Drabble: BokuAka

Akaashi termangu mengetahui siapa tamunya. Dibukanya pintu dan menyapa Sawamura Daichi dengan ramah. "Oh, Sawamura-san. Silakan masuk."

Daichi semula ragu sebelum ia melangkah maju. Belum ia lepaskan sendalnya dan ia berhenti hanya satu langkah dari pintu, "Bokuto—ada?"

Akaashi mengerti bahwa Daichi tentu menghindari berduaan dengannya di dalam rumah. Kekhawatiran yang sama yang dimiliki oleh semua laki-laki di perumahan ini. Mereka takut Akaashi akan melecehkan mereka, memperkosa mereka, membuat mereka menjadi seperti Akaashi. Menjadi homo.

Yang entah kenapa kekhawatiran itu tidak ada jika mereka bersama Bokuto. Apa karena kekasihnya itu biseks dan memiliki riwayat berpacaran dengan perempuan sehingga mereka menganggap bahwa derajat Akaashi lebih buruk dan rendah? Entah kabar macam apa yang diujarkan angin di luar sana. Mungkin saja ada rumor bahwa Akaashi lah penyebab Bokuto menjadi gay. Entahlah, Akaashi tidak tertarik mencari tahu.

Diterima dan diizinkan tinggal di rumah dan lingkungan ini saja dia dan Bokuto sudah sangat bersyukur. Akaashi muak saban ada kepala desa tempatnya tinggal datang kepadanya dan memintanya pergi dari desa itu. Hanya karena di lain hari mereka-warga desa-tahu bahwa ia homo. Ia tak bisa menyembunyikan tatap sayangnya dari Bokuto dan kekasihnya itu bukan tipikal orang yang bisa menjaga rahasia. Ia bahkan jumawa berkata bahwa ia sangat bangga mencintai dan dicintai Akaashi pada siapapun yang ia kenal saban mereka berpesta atau minum-minum bersama. Dan Bokuto bukan orang yang peduli mengenai apa yang dikatakan orang kepadanya. Yang Bokuto inginkan hanyalah bahwa dunia harus tahu bahwa ia dan Akaashi adalah pasangan kekasih terbaik.

"Aha? Haichi-hun?"

Bokuto menjulurkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. Mulutnya dipenuhi busa pasta gigi dan ia mengulum sikat giginya. Rambutnya belum ia sisir sehingga jatuh ke bawah dan tak tegak.

Akaashi bisa melihat tatap dan embus napas lega Daichi menyadari kehadiran Bokuto. Tetap dipaksa si mata zamrud ia untuk tersenyum menghadap tamunya dan menyingkir ke samping, memberikan jalan. "Mari, Sawamura-san. Kebetulan saya sedang membuat teh."

.

.

((Skip scene karena ini males ngetik dan nanti mau dijadiin ff kalau lagi rajin)

.

.

"Anu—" Daichi terlihat enggan, "—sebenarnya aku minta saran kepada kalian. Apa yang harus aku lakukan."

Mata emas dan hijau saling menatap. Bokuto kembali pada Daichi, "Apa?"

Kening Daichi mengerut, memunculkan banyak lipatan di dahinya. Matanya melotot ke bawah, ke tepian meja. Nyaris memerah. Begitu juga pipinya, dagunya, hidungnya, seluruh wajahnya.

"Shoyo—anakku—aku harus apa?"

Kini Akaashi yang heran. "Apa yang terjadi pada Shoyo-kun, Sawamura-san?"

Lima detik Daichi diam hingga akhirnya ia mantapkan hatinya, mendongak, membalas tatap dua orang di depannya. Meski begitu rautnya tidak lagi mengeras. Matanya menyipit, ia menahan tangis.

"Shoyo berkata bahwa dia—gay."