Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 21 )

.

.

.

Sakura Pov.

Aku hampir akan memukul Sasuke jika dia benar mengatakannya, tapi Sasuke juga seorang yang pengecut, dia bahkan tidak berani mengatakan pada ayah dan ibu, aku sudah menduga hal ini, berapa kali pun Sasuke mengatakan jika ini tidak apa-apa, setelah berhadapan dengan ayah dan ibu, dia tidak bisa mengatakan segala hal yang sering di katakannya padaku.

Berbaring di kasurku, sejak kami sempat bertengkar, aku memang sudah tidak tidur di kamar Sasuke lagi, sekarang harus tetap tidur di kamarku sendiri.

Tidak perlu memikirkan yang lain, aku sangat menanti liburan keluarga ini, kami akhirnya akan berkumpul setelah bertahun-tahun mereka semuanya sibuk.

Pintu kamarku tiba-tiba terbuka, bergegas bangun dan melihat seseorang yang masuk tanpa mengetuk dulu, untuk apa Sasuke berada di kamarku?

"Ada apa?" Tanyaku. Bisakah dia mulai sedikit sopan? Aku sudah menjadi gadis remaja dan kamar ini menjadi bagian privasiku.

"Aku tidak bisa tenang jika tidak mengatakan yang sebenarnya, kita temui ayah dan ibu dan katakan tentang hubungan ini." Ucap Sasuke, berjalan ke arahku dan menarikku begitu saja.

"Tu-tunggu!" Ucapku dan berusaha menahannya, aku tidak mau pergi menemui mereka. "Apa yang terjadi padamu? Kau sudah benar melakukannya, apa yang perlu kau khawatirkan!" Tambahku.

Sasuke akhirnya berhenti.

"Jika tidak katakan sekarang, ayah dan ibu tidak akan mengetahuinya, aku tidak pernah menganggapmu sebagai adikku."

"Cukup Sasuke, hentikan permainan hubungan ini." Ucapku, sejujurnya aku lelah untuk merasakan takut akan pendapat ayah dan ibu, di sekolah saja mereka menganggapku aneh, bagaimana dengan ayah dan ibu?

"Kau berani membantahku?" Ucapnya dan sejenak ini membuatku takut padanya, apa dia akan memukulku lagi? Dia sudah berjanji tidak akan kasar padaku.

"Kau lupa, aku sudah kehilangan kedua orang tuaku, mungkin jika kau mengatakan apa yang sangat ingin kau katakan pada ayah dan ibu, aku akan kehilangan mereka lagi, mereka tidak akan menerimanya, Sasuke, jadi hentikan saja, anggap aku sebagai adik bagimu, itu tidak sulit." Ucapku.

Sasuke terdiam, ini bukan pilihan yang berat, kita akan memulai hubungan yang normal, aku akan berhenti memikirkan Sasuke sebagai pasangan untukku, dia adalah kakak yang baik dan penuh perhatian padaku.

"Tidak. Aku akan tetap mengatakannya." Ucap Sasuke, dia masih tetap memaksaku.

"Aku akan pergi dari rumah ini jika kau seperti in!" Ancamku.

Langkah pria ini terhenti, akhirnya, aku berhasil menghentikannya.

"Jika aku mengatakan, aku cinta padamu, kau mau mendengarkanku?" Ucapnya.

Cinta?

Ini bukan waktu yang tepat untuk mengatakan hal itu, bagaimana dia bisa menggoyahkanku untuk sekedar kata singkat itu?

"Beri aku waktu, setidaknya tunggu aku lulus terlebih dahulu, aku pikir kau sudah merencanakan hal ini, lakukan seperti apa yang sudah kau rencanakan, jangan tiba-tiba seperti ini." Ucapku.

Hentikan ini Sasuke!

Setiap langkah ini, membuatku semakin takut, aku takut jika apa yang aku pikirkan akan tanggapan ayah dan ibu akan menjadi kenyataan.

Sasuke berhenti melakukan apa yang ingin di lakukannya, pria ini menutup pintu kamarku, menarikku kembali ke kasur.

"Aku lelah, sebaiknya segera tidur." Ucapnya, tanpa mengatakan apa-apa lagi padaku, kami berbaring bersama, tidak, dia memaksaku berbaring, tempat tidurku hanya untuk seorang saja, dia memaksa untuk kami berdua tidur, tubuhnya cukup besar dan kaki pajangnya itu bergelantungan di ujung kasurku.

"Kembalilah ke kamarmu." Ucapku, berusaha mendorongnya walaupun sangat sulit.

"Aku sudah menyatakan cintaku padamu. Kenapa masih mengusirku juga?"

"Bu-bukan seperti itu! Kembali ke kamarmu." Protesku, aku tidak bisa menahan rasa maluku ini.

Sasuke tidak mengatakan apa-apa lagi, apa dia benar-benar tidur? Bahkan suara dengkuran halusnya mulai terdengar, aku tahu, dia pria pekerja keras yang akan selalu sibuk dan akhir-akhir ini sangat sibuk.

Sasuke benar-benar tertidur, dia mengatakan cintanya dengan sangat mudah, hal itu membuatku senang, tapi sedikit aneh, ada yang berbeda, sama seperti dia mengatakan suka padaku, semuanya seperti tidak benar-benar dia memikirkan perasaanku ini.

