"Daylight"
Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.
Genre : Romance, Action
Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook
Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min
Rated : M
Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook
YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya
M-Preg, y'all. You're gonna love it
Typo everywhere
Chapter 22
Pukul tujuh malam.
Semuanya terjadi begitu cepat.
Jungkook merasa seperti baru sesaat ia merasakan kehangatan dari senyuman seorang Kim Taehyung.
Beberapa hari berlalu sejak Taehyung memilih dirinya dan kini ia sudah dicampakkan.
Benar, Jungkook merasa seperti dicampakkan.
Walau ucapan Taehyung tidak mengarah untuk sepenuhnya mengusir Jungkook dari rumahnya, tetap saja ia merasa tidak pantas berada di hunian mewah milik sang pasangan Copulation.
Maka dari itu, di sinilah Jungkook sekarang berada. Ada di antara deru kendaraan dan klakson yang membuat telinganya sakit dan berdengung hebat. Jungkook memilih pergi menjauh dari rumah Taehyung. Ia telah berjalan kaki selama tiga puluh menit dan bus station adalah pilihan utamanya.
Untuk sejenak saja, untuk sebentar saja ia berharap jika Taehyung akan datang menjemputnya. Biasanya Taehyung akan begitu.
Akan tetapi, harapan pemuda bermarga Jeon itu harus sirna sudah karena sepertinya tak ada iktikad baik dari Taehyung untuk mencari keberadaannya.
Ia begitu bingung. Kalut. Kacau. Air mata yang mengalir rasanya tak ada artinya sama sekali. Ia merasa begitu buntu dan tak tahu harus pergi kemana.
Jungkook tidak membawa ponsel, uang, dompet, kartu, atau apapun yang bisa ia jadikan pegangan. Lima jam lagi sweeping dilakukan. Jika ia tertangkap basah masih ada di luar, habislah ia.
Jungkook tidak tahu kepada siapa ia harus bergantung. Dunia yang dipijaknya runtuh. Sandarannya meluruh. Taehyung yang menjadi pusat gravitasinya kini berubah menjadi sosok asing yang diliputi amarah. Ia tidak berani kembali ke rumah itu. Tidak setelah Taehyung menyebutnya sebagai kesalahan.
"Hyung…"
Di saat-saat seperti ini gambaran sang kakak yang sudah meninggal terlintas dalam benak. Tiba-tiba saja ia sangat merindukan sang kakak, Seokjin, yang telah meninggalkannya selama bertahun-tahun. Jika saja sang kakak masih hidup, maka ia bisa berlari ke arahnya dan mendapatkan perlindungan penuh. Sayangnya, semua itu hanya jadi angan semata karena tak mungkin yang telah berpulang bisa datang memeluknya.
Jungkook menatap sepasang muda-mudi Kaum Primer yang saling tertawa di seberang jalan. Mereka berdua masing-masing menggenggam sebuah ice cream cone dan bersenda gurau. Sesuatu dalam dada Jungkook tiba-tiba saja terasa sangat nyeri. Dadanya bergemuruh. Ia bahkan mencengkeram dadanya kuat-kuat dengan harapan bisa mengurangi rasa perihnya.
Gambaran muda-mudi itu tiba-tiba saja menjadi sebuah déjà vu.
Ia dan Taheyung pernah ada di posisi yang sama. Mereka pernah saling bersenda gurau sambil menikmati setiap detik yang berharga. Kala itu semuanya begitu menyenangkan. Dunia terlihat seolah penuh warna. Begitu terang, indah, dan hangat, begitu yang Jungkook rasakan.
Tak seperti sekarang.
Yang bisa ia lihat hanyalah semu abu-abu setiap kali nama Taehyung terlintas di kepala.
Ia tidak tahu bagaimana kelanjutan nasibnya, nasib bayinya, dan semua kemungkinan menjanjikan dari sebuah tempat asing yang tengah ia selidiki kebenarannya.
Ketika pijakannya runtuh, yang Jungkook tahu hanyalah pergi sejauh mungkin untuk menetralkan sakit hati yang menderu.
"Aku harus kemana…" bisik Jungkook pada dirinya sendiri.
Ia menunduk dan menatap perutnya yang sudah membesar.
"Maafkan eomma karena membuatmu kesusahan," bisiknya sembari mengelus perutnya sendiri. "Appa bahkan tak datang untuk mencarimu. Ia sedikit keterlaluan, bukan?"
"Jungkook!"
Berlari kencang ke arahnya, sosok tak terduga yang sejak tadi ia cari-cari kini berada persis di hadapannya.
"Hoseok hyung—"
"Syukurlah ketemu. Ayo ikut hyung."
Jungkook memindai rupa Jung Hoseok yang sedikit banyak berubah dari yang terakhir kali ia lihat. Yang paling kentara adalah tampilan rambutnya yang saat ini terlihat sedikit berantakan dengan kumis tipis yang menghiasi wajahnya. Hoseok mengenakan pakaian serba hitam, mulai dari kaus, bomber jacket, cargo pants, hingga boots yang melingkupi sepasang kaki berototnya.
"Kemana, hyung?" tanya Jungkook sedikit panik.
"Tak ada waktu untuk menjelaskan. Sekarang saatnya."
