"Daylight"
Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.
Genre : Romance, Action
Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook
Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min
Rated : M
Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook
YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya
M-Preg, y'all. You're gonna love it
Typo everywhere
Di chapter ini ada lebih banyak Taekook momentnya. Semoga readers bisa merasakan feel kedua karakter itu di chapter ini ya. Kalo bosen… ya maap hehehe.
Chapter 23
Di waktu lampau, ada masa-masa dimana Taehyung begitu ingin memiliki seorang adik. Tak masalah apapun jenis kelaminnya, yang penting ia punya teman bermain di kala bosan. Taehyung itu sangat menyukai anak kecil. Ia tipikal orang yang mudah sekali gemas dengan tingkah laku anak-anak. Itu sebabnya ia meminta pada orang tuanya untuk memberikan adik barang satu atau dua.
Sayangnya orang tua mereka tak berpikiran sama. Mereka berdua yang sama-sama sibuk tak memiliki sedikit waktupun untuk memikirkan permintaan putra semata wayangnya. Akhirnya Taehyung lebih sering diberikan mainan dan uang untuk membeli apapun yang dimau. Taehyung kemudian tumbuh dewasa tanpa adanya adik, hingga suatu hari ia bertemu dengan Joy.
Taehyung dan Joy bertemu di suatu sore teduh. Keduanya bertemu tanpa sengaja dimana Joy tak sengaja menumpahkan minumannya pada pakaian yang dikenakan Taehyung. Gadis itu meminta maaf dan dari sanalah perkenalan mereka terjadi. Taehyung menyukai sikap Joy yang manja. Taehyung suka memanjakan orang yang ia sayang. Ia merasa keinginan di masa lalunya dapat terpuaskan kala bertemu dengan Joy. Ia memperlakukan Joy seperti adik, sahabat, kekasih, dan belahan jiwa selama bertahun-tahun. Hingga kemudian muncul lah hasrat Taehyung untuk mengikuti Copulation.
Yang kemudian menghantarkannya untuk bertemu dengan satu sosok yang saat ini tengah memejamkan mata. Sosok yang tak ia duga mampu membalik dunianya dalam sekejap mata.
"Jungkookie, bangun ya? Sudah tiga hari kau begini. Bangun ya sayang.."
Tak kurang delapan belas jam sudah hari ini Kim Taehyung duduk di ruangan yang sama dengan pasangan Copulation-nya. Di hadapannya terbaring dengan mata terpejam erat, Jeon Jungkook dan seperangkat alat-alat medis yang terpasang di hidung, tangan, dan dadanya.
Tubuh yang menghantam tanah sukses membuat pendarahan hebat dialami Jungkook. Ia mengerang kesakitan yang membuat Taehyung, Jimin, dan para pemberontak yang menunggu di bawah terperanjat kaget. Semuanya mendatangi Jungkook yang sudah bersimbah darah dengan keadaan yang mengenaskan. Joy, sebagai dalang yang membuat kekacauan ini hanya bisa menganga dan menjerit keras melihat apa yang telah ia perbuat. Gadis itu sampai harus diamankan oleh Hoseok sebelum diterjang Taehyung yang notabene adalah tunangannya sendiri.
Yoongi yang sigap langsung menghubungi tim medis yang untungnya tiba dalam hitungan menit saja. Mereka melarikan Jungkook ke unit darurat untuk menyelamatkan nyawanya dan bayi yang dikandungnya.
Seokjin, kakak kandung Jungkook yang telah bertahun-tahun melarikan diri ke Meonji Seom dan mengabdikan diri sebagai tim medis di sana, adalah dokter pertama yang mengatakan jika pembedahan harus dilakukan. Taehyung meminta apapun yang terbaik bagi pasangannya dan sisanya ia hanya dapat terkulai lemas di lantai sembari menunggu proses operasi tersebut selesai.
Dua jam kemudian Seokjin dan tim medis lain keluar dari ruang operasi dan mengabarkan jika bayi yang dikandung Jungkook telah meninggal dalam kandungan. Tentu saja karena benturan keras yang menimpanya. Jatuh dari ketinggian empat meter tentunya bukan hal yang baik, bukan? Itu sebabnya jasad sang bayi harus segera dikeluarkan dari perut ibundanya agar nyawa sang ibu juga dapat diselamatkan.
Beruntungnya, atau dapat dikatakan ajaibnya, Jungkook tak mengalami luka-luka yang berarti. Bahkan patah tulangpun tidak. Suatu mukjizat kecil dari Tuhan setelah sang calon bayi harus diambil 'paksa' sedini mungkin.
Tak menunggu lama, Taehyung langsung menerjang masuk dan tak mau meninggalkan Jungkook barang sedetikpun.
Doa yang dirapalkan Taehyung sepertinya didengar Tuhan. Tak lama setelahnya Jungkook membuka matanya perlahan-lahan dan gambaran yang ia lihat pertama kali adalah wajah Taehyung yang basah oleh air mata.
Jungkook tiba-tiba saja langsung menyentuh perutnya yang kini sudah tak besar lagi. Ia meraba-rabanya dan sengatan panik melanda tubuhnya. Tanpa diduga Jungkook melompat dari ranjangnya, membuat sejumlah selang yang menempel di tubuhnya terlepas seketika.
"Bayiku? Perutku kenapa begini? Dimana bayiku?"
