Goblin Slayer milik Kumo Kagyu
Highschool DxD milik Ichei Ishibumi
Crossover dengan beberapa anime atau mungkin game, yang kalian ketahui nantinya seiring cerita berjalan.
All Character OOC
Chapter 22
Percikan sebuah Masalah
Opening: Inferno by 9mm Parabellum Bullet
"Mereka datang!"
Naruto terus fokus pada musuh yang ada di depan dirinya mengabaikan Warrior Priestess. Sementara itu, dua ekor Rat mencoba untuk menyerang. Naruto mengawasi pergerakan mereka dengan hati-hati, tidak ingin membuat kesalahan tapi dimata Warrior priestess itu tampak membuang waktu.
Saat momentum yang diinginkan olehnya tiba, dia menggenggam kuat gadanya lalu melangkah berani ke arah dua Rat tersebut. Monster itu mengeluarkan suara melengking, saat musuh mereka melaju ke arahnya.
Satu diantara mereka melompat untuk menerjang Naruto, satunya tetap berlari untuk mengarah kaki Naruto. Tapi Naruto menggunakan perisainya untuk menangkis Rat yang menerjangnya, hewan itu terjatuh dan menimpa Rat yang ada di bawahnya.
Saat monster tersebut terjatuh dan menimpa temannya, Gada Naruto memainkan peran penting. Benda itu sukses mendarat di kedua kepala monster, membuat darah mengotori lantai gua atau setidaknya labirin tempat mereka berada.
"28 ini sudah yang ke-5, sepertinya itu yang terakhir. Sebaiknya kita kembali!"
"Baiklah!"
Perintah itu dituruti Warrior Priestess, mereka sudah melakukan penjelajahan selama setengah hari. Tempat mereka berada adalah sebuah gua yang dekat, dengan kota tempat Warrior priestess mendapatkan [Pilgrimage Quest].
Besok adalah hari terakhir dimana Warrior Priestess menjalankan misi bersama Naruto, meski tampak senang dan menunjukkan wajah yang bahagia karena akan kembali. Tapi jauh di dalam Lubuk hatinya, ada rasa sakit sebab dia akan berpisah dari orang yang menumbuhkan ingatan tentang Captain.
"Waktu tidak terasa, Setelah kita melapor. Besoknya kita akan berangkat ke kota air dan di sana [Pilgrimage Quest]ku akan selesai. Kemudian aku akan mendapat kehormatan, untuk memegang pedang Agatha sword yang asli. Tentunya, jika Dewi Freya menerima atau menyatakan aku lulus dalam Pilgrimage Quest ini."
Warrior Priestess mencoba untuk mencairkan suasana, sekadar menghibur dirinya yang sebentar lagi akan berpisah dengan orang yang telah menemani selama ini. Sedangkan Naruto dalam diam dan pandangannya tetap dingin, terus melangkah mendengarkan Apa yang diucapkan Warrior priestess. Lalu dia pun menjawab.
"Setiap sesuatu memiliki awal dan akhir, setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan. Itu adalah sebuah takdir yang harus diterima, kakakku yang mengajarinya."
Warrior Priestess sepenuhnya sadar dengan apa yang diucapkan Naruto, tapi dia sangat berharap bukan itu yang diucapkan Rat Slayer. Dia ingin setidaknya Naruto, berkata 'kita akan ketemu lagi' atau 'jangan khawatir aku akan mengirim surat setiap hari' atau kata-kata yang menghibur lainnya.
Bukan berarti dia tidak setuju dengan apa yang diucapkan Naruto, di dalam kuil Order of Freya. Para pendeta juga mengajarkan hal tersebut, bahwasanya segala sesuatu memiliki permulaan dan akan menuju pada akhir atau dengan kata lain kehancuran. Setiap perjumpaan pasti akan ada perpisahan, dan tiap ada yang lahir pasti ada yang meninggal.
Lalu takdir para petualang merupakan sesuatu yang tidak pernah bisa diprediksi, karena para petualang menjalani hidupnya tidak seperti manusia kebanyakan. Saat manusia yang lain melarikan diri dari bahaya dan para monster, para petualang malah menantang bahaya tersebut.
Ada beberapa yang sukses dan pulang dengan kemenangan, sambil membawa kepala monster yang mereka kalahkan. Tapi tidak sedikit dari mereka yang gagal, dan berakhir menjadi sebuah batu nisan. Dimana rekan-rekan mereka akan datang untuk mengenang.
'Kupikir dia akan sedikit berubah setelah kejadian waktu itu, tapi sepertinya sifatnya memang seperti ini'
Warrior Priestess berharap Naruto akan memiliki sifat lebih lembut, sejak sebulan lalu ketika dia lari dari hadapannya. Karena kecemburuan yang disebabkan oleh Nadeshiko Shizuka, dia tidak akan pernah melupakan kejadian itu.
