Standard Disclaimer. Semoga chingu LuMin – XiuHan shipper suka. Karakter lain muncul sesuai alur. Yang bercetak miring itu karakter sedang(Flashback) mengenang kecuali kalau misalkan satu kata berarti itu bukan bahasa Indonesia. Dan sebenernya cast nya tetep kok, cuma disetiap chapter akan muncul cast baru, itu bukan pemain(?) tetap. Yeah istilahnya cameo gitu. Hehe.

.

.

Fanfiction

By

Moonbabee

.

.

Di pagi hari yang cerah dari beberapa hari yang lalu yang terasa begitu kelam karena tertutup awan hitam itu membuat udara terasa segar, burung-burung juga berkicau dengan suara indah mereka menyambut matahari yang mulai menampakan cahyanya untuk menghangatkan bumi tercinta ini.

Dan cerahnya hari ini juga disambut dengan gembira oleh pasangan Kim yang pagi ini berjalan-jalan dari hari masih lumayan gelap sampai sekarang secerah ini untuk menikmati udara pagi dan melihat matahari terbit di ujung jalan yang sangat indah.

Tapi saat mereka sedang berjalan untuk kembali kerumah bersama sarapan yang sekalian mereka beli untuk dimakan bersama dan juga untuk Sehun yang masih tidur dirumah, keduanya di usik oleh suara gonggongan anjing kecil yang sepertinya sedang meraung meminta tolong.

Ketika Jungsoo menoleh kesamping ia mendapati seekor anjing kecil yang kakinya tersangkut di antara pohon teh-tehan yang di tanam secara sengaja untuk pembatas antara jalan raya dengan jalan setapak.

Dengan perasaannya yang keibuan dan mudah tersentuh, Jungsoo tentu saja langsung menghampiri, menolong di anjing kecil untuk segera melepaskanya dari rasa sakitnya.

"Omo, kakinya terluka" si wanita memekik dan si lelaki melongokan kepalanya untuk melihat luka yang di pekikan oleh isterinya. "Apa aku boleh membawanya pulang? Mengobati kakinya ini?" si isteri meminta izin kepada suami. Youngwoon tentu saja tidak bisa menolak.

Selain karena mereka juga memiliki yang sedang sakit dirumah, juga karena mata anjing yang penuh memelas isterinya itu meluluhkan hatinya. "Tentu, mungkin bisa menjadi teman Sehun" katanya yakin tidak yakin.

Oh, mereka belum pernah merawat binatang sebelumnya, satu-satunya binatang yang pernah singgah di keluarga mereka adalah kucing dan mungkin juga tikus yang selalu membuat Minseok menangis karena bukunya pernah dimakan tikus padahal buku itu adalah buku kesukaannya yang berisi penuh cerita dongeng, karena banyaknya tikus dirumahnya dulu, mereka membeli kucing untuk memakan tikus, tapi malangnya si kucing, hewan lucu itu malah kena pukul gara-gara Minseok takut terhadap kucing.

Mengingat Minseok, mendadak hatinya menjadi sedikit nyeri. Ia benar-benar merindukan gadis gembulnya.

"Apa aku harus memandikannya dulu? Atau mengobatinya dulu?" Jungsoo bertanya, memecahkan lamunan suaminya yang malah matanya juga mulai berkaca. Lelaki bernama belakang Kim itu berdeham, mengusap pelan kepala si anjing kecil "Mandikan dulu, baru di obati" lalu menjawab.

"Baiklah, kau yang menyiapkan sarapannya ya, aku akan memandikannya dulu" kata Jungsoo seraya berlalu menuju kamar mandi dan Youngwoon menuju dapur.

Karena mereka hanya membeli sarapan masing masing satu porsi untuk tiga orang, maka mudah bagi bapak rumah tangga itu untuk bergerak cepat, dan dalam waktu singkat ia telah menyelesaikan tugasnya, setelah itu ia kemudian membawa makanan itu ke meja bersama bubur hangat untuk Sehun, ketika ia akan membangunkan Sehun, lelaki itu berjalan menuju kamar namun belum sampai disana ia sudah mendapati Sehun sedang berdiri dibalik tembok sedang mengintip.

Youngwoon mengikuti arah pandang Sehun, rupanya anak itu sedang memandang pada objek di depan sana dimana Jungsoo yang sedang bermain dengan anjing kecil yang baru saja selesai di obati.

Pada saat Seungri masuk TK diwaktu yang sama bersama Minseok, bocah laki-laki itu menjadi sedikit manja karena sering menangis saat Seunghyun – ayahnya menjadi sering tidak bersamanya, Seungri kecil merasa di abaikan dan saat malam bertemu dengan ayahnya dia menjauh dan tidak mau bermain bersama ayahnya lagi bahkan sampai mogok tidak mau sekolah.

Saat itu Minseok mentertawakan Seungri yang cengeng dan manja padahal anak laki-laki. Minseok juga memamerkan beberapa mainan yang dibelikan oleh Youngwoon sebagai ucapan selamat juga karena Minseok perlahan sudah besar karena tidak menangis saat masuk TK.