Taehyung memanggil nama Jungkook pelan namun sang pasangan menggeleng hebat dan memandang Taehyung dengan tatapan nyalak.
"Jungkook, ku mohon tenang dulu."
"Kemana bayiku, hyung? Katakan!" Bentak Jungkook.
Ruangan yang semula hanya diisi dua orang kini mulai dipenuhi oleh sejumlah tim medis. Beberapa di antaranya membawa alat suntik dan hal itu yang membuat kepanikan Jungkook semakin menjadi-jadi.
"Dimana bayiku?!"
Kim Taehyung menangis. Bahkan untuk mengatakan hal yang sejujurnya saja lidahnya mendadak kelu. Ia tak bisa menjawab pertanyaan itu dan hanya mengiba Jungkook untuk tenang sebentar saja.
"Bayimu harus dikeluarkan dari perutmu karena meninggal, Kook. Kau keguguran saat jatuh dari pintu pesawat."
Jawaban yang terlontar dari bibir Jimin, yang muncul entah dari mana, membuat nyawa Jungkook seolah terlepas dari raganya. Ia jatuh ke lantai dan memandang orang-orang di hadapannya dengan pandangan menuduh.
Di detik berikutnya, tanpa diantisipasi dari siapapun, Jungkook menerjang orang-orang tersebut dan keluar dari ruangan itu. Ia berlari dan menabrak siapapun yang ditemuinya tanpa pandang bulu.
Di belakang Jungkook, tim medis mengejarnya, begitupula Taehyung dan Jimin. Bak kerasukan, Jungkook berteriak kencang menolak ditangkap. Padahal tim medis itu hanya akan memberikan obat penenang supaya tidak ada kegaduhan lebih lanjut.
Jungkook masuk ke sebuah ruangan berpintu besi yang terletak di paling ujung bangunan. Ia masuk, menutup pintunya lalu mengunci pintu tersebut. Ia mengabaikan panggilan-panggilan dari arah luar dan memilih untuk menutup telinganya kuat-kuat.
"Pergi!"
.
.
.
"Jungkook, makan ya? Aku suapi."
Tujuh hari sudah Jungkook menghabiskan waktunya mengurung diri dalam ruangan berdinding besi berukuran 3x4. Setelah insiden meledak-ledak yang Jungkook tunjukkan di hadapan para warga Meonji Seom untuk pertama kalinya, ia menolak untuk keluar dari ruangan itu. Beberapa orang yang mendekatinya bahkan ia umpati dengan berbagai cercaan yang tak pernah terbayangkan olehnya. Tak ada siapapun yang berani dan diperbolehkan mendekatinya dalam radius dua meter. Jungkook akan berteriak histeris dan meminta siapapun keluar dari ruangan. Hanya tim medis yang mendobrak pertahanan Jungkook dengan memberikan infus agar Jungkook tetap dapat bertahan hidup. Jika tidak dibantu dengan alat tersebut maka mungkin kini nama Jungkook hanya tinggal kenangan.
Akan tetapi, sejak kemarin Jungkook sudah mau menerima tamu yang datang ke tempat persembunyiannya. Orang itu tak lain dan tak bukan adalah pasangan Copulation-nya, Kim Taehyung.
Taehyung yang saat ini memangku sepiring nasi lengkap dengan lauk pauk, menatap Jungkook dengan penuh penyesalan. Walau bagaimanapun ia adalah salah satu orang yang paling terpukul dengan kepergian calon anak mereka. Taehyung juga tak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri sejak insiden tak terduga itu. Ia juga sama terlukanya. Hatinya semakin sakit kala melihat pasangannya terpuruk dan begitu terguncang dengan kepergian anak yang mereka nanti-nantikan.
"Aaa, buka mulutmu, Kookie."
Sama seperti yang Jungkook lakukan sejak satu jam yang lalu. Ia hanya menatap dinding besi di hadapannya tanpa berkedip. Mengabaikan tangan Taehyung yang menggantung di udara ataupun minuman dingin yang menggoda di atas meja, Jungkook memilih bergabung dengan lamunannya tanpa mempedulikan hal lain.
"Atau kau mau minum dulu?"
Tak ada anggukan. Pun begitu dengan gelengan. Hening yang tercipta di antara mereka berdua semakin mengiris jantung Kim Taehyung.
"Kookie, kau tahu, seratus meter dari sini terdapat air terjun indah yang aliran airnya dapat menenangkan hati. Kalau kau sudah sembuh, kita jalan ke sana ya?"
Kembali hening yang menyapa.
Kim Taehyung menurunkan tangannya yang semula mengambang di udara. Ia meletakkan piring itu di atas meja dan memilih berjongkok tepat di hadapan pasangan Copulation-nya.
"Jungkook, katakan sesuatu."
Tak ada lirikan bahkan kedipan. Jungkook terlihat begitu sibuk dengan dunianya tanpa pernah sadar jika Taehyung mengajaknya bicara.
"Kookie, kita berbagi kehidupan. Hidupmu, hidupmu. Sakitmu, sakitku. Kita sama-sama kehilangan calon anak kita. Aku juga sama sakitnya denganmu. Melihatmu diam saja begini tanpa sanggup berbagi dukamu denganku… itu menyakitkan. Ku mohon katakanlah apapun yang ada di kepalamu. Bahkan jika kau ingin mengumpatiku aku juga siap mendengarnya. Jungkook, ku mohon."
