyeringai.

Aku tertawa. "Dalam mimpimu!"

Serangan kami naik tempo. Penonton menyorak takjub nyaris tiap serangan yang kami lakukan baik elemen atau murni pertarungan fisik. Satu serangan ditangkis dibalas dua. Dua ditangkis dibalas tiga. Tak ada yang mau mengalah. Tak juga memberi kesempatan untuk memegang alur pertarungan.

Aku menyeringai.

Jika dengan api Sasuke jarang mengungguliku saat sparring, maka kesempatan itu semakin menipis ketika kugunakan air.

Tak seperti tiga elemen lain yang harus kupelajari dari titik terdasar, air melekat dalam diriku.

Air adalah bagian dari jiwaku.

Jika api diibaratkan sebagai bangun segi banyak, maka air adalah lingkaran. Pergerakannya saling berkesinambungan, seperti tarian. Halus, tenang, tapi mematikan.

"Sudah kuduga, kalungnya memang cocok."

… Mungkin seharusnya aku tidak besar kepala dulu.

Aku meringis saat badanku dibanting, sekian detik fokusku teralihkan dari strategi yang sedikit lagi membawakanku kemenangan mutlak. Aku terkapar dengan wajah memerah. Kakiku keluar beberapa cm dari garis arena ujian PJPD.

"Sasuke pemenangnya! Pertarungan yang bagus seperti biasa, kids!"

Barisan penonton heboh oleh siul dan tawa.

Aku bangun dari posisi terkapar, menuding Sasuke dengan telunjuk gemetaran karena malu. Sebisa mungkin mengabaikan benda asing yang melingkari leherku. "DASAR CURANG!"

"Mengacaukan konsentrasi lawan adalah strategi, bukan kecurangan." Pak Kakashi menoyor jidatku. Matanya menyipit, jelas sekali terhibur dengan apa yang baru saja terjadi. "Sasuke bahkan berhasil memasangkan kalung tanpa kau sadari di tengah pertarungan kalian. Itu jelas menjadi nilai tambah."

Sasuke memasang ekspresi congkak.

"Ya sudah, kalian boleh kembali ke tempat duduk." Pak Kakashi bersiul. Dia menambahkan, "Semoga langgeng."

Banyak yang bilang, momen pemakaian kalung adalah momen sakral dan romantis bagi seorang gadis Suku Air. Halah, tipu!

Romantis apanya! Dipakaikan tanpa permisi. Setelahnya dibanting pula!

Aku ingin mengubur diri hidup-hidup.

Pangeran Sialan!

.

Lembar baru dibuka, tapi bukan untuk Avatar Naruto.

Pena-nya digenggam oleh penyintas takdir, Putri Kebanggaan Suku Air Selatan.

Tamat

Author's Note

BISA TAMAT DEMI APA SAYA MEWEK HEUHEU

Terima kasih untuk kalian yang masih setia menunggu hingga fanfiksi ini rampung.

Kalau masih ada yang masih ingin ditanyakan, boleh tinggalkan di kolom review. Mana tau saya iseng bikin side story dari tanggapan kalian hahahaha.

Sekali lagi terima kasih untuk kesabarannya. Semoga fanfiksi ini bisa menghibur dan cukup memuaskan ya, meski masih banyak kekurangan. Until next time!

Sekian terimagaji.

Salam Petok,

Chic White