Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 22 )

.

.

.

Sakura pov.

Ayah menatap wajahku, tatapan yang sangat tenang, wajah ayah dan Sasuke sangat mirip jika sedang marah, aku tak tahu level marahnya sekarang berada di peringkat berapa.

"Kita ke rumah sakit, wajahmu harus di obati, Sakura." Ucap ibu Mikoto padaku, tatapannya jauh lebih berbeda dari pada ayah, ibu terlihat khawatir.

Mengangguk pelan.

Aku sempat melihat ayah berbicara pada kepala sekolah, entah apa yang mereka bicarakan, saat aku di bawa pulang, Ino sempat menatapku, aku masih percaya jika mereka hanya mengarang kebenaran itu. Melemparkan senyum terbaikku padanya, aku ingin dia tenang dan jangan sampai ikut terlibat masalahku ini. Ino membalasnya, sebuah senyuman dan kepalang tangan darinya, seakan memintaku tetap semangat.

Masuk ke dalam mobil, suasana yang begitu sunyi, sejujurnya aku sangat takut pada ayah Fugaku, wajah tegas itu memberikan rasa takut tersendiri, aku tidak begitu mengetahui watak asli ayah Fugaku.

"Katakan, Sakura, apa kau ingin tetap di sekolah itu atau pindah?" Tiba-tiba ayah Fugaku mengajukan pertanyaan ini.

"Kenapa Sakura harus pindah?" Tanya ibu Mikoto. Bingung. Mereka tidak membicarakan hal ini bersama.

"Sekolah itu buruk, sebaiknya pindah saja."

Bukan sekolahnya yang buruk, tapi murid-murid yang di sana yang sungguh keterlaluan, masalah pribadi pun menjadi konsumsi mereka, mereka tidak akan tenang jika tidak membuat masalah denganku.

Jika pindah ke sekolah yang lain, apa keadaan akan berubah atau tetap sama? Mereka menyalahkan atas keadaanku sebagai anak dari keluarga Uchiha.

"A-aku tidak ingin pindah, ayah. Sebentar lagi aku akan lulus." Ucapku.

"Itu benar, suamiku, hanya menunggu beberapa bulan lagi, Sakura akan lulus."

"Apa kau mau bertanggung jawab jika dia terluka lagi?" Ucap ayah Fugaku, dia mengkhawatirkanku juga? Aku sudah memikirkan hal buruk tentangnya. Aku hanya takut, aku takut menjadi anak angkat yang hanya membuat masalah. Aku pun ingin menjadi anak hebat seperti kakak-kakakku.

"Aku yang akan menjaga diri, ayah. Jadi tenang saja." Ucapku, berusaha meyakinkannya.

"Jika kau dalam masalah lagi, aku yang akan meratakan sekolah itu." Ancam ayah.

Ucapannya itu membuat ibu Mikoto tertawa, aku yakin jika sikap Sasuke turun dari ayah.

"Aku tidak main-main. Apa kau mau melihat putrimu seperti itu setiap ke sekolah?"

"Ya, itu ide yang bagus, suamiku."

Rasa takutku memudar perlahan, aku lagi-lagi memikirkan sesuatu yang tidak tepat untuk mereka. Mereka sungguh menyayangiku sebagai anak mereka.

Mereka membawaku ke rumah sakit untuk sebuah perawatan ringan, saat pulang ke rumah, mungkin aku perlu menyembunyikan wajah ini, jika mereka melihat luka di wajahku, aku yakin jika reaksi Sasuke akan sangat berlebihan.

Apa yang aku rencana itu tidak akan berhasil.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" Ucap kak Izuna padaku.

"Mereka sangat berani melakukan ini pada keluarga Uchiha." Ucap kak Itachi.

Mereka terlihat marah dan khawatir, aku bingung harus menjelaskannya bagaimana, aku juga terlibat dalam perkelahian itu.

"Ini adalah masalahku, kalian tenang saja, aku sudah membalas mereka." Ucapku.

"Ini cukup parah, apalagi lebam ini." Ucap kak Izuna.

"Aku baik-baik saja. Lebam pun akan menghilang." Aku berusaha membuat mereka tenang.

Aku lelah memberi mereka penjelasan, mereka turus mengutarakan niat jahat untuk membalas murid-murid yang menyerangku.

Selain mereka, ada yang jauh lebih sulit lagi untuk mendapat penjelasan.

"Aku ingat wajah mereka, besok aku akan memberi mereka beberapa nasehat agar tidak menyerangmu." Ucap Sasuke.

"Hentikan! Kenapa kau begitu menyebalkan! Ini adalah masalahku, antara aku dan teman-temanku di sekolah, kenapa orang dewasa begitu sibuk mencampurinya!" Kesalku, aku sudah sampai pada batas untuk bersabar sejak tadi.

"Mereka melukaimu."

"Aku juga melukai mereka, semua sudah impas, lagi pula mulai besok aku di minta tinggal istirahat sampai sembuh."