Jungkook menggerakkan kepalanya. Tidak benar-benar memandang Taehyung, namun cukup untuk membuat jantung Taehyung berdegup kencang. Sosok yang semula begitu hangat tersebut menundukkan kepala dan menatap lantai.
"Bilang sesuatu, Kook." Pinta Taehyung.
"Bunuh aku." Jungkook berbicara begitu pelan hingga nyaris tak terdengar. "Aku gagal menjaganya. Bunuh aku."
"Jungkook, jangan bilang begitu ku mohon—"
"Aku tak bisa hidup begini, hyung. Aku membiarkan dia pergi. Aku pantas dihabisi."
"Jungkook—"
"Kenapa kau tak ambil pisau dan tusuk aku sekarang juga? Kenapa kau diam saja, hyung? Kenapa kau membiarkanku hidup dan merasa bersalah seperti ini?"
Menangis.
Setelah berhari-hari berdiam dalam lamunannya, di hari ini Jungkook akhirnya menangis.
Netra indah itu dipenuhi oleh air, membuat kejernihannya berubah menjadi semu kemerahan. Jungkook terisak kuat dan ia menepis tangan Taehyung yang hendak menyentuh kepalanya.
"Kook… Jangan begini…"
Jungkook menangis hebat. Ia menenggelamkan kepalanya di kedua telapak tangan dan menangis dengan raungan hebat. Tak pernah sekalipun Taehyung melihat pasangannya terlihat serapuh ini. Taehyung tidak sanggup, jujur saja. Hatinya terasa begitu sakit melihat Jungkook begitu dalamnya terluka.
"Hyung…" Isak Jungkook.
Mengabaikan pukulan-pukulan yang Jungkook layangkan saat Taehyung hendak memeluknya, pemuda bermarga Kim itu merengkuh jiwa yang tercabik itu ke dalam dekapannya. Jungkook hanya menyebutkan kata 'bayi', 'anak', 'bunuh', dan 'tolong' di sela-sela tangisnya.
"Jungkook, ini bukan salahmu. Ku mohon berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Insiden ini terjadi tanpa dapat kita cegah." Taehyung mencoba menjelaskan walau napasnya sendiri tercekat di setiap kata yang terlontar dari mulutnya. "Jangan hukum dirimu begini, ini semua kecelakaan, sayang."
"Tolong, hyung…" Jungkook menggeleng dalam pelukan Taehyung. Isakannya semakin memilukan untuk didengar. "Aku tak mau hidup begini…" Imbuhnya.
Taehyung melepaskan pelukan itu perlahan. Ia membawa wajah cantik pasangannya yang terhalang air mata. Disatukannya kedua keningnya hingga Taehyung dapat merasakan detak jantung Jungkook yang menggila, napasnya yang tersendat, jiwanya yang terguncang, dan kewarasannya yang dipertaruhkan. Mereka menangis bersama dan Taehyung tak mau menutup-nutupinya.
"Jungkook, dengarkan aku sebentar, ya?"
Tak menunggu anggukan kepala, Taehyung melanjutkan ujarannya untuk menangkan pasangannya.
"Ku mohon, jangan salahkan dirimu. Kecelakaan ini tak ada yang tahu. Kau bukannya tidak becus menjaga anak kita, tapi memang terkadang ada hal di dunia ini yang terjadi di luar kehendak manusia. Jangan berduka sendiri. Kita sama-sama terluka dan kita juga yang akan saling menguatkan. Kau pasti bisa melalui cobaan ini semua. Percaya padaku, ya?"
"Sakit rasanya, hyung…."
"Aku tahu, sayang. Aku tahu," ucap Taehyung. Ia memeluk pasangannya itu dan mengecup puncak kepala Jungkook. Kecupan dalam dan hangat itu bersama gemuruh hujan di luar sana seolah menyelimuti keduanya. Taehyung mengusap lembut punggung Jungkook sembari menggumamkan kalimat untuk menenangkannya. "Aku tak akan meninggalkanmu lagi. Aku akan menjagamu. Kita lewati rasa sakitnya bersama, ya? Aku sayang sekali denganmu."
Keduanya berbagi rasa sakit bersama hingga malam tiba. Jungkook menolak ditemani dan Taehyung menghargai keinginan itu. Saat Jungkook akhirnya terlelap barulah Taehyung menyelinap ke luar untuk menemui seseorang yang sudah menunggunya di sudut lain Meonji Seom.
.
.
.
Ketika Jungkook akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruangan besi tempatnya bersembunyi, ia berjalan dengan penuh kehati-hatian bersama Taehyung. Taehyung dengan sabar berdiri di belakang Jungkook karena pemuda itu menolak untuk disentuh apalagi digandeng tangannya. Taehyung hanya mengarahkan Jungkook untuk berjalan menuju ruang utama Meonji Seom yang dikenal sebagai Arteri.
Dengan langkah tertatih Jungkook membuka pintu berbahan dasar kayu jati yang penuh dengan ukiran-ukiran indah, yang kemudian menampilkan sosok lautan manusia yang tengah berkerumun sembari mendengarkan pidato dari seseorang di podium. Jungkook menghentikan langkahnya dan seketika itu juga hening tercipta. Semua mata tertuju padanya tanpa terkecuali.
Jungkook yang terkejutpun mundur beberapa langkah hingga tubuhnya menabrak dada Taehyung yang menempel di belakangnya.
"Tak apa, Kook. Mereka kaum Meonji Seom."
