Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

Fic ini mengandung unsur yang tidak begitu di terima oleh publik, harap memikirkan segala aspek tanpa fokus hanya pada satu bagian saja.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

.

.

[Blossom In The Winter ]

( Chapter 23 )

.

.

.

Liburan keluarga itu hanya sebentar saja dan akhirnya berakhir, kedua orang tuaku yang sibuk dan juga kakak-kakakku yang tipe sibuk. Ayah Fugaku dan ibu Mikoto sudah kembali ke kota tempat mereka bekerja.

Aku kembali ke sekolah setelah masa istirahatku, kami kembali bertemu, mereka bahkan membuang muka dariku, sejujurnya ini yang aku harapkan, aku ingin tenang bersekolah tanpa adanya gangguan dan lagi-lagi salah paham terhadap kehidupan mewah yang aku dapatkan dan juga seorang kakak yang bersikap tidak wajar padaku.

Sebelumnya.

"Aku sudah menargetkan sebuah sekolah SMA untukku." Ucapku. Aku mulai memberanikan diri untuk berbicara pada ayah Fugaku, beliau sosok ayah yang begitu lembut, aku tidak tahu wajah tegas itu menyembunyikan hal lain dari ayah Fugaku.

"Padahal ayah sudah mencoba menetapkan sekolah terbaik untukmu." Ucapnya.

"Aku berterima kasih pada rencana ayah, tapi aku ingin menentukannya sendiri. Apa itu tidak masalah, ayah?"

"Ya, kau bisa menentukannya, Sakura. Ayah akan mendengarkan rencanamu."

"Aku berniat sekolah asrama."

"Asrama? Sungguh? Kau tidak masalah tinggal di asrama? Bagaimana dengan kakak-kakakmu?"

"Aku harus lebih mandiri ayah. Apa aku boleh bersekolah disana? Sekolahnya sangat bagus, nilai masuknya pun sangat tinggi, aku sudah berusaha belajar sekeras mungkin untuk masuk disana. Mereka juga punya banyak ekskul." Ucapku.

"Baiklah. Jika itu keinginanmu. Katakan juga pada ibumu."

"Terima kasih, ayah!" Ucapku, berlari dan memeluk pria tua itu. dia membalas pelukanku dengan hangat.

Aku pikir rencanaku ini akan di tolaknya. Lagi pula ayah Fugaku mungkin sudah merencanakan sekolah bergengsi untukku atau sekolah yang pernah menjadi tempat kakak-kakakku bersekolah.

Aku punya rencana sendiri, dan tujuannya untuk menjauh dari Sasuke. Aku mengatakan pada ayah Fugaku dan ibu Mikoto untuk merahasiakan rencanaku ini hingga aku benar-benar lulus di sana. Aku tidak ingin mereka menahanku atau melarangku melakukannya. Bukannya aku ingin berpisah dari mereka. Aku ingin kehidupan normalku.

Jika saja di sekolah sekarang aku mendapat masalah karena status anak angkatku, di tambah lagi sikap kakak sendiri yang tidak wajar, aku mungkin saja mendapat masalah yang sama di jenjang pendidikan yang baru, aku selalu ingin menghindari hal itu.

Aku juga tidak menutupi rasa sukaku padanya, aku mencoba bersikap biasa padanya, aku rasa Sasuke tidak akan marah jika aku bersekolah di asrama, mungkin.

"Kapan ujian akhirmu?" Tanya Sasuke.

"Tinggal dua minggu lagi. Aku sudah belajar keras, jadi jangan menegurku lagi." Ucapku.

"Ya kau akan mendapatkan nilai terbaik." Ucapnya dan membelai kepalaku.

Aku senang setiap dia melakukan hal manis ini.

"Aku akan berusaha menjadi terbaik seperti kalian. Dimana muka ayah dan ibu akan di taruh jika putri bungsu dari keluarga Uchiha tidak mendapat nilai terbaik."

"Semangat yang bagus."

"Hey, bagaimana jika kita kencan, tapi saat aku mendapat nilai terbaikku." Ucap padanya.

"Uhm. Kau bisa menentukan tempat, kita akan jalan-jalan bersama." Ucapnya. Sasuket tersenyum padaku.

Kita akan merencanakan kencan ini, tapi aku tidak berniat untuk pergi berdua saja. Itu adalah rencana dimana kami berempat bersama untuk terakhir kalinya.

