Jeju, 2018
Bias oranye cahaya matahari sore sudah menyambangi bumi. Deburan ombak yang semakin tinggi memberikan sinyal pada setiap makhluk yang ada disana bahwa malam akan segera menjemput. Para pengunjung pantai mulai berbondong-bondong untuk keluar dari dalam air dan bertolak ke rumah masing-masing. Para Hanyeo tampak membereskan perlengkapan mereka sembari berbagi cerita-cerita ringan mengenai keluarga atau bahkan topik-topik umum seperti resep masakan terbaru. Hasil tangkapan mereka tampak sudah rapi berjejer di sepanjang bibir pantai, siap di angkut ke tempat selanjutnya.
Singkatnya semua orang disana sudah mulai menutup hari, bersamaan dengan sang Mentari untuk Kembali ke peraduan. Gelombang air yang diperkirakan pasang lebih tinggi dari biasanya bahkan membuat mereka terburu-buru untuk segera meninggalkan area pantai. Namun tidak dengan kedua pria ber jas yang kini berdiri gagah di atas sebuah kapal kecil yang mengambang di batas cakrawala. Mata keduanya tampak kosong, menatap pada ketidakpastian. Semilir angin sore mengibarkan tatanan rambut rapih keduanya. Pria yang lebih tua tampak sesekali menyisir rambut yang sudah mulai memutih dengan jari-jarinya. Sedang yang lebih muda? Sesuatu yang lebih besar kini tengah menanti hingga ia sedikitpun tidak peduli jika angin menerbangkan seluruh rambut hitam nya.
"Masih ada waktu untuk Kembali ke daratan, nak".
Kekehan pelan lolos dari bibir yang lebih tua dibarengi sebuah tepukan pada Pundak putra kebanggaannya.
Dengusan adalah jawaban sang putra. Pria itu kemudian menggeleng sembari perlahan melepaskan dasi 250 Dollar karya Ralph Lauren yang sejak tadi menggantung di leher, kemudian dengan asal melemparkannya ke dek kapal.
"Aku tidak akan pernah siap jika terus menunda, ayah".
Dan jawaban itu cukup bagi sang ayah untuk ikut berjalan maju dan melepaskan sepatu serta jas mahal Tom Ford miliknya. Kekehan Kembali muncul sebelum pria paruh baya itu mengacak surai putra nya yang sudah tidak lagi kecil tersebut.
"Kapanpun kau siap, ayah akan menunggu dibawah".
Byur.
Kalimat terakhir yang sang ayah ucapkan sebelum pria tersebut menghilang dibalik permukaan air membuat deguban jantung si tinggi semakin tak beraturan. Pria tampan itu tidak mengira dirinya akan meragu, berbeda dengan hari itu Ketika ia akan menyelamatkan sang kekasih. Namun, ia sudah berada disini di barisan terdepan dan sudah terlambat untuk Kembali.
'Benar, aku tidak akan siap jika tidak pernah memulai'.
Dengan satu tegukan, Chanyeol menghabiskan cairan merah di botol kaca yang kini berada di genggaman. Keningnya mengernyit, merasakan rasa anyir dan pahit yang pernah ia rasakan itu.
'Satu, dua, tiga, empat, lima…', bisik Chanyeol dalam hati.
Anggukan terakhir ia berikan, sebagai jawaban dan dorongan kepada dirinya sendiri. Perlahan namun pasti, kedua kaki panjang itu melangkah ke bagian akhir kapal. Kedua mata memejam dan satu tarikan nafas panjang ia ambil.
Byur.
Tubuh tinggi itu hilang dibalik deburan ombak pasang Samudra pasifik.
Ketika ia membuka mata, Chanyeol mengira ia akan berhadapan dengan kegelapan serta keheningan sejauh mata memandang, seperti yang terakhir kali diingatnya.
Tetapi ia salah.
Alih-alih sang ayah yang tengah menanti di tengah kegelapan, Chanyeol melihat setidaknya 10 siren yang kini tengah mengelilingi sang chairman. Park Yoochun menjadi salah satunya yang kini tengah mengambang berdampingan dengan satu siren lain berekor merah yang Chanyeol tebak adalah pamannya, Raja kerajaan Atlantis.
Chanyeol mengenali trisula sang raja, kejadian saat ia bertarung secara tidak sengaja dengan raja Adriros memberikan pengetahuan baru yang hingga detik itu masih ia ingat dengan jelas. Trisula merupakan lambang kekuasaan dan kekuatan seorang penguasa lautan.
Pemandangan lain yang Chanyeol baru sadari ialah sekawanan Orca atau yang manusia kenal sebagai Killer Whale tengah berenang mengambang tepat dibelakang barisan para siren. Setidaknya ada 15 dari mereka dan sang chairman sempat tercengang selama beberapa detik melihat predator cerdas lautan itu secara dekat untuk pertama kali. Tiba-tiba ia bergidik membayangkan jika dirinya ditarik dan ditenggelamkan oleh salah satu dari mamalia raksasa itu, mengingat kini Chanyeol tengah dalam sosok lemahnya –manusia, sangat berbeda dengan hari dimana ia bertemu dengan kawanan Kreshor untuk pertama kali. Well, chairman Jetdale co itu dulunya merupakan seorang aktifis menyelam dan ia sempat tertarik dengan kehidupan dibawah permukaan air. Sehingga tidak heran jika ia masih mengingat tentang pengetahuan-pengetahuan yang pernah ia pelajari dulu.
"Kau sudah siap?".
Suara sang ayah terdengar bersamaan dengan siren paruh baya berekor merah itu berenang mendekat. Membuyarkan focus Chanyeol yang masih menatap lekat pada orca-orca yang ada disana.
Pria tampan itu berkedip beberapa saat, hampir saja ia membuka mulut untuk menjawab pertanyaan sang ayah. Sampai ia tersadar bahwa dirinya belum memiliki kemampuan untuk menjawab pertanyaan sang ayah secara verbal.
Anggukan mantap adalah jawabannya.
Perlahan, Chanyeol menjejak kakinya menuju permukaan. Melepaskan nafas yang ia tahan sejak tadi, sebelum Kembali menghirup nafas dalam dan menyelam ke tempat dimana ayahnya tengah menanti tadi. Sang chairman mengabaikan kekehan mengejek Yoochun yang seolah menertawakan kemampuan menahan nafas sang putra, pria tampan itu memilih untuk menggulirkan pandangan dan mengangguk yakin pada sang paman yang juga tengah menatapnya penuh arti.
Chanyeol tak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Hening Kembali menyapa selama beberapa detik. Sampai anggukan dari sang raja lautan menjadi tanda bagi Yoochun untuk memulai ritual mereka. Semua yang ada disana tahu, mereka harus bergerak cepat karena Chanyeol masih harus menahan nafasnya dan saat ini mereka tengah berkejaran dengan reaksi elixir of the blue wave yang sudah sang chairman tenggak.
Senyuman penuh wibawa merekah di wajah tampan sang ayah, sebelum pria itu mengulurkan tangannya yang tengah menggenggam kalung dengan ruby merah berbentuk hati.
Kedua mata kelinci tersebut memejam, memantapkan diri untuk terakhir kali sebelum tangannya terulur. Menggenggam tangan sang ayah dengan yakin.
Perlahan suara cicitan dan clicking para orca terdengar bersautan, diikuti dengan para siren yang mulai merapalkan kalimat-kalimat dalam Bahasa yang Chanyeol tidak ketahui. Well, pria tampan itu bisa dibilang menguasai lebih dari lima Bahasa. Namun tak sekalipun dalam hidupnya ia pernah mendengar dan memahami kalimat yang tengah ditangkap oleh indera pendengarnya kini. Sehingga yang bisa dia lakukan hanya focus menatap mata sang ayah yang mulai menyala merah.
Chanyeol menjengit kaget Ketika ia merasakan ibu jari kakinya seolah ditusuk dengan sebuah besi panas, ia sempat menoleh kebawah dengan panik takut kalau-kalau sebuah hewan tak diinginkan menyakiti dirinya ditengah ritual.
Namun nihil, tiada apa-apa dibawah sana dan hanya ada kedua kaki panjang yang bergerak-gerak untuk berusaha mengambang.
Rasa panas yang dimulai dari tusukan besi pada ujung ibu jari kakinya tersebut perlahan merambat naik, menjalar menaiki kedua kaki Chanyeol hingga ke pinggang. Tubuh besar yang awalnya mengambang dengan tenang itu kini mulai bergerak-gerak gelisah, rasa panas itu tak berhenti dan semakin naik seolah membakar hati dan jantungnya dari dalam.
Genggaman sang ayah semakin erat bersamaan dengan rasa panas itu ia rasakan. Chanyeol mulai mengerang kesakitan, kedua mata terbuka lebar dengan cahaya merah yang perlahan merambat naik memenuhi seluruh permukaan iris sang chairman. Bersamaan dengan sang ayah yang menyaksikan kejadian itu, Chanyeol juga tengah melihat bagaimana cahaya merah perlahan-lahan surut dan menghilang dari kedua mata Yoochun. Seolah seluruh kekuatan pangeran Atlantis itu kini tengah di hisap habis oleh tubuh Chanyeol.