"Saat apa? Kau kemana saja? Aku menca—"
Hoseok mengguncang tubuh Jungkook dengan kedua tangannya. Ia menatap tajam netra bulat Jungkook yang terlihat takut dengan sikap aneh sosok orang yang sudah ia anggap sebagai kakak. "Jungkook, dengarkan aku. Tak ada waktu untuk menjelaskan. Saatnya sudah tiba."
"Tiba untuk?"
"Pergi ke Meonji Seom."
Netra bulat itu bergetar saat nama tempat yang menjadi rahasia itu terucap dari bibir Hoseok. Jungkook sungguh tidak menduga jika Hoseok tahu mengenai wilayah rahasia itu.
"Bagaimana kau—"
"Aku bagian dari mereka, Kook. Aku salah satu pemberontak. Begitu pula kakakmu."
Mulut Jungkook terbuka lebar. Rasanya telinganya seperti bermasalah. Ia sepertinya salah mendengar ucapan Hoseok. "Apa kau bila—"
"Tak ada waktu. Tim Guardian khusus yang dikomandani oleh Oh Sehun sedang mengincar kita saat ini. Ayo pergi sekarang juga!"
Merasa segala sesuatu yang ia dengar sangat tidak bisa dicerna oleh akal pikirannya, Jungkook menggeleng hebat dan menjegal tangan Hoseok yang hendak menariknya. "Tunggu.. bagaimana dengan Taehyung?"
"Yoongi hyung sedang menyusul Taehyung. Kita akan bertemu di pin point yang sudah kami atur," ujar Hoseok tergesa. Ia beberapa kali memandang ke arah sekitar dan mengecek jam yang terpasang di tangan kirinya.
"Bagaimana dengan Jimin hyung? Dia yang dapat Xazina—"
"Aku dan Yoongi hyung sudah mencoba mencarinya sejak tadi tapi tak berhasil. Sudah, yang penting kita pergi dulu dari sini!"
Detik selanjutnya yang Jungkook tahu, ia dibawa berlari menyusuri setiap blok untuk mencapai titik temu yang dimaksud Jung Hoseok.
.
.
.
Di sepanjang perjalanan, wajah-wajah orang yang dianggap sebagai pengkhianat sudah terpampang jelas melalui hologram yang ada di setiap sudut. Setidaknya empat sosok datang silih berganti. Dua di antaranya adalah Hoseok dan Yoongi. Sisanya tidak ia kenal.
Lalu, ketika mereka berbelok di tikungan ke empat, wajah sosok pemberontak ke lima dan enam menyusul setelahnya. Dua orang pendatang baru itu adalah dirinya dan Taehyung, pasangan Copulation-nya.
"Ke sini, Kook!"
Hoseok menarik Jungkook hingga mereka tiba di depan sebuah mobil yang Jungkook sadar betul, jika mobil itu adalah mobil yang dihadiahkan Taehyung untuknya di awal mereka bertemu.
Betapa terkejutnya lagi ia kala mendapati sosok yang duduk di kursi paling belakang.
Taehyung dan Joy.
Keduanya duduk rapat yang terlihat jelas sekali, Joy adalah sosok yang mencoba mendekatkan diri pada sang pasangan.
"Cepat duduk di sebelah Taehyung!"
Menuruti perintah Jung Hoseok, Jungkook menjejalkan diri di antara Taehyung dan kaca mobil.
Ia duduk tanpa melirik sedikitpun ke arah pasangannya. Jungkook bisa merasakan, Taehyung terlihat seperti ingin mengucapkan sesuatu padanya. Namun, sebelum bisa berucap, sang tunangan sudah terlebih dahulu menggelayut mesra sembari berujar dengan nada yang terlalu dibuat-buat.
"Oppa, aku takut!"
Sedetik setelah Hoseok menutup pintu, mobil yang mereka naiki langsung tancap gas.
Baru saat itu ia sadari jika sosok yang berada di balik kemudi adalah Min Yoongi, manusia yang sedari kemarin ia cari-cari.
Belum sempat Jungkook mengucapkan sepatah kata, Yoongi sudah melajukan mobil secara ugal-ugalan dengan kecepatan di atas rata-rata. Jungkook bahkan harus meraih pegangan di atasnya sementara tangannya yang lain mencengkeram perutnya kuat-kuat.
"Taehyung, awasi Jungkook. Jangan sampai ia terlempar dari kursinya!"
Jungkook menepis tangan Taehyung yang hendak meraih tangannya. Ia menggeleng dan berujar dengan mencoba sekuat tenaga untuk tidak menoleh ke arah wajahnya yang mendadak terasa mengganggu.
"Aku pegangan ini. Tak usah khawatir."
Di tengah huru-hara yang membuat jantung Jungkook nyaris lepas, ia begitu terganggu dengan teriakan-teriakan manja dari Joy. Gadis berdada besar itu sesekali bahkan memukuli kursi di depannya untuk meminta Yoongi menurunkan kecepatannya.
"Brengsek! Bisakah kau buat tunanganmu itu diam? Jangan buat konsentrasiku pecah atau dia ku turunkan di sini juga!"
"Kau gila? Kita sudah membuat kesepakatan! Kalau kau berani menurunkanku di sini maka aku—"
"Diamlah! Jangan buat suasana semakin panas!"