"Tapi kau harus berjanji." Ucapku.

"Hn? Apa?"

"Jangan mengganggu waktu belajarku."

"Ya. Aku akan melakukan apapun untukku."

Uhuk. Sasuke yang bersikap dewasa ini, kadang memiliki sisi yang manis. Tenang Sakura. Kau akan semakin sulit melepaskannya.

.

.

.

.

.

Di sekolah.

Aku sudah memberikan lembaran acuan pada wali kelasku. Aku menargetkan SMA Q sebagai tujuanku.

"Ini sekolah yang cukup jauh dan mematok nilai kelulusan yang tinggi. Jika nilamu saja sudah mampu untuk lulus seleksi, tapi ujiannya cukup sulit. Ini juga sangat jauh, Sakura. Kau yakin? Ada banyak sekolah bergengsi di sekitar kota ini." Ucap wali kelasku, mempertimbangkan apa yang menjadi tujuan SMAku.

"Aku sudah membicarakannya dengan kedua orang tuaku. Mereka menyetujuinya."

"Ini sekolah asrama. Kau akan tinggal disana."

"Aku ingin mencoba sesuatu yang baru, pak. Mungkin saja aku akan betah disana."

"Kau ini sangat berani melakukan apapun. Tapi jika kedua orang tuamu sudah setuju, bapak hanya bisa mendukungmu."

"Terima kasih, pak!"

"Ya, belajarlah yang giat, nanti bapak akan mencari kisi-kisi ujian masuk SMA Q untukmu."

"Sekali lagi terima kasih."

Rasanya lebih lega. Aku mulai melakukan apapun yang aku suka, melakukan apapun yang menjadi tujuanku. Di umurku yang sekarang. Perlahan-lahan aku melepaskan diri dari apa yang di tanamkan Sasuke padaku, termasuk selalu mendengarkan ucapannya.

Aku juga punya tujuan dalam hidupku. Aku mulai berpikir jika selama ini Sasuke berusaha membuatku tetap berjalan seperti apa yang sudah di rencanakannya. Saat masih kecil, aku tidak paham akan apapun. Dia terus saja memberiku arahan agar aku mendengarkannya.

Sekarang aku sudah lebih dewasa, sedikit lagi aku menjadi gadis dengan pola pikir yang sesuai dengan keinginanku sendiri.

Aku harap, tidak akan ada masalah baru setelahnya.

.

.

.

.

.

Sasuke menepati janji. Dia tidak menemuiku selama aku sedang belajar, dia juga pria yang sangat sibuk. Hanya saja terlalu sering terlihat bersantai.

"Kau belajar keras terus? Kepalamu akan sakit." Tegur kak Itachi.

Dia datang membawakan cemilan cookies dan segelas susu untukku. Menaruhnya di meja kosong yang berada di kamarku.

"Aku sudah bertekad Niichan. Biarkan aku menjadi salah satu Uchiha yang terbaik juga." Ucapku.

"Ayah sudah mengatakan jika seorang Sakura memiliki potensi yang hebat. Bahkan jika dia berada di kalangan Uchiha, potensinya itu akan semakin berkembang. Kau akan menjadi Uchiha yang sukses berikutnya."

"Aku jadi semakin bersemangat mendengar ucapan Niichan."

"Kau tidak pernah mengatakan sekolah yang menjadi tujuanmu. Apa ayah yang menunjuknya? Apa akan bersekolah di tempat kami?"

Ayah dan ibu benar-benar memegang janji mereka. Mereka tidak mengatakan apapun pada mereka.

"Ya. Mungkin aku akan kesana."

"Itu bagus. Sekolah cukup bergengsi, guru-gurunya hebat."

"Pasti saat kalian bersekolah dulu. Niichan, kakak, dan Sasuke menjadi sorotan seluruh murid perempuan di sekolah."

"Hahahah. Tidak. Kami tidak seperti itu."

Aku tidak percaya. Wajah mereka bak idol, tampan, pasti banyak murid perempuan menginginkan mereka.

"Ceritakan. Apa Niichan dan yang lainnya begitu populer hingga memiliki banyak pacar." Ucapku dan lagi-lagi tawa dari kak Itachi.

"Bukan aku. Pesona Izuna melebih apapun. Tanyakan padanya, sudah berapa murid perempuan yang di buatnya menangis."

