Title : Tears in the Thorn

Author : Elle Riyuu

Main Cast : Chanbaek

Genre : Romance, hurt/comfort

Rate : M

Summary : Dia selalu sendirian lalu mereka mengambilnya untuk memanfaatkan dan menyakitinya, ia tidak lebih dari sebuah boneka. Hingga cinta datang dan ia terlalu canggung untuk menghadapinya. Karena pria yang berada dalam lingkaran cintanya tidak jauh berbeda dari mereka.

.

.

[CHAPTER 37]

.

.

.

Chanyeol merasakan ketakutan yang besar di dalam dirinya. Ini mungkin lebih besar dibandingkan saat ia kehilangan Taeyong. Ia takut sekali, lebih takut dibandingkan harus kehilangan napasnya di pertempuran. Karena jika Baekhyun meninggalkannya, itu akan mencederai segala aspek di kehidupannya. Karena Baekhyun adalah kehidupannya, bagian dari napasnya.

"Kenapa kau tidak mengatakan hal itu padaku?" Baekhyun kembali menuntutnya. Ia menangis keras tapi terlihat berusaha tegar di tengah rasa sedihnya.

"Aku ingin memberitahumu, tapi tidak sekarang. Tidak saat mentalmu belum siap, aku tidak mau untuk terus menyakitimu." Chanyeol berujar dengan pengendalian luar biasa untuk membuat suaranya tidak bergetar.

"Tapi kapan? Kapan kau akan mengatakannya? Apa harus saat aku sudah mati? Kau merahasiakan hal penting ini dariku, Chanyeol! Tidakkah kau pikir kau bahkan telah lebih dari sekedar menyakitiku? Kau menghancurkanku!" Baekhyun berteriak sekuat tenaga. Ia tidak pernah seperti ini, setidakterkendali ini. Terlebih pada suaminya, seseorang yang dulu ia takuti dan kini ia cintai.

Chanyeol merasa hatinya patah saat Baekhyun meneriakinya seperti itu. Baekhyun mengatakan sesuatu yang benar. Baekhyun benar, ia yang bersalah di sini. Ia menyakiti submisif itu, tidak bisa melakukan hal lain selain menyakitinya.

Chanyeol mulai merasa merana, merasa benar-benar takut dan sedih. Mata bulatnya menatap tubuh gemetar istrinya. Baekhyun yang memandangnya dalam tangis. Oh Tuhan, ia begitu mencintai istrinya. Dibutakan oleh cinta, sehingga Baekhyun yang sedang menangis keras masih terlihat cantik di matanya.

"Maafkan aku, aku terlambat mengatakannya padamu. Kau harus mengetahuinya melalui cara ini." Chanyeol menyesal, sangat menyesal karena Baekhyun harus mengetahui semuanya dengan cara ini. Tahu bahwa ia adalah putra kandung keluarga Byun dengan cara ini.

"Kau akan atau tidak akan menjelaskan yang lebih jelas padaku?" Baekhyun kembali bertanya, menuntutnya untuk mengatakan sesuatu yang sesungguhnya tidak ingin ia katakan. Tapi melihat api kemarahan yang berpotensi menjadi kebencian di mata istrinya, Chanyeol merasa ia harus mengalah.

"Aku akan, oleh karena itu tenanglah sedikit. Aku akan mengatakan apapun yang ingin kau tahu." Chanyeol tersenyum menenangkan. Senyumannya sedikit melebar saat menemukan Baekhyun menghela napasnya lalu mengangguk.

Tangan Chanyeol terulur untuk Baekhyun raih. Ia lihat wajah cantik itu sempat mengerut tapi kemudian tangannya juga terulur. Baekhyun sebenarnya tidak ingin lebih terluka lagi dengan meraih tangan suaminya, tapi ia juga tergoda untuk membuat satu lagi kenangan manis di sela hatinya yang meradang perih.

"Tunggu, tunggu sebentar." Chanyeol mengintrupsi sebelum Baekhyun sempat melangkah ke arahnya. Tubuh tegapnya berjongkok di depan tubuh Baekhyun. Lalu sesuatu yang tidak Baekhyun harapkan terjadi. Chanyeol dengan tangannya yang telanjang menyapu semua pecahan kaca di sekitar kaki Baekhyun menjauh. Membuat bercak-bercak kemerahan mulai muncul di tangannya yang kokoh.

"Chanyeol, apa yang kau lakukan?" Baekhyun berseru terkejut. Ia tidak menyangka kalau suaminya melakukan hal mengerikan seperti itu.

"Aku tidak ingin kau terluka." Chanyeol mendongak lalu tersenyum tulus. Mengagetkan Baekhyun dengan emosi baru yang belum pernah ia lihat, ketulusan dan kesedihan yang membaur menjadi satu.

