"Breaking News. Mafia besar X Clan dinyatakan telah jatuh. Pemerintah mengeluarkan perintah bahwa apa yang terjadi pada X Clan merupakan bentuk kemenangan kebaikan atas kejahatan.-"

Bip.

Siaran berita itu menghilang bersamaan dengan Chan yang mematikan televisi berlayar lebar itu.

Seberapa banyak pun channel televisi dalam atau luar negeri, platform sosial media, siaran radio, ataupun koran yang dilihat Chan, semuanya berisi satu hal yang sama.

Runtuhnya mafia besar X Clan.

Ini sudah berjalan dua hari semenjak markas utama X Clan meledak dan tak meninggalkan apapun kecuali abu sisa.

Tentu saja masyarakat umum bernafas lega akan hilangnya mafia kejam itu, namun banyak juga kalangan tertentu yang merasa dirugikan. Tapi siapa yang peduli, yang jelas X Clan sudah musnah.

Chan tengah duduk di depan sofa pada ruang rawat Seokmin dengan bosan.

Seokmin yang melihat dongsaengnya itu hanya bisa tersenyum maklum. Ia memegang lembaran dokumen bisnis yang terbengkalai selama dua hari.

Walau hanya dua hari, namun sudah banyak sekali kertas yang menumpuk.

"Kalau kau bosan, kau bisa menemui yang lainnya di kamar sebelah." Kata Seokmin.

"Tidak hyung. Di kamar mana pun pasti tidak ada kegiatan yang berarti." Jawab Chan.

Seokmin mengangguk setuju.

Ia memegang pundaknya yang masih terasa nyeri. Bekas tembakan kemarin hampir menembus tulangnya sehingga rasa nyeri kadang masih terasa.

Jika ada yang bertanya bagaimana kondisi Jisoo, ia dan janinnya luar biasa kuat. Bahkan Jisoo dengan santainya melaksanakan kegiatan perkuliahannya dengan normal pagi hari tadi.

Sebenarnya Seokmin sudah ingin melarang Jisoo. Selain karena ia memang khawatir, di beberapa area wajah dan tubuh Jisoo masih terdapat luka dan lebam.

Walau perkuliahan hanya dua jam, Jisoo tetap mengikuti kelasnya.

Ingin rasanya Seokmin menggunakan kuasanya untuk meliburkan perkuliahan seharian penuh. Namun Jisoo jelas tidak akan senang.

Berbicara mengenai Jisoo, ia saat ini sedang ada di ruang inap sang eomma.

Kihyun hanya kelelahan karena menghadapi sebagian dari petarung X Clan. Ternyata fokus penyerangan berada di lokasi Hyunwoo dan Kihyun sehingga lokasi utama tempat X berada hanya tersisa 'sedikit'.

Yah walau pun dibilang sedikit, tetap saja jumlahnya luar biasa.

Selain Jisoo, di ruang rawat Kihyun ini ada Seungkwan, Wonwoo, Soonyoung, dan juga Mingyu.

Wonwoo dan Jisoo tengah berbicara mengenai kandungan mereka dan pembicaraan yang biasa diperbincangkan antar calon ibu.

Di sisi lain Soonyoung dan Mingyu tengah sangat sibuk menerima telepon dari bawahan mereka.

Perlu diketahui bahwa Monteen Broadcasting sedang gencar-gencarnya mencari informasi.

Berita yang berkaitan dengan Quattuor Coronam dan X Clan sangat menjual. Dan berhubung boss besar mereka terlibat, para wartawan dan jurnalis Monteen Broadcasting jelas memanfaatkan kesempatan tersebut dengan sangat baik.

Hal itu juga yang menyebabkan profit Monteen Stage naik drastis karena berita yang lebih akurat dibanding sumber manapun.

Jangan tanyakan Hyunwoo ada dimana karena boss besar RED Corporation itu sudah kembali ke rutinitas super sibuknya.