"Aku jadi semakin penasaran, Aku akan menanyakannya pada kakak." Ucapku.

"Lalu bagaimana hubunganmu dengan Sasuke." Tanyanya, tiba-tiba.

Ini berat, aku bingung menjelaskannya bagaimana. Di satu sisi aku begitu menyukai Sasuke. Di satu sisi aku sangat menghargai keluarga yang membesarkanku ini.

"Doakan aku memiliki pacar yang baik saat SMA nanti." Ucapku.

Raut wajah Niichan menjadi tenang. Aku menebak jika kak Itachi tidak mempermasalahkan hubungan yang tidak wajarku dengan Sasuke. Dia juga tidak pernah menyinggung untuk sebuah jarak dari kami atau mengingatkan kembali statusku. Dia sangat berbeda dengan kak Izuna yang lebih memilih blak-blakan di depan Sasuke.

"Kau harus siap Sasuke mematahkan kakinya." Ucap kak Itachi.

Aku ingin tertawa. Tapi aku ingin ucapanku itu menjadi nyata. Mulailah mengambil langkah untuk menjadi normal secara perlahan, bahkan itu untuk menepis perasaan ini.

"Kau tahu Niichan. Aku mulai banyak berpikir dan merasa mulai sulit untuk menerima apa yang di hadapkan kepadaku. Jadi aku mungkin perlu sedikit dukungan darimu. Aku sangat menyayangi ayah dan ibu." Ucapku.

"Kau sudah semakin dewasa, Sakura. Jika itu menjadi pilihanmu. Lakukan. Bahkan jika Sasuke menyeretmu kembali ke dalam keinginannya. Mungkin aku akan membantumu." Ucap kak Itachi.

Dia memahamiku. Pria yang lebih dewasa dari kami dan memiliki pola pikir lebih terkontrol. Aku sangat kagum pada sikap kak Itachi.

"Terima kasih untuk cemilannya. Aku akan semakin bersemangat." Ucapku.

"Aku akan memberikan banyak cemilan lagi setiap kau belajar."

"Aku akan segera menjadi babi gemuk, semua Niichan membawakan cemilan. Mereka sangat enak-enak dan sayang untuk di sisakan."

"Aku senang kau makan yang banyak." Ucapnya.

"Eh-hem. Jangan mengganggunya saat belajar."

Kami cukup terkejut dengan kedatangan Sasuke, dia bahkan berdiri di depan pintu, sedikit mengagetkan, tatapan tajamnya di layang pada kak Itachi.

"Aku hanya membawa cemilan. Sekarang aku akan pergi." Ucapnya Niichan. Dia menyentuh perlahan puncuk kepalaku sebelum keluar.

Sekarang Sasuke yang berjalan mendekat, menatapku baik-baik.

"Jangan makan terlalu banyak cemilan." Ucapnya dan mencubit kedua pipiku.

"Ini semangat! Niichan sedang memberi semangat!" Protesku. Pipiku sampai sakit di cubitnya.

"Mulai besok cemilan yang sehat yang harus kau konsumsi. Bukan kue, cookies, puding dan makan manis lainnya." Tegurnya.

Masih berusaha membentuk untuk mengubahku. Ini yang terakhir Sasuke.

"Katakan pada Niichan. Berikan cemilan yang sehat dan rendah gula untukku." Ucapku.

"Kau akan mendapatkannya." Ucapnya.

Wajah Sasuke tiba-tiba mendekat. "Beberapa hari ini aku benar-benar sibuk dan kita jarang bertemu, beri aku sedikit apa yang aku inginkan." Lanjutnya.

Wajahku merona-malu. Kenapa dia meminta seperti itu! Pria dewasa yang tidak bisa melihat situasi! Aku sedang berusaha untuk fokus belajar!

"Kenapa? Baiklah jika itu pun tidak kau berikan." Ucapnya.

Sebelum Sasuke beranjak, berusaha menarik kerah pria ini, memberinya sebuah kecupan pada pipinya.

"Aku hanya malu." Ucapku, mengalihkan tatapanku darinya. Aku tidak berani menatap mata kelam itu.

"Semangat belajarnya." Ucapnya, dia membalasku dengan sebuah kecupan pada jidatku.

Blusshh..~

Aku akan kehilangan fokus kali ini.

.

.

TBC

.

.


NEXT