"Tapi tanganmu terluka." Baekhyun menyahut lirih.

"Tidak apa-apa. Asal bukan kau yang terluka, aku bisa menahannya." Chanyeol mempertahankan senyuman itu. Suaranya bahkan telah melembut, meretakkan hati Baekhyun yang padahal sudah mulai utuh.

"T-tapi-"

"Apa yang kalian lakukan? Putra kalian menangis sedari tadi dan kalian bahkan tidak mencoba menghiburnya." Seseorang memasuki kamar mereka tanpa sopan santun, mengintrupsi pembicaraan keduanya.

Chanyeol dan Baekhyun menoleh secara bersamaan, menemukan Jongdae yang langsung mengangkat Jiwon dari tempat tidurnya. Bayi mereka menangis dan mereka bahkan melupakan hal itu karena hal lain yang terjadi terasa menarik semua atensi mereka. Beruntunglah Jongdae memiliki sedikit sifat kurang ajar, hingga ia memasuki kamar tuannya tanpa sedikitpun rasa penyesalan.

Jongdae hampir akan berteriak marah lagi saat berbalik. Tapi dari sikap tubuh Chanyeol dan wajah Baekhyun yang basah membuatnya mengerti ada hal lain yang membuat mereka melupakan segalanya. Jongdae menghela napasnya, paham kalau hal mengerikan itu telah terjadi.

"Jongdae, aku titip Jiwon padamu. Tolong tenangkan pangeran tampan kita. Aku memiliki beberapa pembicaraan dengan Papanya. Kau mengerti?" Chanyeol memerintah dengan nada suara yang tenang. Namun Jongdae dapat menangkap kegelisahan dan ketakutan di dalamnya, membuat ia segera mengangguk lalu melangkah pergi tanpa kata.

Chanyeol menatap kepergian Jongdae dalam diam. Ia tahu Jongdae mulai memahami semuanya. Hingga akhirnya bunyi isakkan Baekhyun yang tersisa terasa seperti sebuah tanggung jawab. Tanggung jawab terberat di kehidupannya karena konsekuensi yang seperti akan membunuhnya.

Chanyeol berdiri perlahan lalu meremas tangan Baekhyun dengan ketenangan yang tersisa padanya. Meskipun Baekhyun masih terlihat cantik, Chanyeol tidak mau melihat tangis kesedihan bertahan lama di wajah itu. Ia mengecup punggung tangan Baekhyun dengan lembut untuk menemukan mata cokelat Baekhyun yang meneduh. Kemudian ia menuntun istrinya untuk duduk di sisi ranjang.

"Aku akan menjelaskan apapun yang aku tahu. Aku berjanji." Chanyeol sekali lagi mengecup punggung tangan istrinya, menata mentalnya sendiri untuk siap dengan apapun yang terjadi.

Baekhyun mengangguk perlahan pada perkataan yang suaminya lontarkan. Perasaan takut tiba-tiba menghampirinya. Ia takut kecewa, terlalu kecewa hingga memutuskan untuk membenci. Hingga memutuskan untuk melupakan semua kenangan manis yang perlahan berhasil membuatnya kembali merasa berarti.

"Kata-kata yang kau baca dari kertas itu adalah kebenaran. Aku mengetahuinya sejak lama, tapi tidak berencana untuk menyembunyikan darimu selamanya. Aku hanya sedang menguji kebenarannya dan memang berniat untuk memberitahumu secepatnya. Setelah mental dan fisikmu membaik, aku memang akan mengatakannya. Tapi sayang, kau bahkan mengetahuinya di saat aku sedang sangat kurang dari kata siap." Chanyeol meremas tangan istrinya saat melihat wajah Baekhyun yang mengkerut, ia tidak bisa menebak apa yang istrinya itu pikirkan.

"Aku hanya menyampaikan apa yang aku tahu dari penyidikanku selama ini. Tuan Byun adalah ayah kandungmu. Tapi ibu angkatmu adalah ibu tirimu, dengan kata lain ia bukan ibu kandungmu." Chanyeol berusaha menjelaskan perlahan, tapi ternyata itu tetap membuat Baekhyun terkejut.

"A-apa maksudmu?" Suara tidak percaya Baekhyun terdengar mencicit. Hal ini semakin membingungkannya, lalu siapa ibu kandungnya?

"Tuan Byun menikahi seorang wanita, Kwon Boah yang dalam 8 tahun usia pernikahan masih belum bisa memberikan seorang anak. Tuan Byun akhirnya menikahi seorang wanita lain yang telah memiliki seorang putri dari pernikahan sebelumnya. Dalam usia pernikahan 6 bulan wanita itu sudah mengandung, bersamaan dengan hilangnya ibumu dari rumah." Chanyeol menghentikan sebentar perkataannya untuk menemukan Baekhyun yang masih kebingungan.

