Disclaimer :

Demi neptunus naruto bukan punya saya, punya masashi sensei. sasuke punya saya *dibantai masashi sensei dan sakura*

.

TOLONG DI BACA APAPUN DI BAWAH INI, KEBIASAAN BEBERAPA READER MALAS BACA DAN BERAKHIR DENGAN ME-REVIEW HAL YANG TIDAK PERLU KARENA SUDAH TERCANTUM DI BAWAH INI.

.

Warning :

OOC, TYPO tingkat akut, AU, OOT, EYD berantakan, flame tidak diijinkan. DI LARANG MENG-COPY TANPA SEIJIN AUTHOR SASUKE FANS APALAGI NYOLONG!

.

.

Catatan :

Fic ini hanyalah cerita fiksi belaka yang tidak ada sangkut pautnya dengan kehidupan seseorang, sedikit mengambil sudut pandang dan selebihnya di karang-karang oleh author, tidak menyinggung apapun dan hanya merupakan fic untuk menghibur semata, author pun tidak akan mengambil keuntungan apapun selain kepuasan membaca dari reader.

.

.

= Enjoy for read =

.

But

.

! Don't like Don't Read !

.

.

[ 007 ]

~ Chapter 36 ~

.

.

.

Meskipun berlari, aku yakin ini sangat sia-sia, mobil van hitam itu berhenti tepat di hadapan kami dan menghalangiku untuk berlari, memutar arah, namun seseorang dari dalam van itu membuatku berhenti.

"Sakura!" Suara itu.

"Tetaplah di belakangku, kakak." Ucap Seven, dia berusaha melindungiku.

"Aku baru saja meninggalkanmu beberapa hari dan sudah ada pemuda lain yang berusaha mengambilmu." Ucap seorang pemuda, dia membuka menutup wajahnya dan aku bisa melihat Sasuke. Dia kembali.

"Aku tidak akan membiarkanmu membawa kakak!" Seven tetap keras kepala ingin melindungiku.

"Hahaha, apa-apaan ini? Aku jadi melihat saudara kembarmu, Sasuke." Itu suara Suigetsu, mereka datang berdua.

Sasuke mengambaikan ucapan Suigetsu, dia memintaku untuk mengikutinya, tapi aku tidak mungkin meninggalkan Seven.

"Kita harus membawanya pergi." Ucapku.

"Apa kau begitu senang jika ada pemuda lain selain aku?" Ucap Sasuke.

Kenapa di saat seperti ini dia harus cemburu?

"Aku tidak ingin meninggalkannya." Tegasku.

"Kau harus memilih salah satu di antar kami." Ucap Sasuke.

Kekanak-kanakan.

"Kakak, jangan dengarkan dia, kita harus segera pergi dari sini." Ucap Seven.

Seven berusaha menarikku, tapi Sasuke tidak tinggal diam, dia pun ikut menarikku juga. Sejujurnya aku tidak suka dalam keadaan seperti ini, Suigetsu bahkan hanya menonton dan tidak melakukan apapun, setidaknya bantu aku memisahkan mereka berdua.

"Hentikan kalian berdua!" Kesalku dan menapis tangan mereka berdua.

"Jadi kau tetap memilih bocah ini?" Sasuke pun mulai kesal.

"Kenapa kau tidak mengerti juga? Seven adalah kloningmu, kau harus membawanya!" Kesalku.

"Kakak aku tidak akan meninggalkanmu, ikutlah denganku." Ucap Seven dan berusaha membujukku.

Haa..~

Ini sangat-sangat menyebalkan.

Pada akhirnya.

Aku berusaha membuat mereka tetap akur dan aku meminta Seven untuk mengikutiku, aku tidak tahu Seven akan membawaku kemana, jadi lebih baik aku mengikuti Sasuke. Suigetsu mulai mengendarai mobil van itu.

Aku bisa melihat beberapa mobil polisi lewat dan mereka menuju ke arah rumah sakit.

"Apa yang akan di lakukan profesor?" Tanyaku pada Seven.