"prínkipas* Caladore!", teriakan lantang dari sang raja terdengar bersamaan dengan trisulanya terangkat tinggi. Disurul dengan ledakan petir yang menggelegar di langit sore.
"prínkipas* Caladore!"
"prínkipas* Caladore!"
Gaungan teriakan itu terus terdengar bersautan dari para siren yang ada disana, bersamaan dengan kedua cahaya merah yang mulai menelan tubuh tinggi sang chairman. Kedua mata Chanyeol membola melihat bagaimana kakinya perlahan dirambati sisik-sisik merah diikuti dengan rasa sakit seolah seluruh tulangnya dipatahkan satu persatu.
Semuanya kejadian di sekelilingnya berkilat cepat bak kilasan-kilasan kaset rusak. Perlahan semua memori-memori penting dalam kehidupan sang chairman berenang-renang didepan matanya. Semuanya sejak ia kecil hingga kilasan terakhir Ketika ia melihat Baekhyunnya tengah terbujur kaku di rumah sakit. Deburan ingatan itu membuat Chanyeol merasa seolah dirinya kini berada di ujung kehidupan.
'Apakah aku akan mati?', batinnya.
Chanyeol seumur hidup tak pernah merasakan rasa sakit yang amat luar biasa hingga hari itu. Tubuhnya seolah dibakar dengan semua tulang-tulang kakinya yang bergemeletuk dipatahkan satu persatu. Ia bukanlah pria lemah sungguh, namun rasa sakit yang ia rasakan kini bukanlah rasa sakit normal yang bisa ditahan oleh manusia.
Waktu berjalan amat lambat seolah dirinya merupakan criminal yang tengah dihujam dengan ribuan hukuman sadis, tiap detik berlalu Chanyeol merasakan rasa sakit yang tiada henti seperti tiap inci tubuhnya mendapatkan pelakuan yang sama tak terkecuali. Setiap jengkal dari tubuh tinggi itu merasakan sakit tanpa ada yang terlewati.
Detik yang melangkah pada jam rolex yang kini ia kenakan seolah melambat. Seperti dirinya ditarik masuk pada dimensi lain dimana waktu berjalan puluhan jam lebih lambat dibanding dimensi sebelumnya. Dan semakin lama waktu berjalan, semakin meningkat pula rasa sakit yang ia rasakan.
Sedikitpun tak mengizinkan Chanyeol untuk menarik nafas dan beristirahat.
DUAR!
Sampai sebuah ledakan yang amat keras pecah diatas langit bersamaan dengan bagian tubuh terakhir sang Chairman perlahan dilahap oleh cahaya merah. Panasnya api yang merambat naik dari leher dan kepalanya membuat sang chairman menggeram dan berteriak.
Teriakan yang amat keras sebelum cahaya merah itu redup.
Suara-suara dari para siren dan orca kini tak lagi terdengar, digantikan dengan suasana hening dan deguban jantung dari Park Chanyeol yang berusaha keras menahan kesadarannya.
Semua yang ada disana tampak tegang, menyaksikan bagaimana tubuh berbalut kemeja putih itu kini sudah berubah sepenuhnya. Menampakkan tubuh gagah berotot dengan ekor merah panjang yang kuat.
"Hérete prínkipas* Caladore", Ucapan tenang sang raja menjadi aba-aba bagi seluruh makhluk yang ada disana untuk memberikan salam hormat pada sang pangeran yang kini berada di ambang kesadaran.
Semua makhluk yang ada disana, tak terkecuali, tercengang melihat bagaimana dahsyat rasa sakit yang dirasakan oleh Chanyeol dalam proses perubahannya. Menarik keluar seluruh perasaan kagum dan hormat pada keturunan langsung kerajaan Alantis yang akhirnya bergabung dengan mereka.
Satu persatu, dimulai dari siren berekor hijau disamping sang raja mereka menundukkan kepala dalam diikuti kawanan para orca dibelakang sana yang kini menaikkan ekor dengan bangga keatas.
Menyambut sang pangeran yang kini sudah berada di antara mereka.
"prínkipas* Caladore!", bisikan pelan Park Yoochun terdengar, bersamaan dengan senyuman penuh kasih dari sang ayah.
Menjadi pengantar Chanyeol memasuki kegelapan tak berujung yang merenggut seluruh kesadarannya.
*prínkipas: Pangeran dalam Bahasa Yunani.
*Hérete: Ucapan salam (Hai) dalam Bahasa Yunani.
.
.
Heart of The Ocean
.
.
Chapter 21
.
Do not Copy, Edit and Repost
Seoul 2018
"Yang mulia, kemarilah".
Suara pelan Jongdae memecahkan semilir angin sore yang tengah berhembus. Di ujung danau, sebuah ekor biru tampak mengapung di permukaan dengan sosok mengagumkan sang pangeran yang tengah terduduk lesu dengan Mutiara-mutiara hitam disekelilingnya.
Baekhyun tengah menangis.
Jongdae menyadari hal itu di hari kedua sejak sang chairman tiba-tiba pergi dan tidak kunjung Kembali hingga detik ini. Lima hari sudah berlalu, semua yang ada di mansion tanpa terkecuali tengah panik dan bertanya-tanya mengenai keberadaan sang chairman. Pria itu tidak ditemani para abdinya meninggalkan Mansion mengendari Aston Martinya dengan kecepatan tinggi dan tak kunjung Kembali. Setiap kepala yang ada disana mengingat jelas bagaimana Chanyeol dengan penuh amarah meninggalkan mansion setelah perselisihannya dengan Lucas.
Terutama si biru, yang pada saat itu bisa melihat bagaimana kilatan penuh emosi memenuhi kedua iris sang chairman. Mengingatkannya akan hari dimana Chanyeol mengatahui bahwa Baekhyun menjadi salah satu dari siren yang melahap bagian tubuh Eva.
Hingga saat ini, Baekhyun masih saja bergidik jika mengingat bagaimana Chanyeol memperlakukannya hari itu. Meskipun pria tampan itu sudah beribu kali mengucapkan maafnya, namun rasa sakit dan takut itu seolah berbekas di hati si biru. Sungguh ia sudah berusaha.
Sebisa mungkin Baekhyun berusaha melupakan kejadian itu dan melihat bagaimana perjuangan Chanyeol untuk menyelamatkannya membuat hati si biru luluh. Namun, melihat bagaimana amarah dan emosi itu menari-nari di mata gelap sang chairman akibat perbuatan Lucas Kembali membawa Baekhyun pada rasa sakit yang berusaha ia lupakan.
"Ayolah yang mulia, saya akan menyisir rambut anda", suara Jongdae Kembali terdengar. Berusaha menarik perhatian si biru yang masih bergeming di tempatnya sejak tadi siang.
Siren biru itu tidak bergerak, tidak berbicara. Ia hanya terdiam disana bak patung dan membiarkan ekornya bergoyang-goyang dibawa oleh arus ombak buatan. Siapapun yang tidak mengenal Baekhyun dan mengetahui keberadaannya pastilah mengira siren biru tersebut merupakan sebuah patung lilin.
Helaan nafas pelan terlihat, sebelum tubuh mungil itu perlahan masuk kedalam air dan berenang ke sisian lain danau dimana Jongdae tengah menanti. Senyuman penuh arti terkembang di wajah tampan sang kepala pelayan melihat sikap lesu sang pangeran.
"Tuan besar akan segera Kembali, yang mulia", kalimat itu Kembali terdengar dari mulut sang kepala pelayan. Menyambut Baekhyun yang kini menyandarkan kepalanya pada pada berlapis handuk milik Jongdae. Tubuh mungil dan ekor itu masih berada didalam air.
Baekhyun hanya terdiam, tidak repot-repot membalas ucapan Jongdae. Mood nya sungguh tidak bagus dan ia sama sekali tidak ingin berurusan dengan siapapun. Setidaknya sampai Chanyeol Kembali.
Perlahan, Jongdae mengambil botol berisi cairan pembersih rambut dan menyemprotkannya pada surai biru tersebut dengan telaten. Sesekali ia akan mengusapkan jarinya pada surai sang pangeran untuk meratakan cairan tersebut.
Sejak Baekhyun masih dalam sosok sirennya untuk tahap penyembuhan, Jongdae adalah yang bertugas untuk merawat sang pangeran. Seperti membersihkan rambut, menggosok gigi, merawat wajahnya, memotong kuku si biru, serta hal lain yang tidak bisa Baekhyun lakukan sendiri dalam sosok sirennya.
Well, atau sebenarnya ia bisa namun Chanyeol tidak ingin kekasihnya yang baru sembuh itu harus melakukan hal-hal berat dan Jongdae yang memang hobi memanjakan sang pangeran seperti seorang bayi.
"Jongdae-ya, apakah menurutmu Chanyeollie membenciku sekarang?", lirih Baekhyun. Menarik atensi sang kepala pelayan yang kini tengah perlahan menyisir surai nya dengan hati-hati.
"Tentu saja tidak yang mulia. Mungkin saja tuan besar memiliki urusan mendadak di luar negeri?".
Bibir merah menggemaskan itu perlahan mengerucut, dengan genangan air mata yang sudah memenuhi pelupuk mata.