Jungkook melirik ke arah Taehyung sekilas dan meneguk ludahnya dengan penuh kehati-hatian.
"Jeon Jungkook, senang akhirnya dapat melihatmu bergabung bersama kami di Arteri."
Sosok pria paruh baya yang mengenakan kacamata kotak menyambutnya dengan tangan terbuka. Pria itu rupanya adalah sosok yang sebelumnya tengah berpidato di podium. Jungkook tak tahu siapa orang itu dan ia hanya dapat merasakan aura kepemimpinan yang begitu kuat terpancar.
"Ku rasa berbicara empat mata akan lebih baik untuk saat ini, bukan? Mari ikut denganku."
Dua orang, yang dapat Jungkook sebut sebagai prajurit, datang menghampirinya. Dua orang itu mempersilakan Jungkook untuk mengikutinya menuju ke ruangan yang disebut pria paruh baya tadi.
"Tidak—"
"Tak apa, Kook. Mereka bukan orang jahat." Ujar Taehyung menenangkan. Jungkook tetap menggeleng kuat kala dua orang prajurit itu mulai menyentuh lengan kanan dan kirinya.
"Aku akan menemaninya. Tak usah menuntun Jungkookku."
Dengan perintah tersebut, dua prajurit tadi melepaskan tangan mereka dari Jungkook dan berjalan meninggalkan Taehyung dan Jungkook. Taehyung dengan hati-hati mengajak Jungkook untuk meninggalkan Arteri.
Meskipun semula menolak, namun rupanya Jungkook jauh lebih tidak nyaman jika harus menghadapi pandangan penasaran dari kerumunan. Itu sebabnya dengan langkah terseok ia mengekori dua prajurit tadi dengan mulut yang diam seribu kata.
Mereka berempat berjalan melewati lorong-lorong berdinding putih bersih dengan aroma vanila yang begitu kuat. Mereka akhirnya tiba di sebuah ruangan dimana sudah terdapat beberapa orang yang berkumpul dengan mengenakan seragam putih gading press-body dengan rumbai kuning di sisi bahu kanan. Jungkook melihat Park Jimin berdiri di antara orang-orang tersebut dengan memakai kaus hitam dan celana jins belel yang begitu asing di mata Jungkook.
"Hyung!"
Jungkook melirik Taehyung yang saat ini berdiri di sebelahnya. Pasangan Guardian-nya tersebut menyapa seseorang yang tak pernah Jungkook lihat sebelumnya. Sementara itu, sosok yang dipanggil menolehkan kepalanya dan melemparkan senyuman simpul dimana terpeta dimple manis di kedua pipinya.
"Tae, Kook, senang melihatmu lagi."
Lagi? Memangnya aku pernah bertemu dengannya sebelumnya?
"Jungkook, duduklah di kursi ini."
Pria paruh baya tadi, yang muncul dari pintu lain di ruangan itu, mempersilakan Jungkook untuk duduk di kursi perak dengan bantalan yang terlihat empuk. Jungkook memandang Taehyung sekilas yang memberikan anggukan sebagai penyemangat baginya. Dengan begitu, Jungkook menurut dan duduk di kursi tersebut.
Pria paruh baya itu mengambil kursi yang sama dan duduk di hadapan Jungkook.
"Aku turut berduka cita. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku benar-benar berduka atas kepergian calon buah hati kalian. Aku paham apa yang kau rasakan, Jungkook. Karenanya, kau dapat beristirahat sebanyak kau mau sebelum kau bergabung dengan kami untuk menghadapi masalah kita yang sesungguhnya."
"Siapa kau?' Tanya Jungkook penuh selidik. Ia meremat celana yang dikenakan karena merasa sangat tidak nyaman.
"Ah, aku lupa memperkenalkan diri. Maafkan pria tua ini, Kook." Jawab orang itu sembari tertawa pelan. "Namaku Bang Sihyuk. Orang-orang di sini kerap memanggilku Paman Bang."
Jungkook tak memberikan respon apapun dengan perkenalan ramah dari tetua Meonji Seom.
Rupanya hal itu tak mengganggu Paman Bang sama sekali. Ia melanjutkan salam perkenalannya dengan senyum yang terkembang. "Walau bagaimanapun, selamat datang di Meonji Seom. Terima kasih sudah datang kemari dan memilih untuk bergabung bersama kami. Dukunganmu dan yang lain begitu berarti bagi warga Selatan." Ucapnya. "Seperti yang kau lihat di Arteri tadi, warga Meonji Seom ada cukup banyak. Tidak sebanyak warga Utara tentu saja, namun cukup kuat untuk membangun pasukan."
"Ada beberapa warga yang dapat kau andalkan di Meonji Seom. Yang pertama adalah aku, yang kedua adalah Kim Namjoon," Paman Bang menunjuk ke arah pria berlesung pipi yang tadi disapa Taehyung. "Ada juga Min Yoongi yang sebelumnya sudah kau kenal. Lalu ada beberapa senior yang saat ini sedang berlatih di Vena, serta—"
"Jungkook."
Kim Seokjin berdiri mematung di pintu memandang Jungkook yang kini tengah membelalakkan matanya.
Seokjin kemudian mendatangi Jungkook dan menarik tangan ringkih itu. Seokjin memberikan tanda kedipan mata ke Paman Bang dan ia meninggalkan ruangan itu bersama Jungkook yang setengah tak sadar dengan apa yang ia lihat.
