-o0o-

Helios menatap nyalang ke arah Selene. Ekspresi penuh kekesalan terpahat di setiap jengkal wajahnya.

Sedangkan Selene hanya menatap datar ke arah dongsaengnya itu.

"Aku membencimu hyung!"

Teriakan itu suskes membuat siapa saja menoleh ke arah mereka.

Kedua kakak beradik itu berada di St. Carat High School tepatnya di lorong koridor kelas dua.

Walau mereka anak dari petinggi X Clan, mereka tetap mengemban pendidikan formal. Ya, sekaligus kamuflase yang baik bukan?

"Kau berjanji meluangkan waktu untuk makan malam nanti! Lalu kenapa kau malah berjanji ke temanmu?! Kita bertiga sangat susah untuk terbebas dari tugas yang papa berikan dan kini kau menghancurkan segalanya. Aku membencimu!"

Selene tertegun kala menyaksikan aliran bening turun dari manik coklat milik adiknya.

Seluruh mata menatap ke arah mereka dengan pandangan bertanya. Oh bukan. Pandangan itu ditujukan hanya pada dirinya karena Helios sudah berlari entah kemana.

"Lene, kau yakin tidak mengejar Elio?"

Selene yang mendengar ocehan teman-temannya hanya bisa menghela nafasnya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Helios menatap kesal jalanan yang menjadi pijakan kakinya. Jalanan tak bersalah itu sudah mendapat tatapan tajam selama beberapa menit.

Oh iya, Helios tengah menemani temannya, Yoo Changkyun untuk dijemput.

Mereka saling kenal semenjak awal penerimaan siswa baru jadi kira-kira mereka sudah berteman selama satu semester lamanya.

"Elio, aku sudah dijemput. Kau mau ikut?Jooheonie hyung pasti tak keberatan jika kau ikut." tanya Changkyun begitu mobil penjemputnya datang.

"Tidak, terima kasih. Kau tahu kan rumahku dekat." Ucap Helios dengan senyumannya.

"Kau yakin? Ini sudah malam dan sepertinya akan hujan." tanya Changkyun memastikan.

Helios mengangguk kali ini. "Tentu saja, Kyunie. Kau jangan meremehkanku." Ucapnya sambil menunjukan sedikit smirknya.

Changkyun menyerah dan ia akhirnya pulang bersama kekasihnya dan meninggalkan Helios sendirian.

Ekspresi wajah Helios berubah kini.

Ia mulai melangkahkan kakinya untuk kembali ke rumahnya.

Rumah yang dimaksud bukanlah rumah sesungguhnya. Rumah tiu hanyalah rumah samaran untuk Highlight sebagai orang biasa.

Hujan mulai turun dengan deras membuat Helios mulai berlari kencang.

Jujur saja, jika kilat dan petir tidak ada seperti sekarang ini, mungkin Helios berani. Namun saat perpaduan antara mereka menciptakan badai dasyat, entahlah apa yang akan terjadi pada Helios.

"Astaga, kepalaku sakit…." Ujarnya ketika ia memutuskan berteduh di dekat estalase caffe yang sedang tutup.

Ia akhirnya mendudukan dirinya, menumpu pada dinding dan dialasi lantai yang dingin. Cukup lama Helios terdiam sambil memegang kepalanya.

'Sepertinya ini sudah larut malam...' Bathinnya kala baru menyadari lampu-lampu yang menyala dimana saja.

Helios bisa melihat dengan jelas warna kelabu yang rata di atas sana.

Dengan segenap kekuatan yang tersisa, Helios mencoba meraih handphonenya yang diselipkan di saku celananya.

"Jelas saja, benda ini rusak karena kulempar tadi." kata Helios begitu menyadari penyebab kenapa handphonenya tak mau menyala.

Handphonenya rusak karena ia banting setelah pertengkaran dengan Selene tadi. Menyebabkan layar benda elektronik itu pecah dan tidak mau menyala.

Helios melirik jam tangannya. '3 menit lagi….' Batin Helios.

Inginnya Helios memasak bersama untuk Eos dan Selene karena untuk pertama kalinya mereka bertiga tidak ada kegiatan sebagai masyarakat biasa mau pun X Clan.

Iya pertama kali. Semenjak mereka diminta untuk tinggal di rumah samaran itu tiga tahun lalu, tak pernah sekalipun mereka bertiga bisa duduk di meja makan dan makan bersama.

Namun jelas semuanya gagal.

"Haaahh…." Helios menghela nafasnya.

Ia kembali terdiam dan memeluk lututnya.

"Dingin sekali….." lirihnya.

Tak ada satu pun tanda-tanda kehidupan yang terlihat di jalan raya ini. Hujan sangat deras turunnya. Orang-orang mungkin memilih tidur di kasur mereka yang hangat.