"Tapi, Chanyeollie tidak pernah pergi bekerja tanpa pamit".
"Oh yang mulia, saya yakin tuan besar akan segera Kembali. Bagaimanapun dan apapun yang terjadi, yang mulia harus selalu percaya bahwa tuan besar amat mencintai anda. Setidaknya setiap anda mulai meragu, ingatlah bagaimana ia hampir menguras habis darah nya hanya untuk menyelamatkan anda", Jongdae terkekeh perlahan. Tangannya tak berhenti menyisir surai Baekhyun dan mengusapnya dengan sayang sesekali.
Baekhyun tidak menjawab namun isakan pelannya terdengar diikuti butiran-butiran Mutiara yang jatuh mengambang pada permukaan danau.
"Yang mulia, jika anda terus menangis saya yakin setelah ini saya bisa membeli mobil keluaran terbaru dengan Mutiara-mutiara anda".
Si biru hanya menggeleng, berusaha menahan kikikan yang tiba-tiba muncul disela tangisan akibat candaan Jongdae.
"Kumohon berbahagialah sampai tuan besar Kembali yang mulia. Anda tidak ingin melihat Tuan Muda Jackson juga bersedih karena anda menangis bukan? Saya yakin Tuan muda amat membutuhkan anda untuk menghiburnya yang mulia".
Tampaknya, ucapan Jongdae itu mampu menarik perhatian Baekhyun sepenuhnya hingga si biru perlahan mendongak dan menyandarkan dagu pada paha sang pelayan. Matanya yang masih berkaca-kaca membuat si biru tampak sangat menggemaskan.
"Apakah aku seorang papa yang buruk Jongdae?".
"Tsk, saya tidak pernah berkata begitu yang mulia", satu sentilan pada hidung diberikan oleh Jongdae pada bayi besarnya yang berekor biru tersebut. "Aku hanya berkata bahwa anda bisa menghibur diri dengan bermain bersama tuan muda sampai tuan besar Kembali".
Bibir merah Baekhyun Kembali mengerucut sebelum pangeran Vriryn itu mengangguk setuju dengan ucapan Jongdae.
Benar, Baekhyun hampir saja lupa bahwa kini ia memiliki Jackson yang juga membutuhkan perhatiannya terlebih Ketika Chanyeol tengah absen. Perlahan rasa sesal menyusup karena beberapa hari ini ia lebih sibuk merenung dibanding bermain dengan Jackson dan menghibur si kecil yang sudah pasti juga merindukan kehadiran ayahnya yang lain.
"Terimakasih Jongdae, aku…"
"Kepala pelayan Kim! Tuan besar…Oh astaga maafkan saya!".
Pekikan seorang wanita dengan tidak sopan memutus ucapan Baekhyun, membuat keduanya menoleh menatap seorang pelayan yang kini tengah membalikkan badan sembari menunduk dalam. Benar, meskipun Chanyeol tidak ada di rumah, aturan tetap aturan dan tetap gawat hukumnya jika mereka berani menatap langsung pada sosok siren Baekhyun.
"Katakan pelayan Kang, apa yang terjadi hingga kau berlarian seperti itu?".
"Maafkan saya Kepala Pelayan Kim, tetapi Tuan besar…", wanita itu terdiam sesaat untuk mengatur nafasnya yang tersengal.
"Apa yang terjadi pada Chanyeol?", kali ini adalah suara Baekhyun yang terdengar panik dan penasaran disaat bersamaan.
"Maafkan saya Tuan, Tuan besar sudah Kembali".
Bersamaan dengan kalimat itu terucap, sebuah siluet hitam perlahan tampak dari kejauan dan tengah berjalan mendekati mereka. Baekkhyun menyipitkan mata, dan benar saja, disana sang kekasih tengah berjalan yakin kearah mereka.
Meskipun dari jarak yang lumayan jauh, Baekhyun bisa menangkap beberapa perubahan yang belum ia yakini benar. Dan semakin Langkah itu mendekat semakin jelas mata biru sang siren melihat sosok sang kekasih yang terlihat berbeda.
"Apakah benar itu tuan besar?", adalah suara Jongdae yang kini perlahan berdiri sebelum membungkukkan badan sebagai salam.
Chanyeol berubah dan Baekhyun bisa melihat perbedaan itu dengan jelas kini.
Rambut selegam arangnya yang beberapa waktu lalu baru saja di cat kini menghilang sepenuhnya. Digantikan surai blonde yang menawan. Kedua mata gelap yang selalu menjadi kesukaan Baekhyun kini entah berada dimana, membuat Baekhyun alih-alih menatap sepasang manik merah menyala yang amat mengagumkan.
Deg
Pekikan kecil lolos dari bibir si biru bersamaan dengan kesadaran yang menghujamnya bak salju di musim panas.
Chanyeol sudah menyelesaikan ritualnya.
Tap
Tap
Tap
Langkah demi Langkah yang mengiringi sang chairman membuat deguban jantung Baekhyun semakin menggila. Ditambah bagaimana senyuman tampan itu terkembang di bibir sang chairman. Membuat Baekhyun jatuh cinta untuk kesekian kalinya.
"Chan…"
BYUR
Tanpa ba bi bu, tubuh tinggi itu melewati Jongdae dan melompat masuk kedalam air. Menghilang beberapa saat dibalik permukaan air dan yang keluar dari sana selanjutnya merupakan sosok siren berambut merah dengan ekor dan mata merah yang mengagumkan.
Sosok yang amat sangat Baekhyun rindukan.
Kedua iris biru itu berkaca-kaca, menatap sosok luar biasa yang kini berada sekitar tiga meter dihadapannya. Perlahan, Baekhyun berenang mendekati sosok itu yang kini tengah menanti dirinya dengan tangan terbuka lebar.
Hal pertama yang Baekhyun lakukan adalah menyentuh hati-hati pipi sang chairman yang kini dihiasi beberapa sisik merah. Menambah puluhan persen kadar ketampanannya.
"Chan, apa yang terjadi?", Bisik Baekhyun.
Chanyeol memejamkan mata, merasakan sentuhan lembut sang kekasih yang beberapa hari ini ia rindukan.
"Maafkan aku karena pergi tanpa memberitahumu, sayang. Sesuatu terjadi sehingga aku harus tinggal beberapa saat di Atlantis untuk menyempurnakan perubahanku".
"Oh tidak! Apa yang terjadi? Apa kau baik-baik saja?", ujar si biru panik sembari sesekali mengecek tubuh Chanyeol, mencari-cari bagian yang mungkin terluka.
"Aku baik-baik saja sekarang sayang", satu kecupan sayang Chanyeol berikan pada kening si biru. Menyalurkan seluruh perasaan yang membuncah didalam dada.
"Kenapa… Kenapa kau tak mengatakan padaku soal ini? Aku bisa menemanimu Chan".
"Aku tidak bisa menunda lagi sayang dan aku tidak ingin kau ikut. Kau masih harus memulihkan kesehatanmu".
"Tapi…"
"Shht, yang terpenting aku ada disini sekarang kan?", Sang chairman perlahan mengusap pipi si biru dengan penuh kasih. "Aku mencintaimu Aereviane".
Isakan kecil lolos dari bibir Baekhyun, sebelum surai biru itu mengangguk.
"Aku juga mencintaimu, Chanyeol".
"Panggil aku Caladore, Aereviane".
Kilatan senang berkelebat di mata biru sang siren. Membuat ratusan bintang di langit merasa rendah diri karenanya. Senyuman manis terkembang, bibir merah itu menampakkan emosi Bahagia yang tulus. Amat tulus hingga jantung Chanyeol bergetar karenanya.
"Aku mencintaimu, Caladore".
Dan kalimat itu menjadi yang terakhir sebelum bibir merah sang siren diraup dengan penuh kasih dalam ciuman memabukkan yang diberikan sang chairman.
Kedua bibir merah itu saling memangut, menyalurkan seluruh rasa rindu dan cinta yang mereka tahan selama beberapa hari. Lengan kurus Baekhyun terulur untuk memeluk erat leher kokoh sang kekasih, memperdalam ciuman keduanya.
"Yang mulia…".
Hingga suara berat itu terdengar dari sisi lain danau. Sosok Lucas yang terlihat baru saja bangun dari istirahatnya tampak kaget melihat sosok biru Baekhyun yang kini berada dalam dekapan sosok siren merah yang ia yakin pernah dilihatnya entah dimana.
Tampaknya suara berat itu dianggap cukup mengganggu hingga dua sosok pangeran itu melepaskan pangutan mereka. Mata biru Baekhyun melebar melihat Lucas, sesuatu dalam dirinya berteriak akibat rasa tidak enak yang tiba-tiba muncul entah kenapa saat Chanyeol berbalik kearah suara.
Perasaan itu semakin tidak nyaman dan tidak nyaman ketika rasa cinta yang tadinya bersemayam pada iris merah tersebut hilang, digantikan amarah yang membara bak kobaran api di musim panas.
Melahap habis segala yang dilewati dan dilihatnya.
"Lucas…", Geram Chanyeol yang kini berenang mendekat.
