WITH LOVE

.

.

.

DISCLAIMER: MASASHI KISHIMOTO

WARNING: GAJE, ANEH, EYD, TYPO, TIDAK BERPENDIRIAN, ALUR KECEPETAN, DLL

.

.

.

liburan telah berakhir.

"kau tidak mengatakan apapun padaku??" tanya shion menyilangkan tangannya didepan dada dengan muka kesal.

"gomen, ini rahasia" ucap naruto tertawa canggung.

shion emmbuang muka.

"bagaimana jika aku tidak pengertian?"

naruto menoleh mengangkat kepalanya menatap shion yang nampak ingin menangis.

"jika aku tidak pengertian pertemanan kita pasti akan hancur" ucap shion menghapus air kata dipelupuk matanya.

shion sangat terkejut ketika melihat wajah naruto dalam majalah yang biasa ia baca, secara jujur ia merasa terkhianati karena ia tak tahu apa apa.

"yeyyy kita baikan kan?" tanya ino melompat ketengah tengah mereka, ia sudah duduk dengan tegang menonton pertikaian naruto dan shion bersama dnegan hinata dari tadi.

"baka, kita akan tetap menjadi teman" ucap shion dengan wajah memerah.

"syukurlah" ucap hinata tersenyum senang.

ino memeluk shion disusul hinata.

"kau tidak mau ikut?" tanya ino memandang naruto yang nampak ragu.

"kurasa ada yang harus kuselesaikan dulu" ucap naruto menatap bayangan yang ia yakini miliki siapa.

naruto secepat kilat melesat keluar kelas.

naruto mengangkat dagunya tinggi menanggapi bisik bisik disepanjang koridor sekolah.

seharusnya ia tak kembali kesekolah, seharusnya ia kembali kebalik meja kerjanya, tapi kenapa ia merasa ia akan menyesal jika ia tak pergi?

naruto mengurut dahinya, harusnya ia tak berangkat kesekolah, keadaan sedang dalam keadaan panas setelah ulang tahunnya kemarin.

karna ia ternyata seorang namikaze naru, dan juga pertunangan yang berubah dari rencana awal. naruto harusnya duduk dengan tenang di mansionnya.

'yah tidak masalah juga, aku akan disini selama seminggu lagi untuk menikmati semuanya' pikir naruto memutar bola matanya kesal.

"kau bahkan tidak datang kemarin malam" naruto membuka pintu menuju atap, sesuai dugaan ya sasuke ada disana, masih sama seperti dulu.

"kau sangat tenang" ucap sasuke melirik naruto dari ujung matanya.

naruto berjalan mendekat tanpa memperdulikan sasuke.

"haha" sasuke tertawa pahit.

"kau mulai gila" ucap naruto tanpa menoleh.

"setelah melihatmu sebagai namikaze naru aku tak lagi menemukannya" ucap sasuke getir.

"kemana uzumaki naruto?" sasuke tersenyum perih.

naruto diam tak bergeming menanggapi pertanyaan sasuke.

"dia masih disini" ucap naruto.

"ini memuakkan" ucap sasuke berjalan pergi meninggalkan naruto.

naruto mendongakkan kepalanya, menatap langit biru dengan sendu.

.

.

.

karin memeluk lututnya disudut kamarnya, penampilannya tak lagi berbentuk, pipinya tirus dan tubuhnya kurus, tak lagi cantik seperti sebelumnya.

pengadilan memutuskan untuk menjadikannya tersangka, dan ia yakin tsunade tak akan melepaskannya. ia tak memiliki kekuatan untuk melawan, tanpa keluarga uzumaki yang telah mengusir dan memutus koneksinya.

'ini semua salahnya, salah perempuan jalang itu!' pekik karin dalam hati.

siapa yang menduga jika perempuan jalang itu adalah namikaze naru sepupunya.

perempuan sialan yang rakus akan kekuasaan.

