Drabble: BokuAka
Pada zaman dahulu kala hiduplah seorang pangeran. Bagus rupanya, baik perilakunya, pandai cendekia ia, dan indah tubuhnya /bukan. Ada pun nama sang pangeran rupawan, baik hati, pandai, dan seksi itu adalah Keiji. Semua gadis di seluruh negeri mengaguminya, segala lelaki memujanya. Ialah yang menjadi patok kecantikan wanita, pun ia pulalah dasar ketampanan pria.
Arkian di lain tempat pulalah ada pangeran kegelapan bernama Kotaro. Pun sama rupawan wajahnya, namun sungguh tiada ada suatu kepintaran pun di otak kecilnya itu. Adalah kedua orang tuanya yang ahli sihir begitu kesal pada ketidakstabilannya. Ia yang selalu tidur kala siang hari pun amat berisik dan selalu lincah kala malam hari memberinya julukan sebagai burung hantu. Dan karena ketidaksabaran orang tuanya, Kotaro dikutuklah menjadi burung hantu, mengikuti apa yang dijulukkan kepadanya.
Keiji sungguhlah pangeran yang diingini seluruh orang, namun pula begitu ingin dijaga orang. Semua ingin menyentuhnya, pun tiada ada yang berani dan merasa pantas berada dekat kepadanya. Jadilah Keiji seorang pangeran penyendiri. Tiada yang bisa berteman dengannya. Dan itulah tiada ada hiburan yang menyenangkan hatinya selain keberadaan seorang kawan. Kosonglah hatinya, sayulah ia bagai kembang layu.
Pun suatu masa adalah pangeran Keiji tiada dapat tidur. Ia berjalan-jalan ke hutan. Karena keindahan ia, bulan pun memberkahinya sinar terangnya kepada pangeran Keiji. Karena ketenangan batinnya, pun alam malam memberinya perasaan nyaman dan tentram agar selalu terjaga pikirnya. Dan karena kesendiriannya bernyanyilah binatang-binatang malam untuk mengobati kesepiannya.
Adalah burung hantu Kotaro terbang saban malam karena keaktifannya. Ia pun menemulah sinar cahaya terang yang menarik perhatiannya. Segera dihampirinyalah yang indah dan cantik itu yang tiada lain ialah pangeran Keiji. Terpana ia ketika seluruh binatang malam memuja yang bersinar bagai bulan itu. Terkesima ia ketika sukmanya merasa nyaman menatap ketenangan batin yang terpancar di wajah si rupawan itu.
Maka terbanglah burung itu hinggap kepada Keiji. Adalah ia yang sungguh tiada memiliki pikir demi mendekatinya. Sungguh ingin ia menyentuhkan bulu-bulunya ke pipi itu.
Terkejutlah Keiji menemu satu burung hantu bertingkah di pundaknya. Seluruh nyanyian binatang menyepi, bulan ketakutan bersembunyi di balik awan, malam menusuk demi melihat ada satu makhluk fana berani menyentuh ia yang begitu dipuja seluruh isi bumi.
Tapi tertawalah Keiji. Untuk kali pertama itu ia disentuh makhluk lain. Tawanya indah bagai denting lonceng, sesegar aliran sungai, sehangat matahari pagi. Dan seketika dunia bergejolak gembira mendengar tawanya.
Maka saban malam pun Keiji dan Kotaro selalu bertemu. Adalah Kotaro selalu terbang jauh dari negerinya demi menemu Keiji. Adalah Keiji selalu menanti masa ia merasa menjadi manusia seutuhnya. Bisa dekat kepada makhluk lain. Meski sungguh makhluk tersebut selalu bertingkah bodoh kepadanya. Adalah ia merasa tenang akan yang bodoh itu.
Namun tak disangka kegelapan malam menyemburui sang Kotaro. Tak dianya rembulan menyesali kedekatan pemilik sinar cahayanga. Maka malam pun menyesatkan arah terbang Kotaro hingga jatuhlah ia ke jurang kehampaan dan matilah ia di sana. Maka rembulanpun tiadalah ingin menampakkan diri kala Keiji berjalan di hutan hingga jatuhlah ia ke rawa kesengsaraan dan matilah ia di sana. Adapun keduanya sebelum mati sama berbisiknya, "Aku akan selalu ada di sisimu. Besok, lusa, atau entah di reinkarnasi ke berapa nanti."
.
.
.
"Oya?"
Akaashi menunduk untuk memperkenalkan dirinya.
"Oya oya?"
Ia berdiri tegak lagi sebelum menghela napasnya panjang demi menatap malas salah satu senior di klub barunya yang mengamatinya dengan berisik.
"Oya oya oya?"
"Bokuto! Jangan menjahili anak baru begitu!" Komi menegur ace baru mereka meski tidak didengarkan sama sekali. Mata Bokuto membulat, mengingatkan Akaashi pada ilustrasi burung hantu sebuah kisah sastra klasik yang dibacanya kemarin. Rasa penasaran kaptennya yang membikinnya tidak bisa diam sama benar seperti burung hantu bodoh itu.
"Ne, Ahgkaashii. Kau terlihat terlalu serius eh? Katamu kau dari kelas 1-5? Kau pintar eh? Kau tidak jadi korban bully-kan di kelasmu?" Bokuto merangkul pundak Akaashi dan mengamati wajah si hitam.
"Tidak ada yang membullyku karena mereka semua lebih sibuk belajar daripada seseorang yang saat ini terlihat ingin membullyku, Bokuto-san."
"He? Siapa? Komi? Konoha? Saru, kau ingin membully Akaashi, huh?!"
"Mana ada!"
"Yah, karena tidak ada. Nah, Akaashey, katamu kau setter huh? Ayo aku ingin mencoba memukul tossmu."
"Bokuto, perkenalan anggota barunya belum selesai!" Siswa kelas tiga berteriak pada ace baru mereka yang sudah menggiring anghota baru mereka ke dekat net.
Akaashi menatap si manusia burung hantu itu dengan ajaib.
