Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[Crown for the Queen ]
~ Chapter 24 ~
.
.
Sasuke Pov.
Mengatakan pada nona Sumire jika dia tidak perlu bekerja lagi setelah menyelesaikan salinan catatan pajak itu, tiba-tiba saja dia ingin meminta ijin untuk berjalan-jalan di luar istana, bahkan kesatria Sai akan pergi bersamanya, apa yang akan di lakukannya di luar istana? Bahkan alasan sederhananya itu tidak akan aku terima.
Tunggu.
Jika nona Sumire keluar dari istana, artinya dia akan menemui banyak orang, orang-orang akan melihatnya, ini akan menjadi rencana yang bagus, membuatnya malu akan sangat menyenangkan untukku, orang-orang pasti akan memandang jijik padanya, apalagi statusnya yang seorang budak dan tiba-tiba saja bisa masuk ke dalam istana ini.
Aku ingin melihatnya sedih dan malu hingga tidak berani menampakkan wajahnya di hadapan orang-orang.
"Aku juga harus ikut." Ucapku. Sebagai sebuah syarat.
Awalnya tatapan itu terlihat tidak terima, ada apa? Apa kau dan kesatria Sai menyimpan sebuah hubungan? Mereka segera membantahnya. Aku juga tidak berharap mereka ada hubungan, kesatria Sai adalah teman baikku, dia harus mendapatkan wanita yang terbaik juga.
Namun,
Para rakyat berdatangan, mereka akan cepat mengenali wajahku, mereka terus memberi salam dan menanyakan beberapa hal termasuk keadaan kakak, mereka sangat menyanjung kakak yang sebagai raja mereka, kakak memang sangat hebat dan di sayangi rakyatnya.
Anehnya, tidak ada satu pun yang terusik dengan nona Sumire, mereka tidak menyinggungnya atau tidak ada yang menanyakan siapa dia, ini sangat aneh. Mencoba bertanya pada mereka.
"Apa kalian pernah melihat wanita budak yang di bawa Yang mulia raja?" Tanyaku dan mereka kompak menggelengkan kepala.
"Wajah wanita itu di tutupi dengan kain, pangeran, kami tidak pernah melihat wajahnya." Ucap salah satu dari mereka dan yang lain membenarkannya.
Rencana yang gagal total!
Bagaimana aku tidak memikirkan hal ini! Kakak pasti tidak ingin ada yang melihat wanita itu, sesekali meliriknya, dia terlihat bosan dan berbicara pada kesatria Sai, jangan sok akrab dengan temanku! Maksudku, kesatria Sai, dia awalnya adalah pengawal pribadiku.
Bahkan saat ada seorang pria yang mulai menyadarinya, tapi,
"Pangeran! Maaf menyela, tapi kita tidak punya banyak waktu untuk di luar." Potong kesatria Sai, bagaimana mungkin dia menyela pembicaraan seorang pangeran! Aku jadi kesal padanya, dia benar-benar berubah setelah menjadi pengawal wanita itu!
Lama berkeliling, aku tidak tahu apa rencana wanita ini untuk keluar dari istana, tapi dia tidak sengaja memasuki toko seorang penyihir, walaupun di jaman ini penyihir bukan seseorang yang bisa mengeluarkan kekuatan melalui tangannya atau tubuhnya, tapi mereka pandai membuat sebuah ramuan, benda-benda kutukan, dan juga katanya mereka pandai membaca seseorang, apakah itu nasib atau takdir.
Aku tidak mendengar dengan baik apa yang mereka bicarakan, menarik wanita itu keluar dari toko ini, jika dia dalam bahaya, aku yang akan kena masalah, kakak begitu melindungi nona Sumire.
Tapi jika mungkin saja dia terkena sebuah mantera atau kutukan.
Kami harus segera kembali ke istana, menemui kakak dan repot-repot memeriksa nona Sumire, ini adalah sebuah kelebihan yang kakak miliki, dia bisa melihat sebuah entah apa namanya, aliran atau apapun yang berada di tubuh seseorang jika mereka terkena kutukan atau semacamnya.
"Tolong periksa nona Sumire, dia sepertinya terkena sihir dari salah satu toko penyihir di pusat perdagangan." Ucapku.
"Sa-saya tidak apa-apa." Ucapnya, kenapa dia tetap keras kepala seperti itu!
"Tidak apa-apa nona Sumire, kemarilah." Ucap kakak.
"Saya tidak merasa terkena sesuatu, Yang mulia." Ucapnya.
"Hanya untuk membuat pangeran tidak khawatir." Ucap kakak.
He?
"Siapa yang khawatir! Aku hanya tidak ingin dia membawa pengaruh buruk semacam kutukan di dalam istana!" Protesku, kenapa kakak berbicara seperti itu!
Nona Sumire mulai berjalan menghampiri kakak, lebih dekat, mereka tengah berbicara tapi sengaja memelankan suaranya, apa-apaan itu? Apa mereka sedang mengolokku?
"Seharusnya pangeran tidak kesana, anda bisa langsung menahan nona Sumire." Tegur kesatria Sai.
"Itu adalah tugasmu, seharusnya kau berada di saat kami tiba-tiba sudah berada disana." Kesalku.
Tidak beberapa lama, mereka telah selesai, padahal kakak cukup melihatnya saja, kenapa malah berbicara setengah berisik seperti itu?