Seungri kecil yang merasa harga dirinya tercoreng sebagai lelaki kemudian mendatangi ayahnya, dia meminta hadiah juga, padahal dihari dimana mereka masuk TK Seungri sudah di suguhi dengan hadiah berupa tumpukan mainan yang membuat isterinya hampir menebas kepala Seunghyun karena terlalu memanjakan anaknya.

Tapi dari pada dimusuhi semakin lama oleh anaknya lebih baik ia menuruti, dan Seungri kecil meminta dibelikan anjing bulldog, gila saja. Yang mendengar tentu saja hampir kena serangan jantung, untungnya bocah itu tidak tahu kalau bulldog itu jenis anjing. Seungri pikir bulldog itu adalah anjing kecil yang lucu berwarna coklat tua, gila anakmu benar-benar berbahaya. Begitu kata Youngwoon.

Akhirnya Seunghyun membelikannya anak anjing kecil warna coklat tua jenis poodle dan diberinama Bulldog. Seungri ingin pamer kepada Minseok bahwa dia telah memiliki Bulldog tapi saat Minseok datang berkunjung dan melihat Seungri sedang bermain dengan Bulldog Minseok menolak masuk dan malah bersembunyi dibalik tembok tapi memperhatikan. Sampai si bocah laki-laki itu menarik tangan Minseok dan menuntnnya untuk menyentuh Bulldog dengan pelan.

Sore hari itu, kedua bocah itu tertawa gembira bermain bersama sepanjang sore tidak ketinggalan mengajak Bulldog jalan-jalan mengelilingi taman dan sempat lomba lari bersama anak anjing lainnya taman.

"Hey kemarilah"

Dengan perlahan Sehun menyumbulkan tubunya dan berjalan takut-takut menuju Jungsoo bersama anak anjing kecil yang kini bulunya sudah berwarna putih bersih juga perban di kakinya.

"Lucu sekali kan"

Sehun tetap diam membiarkan Jungsoo menuntun tangannya untuk mengusapi pelan kepala si anjing kecil. Sehun itu tidak suka binatang, dia takut, bahkan ia pernah hampir memecat pelayan karena di kamarnya ada tikus, belum lagi ia memukul Jaehyo dan beberapa pelayan karena tidak berhasil menangkap tikus itu dari kamarnya.

Atau ketika kucing kecil milik keponakan ayahnya yang datang berkunjung ia pernah menendangnya. Dan sekarang anjing, oh sebenarnya jantung Sehun sudah berdebar mau copot.

Tapi anak anjing kecil itu tidak melakukan hal mengerikan seperti dalam bayangannya, dia hanya menggonggong kecil sembari mencari kenyamanan di pangkuanya.

"Oh iya, anjing kecil ini belum memiliki nama, mau memberinya nama tidak?" Jungsoo bertanya dengan Lembut kepada Sehun sembari tangannya menyentuh kening pemuda itu. Sudah tidak sepanas kemarin.

"Vivi-eyo"

"Vivi?" Jungsoo memastikan karena Sehun berbicara sangat pelan, tapi kemudian ia mengangguk dan Jungsoo membalasnya dengan senyuman hangat. "Nama yang bagus, jadi mulai sekarang kita memanggilnya Vivi, oh iya Vivi ini juga sedang sakit lho Hun, sama seperti Hunnie" kata Jungsoo "Lihat tuh kakinya, di perban. Jadi kalian harus berteman ya"

Ada banyak hal yang dimiliki Sehun yang mengingatkan Youngwoon kepada Minseok, dan yang paling mengganggu pikirannya adalah, Sehun adalah anak Luhan dan Luhan pernah menyebutkan nama Minseok belum lama ini dengan sangat misterius di hadapan kakaknya.

Kejadian semacam apa ini? Apakah ini bisa disebut kebetulan atau memang berkaitan?

-o0o-

Dipagi hari ketika Luhan membuka matanya, hal pertama yang ia dapati adalah Minseok yang sedang menatap lurus kepadanya, atau lebih tepatnya kepada bibirnya. Kalau diperhatikan sejak kemarin malam Minseok memang sering menatap bibirnya dengan pandangan sedikit tajam, kalau di ingat Luhan memang belum mencium Minseok sejak ia pulang, tapi biasanya juga begitu, baru setelah beberapa hari ia baru mencium Minseok dan Minseok tidak masalah, ia sudah terbiasa dengan itu, tapi tentu saja sekarang ini tidak biasa.

Tatapan itu benar-benar tajam, Luhan ingin bergerak mendekat, tapi mendadak takut karena tatapan tersebut.

Nona di panggil Nyonya tapi karena—

Ah, apa karena itu?

Lucu sekali bagi Luhan hingga ia tersenyum dan memeluk pinggang Minseok untuk dirapatkan kedalam pelukannya, lalu tidak menunggu lama Luhan mendaratkan sebuah ciuman hangat di kening Minseok sebelum akhirnya turun keseluruh wajah.

"Selamat pagi" sapa Luhan dengan suaranya yang serak. Minseok tidak menjawab hanya diam tapi pandangannya kini menatap wajahnya dan tangan kecil itu terangkat untuk mengusapi wajahnya.

