Title : Tears in the Thorn

Author : Elle Riyuu

Main Cast : Chanbaek

Genre : Romance, hurt/comfort

Rate : M

Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.

.

.

[CHAPTER 36]

.

.

.

"Baekhyun!" Joonmyeon berteriak dan berlari untuk memeluk Baekhyun. Ia terlihat berbeda dari Joonmyeon yang biasanya. Menurut Baekhyun ada sesuatu yang berbeda.

"Joonmyeon? Ada sesuatu yang membuatmu kemari?" Baekhyun merasa heran karena biasanya Joonmyeon menemuinya setelah lebih dulu membuat janji.

"Apa aku tidak boleh menemui sahabatku?" Joonmyeon segera melepaskan pelukannya lalu menunjukkan wajah yang cemberut. Ia merajuk dan Baekhyun menjadi lebih heran dengan sifat perajuk sahabatnya yang muncul tiba-tiba.

"Bukan begitu, bukannya tidak boleh. Biasanya kau akan menghubungiku jika ingin bertemu." Baekhyun segera menjelaskan karena Joonmyeon tiba-tiba saja terlihat seperti ingin menangis.

"Aku sahabatmu, bukan hanya kenalanmu. Aku tidak perlu untuk selalu menghubungimu jika ingin bertemu. Atau jangan-jangan kau tidak ingin bertemu denganku?" Joonmyeon semakin terlihat ingin menangis.

"T-tidak, bukan seperti itu. Aku senang kau datang, senang sekali." Baekhyun panik lalu segera menenangkan Joonmyeon dengan memeluknya.

Yifan terkekeh kecil melihat interaksi keduanya. Baekhyun tidak mengetahui apapun dan menjadi sangat panik. Sedangkan ia menganggap ini sebagai sebuah tontonan singkat yang menggemaskan.

"Oh, Yifan?" Chanyeol tiba-tiba muncul dengan kunci mobil di tangannya. Ia terlihat tidak menyangka kalau Yifan berada di sana.

"Hi, Chanyeol." Dan Yifan menyapanya dengan santai. Ia masih tersenyum, tahu apa yang akan Chanyeol katakan selanjutnya.

"Bukankah aku mengatakan kalau aku yang akan pergi ke tempatmu?" Chanyeol bertanya persis seperti yang Yifan perkirakan. Menurut Yifan semakin hari Chanyeol semakin mudah ditebak, ia sampai hampir tertawa dibuatnya.

"Joonmyeon ingin menemui Baekhyun, jadi aku membawanya ke sini." Yifan menjelaskan, wajahnya menampakan air muka yang tenang.

"Aku bisa membawa Baekhyun ke tempatmu. Kau hanya perlu mengatakan padaku kalau memang Joonmyeon ingin bertemu Baekhyun." Chanyeol menunjukkan wajah yang mengkerut kesal.

"Tidak apa-apa, aku juga sudah lama tidak mengunjungi rumahmu." Yifan menenangkan, seakan tahu apa yang membuat Chanyeol khawatir hingga menjadi kesal seperti ini.

"Mengunjungi rumahku bisa lain kali, membawa Joonmyeon yang tengah hamil muda hanya akan membawa masalah. Kau pikir apa yang akan kau lakukan jika musuh menyerangmu? Aku tahu betul bagaimana rasanya itu. Cukup aku dan Baekhyun, jangan kau dan Joonmyeon." Chanyeol berbicara panjang lebar tanpa sadar ia mengagetkan Baekhyun dengan fakta baru dalam perkataannya.

"Tapi justru kau yang mengatakan itu dengan lantang sekarang." Yifan tertawa dengan keras. Terlebih saat melihat Chanyeol melebarkan matanya karena terkejut.

"Maafkan aku." Chanyeol segera meminta maaf. Ia telah bertindak ceroboh disaat ia harus berhati-hati.

"Tidak apa-apa. Ini rumahmu, aku yakin di sini aman." Yifan meredakan tawanya lalu memberi kalimat penghibur yang dapat meringankan perasaan sahabatnya itu.

"Kau aman, kalian aman saat berada di tempatku. Aku bisa menjamin." Dan Chanyeol menyahut dengan tenang.

"Kau hamil?" Tapi suara terkejut Baekhyun yang kecil mengintrupsi keduanya. Mereka saling pandang, menyadari Baekhyun adalah satu-satunya orang yang tidak tahu mengenai berita ini.

"Joonmyeon tengah hamil, 5 minggu. Kami juga baru mengetahuinya hari ini setelah memeriksanya di rumah sakit." Yifan segera menjelaskan, mencegah Baekhyun merasa kecewa pada Joonmyeon.

Baekhyun adalah seseorang yang berhati rapuh hingga hal sekecil ini juga dapat mencederai perasaannya. Baekhyun memiliki sedikit teman yang peduli padanya. Jika Joonmyeon tidak memberitahunya masalah sepenting ini, mungkin ia akan mulai berpikir bahwa Joonmyeon tidak menyukainya.