"Kau yang berada di panti asuhan bukan karena dibuang, itu karena ibumu diusir oleh ibu tirimu dengan cara mengancam untuk membunuhmu jika kau terlahir di rumah itu. Mereka hamil di waktu yang bersamaan, ibu tirimu hanya merasa kalau seorang anak dari istri pertama akan lebih diprioritaskan. Ia ketakutan hingga mengusir ibumu dan membuatmu tumbuh besar di panti asuhan itu." Chanyeol melihat istrinya itu mulai menangis lagi. Ia sudah merasa berbicara dengan hati-hati, tapi itu ternyata tetap mencederai hati istrinya yang selembut beludru.

"La-lalu ibuku? Bagaimana kabar ibuku?" Suara yang terbata itu bertanya dalam sendat.

"Ia tidak selamat, melahirkanmu di usia yang tidak lagi muda dan di rumah sakit kecil memang sangat beresiko. Tapi kau selamat, diselamatkan oleh seorang temannya yang mengelola panti asuhan itu. Baekhyun, kehidupanmu kenyataannya telah diatur oleh ibu tirimu. Kau yang diambil di panti asuhan untuk melanjutkan perjodohan kita ternyata bukan hanya kebetulan." Chanyeol mengakhiri kalimatnya ketika ia sadar Baekhyun telah paham dengan jalan hidupnya. Bahwa hidupnya telah diatur sedemikian rupa. Bahwa ia telah dirancang untuk memasuki neraka ini. Ia melanjutkan perjodohan ini ternyata karena ia memiliki darah Byun di nadinya.

Entah kenapa, Baekhyun merasa kehidupannya selama ini hanya berisi dengan kebohongan.

.

.

.

Hidung pria manis itu memerah karena menangis terlalu keras. Sekarang ia masih sesegukan tapi telah bisa mengendalikan dirinya. Pada akhirnya Baekhyun tidak bisa membenci suaminya, hanya saja rasa kecewa itu masih ada.

"Aku minta maaf jika terasa perih." Suara Baekhyun yang serak memecahkan kesunyian. Ia masih merasa berduka karena kebenaran itu, tapi ia masih merawat suaminya. Ia tidak bisa tinggal diam saat melihat darah Chanyeol tidak juga berhenti mengalir.

Chanyeol hanya mengangguk dengan senyuman yang lebar, terlihat mencoba menghibur istrinya. Ia tahu Baekhyun merasakan duka yang mendalam terutama saat mengetahui ia tidak lagi memiliki ibu dan ayahnya di dunia. Tapi ia tidak sampai terpuruk, tidak sampai tidak terkendali. Nyatanya Baekhyun sangat kuat dan tegar dibalik sosoknya yang lemah lembut.

Suasana diisi dengan hening. Baekhyun terlalu berkonsentrasi membersihkan luka Chanyeol. Sedangkan Chanyeol menatap wajah istrinya dalam.

"Sudah selesai." Suara Baekhyun kembali mengintrupsi. Baekhyun membersihkan peralatannya lalu menatap luka di tangan Chanyeol dengan mata yang meredup.

"Tidak apa-apa. Aku tidak kesakitan." Chanyeol menghiburnya lalu mengusap lembut surainya yang sedikit berantakan.

"Terima kasih sudah melindungiku. Terima kasih sudah mengatakan semuanya padaku. Aku lega, akhirnya aku tahu tentang kehidupanku." Baekhyun tersenyum tulus. Tapi duka masih bertengger di sana, kembali menyadarkan Chanyeol kalau ia sebenarnya tidak baik-baik saja.

"Itu bukan masalah besar. Kau ingin aku melakukan apa pada ibu dan kakak tirimu karena sudah menyakitimu?" Chanyeol bertanya, bemaksud menghibur istrinya. Ia tahu Baekhyun tidak akan memintanya untuk menyakiti kedua orang itu, tapi ia tetap bertanya kalau saja Baekhyun ingin memberikan pelajaran kecil.

"Tidak perlu, hanya…" Baekhyun menghentikan perkataannya sendiri. Ia terlihat berusaha memberikan kekuatan pada dirinya sendiri untuk melanjutkan.

"Aku mohon biarkan aku pergi, lepaskan aku." Dan hati Chanyeol seketika pecah menjadi berkeping. Apa sebegitu kecewa Baekhyun padanya? Hingga tega meminta hal yang paling Chanyeol tidak mampu lakukan.