"Sajjang-nim"

"Jangan khawatir, ini untukmu"

Mata kucing itu mengerjap bingung, tangan kecilnya yang ada dalam genggaman Luhan kini berpindah kebawah bibir pria itu untuk di kecupi berkali-kali. "Lekaslah sembuh sayang, aku akan berikan hadiah untuk kesembuhanmu, aku tidak suka melihat selang infuse terus-terusan menancap di punggung tanganmu" katanya seraya mengusapi wajah Minseok yang kini masih pucat.

"Aku merindukan tuan muda"

"Hmm, aku tahu. Karena itulah lekas sembuh dan kau akan bertemu dengannya"

"Tapi tuan muda kabur dari rumah dan dia sedang marah padaku, dia juga sedang sakit" Minseok menaikan nada suaranya dia nyaris berteriak dan tangannya memukuli dada Luhan "Aku tidak bisa tenang memikir – ah, sst" pukulan itu berhenti dan tangannya berpindah pada perutnya, oh tidak. Luhan segera memeluk Minseok untuk menenangkannya.

"Sehun ada dirumah neneknya, tenang saja. Dia baik-baik saja"

.

Luhan membangunkan Minseok di hari menjelang siang untuk makan dan meminum obatnya, pada guncangan pelan kedua mata Minseok yang sembab karena menangis tadi pagi mulai terbuka, Luhan duduk di samping ranjang dengan memangku baskom isi air hangat dan handuk kecil yang telah dibasahi untuk simungilnya mencuci wajah agar tidak perlu menuju kamar mandi.

"Ayo cuci wajahmu dulu, setelah ini kita makan dan kau harus minum obat"

Wajah Minseok sudah sedikit lebih segar dan tidak terlalu pucat lagi. Dengan pelan, lelaki itu mengusap puncak kepala Minseok. Luhan senang karena isteri mungilnya menurut. Memang biasanya demikian, tapi kalau sedang sakit dia cenderung lebih manja dan susah menurutinya.

Ia memang tidak masalah kalau manja, tapi kalau sulit disuruh makan itu sesuatu yang berbeda kan.

"Kau mau makan siang dimana? Dikamar atau di ruang makan?"

Minseok tidak menjawab, tapi tangannya terulur untuk melingkar dileher Luhan kemudian merangkak duduk diatas pangkuan si lelaki, kepala Minseok mengusak masuk kedalam ceruk leher Luhan, dan dengan tenang berada disana.

Minseok yang manja.

"Ayo makan" ujarnya lagi sembari menepuk-nepuk pelan punggung Minseok. Sebenarnya bisa saja langsung menyuruh pelayan membawa makanan datang atau menggotong Minseok ke meja makan, tapi mengingat suasana hati Minseok yang sedang kuning kelabu tidak menentu, maka lebih baik bertanya dan di bujuk pelan-pelan, daripada nanti mengamuk atau menangis. Kandungannya semakin berbahaya. Oh benar-benar menguji kesabaran anak kedua ini.

"Aku tidak mau makan"

Luhan berdecak mendengar bisikan yang menggelitik di leherya. "Kau harus makan, bukankah kau ingin menemui Sehun?"

"Tapi aku merasa perutku jadi gendut, dan aku mulai memiliki lemak pipi lagi"

Lelaki itu terkekah. "Oh ya sayang, tentu saja. Karena kau sedang hamil dan anak kita pasti tumbuh besar, jadi perutmu juga akan membesar" kata Luhan. "Dan kau tetap cantik meski lemak dipipimu bertambah" Luhan mengusapi pelan perut Minseok yang mana memang sudah menunjukan sedikit bulatan.

Minseok memukul dada Luhan cukup keras, hingga membuatnya mengaduh. Kebiasaan memukulnya ketika hamil rupanya ada lagi, anak ini benar-benar adik Sehun, suka memukul manja dan sangat tsundere.

"Ayo makan, seteah ini kita mandi. Dokter akan memeriksamu lagi"

-o0o-

Sehun sedang bermain dengan Vivi di ruang bermain dan terlihat begitu gembria. Meskipun wajah pucatnya masih belum hilang tapi dia terlihat begitu menikmati permainannya bersama anjing kecil berbulu putih tersebut.

Dan itu sejujurnya membuat Jungsoo gemas yang melihatnya, pasalnya Sehun menggunakan baju milik Youngwoon yang mana itu sangat kebesaran untuk Sehun sehingga dia seperti menggunakan daster ibu hamil sebatas lutut, belum lagi kerah bajunya yang juga lebar berulang kali dimasuki Vivi, anjing kecil itu menyumbulkan kepalanya di kerah baju yang dikenakan Sehun.

Remaja itu tertawa karena geli tapi tetap membiarkannya bermain didalam bajunya.

Selain gemas, Jungsoo juga senang karena Sehun sudah tampak lebih ceria dari kemarin, tidurnya juga mulai nyenyak dan sudah mau makan serta minum obat dengan benar, melegakan karena setelah ini mereka harus membujuk Sehun untuk pulang. Atau setidaknya mengizinkannya untuk menghubungi orangtua anak itu supaya tidak cemas memikirkan anak mereka yang mendadak menghilang.