"Apa perlu mendaftarmu di latihan boxing?"

"Itu ide buruk, aku tidak mau melakukannya." Tolakku.

Sasuke terus saja menatap wajahku, ini membuatku sangat malu.

"Kau tahu, aku cukup takut pada ayah." Ucapku.

"Kenapa harus takut?"

"Aku tidak begitu tahu akan sikap asli ayah. Aku pikir dia akan marah besar padaku setelah guru memanggilnya. Aku sudah memikrkan hal terburuk."

"Wajah ayah memang terlihat galak, tapi dia sangat baik."

"Uhm, kau benar Sasuke. Ayah sangat baik, dia bahkan akan meratakan sekolah jika masih ada yang berani melukaiku." Ucapku dan terkekeh.

"Itu ide yang bagus, aku bisa membantu ayah melakukannya." Ucap Sasuke, tapi tatapannya itu terlihat datar-datar saja, ini sedikit membuatku tertawa.

"Bagaimana jika kita mulai liburan?"

"Tanyakan ini pada ayah dan ibu."

.

.

.

.

Kami berlibur di sebuah resort milik keluarga Uchiha, ini adalah pulau pribadi milik ayah seperti yang sudah di ceritakan kak Itachi sebelumnya.

Pulaunya indah, di sini hanya ada kami saja, para pelayan, penjaga pulau dan petugas keamanan.

"Ada apa dengan wajahmu, Sakura?" Ucap kak Naori, khawatir, kak Izuna membawanya setelah mendapat ijin dari ayah dan ibu.

"Anak-anak di sekolah menyerangnya, jika saja aku melihat mereka, aku memberi mereka pelajaran." Jelas kak Izuna pada kak Naori.

"Aku tidak apa-apa, ini hanya masalah kecil." Ucapku.

"Mereka sangat kejam, seharusnya mereka di penjarakan saja." Ucap kak Naori.

Aku rasa itu terlalu berlebihan, lagi pula aku juga melawan mereka, aku rasa itu sudah impas untuk mereka. Ini semua karena keadaan aneh antara aku dan Sasuke, aku tahu itu tidak wajar bagi saudara, tapi Sasuke bukan kakak kandungku.

"Jangan ikut campur masalah Sakura."

Terkejut, tiba-tiba Sasuke menarikku menjauh dari kak Naori, ada apa lagi dengannya? Kenapa dia selalu saja tidak suka pada kak Naori, bukannya sebentar lagi kita akan menjadi keluarga?

"A-aku merasa kasihan pada Sakura." Ucap kak Naori, dia terlihat sedikit canggung pada Sasuke.

"Sasuke, jaga sikapmu. Dia adalah pacarku. Berapa kali harus aku katakan padamu." Tegur kak Izuna.

"Itu bukan urusanku." Cuek Sasuke.

Dia terkesan lebih kekanak-kanakan dari pada kak Itachi dan Izuna, sampai kapan dia akan bersikap seperti ini pada kak Naori? Jika aku punya kakak ipar perempuan, dia akan menjadi teman yang sangat baik. Semoga saja kami bisa tinggal bersama.

"Dengarkan ucapan kakak." Ucapku, sedikit membantu kak Izuna, namun yang aku dapat adalah tatapan melotot marah dari Sasuke.

"Segera ke ruang makan, kita akan makan siang bersama." Ucap Sasuke, dia mengabaikan segalanya.

Ruangan makan dengan interior yang indah. Ada koki juga disini, mereka menyiapkan hidangan untuk makan siang kami, ruangan yang di desain seperti sebuah restoran, makanan yang mereka hidangkan sangat enak, aku menyukai tempat ini, ada kolam renang yang luas, bangunan ini memiliki 5 lantai dengan kamar yang cukup banyak, fasilitas penunjang seperti resort lainnya. Hanya saja cukup sunyi, hanya ada keluarga Uchiha dan juga kak Naori, beberapa pelayan akan berlalu-lalang jika setiap kamar membutuhkan pelayanan.

"Aku akan menunjukkanmu sebuah tempat." Ucap Sasuke. Dia mengajakku pergi sebelum aku melihat kamarku.

Kami berjalan turun menuju area belakang bangunan ini, di sana begitu rindang dengan pepohonan yang cukup banyak, taman yang di tata indah, rerumputan yang sepertinya telah di potong rapi, aku bisa mencium bau rumput dari sini.

"Ini tempat indah." Ucapku.

"Dulunya kami suka bermain di sini, saat ibu dan ayah memilih liburan sejenak dari penatnya pekerjaan mereka."

"Bagaimana jika memanggil Niichan dan kakak?"

"Tidak. Mereka hanya penganggu, aku ingin mengajakmu berdua."

"Berdua saja, apa ini kencan?"

"Ya, anggap saja."

Kau berani mengatakan hal itu hanya karena ada kami saja. Aku lagi-lagi di buat bingung olehnya. Sejenak, aku ingin menjadi normal saat bersama Sasuke.

.

.

TBC

.

.


Next