.
.
.
"Kook, kau sudah tidur?"
Pukul 1 dini hari, Taehyung masuk ke kamar Jungkook yang tak terkunci dan menemukan orang yang ia sayang tengah berbaring dan memejamkan mata. Jungkook sudah tidak lagi tidur di ruangan besi. Ia sudah mau menempati kamar asrama yang memang sejak awal disiapkan untuk para pendatang. Kamarnya sendiri bersebelahan dengan kamar Taehyung dan berseberangan dengan kamar Jimin.
"Belum." Jawab Jungkook pelan.
"Boleh aku tidur denganmu?"
Butuh sepuluh detik penuh sebelum Jungkook menjawabnya dengan sebuah anggukan ringan. Jawaban itu membuat Taehyung melepaskan sandalnya dan naik ke ranjang untuk bergelung di sebelah Jungkook.
"Aku tidak bisa tidur. Sudah seminggu lebih aku tidur sendiri dan rasanya benar-benar menyiksa."
"Kenapa datang padaku?" Tanya Jungkook lirih. Ia masih memunggungi Taehyung dan menatap dinding tanpa berkedip.
"Karena aku rindu dan ingin menemanimu." Jawab Taehyung. Ia meremat pelan pundak Jungkook dan berbisik "Bisakah kau menghadap ke arahku, Kookie?"
Jungkook menurut.
Ia berbalik dan mendapati Taehyung tersenyum canggung ke arahnya. Taehyung berdehem kecil dan mengangkat kepala Jungkook untuk kemudian menyematkan lengan kirinya di bawah kepala itu yang berguna sebagai bantal. Jungkook tidak protes sama sekali.
"Kau tidak bisa tidur juga?"
Jungkook mengangguk.
Ia memilin jemarinya dan kembali sibuk dalam lamunannya.
"Terima kasih karena sudah mau mendengarkanku, Kook. Terima kasih karena sudah mau keluar dari ruangan besi itu. Ku mohon ceritakan segala hal yang mengganjal di benakmu kepadaku. Apapun itu aku akan mendengarkannya, ya?"
Penyandang marga Jeon itu kembali mengangguk pelan.
"Saat ini apa yang kau pikirkan?"
"Pelik."
Taehyung tersenyum simpul. "Katakan saja, Kook."
"Sedihnya masih tapi aku merasa banyak bingungnya." Gumam Jungkook. Jungkook menggerakkan kepalanya untuk menyamankan posisi tidurnya. "Melihat Seokjin hyung masih hidup terasa sangat aneh bagiku. Aku senang dia hidup, tapi aneh. Rasanya seperti mimpi."
Taehyung mengangguk sekali. "Saat kau sedang kritis, itulah pertama kalinya aku bertemu kakakmu. Kau sudah tahu 'kan kalau Jin hyung yang mengoperasimu? Setelah operasi itu, hyungmu harus mengerjakan tugas lain yang menanti. Paman Bang bilang jika Jin hyung sudah lama menunggumu di sini. Ia ingin sekali menemuimu di ruangan besi itu namun Paman Bang belum memperbolehkannya. Ia khawatir kau akan semakin bingung karena psikismu masih terguncang."
"Semuanya…. terasa….. tidak nyata." Ujar Jungkook terbata.
"Aku paham apa yang kau rasakan, sayang."
"Taehyungie…"
"Hmm?"
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
"Ada rencana besar yang disiapkan Paman Bang bagi warga Meonji Seom, termasuk di antaranya kita. Tapi aku tak mau membahasnya sekarang. Saat ini kau harus fokus untuk menyembuhkan kesehatanmu dulu, ya? Aku akan menemanimu sampai kapanpun."
"Kenapa? Tugasmu sebenarnya sudah selesai, bukan? Tak ada lagi yang mengikat kita berdua. Bayi itu sudah tiada. Kenapa kau datang lagi padaku?"
Taehyung menghela napasnya. Ia menatap netra Jungkook yang terlihat begitu terluka saat mengungkapkan pertanyaan tersebut. "Ada atau tidaknya bayi kita, aku sudah memilihmu, Kook. Aku tak mungkin membiarkan orang yang ku sayang terpuruk sendirian." Taehyung menunduk dan menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ujarannya. "Aku juga berhutang permintaan maaf padamu. Hari di mana kita melarikan diri dari Utara, aku sempat marah besar padamu. Maafkan aku, Kook. Aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku hanya memintamu untuk keluar sebentar dari ruangan itu tapi ternyata kau salah paham. Maafkan aku karena sempat membentakmu, ya?"
"Hmm." Jawab Jungkook singkat sembari menganggukkan kepalanya.
"Aku mencintaimu."
"Tak perlu menghiburku."
Taehyung menghela napasnya sekali lagi yang kali ini terasa begitu berat. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Jungkook dan mengecup pelipis pasangannya itu cukup lama. Setelahnya ia kembali ke posisi semula dan memandang Jungkook yang menatapnya tanpa berkedip.
"Itu bukan hiburan. Bukan bualan. Aku benar mencintaimu."
"Jika aku sudah sembuh, apa kau akan tetap bilang begitu?"
"Aku mencintaimu bukan karena kau sedang sakit, Kook—"
"Apa kau akan tetap mengatakannya jika tunanganmu itu terus menerus membuntutimu?"