Karena dalam beberapa jam ini Sehun bisa saja dianggap orang hilang, dan kalau dilaporkan pada kepolisian, malah akan semakin repot, bisa-bisa polisi mendatangi rumah ini. Tidak, kejadian lama akan terulang kembali, kejadian saat rumah ini kedatangan polisi yang mengabarkan tentang kematian Minnie mereka.

Kejadian mengejutkan ia dan suaminya hingga rasanya ingin ikut mati juga, lalu mendadak menjadi buah bibir para tetangga, ada pula yang menyindir ada pula yang terang-terangan mencemooh. Itu terlalu menyakitkan untuk di ulangi kan.

"Halmeonie"

"Oh ya?" lamunannya pecah saat Sehun menarik tangannya dengan pelan, segera ia mengangkat kepala dan mendapati Sehun yang sedang berdiri dihadapannya sembari menggendong Vivi.

"Melamun ya? Memikirkan apa?"

"Ah tidak kok, hanya sedang memperhatikan Sehunnie, kenapa?"

Senyum Sehun mengembang. "Ayo ketaman, kita jalan-jalan" katanya dengan antusias, Jungsoo yang sudah berdiri berhadapan dengan remaja tinggi itu mengulurkan tangannya dan diletakan diatas keningnya.

"Badanmu masih hangat, nanti kalau naik lagi bagaimana"

Sehun membrengut, bibinya maju dan bertampang sedih. "Tapikan bosan dirumah terus, sekalian jalan-jalan dengan Vivi. Sepertinya dia sudah bisa berlari. Kakinya sudah sembuh"

"Nanti kau kelelahan"

"Halmeoni"

Aegyo, kenapa Sehun harus melakukannya kan dia jadi lemah. Jungsoo menghelakan nafasnya. "Bailkah, tapi jangan sampai kelelahan ya"

"Yeyyy" sorak Sehun sembari melambungkan Vivi tinggi-tinggi hingga anjing kecil itu memekik, mungkin karena kaget, dan untungnya Sehun dapat menangkapnya secara sempurna, si anjing kecil kembali ke pelukan Sehun.

Guk

Lalu di pekiki lagi.

"Halmeoni ambil jaket dulu untukmu ya"

Sehun membalasnya dengan anggukan, ia duduk di sofa yang tadi di duduki Jungsoo sekalian menunggunya, Sehun sibuk bermain dengan Vivi, rasanya senang sekali seperti memiliki seorang adik, terlebih Vivi kakinya terluka, dia membutuhkan banyak perlindungan.

Adik? Mendadak saja Sehun teringat ibunya, dia rindu ibu.

Bagaimana ibunya, sedang apa, sudah makan atau belum atau apakah keadaan dirumah menjadi baik setelah dia pergi atau malah semakin kacau karena dia pergi?

Wajahnya menjadi murung, gongongan Vivi ia abaikan, dadanya kembali membuncah perasaan sakit. Ia teringat kembali ketika ibunya dipukul berulang kali wajahnya, bahkan hingga berdarah, ia teringat ketika ia memaki ibunya sampai wanita itu tidak bisa berkata apa-apa.

Lalu sekarang dia berada disini, begitu bahagia bersama kakek dan neneknya yang mana orangtua dari ibunya. Yang telah mereka anggap meninggal.

Mereka begitu baik kepadanya, tapi bagaimana jika nanti mereka tahu kalau Sehun adalah cucunya, kalau Sehun adalah anak dari puteri mereka yang dicuri dan disembunyikan demi seorang pewaris. Apa reaksi mereka? Apa akan tetap menyayanginya atau malah akan membencinya.

Sebab secara tidak langsung dia adalah sumber dari pusara neraka yang telah dirasakan anak mereka.

"Sehun-ah, kajja"

Nenek Kim tidak boleh melihatnya menangis. Cepat-cepat ia menghapus air matanya yang sudah jatuh satu, kemudian meraih Vivi dan berdiri, tidak lupa menebarkan senyum kecil kepada Jungsoo yang memakaikan jaket untuknya lalu keduanya berjalan beriringan keluar rumah.

-o0o-

Minseok sudah mandi, sudah makan juga sudah minum obat. Sekarang, sembari menepuk-nepuk pelan bokong Minseok untuk mengantar tidur, Luhan terus memandangi wajah bayi itu secara seksama. Sehun itu sepenuhnya mirip dirinya.

Makanya saat anak itu lahir dan beranjak usia satu tahun, semua langsung menjulukinya Pangeran kecil dari Lu. Tapi sekarang, perlahan menuju dewasa, anak itu terlihat menjadi berbeda, dimana Luhan memiliki garis wajah yang cenderung kemayu dan lembut sementara Sehun lebih pada wajah seorang pria dewasa.

Garis wajah Luhan yang kemayu didapat dari ibumya, sementara Sehun sepertinya mendapat gen gagah dari kakeknya – Kim Youngwoon dan Hangeng Tan, selain garis wajah yang lebih gagah, bagaimana fisik Sehun juga terlihat seperti kakeknya, dimana badan Sehun lebih tinggi dan lebih besar, semua itu tidak hanya secara fisik.