"Aku juga tidak tahu, aku tidak diberi tahu." Seseorang mengintrupsi mereka dengan suara yang terdengar kesal. Mereka menoleh ke arah suara kemudian tertawa kecil. Di dekat pintu berdiri Jeno yang memang terlihat kesal

"Mom baru saja ingin memberitahumu, tapi harus mengantar Yifan dulu ke sini." Joonmyeon mengemukakan alasannya lalu mendekati putranya yang tampan. Ternyata Jeno tidak sendiri, ada Renjun di belakangnya yang menyapa dengan suara yang mungil. Kalau Joonmyeon boleh menebak, mungkin Luhan dan Sehun memberikan waktu kosong pada Jeno untuk pergi berkencan. Itu sangat mungkin terjadi, mengingat Kun juga Yifan istirahatkan dari pekerjaan. Mereka akan bersantai untuk sehari penuh karena Joonmyeon yang mengatakan ingin bertemu dan memasak beberapa makanan bersama Baekhyun dan Minseok, sedangkan Luhan membantu Winwin menjalankan kafenya.

"Kenapa harus mengantar Dad lebih dulu? Kenapa tidak lebih dulu memberitahuku? Bayi itu adalah adikku." Jeno rupanya sangat kesal hingga memanggil Dad pada Yifan di depan banyak orang. Biasanya ia tidak mau karena itu terdengar tidak manly. Katanya ia mau jadi lelaki tangguh, tidak ingin bersembunyi di ketiak ayahnya yang merupakan salah seorang mafia paling ditakuti.

"Tapi bayi itu adalah anak Dad, jadi tidak apa-apa jika tidak memberitahumu dengan cepat." Yifan menggoda putranya. Sangat jarang menemukan Jeno yang seperti ini.

"Dad menyebalkan." Jeno berucap dengan nada suara penuh kesal. Kerutan muncul dari dahi hingga ke hidung, mulutnya terkulum dengan erat. Ia terlihat menggemaskan hingga orang-orang di sana terkekeh kecil.

"Jeno juga menyebalkan." Yifan menyahut dengan nada suara menahan tawa. Jeno benar-benar imut, Yifan jadi ingin memeluknya.

"Yifan, berhenti menggoda putramu. Lihat, asap seperti akan keluar dari lubang hidung dan telinganya." Joonmyeon menengahi keduanya, tapi tetap saja menyebalkan untuk Jeno.

"Mom~! Kenapa malah berbicara seperti itu?" Jeno melempar kekesalan pada ibunya.

"Baiklah, Mom minta maaf. Hentikan wajah kesalmu itu, lupa jika kau membawa Renjun? Katanya ingin jadi lelaki tangguh. Itu Renjun sedang menatap wajah masammu, sayang. Tidak malu tidak terlihat tampan di depan pacarmu?" Joonmyeon membujuk dan bersyukurlah ada Renjun di sana.

"Baiklah, aku tidak kesal lagi. Tapi nanti saat ngidam pertama, Mom harus memberitahu aku." Jeno berbicara setelah tadi menghela napas sebentar.

"Mom akan memberitahumu, janji." Joonmyeon menyodorkan jari kelingkingnya yang disambut Jeno dengan senang hati. Keduanya lalu tertawa kemudian berpelukan dengan ceria.

"Jeno menyayangi Mom." Jeno berucap dalam pelukan ibunya.

"Mom juga menyayangi Jeno." Dan Joonmyeon menyahut dalam haru.

"Tidak menyayangi Dad?" Yifan bertanya, sedikit cemburu dan ingin mendapatkan pengakuan yang sama dari putranya.

"Tidak." Jeno melepaskan pelukannya lalu menggoda ayahnya. Yifan menggodanya tadi, jadi ia akan sedikit membalas dendam.

Yifan terlihat sedikit kesal lalu menghela napasnya sekali. Putranya ini sungguh luar biasa. Jika Yifan tidak menyayanginya, mungkin pipi putihnya itu sudah ia cubit dengan keras. Kening Yifan sedikit mengkerut lalu tangannya merogoh kantongnya. Ia mengeluarkan sebuah dompet lalu menarik sebuah kartu dari dalamnya.

"Masih tidak?" Yifan kembali bertanya sambil melambaikan sebuah kartu diantara jarinya.

"Jeno menyayangi Dad!" Itu adalah Black Card, jadi tentu saja Jeno akan segera merubah pikirannya. Yifan jarang memberi kesempatan seperti ini, Jeno akan memanfaatkannya dengan baik. Anak laki-laki yang tampan itu bahkan terlihat melompat untuk memeluk ayahnya.

"Dasar. Dad juga menyayangimu." Yifan terkeken kecil lalu membalas pelukan hangat putranya. Jeno jarang bermanja padanya hingga Yifan merasa sangat senang saat bisa memeluknya.

Yifan mengusap-usap punggung putranya lalu menarik tubuh remaja itu menjauh. Ia mengusap rambutnya dengan lembut. Matanya berbinar dan senyumnya terlampau lebar. Yifan sedang sangat bahagia hari ini, jadi memberikan kelonggaran pada Jeno untuk menggunakan kartunya adalah hal yang terdengar bagus.