"Dia bukan tunanganku, Kook," jawab Taehyung tegas. "Bukan lagi. Aku membatalkan pertunangan itu. Jika dulu aku bilang aku akan memutuskannya, kali ini aku benar-benar melakukannya. Dia bukan lagi tunanganku dan jangan panggil begitu. Dia hanya masa laluku."
Jungkook bangun dari posisi tidurnya. Ia duduk dan menatap tajam Taehyung dengan pandangan cemas.
"Benarkah?" Tanyanya ragu.
Taehyung ikut bangkit dan duduk berhadapan dengan Jungkook dengan kaki bersila.
"Kami putus dan ku tegaskan jika itu sama sekali bukan salahmu. Aku putus dengannya bukan semata-mata karena dia sudah menyakitimu. Aku putus karena aku memang tak dapat melanjutkan lagi pertunangan kami. Aku dan Joy sudah tak sepemikiran dan aku tak mau kita bertiga selalu terjebak dalam situasi yang sulit."
Jungkook terdiam mendengar pernyataan tersebut.
"Sudah, tidur saja, ya? Jangan banyak berpikir. Kau harus istirahat." Taehyung menarik tangan Jungkook untuk kembali merebahkan tubuhnya di sebelahnya. Kembali memakai tangan Taehyung sebagai bantal, Jungkook memijat keningnya yang berdenyut hebat mendengar kabar putusnya Taehyung dan Joy.
"Kau pusing?"
"Sedikit."
"Aku ambilkan obat, ya?"
"Tak usah." Jungkook menahan Taehyung yang hendak bangkit. "Jangan pergi." Imbuhnya.
Taehyung menurut dan mengusap kepala Jungkook dengan gerakan pelan. "Perutmu masih sakit?"
"Sedikit."
Taehyung sedikit menyibakkan baju tidur yang dikenakan Jungkook hingga bekas jahitan di bagian bawah perutnya terlihat jelas. "Apakah bekas jahitannya nyeri?"
Jungkook memandang tangan Taehyung yang menelusuri bekas jahitan itu dengan jemarinya. Matanya begitu memanas saat teringat jika hampir dua minggu yang lalu bayi yang mereka tunggu-tunggu masih tidur dengan nyenyak di dalam sana.
"Perih jika kena air."
"Kau terluka banyak," ujar Taehyung dengan nada yang begitu pilu. Tanpa Jungkook sadari, Taehyung menundukkan tubuhnya hingga sejajar dengan perut Jungkook. Dikecupnya bekas jahitan itu selama beberapa detik hingga Jungkook dapat merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. "Maaf, Kook."
"Aku juga minta maaf, hyung. Aku tidak—"
"Sshhh," Taehyung menghentikan ucapan Jungkook dengan pelukan erat dan sebuah kecupan di dahi yang cukup dalam. Jungkook tak dapat menahan lagi air matanya dan terisak pelan dalam dekapan pasangannya.
"Kita akan menebusnya bersama-sama, Kook. Aku tak akan meninggalkanmu lagi."
.
.
.
"Harus ku akui, aku senang melihatmu ada di sini Komandan Park."
Namjoon, pada sore hari yang mendung, berjalan kaki beriringan bersama Jimin dan Soobin menuju ke tempat persediaan senjata dan kendaraan perang. Seusai berlatih di Vena, ketiganya memutuskan untuk menyapa alat perang yang baru didatangkan dari luar negeri oleh Paman Bang beberapa minggu yang lalu. Namjoon ingin menunjukkan ke tamu mereka mengenai kecanggihan alat tempur yang mereka miliki.
"Terima kasih, Kim. Bisakah kau panggil aku Jimin saja?"
Namjoon mengangguk pelan menyetujui permintaan Jimin. "Kalau begitu panggil aku Namjoon. Terlalu banyak Kim di sini. Kau akan kerepotan."
"Sunbae rasanya akan lebih baik. Kau lebih tua dariku, bukan?"
"Hyung saja. Adik-adikku yang lain di sini juga memanggilku hyung."
"Baiklah, Namjoon hyung."
Soobin membuka pintu ruangan tempat dimana alat-alat tempur itu disimpan. Ketiganya mengangguk singkat kepada beberapa orang yang sedang mendata di ruangan itu.
"Sebelah sini, hyungdeul." Ujar Soobin.
Mereka berhenti tepat di depan sebuah tank berwarna charcoal dengan campuran warna evergreen dan hitam yang terlihat cukup gagah.
"Perkenalkan, si gagah Anoa 6x6!"
Soobin merentangkan kedua tangannya untuk menyambut tank tersebut.
"Biar ku jelaskan sedikit, sebagai salah satu anggota tim yang bertanggungjawab untuk mengurus tentang alat-alat perang. Tank yang satu ini bernama Anoa 6x6. Kendaraan tempur ini bukan hanya bisa menyerang lawan dengan persenjataan, ketahanannya juga begitu bisa diandalkan. Tank yang satu ini bisa menahan peluru kinetis Armor Piercing dengan standar NATO Amerika. Itu artinya kendaraan ini benar-benar sulit ditembus oleh senjata yang hebat sekali pun. Hyungdeul tahu? Walaupun terkena ranjau dengan bahan peledak sebesar 8 kg sekalipun, tank ini akan tetap bergerak dengan baik." Terang Soobin pada Namjoon dan Jimin.
"Lumayan. Kami juga punya yang sejenis." Sahut Jimin.