Sehun memiliki sisi lembut yang bahkan meski wajahnya tampak seperti pria dingin dia memiliki aura kelembutan, ini pasti dari Park Jungsoo – wanita terlembut yang pernah ia temui, dibalik kelembutannya itu berpadu dengan sifat seperti setan kecil yang sudah pasti berasal dari ibu Luhan, kemudian setelah semua itu dilengkapi dengan sifat manja dan tsundere dari Minseok.

Sehun benar-benar anaknya, karena dia tidak hanya mewarisi sifat dari kakek-nenek serta ibunya saja. Sehun juga memiliki sifat keras kepala dan posesif dari dirinya, Sehun tidak segan marah kepada siapapun yang dirasa akan merusak miliknya.

Mungkin karena itulah Sehun bertengkar hebat dengan Park Jongin. Sehun merasa terancam akan keberadaan Park Jongin.

Seperti itulah sosok anak sulungnya, lalu bagaimana dengan yang di dalam sini. Luhan beralih mengusap pelan perut Minseok yang mana sudah mulai terlihat akan terlelap.

Bagaimana sifat dan rupa anak keduanya ini, akankah mirip dirinya juga, wajah dan sifatnya? Atau akan seperti ibunya?

Luhan benar-benar penasaran, ia bertanya-tanya, atau malah cenderung tidak sabar melihat anaknya keluar kedunia ini.

Apakah dia laki-laki atau perempuan. Kalau boleh memilih, Luhan ingin anak perempuan. Seorang gadis kecil yang mirip Minseok, yang bisa menemaninya nanti, bisa di dandani, teman berbelanja, menggosip tentang drama, atau mungkin juga merajut. Lucu sekali, ketika nanti dia telah beruban di usia senjanya ia memiliki puteri cantik yang merajutkan syal untuknya.

Mengantar seorang puteri ke altar menemui calon pasangan anaknya, itu mungkin akan menjadi moment paling mengharukan dan menyakitkan karena harus melepas gadisnya untuk orang lain, tapi juga sekaligus membahagiakan karena akhirnya puterinya menemukan pria yang akan menjaganya seumur hidupnya.

"Bertahanlah sampai waktu itu tiba. Aku akan menjadi sebersih mutiara untuk kalian semua"

Air matanya mengalir membasahi pipi, bibirnya menempel di kening Minseok, bisikannya selirih hembusan angin, tapi perasaan itu sedalam palung lautan. Berbagai emosi yang berkecampuk, membuncah di dadanya.

"Aku mencintaimu Minseok, dan aku akan segera memberikan margaku untukmu. Mengikatmu secara sah dan mengembalikan kehormatanmu. Tunggu dan bertahanlah"

"Sajjang-nim pabbo"

Ia tertawa kecil, sepertinya Minseok mimpi indah. Tawa dalam tidurnya itu terdengar lucu dan kekanakan. Minseoknya sama sekali tidak berubah.

"Aku tahu, aku memang bodoh"

Ia menarik selimut semakin tinggi, mendekatkan kedua tubuh mereka lalu menenggelamkan keduanya dalam pelukan.

"Aku hanya berharap sampai akhir kita selalu bersama, hanya itu yang aku butuhkan"

-o0o-

Sehun berlarian kesana kemari dengan gembira di ikuti oleh Vivi dibelakangnya. Lucu sekali, seperti seorang adik yang ingin bersenang-senang dengan kakaknya. Hidup Sehun pasti kesepian, dia anak tunggal dengan orangtua yang kaya raya.

Kesibukan orangtuanya menyita waktu mereka untuk bermain bersama anaknya, ingin protes tapi memang tidak ada yang bisa ia lakukan, dulu saja ketika Minnie masih hidup, anak itu sering protes karena ayahnya jarang sekali ikut bermain dengannya.

Sering marah kalau mendadak Youngwoon membatalkan janji atau lupa pada janjinya. Minseok akan mendiamkan ayahnya sampai Youngwoon frustasi karena tidak mendapatkan maaf dari anaknya, meskipun ada ibunya tapi kehadiran kedua orangtuanya adalah yang paling istimewa, apalagi Minseok itu sangat dekat dengan ayahnya. Membuat sedih terkadang, ia seperti terasingkan.

"Jangan lari-lari Sehun" ia menegur, tapi bukannya menurut Sehun malah tertawa begitu lepas, seperti anak tanpa dosa yang menggemaskan.

Mungkin, mungkin kalau Minseoknya masih hidup ia juga sudah memiliki cucu, mungkin bisa berteman dengan Sehun, menjadi adik Sehun yang berlari-lari mengejar sikakak untuk bermain bersama dan Sehun akan menjaga cucunya lebih dari ia menjaga Vivi, itu pasti membahagiakan sekali.

"Halmeoni, ayo kemari. Aku akan main basket" Suara Sehun menggema dari kejauhan.

Main basket? Dimana ada ring basket disini. Oh tidak, dia baru sembuh. "Kau bisa kelelahan, jangan main yang aneh-aneh dulu, kau baru sembuh" Jungsoo mencari keberadaan Sehun.