"Apa kau membenciku, Baekhyun? Apa kau sangat kecewa padaku?" Chanyeol bertanya dengan lirih, seakan seluruh tenaganya telah terserap habis.

Ia melihat Baekhyun yang mulai menangis lagi. Hatinya yang telah sakit, terasa semakin sakit saat melihat itu. Tapi ia tidak menangis, tidak bisa menangis karena luka yang terlalu pahit.

"Maafkan aku, Chanyeol. Aku tidak bisa membencimu, meski aku sudah merasakan kecewa setengah mati padamu. Kau menyakitiku, kau selalu pandai membuat dadaku berdenyut sakit. Dalam diam, aku selalu berteriak agar kau berhenti menyakitiku. Tapi kau tetap melakukannya. Dulu, kau membuat hatiku pecah berkeping. Tapi aku memutuskan untuk bertahan, menyelimuti cintaku padamu dengan hati yang tidak lagi utuh. Memungutnya satu persatu dengan tangan harapanku yang telah kurus. Aku berharap kau mencintaiku, membalas cintaku meski dengan hati yang sama tidak utuh. Tapi aku bersedia mendekapnya dengan tanganku yang penuh darah karena luka. Aku siap melindungi cintamu meski diselingi air mata." Baekhyun menangis tersedu, menggambarkan perasaannya dengan untaian kata yang terdengar seperti puisi indah berisi perih.

"Dan ketika tiba saatnya kau juga mencintaiku. Ketika kau membuka tanganmu, meraihku dalam pelukmu. Ketika kau memintaku menjadi bagian napasmu, kau masih menyakitiku. Seperti ini, kau menyakitiku dengan menyembunyikan kebenaran tentang jati diriku. Aku telah banyak memiliki bekas luka dan kau malah menorehkan luka yang lebih besar. Aku telah merangkak dan kau memintaku untuk lumpuh. Aku tidak bisa lagi-"

"Berhenti, berhenti berkata-kata. Kau juga menyakitiku dengan itu." Chanyeol menghentikan perkataan Baekhyun, terlalu payah untuk menghadapi arus duka yang menderas karena mendengar perkataan itu.

"Kumohon, Chanyeol. Lepaskan aku, beri aku waktu untuk sembuh. Untuk sekarang, aku tidak bisa untuk selalu menatap wajahmu saat matahari menyapa. Aku akan selalu teringat dengan duka yang kau torehkan. Kumohon, beri aku jeda untuk menyembuhkan diriku sendiri." Baekhyun kembali berbicara, kali ini memohon dengan kepayahan. Ia lelah, ia perlu waktu untuk kembali menerima kenyataan bahwa ia mencintai pria yang menyakitinya dengan sangat parah. Ia perlu waktu untuk lupa kalau luka yang ditorehkan memberikan kesakitan yang teramat sangat.

Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Permintaan Baekhyun terasa sangat berat, namun ia tidak ingin egois. Menjadi dihargai dan dicintai seperti ini juga telah menjadi berkah luar biasa di hidupnya. Chanyeol memandang wajah basah itu sekali lalu mengusapnya. Untuk saat seperti ini, ia tidak mau air mata menghalanginya memandang wajah cantik istrinya. Hingga ia menarik wajah itu mendekati miliknya. Mengulum dan melumatnya dalam perasaan cinta yang berduri. Bibir tipis itu terasa manis, tapi rasa yang mereka kecap justru membuatnya terasa getir. Ia berpikir, berusaha untuk mengalahkan perasaannya kali ini. Ia akan membiarkan Baekhyun memilih jalan hidupnya.

"Aku akan melepaskanmu. Aku dengan rela memberimu waktu untuk sembuh." Chanyeol menjawab dalam bisik setelah ciuman mereka terlepas. Napasnya yang panas menerpa permukaan bibir Baekhyun yang memang berada di depan bibirnya.

"Tapi aku mohon, biarkan aku mengantarmu besok pagi. Biarkan aku menentukan dengan siapa kau akan tinggal. Setidaknya agar aku lega karena menitipkanmu pada orang yang tepat." Permintaan Chanyeol mendapatkan sebuah anggukan, hingga ia akhirnya memagut lagi bibir manis istrinya.

'Setidaknya aku akan tahu kemana harus menjemputmu saat kau memutuskan untuk kembali.'

.

.

.

"Kau terlihat terlalu baik-baik saja untuk seorang suami yang baru saja dicampakkan oleh istrinya." Celetukkan Jongdae membuat Chanyeol terkekeh singkat. Candaan itu benar-benar menyindirnya.

Pagi ini Chanyeol dan Baekhyun bangun pagi-pagi sekali. Baekhyun membawa barangnya dan Jiwon dengan cukup banyak, mengingat mereka masih tidak membuat rencana untuk kembali. Sedangkan Chanyeol hanya mengantarnya, melepaskannya dengan ciuman di kening dan ciuman di pipi gembul putranya.