"Ah... Hujannya mengecil..."

Helios memilih untuk menerobos hujan yang walau ia katakan mengecil, namun tetap deras. Ia langsung berlari meninggalkan estalase café yang tutup itu.

BRAK...

"Ma..af..."

Tubuh Helios menabrak seorang pria.

Pria itu menatap Helios dari atas hingga bawah.

"Oh? Kau si bungsu Highlight. Ikut denganku!"

Pria berambut blonde itu menarik lengan Helios dengan kasar. Ia tak membiarkan Helios melawan barang sedikit saja.

Kondisi Helios tidak bisa dikatakan baik, sehingga walau ia biasanya mampu melawan, kini ia tak berdaya.

Sampai di sebuah gang buntu yang cukup lebar dengan minim pencahayaan, Myeongho akhirnya berhenti diseret.

Tinggi.

Rambut blonde.

Mata seperti kucing.

Tatto di lehernya dengan lambang mafia Stardish.

'Shit! Musuh papa!'

Helios sudah akan berlari namun lengannya kembali ditahan oleh pria tadi.

"Kabar yang aku dengan bahwa terdapat chip di lenganmu bukan? Boleh aku keluarkan? Hahahaaa..."

Mata Helios terbelalak kaget. Remaja berusia 15 tahun itu sedikit ketakutan kini.

Pria itu mencengkram kuat lengan kiri Helios dan mengeluarkan sebuah pistol.

"Jangan bergerak anak manis... Aku hanya mengeluarkan chipmu itu... Lalu aku akan menculikmu, meminta tebusan, dan membunuhmu... Hahahahaaaa..."

Dor.

"Akkh!"

Helios terduduk memegang lengan kirinya. Darah mulai mengalir melewati lengan bajunya.

Sial, ini sakit sekali.

Lengan kemeja Helios yang berwarna peach telah dinodai oleh merahnya darah. Air hujan yang malah semakin deras membuat darah itu membaur dengan cepat ke tanah.

Sakit.

Ini sangat sakit.

Helios bisa melihat chip yang tertanam di lengannya jatuh dan tergeletak di sampingnya. Chip itu masih berkedip walau terselimuti oleh darah.

Tap.

Tap.

Tap.

Suara langkah kaki yang pelan itu membuat si blonde memalingkan wajahnya.

Disana Selene tengah melepas jas yang ia gunakan. Ia membuangnya begitu saja dan menarik ke belakang rambut hitamnya yang basah.

"Kau anak tengah Highlight, Selene. Senang bertemu denganmu…"

Pria itu tetap tersenyum meremehkan.

Selene sampai di samping Helios dan meliriknya sekilas sebelum menuju ke depan pria blonde tadi.

Tap.

Selene tepat berdiri di hadapan pria itu.

"H..hyung. Dia ber..senjata…" Ucap Helios dengan tertatih.

Dengan gerakan cepat, Selene menampis tangan kanan pria yang memegang sebuah pistol itu. Senapan laras pendek itu terlempar hingga ke samping Helios yang bertumpu pada kedua lututnya.

Selene memberi sebuah tendangan di perut yang membuat pria blonde itu terpental ke belakang.

"Ough..."

Pria itu malah tersenyum lebar kala darah keluar dari mulutnya.

"Seperti yang diharapkan dari penerus X Clan. Aku tahu kekuatan fisik yang kau dapat dari ayahmu. Dan juga kepandaian yang kau dapat dari ibumu. Maka dari itu aku tak sendiri."

Kini terlihat banyak lelaki mengelilingi gang itu. Mereka memegang masing-masing senjata dari tongkat bisbol hingga pedang.

Masih dengan tatapan datar nan tajam Selene menghajar pria-pria itu. Memberi mereka pukulan dan tendangan juga menangkis serangan yang datang kepadanya.

Dor.

Mata Helios terbelalak kala tubuh Selene terpental ke belakang.

'Ini tidak adil!' Bathin Helios menjerit.

Hyungnya bertarung dengan tangan kosong melawan mereka yang menggunakan beragam senjata. Dan kini malah terkena tembakan dari pria blonde kurang ajar itu.

Tapi apa yang adil di hidupnya? Memang mereka tidak pantas untuk bersentuhan dengan kata itu.

Tubuh Helios bergetar dengan hebat.

Deg

.

.

Deg

.

.

Deg

.

.

Helios tiba-tiba menundukan kepalanya dengan perlahan. Air hujan membuat poninya menutupi manik coklat itu.

Keheningan terjadi di dalam kepala Helios.

Sreet…

Helios bangkit berdiri dan maju ke depan. Di tangannya sudah ada pistol milik pria blonde tadi yang dihempaskan Selene.