"Halmeoni" anak itu rupanya berdiri mengantri pada stand arcade yang ada di sudut taman, sebuah taman bermain kecil yang banyak sekali anak-anak lain disana. Dan Vivi juga sedang bermain sepak bola bersama anjing-anjing lainnya, malangnya si kecil putih itu padahal tidak berlari dengan baik karena kakinya yang terperban tapi dia sangat berusaha keras, dia berlarian kesana kemari mengimbangi yang lain.

Sehun dan Vivi sama saja.

"Aku akan menang dan mendapatkan boneka beruang besar itu untuk halmeoni" Sehun membisik kepada Jungsoo yang sekarang berdiri disampingnya, Sehun ada di urutan terakhir, dan dia satu-satunya remaja SMA yang ikut mengantri karena yang lain tampaknya anak SMP. Dan ukuran tubuh Sehun yang paling besar dan tinggi.

"Tidak, halmeoni tidak mau boneka. Halmeoni mau kau kembali sehat"

Lagi-lagi Sehun memberngut, dan Jungsoo kalah lagi.

"Baiklah, pastikan kau menang kalau tidak halmeoni akan mengantarmu pulang"

"Aku akan menang"

Jungsoo menggelengkan kepalanya, Sehun itu tampak seperti pangeran es, tapi dia juga adalah anak remaja pada umumnya yang memiliki sifat manja dan kekanakan. "Halmeoni menunggu di bangku itu sembari melihat Vivi main bola ya."

Sehun menyahut iya. Dan Jungsoo duduk dibangku taman melihat Vivi yang masih berusaha keras melawan anjing-anjing lain, menggemaskan sekali, Vivi yang paling kecil dan dia satu-satunya anjing berbulu putih, sepertinya setelah ini ia harus memandikan Vivi, bulu putih bersihnya sudah berubah warna menjadi coklat.

"Eomma-eomma. Riri sedang main arcade katanya mau dapatkan boneka untuk Minnie, padahal kan dia sedang sakit. Riri keras kepala" Minseok kecil mengadu kepada ibunya.

Saat ini Jungsoo membawa Seungri dan Minseok ketaman. Choi Seunghyun – sahabat suaminya itu ada urusan mendadak di kantornya dan menitipkan anaknya – Choi Seungri kepadanya, Seungri sedang sakit tapi anak itu memaksa untuk keluar karena merasa bosan. Setelah keluar dia malah lari-larian ditaman.

"Minnie tidak hentikan? Nanti tambah sakit lho Ririnya" Jungsoo celingukan untuk mencari keberadaan Seungri, anak itu bisa semakin sakit kalau bermain yang terlalu menguras tenaga, mana tubuh nya masih panas tadi.

"Sudah eomma tapi Riri bilang tidak apa, katanya aku disuruh jaga Bulldog saja"

Bulldog itu nama anjing jenis poodle milik Seunghyun, yang kemana-mana selalu ikut, dan sekarang sedang bermain sepak bola dengan anjing-anjing lainnya.

"Ah Bulldog kotor sekali eomma, sepertinya sehabis ini kita harus memandikan Bulldog lagi"

Saat ia mengalihkan pandangan, Jungsoo mendapati Bulldog sudah seperti anjing jalanan yang kumuh, bulu coklat tuanya sudah berubah menjadi hitam. Benar, sepertinya setelah ini ia harus memandikan Bulldog.

"Halmeoni"

Pekikan Sehun itu sontak membuat Jungsoo menoleh, anak itu tengah berlari kearahnya sembari memeluk boneka super besar hampir menyamai dirinya. Tidak butuh waktu lama Sehun sudah sampai dihadapannya lalu mendudukan boneka beruang di pangkuannya.

"Aku menang, aku dapatkan 70 lebih poin" ia bercerita dengan bahagia, sampai melompat-lompat saking antusiasnya.

"Astaga, Vivi" lalu pekikan bahagianya berganti dengan kekagetan, Sehun berlari menuju anjing kecil yang masih sibuk dengan teman sesama anjingnya bermain sepak bola, tidak peduli bulu indahnya sudah kotor tidak berwarna.

"Kau kan baru mandi, ih kotornya" Jungsoo masih terdiam tapi matanya terus mengikuti pergerakan Sehun yang sedang berjalan kemari membawa si kecil Vivi.

Kejadian ini dia pernah mengalaminya dulu, dan sekarang ia kembali mengalaminya dengan Sehun, sesuatu hal yang lumrah suatu kejadian terulang kembali meski tidak dengan orang yang sama, tapi kenapa mendadak saja kepalanya seperti kosong, tapi dia mau memandang wajah Sehun sepenuhnya, mendadak saja wajah Sehun seperti mengingatkannya kepada seseorang, tapi siapa?

Kenapa ia tidak bisa mengingat orang yang ia pikirkan ketika melihat Sehun. Ada apa dengan dirinya? Kemana pikirannya dan apa yang terjadi sepersekian menit yang lalu.