"Pergilah. Ajak Renjun untuk bersenang-senang. Gunakan kartuku untuk berbelanja dan memakan makannan enak. Tapi ingat batasan, mengerti?" Yifan menyerahkan kartu itu di telapak tangan putranya lalu beralih menatap Renjun. Ia membalas sapaan malu-malu remaja kecil itu dengan senyuman yang meneduhkan.

"Mengerti. Terimakasih, Dad. Kami pergi dulu." Jeno menyahut ceria lalu menarik pacarnya pergi, mengabaikan Renjun yang membungkuk pamit dengan panik. Sedangkan tangannya yang lain melambai pada ayah dan ibunya.

Yifan dan Joonmyeon terus memandang putranya hingga tidak terlihat. Jeno adalah putra yang menggemaskan, membawa kebahagiaan di kehidupan keduanya yang dulu kelabu. Ia mandiri tapi juga memiliki sifat yang manja. Mereka begitu menyayangi Jeno, meski bukanlah putra kandung. Yifan bahkan membantunya mendapatkan Renjun saat ia melihat mata tulus dan penuh kasih putranya menatap Renjun penuh arti. Dan ia tidak menyesal saat menemukan putranya kini terlihat lebih bahagia setelah menjalin hubungan dengan Renjun.

"Oh, ada Joonmyeon dan Yifan ternyata." Minseok berjalan memasuki ruang tamu dengan Jiwon di gendongannya. Ia mendengar bunyi keramaian saat tengah bermain bersama Jiwon, ternyata ada tamu yang datang.

"Minseok datang, pergi lakukan apapun yang kalian inginkan." Chanyeol memerintah dengan senyuman di bibirnya. Ia telah terbiasa seperti itu sejak ia tahu kalau Baekhyun akan selalu menjadi istri yang penurut.

"Kami akan memasak, ada sesuatu yang kalian inginkan?" Joonmyeon bertanya dengan ceria, terlihat lebih bahagia di saat kehamilan pertamanya. Sebenarnya ia tidak berencana untuk hamil karena merasa belum begitu siap untuk memiliki anak kandung seorang Wu. Tapi saat anugrah ini datang, ia tetap merasa bahagia. Karena bayi ini bayi Yifan, pria yang dicintainya.

"Tidak ada, masak apapun yang kalian mau. Berikan Jiwon pada kami, kami yang akan menjaganya. Hari ini ia akan bermain bersama Daddy dan Uncle Yifan." Chanyeol yang menyahut, tahu bahwa Yifan tidak menginginkan hal lain selain kebahagiaan pasangannya. Mereka telah begitu mengenal satu sama lain, hingga sampai mengetahui apa yang akan dilakukan yang lain saat menemukan permata di kehidupannya. Cara mencintai mereka berbeda, tapi ketulusan yang diberikan sama besarnya.

.

.

Baekhyun membersihkan meja makan dengan telaten. Mereka makan malam dengan makanan yang tersaji banyak di meja. Makanan yang mereka nikmati keseluruhannya adalah apa yang Joonmyeon pilih dan itu terasa enak.

"Joonmyeon terlihat bahagia hari ini." Chanyeol datang setelah memastikan Yifan dan Joonmyeon keluar dari pekarangan rumahnya dengan aman.

"Seorang istri yang begitu mencintai suaminya akan merasa sangat bahagia saat tahu ia mengandung bayi dari orang yang dicintainya." Baekhyun meletakkan piring terakhir di wastafel lalu mencuci tangannya. Sejak ia mengandung Jiwon, Minseok tidak memperbolehkannya mencuci piring. Minseok mengatakan padanya kalau mengurus bayi terasa lebih melelahkan daripada mencuci piring dan kenyataannya itu benar.

"Benarkah? Apa rasanya bahagia?" Chanyeol mulai tertarik dengan bahan obrolan mereka. Baekhyun tidak banyak berbicara mengenai perasaannya saat dulu ia mengandung Jiwon.

"Sangat bahagia, seperti dunia sedang menyiramimu dengan cahaya. Rasanya seperti ingin meledak, bahagia dan haru bercampur menjadi satu. Angan-angan memeluk bayi yang lucu dan mungil tiba-tiba memenuhi mata. Bayangan masa depan yang indah telah mengisi kepala." Baekhyun mengeringkan tangannya lalu membiarkan Chanyeol menggiringnya ke kamar. Baekhyun bercerita dengan air muka yang tenang, mengimbangi suaminya yang terlihat sedikit antusias. Ia senang melihat Chanyeol yang menunjukkan banyak perubahan menjadi lebih baik, hingga ia memutuskan untuk tidak menceritakan rasa tertekannya saat dulu baru mengetahui keberadaan Jiwon. Untuk kasusnya, dulu ia merasa bahagia, haru dan keputusasaan yang mendalam.

Chanyeol memandang Baekhyun dengan terkejut. Masih segar dalam ingatannya Baekhyun yang menangis keras hingga hampir pingsan di hari mereka tahu tentang kehamilannya. Tapi ia tahu, Baekhyun mungkin ingin menghapus kisah lama untuk menulis di kertas kehidupan yang baru.

