Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[Crown for the Queen ]
~ Chapter 23 ~
.
.
Itachi Pov.
Pintu ruangan pribadiku tiba-tiba terbuka, aku sudah tahu jika hanya seseorang yang akan melakukannya.
"Saya kembali, Yang mulia." Ucap kesatria Hidan.
"Jadi, informasi apa yang sudah kau dapatkan?" Tanyaku.
"Raja Kizashi telah wafat dua tahun yang lalu."
Ini kabar yang cukup mengejutkan, aku tidak menyangka jika raja Kizashi telah wafat.
"Lalu, siapa yang menggantikannya?"
"Salah seorang anaknya, namanya Haruno Serra, tapi dia hanya anak selir."
Aku jadi kepikiran, ini mungkin tujuan mereka membuang putri mahkota, satu-satunya anak yang memiliki hak untuk menggantikan ayahnya.
"Hanya itu?"
"Beberapa bangsawan di sana masih ada yang kurang setuju, mereka bahkan bermain dengan kekusaan mereka, sepertinya ada banyak pihak yang ingin menurunkan raja mereka yang sekarang, lagi pula haknya tidak cukup kuat. Sayangnya, kabar lain tentang putri mahkota tidak ada, ada begitu banyak informasi jika putri mahkota mereka telah mati sebelum ayahnya wafat, namun saya mendapatkan informasi yang lebih terjamin-"
Kesatria Hidan menjedah sejenak ucapannya.
"Katakan."
"Informasi ini cukup mahal." Ucapnya.
"Aku mengerti, kesatria, bagaimana bisa kau bersikap seperti ini padaku?"
"Kebetulan kita dekat, saya harus mendapatkan sesuatu." Ucapnya.
Walaupun sikapnya seenaknya, hanya kesatria Hidan yang bisa aku percaya, lagi pula yang di inginkannya bukan uang, harta, atau kedudukan, pria ini sangat gila akan sebuah senjata yang hebat, aku harus mencari pedang yang membuatnya puas, bahkan pedang yang cukup langka di dunia sekali pun.
"Sepertinya aku menemukan sesuatu yang bagus untukmu, kau bisa mencarinya di gudang penyimpanan senjataku."
"Kau sungguh memahamiku, Yang mulia."
"Jadi informasi apa yang lebih terjamin itu?"
"Seorang pelayan di istana Haruno mengatakan jika sang putri mahkota sempat berselisih dengan raja Kizashi, dia bahkan kesulitan membela diri, seluruh saudara dan para selir ayahnya lebih memojokkannya. Pelayan itu hanya bisa melihat sang putri di tahan di penjara dalam waktu yang cukup lama, lalu, tiba-tiba ada yang membakar penjara itu, mereka menemukan sebuah jasad yang katanya mayat sang putri mahkota. Raja Kizashi sempat menyesal akan perbuatannya. Tapi sikap mereka sungguh keterlaluan, kau harus tahu apa yang menyebabkan ayah dan anak itu menjadi berselisih."
Aku terus mendengar penjelasan kesatria Hidan, dia menjelaskan apa yang membuat mereka berselisih, ini menjadi hal yang berhubungan dengan apa yang di ceritakan putri Sakura, jadi setelah ada yang membawanya keluar dari ruangan tahanan itu, ada orang yang berniat membuat keadaan palsu, mereka jadi berpikiran jika benar putri mahkota telah mati dalam tahanan itu.
Jika benar salah satu anak selir yang sekarang menjadi raja, menggantikan raja Kizashi, mungkin saja dia berada di balik semua kejadian ini, sebagai anak laki-laki, mereka yang seharusnya menjadi seorang raja, tapi di dalam kerajaan Haruno, hanya keturunan sah yang akan memegang gelar tertinggi itu.
"Sepertinya kita perlu mengadakan kunjungan." Ucapku.
