disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.


"Cocchi biasanya di atas sana," ujar Chi dengan kepala terarah pada air mancur. Mereka berdua sekarang berada di tanah lapang yang masih menjadi bagian taman, dengan jarak cukup jauh dari tempat pertemuan mereka biasanya. "Kenapa Cocchi di sini?"

"Se-Sesukaku!" seru Cocchi ketus. "Seluruh taman ini adalah milikku, bebas saja aku mau di mana, 'kan?!"

"Milik Cocchi?" Chi membeo.

"Tentu saja, kekh!" Cocchi mengangguk mantap. "Aku hanya membiarkan kucing-kucing besar di sini ... sekadar menghormati mereka! Salah satunya, kucing hitam di atas dinding air mancur itu!"

"Oohh, Kuroino!" tambah Chi.

"Kautahu? Aku bisa saja meminta mereka untuk meninggalkanku seorang diri di sini, heh heh," tutur Cocchi angkuh.

"Benarkah? Jadi bisa bermain sepuasnya?" Wajah Cocchi yang penuh dengan kepercayaan diri dianggap Chi sebagai jawaban iya. "Kereeeen!"

"Chi! Cocchi!" panggil Telly.

"Halo, kalian berdua!" sahut Ann.

"Ann dan Telly! Cocchi, Ann dan Telly datang!" Chi, Ann, dan Telly saling berbagi senyuman. Setelahnya, mereka bertiga membentuk lingkaran bersama Cocchi, berdiskusi dengan kepala menunduk. "Kita main apa hari ini?"

"Hmm ... tidak tahu." Telly menoleh ke arah satu-satunya anak kucing yang memiliki pola belang berbeda. "Bagaimana menurutmu, Cocchi?"

"Ha? Kenapa malah bertanya padaku?" balas Cocchi. "Aku—MIGAAAAAA!"

"MIYAAAAAAAA!"

Sesuatu mencuat dari dalam tanah di tengah-tengah mereka. Lingkaran pertemuan segera bubar karena keempatnya langsung meloncat karena kaget. Seakan tahu sudah muncul di tempat yang salah, makhluk tadi langsung kembali masuk ke dalam tanah dengan meninggalkan jejak berupa lubang kecil.

"Apa itu ... tadi?!" tanya Ann yang masih mengatur napasnya.

"Aku kaget!" jerit Telly.

"Chi tidak tahu! Chi tidak tahu!" Chi menggeleng kuat. "Apa itu, Cocchi?!"

"Heh?! Kalian semua tidak tahu?!" Cocchi mendengus sombong, merasa menjadi kucing paling pintar sedunia saat ini juga. "Itu cacing, aku yakin itu!"

"Kenapa dia muncul tiba-tiba seperti itu?!" Chi mengarahkan salah satu matanya untuk mengintip ke dalam lubang. "Kau di mana, Tuan Cacing? Chi akan menangkapmu karena sudah membuat Chi kaget, humph!"

"Ada cacing lagi di sana!" seru Telly. Benar saja, seekor cacing tengah meliuk-liukkan badannya yang separuh keluar dari tanah.

"Tunggu tunggu! Chi akan menangkapmuuuuu!"

"Tunggu, Chi!"

"Aku ikut!"

"Oi, bukan begitu caranya, Chi!"

"Hap! Chi dapat!" Chi menumpuk kedua kaki depannya di atas tempat munculnya si cacing. Dengan semangat, Chi langsung mengangkat sepasang kakinya dan tak melihat binatang apa pun. "Aeh? Dia pergi?"

"Tentu saja! Dia pasti masuk kembali ke dalam lubang seperti tadi!" omel Cocchi.

"Di sana!" Ann ikut melakukan hal yang sama dengan Chi sebelumnya. Seperti Chi pula, dia tak mendapatkan apa-apa.

"Sini!" Telly ikut-ikutan.

"Aku tidak melihatmu." Cocchi membuang muka, berakting seolah tidak menyadari cacing itu berdansa di dekat ekornya. Merasa mangsanya sedang tidak waspada, Cocchi berniat menyergap. "Kau—CHI!"