Jungkook meniup napas pendek-pendek. Tiba-tiba saja ia merasa begitu takut. Ia khawatir jika kandungannya terkena imbas dari kacaunya situasi saat ini.
Taehyung yang merasakan kekhawatiran Jungkook, meraih tangan yang bertengger kuat di perut. Ia menggenggam kuat jemari kurus yang terasa dingin itu.
Taehyung memandang Jungkook yang menutup matanya rapat. "Bertahan, ya. Kita akan baik-baik saja—"
"Oppa! Kenapa kau malah menenangkannya? Kau tak boleh terlalu dekat lagi dengan Jungkook!"
"Demi Tuhan, berhenti meracau, Joy!"
Dan saat itu juga, mobil yang mereka naiki tiba-tiba berhenti. Yoongi menginjak rem kuat-kuat karena tepat di hadapan mereka, dalam radius seratus meter, pasukan Guardian menyerbu dengan membawa senapan laras panjang.
"Sial!"
"Tabrak saja mereka!"
"Joy, diam dulu ku mohon," pinta Taehyung.
"Putar balik saja!"
"Kau diam atau mau ku hajar?"
Hoseok, sosok yang Jungkook kenal tak pernah sekalipun marah atau berkata kasar pada seseorang, kali ini memandang ke arah Joy dengan tatapan membunuh. Pandangan tajam itu sukses membungkam mulut yang sedari tadi membuat suasana semakin tidak nyaman.
"Para pemberontak, turun dari mobil sekarang juga."
Jungkook yakin, sosok yang berdiri di tengah barisan adalah Komandan yang dimaksud Hoseok tadi.
Ia menelan ludah saat melihat kedua sosok misterius di hadapannya kini mengambil senjata yang disembunyikan di dashboard mobilnya. Sebuah senjata dilemparkan kepada Taehyung oleh Yoongi.
"Bawa itu untuk jaga-jaga. Kalian bertiga harus selalu ada di belakang kami, oke?"
"Kita semua keluar, tapi kalian bertiga harus tetap dibelakang kami. Jangan menembak jika tidak kami minta. Kalian paham?"
Jungkook mengangguk lambat-lambat, begitupula kedua manusia di sebelahnya.
Mereka berlima akhirnya keluar bersama. Semua senjata telah disembunyikan di balik baju. Sesuai perintah Yoongi, mereka berlima berjalan dengan langkah pendek-pendek sambil mengangkat kedua tangan.
Sejauh Jungkook memandang, ia bisa melihat sosok Park Jimin berada di paling ujung barisan.
Sosok yang ia pikir berada di pihaknya, kini berbalik menenteng senjata dan menatapnya dengan pandangan angkuh.
Ia merasa dikhianati.
"Para pemberontak, letakkan kedua tangan kalian di belakang kepala." Oh Sehun berujar dengan suara yang menggelegar.
Kelima pemberontak itu melakukan perintah itu tanpa ada perlawanan.
Jauh di lubuk hati Jungkook, ia merasa begitu takut. Ia sadar jika nyawanya kini sudah ada di ujung tanduk.
Mata Jungkook tak henti memandang Park Jimin yang terlihat sangat pantas mengenakan seragam Guardian. Pentolan Guardian itu memandang Jungkook seolah-olah Jungkook adalah hama yang perlu dibinasakan. Seolah mereka tak pernah saling mengenal dan berbagi rahasia.
"Brengsek kau Park Jimin," bisik Taehyung di sebelahnya.
Jungkook memandang lekat-lekat netra Jimin yang terlihat terlalu mencolok. Ia benar-benar tidak menyangka jika Jimin mengkhianatinya. Jungkook rasa ia bisa percaya dengan Komandan Guardian itu. Ia berpikir jika Jimin adalah manusia terwaras yang pernah ada di lingkaran pasukan elit negara. Kali ini ia sadar betul jika keyakinannya tidaklah berdasar. Mana mungkin sosok yang rela berkorban demi negaranya itu mau bergabung dengan kaum rendahan sepertinya?
"Kalian ditahan dengan tuduhan mencoba merusak tatanan negara. Kalian akan diadili atas kejahatan yang tidak termaafkan."
Oh Sehun, begitulah yang tertera di bagian dada. Sosok tinggi berwajah rupawan dengan pembawaan dingin tersebut berbicara lantang melalui microphone yang dikenakannya. Di sebelahnya, Guardian-Guardian siap menembakkan pelurunya kapan saja.
Jungkook melirik ke arah Hoseok yang berdiri persis di hadapannya. Yoongi terlihat memberikan kedikan singkat untuk Hoseok dan keduanya mulai berujar dengan suara yang terlampau tenang.
"Apa buktinya kalau kami mencoba merusak tatanan negara?" tanya Yoongi.
"Berikan kami bukti dan kami akan mengikuti kalian ke penjara tanpa perlawanan," imbuh Hoseok.
Kali ini sosok yang Jungkook anggap mengkhianatinya adalah yang pasang badan menjawab pertanyaan Yoongi dan Hoseok.
"Kalian terbukti melakukan percobaan terror di istana dengan meninggalkan bendera pemberontak. Dengan kejahatan tersebut, kalian akan dituntut hukuman mati saat ini juga."
