Damanic's Talk

Holla semua.

Sebelum ke chapter ending, dari chapter ini sampai beberapa chapter ke depan akan ada special chapter. Gak banyak kok :D

Nah special chapter ini bisa aja maju sekian tahun ke depan atau mundur sekian tahun ke belakang. Jadi semasih ada tulisan 'special chapter' atau judulnya adalah marga dari para karakter, cerita ini belum berakhir. Isi dari chapter berjudul marga adalah profil mereka di episode ending atau 'saat ini'.

Untuk versi mungkin bagian marga bakal berbeda dari versi wattpad, karena memang tidak bisa mengisikan gambar. T,T Kalau mau kalian bisa ke versi wattpad. Akun ku Damanic_ (ada underscore nya). Tapi kalau nggak, juga gapapa kok. :v

Untuk special chapter pertama adalah 'Diamond Line', next generation dari Serenity Line.

Mungkin ada yang gak kenal sama karakter-karakter baru yang muncul, tapi gapapa gaes. Mereka hanya menjadi pelengkap cerita. Yang jelas mereka adalah orang-orang yang Damanic suka (jelas).

Yang akan muncul beberapa saat nanti adalah member dari Astro, NCT Dream, Oneus, Stray Kids, dan Cravity.

Selamat membaca. -,-V

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

-o0o-

Diamond Line

-o0o-

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Oh? Kau sudah berada disini hyung?"

Sesosok namja jangkung dengan tas laptop yang tersampir di bahunya dan kamera yang terkalung di lehernya langsung menjabat tangan sesosok yang lebih tua darinya.

"Ne. Kau harusnya lebih bersemangat lagi untuk bisa memenangkan lomba ini."

"Hyung, pemenangnya bukan dari cepat-cepatan datang tapi dari kualitas informasi yang bisa ia dapatkan."

Kedua sosok itu mulai memasuki wilayah St. Carat University yang ramai dengan banyak orang.

Jelas saja, hari ini sampai tiga hari berikutnya, St. Carat University mengadakan festival olahraga dan kesenian. Banyak sekali khalayak umum yang hadir untuk menghadiri festival ini.

Di depan gerbang ada gapura ucapan selamat datang yang dihias dengan begitu meriah. Begitu memasuki wilayah depan, stand-stand makanan, pakaian, pernak-pernik, dan lain sebagainya berjejer dan siap untuk dibeli.

"Baik kita mulai dari mana?"

"Bagaimana dengan yang tertua dari Diamond Line?"

Yang muda mengangguk.

"Baiklah kita menuju ke auditorium. Ada penampilan dari klub teater."

Memasuki auditorium, mereka memilih duduk di kursi paling ujung dan teratas. Yang muda mulai membuka tab dan mempersiapkan kameranya sedangkan yang lebih tua mengeluarkan lembaran-lembaran kertas.

Acara belum dimulai jadi suasana masih sedikit ricuh.

"Kwon Moonbin. Jurusan Tari, 19 tahun. Tertua dari Diamond Line. Aku sangat ingat berita mengenai Kwon Mingyu yang memutuskan pertunangan dengan Jung Chaeyeon dan malah menikah dengan Jeon Wonwoo. Skandal yang amat besar namun tidak mampu membuat Quattuor Coronam khususnya Monteen Stage terguncang."

Si muda sudah mendapatkan foto auditorium lalu mulai mengetik dengan seksama apa yang diucapkan oleh si tua.

"Mencari informasi tentang Kwon Moonbin tidaklah susah sebenarnya hyung. Ia sudah membintangi banyak program TV semenjak kecil. Bakat entertaintnya sungguh luar biasa."

Yang lebih tua mengangguk tanda ia setuju. Ia menuliskan beberapa informasi tambahan di buku tulis yang ia bawa.

"Oh hyung, jika ini klub teater berarti line penerus RED Corporation juga ada disini?"

"Seharusnya begitu. Choi Eunwoo, 18 tahun. Anak pertama dari Choi Seungcheol dan Moon Eos Jeonghan. Mengambil program double degree di acting dan bisnis. Line penerus untuk RED Corporation. Kau harus tahu bahwa ia sangat rupawan."

"Bukankah seluruh Quattuor Coronam memang rupawan?"

