Disclaimer :
Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*
.
TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.
.
Warning :
OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!
.
.
Catatan :
Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.
.
.
= Enjoy for read =
.
But
.
! Don't like Don't Read !
.
.
[ 007 ]
~ Chapter 35 ~
.
.
.
[Café T]
Datang ke sebuah kafe, aku hanya ingin mengganti suasana jenuh ini, bagaimana cara menghubungi Sasuke? Aku sangat merindukannya, untuk apa dia mengejar prof. Orochimaru lagi? Orang gila itu tidak akan berhenti.
"Ada apa, dokter? Meskipun keluar, kau masih terlihat tidak senang." Ucap detektif Kakashi padaku.
"Aku ingin mencari Sasuke." Ucapku.
"Aku pikir dia akan kembali, lagi pula dia hanya meninggalkan dokter sebentar saja."
Aku mengerti, tapi kesalahpahaman yang sempat terjadi membuatku ingin dia menceritakan apapun lebih detail lagi, aku bahkan tidak mengatakan apapun padanya, ini semua karena ulah prof. Orochimaru, kami jadi saling keliru.
Apa mereka tahu dimana prof. Orochimaru hingga berani mengejarnya? Mereka sudah gila, sebagian dari mereka telah mati dan masih ingin menemuinya? Apa prof. Orochimaru masih sering menemui dokter Tsunade? Lagi pula mereka dekat.
Dokter Tsunade?
"Aku ingin ke rumah sakit, apa kau bisa menemaniku ke sana?" Tanyaku.
"Tentu dokter. Tapi ada hal yang ingin aku sampaikan padamu terlebih dahulu." Ucapku.
Kami pun bergegas, aku yakin jika prof. Orochimaru akan sering mengunjug dokter Tsunade, kenapa tidak sejak awal aku mencurigai dokter Tsunade? Mereka dekat, dan dokter Tsunade begitu mudah memindahkanku dari rumah sakit Konoha.
Setibanya di rumah sakit, aku jadi bertemu lagi dengan dokter Sai.
"Dokter Sakura, kau baik-baik saja?" Tanyanya dan terlihat khawatir.
"Uhm, aku baik-baik saja." Ucapku, kita sudah sepakat akan menjadi teman yang dekat, aku jadi tidak akan mengabaikannya lagi.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan disini?" Tanyanya, lagi.
"Aku ada urusan dengan dokter Tsunade, apa dia ada di ruangannya?"
"Iya, aku sempat menemuinya tadi pagi. Apa mau aku antar?"
"Tidak, aku bisa sendiri, lagi pula ini urusan yang cukup serius."
"Apa terjadi sesuatu?" Ucapnya dan melirik ke arah detektif Kakashi. "Apa kau tidak bersama si pemuda itu lagi?"
"Tidak ada, dokter, aku hanya ingin menanyakan beberapa hal pada dokter Tsunade. Sementara Sasuke, dia sedang sibuk, aku tidak ingin mengganggunya dulu." Alasanku, aku mengarang apa saja yang lewat di kepalaku.
"Baiklah. Jika kau telah selesai, apa kita bisa minum kopi sejenak?"
"Aku tidak bisa janji, tapi aku akan mengusahakannya." Ucapku.
Dokter Sai akhirnya membiarkanku pergi, aku juga meminta detektif Kakashi untuk tidak perlu mengikutiku, tapi dia memberikan sebuah aksesoris padaku.
"Sebuah anting? Aku jarang menggunakan benda seperti ini dan aku tidak percaya jika ini hanya anting biasa." Ucapku, aku mengingat dengan sebuah souvenir yang di berikannya padaku, ternyata itu adalah benda pelacak, walaupun dalam bentuk yang imut.
"Kau semakin tahu benda-benda yang kami gunakan dokter." Ucap Kakashi. Tebakanku benar.
Memakai anting itu seperti biasanya dan menemui dokter Tsunade. Mengetuk beberapa kali dan suara dari dalam membiarkanku masuk.
"Aku tidak percaya jika kau kembali datang ke rumah sakit ini dokter Sakura." Ucapnya, terdengar seperti basa-basi.
"Maaf jika aku terlalu plin-plan dalam memilih pekerjaan, tapi laboratorium profesor telah hancur, aku jadi bingung harus bekerja dimana lagi, dan juga profesor menghilang, aku tidak mengerti, jika dia menghilang, bagaimana nasibku yang bekerja padanya?" Ucapku. Aku hanya berusaha mencari informasi dimana prof. Orochimaru berada.
"Sayang sekali aku juga sulit menemuinya beberapa hari ini, aku juga sudah mendengar jika ada masalah pada labnya, aku tidak bisa membantunya banyak, tapi jika kau ingin bertemu dengannya, kau bisa ikut denganku, aku berencana menemuinya besok."
"Sungguh? Apa aku juga boleh menemuinya?"