Taehyung yang berada di sebelah Jungkook terlihat berusaha keras untuk tidak mengumpat dan menerjang Jimin. Jungkook bisa merasakan emosi yang menguar dari ekspresi Taehyung. Karena itulah ia memberikan gelengan kecil yang ia harap, bisa ditangkap Taehyung sebagai sinyal untuk bisa menjaga emosinya.
"Bendera apa? Kami tidak meninggalkan bendera apapun," jawab Hoseok. Tangan kanan Hoseok bergerak ke arah belakang kepalanya. Gerakan ringan itu sukses membuat pasukan Guardian nyaris melepaskan tembakannya sebelum ditahan oleh Jimin dengan sebuah gerakan tangan.
"Angkat tanganmu di atas kepala dan berhenti membual. Kami punya rekaman yang membuktikan bahwa kalianlah yang memulai teror di istana," ucap Jimin.
Wajah congkak Jimin adalah hal terakhir yang begitu ia benci dari sosok Komandan Guardian itu. Jika Jungkook punya kesempatan, ia ingin sekali meninju wajah angkuh Jimin yang sangat mengganggu indera pengelihatannya.
"Tunjukkan buktinya pada kami," pinta Yoongi.
"Kau ingin kami tampilkan buktinya?" tanya Jimin.
Oh Sehun yang berdiri di sebelah Jimin kini mengerlingkan pandangannya tanda tak setuju. "Berhenti saling ramah tamah. Kalian harus ikut kami ke pengadilan sekarang juga."
"Tahan Komandan Oh," ujar Jimin. Ia mengedikkan kepalanya ke arah para pemberontak dan bertanya sekali lagi dengan suara yang sedikit janggal. "Kalian ingin lihat buktinya?"
Butuh lima detik penuh sebelum Yoongi menjawab pertanyaan Jimin.
"Bawa kemari buktinya."
Detik berikutnya, pasukan Guardian di hadapan mereka mulai berlarian ke sana kemari. Beberapa ada yang tertabrak bahkan ada yang kakinya tergilas oleh tank yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang pasukan.
Dari aba-aba yang Jungkook dengar, Yoongi menyuruh mereka untuk berlari ke arah runtuhan tembok yang berjarak lima meter dari tempat mereka berdiri. Tiba-tiba saja huru hara terjadi dan yang bisa Jungkook lihat hanyalah Yoongi dan Hoseok yang mencoba menembak beberapa Guardian sambil sembunyi-sembunyi di balik tembok. Hingga tank itu berhenti di dekat mereka, sosok yang dianggap sebagai pengkhianat bagi Jungkook itu melompat turun dari tank sembari membawa alat pelindung diri.
"Ayo naik! Satu per satu!"
Jungkook adalah orang pertama yang ditarik Jimin. Jimin melingkarkan tangannya setengah memeluk Jungkook sementara tangan lainnya digunakan untuk memegang tameng pelindung peluru. Mereka berlari kecil menuju tank sambil sesekali menunduk. Saat tiba di bagian belakang tank, Jimin membantunya naik dengan menggunakan tangga besi kecil sambil mewanti-wantinya untuk berhati-hati.
"Masuklah dan berlindung di dalam tank!"
Ketika Jungkook berhasil masuk, ia begitu terperanjat saat melihat sosok dua orang yang wajahnya terpampang sebagai para pemberontak. Keduanya sibuk bermain dengan senjata laras panjang dan berjibaku menembaki para Guardian.
"Hei kau, pakailah rompi anti peluru itu dan berlindunglah di ujung sana."
Masih dengan badan yang bergetar hebat, Jungkook mengikuti arah telunjuk pria itu. Ia menemukan beberapa rompi anti peluru yang tertumpuk rapih di ujung tank. Sambil menunduk dan memegangi perutnya, ia mengenakan rompi itu kemudian meringkuk di bagian dalam tank. Jungkook menutupi kedua telinganya yang begitu terganggu dengan bunyi senjata api yang ditembakkan kedua pemberontak itu.
Tak lama kemudian sosok lain bergabung dengannya di bagian dalam tank. Joy, Taehyung, Hoseok, Yoongi, dan yang terakhir Jimin. Setelah semuanya sudah naik, tank tersebut berjalan perlahan tapi pasti.
Yoongi, Hoseok, dan Jimin bergabung dengan kedua pemberontak itu setelah masing-masing mengenakan rompi. Jungkook rasanya tidak mendengar hal lain selain deru tembakan. Satu-satunya kalimat terakhir yang ia dengar terucap dari bibir Jimin dimana ia meminta Taehyung untuk menjaganya.
Setelahnya, yang ia rasakan adalah segalanya memudar dan menjadi semakin samar.
.
.
.
Taehyung mengusapkan selembar tisu ke bagian bibir bawahnya yang berdarah. Tabiat buruknya yang sudah lama tak ia lakukan kini terulang. Taehyung selalu menggigit bibir bawahnya di saat sedang merasa tertekan. Ketika kali ini ia melakukannya lagi, itu artinya mentalnya tengah ada di bawah tekanan besar.
"Makanlah dulu. Mukamu pucat sekali."
Netra Taehyung menatap Jimin yang kini duduk dengan santai di hadapannya.