"Haha, kau benar juga."

Acara pertunjukan akhirnya dimulai. Berdasarkan pamphlet yang disebar, mahasiswa klub teater kali ini membawakan drama pertunjukan mengenai Ratu Victoria dan Pangeran Albert.

Mata kedua orang itu terpesona seketika kala sosok Kwon Moonbin berjalan dengan anggun mengenakan gaun dan mahkota.

Si tua langsung menelisik pamphlet tadi lalu mengangguk paham sedangkan si muda menjepret tanpa flash ke sosok rupawan itu.

"Kwon Moonbin berperan sebagai Ratu Victoria sedangkan Choi Eunwoo berperan sebagai Pangeran Albert." Bisik si tua.

Mereka bisa mendengar kala Moonbin berbicara, suara seorang wanita lah yang terdengar.

"Mungkin mereka menggunakan mic pengubah suara ne. Tapi sungguh, intonasi yang diberikan Kwon Moonbin benar-benar hebat."

Tak terasa pertunjukan selama 2 jam telah usai. Katakan saja bahwa si muda cengeng karena ia menangis saking terharunya.

Terlihat banyak sekali orang yang naik ke atas panggung dan memberikan buket-buket bunga ke para pemain.

Si tua dan si muda terlihat tertarik oleh kegiatan yang dilakukan Moonbin dan Eunwoo.

Sesosok crew membawakan sebuket bunga dan diserahkan ke Eunwoo. Eunwoo lalu memberikan buket itu ke Moonbin.

Moonbin tersenyum lebar saat mengambil buket bunga itu dari Eunwoo. Ia lalu menautkan jemarinya ke jemari Eunwoo yang tertutup oleh buket bunga yang ia pegang. Benar-benar pengalihan.

"Oh? Apa kau melihat kilatan itu?" Tanya si tua.

Si muda mengangguk sambil memandang takjub lalu menjepret beberapa gambar.

"Choi Eunwoo yang kita ketahui, tidak akan pernah memberikan tatapan seperti itu. Hyung mengerti maksudku kan? Ini informasi yang luar biasa."

Si tua mulai membuka lembaran kertasnya kembali lalu menulis dengan pena yang ada di sakunya.

Si tua dan si muda sadar bahwa mereka mendapatkan informasi yang luar biasa untuk dijadikan bahan artikel.

Tapi mungkin saja bahwa ada peserta lainnya yang juga melihat moment saat ini.

Para pemain sudah kembali ke belakang panggung.

Namun anehnya penonton malah semakin ramai.

Kerusuhan muncul di area pintu masuk auditorium. Si tua dan si muda dapat melihat banyak orang yang mulai memasuki auditorium dengan bar-bar.

"Acara apa memangnya setelah teater ini?" Ucap si muda dengan agak berteriak. Suaranya saja hampir teredam oleh suara khalayak yang benar-benar ricuh.

Gerombolan yeoja duduk di sekeliling mereka dengan membawa light stick, hand banner, dan perlengkapan lainnya.

"Light stick itu terasa tak asing…" Ucap si tua.

"Ah hyung! Light stick itu milik NOS! Apa mungkin mereka akan tampil setelah ini?"

Si tua memegang dagunya dan mengangguk-angguk.

"Nona muda, permisi. Apa NOS akan tampil setelah ini?" Tanya si tua kepada sosok yeoja yang duduk di sampingnya.

Yeoja itu mengangguk dengan antusias.

"Betul ajushi. Aku sudah tidak sabar untuk melihat Jeongin. Ajushi tahu, NOS tampil disini secara gratis special di hari ini. OMG aku sudah sangat tidak sabar! Jeongin-ahhhh noona menantikanmu…."

Si tua dan si muda sweat drop. Benar-benar tipikal penggemar garis keras.

"Kita tunggu saja dulu. Siapa tahu ada informasi yang bisa kita raih."

Jika tadi wilayah penonton gelap gulita, kini wilayah ini tampak berkilau dengan cahaya dari light stick yang berwarna pelangi.

Acara dimulai dengan gelapnya wilayah panggung dan sebuah vcr tampil mengundang sorakan fans yang menyakitkan telinga si tua dan si muda.