Siren hijau yang kini menyadari siapa siren merah tersebut nampak mematung. Seluruh badannya kaku tak bergerak sembari irisnya masih terpaku pada sosok merah yang kini melesat kearahnya bak meteor.
GREP.
Dalam sekali ayunan, Chanyeol mengulurkan tangannya dan mencengkram leher si siren hijau. Kedua mata merah itu menyala terang bersamaan dengan aliran rasa panas yang Lucas rasakan mulai menjalar ke sekujur tubuh.
Seolah dirinya tengah dibakar dari dalam.
"Katakan… Katakan semua omong kosongmu kemarin saat aku sudah di air kini, Lucas", geraman Chanyeol terdengar dingin dan menyeramkan.
Membuat Jongdae dan Baekhyun bergidik di tempatnya.
Sesekali Jongdae melemparkan tatapan panik pada Baekhyun yang seolah dibekukan dan tak bisa bergerak.
"Y…yang mulia…", Lucas terbata. Rasa panas yang terpusat pada kerongkongannya kini semakin terasa mencekik membuatnya tak sanggup bernafas.
"Yang mulia huh? Kemana sikap aroganmu kemarin pergi?", tanpa sadar cengkraman Chanyeol pada leher Lucas mengerat. Membuat siren hijau itu terbatuk-batuk.
Sedikit lagi Chanyeol mengeluarkan kekuatannya dan saat itulah Lucas akan tamat.
Hal itu sepertinya menyadarkan Baekhyun dan membuat si biru mulai berenang dengan cepat mendekati keduanya.
"Hentikan, kumohon hentikan Chan", Bisik Baekhyun. Kedua lengannya kini melingkar sempurna pada pinggang si merah dari belakang. Sesekali jemari lentik itu memberikan usapan sayang pada dada dan perut berotot sang kekasih untuk menenangkannya.
"Kumohon Chan, lepaskan dia", isak Baekhyun untuk terakhir kali.
Sepertinya ucapan itu cukup, hingga perlahan cahaya merah yang bersinar keluar dari mata Chanyeol menghilang dan cengkramannya pada leher Lucas melonggar.
Chanyeol menghempaskan siren hijau yang sudah amat menyedihkan tersebut dan berbalik. Memberikan pelukan erat pada tubuh mungil sang kekasih yang kini bergetar ketakutan.
"Maaf, maafkan aku sayang", bisik Chanyeol.
Baekhyun hanya mengangguk sembari membenamkan wajahnya pada dada sang kekasih.
"B…beri hormat", lirih Lucas yang kini berusaha menegakkan badannya. "Beri hormat pada yang mulia pangeran Caladore".
Bersamaan dengan itu, Lucas membungkuk dalam. Menjatuhkan seluruh sikap arogan dan penyesalannya, diikuti Jongdae yang dari kejauhan berdiri sembari membungkuk hormat. Begitupun dengan sang paus beluga –Belle, yang entah sejak kapan menyembul ke permukaan dan menundukkan kepala sebagai tanda hormat pada sang siren merah.
Satu kecupan sayang Chanyeol berikan pada puncak kepala si biru, sebelum mengeratkan pelukan dan matanya menatap tajam pada Lucas dihadapannya.
Yang tidak Lucas ketahui, adalah siren merah itu kini tengah tersenyum simpul penuh arti kearahnya.
Heart of The Ocean
"Setelah hilang selama beberapa minggu, pimpinan Jetdale Co, Chairman Park Chanyeol tampak menghadiri red carpet acara pembukaan cabang hotel terbaru di Gangnam pagi ini. Terlihat tampan seperti biasa dengan setelan jas seharga 3000 Dollar milik Valentino, Chairman Park tampak sudah berdiri tegak setelah kejadian beberapa waktu lalu. Penampilan terbarunya kini menjadi sorotan seluruh warga internet. Dengan model rambut baru berwarna blonde dan lensa kontak berwarna merah menyala, Kekasih tuan Park Baekhyun ini siap mencuri hati siapapun yang melihatnya. Saya Son Wendy melaporkan".
Baekhyun terkikik manis sembari menatap pada I-pad keluaran terbaru yang berada di genggamannya. Sejak pagi, Baekhyun menghabiskan waktunya bergumul dengan benda kotak tersebut sejak Chanyeol pergi bekerja.
Pagi ini, secara tiba-tiba sebuah benda yang Baekhyun tidak ketahui apa rusak. Jongdae bilang benda itu merupakan pengatur sirkulasi air yang si biru tak pahami apa maksudnya. Sehingga dengan segera, Baekhyun, Belle dan Lucas harus keluar dari sana karena sirkulasi air yang terhenti akan berbahaya.
Belle dan Lucas sudah dipindahkan pada kolam kecil yang Jongdae sebut sebagai Med Pool. Baekhyun mengenali kolam itu sebagai kolam tempat Belle menimbang berat badan dan bertemu dengan dokternya untuk cek rutin Kesehatan. Namun, Med pool tersebut hanya bisa menampung Belle dan Lucas. Jika Baekhyun juga berada disana maka tidak akan ada ruang lebih bagi mereka bergerak.
Sehingga Jongdae memutuskan untuk meletakkan Baekhyun pada kolam plastic bulat milik Jackson yang biasa digunakan untuk mandi bola sampai reparasi selesai.
Sehingga disinilah Baekhyun berada. Dibawah sebuah pohon besar, tubuhnya menyandar nyaman pada pingiran kolam plastic yang empuk dengan separuh ekor menjulur keluar karena ukurannya yang lebih besar dan panjang. Meskipun begitu, beberapa kali Baekhyun meyakinkan Jongdae bahwa ia merasa nyaman dan baik-baik saja.
Kedua mata biru tersebut dibingkai kacamata hitam mahal karya Fendi, sembari jemari lentiknya sibuk bergerak-gerak diatas layar I-Pad. Ia sedikitpun tidak merasa terganggu meskipun cahaya matahari tengah bersinar terik diatas sana.
Sesekali tangan Baekhyun terulur untuk menyesap jus strawberry kesukaannya.
Melihat itu, Jongdae akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Baekhyun sendiri dan mengecek perkembangan reparasi danau. Ia meminta semua orang bekerja dengan cepat sebelum tuan besar Kembali dan mereka semua akan berada dalam masalah karenanya.
Namun sepertinya hari itu bukanlah hari keberuntungan Jongdae, karena baru saja ia mengomeli salah satu staff reparasi danau. Para pelayan sudah mulai memekik heboh dan mengatakan bahwa mobil tuan besar sudah melewati gerbang utama yang berarti, Chanyeol akan tiba dan melihat keadaan danau setelah ini.
Dengan tergesa-gesa, Jongdae berlari meninggalkan bagian belakang danau untuk menghampiri Baekhyun dan mungkin memindahkan si biru ke kolam lain sebelum terlambat. Namun tidak.
Tuan Park dan kaki panjangnya sudah tiba terlebih dahulu dan tengah menatap kaget kearah sang kekasih yang berada di dalam kolam plastic.
Kedua matanya membola dan Jongdae bersumpah melihat asap mengepul keluar dari kepala sang chairman akibar amarah.
'Mati aku', batin Jongdae.
"Ya Tuhan! Baekhyun apa yang terjadi?", sang chairman tampak panik berjalan cepat menghampiri sang kekasih yang kini menurunkan kacamata hitamnya untuk melihat lebih jelas kearah si tinggi.
"Chan? Kau sudah pulang?".
"Baekhyun apa yang kau lakukan disini? Kenapa kau tidak berada didalam danau?". Kedua lutut itu menekuk untuk mensejajarkan tinggi dengan Baekhyun yang berada di kolam.
Si biru hanya terkikik lalu meletakkan I-Padnya. Satu tangan terulur untuk mengusap sayang pipi sang chairman.
"Jongdae bilang ada alat yang rusak dari danau, sehingga kami harus segera keluar. Jangan khawatir Channie, Belle dan Lucas sudah dipindahkan ke Med Pool. Tetapi kolamnya terlalu kecil untuk kami bertiga. Jadi Jongdae meletakkanku disini sampai reparasinya selesai".
"Ap…Apa? bagaimana…", Chanyeol memejamkan mata selama beberapa saat sebelum kemudian beranjak berdiri dan berteriak lantang memanggil nama Jongdae.
'Tamat, benar-benar tamat'. Batin Jongdae yang kini berjalan menunduk menghampiri keduanya.
.
"Baby kau benar tidak apa-apa kan? Apakah ada bagian tubuhmu yang sakit atau tidak nyaman?", ujar Chanyeol sembari mengusap lengan dan punggung Baekhyun.
Setelah puas mengomeli Jongdae, Chanyeol dengan sigap menggendong Baekhyun dan membawa si biru ke kolam yang berada di lantai 3. Kini keduanya tengah berenang-renang didalam Indoor pool tersebut dengan Chanyeol yang sudah berubah menjadi sosok siren nya.
Sang chairman merasa amat senang karena kini bisa menemani Baekhyun dimanapun ia berada tanpa perbedaan yang membatasi keduanya.
"Aku baik-baik saja Chan, lagipula disana cukup nyaman", Kikik Baekhyun.