"Ah, sebahagia itu. Aku dulu juga sangat bahagia saat tahu kau mengandung Jiwon. Tapi rasa bahagia itu lebih seperti tekat untuk menjaga kalian dengan sangat baik sampai aku bisa melihat wajah buah hatiku menangis keras di hari pertama ia menatap dunia." Itu menjadi percakapan terakhir mereka setelah itu. Percakapan mereka berhenti bukan karena rasa canggung, hanya saja senyum lembut Baekhyun yang penuh cinta merupakan sahutan terbaik yang Chanyeol terima.

Chanyeol merangkul pinggang istrinya yang perlahan menaiki tangga. Itu adalah salah satu sikap romantis yang ia tunjukkan pada istrinya dengan tanpa sengaja. Chanyeol selalu melakukan perlakuan lembut pada Baekhyun tanpa ia sadari dan Baekhyun benar-benar menyukainya. Ia bahkan membukakan pintu kamar dan membiarkan Baekhyun masuk lebih dulu.

Chanyeol duduk di pinggir tempat tidur saat melihat Baekhyun memasuki kamar mandi untuk mencuci tangannya. Biasanya Jiwon akan tidur lebih cepat daripada mereka berdua hingga Baekhyun selalu menyiapkan tempat tidurnya setelah waktu makan malam. Chanyeol biasa memperhatikan istrinya di saat seperti ini. Baginya ini adalah adalah penghibur di ujung hari setelah melewati saat-saat melelahkan.

"Jiwon akan segera tidur?" Chanyeol memulai obrolan dengan basa-basi ringan.

"Iya, Jiwon terlihat sudah sangat mengantuk. Sepertinya ia kelelahan setelah bermain denganmu dan Yifan." Dan Baekhyun yang menyahut dengan kalimat menyenangkan, membuat Chanyeol sedikit terkekeh.

"Bisakah Jiwon tidur di tempat tidurnya sendiri?" Chanyeol menyampaikan maksudnya dengan segera saat menemukan Baekhyun mulai memeluk bantal mungil putranya. Jiwon memiliki tempat tidurnya sendiri, tapi terkadang Baekhyun membawanya tidur di ranjang mereka agar lebih nyaman untuk mengurusnya yang terkadang menangis tengah malam.

"Ya?" Baekhyun terlihat sedikit terkejut. Ia hampir bisa menangkap maksud dari pertanyaan suaminya hingga merasa sedikit gugup.

"Kita telah melakukan pemeriksaan kemarin dan kau pasti tidak lupa dengan apa yang Tao katakan. Kau sudah boleh berhubungan seksual mulai sekarang. Dan aku meminta persetujuanmu untuk kita melakukannya malam ini. Aku sangat merindukan sisi rapuhmu dalam genggamanku, tapi aku tidak memaksa. Kau berhak menolak jika kau rasa kau tidak bisa atau tidak ingin melakukannya." Chanyeol berbicara panjang untuk menyampaikan maksudnya. Ia merindukan istrinya, ingin memeluknya dari kulit ke kulit. Tapi ia tidak ingin menjadi berengsek lagi, cukup masa lalu yang ia sebut berengsek.

"Hmm, Chanyeol. A-aku…" Baekhyun terlihat ragu hingga Chanyeol memutuskan untuk berdiri dan mengusap pipinya lembut untuk memberikan ketenangan.

"Jangan ragu, kau tahu aku tidak akan menyakitimu dengan apapun keputusanmu." Chanyeol membarengi sikap lembutnya dengan senyuman yang juga seperti beludru. Ia mencoba membangun rasa percaya Baekhyun padanya, bahwa ia tidak akan menyakitinya dengan apapun yang ia katakan.

"A-aku bersedia melakukannya. Tapi, kumohon, lakukan dengan perlahan. Ini sudah lama sejak aku melakukannya, aku tidak ingin berteriak untuk kemudian membangunkan Jiwon. Aku tidak mau kau berhenti di tengah dan gagal mendapatkan hakmu." Dari apapun perkiraan jawaban yang Chanyeol pikirkan, ternyata Baekhyun masih membuatnya terkejut dengan pemikiran yang hanya memikirkannya.

"Akan kulakukan perlahan. Daripada tangisan Jiwon yang mengganggu kesenanganku, aku lebih berpikir untuk tidak menyakitimu. Kau akan kesakitan jika aku tidak perlahan, sementara tangisan Jiwon karena teriakan kesakitanmu hanya dampak lain. Kau harus lebih sering memikirkan dirimu sendiri." Chanyeol berujar masih dengan suara yang terdengar menyenangkan hingga Baekhyun akhirnya mengangguk dengan wajah merona. Ia begitu mencintai suaminya yang memiliki kepedulian besar, terlebih yang tengah mencium keningnya mesra seperti sekarang.

.

.

Gerak menggeliat dari makhluk mungil di ranjang kecilnya menarik sepasang mata seorang submisif yang baru saja memasuki kamar untuk melihatnya. Baekhyun baru saja selesai membantu Minseok menyiapkan bahan untuk membuat sarapan para pengawal besok pagi. Sedangkan Chanyeol baru saja menyelesaikan mandi malamnya. Pria itu memiliki beberapa pekerjaan yang ia bawa ke rumah hari ini karena ia memang hanya bekerja sampai siang hari sehingga ia harus bekerja dari selesai makan malam sampai larut seperti sekarang. Hari ini ia begitu merindukan istri dan anaknya, seperti ini adalah hari terakhir ia merasakan kehangatan kebersamaan mereka.