"Aku tak percaya dengan apa yang terjadi. Satu jam yang lalu aku sangat ingin membunuhmu. Sekarang kau malah memintaku untuk makan dengan begitu santainya."
Jimin terkekeh mendengar nada suara Taehyung yang terdengar begitu putus asa.
"Maaf aku tidak bisa memberitahumu rencanaku. Jika semua orang diberitahu maka kemungkinan gagalnya akan semakin besar. Bisa saja mulut lancangmu malah kelepasan bicara—"
"Kau benar-benar brengsek Park. Kau seharusnya memberitahuku sejak awal kalau kau sudah merencanakan kabur dengan sosok yang kita cari-cari selama ini."
"Kita? Ah, pemilihan katamu terkadang begitu manis Tuan Kim."
"Bajingan brengsek. Bisa-bisanya kau membual. Kau sangat penuh omong kosong."
"Whoa.. whoaa.. Berhenti di situ Kim. Aku sudah menyelamatkan nyawamu. Kalau kau terus menerus mengumpatiku akan ku lempar kau dari pesawat ini."
Taehyung menenggak sebotol air putih yang terdapat di meja kecil. Ia menatap ke arah jendela berbentuk setengah lingkaran yang dihiasi awan putih yang terlihat begitu indah. Sudah lama Taehyung tidak naik pesawat. Sejak ia mengikuti Copulation, rasanya ia begitu tidak tega meninggalkan Jungkook sendirian di rumah. Itu sebabnya ia selalu menolak tugas ke luar negeri semenjak Jungkook menjadi bagian dari kehidupannya.
"Ceritakan padaku dari awal. Jangan ada kebohongan lagi."
"Kita terdengar seperti sepasang kekasih."
"Brengsek kau Park Jimin—"
"Baiklah, baiklah. Kontrol emosimu. Kau tentu tidak ingin Jungkook terbangun karena mendengar umpatanmu bukan? Ah, Jungkook sih tidak mengganggu. Kau tak mau tunanganmu itu terbangun karena suaramu kan? Aku lebih tidak bisa tenang jika wanitamu itu bangun dan terus menerus bersuara. Sakit kepala jadinya."
Taehyung melirik ke sisi kirinya. Di sana terbaring dengan nyaman dua sosok yang menjadi bagian dari dunianya. Dua sosok itu kini sama-sama terlelap. Keduanya juga sama-sama terlihat indah ketika tengah memejamkan mata. Gambaran keduanya membuat kepala Taehyung semakin berdenyut hebat karena ia tak tahu ke arah mana hubungan percintaannya akan bermuara.
"Ku mohon cerita semuanya. Semua hal yang belum ku ketahui, beri tahu padaku sekarang juga."
Setelah Taehyung memohon dengan cara yang jauh lebih sopan, Jimin mengangkat kedua kakinya di sofa pesawat itu dan bercerita dengan raut wajah yang lebih serius.
"Pertama, beberapa waktu yang lalu aku didatangi sosok bernama Jung Hoseok. Orang itulah yang meletakkan Xazina di depan Bowl milikku. Dugaan kita selama ini salah. Bukan Min Yoongi yang memberikanku Xazina namun Jung Hoseok. Ia bilang padaku jika ia cukup dekat dengan Jungkook. Hoseok bilang jika ia bertemu Yoongi di awal acara Copulation tahun ini. Mereka kemudian melanjutkan pertemuan secara beberapa kali. Dari sanalah Yoongi menawarkan Hoseok untuk bergabung dengannya dan pemberontak lain. Hoseok yang setuju dengan ide Yoongi kemudian meminta seluruh anggota keluarganya untuk pindah ke daerah Busan. Ia sendiri tinggal di Seoul secara nomaden demi menghindari kecurigaan karena sampai sekarangpun jejak-jejak para pemberontak masih bisa dideteksi oleh Guardian." Terang Jimin.
Ia kemudian melanjutkan penjelasannya lagi. "Ketika Hoseok datang ke Bowl, dia menjelaskan rencana kabur yang sudah ia dan Yoongi siapkan. Aku menambahkan beberapa ide seperti menggunakan tank dan harus berpura-pura berpihak pada para Guardian terlebih dahulu. Untuk pesawat ini, rupanya sudah disiapkan oleh para pemberontak."
"Jungkook belum tahu sama sekali tentang hal ini?"
"Sama sekali tidak. Hanya aku di antara kita bertiga."
"Kenapa kau mau menjadi pemberontak? Kau kan Komandan Guardian utama."
Butuh beberapa detik untuk Jimin menjawab pertanyaan ini. Ia mengembuskan napas yang ditariknya dalam-dalam sebelum mulai berujar dari bibirnya. "Karena aku tidak bisa hidup dalam dunia yang begitu salah. Walaupun itu artinya aku harus melawan ayah dan keluargaku sendiri."
"Apa yang menjanjikan dari Meonji Seom? Kenapa kau tertarik?"
"Apa kita sedang wawancara?"
"Oh ayolah!"
Jimin tertawa pelan melihat Taehyung yang terlihat begitu jengkel padanya.