"Dia akan menghancurkan kota ini." Ucap Seven dan membuatku cukup terkejut.

"Katakan, bagaimana dia melakukannya?" Ucap Sasuke dan mencengkeram kerah pemuda itu.

"Aku tidak peduli padamu! Bagaimana bisa kakak mengikutimu?" Ucap Seven.

"Dia bukan kakakmu, dia adalah pacarku, jangan coba-coba merebutnya." Ucap Sasuke.

"Sudah cukup! Aku milik kalian berdua! Sudah puas?" Kesalku. Bagaimana mereka tidak bisa akur?

Lagi-lagi Suigetsu tidak berbuat apa-apa dan hanya tertawa saja melihat tingkah keduanya.

"Sakura." Panggil Sasuke, menoleh ke arahnya dan aku sampai terkejut. "Aku sangat merindukanmu." Ucap Sasuke dan sebuah kecupan singkat darinya.

Apa dia lupa di sampingku ada Seven?

"Ka-kau! Kenapa melakukan hal jorok itu pada kakak! Jauhkan wajahmu dari wajah kakak! Kau bahkan mencoba meniruku!" Protes Seven, wajahnya pun merona.

"Kau yang meniruku! Jika aku mencium Sakura itu bukan urusanmu!" Protes Sasuke.

Mereka kembali bertengkar.

"Berhenti kalian berdua!" Aku semakin kesal pada mereka.

Apa Sasuke tidak sadar jika kloning ini mengambil sedikit ingatannya? Dia bahkan tidak jauh beda dengan kloningnya sendiri, sama-sama kekanak-kanakan.

"Kita akan kemana?" Tanyaku pada Suigetsu, aku sedang malas meladeni kedua pemuda ini.

"Kita akan bertemu dengan yang lainnya dan membantumu dokter." Ucap Suigetsu.

"Jadi selama ini kalian mengejar profesor? Apa kalian tidak tahu jika dia terus berada di sekitar rumah sakit konoha?"

"Sebelumnya profesor berpindah-pindah, kami terus mengejarnya hingga profesor kembali ke Konoha, aku yakin dia sudah menyusun rencana lain." Ucap Sasuke, akhirnya dia tenang.

Aku ingin semuanya berakhir, obsesi profesor terlalu berlebihan hingga minumbalkan berbagai masalah.

Dreeet…dreet…dreet..

Getar sebuah ponsel. Itu dari Sasuke, aku tidak melihat siapa yang menghubunginya, Sasuke mulai berbicara pada ponselnya. Tidak banyak ucapan dia hanya mengatakan 'iya' dan pembicaraannya berakhir.

"Putar arah." Ucap Sasuke pada Suigetsu.

"Ha? Kenapa harus putar arah?" Tanya Suigetsu.

"Keadaan semakin memburuk. Mereka ke depan rumah sakit Konoha. Sebaiknya kita ke sana, prof. Orchimaru menggunakan anak-anak kecil sebagai tameng untuk merusak kota, sedangkan para pasukan pertahanan negara tidak bisa melakukan apapun, mereka tidak bisa menembaki anak-anak itu."

"Ah Sial! Dia sudah memulainya." Ucap Suigetsu dan tiba-tiba mobilnya mengerem mendadak. Suigetsu berputar arah.

"Apa maksudnya?" Tanyaku, bingung.

"Profesor memulai perangnya sendiri. Ini sebagai bentuk tidak adanya kepercayaan orang-orang penting kepadanya lagi." Jelas Sasuke.

"Ayah sudah merencanakan semuanya, kota ini akan rata dan di bangun atas kepimpinannya." Jelas Seven padaku.

Pemikiran profesor sudah di luar kendali, dia berubah total dari apa yang di berusaha di lakukannya.

.

.

.

.