"Halmeoni, Vivi sangat kotor, kita pulang saja ya. Mandikan dia"

Jungsoo tidak bergeming, masih terduduk sembari memperhatikan wajah Sehun yang tidak terlihat jelas karena diterpa sinar matahari sore. Siapa? Mirip dengan siapa Sehun itu? Kenapa tidak jelas dan matanya mengkabur. Siapa?

"Halmeoni"

Ah tidak mungkin. Kepalanya sakit. Dia harus berhenti berfikir sekarang, atau kepalanya akan meledak.

"Ya?"

"Ih, halmeoni melamun lagi" Sehun berdecak. "Ayo pulang, Vivi kotor, mandikan dia"

"Oh keurae. Kajja"

Sehun terus berceloteh, sesekali juga bersenandung pelan, menyanyikan lagi anak-anak Keluarga Beruang. Jarinya yang panjang itu sesekali menunjuk boneka beruang yang sekarang sedang Jungsoo gendong, lucu sekali Sehun ini.

"Oh ya, Vivi ditemukan disana" Jungsoo buka suara saat matanya melihat tempat dimana ia dan Youngwoon menemukan Vivi. Itu langsung membuat senandung Sehun terhenti, kepalanya berputar melihat tempat yang ia tunjuk.

"Disana? Huh, kalau begitu ayo cepat kabur"

"Eh, kenapa?"

"Kalau pemiliknya ada disini bagaimana? Nanti Vivi diambil. Jadi ayo kabur cepat"

Jungsoo terkekah dengan wajah panik Sehun, sepertinya anak ini sudah sangat jatuh cinta terhadap si kecil berbulu putih ini. "Ya kembalikan, kan Vivi memang bukan punya kita" Sehun berdecak.

"Vivikan punya Sehunnie, kita sudah mandi bersama lho. Sudah terbuka satu sama lain, sudah saling melihat satu sama lain, masa di kembalikan" protes Sehun.

Perkataan polos itu entah hanya berpura-pura atau memang alami tanpa terpikirkan, itu terdengar begitu lucu, otomatis membuat Jungsoo tertawa, lucu sekali. Apa katanya tadi?

Sudah terbuka satu sama lain? Ya ampun. Sehun itu mandi bersama seekor anjing bukan anak gadis, kenapa terasa seperti Sehun sedang menetapkan kepemilikian, astaga.

"Jungsoo?"

Oh, keduanya menoleh pada sumber suara saat seseorang terdengar memanggil nama Jungsoo, mereka mendapati dua orang wanita yang kini berjalan kearah mereka. Sepertinya tidak asing.

"Miyoung?"

"Astaga, kau benar-benar Jungsoo? Kau masih saja cantik seperti gadis kemarin sore" Hwang Miyoung atau Tiffany Hwang, sahabatnya yang menikah dengan orang berdarah Thailand dan menetap di Amerika.

"Astaga, jangan bergurau. Aku sudah tua dan berkeriput" Jungsoo menepuk pelan lengan Tiffany yang kemudian terkekah cantik, lalu pandangannya beralih kepada wanita lain yang datang bersama Tiffany. Ah dia sedang hamil.

"Ini siapa? Cantik sekali" ia bertanya dengan ramah.

"Oh kenalkan, namanya Tennie. Anakku" nama lengkapnya Ten Chittapon Leechaiyapornkul, karena terlalu panjang jadi di singkat saja Ten. "Dia sedang hamil anak pertamanya, ah seharusnya Johnny segera kembali supaya kalian sekalian berkenalan. Menantuku itu mirip aktor Seo Youngho lho"

"Hah? Masa sih? Serius? Ih aku kan fans beratnya Seo Youngho" Jungsoo memekik girang, lupa usia menggosipi artis idola.

"Aku juga, aku bahkan memekik hampir pingsan saat Ten membawa Johnny kerumah, mirip sekali. Kupikir Ten membawa Seo Youngho kerumah kami, tapi ya mana mungkin lah ya. Sekarang Seo Youngho juga sudah jadi pebisnis"

"Mama, jangan menggosipi suamiku astaga, kebiasaan" Ten memprotes, wajahnya memerah, antara malu juga sedikit kesal. "Dasar pecemburu sekali sih, mama kan senang karena suamimu itu bisa di pamerkan"

Dua wanita berumur penggemar Seo Youngho itu terkikik lagi, mengabaikan Ten yang memutar bola matanya malas. Kebiasaan sekali, rasanya juga serba salah, punya suami ganteng itu memang berat.

"Oh ya, ngomong-ngomong bagaimana kabarmu? Terakhir kita bertemu itu sekitar belasan tahun lalu, astaga aku lupa. Sudah tua, mau jadi nenek"

"Aku juga lupa, aku malah hampir tidak mengenalimu. Terlebih kau sudah seperti orang Amerika."

"Aku kembali ke Korea satu tahun lalu, besanku ingin cucunya lahir di Korea"

Dia senang mendengar kabar bahagia dari temannya tapi dia juga sedih kalau faktanya dia masih sangat lama untuk menimang cucu, usianya sudah sangat senja tapu anak keduanya masih sangat belia. Sedangkan puteri sulungnya, telah tiada.