Dia bersumpah akan membalas dendam pada Nadeshiko Shizuka suatu hari nanti, sambil berharap semoga sikap Rat Slayer berubah lebih lembut. Tapi sepertinya, tidak ada yang berubah. Pria itu konsisten dengan sikapnya yang dingin dan masa bodoh, namun Entah mengapa hatinya selalu terpaut dan tidak ingin rasanya berpisah dari pria ini.
Tidak terasa keduanya sudah mencapai pintu keluar gua tersebut, segera mereka menuju ke desa yang terletak di arah barat. Tidak lupa Naruto menutup gua tersebut agar tidak ada Rat yang masuk kembali ke dalam gua tersebut, lalu keduanya bergegas menuju desa terdekat yang meminta bantuan.
Suasana di desa itu tampak seperti biasanya, orang-orang tampak ke sana kemari sambil membawa urusan mereka masing-masing. Ada para pengelana yang sibuk mencari penginapan karena waktu sudah sore, ada para pedagang yang dengan semangatnya masih menjajakan dan menawarkan barang dagangannya.
Adapula para penduduk yang membawa hasil panen mereka dari kebunnya, dan beberapa aktivitas lainnya. Desa ini tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil, penduduk di sini menggunakan sarana irigasi untuk memenuhi kebutuhan airnya. Lalu untuk kebutuhan pangan, mereka membangun sebuah pertanian kecil dan juga mengadakan kontak dengan beberapa pedagang yang mampir.
"Ayo dipilih! Dipilih barang dengan kualitas bagus, harga sangat murah hanya 20 silver saja!"
Teriakan seperti itu menggema di telinga kedua orang berbeda gender, meski memiliki rambut yang sama tetapi kepanjangan rambutnya berbeda. Mereka adalah Naruto dan Warrior Priestess, tubuh mereka terlumuri oleh tanah dan Darah tikus-tikus itu.
"Setelah ini, aku ingin membersihkan diri. Bagaimana denganmu?"
Lenneth aka Warrior Priestess menanyakan hal itu kepada Naruto, dan jawaban yang diberikan Naruto.
"Aku akan langsung ke toko senjata, untuk melihat-lihat. Juga membeli perlengkapan baru."
Sebenarnya dia sudah ke sana tadi pagi, alasan itu untuk menolak secara halus permintaan Warrior Priestess yang ingin ditemani membersihkan diri.
"Baiklah kalau itu keinginanmu, Aku akan pergi sendiri!"
"Um."
Setelah obrolan singkat itu keduanya lalu pergi ke sebuah rumah yang sederhana, namun ukurannya melebihi dari bangunan-bangunan di sekitar. Itu adalah rumah kepala desa di sini, seorang pria berambut putih dan memiliki janggutbyang sama putihnya. Badannya kurus berselimutkan kain katun putih dan celana hitam panjang, menyambut keduanya.
"Kalian sudah kembali, apa kalian telah menghabisi para tikus-tikus yang mengganggu itu?"
Tanpa ragu, tanpa intonasi, dan tanpa ekspresi Uzumaki Naruto atau dikenal dengan sebutan Rat Slayer menjawab pertanyaan itu.
"Semua sudah selesai, lubang itu sudah kami tutup dan tidak akan ada lagi tikus-tikus yang dapat masuk ke dalamnya."
Adalah benar apa yang diucapkan oleh Naruto, dia sudah melakukan hal yang sepatutnya. Itu membuat kepala desa senang, karena monster-monster itu sudah dikalahkan.
"Aku sangat berterima kasih kepada kalian berdua, kuharap kalian bisa menikmati waktu kalian. Sebelum bertolak ke Kota air."
Sebenarnya, [Survival Quest] milik Naruto sudah berakhir. Desa sebelumnya merupakan desa terakhir dalam survival Quest. Namun, karena janji yang telah dia buat untuk mengantar Warrior Priestess sampai ke kota air. Dia menunda keberangkatannya menuju kota perbatasan, untuk mengantarkan sampai ke kota air sesuai janjinya.
"Berterima Kasihlah kepada Freya-sama yang telah membantu kita menyelesaikan masalah ini. Puji Dewa Freya!"
Warrior Priestess sangat senang, begitu menyebutkan nama dewa yang dianutnya, sementara Naruto sama sekali tidak mengerti kesenangan macam apa yang di dapat. Saat dewa yang disembah dipuji, itu karena dia tidak memiliki sesembahan.
Dia berjanji akan melayani Dewa atau Dewi, Jika dia sendiri atau Dewa yang bersangkutan datang meminta bantuan kepadanya. Sebagaimana yang dikatakannya, ketika berada di kota perbatasan saat memesan patung dewi Freya kepada seorang pemahat muda.
"Kalau begitu kami permisi dan kuanggap misi ini sudah selesai."