"Ha? Jangan konyol Yang mulia, jangan lupa jika bagaimana hubungan kerjasama kalian berakhir, mungkin saja mereka masih menaruh dendam pada kerajaan kita." Ucap Hidan.
"Aku harap mereka mengerti jika mendapat penjelasan."
"Jangan keras kepala, disini saja kau bekerja keras untuk menghalangi orang-orang yang akan menjatuhkanmu. Hilangkan pikiranmu untuk berkunjung ke kerajaan selatan, mereka tidak akan menyambutmu dengan baik Yang mulia."
Ucapan Hidan ada benarnya, tapi aku harus memastikannya, apa benar mereka masih menganggap kami ini pembawa masalah? Seharusnya kami bisa berdamai, lagi pula putri mahkota ada padaku.
"Laporanku sudah selesai, saya pamit untuk beristirahat, Yang mulia." Ucap Hidan.
"Terima kasih atas kerja kerasmu dan kau bisa mengambil sedikit liburan."
"Terima kasih Yang mulia-ku, ah dan satu hal lagi, saya membawakan hadiah untuk anda." Ucapnya. Memberikan sebuah peluit padaku.
"Apa ini?"
"Kau akan suka, Yang mulia." Ucapnya dan bergegas keluar dari ruanganku.
Untuk apa peluit yang terbuat dari bahan perak ini? Semoga bukan sesuatu yang aneh, mencoba meniup peluit itu.
Kraaa! Kraaa! Kraaa!
Aku cukup terkejut, sebuah gagak hitam tiba-tiba masuk dari arah jendela yang terbuka, dia membawa sesuatu di kakinya, mengambil lipatan kertas itu, sebuah pesan tulisan.
Hadiah untukmu Yang mulia, gagak ini sangat hebat sebagai pengantar surat, dia bahkan tidak akan mati dengan cepat, jangan lupa beri dia makanan yang cukup.
Salam hormatku.
Kesatria Hidan.
Kenapa dia memberikanku gagak hitam?
Menatap gagak itu, dia seperti mantap balik padaku, mencoba mengelusnya perlahan dan dia sudah begitu akrab padaku, kenapa hewan ini sangat cepat akrab denganku? Dia sangat unik.
"Jadi apa perlu aku memberimu nama?" Ucapku.
Kraaaa!
Suara gagak tidak akan terdengar indah, seakan dia menjawab pertanyaanku dengan suaranya itu dan kepakan sayap hitamnya.
"Bagaimana dengan Taka? Itu akan di artikan sebagai yang terhormat." Ucapku.
Kraa! Kraaa! Kraaa!
Aku tidak tahu bahasa burung gagak, tapi dia terlihat senang akan nama itu, aku harus mengutus seseorang untuk merawat Taka, tiba-tiba seseorang terpikirkan, jika dia tidak punya pekerjaan lagi dan merasa jenuh, dia bisa merawat Taka untukku.
"Kau akan senang jika di rawat oleh seorang putri." Ucapku.
.
.
.
.
Sakura Pov.
"Seorang putri mahkota dari kerajaan yang begitu jauh, apa yang membuatmu datang ke sini? Apa kau tersesat?" Ucapnya.
Aku sangat terkejut mendengar ucapan wanita itu.
"Ah maaf, sepertinya kau benar-benar tidak tersesat, masa lalu yang rumit dan seseorang yang telah melupakan." Ucap wanita itu lagi.
"Jangan dengarkan ucapannya." Ucap pangeran Sasuke.
Aku semakin terkejut dengan tindakan pangeran Sasuke, dia menarikku keluar dari toko ini, tangan itu terus menggenggam lengan atasku, ini tidak sakit, dia hanya berusaha menarikku menjauh.
Setelah kami keluar, aku baru sadar jika kesatria Sai tidak bersama kami.
"Dimana kesatria tidak becus itu!" Kesalnya
Aku jadi penasaran akan tindakannya tadi.