"Nona Sumire baik-baik saja, pangeran, jadi tenanglah." Ucap kakak.
"Maaf sudah merepotkanmu, Yang mulia." Ucapku.
"Jadi kalian bertiga berjalan-jalan tanpa memberiku kabar?" Tanyanya.
"Bukan seperti itu, hanya saja nona Sumire ingin berjalan-jalan sebentar dan aku juga ingin memastikan keadaan rakyat." Ucapku.
"Terima kasih pangeran, aku jadi tenang jika kau pun ikut mengawasi nona Sumire."
Aku tidak butuh terima kasih itu, aku tidak ingin mendengarnya, untuk apa aku mengawasinya berjalan-jalan? Aku hanya kebetulan mengikuti mereka, aku ingin membuatnya malu di sana, tapi itu tidak terjadi.
.
.
.
.
.
Sakura Pov.
Menatap sebuah burung gagak, dia berdiri tepat di atas sebuah sangkarnya emas, sangkar yang di buat khusus untuknya dan di taruh di halaman istana barat, burung gagak ini tidak akan di kurung, katanya dia gagak yang terlatih, tapi kenapa burung gagak? Yang mulia bisa memiliki burung yang cantik selain burung hitam ini.
Saat itu, karena pangeran terlihat panik, aku tidak mengerti kenapa dia cukup panik saat kami masuk ke toko yang katanya toko penyihir, anehnya dia mendengarkan hal yang berbeda saat penyihir itu berbicara padaku, setelahnya dia menarikku keluar dan mengatakan Yang mulia raja harus memeriksaku.
Aku tidak merasakan apa-apa, aku juga baru tahu jika Yang mulia memiliki sebuah kelebihan lainnya, dia bisa melihat kutukan dari penyihir yang mungkin tanpa sadar di berikan padaku. Raja Itachi benar-benar raja yang tak terduga.
"Kau baik-baik saja, nona Sumire." Ucap Yang mulia raja.
"Saya baru tahu jika Yang mulia memiliki kekuatan lain." Ucapku.
"Ini hanya sebuah kelebihan. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
"Apa itu Yang mulia?"
"Karena pangeran ingin kau berhenti bekerja dan tidak perlu bekerja lagi di istana, bagaimana jika kau merawat Taka untukku."
"Taka?"
"Uhm, seekor burung gagak pengirim pesan. Aku tidak tahu harus mempercayakannya pada siapa."
"Baiklah Yang mulia, mungkin ini bisa menjadi kesibukanku di istana." Ucapku.
Setelah melakukan pembicaraan itu, aku rasa mengurus Taka tidaklah sulit, sekarang aku juga tidak akan melakukan apapun lagi, kabar terbarunya, sudah ada yang menggantikanku, burung gagak ini juga sangat tenang, dia terlihat seperti burung yang terhormat, sama seperti namanya, katanya dia burung pengirim pesan terbaik, apa aku bisa mengirim pesan menggunakan dia? Tapi ini milik Yang mulia raja, lagi pula dia memintaku merawat Taka dengan baik, katanya ini adalah sebuah hadiah dari temannya.
Besok adalah hari ulang tahun Yang mulia, gara-gara pangeran terus mengikutiku dan kesatria Sai, kami jadi tidak ada waktu untu keluar dan mencari hadiah, aku sungguh kesal padanya.
"Bagaimana jika hari ini kita keluar lagi, nona Sumire? Aku yakin kau belum selesai dengan apa yang ingin kau lakukan di luar." Ucap kesatria Sai padaku.
"Saya tidak ingin melakukannya lagi jika pangeran tetap saja ingin ikut." Ucapku, aku jadi malas untuk keluar.
"Pangeran sedang tidak ada di istana, dia sedang pergi bersama beberapa bangsawan untuk menentukan jamuan dan beberapa dekorasi untuk pesta Yang mulia raja."
"Kita pergi sekarang!" Ucapku, aku tidak dan akan menyia-nyiakan waktu berharga ini.
Tunggu, aku melupakan sesuatu.
"Bagaimana dengan Taka?" Ucapku.
"Tenang saja, kata Yang mulia raja, dia adalah gagak yang cerdas, jadi nona tidak perlu cemas, dia tidak akan pergi jauh dari istana, kecuali sedang mengirim pesan." Jelas kesatria Sai.
Tanpa menunggu lama, kami segera keluar istana, kembali berjalan-jalan dan melihat apa yang bisa menjadi hadiah untuk Yang mulia raja, sesuatu yang mungkin tak di milikinya, tapi apa? Melirik ke arah kesatria Sai, dia hanya menemani saja tanpa memberi saran.
Langkahku terhenti, seseorang tengah menjual sesuatu yang mustahil berada di kerajaan ini, dari mana dia mendapatkannya? Aku sangat penasaran, berjalan lebih cepat dan memperhatikan semua yang di jualnya itu.
.
.
TBC
.
.
updatee...~
di chapter ini, mari bermain tebak-tebakan, jika ada salah satu reader yang benar menjawab, author bakalan update 2 chapter lagi.
jadi benda apa yang di lihat nona Sumire/putri Sakura? cluenya seperti yang di ucapkan oleh nona Sumire, mustahil berada di kerajaan Uchiha, dan apakah itu?
XD
dan kira-kira hadiah apa yang cocok untuk Yang mulia raja Itachi yaa? ada yang mo bantu author? besok (di dalam fic ini) dia akan ultah XD