Kepala desa menganggukan kepala begitu mendengar apa yang diucapkan Uzumaki Naruto. Lalu keduanya melenggang dari tempat tersebut, untuk menuju tempat masing-masing.
"Kalau begitu, aku akan pergi ke penginapan untuk mandi, sampai jumpa lagi! "
"Baik."
Lepas perkataan itu, Warrior Priestess segera memisahkan diri menuju sebuah penginapan ya itu adalah hal yang pantas disebut. Lalu Naruto melangkahkan kaki menuju ke toko persenjataan.
Saat bel itu berbunyi, sang penjaga mengerti bahwa ada pembeli yang datang. Dia sudah sering menemui para petualang Dan dia sangat senang jika ada para petualang.
Karena baginya, para petualang adalah para pemberani yang menentang bahaya untuk menolong para penduduk, ataupun orang-orang yang yang kurang beruntung. Kini salah satunya berdiri di depan pintu masuk.
"Selamat datang tuan, silakan dipilih apa yang ingin kau cari?"
Sang penjaga lantas meneteskan keringat di pelipis, saat tahu siapa yang ada depannya. Itu adalah seorang pemuda dengan rambut pirang dan mata blue safir, memakai Armor tipis serta murahan yang terlumuri tanah dan darah. Juga sebuah gada yang tersangkut di punggungnya, itu adalah pria dengan dengan peralatan paling murah yang pernah dia lihat.
'Dia sudah datang tadi pagi kini datang lagi, apa yang hendak dicarinya' pikir sang penjaga toko
Sang Pemuda mengacuhkan sapaan dari penjual, matanya melirik ke sekitar dan mencari apa yang dibutuhkan. Sang penjual hanya bisa terdiam karena memahami karakter pemuda itu, dia banyak mengetahui tipe orang berkat para petualang yang datang silih berganti. Hal paling menyebalkan bagi dia, saat bertemu petualang seperti Naruto yang acuh saat ditanya.
'Entah kenapa orang-orang seperti dia ini ada di dunia,' keluhnya
Dia tidak sepenuhnya menyalahkan sikap orang itu, tapi dia berharap setidaknya. Dia yang bertugas atau lebih tepatnya tuan rumah, bisa mendapatkan balasan dari sapaannya itu. Adalah satu hal satu hal yang sangat diinginkannya, terlepas dari petualang itu berhasil atau tidak dalam menjalankan tugasnya.
Karena dia tidak mengetahui apa yang telah terjadi ketika mereka atau para petualang, menjalankan quest yang mereka ambil. Dirinya juga pernah bermimpi menjadi petualang namun impian itu harus dia kubur, karena dia berkewajiban meneruskan usaha keluarganya sebagai penjual atau sering disebut Merchant.
Sambil terus bergulat dengan perasaan aneh di hatinya, dia memperhatikan baik-baik si pirang yang memakai Armor yang memakai Armor murahan itu. Menatap lekat sebuah Scroll usang yang telah lama bersemayam di toko miliknya, Itu adalah sebuah Scroll yang dia dapatkan dari seorang petualang beberapa minggu yang lalu.
"Aku sudah memeriksa gulungan itu, di dalamnya ada sebuah sihir yang bisa meningkatkan stamina dan kecepatanmu saat digunakan. Bisa dibilang, kalau itu adalah mantra cheer atau guts."
Mendengar penjelasan yang datang darI sang Merchant, Naruto segera menyusun skenario apa yang pantas, untuk menggunakan Scroll itu dalam pertarungan.
Hal seperti ini adalah kegiatan yang selalu dilakukan, saat hendak membeli suatu benda. Melewati proses pertimbangan yang matang, dia menetapkan untuk membelinya. Namun, ada satu hal yang mengusik pikirannya.
"Apa ada orang lain yang mengetahui kegunaan benda ini selain aku.?"
Dihadapkan pada pertanyaan itu, sang merchant meneteskan keringat di pelipisnya. Baginya itu merupakan pertanyaan konyol, tentu saja dia telah memberitahu kepada beberapa petualang yang menanyakan kegunaan benda itu.
Tapi, yang membuatnya heran.
'Kenapa pemuda ini begitu berhati-hati'
Sang merchant mendesah ketika melihat Naruto begitu serius menatapnya, dia tidak habis pikir akan pemuda yang ada didepannya ini.
"Sebelum kau, Aku sudah memberitahu 7 petualang."
"Apa diantara mereka ada Rat?
" Heh!"
Kini sudut bibirnya berkedut, ketika mendengar pertanyaan Naruto. Keterkejutan dia belum hilang, karena Naruto bertanya berapa petualang yang tahu akan gulungan itu.
Kini sang merchant dihantam pertanyaan lain yang sulit dipercaya. Pemuda itu khawatir, jika gulungn itu diketahui seekor Rat atau dengan kata lain Tikus.