"Aku ingin hidup sebagai orang biasa. Hanya seorang Park Jimin, tanpa imbuhan Komandan, Ketua, Pimpinan, atau apapun itu." Jimin mendekatkan dirinya ke arah Taehyung dan berbisik dengan suara pelan namun cukup jelas untuk didengar. "Dan kau Kim, kenapa kau memutuskan menjadi pemberontak? Kau bisa saja mengabaikan ucapan Jungkook mengenai Meonji Seom. Kenapa kau menyikapinya dengan serius?"
Taehyung melirik ke sisi kiri.
"Sejujurnya aku lelah hidup di antara sistem yang membelenggu. Aku tidak bisa tinggal di tempat seperti itu. Sialnya negara kita tidak memperbolehkan siapapun untuk tinggal di luar negeri lebih dari satu minggu kecuali jika kau termasuk Para Petinggi. Kalau boleh memilih, aku ingin pergi sejauh mungkin dari tanah ini."
Jimin mengangguk pelan mendengar jawaban Taehyung. Keduanya sibuk dengan lamunan masing-masing sebelum akhirnya Jimin buka suara kembali.
"Jungkook baik-baik saja bukan? Terakhir kali aku melihat dia, kau terlihat begitu marah padanya."
Pertanyaan itu membuat Taehyung menghela napas dengan susah payah.
"Kim Taehyung, jawab pertanyaanku."
Taehyung mengangkat kepalanya dan menggeleng pelan. "Kami bertengkar. Aku memarahinya dan mengatakan hal buruk padanya. Sebenarnya Jungkook baru saja kabur dari rumahku. Tapi sebelum aku sempat pergi mencarinya, Joy datang dan ia tak mau ditinggal. Tak lama kemudian Yoongi hyung juga datang ke rumah dan menjelaskan rencana kabur. Karena waktunya juga sudah menipis, mau tidak mau akhirnya Joy ikut bersama kami dengan catatan ia harus mau membantu ini dan itu jika sudah tiba di Meonji Seom nanti."
Jimin menegakkan duduknya. "Kau memarahi Jungkook karena bertemu denganku?"
"Aku terbakar cemburu. Ku kira kalian ada main di belakangku. Sebelum aku mencari Jungkook, Joy sebenarnya sudah datang dan bilang jika ia melihat kau dan Jungkook sedang bermesraan—"
"Itu konyol! Aku hanya menemani Jungkook—"
"Aku tahu ini terdengar konyol tapi aku memang sangat marah pada saat itu. Aku tahu emosiku ke Jungkook terlalu berlebihan. Tidak seharusnya aku memarahinya dan membuatnya menangis bahkan kabur dari rumah."
Tanpa Taehyung sadari, Jimin diam-diam meremat sofa mendengar ucapan pria di hadapannya.
"Egomu memang sangat besar Kim."
"Kurasa aku terlalu mencintainya sampai-sampai aku sering mengekangnya untuk tidak terlalu dekat denganmu," Taehyung memandang ke arah Jungkook yang terlelap. Wajah sosok yang tengah mengandung itu begitu damai dalam tidurnya. "Aku sangat menyesal dan aku belum sempat meminta maaf padanya."
Entah mengapa Jimin begitu tidak tahan mendengar pengakuan Taehyung. Dadanya terasa sedikit panas dan ia tahu ia harus pergi menenangkan diri sebelum tersulut emosi mendengar Jungkook diperlakukan dengan tidak adil.
"Kau benar-benar harus menjaga emosimu, Kim. Jika kau tidak dapat membuat Jungkook bahagia, bisa saja orang lain merebut posisimu darinya."
.
.
.
Yang pertama kali Jungkook lihat ketika baru saja membuka kedua matanya adalah Jung Hoseok.
Sosok yang cukup ia rindukan itu berdiri terlalu dekat dengan wajahnya. Ia mendengar helaan napas lega dari beberapa orang di sekitarnya.
"Jungkook! Akhirnya kau bangun juga!"
Jungkook memijit pelipisnya pelan sebelum perlahan memandang ke seluruh sudut ruangan. Ruangan ini bentuknya aneh. Terlihat seperti ruang tamu sekaligus kamar. Ia bisa merasakan kasur yang ditindihnya bergetar selama beberapa saat lalu tenang kembali seolah tidak terjadi apa-apa. Seingatnya tadi ia bersembunyi di dalam tank. Kenapa sekarang bagian dalam tanknya sudah berubah bentuk?
"Hyung, kita dimana?"
"Kita ada di pesawat, Kook. Dua puluh menit lagi kita akan mendarat di Meonji Seom. Untunglah kau bangun tepat pada waktunya."
Jungkook bangun dari posisi tidurnya. Ia melihat ke sekeliling dan tak mendapati siapapun kecuali Hoseok.
"Yang lain kemana?"
"Yoongi hyung sedang bersama pilot dan co-pilot. Jimin sedang menyiapkan barang-barang yang akan kita bawa turun. Taehyung sedang ada di toilet dengan Joy. Sepertinya wanita itu sedari tadi muntah-muntah. Sejak ia bangun, ia sepertinya tak ingin lepas dari Taehyung."
Hoseok, yang belum sadar jika ucapannya membuat perasaan Jungkook semakin kacau, kini mengusap kepala Jungkook lembut dan berujar dengan nada riang. "Akan kuberi tahu yang lain kalau kau sudah siuman."