"semua ini adalah salahnya" karin mengulang ulang kalimat itu seperti mantra, meyakinkan dirinya jika seandainya naruto tak ada maka hidupnya tak akan berantakan.

"PEREMPUAN ITU HARUS MENDAPAT APA YANG KUDAPAT!" teriak karin dengan segala kemarahannya, matanya memerah karena amarah.

kenapa hanya dirinya yang mendapat hukuman padahal naruto juga ada disana? sangat tidak adil, sangat tidak adil!

perempuan sialan itu akan mendapatkan apa yang pantas ia dapat.

.

.

.

seminggu berlalu dengan cepat, sesuai kata kata naruto ia meninggalkan sekolah.

selama sisa waktu disekolahnya ia tak pernah lagi bertemu dengan sasuke, ia sedikit merasa sedih. entah sasuke menghindarinya atau tidak.

pada akhirnya ia merasa bersalah pada ino karena ia memaksa sahabatnya itu untuk bersekolah di KHS namun pada akhirnya ia meninggalkan perempuan itu sendiri, tapi ia tak khawatir karena ia yakin ada shion dan hinata disamping ino.

naruto tak pernah menyangka bahwa hubungannya dengan shion akan menjadi sebuah pertemanan, mengingat bagaimana sikap shion padanya saat pertama kali dulu.

intinya masa sma menjadi masa yang amat berkesan bagi naruto.

tok tok tok.

"namikaze sama, sekretaris anda sudah tiba" ucap suara dibalik pintu.

"masuk" ucap naruto yang baru saja terbangun dati lamunannya mempersilahkan sekretaris barunya yang baru datang hari ini.

naruto menatap pintu yang terbuka dengan senyuman.

"ohayo ruke nee" ucap naruto.

"ohayou namikaze sama" ucap naruko mengangguk.

"jangan terlalu formal" ucap naruto.

"saya harus tetap profesional didalam perusahaan" ucap naruto tersenyum lembut pada naruto.

karena naruto sudah tak lagi bersembunyi maka ia sudah memiliki ruangan tersendiri dalam kantor namikaze grup, ruangan direktur utama.

naruto menghela nafas mengingat ayahnya juga memilih untuk lepas dari perusahaan dan menikmati masa pensiun ya dengan tenang, kini semua tanggung jawab ada ditangannya.

naruto harus dengan cerdas membagi waktu untuk namikaze grup dan uzumaki grup. meskipun itu adalah hal yang sulit, naruto memilih untuk menunjuk nagati sebagai penggantinya dalam kepemimpinan selamanya dirinya tak ada.

"kau terlihat lelah namikaze sama" ucap naruko.

"semuanya melelahkan untuk tubuh mudaku ini ruke nee chan" ucap naruto meringis kecil.

"tapi menjadi muda adalah yang terbaik" ucap naruko tertawa kecil.

"ha'i ha'i" naruto memutar bola matanya bosan.

"bagaimana dengan pertunangannya?" tanya naruko.

"entahlah" ucap naruto mengedikkan bahunya cuek.

naruko tersenyum lembut menatap naruto yang dimatanya masih sangat muda namun memiliki sikap yang dewasa dalam menanggapi sesuatu.

.

.

.

"apa kau yakin?" tanya mikoto ragu.

"aku yakin" sasuke mengangguk tegas penuh keyakinan. ia kini menatap lembaran lembaran kertas yang berada didepannya.

"aku ingin melihat apa yang naruto lihat" ucap sasuke mantap, itachi memijat keningnya erat.

"naru chan, bukan naruto" ucap itachi.

"terserah" ucap sasuke tak peduli.

sebenarnya kenapa adiknya begini? itachi bertanya tanya. kemarin jelas adiknya memutuskan untuk mundur, namun hari ini ia bilang ia ingin melihat apa yang naruto lihat.

sasuke labil sekali.

"lalu apa yang akan kau lakukan jika melihat apa yang naru chan lihat?" tanya itachi dingin. sasuke melirik tangan kakaknya, terdapat cincin perak dijari manisnya.