Terlambat bagi Cocchi untuk menyadari datangnya Chi, yang tengah berlari ke arahnya dengan wajah nakal dan seringai. Cacing itu bergerak masuk ke dalam tanah, membuat Chi beradu kepala dengan Cocchi yang memutar kepalanya, serta kesepuluh cakarnya yang mendarat di ekor Cocchi.

"EKORKU!" pekik Cocchi. Rasa sakit dan pusing yang menyerang kepalanya kalah hebat. "Chi, apa maksudmu, hah?!"

"Di sana! Di sana!" Ann berlari. "Tunggu, aku akan mendapatkanmu!"

"Tunggu aku, Ann!"

"Kekh! Aku akan membalaskan dendamku padanya yang membuatku sakit seperti ini!"

"Myaaaaaaa! Mangsa, mangsa!"

Sepertinya, sang cacing merasa sedang bermain. Beberapa kali dia muncul dan menghilang, memberi gestur mengejek yang membuat para anak kucing semakin bersemangat mengejarnya. Selama itu pula, hal-hal buruk terus menimpa anak-anak kucing itu. Dimulai dari Telly yang menabrak tiang perosotan, Ann yang tubuhnya terperosok ke bak pasir, hingga yang paling tidak masuk akal seperti Chi yang jatuh terkapar dari atas ayunan—bukankah logikanya kucing punya insting untuk mendarat dengan dua kaki?

"Wuaaa! Sekarang Mike Obaa-san ada di sana!" celetuk Chi yang masih terbaring di atas tanah. Dia buru-buru bangkit dan berlari ke arah air mancur. "Mike Obaa-saaaaaaan!"

"Chi, tungguuuuu!" koor Ann, Telly, dan Cocchi kompak. Mereka ikut berlari mengikuti Chi dari belakang.

"Ah, Kuroino dan Mike Obaa-san!" sapa Chi. Dua kucing dewasa yang tersebut namanya serempak menoleh. "Apa yang sedang kalian obrolkan?"

"Halo, anak-anak kucing yang lucu." Mike memberikan senyum ramah seperti biasa. Usianya yang tergolong tua membuat nada bicaranya sedikit pelan dan lambat. "Kalian sedang apa?"

Rupanya Mike tidak mendengar pertanyaan Chi, dan yang bersangkutan juga tidak menyadarinya. "Mengejar mangsa! Ah, sudah menghilang! Ke mana perginya?!"

Telly menyela, "Ayo kita mencari yang baru!"

Ann dan Cocchi mengangguk. Mereka sudah bersiap untuk berpetualang dengan misi yang Telly usulkan, sebelum Mike memanggil mereka berempat. "Tunggu, anak-anak. Malam ini akan ada pertemuan kucing. Kalian mau datang dan bernyanyi? Kita bisa mulai latihan sekarang, jika kalian mau."

Chi melompat girang. Cocchi memberikan respon yang berbeda jauh. Chi membalas dan Cocchi memprotesnya, berujung dengan perkelahian yang sudah umum terjadi di antara mereka akibat semacam miskomunikasi. Ann dan Telly berdiskusi, sempat terjadi kebimbangan memilih keputusan, namun akhirnya mereka mengangguk mengiyakan. Di akhir, keempatnya setuju untuk berpartisipasi.

Mike memberi arahan. "Kalau begitu, kalian bisa menunggu di bawah pohon yang itu. Aku akan menyusul."

"Okeeeei, Mike Obaa-san! Sampai jumpah lagiii!"

"Terima kasih sudah mengajak kami, Mike Obaa-san yang baik hati!"

"Baik, Mike Obaa-san! Kami sudah sangat tidak sabar!"

"K-Kami menunggumu ...!"

Mereka ... tidak melupakan sesuatu, 'kan?


"Semuanya, bukankah tadi kita sedang mengejar sesuatu?"

"Benarkah, Telly? Aku ... tidak begitu ingat."

"Chi tidak ingat apa-apa!"

"K-Kenapa kau malah senang, Chi ...?!"

"... Chi tidak tahu! Hewhewhewhew! Tapi Chi senaaaaaang~!'


tamat


~himmedelweiss 27/08/2020