Tanpa menunggu respon apapun, ia berlari kecil sembari memanggil-manggil nama Taehyung dan yang lain.
Kepala Jungkook terasa begitu berat. Ia ingat ia belum makan apapun sejak berjam-jam yang lalu. Jungkook kemudian meraba perutnya yang menonjol.
"Kau pasti lapar ya? Eomma akan carikan sesuatu untuk dimakan, ya."
Tepat setelah Jungkook turun dari ranjang, Jimin datang bersama Hoseok dengan membawa sepotong apel dan sekotak susu cokelat.
"Jungkook! Syukurlah kau sudah siuman," Jimin memapah Jungkook untuk duduk di sofa yang semula diduduki Taehyung. Ia memotong apel di tangannya lalu memberikan potongan apel itu untuk Jungkook. "Makanlah dan minum susunya. Kau pasti lapar. Masih ada waktu beberapa menit sebelum pesawat ini mendarat."
Jungkook menerima apel itu dengan sedikit ragu. Ia masih belum mengerti situasi yang terjadi. Ia tidak paham mengapa Jimin sekarang bergabung bersamanya di pesawat ini.
"Hyung, kau ini—"
"Nanti saja jelaskannya. Kau makan dulu saja, ya?"
Jungkook menurut. Ia makan apel itu dalam diam. Sementara itu Hoseok terlihat kembali ke arah depan sambil menggumamkan kata perintah yang tidak dipahaminya.
Di gigitan ke limanya, ia mendengar suara Joy yang terdengar merintih kesakitan. Tak berapa lama pemandangan Taehyung yang memapah Joy dengan kondisi lemas membuat jantung Jungkook berhenti berdetak seketika. Entah mengapa ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia bahkan tak menghiraukan panggilan Taehyung yang kini sudah duduk persis di sebelahnya.
"Kau sudah bangun? Dari tadi atau baru saja?"
Tubuh Jungkook meremang seketika saat tangan Taehyung menyentuh lengan atasnya. Jungkook sedikit mengedikkan bahunya sebagai pertanda jika ia tidak ingin disentuh terlebih dahulu oleh pasangan Copulation-nya.
"Baru saja."
"Thank God. Apa kau merasa baikan? Pusing kah atau mual?"
"Yang mual itu aku, oppa! Kenapa kau malah menanyainya!"
Joy yang duduk di seberang Jungkook memandangnya dengan tatapan sengit. Jungkook berkedip dan beralih memandang apel di tangannya yang kini tak lagi ingin ia makan.
"Aku tak apa. Yang mual kan Joy. Kau urusi Joy dulu saja, hyung." Jawab Jungkok getir.
"Jungkook—"
"Jungkook benar, Kim. Joy sepertinya lebih pucat dari Jungkook. Kau urusi dulu saja tunanganmu, biar aku yang membantu Jungkook." Tawar Jimin.
"Aku ingin menemani Jungkook—"
"Aku mau ke toilet." Potong Jungkook. "Jimin hyung, antarkan aku, ya?"
Membungkam mulut Taehyung yang nyaris mengumpat, Jungkook bergegas bangun dan dipapah Jimin menuju ke toilet.
Setelah Jungkook membersihkan wajahnya, ia keluar dari toilet dan mendengar aba-aba dari Hoseok. Hoseok meminta mereka semua untuk mencari kursi terdekat dan mengenakan sabuk pengaman karena pesawat hendak mendarat.
Sebelum Jimin menarik Jungkook untuk duduk di kursi di sebelah toilet, Taehyung sudah lebih dulu meraih tangan Jungkook. Pasangan Copulation Jungkook itu menarik Jungkook untuk segera duduk. Pria bermarga Kim itu juga membantu Jungkook mengenakan sabuk pengamannya tanpa menyakiti bagian perutnya yang membesar.
"Hyung—"
"Menurut padaku sekali ini saja, Kookie. Aku tidak tahan membiarkanmu duduk dengan orang asing. Pesawat yang hendak mendarat biasanya membawa pengalaman yang tidak menyenangkan bagi orang yang baru kali pertama terbang. Aku tidak mau kau kesusahan tanpaku."
Jungkook menggigit lidahnya dengan kuat. Dadanya terasa begitu sesak mendengar ucapan Taehyung yang begitu lembut. Untuk sejenak ia bahkan lupa jika dirinya baru saja dibuang oleh pasangannya itu.
"Pegang tanganku. Pejamkan matamu kalau kau merasa takut."
Selalu saja.
Mantra berupa kalimat yang terucap dari bibir Taehyung selalu membuat Jungkook menurut. Ia melakukan apa yang Taehyung perintah tanpa ada sedikitpun membantah.
Dan benar saja, ketika pesawat mulai terasa kecepatannya, Jungkook seketika meremat erat jemari Taehyung dan memejamkan matanya kuat-kuat. Ia bisa merasakan tangannya digenggam lembut oleh Taehyung.
"Jangan khawatir. Aku ada di dekatmu."
Ucapan itu membuat dadanya terasa sesak seketika. Tenggorokannya tercekat dan ia sangat ingin meluapkan air mata yang mengganjal di pelupuk matanya.