Namjoon dan Soobin memandang Jimin dengan pandangan ganjil.
"Dulu, tentu saja. Waktu masih di Seoul." Imbuh Jimin merasa rikuh.
"Lalu, dari segi persenjataan, Anoa 6×6 ini memiliki senapan berat berkaliber 12,7 mm dan 7,62 mm. Ada pula senapan dengan teknologi Remote Weapon System berkaliber 7,62 mm dan pelontar granat dengan kaliber 40 mm. Untuk tambahan keamanannya, tank ini juga punya tabir asap 2×3 66 mm. Keren, 'kan? Alat tempur ini bahkan sudah mulai digunakan oleh negara lain seperti Oman, Nepal, Brunei, Irak, Bangladesh, dan masih banyak lagi." Ujar Soobin. Anak muda itu kemudian mengelus permukaan Anoa 6x6 yang begitu ia dambakan dengan gerakan terlampau lembut. "Aku ingin mengendarainya suatu hari nanti."
"Akan kuajukan kau untuk bergabung dengan Meon Team Pangkat Empat." Namjoon berujar ke Soobin. Ia mendekati anak itu lalu menepuk pundaknya sebanyak dua kali. "Selama aku mengurusi kedatangan para tamu ini, kau sudah menyelesaikan tugas yang kuberikan sebagai penanggung jawab pengadaan alat-alat tempur. Ku rasa kau dapat bekerja dengan cepat, sigap, fokus, dan teliti. Kulihat kelihaianmu di Vena tadi juga sudah cukup meyakinkan. Bagaimana?"
Soobin memandang Namjoon tanpa berkedip. Bola mata anak itu membesar dan ia mencengkeram kaus yang dikenakan Namjoon dengan sangat kuat.
"Hyung, jangan bercanda!"
"Aku serius, nak." Kekeh Namjoon. "Sekarang kau kan sudah Pangkat Tiga. Untuk ukuran anak seumuranmu, ku rasa perkembanganmu adalah yang tercepat di antara yang lain. Kau mau tidak kuajukan untuk naik pangkat?"
"H—hyung—"
"Mau tidak? Nanti kau bisa minta ajari Donghae atau Yoongi untuk mengendarai tank itu, lho. Kau pasti bisa belajar dengan cepat."
"Mau, hyung. Mau! Terima kasih banyak, hyung!" Ucap Soobin sambil berjingkrak-jingkrak. Anak itu tak dapat menahan rasa gembiranya.
"Sama-sama."
"Ada apa ini ribut-ribut?"
Sebuah suara terdengar begitu saja dari balik tank. Di detik berikutnya yang muncul adalah Seulgi yang tersenyum manis ke arah Soobin.
"Sudah kuduga pasti Soobin. Suaramu itu—"
"Seulgi?"
Jimin memandang gadis yang pernah menjalin cinta dengannya beberapa tahun yang lalu. Gadis yang ia tahu telah tiada kini malah menampakkan diri di hadapannya dengan utuh tanpa bercela.
"Kau… masih hidup?"
.
.
.
3 hari penuh Jeon Jungkook tidak mau bertemu siapapun selain Kim Taehyung, atau sesekali, Park Jimin. Ia bahkan menolak kunjungan sang kakak, Seokjin, dengan dalih ingin menenangkan diri. Sebagai pasangan, Kim Taehyung dapat menerimanya karena ia paham betul apa yang Jungkook rasakan. Ia juga meminta pengertian Seokjin dan warga Meonji Seom lain untuk memberikan waktu istirahat hingga fisik dan mental Jungkook benar-benar pulih.
Kim Taehyung bersyukur setidaknya Jungkook mau berbicara dengannya. Walau harus membujuk selama beberapa menit, Jungkook akhirnya mau bertutur kata juga. Yang Taehyung tahu, sebagian besar waktu yang dimiliki Jungkook dihabiskan untuk membuat bintang-bintang dari sobekan kertas buku diarynya. Ia mengumpulkan lipatan bintang itu ke dalam sebuah toples besar hingga terisi penuh. Selain membuat origami bintang, Jungkook juga menghabiskan waktunya dengan menggambar. Ia membuat gambar-gambar abstrak hanya bermodalkan buku dan pena. Taehyung akui tangan Jungkook benar-benar berseni. Gambar-gambar tersebut terlihat begitu bermakna bagi Taehyung yang paham tentang seni.
Hingga di hari keempat, Jungkook yang bangun lebih dulu daripada Taehyung memutuskan untuk mandi dan menggunakan seragam yang sudah disiapkan untuknya sejak hari pertama ketibaannya di Meonji Seom. Seragam hitam dengan sentuhan warna dusty purple dan steel di bagian pinggang dan dada begitu pas menempel di tubuh Jungkook. Pukul setengah tujuh pagi, Taehyung yang akhirnya bangun terheran-heran mendapati pasangannya sudah siap dengan seragam dan rambut yang disisir rapih.
"Kook?"
Jungkook melirik ke arah Taehyung yang masih setengah terpejam. Ia menghadap ke arah Pria Kim dan tersenyum canggung.
"Sudah pas belum?"
Taehyung buru-buru bangun dan berjalan terseok ke arah Jungkook. "Kau mau kemana?" Tanyanya lembut. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Jungkook lalu menatap netra bulat yang terlihat samar binarnya.
"Aku siap untuk berlatih. Aku akan ikut hyungie hari ini." Jawab Jungkook.
