disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.


Kuroino duduk dengan punggung tegap di atas dinding air mancur, berpatroli mengawasi taman seperti yang biasanya dia lakukan. Seperti biasa pula, kucing-kucing dewasa sebayanya sedang enak-enaknya tidur di bawah pohon. Kuroino sama sekali tidak masalah dengan itu, terlebih lagi mereka akan mengadakan pertemuan kucing dewasa di taman ini saat malam tiba. Tidak ada yang mau ketinggalan pesta, tentu saja.

"Oh, Kuroino," sapa Mike si kucing belang tiga, sembari memanjat dinding dan duduk di samping si kucing hitam. "Cuaca hari ini benar-benar sangat bagus, hmm?"

"Yup," jawab Kuroino. "Apa yang sedang kaulakukan, Mike?"

"Ah, tidak ada sebenarnya. Aku berpikir apakah Chi dan ketiga temannya mau datang nanti malam. Pertemuan tidak akan lengkap tanpa anak-anak kucing seperti mereka. Mereka jugalah yang menghidupkan suasana, seperti pertemuan sebelumnya yang dihadiri Chi dan Cocchi." Mike menjelaskan panjang lebar, bertempo lambat seperti kebiasaannya. "Tidak ada anak-anak kucing yang datang ke taman hari ini selain mereka berempat, jadi aku ingin mengajak mereka untuk paduan suara seperti waktu itu. Bagaimana menurutmu, Kuroino?"

"Aku tidak masalah dengan usulmu itu," tanggap Kuroino positif.

"Kau selalu memperhatikan mereka, ya." Mike ikut melihat ke arah yang sama dengan Kuroino. Chi sedang bermain kejar-kejaran dengan Cocchi, bersama dua anak kucing yang tak Mike kenal di lapangan yang jaraknya cukup jauh. "Kau sungguh baik dan perhatian."

"Hmph. Harus kulakukan. Aku tidak mau mereka tumbuh menjadi kucing yang buruk."

"Aku mengerti maksudmu, hehehe." Sang kucing betina melompat ke tanah. "Aku akan mengobrol dengan mereka dulu—oh tunggu."

"Hm?"

"Apa kau mengetahui nama dua kucing yang mirip Chi itu?"

"Chi pernah bercerita padaku." Kuroino terlihat mencoba menggali ingatannya. "Nama mereka Ann dan Telly, jika aku tidak salah mengingat."

"Aku selalu melihat mereka bermain bersama, tapi aku tidak mengetahui nama mereka," ujar Mike tanpa diminta. "Menurutmu bagaimana mereka?"

Satu alis Kuroino terangkat. "Maksudnya?"

"Jika kau bisa mendeskripsikannya dengan satu kata, apa pendapatmu mengenai mereka berempat?"

"Apa itu harus kujawab?" Kuroino bertanya balik. "Tidakkah sebaiknya kau bertanya pada mereka sekarang?"

Mike mengeong dan menjawab, "Ah ah, saran yang bijak. Bisa dibilang aku hampir lupa. Aku hanya ingin tahu saja."

"Untuk Cocchi, kurasa dewasa adalah kata yang cocok. Aku tidak begitu mengenal Ann dan Telly, tapi kurasa Ann itu pintar dan Telly itu ceria."

"Kupikir Chi yang jauh lebih tepat disebut ceria?"

"Chi, ya …," gumam Kuroino, "dia itu—"

"Ah! Kuroino dan Mike Obaa-san!"

Kuroino dan Mike terkejut. Entah sejak kapan, Chi sudah berada setengah meter di depan mereka. Bahkan di belakangnya, Cocchi bersama Ann dan Telly pun juga menyusul.

"Halo, anak-anak kucing yang lucu," sambut Mike begitu keempat anak itu sudah berkumpul di depannya. "Kalian sedang apa?"