Di menit-menit yang membuat jantung Jungkook berdegup kencang, Taehyung tak henti menggenggam lembut jemari Jungkook. Ia mengelus buku-buku jari itu dengan usapan seringan bulu yang begitu dirindukan Jungkook. Sentuhan-sentuhan itu sukses menarik atensi panik Jungkook menjadi sedikit lebih tenang menghadapi proses landing yang semula menakutkan hati.
Ketika pesawat telah berhenti sepenuhnya, Jungkook mulai membuka matanya yang langsung bertemu dengan netra indah Taehyung.
"Kau baik-baik saja?" tanya Taehyung lembut.
Jungkook mengangguk pelan dan seketika melepaskan tangannya yang digenggam Taehyung.
"Terima kasih, hyung." Jawab Jungkook pelan. Ia buru-buru melepaskan sabuk pengaman dan meninggalkan Taehyung menuju Hoseok yang duduk di sebelah Jimin.
"Baik semuanya. Kita sudah mendarat di Meonji Seom. Kita perlu berjalan sekitar sepuluh menit menuju ke pin point yang sudah ditentukan oleh Paman Bang. Kalian semua dapat mengikuti instruksiku." Yoongi yang baru saja muncul entah darimana langsung memberikan aba-aba kepada seluruh penumpang pesawat tersebut. "Masing-masing orang dapat mengambil ransel yang ada di dekat pintu keluar. Mari turun menggunakan tangga yang sudah ada di depan pintu keluar".
Jungkook mengikuti Hoseok yang menuntunnya untuk mengambil tas. Mereka berdua turun melalui tangga dan diikuti oleh Jimin, Joy, Taehyung, serta yang terakhir Yoongi.
"Jadi begini bentuk tanah berdebu yang dimaksud." Gumam Jimin.
"Terlihat sama saja seperti daerah Kaum Sekunder." Cerca Joy.
"Kalian belum melihat ke bagian intinya. Jangan banyak berspekulasi." Tegur Yoongi.
Setelah semuanya menginjakkan kaki di tanah Meonji Seom, baru lah Jungkook sadar jika jaket yang tadi ia kenakan, ia lepas dan digantung di toilet pesawat.
"Hyungdeul, sebentar. Jaketku ketinggalan di toilet."
Tanpa menunggu jawaban dari yang lain, Jungkook bergegas kembali ke dalam pesawat untuk mengambil jaket miliknya. Setelah jaket itu berhasil ditemukan, Jungkook mengenakannya dan hendak turun kembali namun seseorang menahannya dengan sebuah tatapan tajam dan silangan kedua tangan.
"Kenapa, Joy?"
"Hanya mengambil ponselku yang ketinggalan." Jawab Joy ketus. Ia tersenyum meremehkan dan mendengus terang-terangan. "Orang seperti ini yang menjadi sainganku? Yang benar saja."
"Apa maksudmu, Joy?" tanya Jungkook hati-hati.
"Kau pikir kau sudah menang? Kau merasa di atas awan? Berkaca lah! Kau ini hanya Kaum Sekunder!"
"Aku tak pernah merasa menang dari siapapun." Jawab Jungkook. Ia mencoba melewati Joy namun gadis itu kembali memblokir pintu keluarnya.
"Kau sangat munafik. Setelah kau merayu tunanganku, kau mengambilnya dariku dan membuangku dari hidup Taehyung, sekarang kau bilang kau tak merasa menang?"
"Joy, aku tak tahu seburuk apa yang kau pikirkan tentang aku. Tapi sungguh—"
"Kau benar-benar tak tahu malu! Kau ku biarkan tinggal bersama Taehyung hanya karena tunanganku itu ingin main-main saja denganmu. Tapi lihat apa yang terjadi? Kau menggodanya habis-habisan dan bermain terlalu jauh dalam permainan konyol itu!"
"Aku tak pernah menggoda Taehyung—"
"Kau itu murahan. Kau tak pantas ada di dekat tunanganku."
"Joy, kau sudah keterlaluan—"
"Kau yang munafik!"
Dengan sebuah dorongan kuat, Joy mendorong tubuh Jungkook hingga jatuh terjerembab. Jungkook mengaduh pelan dan langsung memeluk erat perutnya.
"Sudah kuperingatkan kau dari awal, jangan terlalu serius dalam permainan ini. Kau pikir kau siapa? Kau pikir Taehyung akan sungguhan jatuh cinta denganmu?"
"Kau tidak harus bertindak kasar seperti ini, Joy—"
"Kau memang murahan! Dasar rendahan tak tahu malu!"
Dan dorongan kali ini benar-benar membuat Jungkook terdorong ke luar. Sial baginya karena tangga pesawat yang otomatis itu sudah kembali terlipat dan tubuhnya kini jatuh menghantam landasan pacu dengan bagian perut yang tertekan kuat.
.
.
.
TBC
.
.
.
Hewwoo Daylight readers!
Telat update lagi nih hehe. Bagi waktu memang nggak mudah buat penulis. Thank chu banget yang udah mau baca Daylight sampai Part 22 ini ya. Review kalian bener-bener jadi penyemangat Plum buat lanjutin cerita ini lho. Jangan sungkan-sungkan ngereview ya. Walau cuma beberapa patah kata udah bisa bikin mood nulisnya naik kok hehe. Plum tunggu reviewnya ya manteman…