Suaranya amat manis dibarengi dengan lengkungan bulan sabit dari kedua mata kecilnya.
"Akan ku pastikan hal seperti itu tidak terjadi lagi sayang", Chanyeol menghela nafasnya sebelum membubuhkan satu kecupan sayang pada kening Baekhyun. Kedua ekor berbeda warna itu tampak mengait, seperti keduanya saling mempererat dekapan satu sama lain.
"Bagaimana hari mu mm? Apakah semuanya baik-baik saja?", perlahan Baekhyun mendongak dan menyandarkan kepala pada Pundak kokoh Chanyeol. Satu tangannya dengan lembut mengusap-usap dada berotot sang chairman.
"Lumayan, orang-orang kaget melihat mata dan rambutku", kekehan lolos dari bibir Chanyeol sebelum siren merah itu melanjutkan. "Mereka kira aku menggunakan lensa kontak. Entah berapa lama sampai mereka menyadari bahwa ini bukan lensa kontak".
Usapan sayang Baekhyun berikan pada surai dan pipi sang kekasih membuat Chanyeol memejamkan mata merasakan gestur kasih sayang yang amat ia rindukan tersebut.
"Lebih baik kau mulai memakai kacamata Chan, hanya untuk berhati-hati".
Sejenak Chanyeol nampak berfikir sebelum akhirnya mengangguk, menyetujui usulan sang kekasih.
Hening menemani mereka selama beberapa saat. Chanyeol sesekali akan memberikan ciuman pada kening dan puncak kepala Baekhyun, sedang si biru tampak asik memainkan jemari-jemari panjang milik sang kekasih.
"Apa saja yang kau lakukan selama aku pergi hm?", bisik Chanyeol. Memutuskan untuk menjadi yang pertama memecahkan keheningan diantara mereka.
"Umm, tidak banyak. Aku mengkhawatirkanmu, aku takut… Kau meninggalkanku lagi seperti malam itu", Chanyeol mengernyitkan kening menyadari bagaimana sang kekasih melirihkan kata-katanya di akhir. Sebersit rasa bersalah Kembali muncul ke permukaan mendengar ucapan si biru.
"Maaf, aku tidak bermaksud pergi begitu saja. Hanya kejadian hari itu dengan Lucas membuatku yakin bahwa sudah saatnya aku berhenti menunda-nunda", tangan kokoh itu terulur, berusaha menangkup pipi Baekhyun.
Namun sungguh apa yang Baekhyun lakukan membuat dada Chanyeol mencelos.
Untuk pertama kali, Baekhyun mundur dan menjengit takut ketika Chanyeol mengulurkan tangan kearahnya.
Gestur itu menyakiti hati sang chairman lebih dari apapun.
'Apakah aku membuatnya takut?'.
"Baby…", bisik Chanyeol.
Baekhyun hanya menunduk, tidak tahu harus berbuat apa karena ia sadar atas sikap yang barusan dilakukannya tanpa sadar tentu melukai perasaan Chanyeol.
"Baby, lihat aku…", Suara berat itu tersendat. Beberapa saat sebelum akhirnya ia menarik nafas dalam ketika kedua manik Baekhyun kini menatap balik kearahnya. Ketakutan dan rasa bersalah berenang-renang di lautan biru itu.
"Apakah…Apakah kau takut kepadaku?".
Setetes air mata turun, mengaliri pipi mulus Baekhyun dan jatuh ke dalam air dalam sebentuk Mutiara hitam. Si biru menggeleng perlahan kemudian menunduk, menyembunyikan tangisannya.
"Aku… Aku masih secara tidak sadar teringat akan kejadian hari itu. Aku… Maafkan aku Chan", isak Baekhyun.
"Baby…".
"Demi dewa, aku sudah berusaha melupakan segalanya… Aku sudah memaafkanmu Channie. Tetapi terkadang ingatan itu akan Kembali terlebih sejak kau menghilang hari itu setelah pertengkaranmu dengan Lucas. Aku takut kau akan menghilang dan membenciku seperti hari itu. Sungguh aku tidak bermaksud bersikap begitu…".
"Tidak, Baekhyun dengarkan aku…", Untuk kesekian kalinya Chanyeol menghela nafas sebelum dengan amat perlahan dan hati-hati menangkup pipi sang kekasih. Membuat iris biru itu berhadapan dengan iris merahnya.
"Maafkan aku, maafkan aku yang sudah pernah menyakitimu. Sungguh aku mengerti kenapa kau bersikap seperti itu dan aku tidak menyalahkanmu. Aku adalah si brengsek yang menjadi sebab dari semuanya. Karena itu baby, aku bersumpah. Aku bersumpah atas segala nama dewa bahwa aku tidak akan pernah lagi menyakitimu dengan tanganku", jeda sejenak. Chanyeol mengusap sayang pipi Baekhyun. Matanya menyelami dalam lautan biru Baekhyun, menyampaikan segala pesan cinta dan penyesalannya disana. "Aku amat sangat mencintaimu, Baekhyun. Kumohon, berikan aku kesempatan untuk membuktikannya".
Lidah terasa kelu, si biru tak sanggup mengucap sebait kata. Ia bisa dengan jelas melihat cinta yang Chanyeol berikan padanya, tak hanya dari tatapan mata melainkan dari segala yang sudah sang chairman korbankan untuknya.
Baekhyun sudah pernah merasakan betapa sakitnya efek yang dirasakan ketika kau berubah menjadi seekor manusia dan siren disaat bersamaan. Betapa menyiksa setiap detik yang dilalui ketika kekuatan batu Heart of The Ocean mengaliri seluruh tubuhmu.
Tetapi Chanyeol melalui itu semua untuk dirinya.
Chanyeol memberikan seluruh darahnya untuk menyelamatkan Baekhyun hingga ia tak mampu berdiri tegak diatas kedua kaki kokohnya.
Dan Baekhyun tak butuh lagi bukti lain untuk Chanyeol menunjukkan rasa cintanya. Karena semua yang Chanyeol lakukan sudah lebih dari porsi yang seharusnya.
"Kiss me, Chanyeollie", bisik Baekhyun dengan suaranya yang bergetar.
Dan mencium Baekhyun dengan dalam dan penuh cinta adalah yang dilakukan Chanyeol.
Heart of The Ocean
Sinar matahari pagi sudah amat menyengat ketika Chanyeol terbangun dari tidurnya. Pria tampan itu tidak bisa menemukan Baekhyun dimana-mana sejak kedua irisnya terbuka. Seperti de javu, sang chairman perlahan mengernyit karena kejanggalan tersebut. Karena yah, Baekhyun tidak pernah meninggalkan kaca tepat dihadapan kamar sang chairman. Si biru sangat hafal diluar kepala waktu-waktu kekasih tampannya terbangun, sehingga bahkan sebelum sang chairman membuka mata kekasih manis birunya tersebut sudah berada disana. Perlahan Chanyeol berdiri dan berjalan mendekat kearah kaca. Berusaha menemukan alasan mengapa Baekhyun tidak ada disana untuk menyapa.
Alih-alih Baekhyun, hal pertama yang ia dapati adalah Belle yang tengah berenang-renang sembari memutar-mutar tubuhnya bak sebuah roket. Chanyeol terkekeh melihat tingkah lucu sang paus sebelum akhirnya memutuskan untuk mengetuk kaca tebal tersebut, menarik perhatian Belle yang kini berenang mendekat dan mengambang tepat di hadapan sang chairman.
Perlahan tangan Chanyeol mengepal, jari telunjuknya ia acungkan keatas dan jari tengahnya lurus sejajar 90 derajat. Membentuk huruf P dalam Bahasa isyarat. Kemudian ia menarik kepalan tangan itu dari Pundak kanannya turun menyerong hingga pinggang kiri sang chairman. Bahasa Isyarat yang berarti 'pangeran' itu biasa Chanyeol gunakan untuk bertanya pada Belle dimana keberadaan Baekhyun.
Dan sang beluga yang memang cerdas serta memahami lebih dari 100 bahasa isyarat itu langsung bisa menangkap maksud sang chairman. Belle memiringkan kepalanya, kemudian mengangguk-angguk dan berenang keatas permukaan untuk sesaat, kemudian paus putih tersebut kembali menyelam dan mengapung dihadapan Chanyeol. Seolah memberi petunjuk pada sang chairman bahwa sang pangeran tengah berada di permukaan.
Senyuman terkembang di wajah Chanyeol, sebelum pria tampan itu bergerak menempelkan telapak tangannya pada bibir dan menjauhkannya dari bibir yang berarti 'terimakasih' dalam Bahasa isyarat.
Cicitan Belle terdengar nyaring bahkan dari balik kaca, membuat Chanyeol terkekeh untuk terakhir kali sebelum kaki panjang itu melangkah keluar dari sana untuk mencari sang kekasih. Oh sungguh Chanyeol tak sabar menanti hari dimana Baekhyun benar-benar pulih dan bisa menjalani hari di daratan bersamanya.
Tak butuh waktu lama bagi Chanyeol untuk tiba di bagian belakang mansion yang langsung terhubung dengan taman belakang dan danau. Dengan Langkah ringan dan siulan-siulan Chanyeol melewati beberapa pelayan yang kini tengah mengangguk hormat pada sang bos besar. Semua yang ada disana bisa merasakan suasana hati secerah Mentari yang sang chairman rasakan pagi itu.