"Choi Dongju alias Xion, 17 tahun. Putra bungsu dari Choi Seungcheol dan Moon Eos Jeonghan sekaligus adik dari Choi Eunwoo. Saat ini mengambil jurusan music. Ia adalah yang tertua di NOS.

Selanjutnya Lee Jeongin. Anak bungsu dari Lee Seokmin dan Choi Jisoo yang merupakan adik dari Lee Jaemin, 16 tahun. Mengambil jurusan tari dan merupakan leader dari NOS.

Maknae mereka adalah Moon Artemis Chenle, 16 tahun. Ia mengambil jurusan music juga. Anak bungsu dari pasangan Highlight X Clan, Moon Selene Junhwi dan Moon Helios Myeongho, sekaligus dongsaeng dari Moon Apollo Serim."

"Yang jelas hyung, mereka bertiga neomu neomu kyeopta. Kenapa keturunan Quattuor Coronam seluruhnya rupawan? Aigoo…"

Suara mereka benar-benar teredam oleh teriakan penggemar. Apalagi ketika musik dimulai dan ketiga member NOS muncul dengan tampilan yang menggemaskan.

Si muda berusaha keras mendapatkan foto NOS yang sedang tampil. Yah, walau ia harus tersenggol beberapa kali oleh gerombolan yeoja di samping mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kedua reporter freelance itu telah berdiri di area stand makanan. Mereka benar-benar kewalahan karena mendengarkan teriakan yang bertubi-tubi.

Di meja mereka sudah ada sepiring corn dog, sepiring jajangmyeon, semangkok tteok, dan dua gelas jus jeruk.

Tak mereka sangka, mengikuti lomba penulis berita terbaik yang diadakan oleh Monteen Broadcast benar-benar menguras tenaga.

"Wow…" Si muda bergumam kecil kala melihat anggota NOS duduk di meja yang ada di sebelah mereka.

Karunia yang luar biasa bagi mereka karena bisa menguping pembicaraan NOS.

Sebagai penyamaran, si tua menggunakan headset yang sama sekali tidak mengeluarkan suara apa pun. Sedangkan si muda pura-pura membaca novel yang ia dapatkan dari stand buku milik jurusan sastra.

"Permisi, apa boleh aku meminta tanda tangan?"

Salah seorang dari gerombolan yeoja menghampiri meja member NOS.

"Noona, mianhamnida. Tapi noonadeul ingat kan kalau ada peraturan, kami tidak bisa melakukan hal itu kalau tidak ada manager hyung. Manager hyungie sudah balik itu artinya kami hanya mahasiswa biasa sekarang." Ucap Jeongin dengan nada memelas.

Bukannya sedih, para yeoja itu malah meleleh karena melihat keimutan Jeongin yang merasa bersalah.

"Lain kali yang noonadeul. Kami pasti akan membayar saat ini di pertemuan kita berikutnya." Kali ini Chenle yang berbicara sambil menangkupkan kedua tangannya.

"Jangan lupa kalau NOS akan mengadakan fansign esok hari di stand Fakultas Seni jam 10 pagi." Lihatlah Dongju yang mulai mempromosikan layaknya sales professional.

Para yeoja itu memasang wajah menahan kegemasan yang kentara. Mereka saling meremat satu sama lain untuk melampiaskan kegemasan mereka.

Tap.

Ketiga namja lain muncul di samping masing-masing member NOS.

"Ini makananmu. Kau membuatku menjadi babumu, Dongju-ah." Ucap sesosok namja sambil mencubit pipi Dongju.

"Lele, yang rasa pizza tak ada. Aku ganti jadi rasa keju." Kata seorang namja lain sambil mengusap surai Chenle.

"Kau memesan yang pink kan baby In?" Kalau kalimat ini diucapkan seorang namja sambil merangkul pundak Jeongin.

Beberapa yeoja hampir berteriak histeris sedangkan beberapa seolah limbung karena menyaksikan adegan romantis live di hadapan mereka.

Si tua dengan gencar mengetikan informasi ke si muda.

"Lee Geonhak, 18 tahun. Anak sulung Lee Chan dan hyung dari Lee Jeno, jurusan bisnis, diadopsi di Yoo House cabang LA, juga line penerus untuk St. Carat Foundation.