"Ma-maaf pangeran, kenapa anda bersikap seperti itu pada wanita tua tadi?" Tanyaku.
"Kau ini benar-benar bodoh! Potensi apa yang kau punya? Bahkan seorang penyihir saja kau tidak tahu!" Kesalnya, dia jadi marah-marah padaku.
Seorang penyihir? Aku pikir itu hanya sebuah mitos.
"Apa pangeran mendengar apa yang di ucapkannya?" Tanyaku, aku takut jika rahasiaku akan segera terbongkar.
"Apa maksudmu? Kenapa aku harus mendengar dia mengatakan selamat siang padamu dan menanyakan kau ingin beli apa? Apa itu penting untukku?" Ucap pangeran.
Ini aneh, jadi apa yang di dengar pangeran tidak sama dengan apa yang aku dengar.
"Jadi semua barang-barang uniknya itu adalah benda sihir?" Tanyaku, memastikan.
"Ya, jika saja kau menyentuhnya, mungkin salah satunya akan membuatmu semakin bodoh, jika kau melihat toko seperti itu lagi, menjauh! Mereka berbahaya." Tegasnya.
Walaupun pangeran terlihat marah-marah, tapi dia seperti peduli padaku, jika dia tetap membenciku, mungkin dia bisa membiarkanku tetap di sana lebih lama.
Wanita itu mungkin benar seorang penyihir, dia bahkan mengatakan seorang putri mahkota? Dia mengetahui jati diriku yang sebenarnya, lalu, masa lalu yang rumit dan seseorang yang telah melupakan, mungkin ini merujuk pada kehidupanku dan juga, menatap sang pangeran, sama seperti ucapan Yang mulia raja, dia melupakan segalanya.
"Wah, gawat! Apa benar kau terkena sihir wanita itu? seharusnya aku membawamu keluar lebih cepat, sekarang kita harus mencari kesatria Sai, kemana dia!" Ucap pangeran Sasuke, aku harus kembali terkejut, genggaman itu, kali ini dia menggenggam tanganku dan mengajakku pergi mencari kesatria Sai.
Apa dia sadar dengan apa yang di lakukannya padaku?
Berjalan cukup jauh dan akhirnya kami mendengar suara kesatria Sai, bagaimana pria besar itu bisa tersesat dan kehilangan kami? Tangan pangeran akhirnya terlepas, dia tidak menyinggung akan tindakannya sendiri, dan sekarang dia kembali marah-marah pada kesatria Sai.
"Kalian menghilang sangar cepat." Ucap kesatria Sai.
"Kau yang tidak becus menjadi pengawal!" Kesal pangeran.
"Nona Sumire, anda tidak apa-apa?" Tanya kesatria Sai padaku, aku yakin dia masih khawatir jika pangeran berbuat jahat padaku.
"Saya baik-baik saja, tuan kesatria." Ucapku.
"Seharusnya kau bertanya itu padaku." Protes pangeran.
"Saya sudah melihat pangeran baik-baik saja." Ucap kesatria.
Kapan aku bisa mencari hadiah untuk Yang mulia raja?
"Sebaiknya kita membawa nona Sumire cepat kembali ke istana, dia sempat masuk ke toko penyihir, dia harus di periksa Yang mulia raja." Ucap pangeran Sasuke, dia pun bergegas dan meminta kami untuk cepat berjalan.
Rencanaku hari ini kacau begitu saja, aku tidak sempat melihat apapun untuk sebuah hadiah, sekarang kami harus segera kembali gara-gara aku memasuki toko penyihir itu, padahal seharusnya pangeran lah yang di periksa, dia yang masuk lebih jauh dariku, dia bahkan berbicara lebih dekat dengan sang penyihir.
.
.
TBC
.
.
update...~
sayang sekali... tidak semudah itu akan terbongkar *ketawa jahat*
masih belum, tunggu bakalan ada adegan yg bikin reader ikut kesal :D :D :D