"Mengejar mangsa!" jawab Chi. Sejurus kemudian, dia baru menyadari sesuatu. "Ah, sudah menghilang! Ke mana perginya?!"

"Ayo kita mencari yang baru!" ajak Telly.

"Tunggu, anak-anak," cegah Mike. Kompak semuanya memperhatikan Mike dengan rasa penasaran. "Malam ini akan ada pertemuan kucing. Kalian mau datang dan bernyanyi? Kita bisa mulai latihan sekarang, jika kalian mau."

"Chi mau! Chi mau!" Sudah jelas, Chi adalah anak kucing pertama yang memberi respons ceria.

"Seperti aku akan mau saja," desis Cocchi.

"Tapi waktu itu Cocchi mau?"

"Aku dipaksa karenamu, tahu!"

"Kalau Cocchi tidak mau, kenapa Cocchi tetap ikut?"

"K-Keh! Sudah kubilang, aku terpaksa!"

"Migaaaaaaa~!"

"Jangan meniru dan mengejekku, Chi!"

"Chi tidak meniru dan mengejek! Chi menyanyi seperti bersama Cocchi dan yang lain! Migaaaaaaa~!"

"Hentikan, oi!"

"Pertemuan kucing?" Sembari Cocchi dan Chi masih bertengkar, Ann melontarkan jawaban. "Kami sangat mau, tapi kami takut tidak bisa pulang saat malam."

Telly mengangguk mengiyakan. "Um. Mama selalu bilang kalau kami harus pulang sebelum malam, dan jangan sampai terpisah."

"Aku mengerti." Mike tersenyum maklum. "Kalau begitu, hanya Chi dan Cocchi yang mau ikut?"

"Aaaaayy!" jawab Chi semangat.

"A-Aku?!" Cocchi terlonjak. "Ba-Baik, aku ikut hanya karena aku dipaksa lagi! Kekh!"

"Aku sama sekali tak memaksamu, Cocchi," koreksi Mike. "Tidak masalah jika Cocchi memang tidak mau ikut. Hm hm hm."

"Haaaa?" Cocchi membuang muka. "A-Aku tidak akan pernah menarik ucapanku! Karena aku sudah terlanjur mengiyakan, j-jadi ... aku ikut!"

"Se-Sepertinya seru ...!" sahut Telly. "Aku jadi ingin ikut! Ann, Ann! Kita ikut kali ini saja, bagaimana?"

Ann menunduk dalam. Beberapa saat kemudian, Ann mengangkat kepalanya dan tersenyum lebar. "Ya, kurasa tidak masalah!"

"Kalau begitu, kalian bisa menunggu di bawah pohon yang itu." Mike menunjuk pohon yang dia maksud dengan rentangan kaki kanan depan. "Aku akan menyusul."

"Okeeeei, Mike Obaa-san! Sampai jumpah lagiii!"

Chi memacu larinya, disusul Cocchi, Ann, dan Telly yang sempat menjawab dengan struktur kalimat kurang lebih sama. Mike beralih menatap Kuroino yang sedari tadi menyaksikan tanpa bersuara. "Bila dibuat peringkat dari bawah ke atas, dari nomor empat hingga nomor satu, siapa kucing yang paling bersemangat?"

Kuroino memicingkan mata. "Apa maksud dari pertanyaanmu ini?"

Mike mencoba mengedik. "Hanya ingin tahu saja. Sebagai kucing yang selalu dekat dengan mereka, kau tentu yang paling tahu."

"Cocchi, Ann, Telly, dan Chi jauh berada di atas. Dia tidak bisa disebut semangat lagi, tapi petasan banting."

"Hahahaha! Selera humormu, oh Tuhan!" Mike spontan tertawa. "Baik, baik! Nah, bagaimana dengan pertanyaanku soal satu kata untuk Chi?"

Ada jeda sebelum Kuroino menjawab,

"... Berwarna."


tamat


~himmedelweiss 26/08/2020