"Oh, Baekhyun." Chanyeol menggumamkan nama istrinya saat ia melihat submisif itu tengah menatap putranya yang tertidur pulas. Ia melihat istrinya itu tersenyum kecil lalu berjalan menuju lemari. Baekhyun sepertinya ingin mengambilkan ia baju dan celana karena ia hanya keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar rendah di pinggangnya.

Chanyeol tersenyum dengan senyuman penuh arti saat melihat tubuh mungil istrinya berdiri di depan lemari dan memilih bajunya. Sepertinya Baekhyun lupa dengan apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Tubuhnya yang perkasa itu sebenarnya telah lebih dari siap, terlebih ia hanya perlu menarik ujung handuknya untuk menjadi lebih siap.

"Apa yang kau lakukan?" Chanyeol berjalan mendekati tubuh istrinya.

"Aku memilihkanmu pakaian, kau akan sakit jika tidak segera mengenakan satu. Ini sudah malam dan aku takut kau bisa terkena flu." Baekhyun menyahut lirih, tidak menyadari dirinya kini berada sangat dekat dengan tubuh suaminya.

"Aku tidak membutuhkan itu." Chanyeol berbisik di telinga Baekhyun, membuat Baekhyun terkejut dan membelalakan matanya. Perlahan ia mulai mengingat tentang pembicaraan mereka sebelumnya.

"Tapi- ah!" Baekhyun mendesah dengan keras saat Chanyeol tiba-tiba menyentuh bagian tubuh depannya yang sensitif. Tangannya yang mungil menutup mulutnya, terlalu malu karena suaranya sendiri.

"Tapi apa, sayang? Kau tidak lupa dengan permintaanku yang kau setujui itu, bukan?" Chanyeol masih berbisik, tangannya masih bergerak meremas Baekhyun dengan kekuatan yang kecil. Sedangkan Baekhyun sudah banyak bergerak, menekuk dan menjenjangkan tungkainya beberapa kali. Gerakan perlahan Chanyeol pada miliknya mulai membuatnya berkeringat.

"Tih-tidak lupa." Baekhyun hanya bisa menyahut pendek. Ia masih menahan suaranya agar tidak mendesah dengan keras. Tubuhnya sangat sensitif saat ini karena sudah lama tidak disentuh suaminya. Ia juga selalu menahan nafsunya untuk menyentuh diri sendiri, sehingga sentuhan kecil suaminya terasa sangat nikmat. Baekhyun hanya tidak ingin terdengar cabul karena desahannya yang tidak terkontrol.

"Kalau begitu, tunggu apa lagi?" Chanyeol terdengar puas lalu tangannya yang tadi meremas Baekhyun tiba-tiba bergerak memeluk perut istrinya. Chanyeol tidak membutuhkan kekuatan yang besar untuk melempar tubuh ringan istrinya ke kasur.

"Akh!" Baekhyun memekik tertahan, terkejut dengan tindakan suaminya.

Chanyeol tersenyum dengan penuh arti pada istrinya yang terlihat memerah. Matanya berkilat dengan nafsu yang besar, sangat seksi untuk seorang submisif yang terbaring di tempat tidur. Tapi bagi Chanyeol, istrinya bahkan lebih dari kata seksi. Bajunya yang tersingkap menunjukkan perutnya yang memiliki bekas jahitan terlihat menggairahkan. Wajahnya yang memerah dengan mata malu-malu yang berisi nafsu terlihat memikat. Chanyeol merasa panas, hingga ia menarik ujung handuknya untuk membebaskan pusat tubuhnya yang paling panas.

"Bagaimana untuk mencoba ini dengan mulutmu dulu? Coba berikan banyak pelumas agar dia tidak menyakitimu seperti yang kau inginkan." Chanyeol merangkak ke atas tempat tidurnya, mendekati wajah cantik Baekhyun. Baekhyun belum pernah memuaskannya dengan mulut kecilnya, Chanyeol jadi ingin mencoba.

Mata submisif itu membelalak karena terkejut, ia sempat meneguk ludahnya namun kemudian mengangguk kecil. Tangannya menjulur untuk meraih milik suaminya, lalu membiarkan Chanyeol menopang kedua lutut di antara kepalanya. Ia hanya berfokus pada milik Chanyeol yang telah membesar, meski itu bukan ukuran maksimalnya.

"Pelan-pelan saja, sayang." Chanyeol mendesis pada cara amatir Baekhyun dalam memuaskannya. Baekhyun masih belum begitu terbiasa, tapi ini sudah terasa nikmat.

Baekhyun terbatuk saat Chanyeol mendorong kepalanya untuk lebih memuaskannya. Chanyeol mencoba membuat Baekhyun terbiasa dengan kesenangannya. Sensasi yang ia sukai saat Baekhyun menyempitkan tenggorokannya membuat Chanyeol melenguh, meski ia tahu Baekhyun pasti merasa seperti ingin muntah.