Lalu disinilah Seungkwan yang tengah berbincang ringan dengan sang eomma.

Kihyun sudah sadar tadi pagi dalam keadaan segar. Namun karena suami dan anak-anaknya luar biasa mengkhawatirkannya, ia dipaksa untuk tetap dirawat inap sampai kondisinya benar-benar stabil.

"Dimana yang lainnya?" Tanya Kihyun sambil memakan buah-buahan yang disediakan oleh Seungkwan.

"Hansolie dan Jihoon hyung sibuk mengurus Alligator pasca perang. Kalau Seungcheol hyung, Jeonghan hyung, dan Myeongho hyung ada di ruang Sele-"

Sebelum menyelesaikan ucapannya, Seungkwan mendapati sepotong buah peach masuk ke dalam mulutnya.

Ia bisa melihat sang eomma terkikik senang melihat wajah Seungkwan yang aneh.

"Eomma!" Pekik Seungkwan kesal.

Kihyun tertawa sambil menepuk pundak Seungkwan bertubi-tubi.

"Makanya chagi, jangan memanggil Junhwi dengan Selene lagi. Ia sudah menjadi bagian kita, arra."

"Aigoo, eomma tinggal ingatkan aku saja, tidak perlu sampai melakukan serangan begini. Lagi pula aku belum terbiasa karena sejak kemarin semua orang selalu menyebutkan 'Selene' bukan 'Junhwi'."

"Sudah-sudah. Kau dan yang lainnya tidak menjenguk Junhwi?"

Seungkwan yang kembali mengupaskan buah peach itu menggeleng.

"Di kamar Junhwi hyung sedang ada Seungcheol hyung, Jeonghan hyung, dan Myeongho hyung. Eomma tahu kan Jun hyung baru sadar beberapa saat lalu, aku hanya tak ingin menganggu momen mereka."

Kihyun mengangguk mengerti sambil tersenyum.

Ia yang sebelumnya duduk tegak kini menyender pada kepala ranjang dengan helaan nafas kecil.

"Benar-benar melegakan…"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Suasana di ruangan ini sangat menghangatkan hati Seungcheol.

Ada ombak penuh kebahagiaan yang menyirami dirinya dan semilir angin hangat yang membelai hatinya.

Myeongho dan Jeonghan sedang menangis keras. Mereka menenggelamkan wajah mereka pada kedua sisi bahu Junhwi yang baru sadar beberapa menit lalu.

Junhwi sadar akan situasi dan hanya bisa menenangkan kedua sosok yang sangat berarti baginya itu dengan kata-kata.

Badan dan anggota gerak pria bermata abu-abu itu terasa sangat berat. Punggung tangan kanannya tertancap jarum infus yang terpasang. Luka gores dan lebam terlihat menghiasi tubuhnya. Apalagi jahitan luka tusuk di tangan dan pahanya yang belum mengering.

Namun hal itu tak menghalangi Junhwi untuk mengangkat kedua lengannya dan mengusap surai Jeonghan dan Myeongho bersamaan.

Masih ingatkan bahwa Junhwi adalah Selene, si tuan muda dengan kekuatan dan ketahanan fisik yang luar biasa?

Tubuhnya sudah pulih, yah setidaknya ia merasa lebih baik dibandingkan saat itu.

Seungcheol yang melihat keadaan tiga besaudara Highlight itu tersenyum dengan tulus. Ia dapat merasakan kehangatan dari adegan di depannya ini.

Mata abu-abu Junhwi kini menatap manik Seungcheol.

"Gomapta."

Junhwi mengucapkan itu tanpa mengeluarkan suara. Ia masih menepuk kepala Jeonghan dan Myeongho bergantian.

Seungcheol membalasnya dengan anggukan sambil tetap tersenyum.

"Kita sudah bebas. Hyungie… Hao… Tolong jangan menangis." Ucap Junhwi.