"Kau adalah dokter terbaik yang di milikinya, dia pasti ingin menemuimu lagi dan meminta maaf atas apa yang terjadi labnya."
Ini kabar yang baik, aku bisa bertemu dengan profesor Orochimaru dan memintanya untuk menghentikan segala percobaan yang di lakukannya, anak-anak itu pasti masih mencarinya.
.
.
.
.
Esoknya.
Detektif Kakashi sudah menyampaikan segala rekaman yang di dengarnya, ternyata fungsi anting yang aku kenakan kemarin adalah menyadap suara, setelahnya detektif Kakashi mengirim percakapan aku dan dokter Tsunade pada detektif Yamato.
Apa akan terjadi penyergapan lagi? Aku hanya ingin bertemu dengan profesor tanpa adanya perlawanan lagi, memikirkan jika tidak perlu mengajak mereka atau mereka tidak perlu mengikutiku.
Hari ini, aku berusaha untuk keluar sendirian tanpa di ketahui oleh detektif Yamato dan Kakasih. Suasana di gedung ini cukup sepi, apa hari ini bukan hari kerja hingga terasa sangat lenggan? Mencoba menyamar untuk bisa keluar dari arah gerbang, beberapa petugas tidak sedang mengawasi pintu masuk. Berjalan dengan santai hingga keluar, bergegas memanggil taksi ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter Tsunade, masalah ini harus segera di selesaikan, aku yakin jika berbicara pada prof. Orochimaru, dia akan mengerti.
Setibanya di rumah sakit, kata seorang perawat, dokter Tsunade menungguku di ruangannya, aku jadi harus menemuinya disana.
Tapi,
"Aku senang bertemu lagi denganmu, dokter Sakura. Maaf tentang kejadian di lab itu."
Aku cukup terkejut, dokter Tsunade mengatakan akan mengajakku menemui prof. Orochimaru, tapi di ruangan milik dokter Tsunade, hanya ada profesor dan juga, Sasuke.
Tidak-tidak.
Itu bukan Sasuke, aku yakin, tatapannya berbeda, anak kecil yang aku lihat di lab kedua itu, dia memang tampak mirip dengan Sasuke kecil, sekarang tubuhnya begitu cepat tumbuh dan sudah menjadi seorang pemuda.
"Kau mengingat Seven rupanya. Sekarang sudah lebih besar." Ucap profesor.
"Aku ingin mengatakan sesuatu, profesor."
"Katakan saja dokter Sakura. Aku cukup menganggumi sebagai seorang dokter yang begitu jenius."
"Tolong hentikan semua ini, apa tujuanmu untuk melakukan percobaan pada anak-anak itu? Sekarang membuat kloning mereka hanya untuk di latih menjadi sebuah senjata? Apa kau sangat ingin mendapat sebuah pengakuan sebagai profesor terhebat? Kau sudah mendapatkannya sejak dulu, kenapa malah melakukan hal di luar batas kewajaran? Dimana profesor yang aku kagumi dulu? Aku sangat kecewa padamu." Ucapku.
Aku tidak begitu yakin bisa membuat profesor berubah pikiran, aku hanya mencoba mengatakan apa yang terlintas di pikiranku, aku percaya jika profesor hanya hilang arah sebagai orang jenius di negara ini.
"Kau benar, dokter, aku tidak mengerti, aku sudah berusaha mencoba mencari sesuatu yang memuaskan rasa penasaranku ini, tapi aku malah berakhir seperti ini, mungkin jika menjadi seorang penguasa akan sangat hebat, tidak akan ada yang mengaturku lagi, bahkan orang-orang yang berada di atas sana." Ucap profesor, sepertinya ada hal yang cukup mengganggunya, hingga di sulit untuk berubah.
"Dengarkan aku. Semua yang dokter lihat adalah hal apa yang memang di harapkan oleh pemerintah, mereka mengambil semua hasil karyaku, hanya memasang namaku di sana tapi tidak dengan apa yang mereka berikan padaku. Mereka seperti memaksaku untuk melakukan segalanya yang aku bisa dan mereka kembali mengambilnya begitu, apa ini adil? Aku rasa mereka perlu mendapat balasannya, jika saja lab di pulau kiri tidak hancur, aku bisa mengembangkan anak-anak yang memiliki kekuatan, kepintaran, bahkan menjadi tunduk padaku, semua yang aku inginkan sudah terpenuhi, aku bisa melawan orang-orang yang terus menuntutku hanya demi sebuah karya yang terus mereka harapkan."
Aku baru saja mendengar segalanya lebih jelas dari profesor, kehebatan yang selama ini di perlihatkannya pada publik hanya sebagai pemuas orang-orang yang beranggapan jika profesor layak menjadi orang yang di perlukan untuk membangun masa depan, tapi disisi lain, mereka hanya mengharapkan kerja keras profesor tanpa memikirkan perasaannya.
Ini juga bisa menjadi hal yang benar, jika aku menjadi profesor, aku tidak ingin di kekang hanya untuk menciptakan sebuah hal yang di inginkan orang-orang yang mengendalikan segalanya.