"Sudah, Sayang. Aku tidak mau datang di mulutmu." Pria bertubuh perkasa itu menarik miliknya perlahan. Matanya mengkilat melihat Baekhyun yang berantakan karena air mata dan air liur.

Baekhyun langsung terbatuk dengan keras sesaat setelah Chanyeol menjauhkan miliknya. Dadanya tampak naik turun dengan rakus. Ini adalah hal baru yang ia rasakan, tapi ini juga tetap membuatnya merasa panas.

"Chanyeol, ba-bantu aku melepaskan pakaianku." Baekhyun berucap malu-malu tapi dengan nafsu yang mengisi matanya. Chanyeol terkekeh karena sikap itu, bagaimana bisa ia terlihat menggemaskan dan menggairahkan di saat yang sama?

Chanyeol membantu Baekhyun bangun dengan perlahan lalu menarik pakaiannya lepas. Tubuh kurus yang mendidih itu sudah dibasahi dengan keringat. Bagian tubuhnya yang paling sensitif juga telah memerah, meski Chanyeol tidak menyentuhnya lebih dari remasan di luar celana.

"Sayang, kau bergairah sekali. Kau gemetar dalam nafsu. Apa kau merindukanku begitu banyak?" Chanyeol mengusap paha Baekhyun yang mengkilat. Ia terkekeh kecil saat menemukan Baekhyun yang gemetar.

"I-iya, aku merindukanmu. Kumohon, Chanyeol, jangan menggodaku." Baekhyun menangis dalam keputusasaan. Sentuhan perlahan Chanyeol semakin membuatnya panas, ia jadi ingin merasa puas sampai ke tulang.

"Kau memohon dengan cantik, Istriku. Maka aku akan menyentuhmu hingga kau meledak dalam kenikmatan. Aku menjanjikan kenikmatan padamu karena kau yang menyerahkan dirimu padaku. Kau hanya harus menyerahkan diri padaku seutuhnya." Chanyeol menelusupkan jemarinya di sekitar lubang Baekhyun. Ia hapal dengan tempat-tempat tersensitif istrinya, tempat yang membuat Baekhyun menggeliat kegerahan jika disentuh.

"Ah…" Baekhyun mendesah panjang, matanya setengah tertutup saat merasakan Chanyeol bermain dengan kulit bibir lubangnya.

"Aku menyerah. Kumohon, berikan apa yang kau janjikan." Kemudian ia berucap tertahan, menahan getaran kenikmatan saat suaminya menyentuhnya.

Chanyeol tersenyum senang setelahnya. Ia bergerak bangun untuk mencumbu bibir merah istrinya. Jari-jarinya bergerak semakin nakal di lubang nikmat di bawah sana. Mereka sangat intim, sangat panas hingga merasa pening.

"Ah… Chanh…" Baekhyun mendesah cukup keras saat Chanyeol melepaskan ciumannya. Ia tengah merasa kewalahan sekarang, mencari cara untuk mendesah dan mengambil napas di saat bersamaan. Chanyeol mengemut pucuk dadanya dan jari-jari yang bermain di lubangnya terasa semakin berani, itu membuatnya kelimpungan.

"Aku ingin memasukimu, ijinkan aku memasukimu." Chanyeol melepaskan kulumannya lalu berbisik di atas pucuk dada Baekhyun yang mengeras. Mata hitamnya yang bulat besar tampak sangat mendamba dan menginginkan kenikmatan.

"Masuki aku suamiku, seperti yang biasa kau lakukan padaku. Aku serahkan tubuh ini padamu, kau bisa memasukiku." Baekhyun mengusap wajah dan rambut suaminya dengan penuh cinta. Ia bisa merasakan perasaan menghargai dan mencintai yang besar dari suaminya dari bagaimana ia masih memikirkan kenyamanannya. Suaminya begitu memikirkannya dengan masih meminta ijin bahkan untuk sekedar mendapatkan haknya.

"Aku mencintaimu, Baekhyun." Chanyeol menarik jemarinya dan menemukan Baekhyun yang melenguh kecil. Perlahan ia memasuki miliknya dengan mata yang memaku pada wajah istrinya yang mulai mengerut tidak nyaman. Chanyeol merasa sedikit tidak menyukai ekspresi itu. Tapi saat Baekhyun mengangguk sekali lagi untuk meyakinnya, ia bergerak lebih cepat untuk segera menyelesaikan rasa tidak nyaman yang Baekhyun rasakan.

Baekhyun membelalakkan matanya saat merasakan Chanyeol memasukinya dengan cepat. Ia telah lama tidak disentuh dan sentuhan Chanyeol yang ia yakini telah dilakukan selembut mungkin terasa masih menyakitinya. Rasanya tidak sesakit dulu, tapi masih terasa cukup menyakitkan.

"Kau melakukannya dengan baik, kau hebat." Chanyeol memujinya untuk menenangkannya. Bibir penuh suaminya menyentuh kulit keningnya, sedangkan hidungnya yang mancung tertanam di rambutnya yang penuh keringat. Dan hanya karena kalimat penenang itu, ia merasa lebih baik.