Jeonghan mengangkat kepalanya terlebih dahulu. Terlihat mata sembab dan wajah yang memerah serta air mata di wajah cantik itu.

"Kami meng..khawatirkanmu, J..jun. Tolong jangan terluka lagi." Ucap Jeonghan dengan isakan yang ia coba tahan.

Junhwi tersenyum tipis sambil mengangguk.

"Aku akan coba, hyung." Jawab Junhwi.

Seungcheol akhirnya menghampiri Jeonghan dan merangkul pundak sang kekasih.

"Junhwi sudah ada di sampingmu kini, Jeonghanie. Aigoo kekasihku ini, kau ingin ice Americano?"

Jeonghan dengan suasana hati yang jauh lebih ringan segera mengangguk. Ia mengambil lembaran tissue yang diberikan oleh Seungcheol lalu mengusap air matanya.

"Ne. Ayo keluar. Aku butuh menyegarkan diriku."

Seungcheol mengedipkan satu matanya ke Junhwi dan hal itu membuat Junhwi tersenyum kecil.

"Kami pergi dulu." Pamit Seungcheol sambil mengenggam jemari Jeonghan.

Sepasang kekasih itu meninggalkan ruang rawat Junhwi. Menyisakan sang pasien dan Myeongho yang terlihat sudah tidak terisak lagi.

Walau begitu, Myeongho sama sekali tidak mau melepaskan dirinya dari pelukan Junhwi.

Yang benar saja, ia sudah terpisah dengan Junhwi selama 4 tahun lebih dan Myeongho jelas tak mau melepaskan Junhwi lagi. Bayangkan seberapa besar rasa rindu dan ketakutan yang ia rasakan selama terpisah dari Junhwi.

Ketika Junhwi berada di markas besar X Clan, Myeongho masih bisa memantaunya berkat kemampuannya dalam menghack saluran cctv. Bagaimanapun ia lebih tahu seluk beluk keamanan X Clan.

Namun jika Junhwi berada di luar markas X Clan, Myeongho tak tahu dimana sosok itu berada, bagaimana keadaannya, atau bahaya apa yang sedang Junhwi hadapi.

Hal yang membuat Myeongho bisa gila.

Junhwi masih mengusap surai Myeongho dengan pelan.

"Kau masih ingin memelukku, Hao?"

Hao.

Nama asli Myeongho sebelum ia diangkat menjadi anak X adalah Xu Minghao. Ne, appa kandungnya berkebangsaan China.

Apakah aku lupa mengatakan bahwa Y, saudara X sekaligus ibu Myeongho adalah wanita?

Junhwi lebih suka memanggil Myeongho dengan nama aslinya, karena itu adalah jati diri Myeongho yang asli.

Waktu berjalan lambat dan Myeongho masih tidak menjawab panggilan Junhwi.

"Biar kulihat…"

Junhwi menangkupkan wajah Myeongho dengan kedua tangannya. Ia bisa melihat wajah Myeongho yang memerah karena sehabis menangis.

Junhwi menghapus sisa air mata yang berdiam di pelupuk mata cantik itu dan tersenyum kecil.

"Terimakasih karena tetap bersedia menungguku…"

Suara Junhwi terdengar halus di telinga Myeongho. Suara itulah yang malah membuat air mata kembali menumpuk di manik coklatnya.

"Hyung…"

"Aku sudah disini Minghao. Aku ada di sampingmu dan tak akan pergi lagi."

Junhwi tak bisa menahannya lagi. Ia menarik wajah Myeongho dan memberikan ciuman penuh kerinduan di bibir tipis itu.

Kedua manik berbeda warna menutup dan ciuman penuh pelampiasan perasaan saling mereka berikan.

Tap.

Junhwi menyatukan dahi mereka dan tersenyum lebar untuk pertama kalinya. Membiarkan hidung mereka bersentuhan dan merasakan hembusan nafas masing-masing.

"Aku pulang…"