"Aku harus baik-baik saja. Meski jauh, kehidupan Baekhyun dan Jiwon masih aku topang. Penghasilan dari Perusahaan Byun adalah hak milik mereka. Oleh karena itu aku harus sangat baik agar dapat memastikan mereka tidak hidup menderita saat jauh dariku." Chanyeol menyahut dengan tenang. Ia sebenarnya merasa frustasi, tapi bayangan senyum Baekhyun dan tawa Jiwon menjadi penguatnya. Perusahaan Byun sekarang telah benar-benar miliknya sebagai suami Baekhyun berkat gugatan yang ia ajukan agar perusahaan itu jatuh ke tangan putra dari istri pertama Tuan Byun. Jadi sekarang ia menjalankannya sebagai bentuk tanggungjawabnya untuk hak kehidupan istri dan anaknya.

Jongdae menatap Chanyeol dengan mata yang sedikit melebar. Tapi kemudian mata itu memancarkan rasa kebahagiaan. Chanyeol telah berubah, ia kembali menjadi kakak terbaik yang ia kenal.

"Kau telah berubah. Aku sempat terkejut karena terlalu drastis, tapi aku merasa senang." Jongdae menepuk bahu Chanyeol beberapa kali.

"Oh ya?" Chanyeol tertawa lagi, kali ini lebih lepas. Sifat polos Jongdae yang seperti ini benar-benar menghiburnya.

"Iya, rupanya cinta benar-benar dapat mengubah seseorang. Luar biasa." Jongdae berbicara lagi dan Chanyeol kembali tertawa. Jongdae sedikit menghiburnya, membuatnya merasa lebih baik.

"Oh iya, bagaimana kabar Minseok?" Chanyeol bertanya pada Jongdae ketika ingat apa yang terjadi. Minseok terlihat benar-benar terkejut saat Baekhyun menceritakan tentang jati dirinya kemudian meminta ijin untuk pergi dari rumah itu.

"Ia hampir pingsan saat mendengar bunyi mesin mobil kalian menjauh. Ia menangis dengan sangat keras, mengatakan padaku bahwa ia tidak percaya hal itu dapat terjadi." Jongdae menghentikan segala kegiatannya. Hatinya sedikit berdesir nyeri saat mengingat tangisan Minseok. Pria itu menangis dengan sangat keras hingga lemas. Ia hampir pingsan hingga harus dipapah menuju kamar. Ia terlihat terpuruk atas kabar buruk yang Baekhyun alami. Tapi Jongdae merasa itu hal yang wajar karena mereka hanya memiliki satu sama lain sebagai keluarga.

"Itu wajar, kau tahu kalau kebenaran itu adalah hal yang mengerikan. Ia hanya tidak percaya kalau adiknya harus mengalami hal buruk lagi. Terlebih mereka harus berpisah lagi setelah sekian lama baru bertemu." Chanyeol menyampaikan pendapatnya.

"Kau benar, aku hanya merasa sedikit tidak nyaman saat melihat ia menangis. Itu adalah tangisan keras pertamanya setelah ia menemukan lagi adiknya yang ia rindukan." Jongdae merasa hatinya masih terlalu perih karena tangisan pria manisnya. Ia berusaha untuk menjaga senyum manis kekasihnya, tapi rupanya waktu melakukan hal menyakitkan itu. Ingin seperti apapun ia melindungi, ia tetap tidak bisa melawan waktu.

"Kau mencintainya, itu wajar jika kau tidak menyukai ia yang menangis." Chanyeol membenarkan. Ia juga seperti itu, oleh karena itu ia tahu maksud kata sedikit yang Jongdae katakan sebenarnya adalah tak terhingga.

"Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama, mungkin lebih. Apakah itu tidak terlalu gegabah jika kau mengijinkannya meninggalkanmu? Kau mungkin akan menyakiti dirimu sendiri." Ia prihatin, hanya melihat Minseok yang menangis keras saja sudah berhasil menyakitinya. Entah sesakit apa yang Chanyeol rasakan untuk membiarkan istrinya pergi.

"Rasanya sangat sakit, sampai meradang di dalam hatiku. Tapi aku tidak ingin egois. Ia meminta waktunya untuk sembuh dan itu tanpa diriku. Maka aku memberikannya meski itu berarti selamanya. Sudah cukup kehidupan memainkannya, aku tidak mau menjadi satu lagi penyebab kehancurannya. Jika ada yang harus hancur, kali ini aku yang akan hancur." Kesenduan jelas menyelip dalam setiap kalimatnya. Ia menahan rasa sakit itu sendiri.