[Depan rumah sakit]

Aku sangat yakin jika kami baru meninggalkan tempat ini beberapa menit yang lalu, namun keadaan di sana cukup kacau, beberapa asap hitam mengepul ke udara, kendaraan-kendaraan yang hancur dan ada yang meledak, beberapa satuan khusus membuat tameng dan di hadapan mereka hanya kumpulan anak-anak kecil polos yang tidak tahu apa-apa. Mereka harus melakukan ini hanya karena perintah profesor.

Turun dari mobil van itu, aku melihat detektif Kakashi yang ikut memantau keadaan. Di samping itu, aku melihat orang-orang yang bersama Sasuke, mereka ikut memantau keadaan.

Walaupun senjata api di todongkan ke depan, mereka tidak bisa menarik pelatuknya. Anak-anak cukup lindungi di negara ini.

"Aku ingin kebijakan yang di buat sesuai aturanku, dengan begini aku akan berhenti." Teriak profesor Orochimaru. Obsesinya semakin menjadi-jadi.

"Tetaplah tenang di dalam van. Kami yang akan melawan anak-anak itu." Ucap Sasuke.

"Apa? Mereka hanya anak-anak kecil!" Tegasku.

"Mereka bukan anak-anak biasa, mereka sama seperti kami, mereka sudah di latih, kau lebih mengetahuinya." Ucap Suigetsu.

"Itu benar Sakura. Penampilan mereka saja yang merupakan anak-anak. Ini merupakan senjata milik profesor gila itu. Karena kami pernah berada di posisi ini, maka kami tahu bagaimana anak-anak itu." Ucap Sasuke.

Aku tahu, aku tahu semuanya, aku bahkan sempat melakukan penelitian ini.

"Dan jangan biarkan bayi kecil itu ikut bersama kami, dia berada di pihak profesor." Ucap Sasuke dan menunjuk Seven.

"Aku bukan bayi kecil!" Protes Seven.

Aku hanya perlu bersama Seven saja.

Mereka mulai berjalan menuju pasukan kesatuan khusus, yang lainnya pun ikut bergabung, mereka tengah menyusun rencana. Menatap ke arah tameng yang di buat profesor. Bagaimana pun juga anak-anak itu akan di bunuh, hanya itu cara untuk melawan profesor. Tapi apa ini tidak terlalu kejam? Aku tahu mereka anak-anak yang kuat, mereka sudah mendapat pelatihan khusus yang bahkan bukan karena keinginan mereka.

"Seven. Apa kau tahu kelemahan profesor? Kau mungkin bisa membantu kami, kau tahu, keadaan semakin memburuk." Ucapku. Aku berusaha berbicara padanya.

Seven mendekat ke arahku, membisikan sesuatu. Apa rencananya itu akan berhasil? Aku sedikit tidak percaya padanya, dia adalah kloning Sasuke, hanya sedikit ingatan Sasuke masih tertinggal padanya, namun keraguan itu muncul.

"Percaya padaku." Ucapnya.

Jika ini menjadi hal yang terbaik. Itu tidak masalah, semuanya tidak perlu menembak mati anak-anak yang tidak bersalah itu.

Seven mulai mengajakku pergi, dia membawaku ke arah tameng terkuat profesor, anggota kesatuan khusus kebingungan, aku bahkan mendengar teriakan Sasuke.

"Sakura! Apa yang kau lakukan! Kembali!" Teriaknya.

Tidak. Aku tidak bisa melakukannya. Aku semakin dekat dengan anak-anak kecil ini, semakin dekat, aku melihat mereka memegang handgun. Sudah ku duga mereka tidak mungkin anak-anak biasa, mereka tidak bergerak untuk menembakku. Apa karena Seven bersamaku?

"Bagus Seven. Kau berhasil membujuk dokter Sakura untuk bekerja bersama kita." Ucap profesor.

"Aku akan pergi bersamamu, bahkan melakukan kembali penelitian yang selama ini sedang kau lakukan, tapi hentikan kekacauan ini." Ucapku. Aku kembali bernegosiasi dengan profesor untuk kesekian kalinya. Aku tahu dia sempat membohongiku, tapi aku mencoba mengubah pikirannya lagi.