Kim Taehyung melongo mendengar pernyataan tersebut. "Apa badanmu sudah enakan? Masih sakit tidak perutnya?"
Yang ditanya menggeleng mantap. Jungkook tersenyum simpul lalu mengedikkan kedua bahunya. "Aku tak bisa istirahat terus. Kau bilang aku bisa bergabung jika sudah cukup baikan. Sekarang waktunya, hyung."
"Kau yakin, sayang?" Tanya Taehyung hati-hati.
"Aku yakin, hyung." Jawab Jungkook. Pemuda itu memajukan tubuhnya lalu mengecup singkat bibir Taehyung, membuat yang dikecup membatu seketika karena ia tak membayangkan hal itu dapat terjadi. "Mandilah dan aku tunggu kau bersiap."
Dua puluh lima menit waktu yang dibutuhkan Taehyung untuk bersiap. Keduanya mengenakan seragam yang sama. Seragam tersebut dibuat khusus bagi mereka yang baru saja datang ke Meonji Seom sebagai penanda. Nantinya apabila mereka telah lolos ujian maka seragamnya juga akan berubah. Setidaknya itu yang Taehyung ingat saat dijelaskan oleh Namjoon tempo hari.
"Pertama-tama, kita sarapan dulu di ruang makan bersama. Letaknya di sebelah Arteri. Kau masih ingat Arteri, 'kan?"
Jungkook mengangguk pelan.
"Pintar. Lalu kalau sudah sarapan kita akan ke Vena untuk bertemu Namjoon hyung. Orang itu yang akan mengaturmu untuk latihan dimana dulu." Ujar Taehyung. "Pada dasarnya ada tiga latihan yang harus dicoba yaitu latihan fisik, medis, dan persenjataan. Ketiga ilmu dasarnya harus dikuasai. Baru setelah seminggu berlatih, kau akan memilih di pos mana kau akan fokus berlatih." Terang Taehyung sembari mengusap helaian rambut Jungkook yang terasa lembut di tangannya.
"Kau sudah seminggu berlatih, 'kan? Kau ada di pos apa?" Jungkook bertanya. Ia memejamkan netranya kala tangan Taehyung merambat ke bagian tengkuknya yang tak tertutupi seragam.
"Aku ada di pos fisik. Aku menjadi bagian dari Meon Team, tentara Meonji Seom yang bertugas untuk menjaga ketahanan tanah ini. Tidak seperti Guardian, tentu saja. Kami belajar banyak jenis bela diri dan pemakaian berbagai senjata. Tak ada serum apapun yang disuntikkan ke tubuh kita." Taehyung memajukan tubuhnya hingga wajahnya berhadapan tepat dengan Jungkook. "Kalau mau, kau bisa bergabung denganku di Meon Team. Di sana ada Namjoon hyung, Jimin, Mingyu, Soobin, Somi, Beomgyu, Ryujin, dan masih banyak lagi. Di pos medis, ada kakakmu, Seokjin hyung, Minjae, Huening Kai, dan beberapa tim medis lain. Di bagian pengadaan senjata, ada—"
"Aku ikut denganmu." Potong Jungkook.
Taehyung mengangguk. "Boleh, sayang. Tapi kau harus menyelesaikan seminggu pelatihan di tiga pos utama tadi."
Jungkook cemberut. Ia mengerucutkan bibirnya dan memandang Taehyung dengan pandangan mencebik. "Lalu Joy dimana?"
Taehyung menjawabnya dengan nada ragu-ragu. "Dia di pos fisik juga." Jawabnya pada akhirnya.
Wajah Jungkook semakin ditekuk.
Pemuda Kim yang menyadari perubahan mood Jungkook kemudian menggenggam jemari Jungkook dengan erat. "Kau pasti merasa tak nyaman." Ujar Taehyung hati-hati.
Tanpa ragu Jungkook mengangguk. "Aku ingin latihan denganmu di pos yang sama tapi aku tak mau lihat Joy." Gumam Jungkook pelan.
"Kita akan atur itu." Ujar Taehyung tegas. Ia bisa memahami rasa tidak suka Jungkook kepada Joy yang secara tidak langsung telah berperan dalam tiadanya calon anak mereka. "Pergi sekarang, yuk." Ajak Taehyung.
Mereka berdua berjalan keluar dari kamar asrama menuju ke tempat makan. Di perjalan menuju tempat makan, Taehyung terlihat menyapa orang-orang yang ditemuinya. Jungkook tersenyum simpul melihat hal itu. Satu hal yang ia sadari dari orang yang disayangnya adalah ternyata Taehyung orang yang mudah bergaul.
"Kookie, kenapa?"
Jungkook menarik senyumannya.
"Tak apa." Jawabnya singkat.
Sebelum keduanya mencapai ruang makan, sebuah tangan mencekal pergelangan tangan Taehyung yang membuat pemuda itu berhenti secara otomatis.
"Hyung, cepat berkumpul di Vena! Tentara Utara sudah mencapai perbatasan Meonji Seom! Tiga prajurit sudah tewas tertembak Komandan Oh!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Phewww.
Agak panjang ya chapter ini? Semoga nggak membosankan T.T
Buat detail lain akan dijelaskan di chapter selanjutnya. Semoga masih ada yang mau baca cerita ini ya hihi.
Ayok review yang banyak! Plum tunggu yak sheyeng.