Namun, baru saja ia akan melangkah keluar melewati pintu belakang, Chanyeol langsung menangkap sosok tinggi Sehun dan Jongin yang kini tengah berdiri di pinggir danau dengan Baekhyun dari balik jendela kaca besar yang memisahkan mereka.
Kening si tampan mengernyit.
Ia tidak memiliki janji dengan keduanya, bahkan sang CEO harus terbang ke Eropa pagi itu untuk menghadiri rapat dengan salah seorang klien. Sehingga melihat keduanya ada disana cukup membuat tanya menyeruak ke permukaan benak sang chairman.
Seperti bisa merasakan berat tatapan Chanyeol, Sehun menjadi yang pertama menoleh. Mata hitam itu seketika beradu pandang dengan sepasang lain berwarna merah yang menatapnya penuh tanya.
'Lewis', ujar Sehun melalui Gerakan bibirnya. Chanyeol yang sudah diberkahi penglihatan lebih tajam dibanding mata manusia nya dulu, bisa dengan jelas membaca apa yang tengah Sehun bisikkan.
Dan nama itu seketika membangkitkan amarah yang terkubur dalam diri Chanyeol.
Satu isyarat anggukan penuh arti Chanyeol berikan pada Sehun, dan Jongin yang baru saja mendongak menatap sang chairman dari kejauhan.
Keduanya tidak perlu dijelaskan dua kali untuk bertanya apa maksud dari sinyal non verbal yang baru saja diberikan oleh sang chairman.
.
"Katakan, CEO Oh", singkat, jelas dan tajam adalah kata-kata yang bisa digunakan untuk mendeskripsikan ucapan sang chairman kala itu. Senyuman secerah mentarinya menghilang digantikan mendung badai yang siap pecah di langit.
Chanyeol sudah mengira mereka akan menemukan Lewis bagaimanapun caranya. Pria tua itu terlalu meremehkan Chanyeol hingga ia lupa hal-hal apa saja yang bisa dilakukan oleh seorang yang ia sebut dengan 'bajingan gila dengan dompet tebal' tersebut. Hanya Chanyeol tidak mengira mereka akan menemukannya secepat itu, ketika Chanyeol baru saja mendapatkan kekuatannya.
"Lewis Lee dan pengikutnya Howard sudah berlayar di sekitar perairan China selama beberapa minggu terakhir. Mereka menggunakan kapal Feri kecil yang ia pinjam dari mafia besar di Rusia. Butuh beberapa saat untuk menemukannya, dan kemarin mereka sempat berlabuh di Hongkong untuk membeli beberapa kebutuhan. Dari sana akhirnya ia bisa diikuti dan dilacak jejaknya. Sejak semalam, kapal itu berhenti di daerah pesisir dekat Pantai Guryongpo dan belum menunjukkan tanda-tanda akan berlayar lagi".
Chanyeol mendecih, kemudian menyenderkan tubuhnya pada kursi.
"Jadi dia berada di Gyeongsangbuk-do dan dengan percaya diri mengira aku tak akan menemukannya?", perlahan sang chairman menyesap kopinya sebelum melanjutkan, "Katakan Professor Kim, berapa banyak Orca yang dibutuhkan untuk membuat ombak yang sangat besar?".
Kening sang professor mengernyit, dalam benak ia tengah melakukan perhitungannya.
"Sekitar 20 hingga 30 orca mungkin bisa membuat ombak yang cukup besar. Apakah, kau sedang memikirkan yang tengah kupikirkan chairman Park?".
Kekehan menjadi jawaban Chanyeol sebelum pria tampan itu meletakkan dua botol kaca berisi cairan berwarna merah.
"Aku ingin kalian berdua terjun kedalam air bersamaku".
Kini giliran Sehun yang mengernyit, tidak benar memahami apa maksud sang chairman.
"Aku tidak bisa memahami maksudmu, hyung".
"Kau Oh Sehun dan Professor Kim bersama denganku didalam air untuk menghabisi Lewis, sebagai siren".
Kesadaran mengguyur Sehun, membuka segala pemahamannya akan maksud sang chairman dan cairan yang ada dihadapannya.
"Tidak perlu, aku sudah memilikinya", dengan percaya diri Jongin membuka suara. Di genggamannya terdapat sebuah botol kaca berisi cairan berwarna biru yang Chanyeol ingat jelas darimana asalnya.
Senyuman dingin mengerikan seketika menghiasi paras tampan sang chairman bersamaan dengan tubuh tinggi itu beranjak berdiri dari posisinya.
"Ayo kita habisi mereka", geram Chanyeol.
Heart of The Ocean
Gyeongsangbuk-do, 2018
Dibutuhkan sekitar tiga puluh menit menggunakan pesawat jet pribadi sang chairman bagi ketiganya untuk tiba di Gyeongsangbuk-do, dan lebih dari dua jam untuk mereka berada dibawah air ditemani 25 kawanan orca yang sudah siap berjejer dibelakang ketiganya.
Chanyeol, sang siren merah mengapung gagah di barisan paling depan. Diapit Sehun dengan ekor abu-abu serta surai abu-abunya di sebelah kiri, dan Jongin yang sudah kembali lengkap dengan ekor serta surai biru di bagian kanan sang chairman. Angin adalah kekuatan yang Sehun keluarkan, hal pertama yang terjadi setelah Sehun berubah adalah arah angin di sekitar pantai Guryongpo berhembus ke berbagai arah tak beraturan. Jongin menjadi pertama yang tersenyum dan mengangguk, mengkonfirmasi bahwa angin itu berasal dari siren abu-abu yang baru saja berubah sempurna tersebut.
Sedang Jongin, pangeran kerajaan Vriryn tersebut ternyata memiliki kekuatan teleportasi dan petir yang bisa membuatnya berpindah-pindah tempat dan mengeluarkan petir kapanpun ia mau. Kekuatan yang ia dapat dari sang ayah tentu saja.
"Chairman Park, kita bertiga sudah lebih dari cukup untuk menghabisi manusia rendahan itu. Kenapa kau harus membawa pasukan seperti ini?", ujar Jongin yang kini menggeleng-gelengkan kepala menatap setiap orca yang ada disana.
Chanyeol terkekeh, kemudian tersenyum lebar.
"Aku menyukai mereka. Orca sangat cerdas dan ramah. Pamanku mengatakan mereka bersedia membantu. Serta, aku ingin sedikit memberi pertunjukan pada Tuan Lee".
"Chanyeol, kau tahu kan Orca tidak memakan manusia?", Sahut Sehun.
"Oh siapa bilang Orca-orca ku yang akan memakan mereka? Aku masih memiliki satu kawan lain yang kelaparan dibawah sana".
Dengan ucapan itu, Sehun dan Jongin bungkam. Sedikit kagum dan terkejut melihat bagaimana kekuatan dan kekuasaan yang sahabatnya miliki bahkan di bawah laut.
Terkadang alam juga menunjukkan favoritisme mereka bukan?
Ternyata kalimat itu merupakan yang terakhir sebelum Chanyeol memutuskan untuk menyudahi acara berbincang mereka dan memberikan isyarat untuk berenang mendekat kearah kapan yang tampak bersembunyi dibalik sebuah gua besar di pesisir timur Korea.
Tangan berotot itu mengacung keatas. Sebuah aba-aba bagi mereka semua untuk berhenti.
Dibelakang sana cicitan dan clicking para orca terdengar sebagai bentuk komunikasi dan aba-aba antara satu sama lain.
Dengan tenang, sang chairman menoleh kearah Jongin dan mengangguk.
Ekor biru gagah tersebut mengibas perlahan sebelum sosoknya benar-benar menghilang dan muncul tepat beberapa meter dari bagian mesin kapal.
Detik berlalu dalam hening, sampai sebuah ledakan yang cukup keras terjadi. Menandakan bahwa Jongin sudah menjalankan aksinya untuk merusak mesin kapal sehingga mereka tidak bisa pergi kemana-mana.
Ledakan itu sepertinya cukup membuat orang-orang yang ada di kapal mulai menyadari sesuatu tak beres tengah terjadi. Hiruk pikuk kru kapal mulai terdengar jelas di telinga mereka. Dan Chanyeol tak memberikan sedikitpun kesempatan pada mereka untuk memeriksa.
"Show time", bisik Chanyeol.
Sebelum tangannya teracung tinggi, memberikan signal pada para orca untuk mulai membentuk barisan.
Sepuluh orca jantan tampak berenang berjejer di sebelah kanan kapal, sedang sepuluh lain di bagian kiri. Bersamaan dengan satu acungan jempol dari sang chairman. Kesepuluh orca jantan tersebut dengan cepat berenang dibawah kapal. Membawa ombak air yang menggoyangkan kapal ke bagian kiri.
Serangan kedua dilakukan beberapa detik setelah barisan orca dari kanan menyelesaikan tugas mereka. Barisan sebelah kiri mulai berenang cepat membuat ombak yang lebih besar dan menggoyangkan kapal ke sebelah kanan.