"Bahkan jika ia memilih melupakanmu?" Kali ini Jongdae bertanya dalam lirih.

"Bahkan jika ia memilih melupakanku. Tidak apa-apa, itu artinya ia akan menjadi malaikat pembunuhku yang paling cantik. Aku dengan rela menyodorkan nadiku padanya. Hingga sampai di hari terakhirku, aku hanya akan melihat wajahnya." Nada suara itu terdengar yakin namun menyakitkan. Chanyeol rela mati untuk istrinya, bahkan jika itu disebut kematian yang sia-sia. Kehidupannya adalah benteng kebahagiaan istrinya, jika Baekhyun memintanya mati maka ia akan mengabulkannya dengan senang hati.

"Kau menjadi sangat bodoh." Jongdae menyumpahi dan ia tertawa. Ia benar-benar telah menjadi sangat bodoh karena cinta. Jika Chanyeol tahu mencintai akan sesakit ini namun memberikan kesuburan pada bunga kebahagiaan yang tumbuh di relungnya, Chanyeol rela untuk terus disakiti seperti ini. Biarlah jika orang-orang menyebutnya sakit jiwa.

Jongdae terdiam mendengar tawa itu. Chanyeol terdengar tulus saat mengatakan kata-kata penuh cinta. Ia telah jatuh terlalu dalam hingga mencinta terlalu gila.

"Oh iya, kau memilih mengantarkannya sendiri. Kemana?" Jongdae kembali bertanya. Chanyeol memang tidak mengatakan pada siapapun tentang siapa yang ia percayai untuk menjaga Baekhyun.

"Orang yang dapat aku percayai." Chanyeol menjawab singkat. Tapi sayang, sangat tidak jelas.

"Siapa?" Jongdae sedikit merasa geram. Apa susahnya untuk memberitahu? Bukankah ia tidak mungkin membahayakan Baekhyun. Chanyeol tahu siapa ia, ia adalah seseorang yang selalu berada di pihak pemuda Park itu. Dalam keadaan benar atau salah, baik atau buruk.

"Kenapa ingin tahu?" Pertanyaan itu membuat Jongdae menjadi benar-benar geram. Ia tidak habis pikir dengan apa yang Chanyeol pikirkan.

"Pertama, aku berhak untuk tahu karena aku tidak akan mencelakainya. Kedua, aku harus tahu karena istrimu adalah kakakku dan anakmu adalah keponakanku. Ketiga, aku benar-benar berhak dan harus tahu karena aku berencana untuk mengantarkan Minseok Hyung menemui adiknya kapan-kapan. Kau tidak berencana untuk memisahkan keduanya, bukan?" Jongdae menyahut dengan tangan yang sudah gatal untuk memukul kepala Chanyeol.

"Oh, tentu saja tidak." Kembali, jawaban yang tidak memuaskan. Sepertinya Chanyeol sedang mencoba bermain-main dengannya.

"Lalu beritahu aku. Apa susahnya?" Sekarang Jongdae sudah mulai menunjukkan kekesalannya.

"Dengan Taeyong. Ia mengatakan padaku kalau ia akan membantuku menjaga Baekhyun." Kali ini jawaban yang memuaskan.

"Apa? Tapi kau tahu lingkungan tempat Taeyong tinggal dan dengan siapa saja ia bergaul. Maksudku, ia memiliki pekerjaan dan teman-teman yang mungkin akan mengganggu Baekhyun dan mengusik pertumbuhan putramu." Tapi Jongdae malah terdengar terkejut karena jawaban Chanyeol.

"Taeyong adalah permata yang memiliki jiwa semurni Baekhyun. Hanya saja kehidupan membuatnya berkubang dalam lumpur. Kau dan aku tahu tentang seberapa tulus ia ingin membantu. Meskipun ia berbaju menjijikan dan kotor, ia tidak akan mengajak Baekhyun dan Jiwon untuk ikut serta. Kau tahu tentang seberapa serius ia ingin menjadi teman Baekhyun dan ikut menjaganya. Lagipula aku membiarkan beberapa pengawal terbaikku untuk tinggal menjaga Baekhyun dan Taeyong juga tidak keberatan. Aku yakin mereka akan baik-baik saja." Chanyeol menjelaskan panjang lebar. Sedangkan Jongdae hanya mengangguk. Ia sadar bahwa kekhawatirannya tidak beralasan. Ia tahu Chanyeol juga sedikit cemas, namun masih bisa mengendalikan diri. Maka ia juga harus begitu.

Drrt… Drrt…

Jongdae sedikit terkejut karena getaran ponselnya. Ia sedikit mengerutkan kening. Ia tidak memiliki banyak kontak, jadi ini cukup aneh untuk orang lain menghubunginya saat pagi hari.