'Yang benar saja orang ini, memangnya bagaimana tikus-tikus itu menggunakan Scroll.'
Kali ini dia tidak bisa menahan tawanya, perutnya gatal karena pemuda itu tampak konyol. Naruto bergeming saat melihat sang Merchant tertawa lebar, saat dia bertanya apa ada Rat yang mengetahui perihal isi gulungan itu.
"Hahahah kau ini lucu sekali, tidak mungkin tikus-tikus itu tahu bagaimana menggunakan sebuah gulungan."
Sang Merchant mengelap air mata diujung mata karena terlalu banyak tertawa, lalu sekejap kemudian dia berdehem untuk mendapatkan ketenangannya kembali.
Namun, dia terkejut sebab sang pemuda sama sekali tidak tampak tersinggung atau marah akan kelakuannya. Tadinya dia akan menambah ledekan, seandainya pemuda pirang itu membantah namun yang ia dapatkan malah sebuah tatapan dingin.
'Orang ini bersungguh-sungguh.'
Ketika sang Merchant selesai dengan tawanya dan kini tertegun sebab dirinya ditatap begitu dingin. Naruto tampak mengambil gulungan itu, kemudian berjalan ke sebelah untuk memilih sejata dan peralatan lain yang diperlukan.
'Masa bodoh dengan ucapanku yang keterlaluan, tapi kekhawatiran dia juga belebihan. Bahkan aku pun tahu jika Rat itu adalah monster gorong-gorong yang levelnya jauh lebih lemah ketimbang Slime. Bahkan monster itu dibawah Goblin sebagai monster terlemah dan bodoh.'
Dia mendengus saat melihat Naruto langsung berpindah, untuk mencari keperluan yang dibutuhkannya. Namun dia dapat menangkap sesuatu yang aneh dari mata pemuda pirang itu. Mata itu sewarna lauutan yang indah, namun sinar itu meredup seakan ditelan sesuatu. Dia menggelengkan kepalanya, ketika pemikiran itu terlintas.
'Itu adalah urusannya bukan kewajibanku untuk mengetahui masa lalu seseorang, kewajibanku adalah menerima uang setelah mereka memilih barang yang mereka butuhkan.'
Setelah Naruto mendapatkan apa yang dia butuhkan, segera barang-barang itu dia bawa ke hadapan kasir tempat sang merchant berada. Lalu sang Merchant mulai menghitung barang yang dipilih Naruto dan menaksirkan harganya, sesekali hatinya menjerit karena barang yang dibeli pemuda itu begitu murahan.
'Kalau semua petualang seperti dirinya maka bisnis penjualan bisa kacau, barang-barang yang dibelinya semua murahan.'
"Harganya 70 silver 69 Bronze!"
"Tidak sampai satu Gold ya, lalu gulungan itu berapa?"
"Harga gulungan itu 50 silver 15 Bronze, itu karena benda tersebut tidak laku-laku. Aku memberinya potongnan harga, tapi sebuah gulungan sulit untuk dijual. Semua harga sudah kugabungkan, dengan barang-barang yang kau pilih."
"Baiklah, aku mengerti."
Segera Naruto merogoh kantung uangnya dan mengeluarkan sebua koin emas untuk dibayarkan, sang Merchant menerimanya dan mengembalikan sisanya.
"Terima kasih sudah berkunjung, senang berbisnis dengan Anda!"
Naruto mengangguk pelan dan menarik semua barang yang dibelinya, kemudian lekas angkat kaki dari toko tersebut. Saat dipintu keluar dia merasakan simbol di dadanya berdenyut, hal itu membuat dia cemas.
"Sensasi ini seperti yang diceritakan olehnya, saat sebelum meninggalkanku bersama Bulgar."
"Jika kau merasakan denyutan kecil yang ada di dadamu itu maka ketahuilah, bahwa waktu bagi mereka melakukan Harvest Festival sudah dekat."
'Aku harus segera mencari tahu, dimana mereka akan memulainya sebelum terlambat. Sudah satu bulan dan aku juga mesti kembali ke kota perbatasan, untuk melaporkan kalau Serial Questku telah selesai.'
Dengan mata yang menajam dia kemudian melangkah untuk menemui Lenneth yang berada di sebuah penginapan.
And Cut
Hai Jinchuriki Shukaku kembali dengan chapter baru, mohon maaf atas keterlambatanku dalam Up Fic ini sebab Real Life benar-benar mengikatku layaknya seekor ular.
Untuk sekarang adalah permulaan untuk masuk ke Arc yang sudah di sebutkan oleh seseorang, yang udah menyelamatkan Naruto aka Rat Slayer dari Tragedi sebelumnya satu tahun lalu.
Sekian aja dariku semoga kalian bisa memaklumi, atas perhatiannya saya ucapan terima kasih.