"Bergeraklah, Chanyeol." Baekhyun berucap dengan suara yang sedikit serak. Tahu bahwa Chanyeol sebenarnya sudah sangat menahan diri untuk tidak segara menggempurnya sejak tadi.

Chanyeol melenguh beberapa kali saat ia mulai bergerak. Mereka mendesah dan melenguh dengan suara tertahan, masih ingat kalau Jiwon masih tidur di ruangan yang sama. Merasakan kenikmatan ternikmat yang mereka pernah rasakan, bercinta dengan perasaan dicinta dan mencinta. Menghabiskan malam dengan gerakan panas yang indah. Menjadi pujangga di kehidupan keduanya, menulis sebuah kisah baru di kertas kehidupan merah muda.

.

.

Cahaya silau mengusik tidur pria mungil itu, suara tawa ceria dari seorang pria dewasa dan bayi laki-laki membuatnya ingin terjaga. Ia masih lelah, tapi suara penuh kegembiraan itu membuatnya ingin bangun. Ia ingin melihat keindahan apa yang sedang menunggunya.

"Oh, Papa sudah bangun. Hi, Papa!" Chanyeol menggerakkan tangan putranya untuk melambai pada Baekhyun yang tertawa kecil.

"Jiwon sudah mandi?" Baekhyun bergumam dengan suara yang serak. Ia tahu Jiwon sudah mandi dari bagaimana harum bedak bayi memenuhi kamarnya.

"Sudah, putra kita sudah wangi dan tampan." Chanyeol mengecup lagi pipi gembil putranya untuk mendengar tawanya yang lucu. Baekhyun juga ikut tertawa kecil melihat interakksi keduanya. Ia memiliki perasaan yang baik hari ini karena melihat Chanyeol berinteraksi dengan putranya di pagi hari. Chanyeol pernah memandikan Jiwon beberapa kali, jika ia tidak bekerja atau bekerja di rumah.

"Kau tidak pergi bekerja hari ini?" Baekhyun menanyai suaminya. Ia baru teringat jika saja Chanyeol pergi ke kantor hari ini.

"Tidak, kau mungkin lupa kalau hari ini hari sabtu. Lagipula pekerjaanku yang lain tidak ada yang mendesak. Aku tidak harus keluar hari ini." Chanyeol menyahut dengan maklum, Baekhyun yang terlalu lama di rumah memang mungkin saja melupakan hari.

Chanyeol sebenarnya sedikit prihatin dengan keseharian Baekhyun. Beberapa kali ia mencoba bertanya mengenai keinginan istrinya itu untuk menikmati waktu di luar rumah, seperti berjalan-jalan. Tapi Baekhyun yang menyukai bau rumah mengatakan jika ia baik-baik saja dengan kehidupannya yang sekarang. Chanyeol menyerah untuk membujuknya, hingga ia sekarang lebih memilih untuk berada di rumah selama yang ia bisa untuk menemani Baekhyun. Meski nyatanya hal itu masih sulit direalisasikan.

Sebenarnya hari ini Chanyeol ingin memeriksa pekerjaan gelapnya. Tapi ia malah memerintah Sehun dan Jongdae hingga ia mengatakan pekerjaan lainnya itu tidak mendesak. Ia hanya tidak ingin membuat Baekhyun semakin lelah dengan membuatnya merawat Jiwon dan mengurus rumah di saat yang bersamaan. Ia tahu Baekhyun lelah karena melayaninya kemarin dan sempat terbangun di saat subuh setelah tertidur untuk menyusui Jiwon yang menangis karena lapar.

"Astaga, aku lupa. Maafkan aku." Baekhyun terlihat mengutuk dirinya sendiri hingga tidak menyadari hari dimana suaminya tidak bekerja.

"Sudah, tidak apa-apa. Bagaimana jika kau mandi lalu kita pergi untuk sarapan?" Chanyeol berucap dengan senyum. Ia terlihat menimang Jiwon yang mulai mengantuk.

Baekhyun tersenyum kecil melihatnya lalu segera memasuki kamar mandi. Langkahnya terlihat sedikit tidak stabil, tapi ia baik-baik saja. Baekhyun berusaha membersihkan diri secepat yang ia bisa karena ia pikir mungkin saja suaminya merasa lapar. Saat air mengguyur tubuhnya, Baekhyun meringis beberapa kali karena perih di kulitnya. Chanyeol memberikan banyak bekas hingga itu terasa sedikit perih, tapi ia juga merasa tidak keberatan.

Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan bathrobe untuk menemukan suaminya yang memandangi anak mereka yang tidur dengan lelap. Baekhyun kembali tersenyum lalu melangkah di ke arah lemari untuk mengambil pakaian yang akan ia kenakan. Ia memilih pakaian yang sederhana tapi tetap terlihat cantik. Baekhyun akan selalu seperti itu, selalu mencoba tampil secantik yang ia bisa di depan suaminya. Chanyeol jarang berada di rumah, jadi tampil cantik di waktu-waktu seperti ini terasa tidak salah.

Prank!