"Apa profesor tidak melakukan pembicaraan ini dengan komandan Sarutobi, aku rasa kalian memiliki pemikiran yang sama." Ucapku. Aku sudah mendengar segalanya dari kedua detektif itu.
"Aku sudah lama tidak mendengar namanya, mereka juga melakukan hal yang sama dengan orang tua itu, mencoba membalikkan fakta agar orang tua itu segera turun dari jabatannya, semuanya hanya berputar pada masalah politik. Tapi aku tidak bisa keluar dari semua ini, aku cukup membuat banyak masalah hingga orang-orang tertinggi itu akan membunuhku bagaimana pun caranya, sekarang, anak-anakku yang akan menggantiku bahkan untuk sekedar mengacaukan kota ini."
Apa yang akan di lakukan profesor? Apa karena rasa marahnya, dia akan membuat orang tidak tahu apa-apa ikut terlibat?
"Seven, bawa dokter Sakura pergi bersamamu, aku masih membutuhkan bantuannya." Ucap profesor, dan aku menjadi sangat bodoh hanya untuk sebuah perangkap ini.
Seven mulai bergerak, aku berusaha menggapai pintu tapi itu sangat mustahil, pergerakanku di tahannya dan sebelum mengeluarkan teriakan, dia membekapku dengan tangannya, semakin aku berusaha melepaskannya, semakin dia menahanku dengan sangat kuat.
"Dokter Sakura, tolong kerjasamalah denganku, ini yang terakhir kalinya, setelahnya, aku benar-benar akan melepaskanmu." Ucap profesor.
Dia memberi arahan pada Seven, jika aku tidak berusaha memberontak lagi, Seven akan membawaku pergi bersamanya.
Aku mendengarkan ucapan profesor dan seperti yang di ucapkannya, Seven akan membawaku dengan tenang, dia tidak berusaha melumpuhkanku lagi atau membekap mulut, Seven membuka jaket yang di kenakannya dan menggunakannya padaku, aku tidak tahu kami akan kemana, menggunakan tangga darurat dan keluar dari pintu belakang rumah sakit.
Jika benar dia adalah Seven, kloning dari Sasuke yang asli, apa dia akan mendengarkanku?
"Seven." Panggilku.
"Kita harus bergegas, dokter." Ucapnya.
Tidak, bukan seperti itu, aku harus memanggilnya dengan benar.
"Sasuke." Panggilku untuk kedua kalinya.
Langkah pemuda ini terhenti, dia juga berhenti menarikku untuk terus mengikutinya.
"Sasuke, apa kau lupa padaku?" Tanyaku, berusaha membuatnya mengingat sesuatu, sebuah kloning dan menggunakan DNA tubuh asli, setidaknya ada ingatan yang tersimpan disana.
"Sasuke?" Panggiku, lagi.
Seven berbalik, tatapan pemuda itu berubah.
"Kakak! Apa kau baik-baik saja? Aku minta maaf sudah melukai tanganmu, aku minta maaf, aku mohon, jangan tinggalkan aku."
Aku cukup terkejut akan perubahan sikap Seven, awalnya dia menjadi tenang, sekarang dia terlihat sangat panik, memperhatikan telapak tanganku, ini adalah ingatan Sasuke sebelum kami berpisah, dia melukai telapak tanganku saat itu.
aku jadi mengingatnya setiap Sasuke memanggilku kakak, padahal aku adalah dokter pendampingnya.
"Tenanglah, tanganku sudah sembuh, kau tidak perlu merasa bersalah lagi." Ucapku. Berusaha membuatnya tenang.
"Maafkan aku. Jangan tinggalkanku aku lagi, aku berjanji tidak akan melukaimu." Ucapnya dan sebuah pelukan erat darinya.
Dia jadi seperti seorang anak kecil lagi, ingatan ini tidak hilang, semua masih berada pada otak kloning ini. Profesor cukup salah membawa Seven bersamanya, mungkin dia berpikir aku akan luluh karena membawa seseorang yang aku cintai, tapi dia hanyalah kloning Sasuke, dia bukan Sasuke.
Tatapanku mengarah ke arah sebuah mobil yang melaju ke arah kami, aku rasa kami harus lari.
"Sasuke, ayo cepat lari." Ucapku. Menggenggam tangan pemuda itu dan mengajaknya pergi, kita harus cepat lari, aku tidak ingin di tangkap lagi seperti orang bodoh.
.
.
TBC
.
.
update...~
maaf, lama update ini... author lagi senang-senangnya sama fic Crown dan ide fic ini lenyap seketika *serius* dan akhirnya eh, muncul lagi idenya. semoga fic ini tidak di tinggalkan oleh para reader yang masih setia
author tak janji bisa rajin update fic ini, mungkin agak lama, perlahan-lahan, tapi fic crown, akan update tiap hari.
