disclaimer © Kanata Konami
warning Chi-centric, mungkin OOC, PWP (plot? what plot?), confused plot, typo(s), kebutaan EBI, ide klise, diksi ambyar, totally random.
"Bagus, bagus!" puji Mike sembari menepuk kedua kaki depannya. "Sekarang kalian bisa beristirahat! Kalian bebas melakukan apa saja sampai malam tiba!"
"Yeeeey!" Chi bersorak bahagia. "Mike Obaa-san, terima kasih!"
"Hoo, tumben kau normal, Chi," tanggap Cocchi dengan nada meledek.
"Aeh?" Kucing bermarga Yamada itu memberi respon keheranannya yang khas. "Normal?"
"Bukan apa-apa." Cocchi menggeleng. Matanya mengerling ke arah air mancur. "Ayo kita minum dulu di situ, di air mancur itu."
Latihan paduan suara para anak kucing berlangsung lancar. Karena Chi dan Cocchi sudah pernah berpartisipasi sebelumnya, mereka tentu tidak memiliki masalah dengan koordinasi yang diarahkan Mike—yang juga merupakan pelatih mereka waktu itu. Entah ke mana tiga ekor anak kucing asing yang pernah mengikuti pertemuan itu, yang jelas posisi mereka sekarang digantikan oleh Ann dan Telly. Meski ini pengalaman baru mereka, tetapi keduanya tetap bisa mengikutinya dengan baik.
"Tadi itu sangat menyenangkaaaaan!" seru Telly. "Air ini juga sangat segaaaaar! Wuaaahh!"
"Apa ... benar-benar tidak apa-apa? Sebenarnya aku masih ragu juga ...," lirih Ann.
"Eh? Tapi ini sudah setengah perjalanan." Cocchi mengintip langit. Angkasa sudah berwarna oranye menuju keunguan. Bahkan titik cahaya besar bernama matahari pun sudah tidak terlihat berdiri di atas. "M-Maksudku, kalau kalian mau berhenti ... akan sangat disayangkan. Latihannya jadi sia-sia, 'kan?"
Diam-diam Cocchi sebenarnya sangat antusias dengan pertemuan para kucing ini.
"Cocchi benar." Telly mengangguk setuju. "Tidak apa-apa, Ann. Ada aku di sini. Kita akan selalu bersama, seperti kata Mama."
"Chi lapar," celetuk Chi tidak tahu situasi dan kondisi. "Chi ingin makan."
"Kalau kau bilang begitu, jujur aku juga merasa lapar," tutur Cocchi. "Baik, bagaimana kalau kita berpetualang mencari makanan?"
"Ide yang bagus!" sahut Telly.
"Aku juga mau mencoba mencari makanan sendiri!" timpal Ann. "Ah, maksudku bersama teman-teman!"
"Oke—"
"Itu si kucing Chi!" Sosok gadis berjaket tudung biru muda berdiri di ambang pintu masuk taman. "Sudah kuduga dia berada di sini!"
"Kau benar! Itu kucing yang menjadi pemenang kontes! Jenis kucing sepertinya memang ada banyak, tapi aku sangat yakin itu memang dia!" Gadis di sebelahnya menimpali. Kuncir ekor kudanya menari mengikuti gerakan kepalanya. "Aku mau mendekatinya!"
Gadis berkuncir ekor kuda langsung berlari ke arah air mancur, diikuti gadis berjaket. Chi melompat turun dari dinding, mendekat dan memberikan senyum terbaiknya.
"Ini yang kemarin!" seru Chi. "Bersama bukan yang kemarin!"
"Melihatnya secara langsung membuat keimutannya menjadi dua kali lipat! Dia lucu sekaliiii!" Gadis berkuncir ekor kuda tidak bosan-bosannya memberikan pujian. "Aku tidak menyangka kalau kau pecinta kucing juga. Maaf, kupikir kamu itu memang tidak suka bergaul. Ternyata kamu juga penggemar Chi!"
"Hum hum!" Gadis berjaket mengangguk semangat. Diusapnya kepala Chi yang mulai bermanja ria. "Halo, Chi. Aku ingin berterima kasih padamu, karena kaulah yang membuatku memiliki teman sekarang. Dia temanku yang tidak sengaja melihat layar ponselku bergambar dirimu saat les privat, Chi."
"Halo, Chi!" Chi digendong oleh gadis berkuncir ekor kuda. "Astagaaaaa! Kau sungguh menggemaskan! Rasanya ingin kubawa pulang!"
"Tapi Chi milik orang lain, milik keluarga Yamada. Ingat di situs itu? Chi didaftarkan dengan marga Yamada."
"Hehe, aku tahu, kok! Chi dan teman-temannya, kalian kubawakan makanan lho!"
"Eh? Kamu membawa makanan?"
"Yup! Setelah waktu itu kamu bercerita kalau kamu bertemu Chi, dan karena kamu mau mengajakku menemuinya saat les berikutnya alias hari ini, jadinya aku memutuskan untuk membawa makanan untuk mereka!"
"Kalau begitu, mereka makan dua porsi hari ini?"
"Tidak masalah! Mereka kan, sedang dalam masa pertumbuhan! Mereka bisa menjadi harimau kalau banyak makan!"
"Huh? Mereka itu kan ... kucing?"
"Memang, sih, tapi kan mereka masih satu keluarga. Kucing dan harimau masih bersaudara, kok. Sama saja."