"Selamat pagi, Tuan Besar." Jongdae menyahut telepon itu dengan cepat saat melihat nama yang terpampang di layarnya. Ia terkejut karena ayah Chanyeol yang menelepon, sangat tidak biasa.

"Chanyeol ada bersama saya, Tuan Besar." Sempat hening sebentar sebelum Jongdae menjawab seperti itu. Sedangkan Chanyeol mengernyitkan keningnya. Ini cukup aneh untuk ayahnya karena menghubungi Jongdae saat sebenarnya memiliki urusan dengannya. Chanyeol tahu karena Jongdae menyebut namanya seperti tadi.

"Baik, akan saya laksanakan. Selamat pagi, Tuan Besar." Jongdae menyahut seperti itu lalu panggilan itu diputus.

"Ayah menghubungimu?" Suara Chanyeol terdengar tidak percaya. Itu pasti hal penting hingga ayahnya sampai repot-repot menghubungi tangan kanannya.

"Benar, beliau memintaku untuk membawamu ke hadapannya. Sekarang." Jongdae menyahut dengan suaranya yang rendah. Ia terlihat waspada dan mulai menebak-nebak. Sedangkan Chanyeol hanya mengangguk lalu melangkah pergi untuk memasuki mobil yang akan Jongdae bawa untuk menemui ayahnya.

.

.

.

"Ayah." Chanyeol menyapa ayahnya dengan suara yang terdengar tenang setelah ia sampai di depan ayahnya sendirian, Jongdae berada di luar karena memang hanya dirinya saja yang diperintahkan untuk masuk. Tubuhnya yang tegap membungkuk sembilan puluh derajat, membuktikan besarnya rasa hormatnya. Ia dibesarkan dengan kekakuan, tidak ada kedekatan berarti di antara keduanya. Ayahnya sangat sering memandangnya tanpa senyum dan ia sudah terlalu terbiasa dengan itu. Sudah terbiasa untuk berlaku seperti bukan seorang putra.

Ayahnya sedang duduk dengan ditemani secangkir kopi pahit di rumah masa kecilnya. Rumah yang menjadi saksi bisu dari kisah cinta pertamanya. Rumah ini, rumah yang dirindukan tapi juga ditakutinya. Banyak lukisan memori yang tergambar di dinding-dinding yang putih dan kokoh itu. Kisah manis saat berbagi tawa dan waktu yang panas. Kisah pahit saat kehilangan kepercayaan dan kekuatan untuk mencintai. Apapun yang terlukis di sana, itu adalah perpaduan sempurna dari mimpi indah yang dibumbui kopi hitam.

"Akhirnya kau datang. Kau tidak pernah lagi ke rumah ini sejak kau berumah tangga." Ayahnya menyindirnya. Ia tahu kalau kata-kata itu bukan murni dari pemikiran ayahnya yang muncul karena rasa rindu. Ia tahu itu lebih karena ibunya yang pasti meminta ayah untuk mengatakannya. Ibu tidak akan mengikuti pertemuan singkat ini, Chanyeol tahu dari bagaimana ibunya yang langsung memasuki kamar segera setelah ia tiba. Ini adalah hal yang hanya ingin ayahnya buat di antara mereka.

"Aku sedikit sibuk, Ayah. Memegang dua perusahaan sekaligus membuatku memiliki banyak hal yang harus dilakukan." Chanyeol menjawab dengan tenang. Ia masih berdiri tegap, tidak duduk karena ayahnya yang tidak menyuruhnya. Kemungkinan ayahnya hanya ingin melakukan beberapa perbincangan singkat.

"Kau terlalu sibuk karena pekerjaanmu atau karena kau terlalu menikmati peran lainmu sebagai ayah dan suami?" Ayahnya mulai menyerang dan Chanyeol merasa ini bukanlah sesuatu yang harus mereka bicarakan. Jika ia menikmati itu, maka biarlah ia menikmatinya.

"Ayah, maafkan aku. Tapi segala sesuatunya berjalan dengan semestinya. Aku menjadi ayah sekaligus suami, kurasa itu bukan peran. Itu hanya bagaimana aku harus menjadi bagian dari keluargaku." Chanyeol menjawab dengan perkataan sesopan mungkin, tidak juga mau merusak bagiannya sebagai seorang anak.

"Bukankah aku mengatakn padamu untuk berhati-hati? Bukankah kau tahu kalau mencintai selalu memiliki resiko yang besar? Apa kau ingat apa yang aku katakan padamu?" Ayahnya mulai tersulut emosi karena meskipun ia menjawab sesopan mungkin, ia masih melanggar kepercayaan ayahnya.