Menyamankan diri pada dekapannya, menyentuh rambut pria ini dan memainkan ujungnya, aku merindukan saat-saat kita bersama.

Dan sekali lagi, ini salah. Aku punya rencana lain, maaf Sasuke.

.

.

.

.

.

Pagi ini, meja makan yang cukup ramai, ayah, ibu, kak Itachi, kak Izuna dan juga Sasuke, aku mendapat sebuah keluarga yang jauh lebih baik, aku sampai melupakan siapa aku sebenarnya.

"Makanlah yang banyak, Sakura." Ucap ibu Mikoto padaku, hari ini bukan kak Itachi yang memasak, ibu Mikoto melakukan segalanya, kemampuan masak ibu Mikoto turun pada kak Itachi.

"Aku akan makan yang banyak." Ucapku. Bersemangat menyuapi setiap makananku.

Suasana bahagia ini hanya sebentar saja, aku lupa harus menghadapi teman-teman kelasku lagi.

Keadaan pun kembali seperti semula, Sasuke akan mengantarku, dia terus menatapku setelah melepaskan sabuk pengaman ini. A-apa aku harus menciumnya lagi? Rasanya semakin sulit melakukan hal itu.

"Pergilah." Ucapnya.

"Sungguh? Kau tidak meminta sesuatu dariku?" Tanyaku, memastikan.

"Kau mau memberikannya padaku?" Tanyanya, tatapan itu seakan tengah menggodaku.

"Ti-tidak, aku pergi." Ucapku, bergegas. Aku tidak berani lagi untuk sekedar mengecup pipinya, mengingatnya lagi, rasanya semakin malu.

Aku harus bisa melewati hari ini, ayah dan ibu akan segera merencanakan liburan bersama.

"Kau berani datang juga, Sakura."

Hari ini, jauh lebih buruk dari sebelumnya.

"Jangan menggangguku, aku sedang fokus untuk belajar." Ucapku.

"Kau ini benar-benar gadis aneh. Coba tebak, siapa yang membocorkan semua rahasiamu?"

"Aku tidak peduli." Cuek, aku sedang malas berurusan dengan mereka, jangan merusak moodku hari ini, atau aku pukul kalian semua.

"Bagaimana kau bisa percaya pada Ino? Dia tidak seperti yang kau pikirkan."

Itu adalah pemikiranku sebelumnya, aku terus beranggapan jika Ino yang membocorkannya, siapa lagi yang tahu akan asal usulku? Tapi Ino sudah membela diri, aku sangat ingin percaya padanya.

"Anggap saja aku mendengarkan kalian, puas?" Ucapku, melewati mereka, aku harus lebih tenang dan menjaga sikap, ayah dan ibu sedang berada di Konoha, aku tidak mau mereka di panggil hanya karena masalah sepeleh yang konyol.

Hanya saja, pemikiran setiap orang tidak akan sama, jika aku ingin berdamai, mereka tak tanggung-tanggung menjambak rambutku.

Tiga lawan satu adalah hal yang tidak adil, berusaha melepaskan tangan mereka dan sebuah pukulan dengan menggunakan tas mereka mengarah ke wajahku.

Itu sangat sakit! Apa yang ada di dalam tasnya? Batu?

Aku sedikit sulit untuk melawan mereka, sebelumnya aku kabur dan berhasil menemukan Sasuke, saat ini, Sasuke tidak mungkin menemukanku lagi, aku sudah tidak peduli, aku sudah bosan untuk menjaga sikap. Hari ini, akan hajar mereka semua.

Detik-detik yang terasa begitu lambat, ayunan kepalang tanganku mengarah tak tentu arah, setiap menghantam wajah atau rahang mereka, tanganku terasa hampir remuk, aku memukul mereka dengan sekuat tenaga yang aku punya, namun perkelahian ini di lihat oleh seorang guru.

"Ada apa dengan kalian! Kenapa berkelahi!" Teriak kepala sekolah. Bukan seorang guru yang memarahi kami, kepala sekolah langsung menangani masalah ini.

Wajahku cukup sakit, tapi aku sudah puas membuat karya pada wajah mereka.

"Sakura menyerang kami." Alasan mereka.

"Bagaimana aku bisa menyerang kalian, sementara aku sendirian!" Balasku.

Kami kembali ribut dan saling ingin menghantam, dua orang guru di dalam ruangan ini memisahkan kami.

"Kalian akan tetap berdiri di ruanganku. Panggil orang tua kalian!" Marah pak kepala sekolah.

siapa sangka, kami akan berkelahi di ruangan kepala sekolah, mungkin ini sebuah rekor terbaru atau kejadian langka.

Setelah Ayah dan ibu akhirnya pulang ke Konoha, kami berkumpul bersama, namun aku membuat mereka harus datang ke sekolah.

Aku merasa kekuatan kekuasaan disini, kedua orang tua mereka jauh lebih segan kepada ayah dan ibu. Sementara aku, aku tidak berani menatap mereka, satu-satunya anak di keluarga mereka yang hanya membuat malu.

Keluarga Uchiha, mungkin tidak cocok untukku.

.

.

TBC

.

.


updatee.

dan terima kasih atas review kalian, yang menyinggung dan lain-lain, hehehe, maaf jika author kurang konsisten untuk mengerjakan fic ini, idenya tertumpuk dengan ide lain, jadi susah di lanjutkan *alasan*