Kwon Jisung, 16 tahun, anak tunggal Kwon Soonyoung dan Jeon Jihoon, double degree di jurusan tari dan bisnis, line pewaris untuk Monteen Stage.

Kwon Hyunjin, 17 tahun, anak bungsu Kwon Mingyu dan Jeon Wonwoo sekaligus adik Kwon Moonbin, jurusan bisnis."

Geonhak duduk di samping Dongju. Di samping mereka ada Hyunjin dan juga Jeongin. Sedangkan di hadapan mereka ada Jisung dan Chenle.

Gerombolan penggemar mulai mundur secara teratur untuk menghargai idola mereka.

"Kau bukan babuku, Leedo hyung. Jangan membuatku kesal oke. Aku sedang dalam mode bahagia saat ini. Jika kau membuatku kesal, jangan harap bisa membuatku diam karena aku akan mencercamu karena menurunkan moodku. Aku sudah bahagia karena melihat penggemar yang antusias. Aku hanya memintamu untuk membelikanku makanan bukannya menjadikanmu budak. Kau tak tahu- emhh!"

Ingin rasanya Geonhak membengkap mulut Dongju yang ringan itu. Maka Geonhak mengambil setusuk sosis dan memasukannya ke mulut Dongju secara paksa.

"Yah Jisung-ah… Aku maunya rasa pizza." Ucap Chenle sambil cemberut.

Jisung tertawa hambar sambil memainkan rambut belakang Chenle.

"Setelah ini kita beli pizza saja bagaimana?" Bujuk Jisung.

Kadang Jisung berpikir bahwa yang sebenarnya duluan lahir adalah dirinya atau sosok imut di sampingnya ini?

"Wah! Mau mau!"

"Ne hyungie. Benar yang pink. Gomawo…" Kata Jeongin sambil tersenyum manis. Giginya yang menggunakan behel membuatnya nampak seribu kali lebih manis.

Hyunjin mau tak mau tersenyum. "Kau sangat cantik baby In. Boleh tidak dirimu hanya untuk hyung saja?"

Jeongin tertawa kecil lalu menepuk bahu Hyunjin pelan.

"Ayo lanjutkan makan, hyungie."

Oke, kedua reporter kita sudah mengalami diabetes tingkat akut dan perlu pertolongan.

Mereka memilih bangkit berdiri dan melangkah menjauh.

"Benar-benar luar biasa." Ucap si muda.

Si tua menghela nafasnya.

"Aku jadi merindukan suamiku. Aigoo…" Ucap si tua.

"Hyung, ini stand kedokteran." Sahut si muda saat langkah kaki mereka membawa mereka ke stand jurusan kedokteran.

"Seharusnya ada dua Diamond Line." Bisik si tua.

Mereka melangkah lebih dalam ke dalam ke fakultas kedokteran.

"Annyeonghaseyo. Selamat datang di kedokteran. Silakan isi buku tamu dahulu." Ucap mahasiswa yang berdiri di pintu masuk.

Si tua dan si muda melakukan apa yang diminta setelah itu mereka masuk ke dalam fakultas yang disulap sedemikian rupa untuk menjadi stand.

"Yak Moon Serim! Jangan bersekutu dengan Jeno!" Suara itu membuat si tua dan si muda mengarahkan pandangan mereka ea rah taman di tengah fakultas.

Terdapat dua orang dengan jas dokter dan satu orang dengan jas resmi duduk di pinggir kolam.

Area taman ini digunakan oleh orang-orang untuk duduk bersantai. Ada yang sekedar mengobrol seru, ada yang sedang makan makanan yang disediakan stand kedokteran, ada pula yang tertidur.

"Lee Jeno, 17 tahun, anak bungsu dari Lee Chan sekaligus dongsaeng dari Lee Geonhak, mengambil jurusan bisnis.

Lalu Lee Jaemin, 18 tahun, anak sulung dari Lee Seokmin dan Choi Jisoo, hyung dari Lee Jeongin, jurusan kedokteran.

Dan ada Moon Apollo Serim, 18 tahun, anak sulung Moon Selene Junhwi dan Moon Helios Myeongho yang merupakan hyung dari Moon Artemis Chenle, mengambil kedokteran."

"Tak kusangka kita akan menemukan 3 orang." Kata si muda.

Si tua dan si muda berjalan menuju samping kolam dan duduk di dekat ketiga orang tadi.