"Ingat." Tapi Chanyeol tanpa goyah. Ia menjawab pertanyaan ayahnya dengan satu kata yang tetap terdengar tegas.

"Kalau begitu katakan. Katakan apa yang kau ingat." Ayahnya mulai menantangnya.

"Ayah berkata padaku untuk jangan pernah mencintai. Jangan pernah jatuh cinta. Cinta bisa menghancurkanku. Cinta bisa menjatuhkanku." Chanyeol menyahut dengan lanncar. Ia sangat ingat kata-kata itu, kata-kata yang sudah ayahnya coba tanamkan padanya sejak kecil. Ia hampir menjadi seperti itu, seperti yang ayahnya harapkan. Namun saat kelembutan dan kebaikan Baekhyun menyentuhnya, ia menjadi bersedia untuk meleburkan jiwa dan raga untuk kebahagiaan istrinya itu.

"Nyatanya kau mengingat itu dengan baik." Pria dewasa itu terkekeh sebentar lalu kembali menatap putranya tajam.

"Tapi apa yang kau lakukan?" Dan kemudian ia kembali bertanya.

"Aku telah jatuh cinta terlalu dalam. Aku rela hancur karena mencintai. Aku telah membiarkan diriku jatuh, Ayah." Chanyeol menyahut dengan keberanian yang masih berkobar di dalam dirinya.

"Kau bodoh, kau telah jatuh cinta. Kau menjatuhkan dirimu sendiri dengan sukarela. Sekarang kau telah tahu apa yang aku maksudkan dengan hancur karena cinta. Ia pergi? Aku mendengar desas desus itu. Tidakkah kau hancur oleh itu? Kau hancur, Chanyeol, hancur karena kebodohanmu sendiri."

"Iya, Ayah. Aku hancur karena kepergian orang yang aku cintai. Tapi ia pergi karena kebenaran yang harus memang ia ketahui." Chanyeol masih bersuara lantang, meski ia sedikit bingung tentang ayahnya yang tahu mengenai permasalahan ia dan Baekhyun.

"Lihat, kau hancur seperti ini. Kau hancur karena siapa? Karena apa?" Ayahnya mengejeknya lalu berdiri untuk berjalan mendekatinya.

"Karena Byun Baekhyun, karena istriku dan ibu dari anakku. Aku hancur karena ia pergi." Tapi kata-kata mencemooh itu tidak menghentikannya dari menjawab dengan penuh keberanian. Ia bertindak nekat karena cinta.

"Karena anak dari sahabatku. Kau hancur karena kau mencintainya. Oleh karena itu, aku tidak mau ia turut hancur karena mencintai pria bodoh sepertimu. Aku sudah menjanjikan masa depan yang cerah untuk putranya." Lalu sahutan pria dewasa itu mengagetkan satu-satunya pemuda di sana. Ia masih belum begitu mengerti dengan apa yang ayahnya maksud.

"Apa maksud Ayah?-"

PLAK!

"Bawa menantu dan cucuku kembali ke bawah perlindungan Park!" Pria dewasa itu berujar marah setelah memukul pipi putra kandungnya dengan keras. Ia berdehem sebentar lalu pergi dari sana setelah melihat sudut bibir putranya yang pecah dan berdarah.

Chanyeol sempat terdiam lalu senyum kecil muncul di bibirnya yang terasa perih. Tamparan itu menyakitkan, tapi malah membuatnya merasa bahagia. Ayahnya rupanya sangat merestui hubungan keduanya. Jangan bilang kalau ayahnya juga jatuh cinta pada kemurnian hati istrinya. Baekhyun dan jiwanya yang seperti daisy nyatanya dapat meluluhkan hati sedingin gunung es sekalipun.

.

TBC/END?

.

.

Update! Siapa yang senang? Eh tapi aku malah buat mereka pisah :( Maaf ya. Tapi mau tau gak kelanjutannya? Kalo mau tau, ayo review!

Big thanks for:

bbaekhyunfans l shinwawa l ByunB04 l chanchanb l freakeness l Guest217 l Light. Byun l beenthrough l oh sabeth l xioxianbeexo99

Gimana? Masih penaran? Jadi ternyata itu kertas isinya mengenai identitas Baekhyun. Terus dia marah deh dan taraaa~ minta dilepaskan sama Chanyeol. So, kalian team mana, nih? Baekhyun pergi aja untuk seterusnya atau Baekhyun yang balik lagi ke Chanyeol? Jangan lupa review ya. Makasih juga udah ucapin selamat ke aku, aku terharu. ILY~ Jangan lupa jaga kesehatan dan terus berbahagia~

.

Last, you reviewing and I writing~