"Oh ya, omong-omong. Ini cucumu, astaga mirip sekali dengan Minseokkie, hey apa Minseokkie menikah dengan orang luar, wajahnya seperti keturunan barat, dia juga sangat tinggi"

Bulu roma Sehun meremang, Jungsoo menatapnya seketika, dalam tatapan itu seperti tersirat sebuah kalimat tapi Sehun sama sekali tidak tahu apa maknanya. Sulit di artikan dan itu membuatnya mendadak menjadi takut.

"Hey, bukan. Dia ini cucunya Heenim, kau tahu Luhan dan Baekhyun? Ini anak mereka?"

"Luhan dan Baekhyun?" Tiffany memasang wajah berfikir. "Pemilik Hanlu Group, Ma. Yang Johnny ceritakan menjadi promoter untuk pembangunan jalan di Indonesia"

"Oh, astaga. Mama ingat" Tiffany menepuk pelan lengan Ten yang mengingatkan, dia memekik tapi kemudian keninggnya berkerut, ia mamandang Sehun dengan seksama. "Masa sih? Kok tidak mirip ya, aku pernah melihat mereka di majalah bisnis Johnny, tapi dia tidak seperti ini. Kupikir dia anaknya Minseokkie. Mirip sekali lho."

-o0o-

Pada pukul lima sore saat Youngwoon kembali kerumahnya setelah mengunjungi beberapa krabat dan kawan lama, ia cukup dikejutkan oleh kedatangan Luhan yang sedang memandang rumahnya dalam diam.

Pria itu sepertinya datang seorang diri, mengendarai mobilnya tanpa supir juga tanpa isterinya, mungkin ingin menjemput Sehun.

"Luhan-ssi"

Luhan itu anak sahabatnya, dan pernah bertemu beberapa kali, termasuk di peringatan kematian Minseok, namun bertemu berdua dalam keadaan demikian, rasanya canggung juga. Bingung dengan situasi ini, terlebih merasa bersalah karena tidak langsung mengantar Sehun atau setidaknya memberitahu keberadaan anak itu disini.

"Annyeonghaseyo Ab-jussi"

Youngwoon menaikan sebelah alisnya seperti yang sering dilakukan Seunghyun sahabatnya, saat telinganya mendengar Luhan hampir salah memanggil entah dengan sebutan apa, tapi hanya sebentar lalu ia tersenyum.

Selain canggung karena situasinya, juga entah mengapa seperti ia membuat sebuah benteng besar terhadap Luhan karena sebuah alasan, entah apa itu tapi ia merasa seperti dia harus melakukannya.

Guk. Guk. Guk.

Belum sempat Youngwoon banyak bereaksi atas kedatangan Luhan, seekor anjing kecil berbulu buluk tapi dia kenali itu menggonggong dan mengusel diantara kakinya.

"Kau sudah pulang, oh ada Luhan" disusul suara isterinya yang mengecil di akhir kalimat, karena pandangannya jatuh kepada Sehun yang kini mematung dengan tangan terkepal. Matanya menyalang menatap ayahnya, kemarahan langsung mengkilat di kedua bola matanya yang setajam ujung pedang.

"Ayo temui ayahmu" samar-samar Youngwoon mendengar isterinya membisik, tangannya menyentuh lengan Sehun dengan lembut, saat pandangannya beralih kepada Luhan, lelaki itu menampilkan wajah lega. Sepertinya dia senang melihat anaknya.

Jungsoo menggenggam tangan Sehun yang terkepal, mengusapnya dengan lembut lalu memberikan senyum terbaiknya untuk menenangkan. "Ayo, selesaikan masalahnya. Kalau tidak, halmeoni tidak mau kau tinggal disini lagi" lembut tapi tegas, begitulah Park Jungsoo.

Akhirnya Sehun dan Luhan duduk sofa masih saling diam, Jungsoo pergi untuk menaruh si beruang besar lalu ke dapur membuat minuman, Youngwoon menggiring si kecil Vivi menuju kamar mandi untuk dimandikan.

Dari arah dapur Jungsoo masih bisa melihat Sehun dan Luhan yang masih setia duduk. Memang benar kalau ada masalah serius, Sehun terlihat paling enggan bahkan dia memalingkan wajahnya dari Luhan, sementara itu si ayah tampak sangat merasa bersalah.

Minseok duduk di sofa sambil meringkuk menghindari ayahnya, setelah aksi penolakan Yongwoon tentang Minseok yang ingin menjadi idol Youngwoon dan Jungsoo memang menjadi perang dingin, dan karena Minseok berkata pernah mendengar Youngwoon membentak Jungsoo, anak itu menjadi takut kepada ayahnya.

Sekarang lelaki itu sedang mencoba meminta maaf, tapi lumayan sulit karena Minseok sepertinya sangat marah atau sangat ketakutan lebih tepatnya. Bahkan sekarang, anak itu tidak memandang ayahnya dan malah memalingkan wajah kearah lain.

.

.

To be continue...

.

.

Hai. aku kembali. ada yang nunggu story ini? ada yang masih setia dengan XiuHan?