"Sudahlah Jaemin-ah, ikuti saja Jeno. Kasian juga kan dia kalau sendiri ke pertemuan itu." Kata Serim.

"Ne hyung, kau tak kasihan aku sendirian? Geonhak hyung sudah ijin untuk menemani Dongju dan aku tentu tidak bisa kabur." Ucap Jeno dengan mata memelasnya.

Jaemin menghela nafas.

Ia membuka jas dokternya lalu meraih jemari Jeno.

"Iya iya, ayo." Kata Jaemin pada akhirnya.

Jeno berdiri lalu mengangguk.

"Serim, ingat Seongmin akan kesini." Pesan Jaemin sebelum kedua orang itu berjalan pergi.

Serim yang ditinggal sendirian mengambil handphonenya.

"Dimana? …. Sama Cravity yang lain? ….. Oh sendiri. Ne, hyung tunggu. Nanti kita ke stand yang lain juga. …. Ppai."

Sosok dengan jas dokter itu berdiri lalu melenggang pergi masuk ke salah satu ruangan.

"Jadi sudah selesai nih hyung?" Tanya si muda.

Si tua dan si muda berjalan menuju keluar kampus.

"Ada satu lagi yang belum kita temui. Tapi sepertinya kita tak akan bisa mencarinya."

Si muda menyeritkan dahinya. Masih ada satu lagi dari Diamond Line?

"Siapa hyung?"

"Maknae Diamond Line. Jeon Seongmin."

"Ah! Aku ingat sekarang. Ia masih di middle school bukan?"

Si tua mengangguk.

"Jeon Seongmin, 12 tahun. Ia bagai sebuah keajaiban bagi Quattuor Coronam. "

Brakkk…

Si muda yang terlalu asik mendengarkan si tua bercerita menabrak seseorang hingga tab yang ada di tangannya terlepas.

Hap.

Sosok itu menarik pinggang si muda yang linglung bersamaan dengan tangan satunya yang menangkap tab.

"Maafkan saya. Anda baik-baik saja?"

Si muda terbelalak kaget lalu langsung menegakan dirinya. Ia merasa malu karena ditolong oleh sesosok anak berseragam St. Carat Middle School yang badannya jauh lebih kecil darinya.

'Gila! Ini Jeon Seongmin!' bathin si tua dan si muda saat sadar siapa yang ada di hadapan mereka.

"Ini tab Anda, tuan. Sekali lagi maafkan saya." Ucap Seongmin sambil membungkukkan badannya dalam.

"Ah.. ne, maafkan kami juga." Ucap si tua yang ikut membungkuk.

"Saya undur diri."

Seongmin dengan mata bulat berseri dan senyuman manis menundukan sedikit kepalanya dan berjalan melewati mereka.

Tap.

Langkah kaki anak itu terhenti. Ia lalu menegok ke belakang dan mendapati si tua dan si muda yang membeku sambil menatap ke arahnya.

"Semoga kalian menang di kontes penulis terbaik, ne."

Senyuman itu terasa creepy bagi mereka. Namun di satu sisi terdapat kelembutan dan keimutan disana.

Seongmin dengan tas gendong kuning akhirnya menghilang di kerumunan, menyisakan si tua dan si muda yang menghela nafas mereka.

"Quattuor Coronam memang berbeda." Ucap si muda.

"Satu kesimpulan dari observasi kita. Diamond Line Quattuor Coronam benar-benar diisi oleh orang-orang yang luar biasa. Ayo kembali. Kita harus menyelesaikan tulisan kita."

"Ne hyung. Kuharap tulisan kita nantinya bisa menang."

"Ya, semoga saja."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Damanic's Talk Again

Jujur aja, untuk Cravity, aku belum tau couple-couple mereka hahahahahahaaa, tapi aku udah punya bias… -,-V

Mungkin ada yang masih ingat Damanic's Talk di 'Empat Cahaya, Satu Kegelapan' aku memberitahukan bahwa cerita ini adalah rombakan habis-habisan dari ceritaku sendiri dari menggunakan OC menjadi Fanfiction. Karena pakemnya emang dari versi OC, maka muncullah special chapter Diamond Line ini.

Udah gitu aja, makaseeehhhhhhh….