Naruto menatap sebuah batu nisan, tatapannya sangat sendu. Disampingnya ada Nozomi dengan pakaian hitamnya, dia juga memasang wajah sedih.

"Kau tahu, Ibu sangat mencintai ayahmu. Ibu sendiri sangat beruntung saat Ayahmu datang serta melamar Ibu, di saat itulah Ibu seperti menjadi wanita yang paling beruntung." Kushina bermonolog, dia saat ini tengah menatap sedih batu nisan yang ada di depannya. Wanita itu menggendong cucu laki-lakinya yang tertidur karena kelelahan. "Setidaknya, Ibu menjadi pendamping setia bagi Ayahmu." Dia pun menyunggingkan sebuah senyuman yang membuat Naruto merasakan sakit.

Nozomi sendiri mengandeng tangan Naruto, meremasnya lembut supaya dia bisa menenangkan mental dari suaminya itu. Disampingnya ada sosok bocah perempuan yang juga menatap sedih batu nisan di depannya.

"Semuanya akan kembali. Kita tak tahu kapan itu terjadi, Ayah telah berusaha untuk melawan penyakitnya. Kita doakan saja yang terbaik untuknya."

"Kau benar Nozomi-chan."

"Ya Ibu, biarkan beliau beristirahat."

...

..

...

Di dalam kamar, Naruto duduk di pinggiran kasurnya, dia masih dirundung kesedihan akibat meninggalnya Minato. Nozomi sendiri tak bisa berbuat banyak, dia juga tahu bagaimana perasaannya setelah ditinggal kedua orang tuanya.

Wanita itu duduk di samping Naruto, memeluk bahu suaminya. "Aku sangat tahu perasaanmu."

Naruto pun menyandarkan kepalanya di bahu Nozomi. "Aku beruntung mempunyai kamu, Nozomi."

"Ya, kau pria beruntung yang berhasil memikat hatiku sejak di bangku sekolah menengah."

Naruto mencoba untuk tersenyum, dia memeluk tubuh ramping itu, sembari menenangkan mentalnya yang terguncang. "Aku memang beruntung mempunyai kalian."

...

..

.

Naruto By Masashi Kishimoto

Love Live by Kimino Sakurako