"Itu keputusan yang terdengar menjanjikan dokter Sakura. Aku sangat senang kau akan membantuku lagi." Ucapnya dan sebuah senyum kemenangan di wajahnya.

Dorr!

Terkejut. Sebuah tembakan di lepaskan tepat ke arah profesor Orochimaru, salah satu dari anak kebanggannya pasti yang melakukannya, salah satu dari mereka memiliki keahlian ini, tembakan jitu.

Prosefor terlihat marah, tembakan tepat di dadanya, perlahan dia mulai tumbang.

"Bunuh mereka semua!" Teriaknya. Prosefor Orchimaru tumbang. Darah segar keluar dari bekas tembakan itu.

Apa yang di lakukan anak-anak di hadapanku, mereka mengarahkan handgun mereka ke arahku.

Doorr!

Doorr!

Doorr!

Doorr!

Doorr!

Aku tidak bisa melihat apapun lagi, menutup rapat-rapat mataku dan menutup kedua kupingku dengan kedua tanganku ini, hanya ada suara tembakan saling bergantian yang aku dengar. Aku mungkin sudah tertembak, aku merasa ada darah yang merembes keluar dari tubuhku. Mungkin ini menjadi akhir bagiku.

Bagaimana dengan Seven? Dia mungkin juga sama denganku, kami sama-sama tertembak.

Aku bahkan belum meminta maaf dengan baik pada Sasuke. Aku juga ingin meminta maaf pada Seven, dia memegang ingatan Sasuke saat masih kecil. Aku ingin menyampaikan permintaan maafku karena tidak menolongnya dan tidak memegang janjiku untuk mengeluarkannya dari lab itu.

Aku yang merupakan seorang dokter wanita terhebat pun tidak berdaya dan ikut terseret ke dunia berbahaya seorang profesor. Aku salah mengagumi seseorang. Rasanya ingin mengulang waktu, tapi jika saja aku tidak ke lab itu, aku tidak akan bertemu Sasuke, aku juga mungkin akan terpuruk dalam masa perceraianku yang buruk.

Kenangan bersama itu terlintas satu persatu, kekacauan yang tengah melandaku beberapa waktu ini akhirnya selesai. Semua sudah selesai, profesor mungkin sudah mati. Apa lagi tembakkan itu mengenai bagian tubuh vitalnya. Tidak ada lagi profesor yang memiliki obsesi buruk hingga mengorbankan anak-anak sebagai senjatanya.

"Sakura! Sakura!" Aku mendengar teriakan Sasuke, namun rasanya sulit untuk membuka mata.

Aku juga masih mendengar suara tembakan yang di lepaskan beberapa kali, menutup kupingku pun tidak ada gunanya, telingaku berdengung dengan semua suara tembakan keras itu.

Perlahan-lahan aku merasa lelah. Aku tidak melakukan apapun, rasanya semakin berat dan kesadaranku menurun, aku akan mati sebentar lagi. Sebelumnya aku selalu berpikir akan mati karena membeberkan seluruh rahasia di lab itu, rasa cemas dan khawatir yang terus melanda diriku, hanya saja keadaan menjadi berbeda setelah hari ini, aku mati karena mendapat serangan secara langsung.

"Sakura! Sakura!"

Di akhir kematianku, aku terus mendengar teriakan Sasuke. Ini akan menjadi ingatan terakhirku sebelum aku akhirnya pergi selamanya.

.

.

TBC

.

.


halooo...~

semoga tidak ada yang lupa dengan fic ini, kalau ada yang lupa mungkin bisa baca-baca kembali.

author meminta maaf karena tidak menyelesaikan fic ini dengan segera, padahal fic ini seharusnya udah tamat, cuma tinggal dua chapter tapi author tanggung terus hingga sampai waktu yang cukup lama, lama banget, sampe bosan nunggu, yaa author tahu itu. kalian bosan dengan fic yang TBCnya lama bukan main.

sekali lagi minta maaf.

dan author menyelesaikan fic ini. dengan chapter baru yang ini dan epilog.

Next