Pekikan kaget dan panik terdengar jelas dari atas kapal. Beberapa meneriakkan bahwa mereka diserang sekawanan orca dan bersiap untuk mengambil senjata.
Lima orca yang lain terdengar mencicit kemudian bergabung dengan barisan sebelah kanan dan mereka Kembali berenang dengan kecepatan tinggi. Ombak yang ukurannya lebih besar terbentuk, membuat kapal oleng sekali lagi.
"Sehun ah, saatnya beraksi", ujar Chanyeol dingin.
Diatas sana, Lewis Lee tengah menatap panik kawanan orca dengan jumlah yang ia yakini lebih dari 18 ekor tampak berjajar rapih siap membuat satu ombak besar yang ia yakini akan berhasil menggulingkan kapal fery kecil tersebut.
Cicitan Bevy, sang matriarch pemimpin kawanan terdengar. Memberikan aba-aba bagi mereka untuk bergerak. Sehun berenang maju bersamaan dengan kawanan orca yang berenang cepat kearah kapal. Kedua matanya mengeluarkan sinar putih bersamaan dengan angin besar yang tiba-tiba berhembus kencang.
Ombak air besar hasil dari Kerjasama para Orca dan Sehun menghantam sisian kiri lambung. Menggoyahkan kapal kearah kanan hingga fery putih itu dalam posisi miring yang sempurna dan menghempaskan siapapun yang ada diatas dek jatuh kedalam air.
Chanyeol tersenyum sengit. Pandangannya terkunci pada sosok Lewis Lee yang berusaha berenang menjauhi para orca.
Tetapi malang, sang siren merah tampak lebih gesit dan segera memberikan aba-aba pada Bevy untuk menarik kaki sang pria paruh baya tersebut ke bagian tengah lautan yang agak jauh keberadaannya dari kapal.
Teriakan menyakitkan Lewis dan Howard terdengar nyaring membelah malam di perairan tersebut. Namun tak satupun kru kapal yang berniat untuk membantu karena semuanya sedang sibuk menyelamatkan nyawa masing-masing dari serangan tiba-tiba para orca tersebut.
"Lepaskan aku! Lepaskan makhluk jelek!", teriak Lewis sembari memukul-mukulkan tangannya pada kepala Bevy.
Adegan itu cukup membuat amarah Chanyeol semakin memuncak hingga siren merah yang sudah menanti dikejauhan memberikan jentikan jari sebagai tanda bagi kedua orca itu untuk melepaskan Lewis dan Howard.
Sumpah serapah dan kata-kata makian terdengar dari mulut keduanya. Menjadi sinyal bagi Chanyeol bahwa sudah saatnya ia muncul. Siren merah gagah tersebut perlahan berenang mendekat, diikuti Sehun dan jongin dibelakangnya.
"Bagaimana rasanya tuan Lee? Apakah anda menikmati pertunjukanku?".
Suara berat itu terdengar tepat dibelakang si pria paruh baya. Membuat Lewis dan Howard menoleh kaget secara bersamaan.
Mata yang sudah mulai dihiasi kerutan tersebut menyipit, berusaha melihat lebih jelas siapa sang pemilik suara. Mimik wajah pria itu berubah dari kaget, takut dan meremehkan. Seolah Chanyeol bukanlah lawan yang sebanding dengannya.
"Ah, kau ternyata. Bagaimana rasanya? Ditinggalkan oleh orang yang kau cintai, Tuan besar Park? Bagaimana rasanya mengetahui bahwa segala yang kau miliki tak mampu untuk menyelamatkannya?". Kalimat meremehkan itu membuat Jongin menggeram perlahan dan berenang maju, namun Chanyeol mengulurkan tangan untuk menahan sahabat birunya tersebut.
"Percayalah Tuan Lee, kalau kau bertanya seberapa menyesalnya diriku saat itu aku akan menjawab aku amat sangat menyesal atas kejadian yang menimpa Professor Janice dan aku akan melakukan segala yang bisa kulakukan untuk membantu anda. Tetapi sekarang? Setelah yang kau lakukan? Aku akan menjawab bahwa menurutku kau pantas dibakar di neraka, Lewis", Suara berat itu terdengar berbahaya sebelum ia berenang semakin mendekat.
Semakin dekat Chanyeol, semakin jelas Lewis melihat perbedaan yang ada pada diri sang chairman. Wajah mulus itu kini dihiasi sedikit sisik-sisik merah, kedua mata nya merah menyala ditengah kegelapan. Dan tentu saja, alih-alih kaki Lewis kini tengah menatap kearah sebuah ekor gagah berwarna senada.
"Kau… Kau apa?".
"Kurasa kita tidak dekat untukku memberitahumu kan?".
"Ikan… Kau adalah ikan?", Chanyeol salah jika ia mengira Lewis akan ketakutan melihat sosoknya. Pria tua itu malah tertawa terbahak-bahak. Seolah seluruh rasa takutnya menguap meskipun kini mereka tengah dikepung oleh sekawanan orca yang berjejer melingkar. Menutup semua akses untuk keluar dari sana.
"Benar, dan ikan inilah yang akan menghabisi nyawamu", desis Chanyeol. Tangannya terulur mencengkram leher Lewis dengan erat.
Disaat bersamaan, rasa panas yang amat menyiksa perlahan merayap menuruni leher dan dadanya.
"Ini adalah rasa sakit yang sama dengan yang Baekhyun rasakan ketika ia meminum ramuanmu, Tuan Lee. Aku akan memastikan kau merasakan setiap jengkal siksa yang Baekhyun rasakan".
Lewis perlahan terbatuk, namun wajah angkuh itu masih tetap berada disana.
"Bunuh aku Park Chanyeol. Itu akan semakin memperjelas siapa dirimu, seorang pembunuh", ujar Lewis terbata.
Seringaian terkembang dari bibir sang siren, menampakkan sepasang taring yang mengkilat tajam.
"Katakan segalanya memang salahku yang sudah merenggut nyawa istrimu, tetapi Lewis itu bukanlah tugasmu untuk membalaskan dosaku", bisik Chanyeol. Cengkraman itu semakin erat bersamaan dengan rasa panas yang mulai membakar perutnya si pria paruh baya.
"Begitupun dengan ku. Kau sudah mencelakakan kekasihku dan hampir saja merenggut nyawanya. Tetapi tidak, aku bukanlah dirimu. Aku sadar bahwa itu bukanlah tugasku untuk membalas perbuatanmu. Dengarkan aku baik-baik Lewis. Park Baekhyun adalah seorang penguasa lautan, putra tunggal dari raja Adriros yang bisa menghabisi nyawamu dalam satu jentikan jari. Menyakitinya sama saja kau menyakiti semua yang ada di lautan. Menyakiti Baekhyun sama saja denganmu menyakiti mereka yang tengah mengelilingi kita sekarang", dengan ragu Lewis mengedarkan padangan menatap sirip para orca yang menyembul di permukaan air.
"Membunuhmu hanya akan mengotori tanganku yang bersih, dan aku Pangeran Caladore dari kerajaan Atlantis tidak sudi menurunkan derajatku dengan membunuh manusia rendahan sepertimu. Selamat bersenang-senang di neraka, Professor Lee".
Dengan kalimat itu, tangan kokoh Chanyeol menghempaskan tubuh Lewis yang langsung diterima oleh Bevy sebelum orca besar tersebut menggigit kaki sang professor dan melemparkannya pada anggota kawanan lain.
Teriakan Lewis dan Howard terdengar menyakitkan ketika tubuh mereka dilempar-lemparkan bak bola oleh para orca sebelum sundulan terakhir diberikan oleh seekor orca jantan raksasa pada tubuh Lewis.
Tik
Tik
Tik
HAP
Tubuh Lewis yang terlempar beberapa meter diatas permukaan laut itu dengan senang hati ditangkap oleh mulut Kreshor yang kini tengah terbuka lebar dan menyembul keluar dari permukaan laut secara tiba-tiba. Mengagetkan Sehun dan Jongin yang berada di belakang Chanyeol.
Dan begitulah, dalam sekejap mata dibawah pimpinan Chanyeol, Lewis Lee hanyalah menjadi sebuah nama.
Heart of The Ocean
"Chanyeol! Oh Tuhan Chan!", pekikan nyaring itu perlahan masuk ke indera pendengar sang siren merah yang baru saja beranjak berenang kearah daratan.
Kening si tampan mengernyit, mendengar suara sang kekasih yang seharusnya tengah berada di Seoul dalam keadaan aman sekarang. Sang chairman mulai bertanya apakah dirinya tengah berandai-andai karena rasa rindu yang muncul padahal mereka baru berpisah beberapa jam. Atau beberapa kemungkinan aneh lain yang muncul dikepalanya.
Chanyeol perlahan menggeleng, mengenyahkan pemikiran dan suara sang kekasih sebelum akhirnya melanjutkan kegiatan berenangnya. Sehun dan Jongin tampak beberapa meter didepannya mendahului.
Semakin lama Chanyeol berenang kearah daratan, sinar biru yang berasal dari ekor Jongin lama kelamaan terlihat jelas dan sang chairman melihat dua ekor dengan warna senada. Siren tampan itu menggeleng, berusaha mengenyahkan imajinasi yang semakin menakutinya itu.