"apa kau akan meminta pertukaran lagi?" tanya itachi kesal.

"dia hanya ingin memahami itachi, tenang lah" ucap mikoto berusaha menghilangkan aura tegang yang ada diantara kedua putranya.

"..." sasuke menggigit bibirnya, ia tak tahu harus menjawab apa.

bahwa ia ingin menjadi itachi? dirinya sendiri bahkan akan tertawa mendengarnya, ia tahu ia memiliki kesempatan sebelumnya dan ia memutuskan untuk membuangnya.

apa sekarang ia menyesal.

dasar gila.

.

.

.

"hello my sweet lady" ucap itachi membukakan pintu mobilnya pada naruto.

"owh so sweet" naruto mendengus.

"oh ayolah, aku berusaha agar kita romantis" ucap itachi sambil terkekeh kecil.

"ayolah, kita bukan pasangan biasanya" ucap naruto mengerling kesal.

"apa salahnya?" ucap itachi menarik sudut bibirnya membentuk sebauh senyum tipis.

naruto tertawa kecil, ia cukup terkejut ketika itachi mendatangi perusahaannya dengan dalih menjemputnya.

"ada apa ini? kau bukan tipe tunangan yang romantis" tanya naruto curiga.

"tidak bisakah kau berhenti curiga?" tanya itachi, naruto menggeleng keras.

itachi tersenyum kecil, kenapa ia mendadak mendatangi naruto sore ini.

apa perasaan terancam?

"kau sudah makan?" tanya itachi namun ia segera merutuki pertanyaannya karena jam sudah menunjukkan pukul 4 sore, memangnya ini jam makan apa?

"belum" naruto meringis.

"siang?" tanya itachi tak percaya. naruto mengangkat bahunya dan menggeleng lagi.

"belum"

"tak heran kau sekurus itu"

naruto tertawa kecil, bukan pertama kalinya ia dibilang kecil.

"jika seperti ini kau sepeti pedopil tua keriputan" ucap naruto melirik spion, ia dapat melihat itachi juga dirinya sendiri dari sana.

"jahatnya"

"ayo makan" ucap naruto penuh semangat.

keduanya berakhir menikmati makan semi siang dan malam, disebuah cafe kecil yang lumayan sepi.

"sebenarnya kau kenapa?" tanya naruto melirik itachi yang terus memandangnya yang sedang memakan waffle.

"apa kau kenyang hanya makan itu?" tanya itachi heran, naruto mengangguk dan memberikan satu potong terakhirnya pada itachi.

"manis" guman itachi menerima naruto yang menyuapinya.

"sebenarnya kau kenapa? kau biasanya tidak semanja ini" ucap naruto mendapat itachi dalam dalam.

itachi terdiam, padahal ia berusaha mengalihkan pembicaraan namun naruto tetap menanyakannya.

sebenarnya ia kenapa.

"aku merasa terancam" ucap itachi menatap naruto dalam.

sesaat semuanya terasa hening.

"kau berjanji tak akan meninggalkanku kan?" tanya itachi.

"pertanyaan yang dramatis" ucap naruto mengerutkan dahinya.

"apa perlu kuingatkan lagi?" tanya naruto menautkan jari jari mereka berdua.

"aku tak punya jalan untuk kembali lagi, satu satunya masa depan yang kumiliki kan hanya bersamamu" ucap naruto mantap.

"aku tak punya jalan kembali" ulang naruto.

"jika kau punya?" tanya itachi. naruto terdiam, ia tak pernah memikirkannya.

"aku akan berusaha mencintaimu, tapi tolong jangan meninggalkanku" pinta itachi memotong diamnya naruto.

"aku juga akan berusaha mencintaimu sebisaku" ucap naruto.

jika ia memiliki jalan kembali? apa yang akan dipilihnya?

kata kata itu terus terulang dikepala naruto.

.

.

.

TBC

cheesy cheesy cheesy