"T-Tapi tidak mungkin kucing yang banyak makan akan menjadi harimau saat besar! Tidak ada buku yang bilang begitu!"
"Hahahahaha! Aku hanya bergurau, duh! Kamu ternyata sangat polos, ya! Seperti anak kecil saja, padahal kamu sudah remaja!"
"Chi mau turun! Lepaskaaaan!" pinta Chi sembari memberontak dalam pelukan. Gadis yang melakukannya seperti tidak sadar karena sedang asyik berbicara dengan temannya. "Lepaskaaaaaaan!"
"Mereka membicarakan apa?" Masih di atas dinding air mancur, Telly menoleh ke arah Ann dan Cocchi bergantian. "Aku tidak mengerti."
"Sepertinya mereka kenal dengan Chi," terka Ann.
"Yang satu itu adalah manusia yang pernah datang ke sini. Sepertinya dia memang mengenali Chi, tapi Chi bilang dia tidak tahu," terang Cocchi. "Sementara yang satunya ... aku baru melihatnya di sini hari ini."
"Oke! Waktunya makan! Apa kalian lapar?" Setelah menurunkan Chi, si gadis berkuncir ekor kuda mengeluarkan sebuah kotak dan membukanya. Empat potong daging matang sempurna berukuran sedang terpampang di hadapan Chi dan yang lainnya. "Ini untuk kalian berempat! Pas sekali aku membawa lebih!"
"WOAAAAAAAAH!" Air liur keempat anak kucing langsung mengalir dan menetes ke permukaan tanah.
"Aku membawakan sup kaldu ayam yang seperti kemarin. Karena kata internet bagus untuk kucing, aku tetap memasaknya." Gadis berjaket ikut meletakkan kotak di sebelah wadah berisi daging milik teman barunya.
"SELAMAT MAKAAAAAAAN!"
Chi dan Ann mengerumuni kotak sup, sementara Cocchi dan Telly memilih menghabiskan daging terlebih dahulu. Setelahnya, mereka berpindah tempat, menyantap habis seluruh makanan yang diberikan kepada mereka. Pada akhirnya, secara nyaris bersamaan mereka merebahkan diri karena kekenyangan. Sebagai tambahan, Chi menepuk perutnya yang kini terlihat seperti bukit.
"Kenyangnyaaaaa!" seru Chi.
"Lezat sekaliiiii!" timpal Ann.
"Benar-benar enaaaaaaak!" Telly tersenyum setengah sadar nyaris tertidur. Kenyang memang seringkali membuat siapa pun mengantuk.
"Luar biasa!" Bahkan Cocchi pun ikut berteriak.
"Mereka semua sangat lucu!" Gadis berkuncir ekor kuda berseru, gemas sendiri. "Dua ekor kucing yang itu mirip dengan Chi, ya? Apa mereka bersaudara?"
"Aku tidak melihat mereka saat pertama kali bertemu dengan Chi dan satu temannya itu." Gadis berjaket menunjuk Cocchi. "Mungkin hanya kebetulan mereka dari ras yang sama, menurutku."
"Oh, ini sudah hampir malam! Sebaiknya kita pulang!" Kedua manusia itu saling bergandengan tangan, sembari melambaikan tangan mereka yang bebas sebagai ucapan selamat tinggal. "Sampai jumpa lagi, Chi dan teman-temannya!"
"Jumpa lagiiiiii!" balas Chi disertai ngeongan panjang. "Chi sangat senaaaaaang!"
"Kalian sangat bersenang-senang, ya." Mike mendatangi perkumpulan anak kucing itu dengan langkah lambat namun mantap. "Aku benar-benar harus menahan diri melihat itu semua, hahahaha."
"Itu milik mereka. Kau tidak boleh mengambilnya," larang Kuroino yang ternyata ikut berjalan di samping Mike. "Kalau kita serakah, maka kita tidak ada bedanya dengan harimau."
"Harimau?" Chi berusaha mengingat-ingat. "Chi seperti pernah mendengar kata itu?"
"Harimau itu siapa?" tanya Ann.
"Saudara jauh kita yang lebih ganas dan perkasa," jawab Mike.
"K-Keren!" Telly berdecak kagum.
"Tapi dia tidak bisa memanjat seperti kita, para kucing," sambung Kuroino.
"Heh, tidak terlalu hebat ternyata," tanggap Cocchi sombong.
"Kucing? Tapi Chi bukan kucing. Chi sama seperti Youhei, Otou-san, dan Okaa-san," koreksi Chi.
"Kamu benar-benar anak kucing yang lucu, Chi." Mike menahan tawa. "Nama-nama yang kausebutkan itu adalah manusia, sementara kau adalah kucing. Lihat? Mereka berjalan dengan dua kaki, sementara kita dengan empat kaki. Mereka tidak punya ekor, sedangkan kita punya. Yang paling jelas, mereka sama sekali tidak berbicara sama seperti kita."
"Chi …," Chi membulatkan mulutnya, merengek dan meracau frustasi. "tidak mengerti …."
"Bersiaplah, kalian semua." Kuroino memutuskan untuk mengalihkan topik. "Hal yang paling kita tunggu akan segera dimulai."
"YEEEY!"
Kucing ... Youhei ... Otou-san ... Okaa-san ... Chi yang mana? Chi ingat ... banyak sekali yang bilang Chi itu kucing. Jauh di dalam pikirannya, Chi merenung. Chi ... tidak tahu ….
tamat
~himmedelweiss 28/08/2020