Saat ia akan memanggil suaminya, sesuatu membuatnya terkejut. Sebuah batu dilempar hingga memecahkan jendela kamarnya. Jiwon menangis berteriak semantara Baekhyun sedikit terlompat karena pecahan kaca hampir mengenainya.

"Apa itu?!" Chanyeol berubah waspada lalu mendengar keributan dari luar. Ia terlihat mendekati Baekhyun yang mengambil batu yang tadi dilemparkan.

"Seseorang melempar ini." Chanyeol terdengar marah, wajahnya yang tadi ramah kini dipenuhi murka. Orang itu pasti musuhnya dan mereka hampir saja mencelakai Baekhyun yang memang berdiri di dekat jendela.

"Segera cari siapa pengacau itu!" Chanyeol berteriak murka pada pengawalnya di luar. Suaranya yang menggelegar mengalahkan suara tangis putranya.

Baekhyun mengamati pecahan kaca di sekitarnya lalu menemukan kertas yang diremas membulat seperti bola. Kertas itu mungkin saja dilempar bersama batu tadi, jadi Baekhyun mengambilnya. Ia membuka kertas itu untuk lalu memberikannya pada Chanyeol, tapi kata-kata yang ia baca membuatnya terkejut setengah mati.

"Chanyeol…" Baekhyun memanggil nama suaminya lirih. Ia terlalu terkejut hingga tidak mampu berbicara.

"Ada apa, Baekhyun? Apa kau terluka?" Chanyeol mendekati istrinya dengan cepat, suara Baekhyun yang memanggilnya lirih membuatnya cemas.

"Ini, apa yang tertuliskan di kertas ini benar?" Baekhyun menyodorkan kertas itu dengan tangan yang gemetar. Mata cokelatnya terlihat linglung dan mulai digenangi air mata.

Baekhyun menemukan Chanyeol yang tampak terkejut. Pria itu langsung terlihat stress lalu mengambil kertas yang Baekhyun pegang dengan perlahan.

"Darimana kau mendapatkan ini?" Chanyeol bertanya dengan suara rendahnya. Ia terkejut, begitu terkejut hingga terasa seperti sesuatu memukul kepalanya. Ia tidak bisa memikirkan hal lain selain apa yang ia hadapi sekarang. Tidak bisa mendengarkan kegaduhan di luar maupun tangis putranya yang sudah sangat nyaring.

"Bersama batu tadi. Aku mohon, Chanyeol, katakan sesuatu jika kau mengetahui tentang hal ini." Baekhyun mulai menangis dan tubuh ringkihnya tiba-tiba saja terlihat menyedihkan.

"Maafkan aku, Baekhyun. Bukannya aku tidak ingin memberitahumu." Suara Chanyeol yang tadi telah terdengar rendah kini malah berubah lirih. Sepertinya ini sudah saatnya, Baekhyun sudah mengetahui rahasia yang ia sembunyikan. Kini ia yang berubah ketakutan, takut jika Baekhyun marah. Takut jika Baekhyun meninggalkannya. Terlebih ia takut jika Baekhyun berubah membencinya. Ia takut jika ia harus kehilangan seseorang yang telah menjadi bagian dari napasnya.

.

TBC/END?

.

.

Update! Yey! Kali ini update setelah bulan puasa. Ada adegan NC-nya, duh. Maaf, ya? Tapi dari percakapan sebelumnya kan sudah kebaca ya ada adegan NC-nya. Jadi bagi yang memang gak baca kan sudah seperti peringatan secara halus XD oh iya, aku update lumayan cepet kali ini. Ya, karena kebetulan aku sudah sidang dan lagi tahap revisi sedikit-sedikit. Wah, tinggal menunggu wisuda XD

Oh iya, ada kabar bahagia! Chapter 1 di WP sudah update juga! Bantu promosi, hayukk. Kalo ada yang nanya apa yang bikin beda sama yang di FFN? Jalan cerita dan alur tetap sama, kok. Cuma di sana ada sedikit revisi untuk tata penulisan dan bahasa penulisan yang bagi penulis ada yang kurang sreg. Maklum, penulisan pertama ff ini kan tahun 2016 kan ya. Jadi pasti bakal ada yang di revisi.

And special thanks for:

Whitetan l ByunBaeChiecy l beenthrough l freakeness l Guest217 l ByunB04 l oh sabeth l ChanBaekGAY l neomuchanbaek1 l Theresia341 l Light. Byun l baekhyunshine

Terima kasih sudah baca chapter 35. Berkat kalian nih aku jadi semangat ngetik dan update di tengah revisi tugas akhir. Makasih buat yang nyemangatin ngejar wisuda. Makasih juga untuk yang selalu ngingatin stay safe. Kalian juga ya, stay safe. Jangan bandel! Dan yang paling penting jangan lupa baca FF ini XD

Oh iya, makasih juga udah follow di WP. Nikmati juga tulisanku di sana, ya. Jadi, gimana? Udah tahu gak rahasia yang selama Chanyeol sembunyiin itu apa? Kira-kira apa ya? Bahaya gak nih? Makanya ayo review biar semangat update chapter selanjutnya ya~

.

Last, you reviewing and I writing~