Melihat Helios yang bangkit, orang-orang mulai siaga penuh. Pria blonde itu kini tersenyum mengerikan.

"Kau mengambil FN 57 ku? Tak akan ada arti jika anak kecil sepertimu mengunakan... agh..."

Dor.

Dor.

"Apa yang kau lakukan?!"

Dor.

Dor.

Selene yang mencoba untuk bangkit mulai membuka kelopak matanya. Kini mata abu-abu itu menatap hal yang seharusnya tidak dilakukan Helios.

Orang-orang yang menyerang Selene tadi sudah tergeletak tak berdaya. Selene bisa melihat orang-orang itu masih bernafas, berarti mereka hanya pingsan.

Namun orang-orang yang bersimbah darah dengan lubang di kepala sudah pasti meregang nyawa.

Hujan semakin deras. Kilat dan gemuruh kini menemani sang hujan.

Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Semua yang dilakukan Selene dalam melindungi Helios dan Eos untuk tidak membunuh akan menjadi sia-sia jika Helios tetap seperti ini.

'Shit!" Umpat Selene kala ia merasakan bahwa peluru tadi mengenai tulang lengannya.

Helios menondongkan pistol yang dibawanya ke arah pria blonde yang terlihat mulai ketakutan.

Siapa yang menyangka si bungsu Highlight bisa menjadi semengerikan ini?

"MINGHAO, SADARLAH!"

Deg.

Mata Helios kembali menampilkan pupilnya yang melebar dan pandangan seorang pembunuh berangsur normal.

Ia menatap kaget pistol dan pria blonde itu kini.

"Ap..pa yang ku...laku..kan?"

Helios kaget bahwa tanganya mengalami luka-luka kecil yang sebelumnya tidak ada dan terdapat noda darah disana.

Sraghk.

Pria itu menghempaskan pistol yang dipegang Helios hingga jatuh jauh ke samping.

Buagh…

Ia juga menendang tubuh Helios hingga terpental jauh ke belakang.

Grep.

Dengan sigap Selene mengangkap tubuh Helios agar tidak menyentuh tanah.

Selene meletakan tubuh Helios yang terlihat kesakitan dengan kesadaran yang mulai menghilang. Ia lalu bergerak dengan cepat dan mengambil pistol yang terjatuh.

Ia langsung menendang tubuh pria itu tanpa ampun.

Tangan kiri Selene terluka dan tangan kanannya memegang pistol. Maka dari itu perlawanan yang bisa ia lakukan adalah dengan kaki dan siku kanannya.

Brak…

Selene mengunci pergerakan pria itu dengan kakinya. Pria itu menempel di dinding disertai keadaan yang mengenaskan dengan satu kaki Selene yang menapak kuat di dadanya.

"Sampai berjumpa di neraka."

Dor.

Dor.

Dor.

Tiga tembakan berturut-turut mengenai kepala, jantung, dan lengan kiri pria itu. Menyebabkan pria blonde itu tewas saat itu juga.

Selene melangkah ke arah Helios yang tak sadarkan diri. Ia membuang pistol itu dan bertumpu di kedua lututnya.

"Junhwi! Myeongho! Bertahanlah…"

Suara yang sangat Selene kenal itu bergema di telinganya.

Selene bisa melihat Eos dan banyak sekali agent X Clan berlari ke arahnya.

Saat Eos hadir dengan pakaian yang cukup basah dan tepat ada di hadapan Selene, saat itu juga Selene tak sadarkan diri.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Binasakan Stardish sampai keluarga mereka hingga tak tersisa."

Eos hanya bisa terdiam pasrah kala melihat papanya dengan wajah tersenyum memberikan perintah ke tangan kanannya.

Sang bawahan segera pergi keluar ruangan rawat ini hingga menyisakan X dan Eos.

"Kerjakan tugas mereka."

Tanpa Eos tanyakan, ia tahu bahwa tugas tidak boleh tidak terlaksana.

"Helios berbahaya… Tapi tak bisa dimanfaatkan."

Eos mengeratkan jemarinya.

"Kau sudah tahu kalau Helios hanya bisa di tahap itu ketika Selene berada di ujung kematian. Kau puas untuk mengujinya bukan, papa? Jadi itu kesimpulanmu?"

X menyeringai lebar. Ia tertawa mengerikan kini.

Eos tahu X merencanakan segala hal untuk membuat Helios masuk ke keadaan itu dan melakukan pengujian terhadap Helios.

Termasuk menjebak mafia Stardish untuk melakukan tindakan mereka beberapa saat lalu.

"Lakukan tugasmu."

Eos menghela nafasnya lalu keluar dari ruang maksiat itu.

'Bajingan.'

-o0o-