Bukannya hilang, imajinasi itu malah semakin menjadi nyata ketika sosok manis Baekhyun tampak berenang cepat kearahnya dengan wajah khawatir.
BRUK
"OOFF, baby? Baby apa yang kau lakukan disini? Bagaimana kau bisa kesini?". Suara Chanyeol terdengar panik ketika tubuh mungil itu kini sudah berada dalam dekapannya.
Baekhyun perlahan mengulurkan lengan kurusnya untuk memeluk leher Chanyeol dan menghadiahkan sebuah kecupan manis pada bibir tebal sang chairman.
"Aku khawatir ketika kau mengatakan akan pergi mengejar Lewis Lee. Aku takut sesuatu terjadi padamu sehingga aku meminta Jongdae untuk membawaku kesini bersama Lucas".
"Tapi… Bagaimana? Bukankah kau belum bisa berubah menjadi manusia?".
Baekhyun perlahan menggeleng, kemudian mengusap sayang rahang sang kekasih.
"Aku sudah sembuh Chan, kekuatanku sudah pulih seperti semula. Surprise?", Kikik si biru menggemaskan.
Rasa lega dan Bahagia seketika berhembus kencang menerpa Chanyeol bak angin di musim semi yang menyegarkan. Senyuman lebar menghiasi paras tampannya, sebelum ia mengeratkan pelukan pada tubuh mungil Baekhyun.
"Terimakasih baby, terimakasih", bisik Chanyeol.
"Tidak… Terimakasih Channie, atas segala yang kau lakukan untukku".
Dan kalimat itu cukup bagi Chanyeol hingga ia perlahan menarik sang kekasih dalam pangutan bibir yang lembut dan dalam. Malam itu, akhirnya setelah sekian lama Chanyeol merasa lega. Ia merasa ringan karena semua beban yang mengait di kakinya sudah terlepas dan ia bisa memulai lembaran baru dengan si biru.
Bersamaan dengan pemikiran itu, Chanyeol perlahan memperdalam ciuman mereka. Kedua lengan kokoh itu merangkul pinggang sempit si biru yang kini juga tengah larut dalam pangutan memabukkan tersebut.
"EHEM!".
Sampai dehaman berat itu terdengar, membuat keduanya mau tak mau memisahkan diri untuk melihat siapa dalang dari gangguan kegiatan mereka.
Disana, beberapa meter dari keduanya tampak Sehun, Jongin dan Lucas tengah mengapung. Ketiganya menatap kedua sejoli itu dengan pandangan mengejek penuh arti.
"Berhentilah melakukan kegiatan seperti itu didepan umum", ujar Jongin.
"Benar, apakah kalian tidak malu jika ada ikan-ikan yang melihat?", lanjut Sehun.
Ucapan keduanya sontak membuat semburat merah muncul di pipi si biru. Hingga ia menyembunyikan wajah pada dada bidang sang kekasih.
"Berhentilah mengganggu kesenanganku dan cepat Kembali ke daratan", desis Chanyeol.
Perlahan Jongin berenang maju, hingga kini berada tepat di hadapan sang chairman.
"Sepertinya, aku tidak akan pernah Kembali ke daratan". Kalimat itu tampaknya cukup mencengangkan hingga Baekhyun dengan cepat melonggarkan pelukannya pada Chanyeol untuk menatap sang kakak.
"A…Adriviane?".
Senyuman manis terkembang di wajah sang pangeran, sebelum tangannya terulur untuk mengusak sayang surai sang adik.
"Benar Aereviane, aku akan pulang. Petualanganku sudah usai, saatnya aku Kembali ke Vriryn".
Perlahan, air mata menggenangi iris biru sang adik diikuti dengan butiran Mutiara-mutiara putih yang berlomba keluar dari sana dan mengambang di sekitar mereka.
Kata tak mampu ia ucapkan hingga pelukan menjadi satu-satunya jawaban yang Baekhyun berikan. Siren biru yang lebih kecil itu mengangguk dan membiarkan sang kakak menghadiahi satu kecupan sayang di kening.
"Jangan menangis Aereviane, aku berjanji akan mengunjungimu sesekali".
Lagi-lagi Baekhyun mengangguk, sebelum akhirnya menjawab dengan suara bergetar.
"Sampaikan salamku pada Kylei dan Ibu. Aku akan mengunjungi kalian nanti".
Jongin tersenyum kemudian memberikan kecupan terakhir pada kening sang adik dan memindahkan atensinya pada Chanyeol. Tatapan penuh kasih itu berubah jail sembari satu tangannya terulur untuk meninju lengan berotot sang chairman.
"Jaga Aereviane baik-baik ya. Aku akan membunuhmu jika kau berani menyakitinya lagi".
"Aku bersumpah dengan nyawaku, kakak ipar", ujar Chanyeol.
Keduanya kemudian berbagi pelukan singkat sebelum Jongin berenang mundur, sedikit memberikan jarak dengan keduanya.
"Hyung, aku juga ingin mengajukan cuti selama beberapa hari. Aku benar-benar penasaran seperti apa Vriryn, dan mungkin aku bisa bertemu raja Adriros untuk mengucapkan terimakasih. Aku berhutang seluruh hidupku padanya". Kekehan Sehun terdengar sebelum ia melanjutkan, "Lagipula kapan lagi aku bisa menjelajahi lautan dengan bebas seperti ini? Kuharap kau tidak akan kebingungan tanpa CEO mu selama beberapa hari".
Chanyeol hanya menggeleng sebagai jawaban dan terkekeh.
"Cepatlah Kembali dan membawa jodohmu, Oh Sehun".
Mereka berbagi ucapan perpisahan untuk kesekian kali sebelum akhirnya Lucas mengakhiri salam dengan membungkukkan badan hormat pada Baekhyun dan Chanyeol. Baekhyun yang sudah sepenuhnya pulih tak lagi membutuhkan Lucas untuk menemaninya dan sudah saatnya pula bagi Lucas untuk Kembali ke Vriryn.
Tangan mungil itu tak henti-hentinya melambai pada tiga ekor berbeda warna yang kini mulai berenang menjauh dan semakin jauh hingga tak lagi terlihat. Meninggalkan si biru dengan sang kekasih berdua ditengah lautan.
"Ayo kita pulang, Channie?".
Lagi untuk kesekian kalinya dalam hari itu, jantung Chanyeol seakan dibuat berdansa oleh sang kekasih. Mendengar Baekhyun mengatakan pulang, menjadi sebuah pertanda bahwa si biru kini sepenuhnya menjadi bagian dari hidup Chanyeol.
Bahwa dunia Chanyeol akhirnya merupakan rumah bagi Aereviane.
Rasa Bahagia akan fakta itu tiba-tiba menarik lidah Chanyeol untuk mengucapkan sebuah kalimat yang bahkan membuat dirinya sendiri terkejut.
"Aereviane, ayo kita menikah", ujar Chanyeol secara tiba-tiba. Membuat Baekhyun yang sudah berenang sedikit lebih dahulu dihadapannya berhenti secara tiba-tiba.
"A…Apa yang kau katakan Channie? Kurasa aku salah mendengar… Aku…"
"Park Baekhyun, ayo kita menikah dan menjalani kehidupan bersama sampai akhir".
.
.
Kekehan serta pekikan menjadi pengiring keduanya yang tengah berkejaran membelah malam di pesisir Timur Korea.
Kedua ekor berbeda warna itu tampak bersinar ditengah kegelapan malam. Menemani bulan yang tengah bersinar indah di atas sana.
Ombak yang menggulung malam itu bersaksi bagaimana setelah sekian lama akhirnya cinta mereka Bersatu. Akhirnya takdir mempertemukan jalan mereka dan menyatukan jalan mereka menuju keabadian.
Akhirnya setelah sekian lama, ombak dan batas terakhir daratan bukanlah halangan bagi Park Chanyeol dan Aereviane untuk menyatukan hati mereka.
.
.
.
THE END
HALOOOO!
Long time no see!
Setelah dua tahun, akhirnya dengan yakin aku umukan HOTO sudah end kawan kawaaan!
Tapi tenang aku akan post extra bonus chapter kalau kalian masih antusias sama cerita inii..
Terimakasih banyak buat dukungan kalian dan kalian yang selalu nunggu aku update cerita ini..
Kita sudah melewati banyak waktu bareng-bareng ditemani HOTO hihi nggak kerasa..
Aku mau mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya buat kalian yang sudah membaca, menunggu, follow, favorite dan meluangkan waktu untuk review HOTO selama ini.
Tanpa kalian aku gaakan semangat ngelanjutin ff ini ditengah kesibukanku yang mencekik.
Oiyaaa,
jangan lupa juga buat review di chap ini yaa.. Kalau antusias kalian masih tinggi dari review yang aku bacaa, aku pasti up bonus Chapternya..
Dan stay safe ya semuaa, sehat-sehat selalu dan semoga kita selalu berada dalam LindunganNya.
Maafkan aku yang lama nge post ini huhu..
Sekali lagi terimakasih!
See you later di FF ku selanjutnya!
I Love you all!
-Love
Kileela
